Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: T

Pairing: SasuSaku

Warning: Canon, Angsty, Full of SPOILER dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Story That Has No Beginning

Story by: Akina Takahashi

Chapter 1: Consciousness

"Bagaimana keadaanmu Naruto?" Sapa Sakura yang tiba-tiba saja masuk ke ruang rawat Naruto yang baru saja sadar dari koma akibat pertarungan melawan Uchiha Madara. Gadis itu tersenyum sambil meletakkan bunga lili putih di vas bunga yang berada di atas meja.

"Sakura-chan!" Seru Naruto ceria. Tangan kanan dan kirinya masih dipenuhi bebatan perban akibat luka yang dideritanya namun sepertinya hari ini dia sudah tampak jauh lebih baik. Sudah hampir dua minggu berlalu semenjak pertarungan hebat itu. Dan hasilnya sudah jelas, aliansi lima negara berhasil memenangkan peperangan dan membunuh Uchiha Madara beserta Uchiha Obito.

Sakura berjalan menuju Naruto kemudian meletakkan tangannya di urat nadi pemuda itu. "Hm, tidak ada masalah dengan denyut nadimu." Setelahnya ia menggerakkan tangannya ke dahi si blonde itu perlahan untuk mengecek suhu tubuh pemuda itu. "Suhu tubuhmu juga sudah normal." Gadis itu tersenyum menatap mata cerulean Naruto. "Mungkin besok atau dua hari lagi kau sudah bisa meninggalkan rumah sakit."

"YATTA!" Naruto berteriak senang. "Akhirnya aku bisa makan di Ichiraku ramen!"

"Siapa bilang kau boleh makan sembarangan?" Sakura berkacak pinggang. "Kau harus makan sesuai dengan menu yang kusarankan."

"APAA?" Naruto terlihat panik. Ia teringat akan suplemen kesehatan yang diberikan Sakura padanya saat ia berlatih untuk mengontrol chakranya. Rasanya sangat mengerikan.

"Tidak mau! Sakura-chan kumohon... aku bisa mati kalau tidak makan rameen~" Naruto merengek. Ia menarik tangan Sakura. "Rameeenn, aku ingin rameeen..."

Sakura melepaskan tangan Naruto yang menarik tangannya. "Tidak ada ramen buatmu!"

"Sakuraaa-chaaaan... kumohooon..." rengekan Naruto semakin menjadi.

"Tidak. Atau kau mau menginap beberapa minggu lagi disini setelah kupatahkan tulang rusukmu?" ancam Sakura.

Naruto yang merinding setelah memikirkan betapa dahsyatnya kekuatan Sakura segera mengurungkan niatnya. Ia hanya cemberut dan mengerucutkan bibirnya kesal.

"..."

"Naruto..." Kali ini suara Sakura berubah menjadi jauh lebih lembut dibandingkan tadi. Mata emeraldnya menatap Naruto tulus. "Arigatou."

Mata biru Naruto melebar.

"Terima kasih karena kau telah menyelamatkan dunia ninja dari kehancuran, terima kasih karena kau telah memberi harapan padaku, ah maksudku aku dan para ninja Konoha yang lain…" Sakura menghentikan kata-katanya sebelum melanjutkannya kembali. "Terima kasih karena telah membawa Sasuke-kun pulang."

"Aku tidak sehebat itu Sakura-chan." Naruto tertawa hambar. "Kau terlalu berlebihan."

"Tidak. Itu semua benar, Naruto."

"Aku tidak akan bisa melawan Uchiha Madara jika kalian tidak membantuku." Naruto tersenyum. "Justru kalianlah yang telah memberiku harapan. Dan yang terakhir, bukan aku yang membawa Sasuke kembali. Sasuke kembali atas keinginannya sendiri."

Sakura menggelengkan kepalanya. "Kami semua pasti sudah mati jika kau tidak memberikan chakramu, Naruto… dan Sasuke, dia kembali setelah melihat tekadmu yang begitu kuat. Dia kembali karena kau telah berhasil menunjukkan jalan yang benar padanya." Ia memeluk Naruto dan berbisik di telinga pemuda itu. "Terima kasih Naruto karena telah menjadi pahlawan bagiku dan juga bagi Konoha."

Semburat merah muncul di wajah Naruto. Bagaimanapun juga ia masih menyukai rekan satu timnya itu. Walaupun saat ini ia sedikit bimbang karena Hinata telah menjadi seseorang yang sangat penting baginya.

Sakura melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. "Sebaiknya kau segera memberi Hinata jawaban atas pernyataan cintanya waktu itu."

"Aah itu…" Naruto menggaruk kepalanya. Sedikit salah tingkah ketika mendengar saran sahabat baiknya ini.

"Oh, ayolah Naruto. Kau harus memberikan jawaban yang bagus tentunya." Sakura pura-pura kecewa. "Tidak setelah kau menolak pernyataan cintaku."

"Ah, hei! Kau tahu kan saat itu kau menyatakan cinta padaku karena kau ingin aku melupakan janjiku untuk membawa Sasuke pulang. Itu bukan pernyataan cinta sungguhan Sakura-chan!"

"Haah, banyak alasan kau Naruto!" gerutu Sakura. "Masa kau tega membiarkan Hinata menanti tanpa ada kepastian yang jelas?"

"Iya, akan segera kupikirkan." Akhirnya Naruto menyerah. "Bagaimana keadaan Sasuke?" Sesaat Naruto dapat melihat ekspresi wajah Sakura mengeras.

"Kondisinya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Luka-lukanya sudah mulai sembuh dan mungkin dia juga akan diperbolehkan pulang satu atau dua hari lagi." Jelas Sakura. Naruto dapat melihat mata hijau emerald gadis itu sempat meredup sesaat.

"Sakura-chan…"

"Ah, jam besuk sudah hampir habis. Aku harus segera menengok Sasuke-kun." Sakura berjalan menuju pintu keluar dan melambaikan tangan dengan ceria pada Naruto. "Jaa na, Narutoo!"

"Jaa na Sakura-chaaan! Besok jangan lupa bawakan aku makanan enak yaa!" Naruto membalas lambaian tangan Sakura sambil tertawa lebar.

.

.

Sakura berjalan menjauhi ruangan Naruto hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu berwarna putih yang ia ketahui sebagai pintu masuk menuju ke ruangan Uchiha Sasuke. Ia menarik napas panjang seolah ia akan menghadapi sesuatu yang berat di balik pintu ini. Sungguh, bertemu dengan Naruto dan bertemu dengan Sasuke adalah hal yang jauh berbeda. Ia merasa nyaman dan dapat mengeluarkan segala emosinya jika berada di hadapan Naruto. Ia dapat menangis, tertawa, tersenyum, marah, ataupun dapat mengeluarkan innernya di dengan bebas. Sementara di hadapan Sasuke… tidak. Tidak sekalipun. Aura dingin sang Uchiha itu selalu berhasil membuatnya berubah menjadi bukan dirinya sendiri.

TOK TOK

Sakura mengetuk pelan pintu itu. "Sasuke-kun…"

Tak ada reaksi.

Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu yang memang tidak dikunci itu. Tangannya sedikit bergetar ketika ia melakukannya.

"Sasuke-kun…" panggilnya pelan. Ia melangkahkan kakinya ketika ia melihat sang Uchiha prodigy tengah terlelap diatas ranjang. Entah perasaan apa yang merayapi tubuhnya ketika melihat wajah damai Sasuke yang tengah tertidur. Ia meletakkan bunga yang di bawanya ke dalam vas kemudian berjalan menuju pemuda pujaan hatinya itu.

Mata hijaunya memperhatikan rambut hitam pemuda itu yang tampak lebih panjang daripada sebelumnya, kulit putih pucatnya, wajah tampannya yang dingin, hingga tubuhnya yang jauh lebih tinggi daripada sewaktu mereka genin dulu. Ia menjulurkan tangannya hendak menyentuh pipi pemuda itu namun pergerakkan tangannya seketika berhenti.

DEG

Jantungnya berdetak tidak beraturan. Rasa sakit yang tak ia ketahui menjalar di dadanya. Sakura mencengkram baju merahnya kuat. Tangannya gemetar ketika bayangan saat dulu pemuda Uchiha ini berniat membunuhnya kembali muncul dalam benaknya.

Bayangan chidori yang berputar liar hendak menyerangnya, bayangan kunai beracun yang nyaris saja mengenai dirinya, juga bayangan wajah Sasuke yang tertawa senang ketika ia nyaris saja membunuh teman satu timnya sendiri, Karin.

HAH HAH HAH

Entah kenapa Sakura merasa sesak. Ia tidak dapat lagi membiarkan kenangan-kenangan menyeramkan itu kembali menghantui benaknya. Ia mengambil langkah mundur hingga tubuhnya menabrak dinding di belakangnya. Masih mencengkram bajunya berusaha untuk mengurangi rasa sakit yang ada di dadanya, ia segera berlari menuju pintu keluar. Meninggalkan Sasuke sendirian.

Tak lama setelah Sakura pergi. Sepasang mata onyx terbuka. Menandakan bahwa ia tak sepenuhnya tertidur tadi.

"Sakura…"

.

.


Haruno Sakura: "Even during winter it keeps it's beauty, never losing to the cold. A strong flower that waits for the hope of spring."


.

.

Sakura meringkuk di atas ranjangnya, memeluk kedua lututnya sendiri. Sinar bulan menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Memberikan sedikit cahaya pada kamarnya yang nyaris gelap gulita. Mata hijaunya menatap kosong sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya di kedua lututnya.

"Sasuke-kun…"

Aishiteru…

Aku mencintaimu –aku mencintaimu –aku mencintaimu –aku mencintaimu –aku mencintaimu

Tubuhnya bergetar sesaat sebelum akhirnya ia mencengkram dadanya yang terasa sakit. Chakra hijau keluar dari tangannya, dengan putus asa ia berusaha menyembuhkan rasa sakit itu. Namun… tak ada yang terjadi. Entah kenapa rasa sakit ini tidak bisa hilang. Bagaimanapun ia berusaha untuk mengobati dirinya sendiri.

Bahkan seorang iryo-nin jenius seperti dirinya tak mampu menyembuhkan dirinya sendiri.

Menyedihkan.

Bukankah ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri agar berhenti menjadi gadis lemah yang selalu saja menjadi titik hitam dari tim tujuh?

Kenapa? Kenapa ini masih terjadi?

Ia mengangkat kepalanya perlahan hingga akhirnya matanya menangkap foto tim tujuh saat mereka masih genin dulu.

Aah… rasanya sudah lama sekali…

Ia menjulurkan tangan kanannya perlahan hingga ia menyentuh ujung frame foto itu.

Seandainya aku dapat kembali ke masa itu.

Seandainya aku dapat memperbaiki semua kesalahanku dulu.

Seandainya saja saat itu aku lebih kuat, lebih berguna, dan lebih mengerti bagaimana perasaannya saat itu…

Apakah… Sasuke-kun akan melihatku?

Tidak.

Sakura dengan segera menarik tangannya kembali. Membiarkan foto berpigura itu tetap berada pada tempatnya.

Berhentilah berharap.

Ia takkan pernah melihatmu.

Bagaimanapun kau berusaha.

Oh astaga, apakah kau buta Sakura?

Sudah berapa kali ia merendahkanmu? Sudah berapa kali ia mengataimu sebagai perempuan menyebalkan? Sudah berapa kali ia mengataimu sebagai perempuan tidak berguna yang hanya akan menyusahkan dirinya?

HAAH HAAH HAAH

Napasnya terasa sangat berat.

Kau benar. Aku memang bodoh. Aku memang keras kepala.

Sang gadis Haruno segera membaringkan dirinya menghadap jendela. Masih meringkuk memeluk kedua lututnya, sang gadis berpiyama merah muda itu kembali menangis.

Cih.

Untuk apa kau menangisi si brengsek itu Sakura? Sudah berapa banyak air mata yang kau keluarkan hanya untuknya?

Sudah cukup semua hinaan itu Sakura.

Ia sama sekali tidak pernah menganggap keberadaanmu sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Apa lagi yang kau harapkan darinya?

Apa untungnya kau mencintai pemuda arogan, keras kepala, kasar, dan sombong seperti dia? Selalu menganggap klan Uchiha sebagai pusat dunia. Mendewakan darah keturunannya sendiri lebih dari apapun. Menganggap orang lain selain keluarganya sebagai sampah.

Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?

Wajahnya yang tampan? Ataukah kemampuannya sebagai ninja?

Jika itu benar maka kau sama saja dengan penggemarnya yang lain. Itu bukan cinta namanya. Hanya sekedar obsesi mengidolakan seseorang.

Tidak.

Bukan itu.

Aku tahu perasaan ini lebih dari itu. Jika aku hanya sekedar penggemarnya maka seharusnya perasaan ini sudah hilang sejak ia menjadi missing nin dulu. Seharusnya aku menjadi seperti penggemarnya yang lain yang pada akhirnya kecewa padanya dan meninggalkannya. Tapi aku tidak… perasaanku padanya tak pernah hilang.

Walaupun aku tidak tahu mengapa aku mencintainya.

Ya, apakah kau tahu…

Cinta itu tidak memerlukan alasan.

Aku tidak peduli pada wajahnya yang tampan, sifatnya yang arogan, ataukah kemampuannya yang hebat itu.

Yang aku tahu hanyalah aku menyukai seorang pemuda bernama Uchiha Sasuke.

Hmph. Konyol.

Apa gunanya cinta satu arah? Apa untungnya bagimu jika dia bahkan tidak pernah membalas perasaanmu?

Kalau begitu simpan saja semua cintamu itu Sakura. Biarkan perasaan itu menghancurkanmu.

Lalu apa yang harus kulakukan?

Buang semua perasaan tidak berguna itu, idiot!

Aah… benar juga… jika aku tidak merasakan rasa sakit ini lagi mungkin saja aku akan kembali seperti diriku yang dulu.

Sang gadis pink tersenyum pahit sebelum akhirnya ia menutup matanya membiarkan kegelapan menghilangkan kesadarannya secara perlahan.

.

.

.


"Aku akan membalaskan dendam seluruh klanku! Tak ada yang bisa menghentikanku. Termasuk kau, Sakura!"

"Kau menyebalkan!"


.

.

.

.

"SASUKEE! SASUKEEE!" Naruto berteriak riang ketika ia berlari memasuki ruang rawat Uchiha Sasuke. Sementara si pemuda raven itu hanya menatap sebal pada pemuda blonde itu. Ia menutup kedua telinganya. "Urusai dobe!"

Sakura yang berada di belakang Naruto tiba-tiba saja menjitak kepala Naruto dari belakang. "Jangan teriak-teriak baka! Ini rumah sakit!"

"Aww! Itai yo Sakura-chan!" gerutu pemuda blonde itu sambil memegangi kepalanya yang sedikit benjol. "Kau bisa membuatku kembali dirawat disini!"

Sakura tidak menanggapi Naruto. Ia berjalan menuju Sasuke. "Sudah merasa lebih baik Sasuke-kun?" Senyum lembut kembali muncul di bibirnya. Pemuda itu terlihat tampan dengan rambut hitamnya yang berkilau terkena cahaya matahari. Sasuke tengah duduk di ranjang rumah sakit sambil menatap keluar jendela yang terdapat di sampingnya.

"Hn…"

Seperti biasa… dia tidak pernah berubah.

"Hei! Hn itu artinya iya atau tidak?" Naruto tiba-tiba saja memotong pembicaraan Sakura dan Sasuke. "Teme! Aku benci pada gumaman tak jelasmu itu. Apa salahnya sih menjawab dengan jelas pertanyaan Sakura-chan?"

Sasuke menatap tajam Naruto seolah ia tidak suka dikritik seperti itu. Tapi entah kenapa niatnya untuk membalas pemuda itu tiba-tiba saja menghilang. Akhirnya itu menatap mata emerald Sakura dan menjawab pertanyaannya. "Sudah jauh lebih baik. Hanya saja aku masih sering mengalami sakit kepala."

Sakura tersenyum tipis. "Itu wajar Sasuke-kun. Kau mengalami gegar otak ringan saat kau pertama kali tiba disini. Kuharap rasa sakit itu akan hilang dalam beberapa hari ini." Ia mengarahkan tangannya perlahan untuk menyentuh dahi pemuda itu. Sasuke sempat melihat lengan gadis itu sedikit gemetar ketika hendak menyentuhnya.

Sakura menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Sasuke untuk merasakan suhu badan pemuda itu. "Suhu tubuhmu sudah kembali normal. Mungkin sore ini kau sudah diperbolehkan untuk pulang."

"Hn…"

Naruto yang mengamati perubahan atmosfir diantara Sasuke dan Sakura memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan Sasuke. Saat ini ia paham betul jika mereka berdua membutuhkan privasi.

"AAAHH!" Tiba-tiba saja Naruto berteriak. "Aku ingat aku ada janji untuk bertemu dengan Kakashi-sensei! Jaa na Sasuke! Sampai jumpa Sakura-chan!" Ia tersenyum lebar sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.

"Huf, si bodoh itu tidak pernah berubah. Selalu saja berisik." Gerutu pemuda onyx itu. Ia memandang kesal kearah punggung Naruto yang mulai berjalan menjauh dari pandangannya.

"Ya, benar. Naruto selalu seperti itu." Sakura hanya tersenyum menanggapi Sasuke. Seketika senyumnya lenyap ketika ia melihat Sasuke menatap matanya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Ada apa Sasuke-kun? Apakah ada yang sakit?" Sakura merasa tidak nyaman ketika Sasuke memandangnya seperti itu.

"Tidak."

Lagi-lagi tatapan tajam itu.

Kenapa hatiku sakit? Bukankah seharusnya aku sudah kebal?

Bukankah seharusnya aku sudah berhenti mencintainya?

Kenapa?

Kenapa perasaan ini tidak pernah mau hilang? Kenapa aku harus menyimpannya selama bertahun-tahun?

"Ah, aku mengerti." Sakura tersenyum tipis. "Sepertinya saat ini kau sedang tidak ingin diganggu ya?" Gadis pink itu berbalik menjauhi Sasuke. "Gomen na Sasuke-kun… aku tidak bermaksud untuk mengganggumu. Aku pergi dulu."

Langkah Sakura segera terhenti ketika Sasuke membuka mulutnya. "Sakura…"

"Ya?"

"Arigatou." Tangan Sakura kembali bergetar ketika mendengar kata ini dari Sasuke. Untuk kedua kalinya ia merasa hampa. Dengan sedikit bersusah payah ia menggerakkan tangannya untuk membuka pintu menuju keluar.

Terima kasih untuk apa? Kenapa kau berterima kasih padaku Sasuke-kun?
Apa kau berniat memberikan harapan kosong lagi padaku? Apa kau berniat menghancurkan hatiku lagi?

Berhenti memberi harapan padaku! Jangan biarkan aku berharap lagi!

Jangan bersikap baik padaku! Jangan mengasihani aku! Cukup! Semuanya sudah cukup!

Sakura terdiam sesaat.

"Douiteshimashite Sasuke-kun…" Dan ia segera melangkahkan kakinya menjauhi ruangan pemuda itu.

Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Air mata mengalir di kedua belah pipinya. Kenapa kau mengatakan hal itu lagi padaku?

Kenapa kau mengatakan hal yang sama seperti saat kau pergi meninggalkanku tiga tahun yang lalu?

.

.

.


Uchiha Sasuke: "You're annoying.. –you really are annoying..."


.

.

.

Malam ini untuk pertama kalinya semenjak tiga tahun terakhir, Uchiha Sasuke kembali ke rumah tinggalnya. Ia menghela napas, tak pernah menyangka jika ia akan kembali ke rumah menyedihkan ini lagi. Sudah terlalu banyak kenangan disini.

Ia melangkahkan kaki memasuki rumah utama di distrik Uchiha itu. Sejenak ia merasakan tangannya bergetar saat hendak menggeser pintu yang ada di hadapannya.

Ia takut.

Ia takut bayangan kematian keluarganya akan kembali muncul menghantui benaknya. Oh astaga, pasti saat ini Uchiha Madara sedang menertawakannya dari akhirat.

Sangat konyol bukan? Seorang shinobi sehebat dirinya yang mampu mengalahkan orang yang mampu mengobrak-abrik dunia ninja seperti Madara ternyata takut untuk kembali ke rumahnya sendiri.

"Cih."

"BRAKK"

Merasa frustasi, Sasuke menggeser pintu yang ada di hadapannya dengan kasar. Alangkah terkejutnya ia ketika menyadari bahwa rumahnya sama sekali tidak terlihat seperti rumah kosong yang tidak terawat selama bertahun-tahun. Semua perabotan terlihat rapi dan bersih, lantai yang terlihat seperti telah dipel berkali-kali, dan yang paling mengagetkan adalah aura hangat yang menyenangkan menguar di seluruh ruangan. Aura penuh kasih mirip seperti yang ia rasakan saat berada di dekat ibunya dulu.

Siapa? Siapa yang melakukan semua ini?

Merasa tak tenang ia berusaha mengaktifkan Sharingannya untuk berusaha mencari tahu siapa penyusup yang mungkin saja masih berkeliaran disini. Namun sayang, usahanya gagal begitu saja.

Sialan.

Sepertinya para perawat di rumah sakit telah menyegel aliran chakraku sehingga aku tidak dapat menggunakan ninjutsu ataupun genjutsu termasuk Sharingan.

Ia memfokuskan pendengarannya berusaha mendengar pergerakan manusia yang mungkin saja masih ada disini, yah setidaknya ia masih dapat menggunakan taijutsu untuk menghajar penyusup itu.

Namun tak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Dengan kesal akhirnya ia mendudukkan dirinya di kursi yang terdapat di ruang keluarga. Ia menutup matanya perlahan berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang terus-menerus berputar di benaknya.

Bukan, bukannya ia merasa keberatan rumahnya menjadi bersih dan rapi seperti ini. Hanya saja ia merasa tidak suka jika daerah privasi miliknya dimasuki orang lain tanpa seizinnya. Yah, tipikal Uchiha.

Arogan. Kaku. Keras kepala.

Naruto?

Hmph, si baka itu bahkan tidak bisa membersihkan apartemennya sendiri yang sudah tampak seperti tempat pembuangan sampah itu.

Kakashi?

Oh, sejak kapan sensei pervert peduli akan kebersihan rumah seorang mantan muridnya?

Sakura?

Mata hitamnya terbuka. Ya benar. Pasti gadis pink itu yang melakukannya. Shinobi Konoha yang memiliki ikatan dengan dirinya hanyalah mereka bertiga. Ia bahkan tak pernah mengobrol panjang lebar dengan orang selain anggota timnya sendiri.

Cih.

Untuk apa gadis itu melakukan ini?

Hn… ternyata ia sama saja dengan Karin. Selalu mencari perhatian. Apakah ia berpikir dengan ini aku akan menyukainya? Oh astaga, bahkan disaat aku sekarat pun ia memilih untuk menyelamatkan Naruto terlebih dahulu daripada aku.

Cih, aku benci itu. Aku benci dinomorduakan. Terutama jika sainganku adalah Naruto.

Perasaan apa ini? Rasanya sama seperti waktu aku melihat ayah jauh lebih memperhatikan Itachi daripada aku.

Ah, aku tahu. Ini adalah perasaan iri.

Tidak. Ada yang berbeda dari perasaanku pada Itachi waktu itu.

Ah aku tahu… Cemburu. Ya, aku cemburu pada Naruto.

Tapi kenapa?

Kenapa aku harus cemburu dengan si bodoh itu? Apa pentingnya Sakura bagiku? Ia bahkan bukan anggota klan Uchiha. Ia hanya rekan satu timku dan Naruto. Itu saja.

Tapi kenapa?

Aku tidak ingin orang luar mencampuri urusan pribadiku. Apalagi ia bukan seorang Uchiha.

.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari kedua semenjak Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Naruto sedang disibukkan dengan kunjungan Rai-kage keempat, Mei Terumi sang Mizu-kage, Onoki sang Tsuchi-kage ketiga dan Gaara sang Kaze-kage tampan dari Suna. Jujur saja Sakura sedikit heran dengan kunjungan ketua dari negara anggota aliansi lima negara ini. Urusan apa yang sedemikian penting hingga mereka harus meninggalkan negaranya masing-masing dan datang ke Konoha?

Oh, semoga saja bukan membahas soal ancaman perang atau apapun namanya. Ia sudah muak menangani korban peperangan yang kebanyakan datang dalam keadaan mengenaskan kepadanya.

Ataukah kedatangan mereka ada hubungannya dengan Sasuke?

Bagaimanapun juga Uchiha Sasuke pernah dianggap sebagai ninja berbahaya bagi keamanan negara mereka.

Ah sepertinya ia berpikir terlalu jauh.

Seharusnya dengan pengorbanan Sasuke yang begitu besar saar peperangan melawan Uchiha Madara seharusnya mereka telah memaafkannya kan?

Bagaimanapun juga jika saja Sasuke tidak membantu Naruto saat itu, mungkin saja project Tsuki No Me yang digagas oleh Uchiha Madara akan berhasil dan semua manusia yang hidup di bumi saat ini akan terperangkap dalam genjutsu selamanya.

Sakura menghela napas panjang sebelum membuka pintu rumahnya. Entah kenapa melihat Sasuke kembali berada di Konoha malah membuat perasaannya kacau. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia menjadi kacau seperti ini.

"Tadaima." Sakura membuka sepatu boots hitamnya dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di sampingnya.

"Ara, okaerinasai." Suara hangat ibunya, Haruno Mebuki, menggema dari dapur. "Tumben sekali kau pulang cepat hari ini."

"Okaeri Sakura!" Haruno Kizashi, ayah Sakura terlihat bersemangat menyambut putrinya pulang. Sakura tersenyum. Sungguh ia bahagia bisa memiliki ayah dan ibu yang menyayanginya. Meskipun ayahnya terkesan norak dan tidak setampan Namikaze Minato atau segagah Uchiha Fugaku tapi ia bersyukur, setidaknya ia masih memiliki ayah yang luar biasa. Yah walaupun ia akui ia sering kesal jika ayahnya mulai mengeluarkan candaan yang sama sekali tidak lucu buatnya.

"Sakura, bantu kaa-san untuk mencuci semua piring-piring ini!" Seperti biasanya Mebuki langsung memberi pekerjaan rumah bagi putrinya itu. Dan seperti biasanya pula Sakura selalu saja menolak untuk mengerjakannya. Ya, Sakura memang membenci pekerjaan rumah tangga seperti mencuci atau melipat pakaian.

Tanpa berkata-kata Sakura segera berjalan menuju dapur dan mulai mencuci piring-piring yang ada disana tanpa mengeluarkan protes sedikitpun. Hal ini sukses membuat Mebuki dan Kizashi kaget setengah mati karena biasanya Sakura akan langsung menolak dengan bermacam alasan dan segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.

"Tumben sekali kau mau mengerjakannya." Mebuki sedikit takjub. "Kukira kau akan segera naik ke kamarmu seperti biasanya." Komentarnya. Ia kembali melanjutkan kegiatan memasaknya dan tidak ingin lagi mengomentari pekerjaan putrinya. Entah kenapa ada perasaan di dalam dirinya yang bilang bahwa hari ini Sakura bukanlah Sakura yang biasanya. Entah apa yang dialami putrinya hari ini.

"Tentu saja kaa-san! Semenjak si pemuda Uchiha itu kembali, Sakura kan jadi bersemangat untuk berlatih menjadi istri yang baik. Hahahaha!" Canda Kizashi.

Sakura hanya terdiam menanggapi candaan tidak lucu ayahnya. Ia masih melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Sebelum akhirnya Kizashi kembali melanjutkan perkataannya yang berhasil membuat Sakura hampir saja memecahkan piring yang dipegangnya.

"Padahal aku akan lebih setuju jika Naruto yang menjadi calon menantuku." Kizashi menghela napas. Ia meletakkan gulungan kertas yang dipegangnya di atas kotatsu. "Bagaimanapun juga Naruto adalah pahlawan bagi Konoha dan masa depannya jauh lebih jelas daripada pemuda Uchiha itu. Tapi mau bagaimana lagi? Kau sudah jatuh cinta pada si Uchiha itu." Gelengnya pasrah. "Hahaha tapi setidaknya ia setampan ayahmu kan Sakura Hahahaha." Tawanya kembali menggema.

"Tou-san! candaanmu sudah keterlaluan!" Mebuki yang sedikit banyak mengerti perasaan putrinya segera memarahi Kizashi yang memang tidak pernah bisa membaca keadaan di sekitarnya. "Ne, Sakura. Maafkan ayahmu ya, kau tahu kan ayahmu itu bodoh. Tidak bisa mengerti perasaan wanita sama sekali."

Sakura yang asalnya diam saja segera membalas perkataan ayahnya tadi. Sungguh ia tidak menganggap itu sebagai lelucon. Melainkan sebagai perkataan serius dari otousannya. "Dia bukan penjahat, tou-san! Dan satu lagi kuingatkan bahwa tidak ada hubungan khusus diantara kami, jadi tou-san bisa tenang karena ia takkan menjadi menantumu."

"Sakura…" Mebuki menatap Sakura khawatir.

"Gomen Sakura, aku tidak tahu kalau leluconku ternyata menyakitimu." Kizashi terlihat menyesal. "Aku percaya kalau Uchiha Sasuke bukan penjahat seperti yang dibicarakan orang-orang."

"Daijoubu, tou-san…" Sakura tersenyum. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. "Maafkan aku juga karena memiliki selera humor yang rendah. Tapi tadi aku sempat ingin tertawa saat tou-san bilang kalau tou-san setampan Sasuke." Sakura tertawa kecil. "Itu benar kalau tou-san dan Sasuke-kun berdiri sejajar kemudian dilihat dari puncak gunung pahatan patung Hokage."

"Hahahaha." Mebuki tertawa ketika mendengar hal ini.

"Hei, kalau aku tidak tampan kenapa kau mau menjadi istriku?" Kizashi menunjuk Mebuki.

"Ara, itu kan karena tou-san selalu saja mengejarku kemana-mana. Bahkan sampai-sampai dikira stalker oleh ayahku dulu." Kenang Mebuki. "Karena aku tidak tega makanya aku menerima lamaranmu saat itu, anata."

"Err, jadi aku lahir karena kaa-san tidak tega menolak tou-san?" Sakura tertawa kecil. Ia merasa beruntung berada dalam keluarga hangat ini. Ya walaupun lelucon ayahnya selalu berhasil membuat moodnya rusak.

"Haa, tidak begitu juga Sakura! Kau harus tahu bahwa ibumu ini pernah mengancam ingin bunuh diri jika aku tidak jadi menikahinya."

"Hei, jangan memutar balikkan fakta! Itu bukannya tou-san yang ingin bunuh diri jika aku menolak lamaranmu?"

"Sudah sudah, jangan bertengkar." Sakura menghela napas panjang sebelum akhirnya meletakkan piring terakhir yang telah dicucinya di dalam rak. Ia berjalan mendekati ayahnya yang masih sibuk membaca gulungan kertas yang entah apa isinya di ruang keluarga.

"Sakura, sepertinya para tetua Konoha tidak sependapat dengan kita soal Uchiha Sasuke." Tiba-tiba saja Kizashi berujar.

"Eh, apa maksud tou-san?"

"Tadi siang tou-san mendengar kabar burung bahwa ada kemungkinan Uchiha Sasuke akan dihukum mati."

DEG

DEG

DEG

Ia kembali teringat pada kata-kata Naruto pagi ini.

"Gomen na Sakura-chan sepertinya hari ini reuni tim tujuh di Ichiraku ramen terpaksa batal. Kau tahu? Tsunade-baachan memaksaku untuk ikut menemaninya dalam pertemuan kage hari ini. Huf, menyebalkaaaann~!"

Jika itu benar maka mungkin saja semua gosip ini adalah kebenaran yang tersebar sebelum waktunya.

Sasuke-kun dihukum mati?

Yang benar saja…

Ini bercanda kan?

Setelah ia bertarung sekuat tenaga untuk menyelamatkan Konoha.

Setelah ia mengorbankan segalanya untuk kembali kesini.

Ini tidak adil.

Tidak adil –tidak adil –tidak adil –tidak adil –tidak adil –tidak adil –tidak adil –tidak adil –tidak adil

Hmph, apanya yang tidak adil? Si brengsek itu pantas menerimanya.

TIDAK!

Demi Tuhan, seburuk apapun sikapnya padaku ia tetap berhak untuk bahagia. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut haknya dengan paksa! Apalagi mencabut nyawanya… satu-satunya hal yang masih ia miliki saat ini.

Uchiha Sasuke... seorang pria yang seumur hidupnya dikelilingi oleh kegelapan dan dendam. Apakah adil jika hidupnya juga berakhir dalam kegelapan?

TIDAK! TIDAK!

Sasuke-kun... dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Demi Tuhan! Ini tidak boleh terjadi.

BRAKK

Sakura menggebrak kotatsu hingga menyebabkan kotatsu itu terbelah menjadi dua. Kizashi dan Mebuki yang shock melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menatap nanar putrinya yang saat ini terlihat sangat tidak stabil itu.

"Sakura!"

-To Be Continued-


SasuSaku Facts:

"Hating herself for always having to watch everyone's back as they protect her, Sakura vowed to become stronger and cuts herself free by chopping off her long hair."

"Even after 2 and a half years, Sakura's feelings for Sasuke had been shown to not waver."

"Towards Darkness... the one to appear before him is Sakura. She confesses to him as he tries to leave without looking behind him. She confesses with a blindingly uncompromising mind that does not want to lose him. The one that filled his lonely existence was Sakura. But he cannot let her in. He leaves with just one word of thanks. Sakura who needed him to the very last. His words were real."

Source: Narutopedia


Author Notes:

Gimana chapter kali ini? Terlalu lebay kah?

Awalnya saya ingin membuat fic ini berdasarkan Sakura POV, tapi setelah berpikir panjang akhirnya saya memutuskan untuk menceritakannya dari sudut pandang pihak ketiga dengan beberapa scene dilihat dari sudut pandang salah satu karakter yang menjadi fokus cerita. Semoga kalian menyukainya ya.

Ah, kata-kata yang berada di pergantian scene itu saya kutip dari dialog yang ada di manga Naruto. Thanks to Masashi Kishimoto-sama yang dengan sangat jeniusnya menciptakan cerita yang sangat menyentuh.

Saran, kritik, ataupun flame yang berkualitas dan membangun sangat saya tunggu! Bagaimanapun saya sangat menantikan review dari kalian semua.

QA Sections:

NururuFauziaa, Jan 31, 2014
Q: Apa chap depan bakal sedikit dialognya? Itu PDS3 / PDS4?
A: Chapter-chapter setelah ini mungkin akan banyak dialognya :D. Setting fanfiksi ini adalah Perang Dunia Shinobi ke 4 sama seperti setting manga Naruto yang baru keluar saat ini.

zhaErza, Jan 26, 2014
Q: Ore no Hana ditunggu kelanjutannya.
A: Waaah saya terharu ternyata zhaErzha-san ternyata masih mengikuti Ore no Hana... jujur aja saya sempat stuck di fanfiksi ini. Tapi saya masih berusaha untuk melanjutkan Ore No Hana.

iya baka-san, Jan 25, 2014
Q: Kayanya kalo diambil dari Sakura POV bakalan nyeseknya. Akan seperti apa cinta yang tanpa awal ini?
A: Sebenernya ada sedikit perubahan ide awal di fanfiksi ini. Saya memutuskan akan mengeksplor masing-masing karakter yang ada. Jadi saya juga akan membuat cerita dari sudut pandang Sasuke juga. Ya silakan saja ikuti terus perkembangan cerita ini iya-san!

Queeny Qyu, Jan 24, 2014
Q: Kereen, pastinya ditunggu next chapter!
A: Terima kasih! yosh silakan tunggu chapter selanjutnya!

.3914, Jan 24, 2014
Q: Huaa lanjut! ingin baca kelanjutannya
A: Yooshh ini sudah diupdate! arigatou mayaa!

akaneharuko, Jan 23, 2014
Q: Lanjutin ceritanya, ga sabar nunggu kelanjutannya!
A: okee... ini udah dilanjut kok.

khoirunnisa740, Jan 23, 2014
Q: Aku juga berdebat di forum karena Masashi Kishimoto bilang Sasuke mati dan hanya satu pair yang terwujud.
A: Wah? saya bahkan ga tau soal itu. Tapi emang jalan pikirannya Kishimoto-sama terlalu luar biasa. Buktinya ga ada yang bisa nebak kelanjutan chapter manga Naruto bakal gimana. Malah ada chara baru misterius lagi yang muncul di chapter 634 ini.

Tomat-23 & hanazono yuri, Jan 23, 2014
Q: Lanjut!
A: Iyap ini sudah dilanjut :D

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Regards,

Akina Takahashi