"***"
Suasana kedai ramen di malam hari terasa begitu menyesakan, apalagi ditambah dengan bising-bising suara yang terdengar keluar dari berbagai media. Kepulan asap dari makanan ataupun rokok sepertinya makin menambah kesemrawutan. Tapi sepertinya hal itu sama sekali tak mempengaruhi dua jaksa muda yang dengan khidmatnya menyantap ramen pesanan mereka.
"Sepertinya kau terlalu kasar ada asistenmu. Sudah tak terhitung lagi asisten yang mengeluh atas kinerjamu."
"Aku tak membutuhkan mereka." Heechul menyantap dengan santai ramennya. Suasana kedai ramen yang terbilang ramai membuat suara yang keluar dari mulut mereka terdistorsi dengan suara-suara lain.
"Manusia normal tak dapat hidup tanpa bantuan manusia lain." Pemuda tampan dengan kulit kecoklatan yang duduk tepat di depan Heechul menuangkan sedikit soju ke dala gelas Heechul. Jung Yunho, jaksa muda satu angkatan Heechul. Jaksa yang sama-sama termasyur dan sangat disegani.
"Aku tidak normal. Masalah selesai." Jawab Heechul acuh.
"Keras kepala."
"Kau benar tuan Jung."
"Tapi kau sama sekali tidak menghargai kebaikannya."
"Jika kau tertarik padanya, bilang saja langsung. Atau kau ingin dia menjadi asistenmu. Silahkan! Aku mengijinkan. Aku bisa menghadap pada jaksa ketua. Masalah selesai." Heechul menyuapkan ramen terakhir ke dalam mulutnya,. mengunyahnya cepat lalu menyudahi acara makannya.
"Aku sudah selesai. Siapa yang mau bayar? Aku? Atau kau? " Heechul bangkit dari duduknya.
"Kau buru-buru sekali ayo duduk lagi. Aku masih ingin bercerita padamu." Yunho memberi isyarat pada Heechul untuk kembali duduk. Dengan malas Heechul menurut.
"Ada apa?" Tanya Heechul ketus.
"Tak ada. Kau mau tambah? Soju minimal. Aku pesankan." Belum sempat Heechul membuka mulutnya untuk mengucapkan kalimat penolakan, Yunho ternyata sduah memanggil pelayan.
"Berikan kamu dua botol suju lagi."
Heechul hanya menggerutu kecil saat Yunho terlihat begitu senang dengan tingkahnya. "Terserah." Ucap Heechul sarkastik.
"***"
"Selamat pagi jaksa Kim." Jaejoong menunduk hormat saat Heechul melintas di hadapannya. Hanya anggukan malas dan deheman kecil yang Heechul tunjukan sebagai balasan sikap hormat Jaejoong.
Heechul meletakan tas kerjanya di atas meja lantas ia pun duduk di atas kursi kerjanya, merenggakan sedikit dasi yang sedikit agak melilit lehernya lalu setelahnya memejamkan matanya sebentar sambil bersandar pada punggung kursi.
"Jaejoong-ssi biarkan aku tidur sebentar. Aku lelah sekali."
"Baiklah~ aku keluar sebentar. Jaksa Kim." Jaejoong bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah pintu. Hanya deheman kecil yang terdengar yang dari mulut Heechul untuk membalas ucapan Jaejoong.
Jaejoong berjalan kecil menuju lapangan basket yang terletak di belakang kantor kejaksaan. Ia memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon rindang yang menaungi sebuah kursi taman kecil yang hanya cukup diduduki oleh dua orang. Jaejoong menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang.
"Apa kau haus?"
Jaejoong terlonjak kaget saat ada sebuah benda dingin yang menempel di pipinya. Ia mendongak dan menemukan sosok Yunho yang tengah berdiri di belakangnya sambil membawa dua minuman kaleng dingin.
"Kau mau?" Tawar Yunho.
"Terima kasih Jaksa Jung."
Yunho mendudukan dirinya di samping Jaejoong sambil menyerahkan minuman kaleng yang tadi dibawanya. "Jangan kalut saat berada di dekat Heechul."
"Dia menyeramkan tapi aku tak masalah~ mungkin dia ingin fokus pada pekerjaannya."
"Jangan memaksakan dirimu. Jika kau merasa tak kuat, kau bisa berganti tempat."
Jaejoong menggeleng mendengar saran Yunho. "Aku masih bisa bertahan. Menurutku dia hanya sedikit errr… kesepian. Seperti sebuah buku yang pernah ku baca. Jaksa Kim seperti orang yang sedang patah hati berkepanjangan."
"Memang."
Jaejoong menolehkan wajahnya cepat saat mendengar ucapan Yunho barusan. "Benarkah?"
"Hei~ jangan berlebihan seperti itu."
"Tapi?..."
"Heechul pernah gagal dalam hal percintaan. Ia memutuskan tunangannya secara sepihak."
"Kenapa?"
"Masalah pribadi, aku tak tau pasti. Kau tahu, dulu Heechul tak seperti itu. Itu sih menurut desas-desus yang kudengar."
Jaejoong mengangguk-angguk mengerti. Namun dalam hati ia ingin sekali mengorek keterangan lebih jauh dari Yunho. Bukan, bukan bermaksud ingin mencampuri urusan orang lain. Namun ada baiknya Heechul itu berkeluh kesah dengan orang lain dan jangan menyimpannya sendiri—Pikir Jaejoong.
"Jaejoong-ssi. Aku ada urusan denganmu sebentar." Tak mereka berdua sadari kalau Heechul kini sudah berdiri di belakang mereka berdua. Mendengar seruan dari Heechul yang terdengar begitu jelas dan nyata Jaejoong sontak menolehkan kepalanya. Begitu juga dengan Yunho.
"Jaksa Kim?"
"Kita harus ke rumah sakit. Kau tahu kasus yang menimpa anak umur sepuluh tahun yang hampir dibunuh oleh ayah kandungnya?"
"Yoon Mijo? Hanju international Hospital."
"Ayo, waktu kita sempit." Heechul langsung pergi begitu saja saat selesai mengucapkan kata-katanya barusan.
Jaejoong memandang Yunho sebentar—seperti meminta izin padanya. Yunho yang menyadari itu hanya tersenyum. "Hei, ini kemajuan. Heechul mau menyapamu dan mengajakmu ikut bersamanya. Bukankah ini bagus?" Yunho mengacungkan ibu jarinya sebagai bentuk dukungan pada Jaejoong.
"Ah~ baiklah. Terima kasih jaksa Jung." Jaejoong bangkit dari duduknya, setelahnya ia membungkuk untuk memberi hormat. "Aku permisi jaksa Jung." Setelah berujar demikian Jaejoong berlari mengejar Heechul yang hampir menghilang di balik pintu kejaksaan.
"***"
"Jaejoong-ssi aku ingin ke toilet sebentar. Kau duluan saja." Heechul melanjutkan langkahnya menuju toilet, berbalik arah dengan Jaejoong yang terus malangkah menuju kamar rawat inap anak-anak kelas tiga tempat di mana Mijo dirawat.
"Baiklah Jaksa Kim."
"Panggil aku Heechul-ssi atau terserah maumu. Ini bukan di kawasan kejaksaan." Ucap Heechul tanpa berbalik dan terdengar sangat acuh.
"Baik Heechul hyung." Balas Jaejoong sumringah.
Heechul berjalan santai saat melewati lorong-lorong rumah sakit. Dirinya berbelok saat melihat papan penunjuk arah dimana letak toilet berada. Baru saja tangannya terulur untuk membuka knob pintu, pintu toilet itu terbuka dan serta merta menampakan sosok wajah yang familiar untuknya.
Beberapa saat Heechul terpaku menatap wajah itu, begitu pun orang tadi. Ia bahkan membisu tak mengucapkan sepatah kata pun. Serasa dunia melambat saat mereka saling beradu pandang.
"Han…" Heechul mendesis namun kata-katanya tak jadi lanjut terucap saat suara Jaejoong memanggilnya.
"Heechul hyung? Kau ada di sini? Han?" Jaejoong menghampiri mereka berdua. Entah mengapa suasana dan aura kecanggungan memudar saat datangnya Jaejoong.
Heechul berdehem kecil. "Apakah kau sudah selesai Jaejoong? Bagaimana keadaan anak itu?"
"Ibunya ingin bertemu denganmu hyung. Makanya aku mencarimu." Jaejoong memandang Heechul dan juga Hangeng bergantian. Alisnya berkerut saat melihat wajah Hangeng yang menampakan gurat kekecewaan dan kekesalan yang mendalam. Pandangan mata Hangeng menegas serta rahangnya yang mengeras.
Insting Jaejoong mengatakan pasti ada alasan dibalik perubahan sikap Hangeng. Hangeng tak pernah menunjukan wajah serius melebihi level dari biasanya. Wajahnya pasti akan tenang dan akan selalu bersahabat dengan siapa saja, bahkan orang yang baru ditemuinya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda.
"Aku akan ketempat anak itu." Heechul berbalik untuk meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal Heechul, Hangeng masih sama seperti tadi, memasang tampang kerasnya. Namun akhirnya raut wajahnya berubah saat suara Jaejoong memanggilnya.
"Apakah ada sesuatu?"
"Ti-tidak. Aku tak apa-apa."
"Jangan bohong padaku. Kepekaanku terhadap sesuatu itu kuat."
"Apa kau ingin menjadi cenayang?" Hangeng mengacak rambut Jaejoong gemas.
"Tidak~" Jaejoong menyingkirkan tangan Hangeng yang tadi bersarang di kepalanya.
"Benar?" Jaejoong menatap dalam dua bola mata Hangeng, tersenyum tipis sebentar lalu dengan cepat memeluknya. "Sudah tidak apa-apa."
Hangeng yang awalnya kaget kini balas memeluknya. "Hei! Sepertinya anak kucing satu ini ingin bermanja-manja." Ledek Hangeng.
"Biar!" Jaejoong makin mengeratkan pelukannya.
Tak jauh dari sana, tepatnya dibalik tikungan, seseorang tengah berdiri membeku dengan tatapan sedingin es memperhatikan mereka berdua. Rahangnya mengeras cepat saat pemandangan yang dilihatnya makin bertambah intim. Tak ingin memperkeruh suasana hatinya, ia lebih memilih untuk meninggalkan dua manusia yang sedang dimabuk cinta itu.
"Selamat~" Desis orang itu.
saya tahu ini saaaaaaaaaaaaaangat pendek tapi sengaja #PLAAKK mian mian khukhukhu
