I'm Back! #tak diharap kok#

Yah… saya sampai pada Chapter 2. Jadi, mohon berkenan^^ #aish

Sebelum ini dimulai, saya mau ngbales yg udah ngriview… ^_^

The KidSNo OppAi : ini udah manjangin setengah.. #maksud# ^^

SteFanny Elizabeth : hihii… sama! Entah kenapa klo Naruto masuk Akatsuki, cocok ajah gtu… ^^ *lirik2 Tsunade yg udah angkat kepalan*
Kalo soal pair, masih dipikirkan. Karna saya juga tak terlalu bisa soal romance. Gagal mulu… *pundung*
mungkin 'sedikit' hint2nya yah… #kabur

syafariearroyya99 : gray or gay? Klo gray(abu-abu kan?!),, bisa dibilang begitu. Tapi,, ini bisa putih diatas hitam jg sih..
Klo maksud anda itu, jujur saja ini gak menjurus kesana. ^^ Tapi, kalo bkin hint2nya dikit gak apa2 kan?! *haa! Buka aib*
Jujur, lebih suka bromance atau sho-ai, hehee

: ini ^^

DrunKenMist99 : ini ^^

Okehhh…. Terima kasih banyak atas reviewnya! ^^

Seperti biasa, saya bukan ahli bertutur kata.

Langsung ke topic. ^^

.

.

.

Disclaimer : Naruto|Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

" Membawa orang lagi eoh?! " suara seseorang dengan sinisnya menyambut Naruto saat ia masuk.

" Hn. " kata sacral itu kembali Naruto katakan. Entah sejak kapan, ekspresinya berubah datar. Ia meletakkan mayat Jinchuriki di gendongannya pada sebuah batu datar besar setinggi pahanya. Sebenarnya, orang itu belum mati. Atau kata lainnya sekarat.

" Kau belum tau yg sebenarnya. " Naruto mulai merapal sebuah segel tangan. Setelahnya, kedua telapak tangannya mengeluarkan cahaya kemerahan. Ia memusatkan tangannya pada bagian tengah perut orang didepannya.

" Belum tau apa, jika kalian telah membunuh kami?! Apa itu disebut 'belum tau yg sebenarnya'?! " orang ini kembali menanggapinya dengan sinis. Orang itu agak heran melihat senyum tipis yg diperlihatkan Naruto.

" Kau memang belum tau yg sebenarnya. Penderitaan, semua orang pasti mengalaminya. Termasuk aku, tentu saja! Ditinggalkan orangtua sejak aku lahir. Kesepian tanpa seorangpun yg mau berteman denganku. Mereka membenciku, mengucilkanku, menghinaku, bahkan mau membunuhku walau aku ini hanya bocah 6tahun. Mereka berkoar mengatakan aku ini monster karna aku Jinchuriki. " Kali ini orang yg memperhatikannya terkejut.

" K..Kau… Jinchuriki?! " ia terbata belum percaya.

" Hmm, tepatnya Jinchuriki Kyuubi. Karna Rubah Ekor Sembilan itu disegel ditubuhku, semua orang melihatku sebagai monster berbahaya. Hahaa, aku benar2 membenci diriku sendiri. Aku kesepian. Tak ada seorangpun yg mau mendekatiku apalagi mau berteman denganku. Tapi aku sadar, ada beberapa orang yg mau mengakui keberadaanku. Dia, Kakek Hiruzen…"

" Sandaime Hokage? "

" Ya… Kau benar. Aku banyak berhutang padanya. Dia banyak bercerita tentang kehebatan Yondaime Hokage yg menyegel Kyuubi dalam tubuhku. Berharap nantinya Kyuubi akan menjadi symbol pelindung desa Konoha. Dan suatu saat nanti aku akan mewujudkannya. Tentu saja, ya… walau rasanya akan berat dibagian ini. Lalu, orang yg menyadarkanku bahwa masih ada yg menerimaku. Dia guru waktu aku masih di Akademi. Namanya Iruka-Sensei. Dia sangat ramah dan juga baik. Dia selalu mentraktirku ramen dan setiap saat selalu menemaniku. Tapi aku juga sadar, aku seharusnya tak bergantung padanya setiap saat. Aku juga seharusnya mandiri. Dan akan kubuktikan sekarang dan nanti. Lalu teman pertamaku yg sebenarnya aku anggap rival. Entah kenapa pertemuan kami memang benar2 tak pernah mulus. Namanya Sasuke… Uchiha."

" Uchiha? "

" Ya. Dia keluar dari Desa dan memilih menjadi missing-nin. Aku memaksanya kembali dan kami bertarung di Lembah Kematian. Sayangnya, aku kalah dan dia pergi mengikuti jejak Orochimaru. Kupikir aku akan mati, tapi ternyata tidak. Aku baru tau, jika cakra Kyuubi bisa membuatku sembuh dengan cepat. Bahkan staminaku melebihi orang lain. Hahaa, aku harus berterima kasih padanya. Ya… walau rubah jelek itu galak juga."

" Siapa yg kau sebut rubah jelek HAH? "

" Ahh… kau mendengarku?! Kupikir kerjaanmu itu hanya tidur." Naruto menyahut dalam keadaan sadar. Membuat orang di depannya menatap heran padanya.

" Diam kau bocah! "

" Senang membuatmu marah Kyuubi. Hihii…" tawa cekikikan Naruto terhenti saat orang di depannya mulai sadar.

" Engh… Aku dimana?! " ia bangkit duduk.

" Kau ada di tempat paling aman. " jawab Naruto.

" Ohh " sosok pemuda di depannya hanya menjawab seadanya. Namun sedetik kemudian…

" KAU! Kau kan yg menyerangku dan mau membunuhku?! Kenapa kau ada disini?! Dan kau bawa aku ke tempat macam apa ini?! Dan dia pasti komplotanmu kan?! Apa yg kau mau dariku HAH?! " pemuda itu terus nyeroscos menunjuk nunjuk Naruto dengan tak elitnya. Terang saja itu membuat Naruto sweatdrop.

' Hah… Apa benar dia Mizukage? '

" Err… Maaf, apa kau benar seorang Mizukage?! "

" Eh? " ocehan pemuda itu terhenti seketika saat Naruto bertanya seperti itu.

" Kau itu kan pendek, jauh lebih muda dariku, bahkan terlihat begitu lemah dan rapuh. Tapi kau menjadi Jinchuriki, pastinya kau punya banyak masalah. Aku yakin kau belum tau merasakan makanan enak yang namanya ramen, apalagi pernah merasakan yg namanya berciuman dengan seorang perempuan. Itu sedikit menyedihkan… Apa orang Kirigakure tak salah menunjuk orang sepertimu sebagai Mizukage?! Aku rasa kau anak Mizukage tepatnya… " Itu terlalu jujur Naruto!

DUAGH

BUGGHH

Bisa dilihat kalau Naruto saat ini menghantam dinding dengan tidak elitnya.

" Apa kau menghinaku barusan hah?! Kau pikir aku pendek itu keinginanku?! Kau pikir kekuatanku seperti apa?! Aku sangatlah kuat. Dan apa2an dengan ramen dan ciuman seorang perempuan?! Kau pikir aku bocah sepertimu?! Aku sudah dewasa, kau tau?! "

" HEEE? TAK MUNGKIN! " Naruto berdiri dan memasang wajah kaget bodohnya sembari menunjuk orang yg kini juga menunjuk nunjuknya dengan emosi.

" Yo Gaki! Jangan menilai orang dengan hanya wajahnya saja. Kau benar2 baka!

Dan soal ciuman, bukankah kau hanya mencium Sasuke, gaki?! Astaga…."

" Eh? GAHHH! Jangan membuatku percaya soal ciuman dengan Sasuke itu rubah jelek! Hoek.. Hoekk" Naruto memasang tampang muntahnya yg sama sekali tak elit.

" Nah! Kau saja hanya pernah mencium laki2, bukankah yg baka itu kau?! Hey! Sudah cukup muntahnya! Dan ngomong2, bagaimana rasanya mencium laki2? Hey! Dengarkan aku! Kalau orang bicara perhatikan! "

" Apa tujuanmu? " pertanyaan dari satu2nya orang waras disana-dikunai-mengintrupsi keributan tak jelas yg ada.

" Ung? " orang di depan Naruto jg terheran.

" Hm. Ohh, bukankah kau bilang rubah jelek?! "

" DIAM BOCAH KERDIL! "

Sepertinya ada yg mau mengamuk di dalam perut Naruto. Naruto hanya tersenyum tipis mendengar rekannya kesal.

" Apa kau jg Jinchuriki?! " pertanyaan pemuda tersebut, membuat mimic Naruto serius kembali.

" Lalu, untuk apa kau menangkap kami?! Dan, apa yg kau lakukan pada Isobu?! "

Kali ini, pemuda didepannya berubah lebih datar dan dingin. Naruto menghela nafas sejenak.

" Baiklah! Nii Yugito dan kau Yagura! Seperti yg kalian tau, aku memang Jinchuriki yg menyimpan Bijuu ekor Sembilan. "

" Lalu, apa maksud dari kau anggota Akatsuki? Dan untuk apa kau menangkapku, bahkan mau membunuhku? " Yagura menatap tajam kearah Naruto.

" Hee?! Aku seburuk itu ya?! " senyum menyebalkan yg Naruto tunjukkan malah memperburuk suasana.

" Ya.. ya… Namaku…."

" Uzumaki Naruto! " belum selesai Naruto bicara, Yugito telah menyelanya.

" Eoh?! Ternyata kau tau yah?! Apa aku seterkenal itu?! " lagi, Naruto menyeringai tipis.

" Jinchuriki dari Konoha eoh?! Apa kau mau membuat perang? " kali ini Yagura menimbal.

" Bukan aku. Tepatnya, kelompok yg sedang aku jalani. "

" Akatsuki. " Yagura menggeretekkan giginya menahan emosi.

" Benar… Tapi aku berjalan dengan diriku sendiri setelah menjalani misi dari Pain, pimpinan disini! Sebenarnya, ini juga menjadi misiku sendiri tanpa siapapun yg tau. "

" Apa maksudnya dengan misi tersendiri?! Apa kau akan memanfaatkan keadaan untuk kekuasaanmu sendiri?! " Yugito memandang curiga sekaligus emosi terhadap pernyataan Naruto.

" Aha! Sayangnya… itu. salah. besar! " Naruto menekankan kata2 terakhir. Sepertinya ia ikut terpancing.

" Lalu, apa? " Yagura masih memandang lekat gerak gerik Naruto.

" Aku masih sangat mencintai Desaku, walau aku disini! Walau aku selalu diberi rasa sakit, walau aku selalu diberi penderitaan, walau aku selalu sendirian, walau aku selalu diremehkan. Apa itu akan membuatku benci Konoha? Tidak sama sekali! Karna hal itu yg membuatku ingin menjadi kuat. Karna hal itu juga aku memiliki rival, teman, sahabat, bahkan yg bersedia menjadi keluarga. " senyum kali ini terkembang dari bibirnya. Senyum yg benar2 tulus. Bukan senyum yg bodoh ataupun senyum yg menyebalkan. Ya… itu senyum hatinya!

" Aku… hanya ingin mengakhiri ini semua dengan caraku. Apapun resikonya. Terdengar egoiskah?! Aku juga berpikir iya. Aku meninggalkan Konoha. Dan mungkin saja aku menjadi ninja buronan dengan harga kepala yg telah terpalu. Haha… menyedihkan! Apa ini juga yg kakak itu rasakan yah?! " entah pada siapa Naruto bicara. Namun tak terasa, ruangan itu menjadi mencair.

" Aku Jinchuriki. Tentu saja akan menjadi incaran berbagai pihak. Apalagi, aku menyimpan Bijuu terkuat diantara yg lain. Termasuk kelompok ini. "

" Lalu, kenapa kau belum dieksekusi? " pertanyaan Yugito yg lama ia simpan. Naruto hanya angkat bahu.

" Aku jg tak tau. Padahal mangsa mereka telah berada di depan mata. Bahkan banyak protes saat Pain belum mau mengeksekusiku. Dan orang itu hanya bilang, 'Tunggu rentetan yg lainnya. Aku tak ingin membuat kesalahan dua kali.' Hanya itu."

" Berarti setelah ini, ada lagi. "

" Ya… begitulah. Lagipula, orang yg bernama Pain itu, memang tak bisa ditebak dan susah didekati. Kecuali, perempuan rambut biru yg bernama Konan. Mungkin aku bilang, dia partner pilihannya atau memang mereka yg membentuk anggota." Naruto mengelilingi ruangannya sendiri.

'Hm? Mencoba menguping rupanya…'

" Tapi… aku hanya merasa seperti ada ikatan dengan orang yg bernama Pain itu."

" Ikatan?! Bahkan pada musuhmu sendiri?! " Yugito hanya menatap Naruto keheranan.

" Aku tak tau. Tapi, aku seperti merasa teman dahulu… sekali. Bahkan, aku seperti merasa saudara jauh. Jujur saja, aku jg tak mengerti. Aku merasa perlu mendekatinya dan mencoba bicara dengannya. Aku seperti merasa kami dulu, aku tak mengerti dengan dulu. Dulu kami pasti satu garis lurus…" Naruto berujar lirih berusaha menyadari sesuatu dari setiap kata2nya.

" Seperti aku, kau dan Yugitokah?! " kali ini Yagura meneliti maksud Naruto.

Naruto mengerjap ngerjapkan matanya mencoba memproses. Kalau soal rencana ia merasa mudah, kalau soal ini beda lagi masalahnya.

" Mungkin saja! Tapi, rasanya tak akan mungkin tau jika tak langsung bicara pada pimpinan kami itu. Tapi juga, sepertinya dia sama keras kepalanya denganku. Ini sedikit perlu perdebatan panjang…" Naruto hanya mengangkat bahu. Dalam hatinya ia merasa tak sabar untuk mulai mendekati Pain itu.

" Untuk urusan kau menyelamatkan kami? " Yugito kembali ke topic yg lebih awal.

" Kau belum mengerti? " kali ini Naruto balik bertanya sembari mengangkat sebelah alisnya.

" Karna kami Jinchuriki? Atau lebih dari itu? " Yagura memiringkan kepalanya curiga.

" Yah… Aku hanya merasa satu nasib. Lagipula, aku tak mau kehilangan lagi! " Naruto memberi jeda.

" Kalian tau Kazekage Suna saat ini? "

" Sabaku no Gaara. " Yagura dan Yugito menjawab serempak.

" Ya! Dia adalah teman senasibku yg pertama. Waktu itu aku baru saja tiba di Konoha dan langsung mendapat misi ke Suna. Mendengar Suna, aku langsung antusias. Namun yg aku dapat hanya kenyataan kalau Gaara telah dibawa. Andai saja aku bisa merasakan firasat lebih awal, itu tak akan terjadi. Dan yg membuatku lebih marah, saat aku telah menemukannya, dia sudah…" Naruto mengepalkan tangannya.

" Aku tak sadar telah lepas kendali. Sampai-sampai Senseiku kewalahan menghadapi amukanku. Namun, salah satu ninja Suna mengorbankan nyawanya dengan jurus terlarang serta aku yg hanya bisa menyalurkan cakra. Gaara selamat. Dia hidup kembali, walau dengan satu korban. Aku masih ingat kata2 Nenek itu, 'Dia masih terlalu banyak mengemban tugas. Perjalanan kalian masih panjang. Semua yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi sekarang, pada akhirnya aku mampu melakukan hal yang benar. Masa depan Desa kalian akan berbeda dibandingkan dengan pada masaku. Ini adalah permintaan dari seorang nenek tua. Kau satu2nya yg mengerti rasa sakit. Maka dari itu. Lindungi juga yg sama sepertimu, termasuk Gaara!' "

Hening. Itu yg kini menyelimuti ruangan yg diterangi oleh obor tersebut.

" Kupikir nenek itu hanya pingsan. Tapi ternyata… " Naruto menegakkan kepalanya.

" Aku hanya ingin egois kali ini. Mungkin aku harus kehilangan kepercayaan mereka untuk sementara. Hah… hidup itu kadang menyebalkan. "

Naruto menuju pintu dinding yg kini terbuka sedikit.

" Istirahatlah! Anggap ini perkenalan. Aku tak mau keberadaan kalian diketahui oleh mereka. Selama kalian disini, kalian aman. Ohh… dan makanan juga sudah aku sediakan. Aku tak mau kalian mati kelaparan juga. Aku juga akan membawa teman lain! Jaa ne!"

Dengan itu, pintu kembali menutup. Menyisakan mereka dengan gejolak pikiran mereka.

" Anak itu…" Yagura.

" Keras kepala/baka! " Yugito/Yagura.

#

Naruto memasang kembali perlindungan cakra dan tempatnya. Ia kembali berjalan untuk keluar. Sampai di luar goa,

" Keluarlah! Tak perlu membuntutiku seperti itu.."

Sesaat, sesuatu yg menyerupai tanaman batang pohon hijau muncul dari bawah tanah. Dan bagian itu terbelah menjadi bentuk gigi taring horizontal yg terhubung. Menampilkan hanya bagian kepala yg memiliki warna berbeda yaitu hitam dan putih.

" Terlalu mudah untuk kau temukan. "

" Diamlah Zetsu hitam! Ada apa? " Naruto berubah menjadi dingin. Bukan sifat yg sering keluar.

" Kita akan segera kedatangan tamu tak diundang. Jadi, Pain memanggilmu! " Zetsu putih menjelaskan tujuannya.

" Hm. Aku berangkat sekarang! Katakan itu! " Naruto menyanggupinya dengan serius dan tegas.

" Baiklah… " Zetsu kembali tersedot tanah dan menghilang. Naruto melesat cepat memenuhi panggilan sang ketua Akatsuki.

#

#

" Ini perbatasan Amegakure. " ujar Kakashi sembari berjongkok di salah satu dahan rimbunan pohon.

" Apa kita menyerang Desa itu? " Kiba bertanya penasaran.

" Mana mungkin mereka menjadikan sebuah Desa sebagai markas Kiba…"

" Aku hanya bertanya Shikamaru! " Kiba hanya mendengus kesal.

" Ya, kau benar! Kita hanya akan mencari suatu tempat di sekitar luar Desa yg bisa mereka jadikan markas. " Kakashi mengaktifkan Sharingannya. Sedang Neji dan juga Hinata mengaktifkan Byakugannya.

" Sepertinya ketemukah Kakashi-Sensei?! " bukan bertanya, malah pernyataan dari Neji.

" Hm. Bergerak! " Kakashi mengangguk. Dan tak berselang detik, mereka menghilang melesat menuju ke sumber yg mereka bisa rasakan.

#

#

" Apa kau memang membuatku untuk tak menemui mereka?! " Naruto kini berhadapan dengan Pain.

" Kau terlalu jeli. " pria berambut orange kemerahan serta tindik yg berada di beberapa bagian wajahnya, hanya menampakkan kedataran.

.

.

.

.

.

.

Okehhh! Chapter 2 Finish!

Haaahhhhh…. Tak taulah saya jika itu beneran belibet jadinya.. ~.~ '

Maaf kalo seandainya ada typos atau kata2 yg aneh.. akunya udah periksa semua sihh… Tapi gak tau jg klo masih ada yg tertinggal…

Dan jujur aja, jelasin ciri2 itu agak belepotan juga. Tapi...tapi… kenapa pula saya suka sekali bikin rincian begitu?! *jedukin kepala* Dan soal rambutnya Pain, itu beneran isi kemerahan dikit gak sih?! Atau orange gelap?! Tak terlalu tau warna ini mah… #ditimpuk#

Yosh! Yang penting, ini proyek gak nganggur mulu di lingkungan otak.

Dan saya menunggu kelanjutan.. ^_^ #apa tidak kebalik?#

Yasudahlah! Mohon yaa…..

#APA?# d