Story About Your Mom (Season 3)

By : Jie Yoo Park

Main Cast : Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin, Cho Kyuhyun, Cho Sunghyun, Cho Sungra.

Supporting Cast : Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, Ryeowook, Baekhyun, Sehun, dll

Sumarry : Uri Eomma berubah menjadi peri cinta...

.

(Chapter 2)

Pagi harinya Sungmin bersemangat menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Kyuhyun dan Sunghyun sudah berangkat satu jam yang lalu. Kini di rumah hanya tinggal dia dan Sungra saja.

Sungmin sudah berpakaian rapi, begitu juga Sungra. Seperti biasa, ia akan pergi ke kafe miliknya. Meskipun ia bukan orang yang pertama yang datang untuk membuka kafe, tapi Sungmin selalu berusaha agar setiap hari menyempatkan diri kesana.

"Ummaa..." Sungra berjalan mengikuti Sungmin yang sedang sibuk mencari kunci mobilnya.

"Ne...apa Sungra melihat kunci mobil eomma di atas sini ?" tanya Sungmin pada putrinya sambil membuka laci- laci meja di dekat televisi.

"Hum," jawab Sungra. Sungmin menatap putrinya, "Mana ?" tanya Sungmin. Dari balik jaketnya Sungra mengeluarkan sebuah kunci mobil yang di cari –cari Sungmin dari tadi.

"Aigoo, ternyata denganmu. Jangan mengambilnya lagi, ini bukan mainan, ara ?" peringat Sungmin lalu menggendong putrinya. "Kajja, kita akan berangkat."

"Temuuu op-paa," Sungra bicara sedikit terbata, "Bukan, bertemu oppa nanti. Oppa masih sekolah."

"Temuu op-paa..um-maaaa..." rengek Sungra di gendongan Sungmin lagi.

"Iya, nanti. Sunghyun oppa masih sekolah." Jawab Sungmin berjalan ke pintu mobil. Membukakan pintu mobil untuknya dan putri kecilnya, mendudukan Sungra kemudian memasangkan sabuk pengaman untuk Sungra. Sungmin sedikit kesulitan karena Sungra tiba- tiba berdiri mengambil mainannya yang ada di dasboard mobil.

"Hei, duduklah. Supaya kita cepat berangkat. Oke ?"

"Oke!" ucap putri kecilnya meniru. Sungmin tersenyum puas. Sungmin sudah siap akan menjalankan mobilnya saat ponselnya tiba- tiba berbunyi.

Sunghyun appa calling...

"Nde..." Jawab Sungmin.

"Kau masih di rumah ?"

"Ne, aku dan Sungra baru saja akan berangkat ke kafe, kenapa? ada yang ketinggalan?" tanya Sungmin.

"Ya, beberapa dokumen penting tertinggal dirumah. Bisa tolong kau antarkan map hitam yang ada di laci meja kerjaku ke kantor sekarang? Jam 10 ini aku ada rapat."

"Oh, baiklah. Kau tunggu saja, aku akan mengantarnya. Map warna hitamkan?"

"Hm, terima kasih sayang. Aku tunggu di kantor, ne."

"Nde..." jawab Sungmin halus. Kyuhyunpun menutup sambungan telepon.

"Sungra tunggu di sini sebentar ne, eomma harus masuk kerumah sebentar." Ujar Sungmin lalu keluar dari mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Sungra yang asyik dengan mainannya tak terlalu menghiraukan ibunya. Dengan langkah cepat- cepat Sungmin kembali masuk kedalam rumah. Mengambil map milik Kyuhyun yang tertinggal.

Tak memakan waktu lama, Sungminpun kembali dengan map di tanggannya. Di lihatnya Sungra masih sibuk dengan dunianya sendiri, sesekali Sungra menguap kecil.

"Ayo. Sekarang waktunya kita berangkat." Sungmin masuk mobil. Dan perlahan mobil hitamnya meninggalkan halaman rumah.

.

.

Inilah bagian yang tak Sungmin sukai. Setiap ia kekantor besar Kyuhyun ia pasti akan mendapatkan berbagai jenis tatapan dari orang- orang kantor. Sungmin sebenarnya jarang sekali ke kantor besar ini karena ia tahu akan seperti ini. Orang- orang memandangnya seolah- olah dia adalah seorang alien.

"Omo, cantiknya wajah putri Presdir Cho." Sungmin dapat mendengar suara itu dari balik meja resepsionis di lobi utama kantor.

"Ne, cantik dan manis seperti wajah ibunya. Yeah, meskipun ibunya sendiri itu namja." Kali ini suara perempuan yang berbeda. Sungmin menghela napas saja sambil melanjutkan langkahnya. Sungmin dan Sungra kini bediri di depan lift. Seperti yang Sungmin duga, pasti banyak orang di dalam lift sehingga mau tak mau dia memasukinya. Jika saja ruangan suaminya tidak berada di lantai 18, sudah pasti memutuskan untuk lewat tangga darurat saja.

Beberapa orang langsung memberikan ruang untuknya begitu pintu lift terbuka. Tentu saja karena dia adalah istri dari Presdir kantor ini.

"Apa kabar tuan Lee ?" sapa seorang wanita dari sampingnya, sepertinya seorang karyawan Kyuhyun. Sungmin terseyum tipis sambil menjawabnya.

"Ne, kabar baik." Sambil mengusap kepala Sungra.

"Apa ini Cho Sungra?" tanyanya lagi.

"Nde,"

"Dia sudah besar sekarang. Sepertinya seumuran dengan putri ku." Ujar wanita itu lagi, Sungmin memandangnya.

"Oh ya? Aku yakin putrimu pasti cantik." Jawab Sungmin kali ini lebih santai, mengabaikan bisikkan beberapa orang yang berdiri di belakangnya.

"Terima kasih, tuan Lee. Ngomong- ngomong, anda jarang sekali kesini."

"Ne, kau benar. Aku mempunyai kesibukan yang lain." Jawab Sungmin. Wanita itu mengangguk mengerti.

"Seharusnya anda sering- seringlah kesini. Dengan begitu semua orang tahu jika Presdir Cho sudah memiliki istri." Mendengarnya Sungmin terkekeh. Jadi banyak yang mengira jika Kyuhyun masih bujangan?..ckckck.

"Setelah perekrutan pegawai baru bulan kemarin. Sepertinya banyak karyawan baru wanita yang tak segan- segan untuk menarik perhatian Presdir Cho." Nada bicara wanita ini 'sedikit' lebih keras. Apa karyawan baru maksudnya adalah beberapa wanita yang bediri di belakangku ini?

"Tapi sepertinya Presdir Cho tidak tertarik, tentu saja karena beliau sudah menikah dan memiliki istri yang manis dan sedernaha seperti anda, bukankah seperti itu tuan Lee?" Sungmin kehilangan kata- katanya saat mendengar ucapan wanita ini. Ia hanya tersenyum sedikit menggangguk canggung.

TING. Pintu lift terbuka.

"Senang bisa mengobrol dengan anda tuan Lee, sampai jumpa lagi." Wanita itupun keluar dari lift bersamaan dengan Sungmin tapi kemudian berjalan kearah yang berbeda. Sungmin pun dengan santai berjalan menuju ruangan Kyuhyun sambil menggendong Sungra.

"Apa Predir Cho ada di dalam? " Sungmin bertanya pada sekretaris Kyuhyun.

"Nde, Predir Cho sudah menunggu anda di dalam, tuan. Silahkan masuk." Jawab sekretaris Kyuhyun lalu membukakan pintu untuk Sungmin.

Sungra langsung melonjak ingin turun dari gendongan Sungmin saat melihat ayahnya.

"Apppaaa..."

"Hello, sayang. Kemarilah." Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya menuju Sungra yang berlari kecil kearahnya.

"Ini map mu." Sungmin meletakkan map Kyuhyun yang di bawanya di atas meja kerja.

"Terima kasih, maaf sudah merepotkanmu. Ming," ucap Kyuhyun. Tentu saja ia tahu jika sebenarnya Sungmin kurang suka jika sudah di kantornya.

"Ne, Gwenchana, tapi aku tak bisa lama disini. Aku harus ke kafe kita."

"Oh, kalau begitu hati- hati." Kyuhyun kembali menyerahkan Sungra pada Sungmin. "Min, kita makan siang hari ini 'berdua' saja, bagaimana?" ucap Kyuhyun lagi mengedipkan matanya pada sang istri.

"Maaf sayang, tapi aku sudah memiliki janji dengan Eunhyukie siang ini." Jawab Sungmin dengan wajah menyesal. Kyuhyun menghela napas. Hilang satu kesempatan berdua dengan istri manisnya.

"Ya sudah, tidak apa- apa. Apa kau membahas yang tadi malam?" tanyanya

"Geure, Bagaimana kalau besok ?" tawar Sungmin atas ajakan suaminya. Kyuhyun kembali tersenyum. Lalu mengangguk.

"Oke." Jawabnya.

Sungmin dan Sungrapun meninggalkan kantor setelah terlebih dahulu mendapatkan kecupan dari si Presdir tampan.

.

.

Pengunjung kafe Sungmin hari ini ramai seperti biasa. Sungmin sendiri yang melayani di belakang meja counter pemesanan. Dengan senyum manis dan sapaan yang ramah Sungmin semakin membuat pelanggan betah berlama- lama mengantri di depan meja.

Tak terasa sudah pukul satu siang, yang berarti jam makan siang untuk semua orang. Sesuai dengan yang di katakannya dengan Kyuhyun, ia memiliki janji dengan Lee Hyuk Jae.

"Hyo Jung-ssi..." panggil Sungmin pada Hyo Jung, salah satu pegawainya.

"Ne, Sajangnim?"

"Gantikan aku ne, aku harus pergi ke suatu tempat."

"Oh, baiklah Sajangnim." Jawab pegawainya. Sungmin berterima kasih lalu kemudian meninggalkan meja counter dan melepaskan celemek hitam khas pegawai kafenya. Ia berjalan menuju ruangan istirahat yang ada di belakang kafe. Saat ia membuka pintu, ia di sambut oleh pemandangan lucu di atas sofa. Disana, putri kecilnya sudah terlelap dengan botol susu yang sudah kosong yang masih di pegangnya. Sungmin tersenyum melihatnya.

Rencananya ia akan membawa Sungra, tapi kali ini terpaksa ia akan menitipkan Sungra pada Ryeowook selama jam istirahat makan siang.

Setelah memasang selimut kecil di tubuh Sungra, Sungmin mengecup pipi putrinya.

"Kau berangkat saja hyung, aku akan menunggunya sampai bangun."

"Terima kasih Ryeowook-ah. Dia belum makan siang, jika dia bangun kau beri dia makanan ne."

"Tentu saja, mana mungkin aku membiarkan anak bos ku kelaparan." Gurau Ryeowook.

"Baiklah, aku harus pergi."

"Ne, hati- hati hyung, sampaikan salamku pada Hyukie." Ujar Ryeowook lagi.

"Tentu." Sungmin pun meninggalkan ruangan tersebut, berjalan keluar kafe menuju mobilnya.

.

.

.

Mereka bertemu di salah satu retoran Italia. Sama- sama memesan sepiring spageti. Sungmin memandang Eunhyuk dengan wajah penasaran. Pasalnya, saat bertemu beberapa menit lalu Eunhyuk menunjukan ekpresi yang berbeda 180 derajat dari tadi malam.

"Wae?" tanya Eunhyuk. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Kau, kau sepertinya sedang senang. Apa ada kabar baik, hum?, ayolah, ceritakan pada sahabat baikmu ini." Wajah Sungmin yang penuh rasa ingin tahu membuat Eunhyuk terkekeh.

"Apa kau menerima lamaran Donghae?" tanya Sungmin, ekspresi Eunhyuk sedikit berubah.

"Bukan. Bukan itu,"

"Lalu?" tanya Sungmin lagi kemudian menyuapi spagetinya.

"Bukan apa- apa. Tapi cukup membuatku senang."

"Kau ini bertele- tele sekali, ayo ada apa?"

"Putra Donghae pagi sekali menelponku, dia meminta aku agar mengantarnya sekolah." Ujar Eunhyuk memberi tahu. Sungmin mendengarnya memasang wajah terkejut.

"Benarkah ?"

"Ya, tentu saja."

"Memangnya kemana neneknya yang galak itu?"

"Orang tua Donghae keluar kota, dan Donghae cukup kewalahan mengurus putranya juga pekerjaannya selama dua hari ini." Ucap Eunhyuk.

"Maka dari itu, terimalah lamarannya. Begitulah saran Kyuhyun."

"Kau menceritakan masalahku pada Kyuhyun juga? Aisssh, kau ini." Wajah Eunhyuk kembali berubah kesal.

"Wae? Kau tahu sendirikan jika pemikiran Kyuhyun itu jauh lebih rasional, maka dari itu saran darinya cukup membantu." Sungmin menjawab dengan lugas.

"Kau membuatku terlihat seperti laki- laki galau yang tak tahu arah dan tujuan. Kau menceritakan masalah pribadiku dengan bosku sendiri."

"Tidak apa- apa, selain di kantor anggap saja Kyuhyun itu seperti aku. Sahabat dekatmu juga."

"Hum, lalu apa yang di katakannya lagi?" tanya Eunhyuk. Wajah Sungmin mengingat- ingat apa yang di katakan Kyuhyun padanya.

"Donghae itu tipe orang yang serius, jadi tentu saja dia sudah memikirkannya dengan matang- matang sebelum melamarmu. Maka dari itu-" ucapan Sungmin terhenti saat ponsel Sungmin yang di atas meja berbunyi.

"Yeoboseo?" sambut Sungmin. Setelah beberapa detik kemudian ekspresinya tak terbacakan. Dan itu membuat Eunhyuk bertanya- tanya, siapa yang menelpon Sungmin.

"Ne, Kim Seonsaengnim, saya akan segera kesana. Sekali lagi saya minta maaf. Saya akan segera kesana." Sedetik setelah sambungan teleponnya di tutup, Sungmin beranjak dari tempat duduknya.

"Ada apa?" tanya Eunhyuk.

"Aku harus kesekolah Sunghyun. Sunghyun tak sengaja membuat temannya jatuh dan membuat anak itu harus dilarikan kerumah sakit."

"Ya, Tuhan. Perlu kuantar?" tawar Eunhyuk.

"Tidak usah, aku membawa mobil sendiri. Sampai jumpa nanti Eunhyuk-ah..." Setelah mengucap salam Sungmin pun berjalan terburu- buru keluar dari restoran.

.

.

Sungmin tiba di sekolah Sunghyun. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju ruang guru di sekolah ini.

Setelah sampai disana, ia melihat Sunghyun duduk di sofa ruang guru bersama Sehun juga seorang guru dari tadi mengusap- ngusap kepalanya agar putra Cho Kyuhyun itu berhenti menangis.

"Sunghyun-ah." Sungmin mendekati putranya yang menangis tergugu di samping gurunya. Sunghyun yang melihat Sungmin langsung berlari ke pelukan ibunya.

"Eommaaaa..." tangisannya kembali pecah. Sungmin memeluk Sunghyun dengan lembut. Tubuh kecil Sunghyun bergetar di pelukannya.

"Ne, eomma disini. Berhentilah menangis" Sungmin mengusap punggung putranya.

"Sunghyun takut eomma...hiks.." adu putranya lagi semakin mengeratkan pelukannya.

"Ne, eomma tahu. Ada eomma di sini. Berhenti menangis ne," Sungmin perlahan melepaskan pelukannya, menghapus air mata di wajah putranya yang kini sudah memerah.

"Berhentilah menangis, ara ?" ujar Sungmin lagi, Sunghyun mengangguk. Sungmin tersenyum pada putranya.

"Saya orang tua Sunghyun meminta maaf atas kejadian ini Kim seonsaengnim." Sungmin membungkukan badannya 90 derajat meminta maaf.

"Tidak apa- apa tuan Lee, Sunghyun sebenarnya tidak sengaja, saya sendiri yang melihatnya. Pada saat jam olah raga, Baekhyun tak sengaja terdorong oleh Sunghyun hingga jatuh ke tanah dan membuat kepala Baekhyun luka. Baekhyun kini di bawa kerumah sakit, agar mendapatkan perawatan yang lebih baik. kami juga sudah menghubungi keluarganya."

"Sekali lagi saya minta maaf seonsaengnim,"

"Nde, Sunghyun, lain kali hati- hati ne" Gurunya mengusap rambut Sunghyun.

"Berhentilah menangitt, wajahmu jadi jelek. Terttenyum ne!" kali ini Sehun ikut bicara. Sunghyun merenggut mendengar teman cadelnya itu.

"Terima kasih seonsaengnim, mohon bimbingannya lagi untuk uri Sunghyun di sekolah. Sepertinya saya harus pergi kerumah sakit menjenguk Baekhyun."

"Ne, sama- sama." Jawab Kim Seonsaengnim. Sungminpun keluar dari ruang guru dengan menggandeng Sunghyun dan Sehun.

Sehun yang sudah di tunggu oleh supir pribadinya pun langsung pulang terlebih dahulu meninggalkan Sungmin dan Sunghyun yang melambaikan tangan padanya.

Sungmin membukakan pintu mobil untuk Sunghyun. Sunghyun naik kemudian memasang sabuk pengamannya sendiri. Sunghyun yang sedari tadi diam membuat Sungmin kembali mengusap rambut putranya.

"Sudah merasa baikkan, huh?" tanya Sungmin. Sunghyun mengangguk pelan.

"Miane, eomma...aku membuat eomma khawatir lagi."

"Ne, tidak apa- apa. Tapi kita sekarang harus menjenguk Baekhyun, kita ke rumah sakit ne,"

"Ne..." jawab Sunghyun lemah lalu menyandarkan bahunya di sandaran kursi mobil. Tatapannya masih sendu, masih sedikit syok.

.

.

Mereka sudah sampai di rumah sakit dimana tempat teman Sunghyun yang bernama Baekhyun itu di rawat. Sunghyun menggenggam tangan Sungmin kali ini lebih erat.

"Tidak apa- apa, jangan takut, ne." Sungmin membawa Sunghyun masuk kedalam rumah sakit.

Baekhyun tidak dirawat di ruang khusus, dia berbaring di salah satu ranjang pasien diantara banyaknya ranjang di samping kanan dan kirinya, ranjang- ranjang yang hanya di pisah oleh bilik.

Ada satu pemandangan yang membuat Sungmin terkejut. Di sana ia melihat Eunhyuk. Eunhyuk satu- satunya orang yang menemani Baekhyun. Apa putra Donghae yang dimaksud Eunhyuk itu adalah...

"Eunhyuk-ah..." Sungmin mendekati Eunhyuk yang sedang duduk menemani Baekhyun. Eunhyuk menoleh, dan pandangannya sama terkejutnya saat melihat Sungmin.

"Sungmin, apa yang kau lakukan disini...tunggu, jangan bilang kalau..."

"Ya, aku menjenguk Baekhyun. Uri Sunghyun tak sengaja membuatnya luka." Ucap Sungmin. Eunhyuk menghela napas. Sesuai dugaannya.

"Eunhyuk-ah, apakah Baekhyun itu putra Lee Donghae?" tanya Sungmin. Eunhyuk tak menjawab, ia hanya mengangguk.

"Baekhyun...aku minta maaf..." Sunghyun mendekati Baekhyun mengulurkan tangannya minta maaf. Sungmin dan Eunhyuk diam menunggu reaksi Baekhyun. Bocah itu masih diam memandang tangan Sunghyun.

"Ne...tidak apa- apa," Baekhyun menyambut tangan Sunghyun. Mereka bersalaman saling memaafkan.

"Baekhyunie tidak apa- apa...?" tanya Sungmin. Baekhyun menatap Sungmin diam, lalu kembali menatap Sunghyun.

"Apa dia appamu ?" tanya Baekhyun berbisik. Sunghyun yang mendengarnya menggeleng.

"Bukan, ini eommaku, Sungmin eomma!" Sunghyun mengatakannya dengan bangga. Baekhyun memandang Sungmin dari atas sampai bawah. Sungmin bingung harus apa dengan tatapan polos Baekhyun.

"Aku baik- baik saja ahjus- eh, Ahjum-ma..." mendengarnya Sungmin tersenyum. Sementara Baekhyun menunduk.

"Syukurlah...maafkan uri Sunghyun, ne..."

"Ne..." Sungmin mengusap rambut hitam Baekhyun membuat Baekhyun kembali memandangnya lagi. Kali ini Baekhyun tersenyum.

"Cepat sembuh ne..."

"Hm," Baekhyun mengangguk semangat.

"DI MANA CUCUKU!" suara keras itu membuat mereka berempat terkejut, terutama Baekhyun.

"Eunhyuk ahjussi..." Baekhyun kini mendekat pada Eunhyuk. Tentu saja karena ia tahu jika itu adalah suara neneknya.

"Baekhyun!" Wanita tua itu berjalan mendekati ranjang Baekhyun. "Ya, Tuhan! Kenapa denganmu Baekhyunie, kenapa kau bisa terluka seperti ini." Neneknya meraih bahu Baekhyun mengusap kepala cucunya yang di lilit perban.

"Baekhyun tak sengaja terjatuh saat jam pelajaran olah raga di sekolahnya, Ahjumma..." Sungmin angkat bicara.

"Apa? Terjatuh? Bagaimana bisa."

"Putraku tak sengaja-" belum selesai Sungmin bicara, nenek Baekhyun memotong ucapannya.

"Putramu? Jadi putramu yang mencelakai cucuku! Apa dia bocah itu!" Nenek tua itu dengan kasarnya menunjuk Sunghyun yang ada di sebelah Sungmin. Sunghyun yang terkejut langsung merapatkan dirinya dengan Sungmin, Sunghyun ketakutan.

"Anda seharusnya tak boleh bicara sekeras itu di depan anak kecil, ahjumma." Sungmin mulai tak suka dengan situasi dan pembicaraan ini.

"Kau berani mengguruiku, jelas- jelas anakmu yang membuat cucuku terluka hingga masuk rumah sakit ini."

"Bukan berarti saya tidak bertanggung jawab, saya hanya-"

"Sudahlah, kau didik saja putramu agar tak mencelakai orang lain lagi." Sungmin baru saja hendak menjawab, namun nenek Baekhyun itu kini mengalihkan pandangannya pada Eunhyuk yang sedari tadi diam.

"Kau! Apa yang kau lakukan disini!" ia kini membentak Eunhyuk. Melihat nenek Baekhyun, Sungmin jadi benar- benar percaya dengan apa yang selama ini di ceritakan Eunhyuk padanya.

"Aku, aku hanya mengkhawatirkannya."

"Baekhyun tak butuh perhatian darimu. Sudah ku katakan untuk jangan mendekati keluargaku lagi."

"Maaf kan saya ahjumma..." Nenek Baekhyun tak membalasnya, ia hanya memandang Eunhyuk.

"Belum tiga hari aku meninggalkan cucuku, kau sudah membuatnya seperti ini." Sungmin mendengarnya terperangah. Jelas- jelas bukan Eunhyuk yang salah, ada apa dengan ahjumma ini?

"Maaf..."

"Lebih baik kau pergi dari sini." Nenek Baekhyun bicara dengan nada dingin saat mengusir Eunhyuk. Sungmin semakin terkejut saat begitu saja Eunhyuk membungkukan dirinya pamit meninggalkan mereka. Eunhyuk bahkan mengabaikan tatapan Baekhyun yang meminta dia untuk tetap disini.

"Sekali lagi saya minta maaf ahjumma, saya dan anak saya permisi dulu. Semoga Baekhyun cepat sembuh." Tanpa menunggu suara dari nenek Baekhyun. Sungmin membawa putranya pulang dari rumah sakit ini.

"Kenapa halmonie mengusir Eunhyuk ahjussi dari sini..."

"Kau tidur saja, agar cepat sembuh, ne." Sayup- sayup Sungmin mendengar Baekhyun protes pada neneknya. Sungmin menghela napas, Eunhyuk memang butuh perjuangan besar.

.

.

Hari sudah sore, mobil milik Sungmin kini memasuki halaman rumahnya. Setelah dari rumah sakit Sungmin kembali lagi ke kafenya. Beristirahat sejenak di sana meskipun suasana hatinya masih kurang baik. Sejak tadi ia berusaha menghubungi Eunhyuk, tapi lagi-lagi di alihkan ke pesan suara.

Setelah membuka pintu rumah ketiganya langsung masuk kedalam. Sungra berlari kecil menghampiri keranjang mainannya, sedangkan Sunghyun dengan langkah lelah memasuki kamarnya. Sungmin memperhatikan putra sulungnya, jelas sekali kalau suasana hati Sunghyun sama buruknya. Dan itu membuat Sungmin 'sedikit' lebih kesal pada nenek Baekhyun saat dirumah sakit tadi saat mengingat kejadian itu.

Tok tok tok.

Sungmin mengetuk pintu kamar Sunghyun, sudah sepuluh menit sejak masuk kamar tadi Sunghyun tidak keluar- keluar.

"Sunghyunie...kau sedang tidur, sayang?" Sungmin membuka pintu kamar Sunghyun. Putranya tidak tidur, Sunghyun hanya duduk menggambar di meja belajarnya.

"Hei, Sungra menunggumu bermain di luar." Ajak Sungmin, tapi putranya hanya menatapnya sekilas kemudian menggeleng. Sungmin menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya.

"Eomma tahu cara membuat suasana hati yang buruk kembali baik." Ujar Sungmin lagi. Sunghyun kembali merespon.

"Apa?" tanya putranya. Sungmin tersenyum melihatnya. Sunghyun terkejut saat Sungmin tiba- tiba mengangkat tubuhnya, menggendongnya keluar kamar.

"Kajja, eomma akan tunjukkan."

Sungmin berjalan santai melewati ruang keluarga dengan Sunghyun yang menyamankan kepalanya di bahu sang ibu. Saat melewati Sungra yang asyik bermain di lantai, dengan usil Sunghyun memanggil adiknya.

"Sungra-ah...oppa di gendong eomma..." ujarnya menjulurkan lidahnya pada Sungra. Sungra yang mengalihkan pandangannya pada Sunghyun langsung merenggut. Dan itu membuat Sunghyun terkekeh, ia senang mengerjai adiknya.

Sungmin yang mendengarnya pun ikut tersenyum. Setidaknya Sunghyun sudah mulai melupakan kejadian tadi, batinnya.

Sungra berlari kecil mengikuti Sungmin dan Sunghyun yang berjalan ke counter dapur. Tangan kecilnya melambai- lambai ingin ikut di gendong juga.

"Maa...ummaa..." rengeknya. Sungmin menurunkan Sunghyun kemudian mengangkat Sungra duduk di atas meja dapur.

"Jangan banyak bergerak, nanti Sungra jatuh, ara?"

"Neeee..." Sungmin tersenyum melihat tingkah putrinya.

"Nah, sekarang kita akan mulai!"

"Mulai apa eomma?" tanya Sunghyun bingung.

"Tentu saja membuat bibimbab. Memakan bibimbab akan membangkitkan susana hati kita yang buruk." Jawab Sungmin. Sunghyun mengangguk sambil ber-oh ria, sementara Sungra hanya mengenjap tak mengerti.

Sungmin memasukan nasi panas dari ricecooker kedalam mangkuk besar.

"Tuan muda Sunghyun ingin bibimbabnya di campur dengan apa?" tanya Sungmin. Setelah memikirkannya, Sunghyun tersenyum.

"Aku ingin ayamnya lebih banyak!"

"Oke. Ayo, bantu eomma mengeluarkan bahannya dari dalam kulkas."

Setelah mengeluarkan ayam, timun, bayam, jamur dan berbagai macam sayur lainnya. Sungmin memotong sayur dengan dibantu oleh Sunghyun.

Sungmin senang saat membawa dua buah hatinya melakukan kegiatan seperti ini, Sungra duduk diam di atas meja dan Sunghyun yang sedari tadi tertawa senang. Meskipun dapurnya akan lebih berantakan dari biasanya hanya karena semangkuk besar bibimbab, tapi tak jadi masalah selama Sunghyun dan Sungra senang. Terutama Sunghyun, yang kini berangsur- angsur melupakan kejadian buruk tadi siang.

Setelah bibimbab mereka selesai mereka duduk menikmatinya sambil menonton televisi di ruang keluarga. Dengan Sungra yag duduk di pangkuan Sungmin dan Sunghyun duduk di sebelahnya. Yeah, bagi Sungmin setidaknya kejadian tadi siang membuatnya lebih dekat dengan kedua buah hatinya.

.

.

Sudah pukul sembilan malam, keadaan rumah sudah sepi. Kyuhyun duduk santai di ruang keluarga dengan laptop di pangkuannya. Sungmin datang menghampirinya.

"Anak- anak sudah tidur ?" tanya Kyuhyun.

"Hm, sepertinya hari ini mereka kelelahan." Jawab Sungmin. Kyuhyun mengangguk mendengarnya.

"Apa belum selesai?" tanya Sungmin lagi saat Kyuhyun masih dengan fokus mengetik di laptopnya.

"Sebentar lagi, kenapa?"

"Bisa kita keluar jalan- jalan malam ini?"

"Berkencan?" tanya Kyuhyun yang kini pandangannya beralih ke Sungmin. Sungmin menggeleng.

"Ani, hanya saja sudah lama kita tidak melakukannya. Akhir- akhir ini kau sangat sibuk sekali."

"Maaf, tapi kau tahu sendiri tanggung jawabku sendiri seperti apa. Aku tak bermaksud mengabaikan kalian." Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin.

"Ya, aku tahu. Maka dari itu aku meminta malam ini saja jalan- jalan seperti yang sering kita lakukan dulu." Melihat ekspresi Sungmin yang bicara seperti itu membuat Kyuhyun tidak tahan untuk tidak menciumnya. Hanya ciuman singkat di bibir yang membuat Kyuhyun mendapatkan pukulan telapak tangan Sungmin di lengannya.

"Baiklah sayang, aku janji ini hanya akan selesai kurang dari 10 menit." Ujar Kyuhyun lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.

.

.

Malam ini cuaca sangat mendukung. Sungmin dan Kyuhyun berjalan kaki menyusuri taman. Meskipun tengah malam, masih banyak muda mudi yang duduk bersantai di sana, ada juga yang berolah raga.

"Sebentar lagi musim semi." Ujar Kyuhyun memandang Sungmin yang menggandeng lengannya di samping.

"Ya, dan itu berarti sudah 10 tahun."

"Ternyata sudah lama juga ya, tapi aku merasa seolah setiap hari seperti pertemuan pertama kita saja." Ucapan Kyuhyun mulai menggombal. Sungmin terkekeh mendengarnya.

"Kau sekarang sudah pandai menggoda. Aku sangat ingat betapa kakunya dirimu di kencan pertama kita dulu." Sungmin bicara sambil menerawang, mengingat masa- masa dia dan Kyuhyun 10 tahun yang lalu.

"Aku juga tak mempercayainya. Seorang namja yang membawa kopor tengah malam di taman malam itu akan menjadi pasangan hidupku sampai sekarang, yang kuyakini akan sampai nanti." Mendengarnya Sungmin merona, sejak kapan semuanya terasa seromantis ini?

"Tentu saja, mana mau aku mengurus dua anakmu sendirian. Kau pun sampai nanti harus bersamaku...hahaha..." Sungmin tertawa keras yang membuat Kyuhyun gemas menarik hidungnya.

"Ya! Hidungku sakit tahu!" Kyuhyun tak mengindahnya ia mengajak Sungmin menyeberang jalan menuju sebuah restoran kecil yang buka 24 jam.

"Kau belum makan, kan?" Kyuhyun menarik tangannya masuk kedalam. "Tadi aku hanya makan sendiri karena kau bilang sudah makan sore tadi dengan anak- anak. Sekarang kau pasti lapar. Ayo, kita pesan makanan." Sungmin mengangguk. Ya, perutnya memang mulai lapar.

Seraya menunggu pesanan mereka datang. Sungmin meneguk ludahnya sendiri. Jujur, ia belum menceritakan kejadian hari ini pada Kyuhyun.

"Kyu..." Sungmin memulai bicaranya.

"Hm?"

"Aku belum bercerita kejadian apa yang terjadi hari ini." Mendengarnya Kyuhyun mengerutkan kedua alisnya.

"Kejadian apa?"

"Tadi siang, Sunghyun tak sengaja membuat temannya terjatuh hingga di larikan kerumah sakit." Sungmin bicara dengan satu tarikan napas, dan itu membuat Kyuhyun luar biasa terkejut.

"Apa? Kenapa kau baru cerita sekarang. Apa Sunghyun baik- baik saja, bagaimana keadaan anak itu?"

"Anak itu baik- baik saja, dan uri Sunghyun sedikit syok tadi siang. Maaf tak memberitahumu, aku tahu kau sangat sibuk. Dan, ceritaku belum selesai. Dengarkan dulu..." ujar Sungmin lagi, Kyuhyun tak menjawab ia menatap Sungmin menunggu istrinya melanjutkan cerita.

"Anak yang di bawa kerumah sakit itu ternyata putranya Lee Donghae, Baekhyun, nama anak itu Baekhyun. Aku pun tahu setelah bertemu dengan Eunhyuk di sana. Dan aku sempat terkejut juga. Lalu..." Sungmin menggantung kalimatnya.

"Lalu ?"

"Lalu ibu Donghae datang, dia bicara sangat keras dan kasar sekali. Sunghyun ketakutan sampai pulang kerumah." Cerita Sungmin membuat Kyuhyun menatapnya serius.

"Apa yang terjadi lagi setelah itu?"

"Cerita Eunhyuk benar, ibu Donghae sangat membencinya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat ahjumma itu mengusir Eunhyuk." Kyuhyun diam mendengarnya, ia tahu jika Sungmin sangat tidak tega jika orang terdekatnya di perlakukan seperti itu.

"Perlu usaha besar untuk membujuk Lee ahjumma,"

"Membujuk untuk hal apa?"

"Tentu saja untuk membuatnya menerima Eunhyukie, ahjumma seperti itu harus di hadapi dengan sabar. Aku akan mencobanya." Sungmin mengepalkan tangannya yang di atas meja memberi semangat pada dirinya sendiri. Mengabaikan tatapan Kyuhyun yang mulai memandangnya horror.

"Hei, apa yang mau kau coba?" tanya Kyuhyun penuh selidik.

"Merayu ibu Donghae untuk menyetujui pernikahan anaknya dengan uri Eunhyukie." Kyuhyun hampir tersedak liurnya sendiri saat mendengar Sungmin. Sungguh, ia tidak bisa menebak rencana apa yang ada di kepala cantik istrinya.

"Bukankah itu masalah pribadi, jangan campuri urusan orang lain." Kyuhyun menasehatinya.

"Tidak apa- apa jika 'cara bermainnya' aman." Jawab Sungmin dengan gaya ala detektif mengetuk- ngetuk telunjuk kanannya ke dagu secara konstan. Kyuhyun sudah kehilangan kata- katanya. Ia sudah 'tahu' bagaimana Sungmin jika ia menolak rencana istrinya, jadi yang terbaik saat ini yang bisa ia lakukan adalah mendukung saja dan tentunya sambil 'mengawasi' jika saja Sungmin melewati batas 'aman' yang ia sebutkan tadi.

"Terserah kau saja, aku setuju saja. Tapi kau tak boleh membuat kekacauan. Semuanya ada batasan." Peringat Kyuhyun. Sungmin tersenyum puas, lalu mengecupi pipi Kyuhyun.

"Terima kasih Kyuhyunie...tapi kau harus janji! Tak boleh mengatakan apapun pada Eunhyukie. Ara?" ucap Sungmin, Kyuhyun mengangguk setuju saja. Sungmin tersenyum puas.

"Ya, ya...apapun untukmu. Ah, makanannya sudah datang. Mari kita makan." Seru Kyuhyun saat pelayan meletakkan menu pesanan mereka di atas meja.

"Sunhyun-appa...suapi aku ne." Pinta Sungmin dengan puppy eyes miliknya seperti bocah 6 tahun yang membuat Kyuhyun tertawa.

Apa dia lupa jika sudah memiliki dua anak yang sedang tidur dirumah?

"Neee...Sunghyun eomma..."

.

.

.

TBC

WillWaitForSungmin ^^

Sorry for typos, malas ngedit..kekeekke. maaf kalo alurnya gini-gini aja, review kalo mau di lanjut.

RnR?

"join on www. selalukyumin. wordpress. com (not space)"