CHAPTER KEDUA YEY~ Maaf tidak menggunakan EYD, maaf typo.
Boboiboy © Animonsta Studio
Warning! Shounen-ai, Yaoi
Fang x Boboiboy pairing
DLDR!
Enjoy~
Fang sekarang mempunyai rutinitas baru, setiap pulang sekolah ia menjadi mentor belajar Boboiboy. Berkat rutinitas tersebut, nilai Fang dan Boboiboy membaik.
"Boboiboy, akhir-akhir ini nilai kau makin bagus.. Ada apa?" Gopal menyundul Boboiboy dengan sikutnya seakan-akan sedang menggoda Boboiboy.
"Ooh.. Aku akhir-akhir ini cuma lebih sering lagi belajarnya.. Tapi nilaiku ini belum bisa mengalahkan Yaya dan Ying lah.." Boboiboy tersenyum senang mendengar pujian Gopal.
"Iyelah.. Bisa mati kau dibunuh kalau kau mengalahkan Yaya dan Ying. Kau yakin tidak menggunakan jurus apa pun? Jimat? Atau apapun untuk menaikkan nilaimu?" Tanya Gopal mengintrogasi Boboiboy.
"Iya.. Aku hanya lebih rajin lagi belajarnya, tidak seperti kamu.. Main terus kerjaanmu" Boboiboy menceramahi sahabatnya.
"Hehehe.. Iyelah, Dah, aku nak ke kamar mandi dulu.. Dah Boboiboy.." Ucap Gopal melambaikan tangannya sambil berlalu.
Iris hazel Boboiboy langsung mengarah ke mentor sebayanya yang tengah duduk termangu menatap langit biru Pulau Rintis. Di dalam hatinya ia berterima kasih kepada Fang. Si pemilik kuasa tiga ini berpikir apa yang bisa ia beri untuk menunjukan rasa berterima kasihnya.
Bel pulang sekolah beresonansi hingga terdengar di kelas Boboiboy.
Hmm.. Mungkin kalau nanti belajarnya dirumah Fang, aku bisa mendapat ide.
Boboiboy menghampiri Fang yang tengah membereskan tasnya.
"Fang, kali ini kita belajar dirumah kau ya?" Ajak Boboiboy.
"Heh? Buat apa? Jangan lah! Rumahku berantakan.." Fang mengelak.
"Ayolah.. Sekali-kali. Kau tak bosan lihat rumahku? Kali ini aja, ya?" Boboiboy memasang wajah innocent italic. Fang yang tak tega melihatnya menggangguk kecil.
"Iyelah.. Hari ini saja" Fang mengalah.
"Terbaik kau, Fang!" Seru Boboiboy seraya mengangkat jempolnya.
Fang dan Boboiboy akhirnya sampai di rumah Fang. Rumahnya cukup bagus layaknya rumah minimalis. Fang membuka kunci rumahnya, lalu membuka pintu rumahnya.
"Permisi.." Sepi. Itu pemikiran pertama Boboiboy saat masuk ke rumah Fang.
"Hm.. Fang kau tinggal dengan siapa?" Tanya Boboiboy.
"Aku tinggal sendirian.. Orangtuaku masih di china. Aku tak begitu suka di china, jadi aku di Malaysia aja. Ini rumah ibuku sebelum menikah dengan ayahku. Tiap seminggu sekali, aku dikirimi bahan-bahan masakan dan uang untuk kebutuhanku sehari-hari. Bayar listrik, bayar air, semua uang itu mereka tanggungkan kepadaku." Jelas Fang.
"Hoo.. Begitu." Boboiboy mengangguk kecil seperti berkata 'aku mengerti'. "Kau hebat ya, Fang! Bisa mandiri seperti ini.." Puji Boboiboy.
"Tentulah aku hebat.. Dah, ayo kita ke kamarku." Fang dan Boboiboy menaiki tangga untuk ke kamar Fang. Di ambang pintu, Boboiboy tersentak kaget ketika melihat kamar Fang yang berantakan.
"Ish ish ish.. Berantakan sekali kamarmu!" Gerutu Boboiboy yang terlihat jijik melihat kamar milik mentor belajarnya.
"Hmm.. Kan sudah ku katakan, rumahku berantakan."
"Ayo kita bersihkan dulu! Aku tidak sanggup melihatnya. Kau hebat sekali bisa tahan di kamar seperti ini." Boboiboy memulai gerakan bersih-bersihnya dari tempat tidur Fang.
"Aku ini kan laki-laki, wajar lah berantakan.." Fang menghela nafas karena kata-kata yang Boboiboy ucapkan.
"Masih sempat kau mengelak? Sudah. Ambilkan aku seperangkat sarung bantal dan sprei, sapu dan pel, setengah ember air, kantong plastik, dan lap. Cepatlah" Fang yang kaget melihat Boboiboy yang berantusias untuk membersihkan kamarnya pun mengambil barang yang diminta Boboiboy. Entah kenapa, Fang merasa senang dengan jiwa ke ibu-ibuan Boboiboy. Setiap perintah dari Boboiboy, Fang langsung menurutinya.
Setelah semua hampir bersih, Boboiboy tinggal membereskan meja belajar Fang. Ketika hendak membereskan, Boboiboy melihat tanggal yang dilingkari dengan spidol hitam. Tanggal 13 April. Boboiboy memiringkan kepalanya seolah-olah bingung ada apa dengan tanggal itu.
"Fang, ada apa pada tanggal 13 April?" Tanya Boboiboy untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Oh, itu hari ulang tahunku.." Jawab Fang yang tengah memeras kain pel.
"Oh.. Kau akan merayakannya?"
"Entahlah.. Biasanya aku merayakannya dengan keluargaku, tapi mereka tidak bisa kembali ke Malaysia pada hari itu. Aku juga sedang tidak begitu tertarik untuk merayakannya." Jawab Fang dengan cueknya.
Ting! Sebuah lampu menyala di kepala Boboiboy. Boboiboy melihat kalender.
[Boboiboy]
Hmm.. Sekarang tanggal 9 April. Masih ada waktu! Oke, aku akan membuatkan dia donat lobak merah favoritnya, dan akan ku beri pada hari dia berulang tahun dan sebagai ucapan terima kasihku untuknya. Pasti akan menyenangkan!
Mata Boboiboy berkobar-kobar karena semangat. Wajah Boboiboy menjadi riang karena idenya.
"Hm? Kau kenapa Boboiboy?"
"Hmm? Tak apa-apa!" Jawab Boboiboy dengan senyuman manis bertengger di wajahnya.
Fang merasa senang, melihat Boboiboy tersenyum manis. Mereka pun memulai belajar bersama mereka hari ini.
Langit senja hangat menunjukan waktu untuk berpisah bagi Boboiboy dan Fang. Boboiboy tengah mengikat sepatunya. Fang masih penasaran kenapa Boboiboy begitu riang hari ini.
"Boboiboy, kau kenapa? Sepertinya senang sekali.."
"Hmm? Tak apa-apa kok.." Boboiboy tersenyum manis seolah-olah menyembunyikan sesuatu.
Jawaban Boboiboy tidak memuaskan rasa penasaran Fang. "Kau yakin?"
"Tentu! Tak ada apa-apa Fang, percaya lah.." Jawab Boboiboy dengan senyum riangnya.
Fang merasa akan terjadi sesuatu karena melihat Boboiboy yang menjadi aneh. "Baiklah.. Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Fang seraya mengenakan sandalnya.
"Eh? Ti-tidak usah Fang! A-aku, emm, aku tidak mengizinkan mu! Aku tak mau merepotkanmu.." Boboiboy mencoba menolak Fang agar tidak mengantarnya pulang, ia merasa tidak enak bila Fang harus mengantarnya.
"Aku tidak meminta izinmu. Kau tak berhak melarangku kan? Ayo.." Fang mengunci rumahnya lalu melangkah keluar pagar.
Boboiboy terdiam, pasrah dan mengangguk kecil. Ia berjalan mengikuti Fang dibelakangnya. Bayangan Fang semakin panjang karena matahari senja. Fang terlihat begitu menyiilaukan karena menghadap mentari senja.
Dasar keras kepala. Aku merasa tidak enak kalau dia harus repot-repot mengantarku pulang. Seenaknya saja. Memang sih aku tak punya hak untuk melarangnya, tapi aku ini bukan anak kecil lagi yang harus pulang diantar. Tapi kenapa dadaku terasa hangat ya? Tapi, aku merasa senang dengan ada Fang mau menemaniku pulang. Hmm? Bayangan Fang panjang sekali. Oh iya, dia kan penguasa bayangan. Bayangannya selalu ada. Dimanapun dia berada, di suka maupun duka, bayangannya selalu menyertainya. Hm? Kenapa pikiranku jadi ngelantur begi-
TIIIIIIIIIIIIIIIIINNN
"BOBOIBOY!" Klakson mobil dan suara sang pemilik harimau bayang memecahkan Boboiboy dari pemikirannya.
"Eh?!" Boboiboy terkejut melihat mobil yang hendak menerjangnya. Tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Lalu ia terjatuh ke sisi jalan dan dirinya dipeluk erat oleh Fang. Wajah Boboiboy membenam di dada bidang sang rival. Jantung Boboiboy berdetak kencang pasca kejadian yang barusan ia alami. Sampai sekarang Boboiboy masih dalam keadaan kaget, bingung, dan mencerna apa yang sedang terjadi.
"A-apa yang baru saja terjadi?" Setetes embun yang keluar dari bola matanya karena kaget mengalir di pipi chubby Boboiboy.
"Kau berjalan terlalu di tengah jalan.. Lalu ada mobil yang sedang melaju cepat. Untung kau ku tarik ke sisi jalan, kalau tidak aku tak tau apa yang akan terjadi." Jelas Fang terengah-engah khawatir dengan raut muka yang sangat ketakutan.
Boboiboy mencoba menenangkan pikiran. Otak Boboiboy mencoba mereka ulang apa yang baru terjadi. Jadi, Boboiboy terlalu di tengah jalan, lalu sebuah mobil berlaju dengan kencang hampir menabrak Boboiboy, kemudian Fang menarik lengan Boboiboy, lalu mereka terjatuh di sisi jalan dengan posisi Fang tengah memeluk Boboiboy sekarang.
"Ka-kau tidak apa-apa kan?" Suara Fang yang lembut terdengar sangat khawatir. Boboiboy semakin membenamkan wajahnya dan menggangguk kecil. Boboiboy bahkan bisa mendengar degup jantung Fang yang amat cepat. Tubuh mungilnya masih gemetar ketakutan karena kejadian yang tak terduga itu. Fang makin memeluk erat Boboiboy, berusaha untuk menenangkan dirinya. "Ssh.. Sudah tenang. Kalau kau ingin menangis, menangis saja.. Aku tau kau sedang ketakutan. Luapkan saja segala perasanmu." Suara Fang membuat iris Boboiboy kembali mengalirkan menangis lega. Ia merasa sangat lega dan damai kalau ada Fang di sisinya.
Beberapa saat kemudian, ketika Boboiboy sudah tenang, Fang mengantar Boboiboy pulang dengan tangan kanannya menggenggam lengan kanan Boboiboy yang masih sedikit gemetar. Fang tidak enak untuk menanyakan kenapa ia bisa berjalan terlalu tengah. Apa yang sedang Boboiboy pikirkan saat ia tengah dalam lamunannya. Ia tak ingin Boboiboy mengingat hal itu.
Sesampainya dirumah Boboiboy..
"Oke, hati-hati ya.. Jaga diri, kau baik-baik saja kan?" Tanya Fang memastikan.
"Iya..Mm.. Fang, terima kasih. Kalau bukan karena kau, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi." Boboiboy memberikan senyum lega. Senyumnya terlihat sangat mempesona karena pantulan cahaya mentari senja yang makin jingga warnanya.
Melihat senyumnya, Fang tak bisa menahan dirinya. Ia lalu memeluk Boboiboy sekali lagi. "Iya.. Sama-sama.." Fang pun merasa lega karena Boboiboy tidak kenapa-napa. Boboiboy merasa nyaman dan membiarkan Fang memeluk hangat tubuhnya. Setelah tumpah segala rasa khawatir dan lega, ia melepaskan pelukannya. Lalu pamit dan berbalik untuk pulang. Fang hanya diam sambil melambaikan tangannya. Boboiboy membalas lambaian tangannya.
Malam harinya, mereka memikirkan kembali kejadian hari ini.
Di kamarnya yang sudah bersih dan rapi karena Boboiboy, ia memikirkan hari ini.
Alu tak tau hari ini hari yang menyenangkan atau mendebarkan.. Tadi Boboiboy membersihkan kamarku, belajar di rumahku, lalu ketika pulang hampir ditabrak mobil. Ah, aku masih penasaran dengan senyumnya, seolah-olah dia menyembunyikan sesuatu.. Ada apa ya? Kenapa dia menyembunyikannya dariku? Hmm..
ASTAGA TADI AKU MEMELUKNYA! Apa yang kulakukan!? Tapi dia tadi sangat ketakutan. Tubuhnya mungil sekali. Astaga dia lucu sekali ketika membenamkan wajahnya. Wajarlah aku memeluknya, aku kan ingin menenangkan dia. Untung tadi kutarik lengannya. Lain kali tak akan ku biarkan dia pulang sendirian. Bisa bahaya.. Tapi, KENAPA AKU MEMELUK DIA DUA KALI!? Gawat aku mulai tak terkendali.. Ada apa dengan perasaanku? Masa iya aku suka dia..
Wajah Fang merah padam sambil berguling-gulingan di tempat tidurnya karena mengingat hal itu.
Sedangkan di kamar Boboiboy, ia juga memikirkan hari ini.
APA YANG AKU LAKUKAN! Andai tadi aku tidak melamun, kejadian tadi takakan terjadi! Ternyata, badan Fang atletis ya.. Tubuhnya wangi sekali, dadanya bidang, ketika memelukku lengannya cukup kekar.Eh? ALAMAK TADI DIA MEMELUKKU! Hm, wajar dia memelukku. Kan tadi dia menarik lenganku hingga jatuh.
Tapi, BUAT APA PELUKAN DI DEPAN RUMAHKU TADI!? Astaga, kenapa aku merasa nyaman karenanya..Untung ada Fang, kalau tidak apa yang akan terjadi kepadaku?Baiklah! Aku akan membuatkan donat lebak merah spesial buat rasa terima kasihku!
Hari ini mungkin menjadi hari yang sulit dilupakan bagi mereka..
TBC
AKHIRNYA CHAPTER 2 KEPIKIRAN JUGA GIMANA ^^
KOK PUBLISHNYA CEPET BANGET? KARENA SEBENERNYA CHAPTER 2 INI UDAH KUPIKIRIN DARI JAUH-JAUH HARI. UDAH GITU TADI SAYA GA MASUK SEKOLAH KARENA BANGUN KESIANGAN, JADI WAKTUNYA DIPAKE BUAT MIKIRIN FF INI (mohon jangan ditiru)
MAAF KALO FF INI JATOHNYA LEBAY, UDAH KITU KATA-KATANYA GA BEGITU INDAH. MAKLUM YA NEWBIE. SEBENERNYA ADEGAN NYARIS KETABRAK ITU PERTAMANYA GA ADA, EH TIBA-TIBA KEPIKIRAN NAMBAHIN KLAKSON MOBIL. JADI BEGINI DEH. (maaf cuhat)
TERIMA KASIH YA YANG UDAH MAU LUANGIN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA FF YANG ANEH INI HOHOHO
MUNGKIN (TERLALU) BANYAK KESALAHAN DI FF INI.. MAKLUM KITA INI HANYA MANUSIA BIASA DAN KESEMPURNAAN HANYA MILIK TUHAN /?
IKUTI PERKEMBANGAN FF INI YA, JANGAN LUPA REVIEWNYA
ARIGATOU ;3
