A/N: Chapter 1, yay~ yoosh langsung aja
Warning: Typo(s), OOC, don't like don't read!
Ansatsu Kyoushitsu (c) Yuusei Matsui, OC in this ff isn't actually mine!
Special thanks to whoever leave a review for this fanfiction
- Shiotas Chapter 1 by Suzume Ayano -
"Nagisa, janji yah. Kalau seandainya aku gagal, tolong jaga anak kita baik-baik."
"T-tidak, tunggu! Kaede... Jangan tinggalkan aku seorang diri, kumohon!"
Normal PoV
Sudah 13 tahun lamanya semenjak kepergian Kaede. Yah, gadis itu telah benar-benar pergi dari dunia ini. Semuanya berawal karena kejadian yang terjadi pada saat itu. Usianya masih 20 tahun saat dia pergi. Semuanya terjadi begitu cepat. Saat itu, Kaede sedang melahirkan sepasang anak kembar hasil dari cintanya kepada suaminya, Shiota Nagisa. Namun sayang, nasib gadis itu tidak terlalu beruntung. Ia meninggal setelah anaknya yang paling muda lahir. Kaede meninggal dengan senyuman di wajahnya, tentunya. Namun itu berbeda untuk Nagisa. Nagisa terus menerus menyalahkan dirinya sendiri akan hal tersebut, walaupun itu bukanlah kesalahannya. Untungnya, ia sama sekali tidak menyalahkan anaknya sendiri. Nagisapun pada akhirnya mengasuh anaknya sendiri sebagai single parent, untuk menunjukkan betapa cintanya ia kepada Kaede.
Shiota Tsukiko dan Satsuki sudah berumur 13 tahun sekarang. Mereka adalah anak kembar dari Nagisa dan Kaede. Tsukiko adalah anak gadis yang paling tua. Wajah, warna rambut, dan bahkan warna matanya sangat mirip dengan ayahnya. Sedangkan Satsuki adalah anak lelaki paling muda. Wajah, warna rambut, dan warna mata yang ia miliki persis seperti ibunya. Mereka memang bukan kembar identik. Sifat si kembar yang satu inipun memang tidak sama, walaupun mereka sama-sama keras kepala, seperti orangtuanya.
Berjalan berdampingan berdua ke sekolah adalah sebuah hal yang biasa mereka berdua lakukan setiap harinya. Sesekali Satsuki membenaran perban di tangannya yang hampir terlepas. Nasib Satsuki kemarin tidak terlalu bagus. Ia baru saja mendapat sebuah pukulan dari ayahnya karena menentang keinginannya. Peraturan pertama di rumah mereka memang 'jangan menentang keinginan ayah'. Luka di tangan Satsuki bukanlah dari pukulan sang ayah, melainkan karena ia terjatuh setelah dipukul. "Satsuki, kau baik-baik saja kan?" Tanya Tsukiko lalu membenarkan posisi perban milik adiknya tersebut. "Tidak apa-apa kok, Tsukiko." Balas Satsuki. "Sudah kubilang kan, jangan melawan pendapat ayah seperti itu." Tsukiko menghela nafas panjang. "Ayah ingin kita mengikuti jejaknya, mau tidak mau. Kumohon mengertilah Satsuki, aku tak ingin melihatmu seperti ini lagi." Lanjutnya. "Maaf maaf. Aku heran mengapa ayah besikeras dengan hal ini. Andaikan saja ibu ada di sini." Satsuki menggembungkan pipinya. "Hentikan berbicara seperti itu, Satsuki. Terimalah kenyataan." Tsukiko menghela nafas sekali lagi. Satsuki hanya membalas kata-kata kakaknya dengan memajukan bibirnya. Merekapun menjalani harinya dengan normal.
Pulang sekolah bukanlah waktu yang disukai oleh Tsukiko maupun Satsuki. Berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Terlebih lagi bila ayah mereka sedang tidak ada job. Menghabiskan waktu dengan ayah mereka sama sekali bukan saat saat yang mereka sukai. Satsuki membuka pintu rumahnya perlahan lalu masuk, diikuti Tsukiko di belakangnya. Mereka berjalan masuk. Langkah mereka terhenti di dekat ruang tamu. Suara familiar terdengar dari ruang tamu, yang tentunya salah satu dari pemilik suara itu adalah ayah mereka. Mereka mengintip sedikit ke arah ruang tamu. Dilihatnya seorang bersurai merah sedang mengobrol dengan ayah mereka. Ternyata orang tersebut adalah Akabane Karma, sahabat dari ayah mereka. Tsukiko dan Satsuki memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka sesaat. "Hey, Nagisa. Kenapa kau tidak memutuskan untuk menikah lagi saja? Setidaknya anak-anakmu punya ibu tiri yang bisa merawat mereka." Tanya Karma kepada sahabatnya itu. "Hn, mana mungkin aku melakukan itu kan, Karma. Aku terlalu mencintai Kaede untuk melakukan hal itu." Jawab Nagisa datar. "Oh ayolah, Nagisa. Kau harus move on." Ujar Karma lagi. Tak lama Tsukiko dan Satsuki berjalan memasuki ruangan. "Ayah, kami pulang." Ucap Tsukiko. "Beri salam pada paman dulu, lalu masuklah ke kamar. Latihan akan dimulai nanti sore." Ujar Nagisa kepada si kembar. "Tapi –" Kata-kata Satsuki terpotong karena bekapan dari kakak perempuannya itu. "Baik, Ayah." Ujar Tsukiko kepada ayahnya. Setelah memberi salam kepada Karma, mereka berdua memasuki kamar mereka masing-masing. "Kau tidak perlu terlalu keras begitu kepada anakmu, Nagisa." Komentar Karma. "Itu bukan urusanmu." Nagisa menimpali.
Sore hari telah tiba. Seperti biasa, Nagisa melatih anak-anaknya teknik pembunuhan yang telah ia pelajari. Hanya Tsukiko yang cukup antusias dengam pelajaran itu. Satsuki hanya diam dan mengikuti gerakan kakak perempuannya, dan sekali-sekali mengeluh dengan apa yang sedang dia lakukan (yang kemudian mendapat hadiah tamparan dari ayahnya, tentunya). Entah berapa tamparan yang telah Satsuki dapatkan karena terus menerus mengeluh, lima? Atau tujuh mungkin? Entahlah, Satsuki sendiri tidak begitu yakin dengan itu. "Tsukiko, aku tidak tahan kalau begini terus!" Keluh Satsuki kepada kakak perempuannya tersebut setelah sesi latihan usai. "Sudahlah, Satsuki. Jalani saja semuanya. Ayah benci mendengarmu mengeluh seperti itu." Balas Tsukiko dengan sebuah helaan nafas panjang. "Ayah berharap banyak padamu. Ah, tak seharusnya aku mengeluh padamu juga." Ujar Satsuki sebelum ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya. "Bodoh." Gumam Tsukiko pelan.
Sesampainya Satsuki di kamar ia mengunci pintu kamarnya, sebelum akhirnya Satsuki menghempaskan tubuhnya ke kasurnya yang empuk. Ia menggulingkan tubuhnya ke sisi meja yang ada di samping kasurnya. Dilihatnya foto yang terbingkai dengan manis di meja itu selama beberapa saat. Foto tersebut adalah foto dari ibu Satsuki yang telah tiada, Kayano Kaede atau mungkin sekarang lebih dikenal dengan Shiota Kaede. Jemari di tangan Satsuki mengelus pelan bingkai foto itu. "Ibu..." Gumam Satsuki pelan. "Ibu di mana? Aku ingin bertemu. Aku rindu." Gumamnya lagi. Isakan-isakan pelan keluar dari mulut Satsuki tanpa ia sadari. Berbicara kepada ibunya seperti itu sudah menjadi kebiasaan ketika Satsuki ketika ia merasa sedih, atau butuh tempat untuk bercerita. "Aku ingin tau apa yang akan ibu katakan kepada ayah kalau ibu tahu anaknya diperlakukan secara kasar." Gumamnya pelan. Tak lama setelah itu, Satsuki memeluk bingkai foto itu sebelum akhirnya ia tertidur pulas tanpa ia sadari.
Hari ini hari minggu. Satsuki hari ini bangun terlalu siang, ia melewatkan jadwal latihan di pagi hari. "Gawat." Gumamnya saat ia terbangun. Iapun bergegas keluar dari kamarnya. Namun, ia hanya melihat Tsukiko yang sedang duduk manis memakan sarapannya. "Pagi, Satsuki. Kau telat bangun, untung saja ayah mendadak ada urusan pagi ini, kalau tidak habislah kau." Ujar Tsukiko. Satsuki bernafas lega setelah mendengarnya. "Ayo ke mari, makanlah bersamaku." Ujar Tsukiko lagi. Satsukipun duduk di sebelah Tsukiko sebelum akhirnya ia memakan sarapannya. "Kenapa kau tidak membangunkanku, Tsukiko?" Tanya Satsuki kesal. "Tadi aku mau membangunkanmu, tapi tiba-tiba ayah bilang kalau ayah punya urusan dan latihan ditiadakan, jadi aku mengurungkan niatku." Jawab Tsukiko dengan santai sambil meminum segelas susu yang ada di tangannya. "Payah." Gerutu Satsuki. Satsuki merasa senang karena akhirnya ia bisa bersantai di rumah, setidaknya hingga ayahnya kembali. Setelah mereka menghabiskan sarapan, merekapun menjalani aktifitas yang bisa membuat mereka melupakan sedikit beban dari latihan yang biasa mereka jalani.
Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Satsuki berjalan menuju rak buku yang berisi buku-buku lama yang sudah lama tak dibaca. Ada sebuah buku yang harus ia cari untuk tugas sekolahnya. Sesampainya di depan rak itu, iapun mulai mencari buku tersebut. Satu demi satu buku ia lihat untuk memastikan apakah buku tersebut adalah buku yang ia cari. Saat mengambil sebuah buku di bagian rak yang cukup tinggi, satu buku lainnya ikut terjatuh dan mengenai kepalanya. "Ouch.." Gumam Satsuki pelan saat buku itu sukses mendarat di atas kepalanya. Diambilnya buku itu. "scrapbook, huh?" Gumamnya lagi. Iapun melihat buku itu sepintas hingga akhirnya ia menyadari ada sebuah tulisan di depannya, 'milik Kaede'. Satsuki membulatkan matanya seketika setelah membaca tulisan itu. Tanpa berpikir panjang, Satsukipun membawa scrapbook itu ke ruang tengah untuk membacanya.
Sesampainya di ruang tengah, Satsuki segera membuka scrapbook itu untuk melihat isinya. Scrapbook tersebut ternyata berisi foto-foto milik ibunya. Foto saat ibunya pergi berlibur dengan ayahnya, bahkan banyak pula foto-foto saat pernikahan orangtuanya berlangsung. Satsuki tersenyum tipis melihat foto-foto tersebut. 'Ibu cantik yah..' Pikirnya tanpa sadar. Hingga akhirnya ia melihat beberapa halaman terakhir dari scrapbook tersebut. Halaman tersebut berisi foto-foto ultrasonography dirinya dan kakaknya saat mereka masih di dalam kandungan. Semua perkembangan mereka ada di sana lengkap dengan catatan-catatan kecil yang ditulis ibunya. Satsuki sekarang benar-benar yakin bahwa ibunya mencintainya dan kakaknya. Satsuki berniat untuk menyimpan scrapbook itu sekarang.
Satsuki berjalan untuk membawa scrapbook tersebut ke kamarnya. Namun, sial nasibnya. Ternyata ayahnya sudah pulang sedari tadi. Sialnya lagi, ia menabrak ayahnya. Nagisa menatap Satsuki sekilas dan menyadari bahwa Satsuki membawa sebuah buku. "Buku apa itu?" Tanya Nagisa dengan datar sebelum akhirnya dia benar-benar menyadari buku apa yang sedang di bawa oleh Satsuki. "Tak seharusnya buku ini ada di tanganmu." Ujar Nagisa dengan dingin sebelum Nagisa mengambil paksa buku itu dari tangan Satsuki lalu pergi tanpa berkata sepatah kata apapun. Satsuki sedikit terkejut, ia tak menyangka ayahnya tak memukulnya sama sekali. Satsuki hanya bisa pasrah menatap punggung ayahnya yang menjauh.
TBC
A/N: see you in next chapter! Mind to review it?
