--
Old House adalah sebuah sekolah. Begitu yang Yoongi tahu dari seragam, anak-anak remaja yang berkeliaran dengan buku ditangan, dan beberapa tulisan yang tertempel didinding. Ayahnya menuntunnya pada sebuah ruangan dilantai dua gedung utama sekolahan itu. Sebuah ruangan kepala sekolah sepertinya, mengamati tulisan 'HEADMASTER' pada plang papan nama yang ada diatas meja. Mendudukkan dirinya pada kursi empuk disana, Yoongi berusaha untuk tidak meledak saat melihat raut ekspresi ayahnya yang sangat berbinar. Penyebabnya ya adalah seseorang yang duduk dibalik meja kepala sekolah itu. Sang 'Headmaster' sendiri.
"Aku ingin pulang.", bisik Yoongi terlampau keras pada ayahnya yang duduk disampingnya.
"Nak Yoongi.", Sang Kepala Sekolah tersenyum lembut padanya. Mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.
"Ya.", balas Yoongi menyalaminya lalu kembali duduk.
Kembali menatap ayahnya, Yoongi dengan tega mengayunkan kakinya mengenai sepatu ayahnya.
"Berperilaku yang baik, Yoongi.", balas ayahnya. Yoongi hanya berdecak kecil dan mengalihkan pandangan dari ayahnya. "Mr. Snow, senang bertemu anda lagi. Senang sekali setelah sekian lama.", ayahnya tersenyum lebih lebar dari saat pertama masuk keruangan itu. Mr. Snow, Kepala Sekolah, lalu tertawa kecil mendengarnya. Mengibaskan tangan keudara seolah tahu apa maksud dari ucapan Ayah Yoongi.
"Aku juga, Mr. Min. Senang juga akhirnya bisa bertemu dengan Yoongi. Lighter, benar?", Yoongi mengernyit mendengar jawaban Mr. Snow. Ayahnya lalu tertawa. "Benar. Biru laut. Indah sekali sewaktu dia lahir.", Ayahnya melanjutkan.
"Sebentar.", ucap Yoongi menyela. "Bisa jelaskan padaku apa itu Lighter? Dan, kenapa kita disini?", Yoongi berusaha menebak apa yang terjadi sedari tadi dengan otak jeniusnya. Kedua orang tua didepannya ini sama sekali tidak menjelaskan apa tujuannya berada disana, apa kepentingannya dan beberapa hal lainnya. Mr. Snow lalu tertawa.
"Aku tebak, ayahmu pasti tidak pernah memberi tahumu tentang hal ini kan? Right, Mr. Min? Kenapa kau jahat sekali pada anakmu?", lanjutnya bercanda. Sang ayah terkekeh.
"Dia terlalu berharga, sir.", balas ayahnya dengan ringan.
"Aku butuh orang lain untuk menjelaskannya. Dia terlalu 'manusia'.", lanjut ayahnya lagi.
Mr. Snow lalu mengetukkan jarinya berulang pada bagian atas meja, mengeluarkan raut berpikir diwajahnya.
"Aku sebenarnya tidak peduli dengan hal ini. Tapi aku bukan orang bodoh, dan aku sangat benci dibodohi. Jadi, tolong, jelaskan padaku.", geram Yoongi. Merasa tak sabar akan tingkah Mr. Snow yang rasanya membuang-buang waktu.
"Kau kuat, Yoongi. Dan itu luar biasa. Kau mungkin tak menyadari apapun, tapi aku bisa lihat bahwa kau benar-benar berharga untuk ukuran seorang omega.", ucap Mr. Snow dengan pelan. Mata Yoongi menatap tepat pada Mr. Snow. Beranjak dari kursinya, Mr. Snow berdiri dan mengambil sebuah buku tebal dari lemari. Melemparnya keatas meja dan buku itu tergeser tepat didepan Yoongi.
"Kau bisa membukanya.", titah Mr. Snow.
Meskipun ragu, Yoongi tetap menuruti kata pak tua itu. Sampul buku itu berwarna oranye cerah unik, sedikit kusam pada bagian ujungnya, dan beberapa bagian isinya sedikit mencuat.
Halaman pertama, Yoongi mendapati barisan kalimat dengan huruf yang tak dimengertinya. Diliriknya Mr. Snow dan ayahnya yang sudah mulai terlarut dalam obrolan ringan.
Halaman kedua, Yoongi terkejut mendapati cahaya seperti kunang-kunang menyembur keluar berwarna seperti kuning keemasan. "Gila.", bisiknya. Pendar cahaya itu hanya berada disekitaran halaman kedua. Menatap pada judul halaman, Sherin A. Eigh. Yoongi berpikir, sepertinya itu adalah nama. Mengingat dibawah judul itu, deskripsi seseorang tertulis dengan jelas romanisasinya dan sebuah poto tertempel pada sudut kanan atas halaman. Seorang lighter. Pendar kuning. 35 tahun. Sudah mendapatkan mate. Deskripsi pelangi, awan, dan Himalaya. Itu yang Yoongi baca dari biodatanya. Membalik halaman lagi, Yoongi mendapati tampilan yang hampir serupa dengan halaman pertama. Namun, pendar cahaya yang muncul adalah hijau perak. Membaca sekilas biodata yang tertera, Yoongi lalu membalik halaman lain satu demi satu. Terkadang berhenti lebih lama pada satu halaman untuk membaca deskripsi yang tertera dengan jelas. Pendar cahaya itu jauh lebih menarik baginya, sebenarnya. Tapi deskripsi deskripsi yang tertera entah kenapa sedikit mengingatkannya pada dirinya sendiri. Berhenti pada satu halaman, Yoongi menyadari bahwa pendar yang keluar sedikit lebih banyak dari yang lain. Yoongi sedikit tersentak saat pendar itu melayang dan jatuh ke lengannya lalu 'pop!' menghilang. Pendar itu berwarna perak dengan biru ditengahnya. Saat Yoongi melihat pada bagian bawah foto yang kosong, tertera apapun selain sedikit deskripsi berisi hujan, tetesan air, pinus, dan rumput kehijauan. Dengan bingung, Yoongi mengedikkan bahu. Membalik halaman sekali lagi untuk mendapati bahwa dirinya sendirilah yang mengisi halaman tersebut.
Deskripsinya berisi banyak hal. Dan yang paling menonjol dan bercetak tebal adalah tulisan omega.
"Omega?", ucapnya lantang mencoba menarik perhatian kedua orang tua didalam ruangan itu.
Mr. Snow tersenyum padanya.
"Kau akhirnya sampai pada bagianmu.", kata Mr. Snow.
"Apa maksud dari omega? Dan kenapa hanya halamanku yang tidak memiliki pendar cahaya?", tanya Yoongi. Dielusnya bagian halaman yang berisi deskripsi dirinya. Laut. Pantai. Dan hutan bakau. Itu isi deskripsi dirinya.
"Kenapa hutan bakau?", bisiknya. Pikirannya terbawa pada kenangan masa kecilnya yang dinilainya agak buruk. Kilasan mengenai kakinya yang terjebak diantara lilitan akar hutan bakau. Teriakan minta tolongnya pada suasana lengang kala itu. Dan Jimin.
"Jimin.", bisiknya lagi, tanpa sadar. Kepalanya terangkat, tak lagi memandangi buku.
"Ayah. Jelaskan padaku.", ucapnya pada ayahnya. Napas Yoongi sedikit memburu. Kenangan masa kecilnya beseliweran tanpa diminta dikepalanya. Menjambak rambut, Yoongi berkata kepada dirinya sendiri untuk tenang.
"Kau omega, karena statusmu omega Yoongi. Hutan bakau, sesuai yang tertulis dideskripsimu, kau melambangkan hutan bakau. Mengendalikan mereka, bagian dari mereka, dan jantungmu adalah saripati mereka.", jelas sang ayah. Tersenyum menenangkan, ayahnya lalu menepuk pundak Yoongi.
"Selamat datang di Old House, nak Yoongi. Sekolah ini akan mengajarkanmu banyak hal. Asal usul dirimu, apa dirimu, dan bagaimana kau bisa menjadi seperti ini. Hidupmu disini bergantung pada heat. Aku yakin kau belum mengalaminya karena kau adalah the Lighter. Pengendali cahaya.".
Yoongi lalu menatap Mr. Snow yang baru berbicara padanya. Mencoba memahami semua yang baru terjadi.
"Apa itu heat? Dan kenapa aku bergantung pada heat? Kenapa pula aku harus berada disini? Kuliahku rampung sebentar lagi. Ayah?", Yoongi menggertakan giginya. Mendadak, halaman deskripsi miliknya mengeluarkan pendar cahaya. Kaget, Yoongi melempar buku itu jauh dari depannya.
"Wow. Aku tak pernah melihat yang seperti itu.", bisik Mr. Snow.
Yoongi menggeleng.
"Aku tak melakukan apapun.", ucapnya.
"Ya, kau melakukannya.", sahut ayahnya pelan. Ayahnya menatapnya dengan tatapan entah bangga entah heran. "Kau mengeluarkannya sekali dulu saat baru lahir. Dan kau tumbuh menjadi 'manusia' normal. Meski terkadang aku melihat pendar-pendar itu disekitaran rumah, aku yakin kau hanya tak sengaja mengeluarkannya.", jelas ayahnya lagi.
Yoongi mengangkat tangannya, lalu menatap tangan itu. Digenggamnya tangannya sendiri, lalu membukanya perlahan. Yoongi melihat pendar cahaya sedikit demi sedikit muncul diudara diatas telapak tangannya, menutup tangannya dengan cepat, Yoongi lalu membuka lagi dan pendar cahaya itu muncul banyak sekali lalu membentuk sebuah bola cahaya. Menghempaskan tangannya, bola cahaya itu menggelinding diudara dan kemudian pecah saat menyentuh sebuah patung pajangan didekat mereka. Pendar cahaya itu menyebar satu persatu diudara, seperti kunang-kunang namun berwarna biru.
"Woah.", Yoongi menatap tangannya dengan pandangan kosong. Ayahnya berdiri, lalu menepuk pundaknya. Mr. Snow hanya tersenyum melihat hal itu. Yoongi masih merasa pikirannya melayang pada pendar cahaya yang membentuk bola sebelumnya. Merasa jatuh hati pada pendar itu, dan merasa jantungnya berdetak dengan cepat. Nadinya serasa menggelegak, darahnya mengalir deras. Kepalanya pusing saat itu juga dan hal terakhir yang Yoongi ingat adalah sebuah pendar perak cahaya yang tertangkap matanya, jatuh lagi ketangannya dan menyentuh ujung jari telunjuknya.
--
Jauh didalam hutan yang gelap, pohon dengan batang tertinggi yang pernah ada sehingga cahaya matahari sulit menapaki bumi, seorang laki-laki dengan surai pirang terang berdiri dengan dua kakinya diatas sebuah batu besar. Matanya menangkap satu pendar cahaya berwarna diantara semua pendar perak miliknya. Kepalanya bergerak mengikuti arah pendar cahaya itu yang bergerak mendekat kearahnya. Diulurkannya tangannya, menyentuh pendar cahaya itu.
'Whooshh!'
Angin bertiupan dan pendar cahaya peraknya lenyap, menyisakan satu pendar berwarna itu diujung jarinya. Menatap kearah dimana angin itu berhembus, lelaki itu melompat dari batu. Mengubah dirinya menjadi serigala berbulu putih gading. Langkahnya dengan perlahan berubah menjadi secepat angin mengikuti pendar cahaya berwarna yang menarik hatinya.
Min Yoongi.
Min Yoongi.
Min Yoongi.
--
