Seven Days Challenge
Chapter 2
Days 1
Materi Kewarganegaraan yang Gak Jelas
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Genre : Romance, Friendship, Family (?)
Happy Read
"Apa...! 168 halaman? Nih dosen semuanya gila kali ya? Kalo materinya bejibun kayak gini kenapa dia gak mau masuk tiap minggu..." Teriak Hinata dengan frustasi ketika dia melihat jumlah halaman dari materi yang diberikan oleh Sakura.
Dengan kesal dia mengacak-acak rambutnya yang dari awal sudah acak-acakan sehabis bangun tidur dan membanting hapenya diatas ranjangnya. Beberapa saat kemudian gadis manis itu kembali tenang dan menyisir rambutnya dengan jari lentiknya.
"Baiklah, baiklah, mungkin isinya hanya omong kosong seperti berita di koran" Katanya mencoba menenangkan dirinya.
Dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya dan kembali membaca ebook yang ada di layar hapenya. Biji lavendernya bergerak kesana kemari, mengikuti kata-kata yang tertera di layar hapenya sambil sesekali mengerutkan dahinya.
"Astaga...! Kukira isinya apa, ternyata..."
"Kenapa isinya cuma rujukan undang-undang dan teori orang gak jelas zaman dahulu sih" Hal itu tentu saja membuat Hinata frustasi.
Siapa yang tidak frustasi ketika melihat ada banyak sekali footnote dari setiap halaman, bahkan di tiap paragraf harus menunjuk pada satu buku halaman tertentu.
"Ah...! Okay, lupakan saja semua itu" Kata Hinata dengan wajah kesal dan mencampakkan hapenya, seolah hape yang sudah lama menemani dirinya itu sekarang telah mengkhianati dirinya.
Gadis itu pun bergerak menuju ke arah almarinya dan segera menarik sebuah kursi ke depan laptopnya sebelum menyalakan laptop tersebut. Dengan nada semangat, dia segera memutar sebuah drama dan duduk dengan tenang dan santai di kursinya.
Suasana kost gadis itu tampak sedikit lebih tenang daripada biasanya. Maklum, karena minggu tenang atau pekan sunyi, maka kebanyakan teman kostnya pulang kampung. Yah...! Ada beberapa juga sih yang tidak pulang dikarenakan berbagai alasan seperti...
Ingin fokus belajar disini aja.
Tetapi ternyata...
"Aduh...! Kok kamu imut banget sih... Kalo dia kulamar mau gak ya" Suara-suara yang dimanja-manjakan terdengar dari bibir tipis cewek yang berjanji untuk belajar satu mata kuliah setiap hari.
"Ih...! Dingin banget sih, kan kasihan ceweknya" Beberapa saat kemudian, mata lavender itu tampak sedikit terkejut dengan apa yang dipikirkannya.
Garis wajah aktor itu, matanya yang tampak dingin dan tajam, serta cara berjalannya mengingatkannya pada sosok yang sudah dia temui kemaren.
"Sialan...! Kenapa aku harus mengingat dia juga sih, kan aku jadi inget kalo aku masih belum punya materi untuk belajar SBD" Geram Hinata dengan wajah kesal sambil tetap menonton drama tersebut.
Tetapi, semakin hari, si aktor tampak juga sikap baiknya. Dari yang sebelumnya dingin, menjadi sedikit lebih peduli dan so sweet pada heroine dalam drama tersebut. Hati Hinata tampak berbunga-bunga ketika melihat akhir yang behagia menghiasi layar laptopnya.
Bayangan akhir yang bahagia itu tampaknya tak bisa hilang begitu saja dari benaknya. Bahkan setelah dia mematikan laptopnya dan berbaring malas sambil menatap langit-langit kamarnya, kata-kata si tokoh pria itu masih terngiang-ngiang di telinganya.
Tetapi, sebuah pemikiran yang sedikit aneh merasuki pikiran bahagianya. Apakah dirinya akan bahagia jika ketua yang menyebalkan itu bersikap seperti itu padanya?
Wajahnya memanas ketika menyadari bahwa dirinya memikirkan hal seperti itu. Pipinya yang putih itu pun terlihat sedikit merah merona meskipun tidak ada seorang pun yang melihat jalan pikirnya.
Ditepuknya kedua pipinya dengan kedua tangannya untuk menyadarkannya kepada kenyataan sehingga pipi putih itu sekarang menjadi merah.
"Sudah-sudah, ayo kita belajar" Katanya sambil membuka hapenya dan kemudian membuka materi kewarganegaraan yang sudah di berikan oleh Sakura. Dahi gadis itu berkerut beberapa kali membaca banyak sekali footnote yang ada di dalam ebook tersebut.
"Waktu kayak gini malah gak ada akses internet" Keluhnya ketika dia merasa cukup bingung kalo tidak membaca rujukan yang berada di footnote.
"Apa aku ke kampus aja ya?" Gumamnya dengan nada ragu-ragu, tetapi keraguan itu segera hilang setelah dia berdiri dari ranjangnya dan kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi dalam. Hanya dalam beberapa menit saja, dia kembali keluar dengan wajah yang begitu segar dan rambut yang sudah berkilau.
Dengan sedikit bersenandung, dia memoleskan bedak tipis saja ke wajahnya dan mengambil tasnya untuk berangkat menuju ke kampus.
-0-
Tak ada matinya. Itulah mungkin yang menggambarkan suasana kampus yang berada di daerah perkotaan Konohagakure.
Lihat saja, meskipun sekarang adalah pekan sunyi, dan tidak ada kegiatan perkuliahan sama sekali, tetapi kampus tetap saja ramai.
Entah itu ada kegiatan yang diadakan oleh sekumpulan mahasiswa yang hobi di bidang tertentu, belajar untuk ujian, bahkan ada yang dengan terang-terangan mojok bersama sang kekasih di ujung gazebo.
"Duh...! Mereka semua pada gak punya paket internet apa? Kenapa semuanya numpang wifi di kampus sih?" Gerutu salah seorang gadis yang sekarang sedang berjalan mencari tempat yang kosong di gazebo umum.
Mata lavendernya tampak menatap sekeliling, mencoba untuk mencari tempat yang sepi diantara hiruk pikuknya mahasiswa yang sedang menikmati liburan.
"Ah...! Sialan, gak ada yang bisa di tempati nih" Keluhnya ketika sudah sampai di ujung gazebo.
"Kenapa kau tidak duduk sini aja?" Sebuah suara baritone yang khas masuk kedalam telinga Hinata.
Meskipun tertutupi oleh surai indigonya, telinga itu mengenali pemilik suara tersebut. Gadis itu pun menolehkan kepalanya ke arah pemuda yang sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah serius sambil mendengarkan musik keras yang dikeluarkan oleh dua earphone yang menghiasi telinganya.
"Kok dia bisa tau aku ada disini sih? Bukannya dia cuek aja tuh dari tadi" Gumam Hinata pelan. Pikirannya kembali dipenuhi oleh berbagai macam spekulasi yang membuatnya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak semua pikiran yang memaksa masuk dalam pikirannya.
"Yah...! Terpaksa deh. Gak ada tempat duduk lain kelihatannya" Kata Hinata sambil menaruh tas tangannya di atas meja dan membuka hapenya.
Keheningan menyelimuti dua orang manusia berlainan jenis tersebut, seolah keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Jika dilihat dari jauh, mereka memang kelihatan seperti itu. Sasuke yang masih tampak cuek dengan apa yang ada di dalam laptopnya, dan Hinata yang tampak kesal dengan Sasuke yang cuek dan berpura-pura memainkan hapenya degan cuek juga.
"Argghhh...! Kenapa rujukannya sendiri juga ratusan halaman? Padahal ini cuma satu paragraf dari sekian ratus paragraf..." Keluh Hinata frustasi ketika melihat salah satu rujukan yang sudah dia download dari internet.
"Berisik... Aku juga lagi konsentrasi nih" Suara keluhan juga terdengar dari Sasuke yang sekarang sedang menatap Hinata dengan tatapan risih.
"Eh...! Bukannya kupingmu sudah tersumpal dengan earphone itu? Kenapa kau masih bisa mendengar keluhanku sih?" Semprot Hinata.
"Nih...! Materi kewarganegaraan, pasti repot kalo kau membaca begitu banyak rujukan. Aku sudah mendownload itu sebelum kuliah dan mencocokkannya dengan Kurenai-sensei, jadi aku sudah merangkumnya" Jelas Sasuke sambil melemparkan beberapa lembar kertas yang berisi peta konsep kearah Hinata.
Hinata pun mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil kertas tersebut, di bacanya baik-baik tiap lembar kertas. Kali ini dahinya tidak pernah berkerut, seolah dia sudah menguasai setiap materi yang diajarkan oleh sang dosen.
"Kalo kau diem gitu kan aku bisa main game dengan tenang" Celetuk Sasuke ketika melihat seulas senyuman lega dan puas di bibir Hinata. Mata lavender itu pun menatap Sasuke dengan tatapan lega, layaknya anak kecil yang diberikan menemukan mainannya yang hilang.
Tetapi tetap saja, dia merasa tidak sanggup untuk menatap onyx tajam tersebut lama-lama dan kembali membaca kertas pinjaman dari Sasuke tersebut.
"Ba-bagaimana kau tahu kalo aku belajar kewarganegaraan?" Tanya Hinata sedikit gugup. Apa pemuda di depannya ini hanya pura-pura fokus menuju laptopnya dan memata-matainya dengan diam-diam? Tetapi, Hinata hanya mendapatkan tatapan heran sekaligus ejekan dari Sasuke
"Apa kau tidak sadar bahwa kau sekelas denganku di mata kuliah kewarganegaraan?"
TBC
Hahaha...! Di potong waktu yang sangat buruk -_-
Yap...! Hinata sudah berhasil mempelajari materi kewarganegaraan bersama dengan Sasuke. Masih ada enam mata kuliah lagi. Bagaimanakah perjuangan Hinata di hari berikutnya? Apakah Sasuke masih akan membantunya lagi?
Thanks for Read
Don't Forget to Review
