THE COLD FLORIST

Chapter 1. That Boy

Lai Guanlin x Yoo Seonho

cubechikins and yowa komorebi's fanfiction

romance, slight!fluff, slight!school-life, florist!AU • teen

.

.

Lai Guanlin itu selalu jadi pusat perhatian. Alasannya klasik. Dia tampan, tinggi, jago basket, dan tukang gencet. Yang terakhir itu yang membuatnya terkenal, dan ditakuti, di sekolahnya.

Kalau kau membayangkan Lai Guanlin meninju wajah atau perut seseorang, kau salah besar. Guanlin memang tukang gencet, tapi dia tidak suka pakai kekerasan. Dia sangat menentang kekerasan. Dia hanya menjadi bos di kelompok kecilnya yang terdiri dari lima orang. Mereka lebih suka memerintah, membentak, menggertak; daripada menunjukkan kekuasaannya dengan kepalan tangan. Bisa dibilang, mereka itu tukang gencet yang 'terhormat'. Yah, meskipun sangat menyebalkan bagi beberapa murid.

Termasuk murid laki-laki yang baru saja melintas di depan Guanlin dan kawan-kawannya.

"Dia itu kenapa, sih? Senyumnya menyebalkan sekali!"

"Mukanya itu minta ditonjok."

Guanlin mencomot dua lembar daun selada dari nampannya, lalu melemparkannya bergantian tepat ke wajah Park Woojin dan Kang Daniel yang berdiri dari kursinya. Keduanya masih menatap nyalang ke arah murid laki-laki yang barusan melewatinya sambil memamerkan senyuman kecil itu. Guanlin mendapat seruan protes dari dua karibnya itu, tapi dia tidak peduli.

Saat ini waktunya istirahat. Mereka sedang berkumpul di kantin, di salah satu meja yang hanya boleh ditempati oleh Guanlin dan kelompok kecilnya. Park Woojin dan Kang Daniel memang dikenal yang paling cepat terpancing emosinya. Sementara Bae Jinyoung dan Samuel Kim, keduanya pendiam sama seperti Guanlin, tapi mereka juga berbahaya kalau sudah marah besar.

"Aku tidak mengerti, kenapa kau diam saja diperlakukan begitu."

Perkataan Jinyoung mendapat anggukan persetujuan dari tiga orang lainnya. Kalau dipikir-pikir, sikap Guanlin memang aneh. Lai Guanlin itu tipe yang sangat tidak suka diremehkan oleh orang lain, meskipun orang itu hanya sekadar lewat sambil tersenyum mengejek. Dan senyum milik murid laki-laki yang ingin ditonjok Daniel tadi sudah termasuk meremehkan Guanlin. Jadi, wajar saja jika Jinyoung merasa aneh.

"Apa jangan-jangan kau—"

"Dia itu murid kesayangan guru-guru," sahut Guanlin memangkas ucapan Samuel.

Woojin, Daniel, Samuel, dan Jinyoung saling pandang. Benar juga. Guru mana yang tidak sayang dengan Yoo Seonho? Bahkan, guru tergalak mereka sekalipun, dibuat takluk oleh senyum dan wajah memelas dari laki-laki itu. Selanjutnya, tidak ada yang menyahut lagi. Oh, memikirkannya saja sudah membuat pusing—mereka sama sekali tidak berniat berurusan dengan para guru.

Merasa penjelasan singkatnya bisa diterima keempat temannya, diam-diam Guanlin menghelas napas lega. Sebab alasan sebenarnya kenapa dia bersikap abai pada Yoo Seonho bukanlah seperti yang dia utarakan. Dia menyimpan sesuatu. Tentang dirinya dan—ehm, Yoo Seonho.

Lai Guanlin masih ingat jelas bagaimana pertemuannya dengan Yoo Seonho beberapa hari lalu di toko bunganya. Ya, seorang bos tukang gencet yang disegani banyak murid itu punya toko bunga di distrik Songpa, distrik yang berbeda dengan sekolahnya. Guanlin yang saat itu sedang merapikan beberapa pot bunga dibuat terkejut oleh kemunculan Seonho. Apalagi setelah melihat Seonho tersenyum begitu lebar ke arahnya. Yang dipikirkan Guanlin adalah reputasinya sebagai tukang gencet akan segera berakhir. Oh, ya ampun, dia bahkan sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Park Woojin.

Namun, siapa sangka, tanpa diminta dan dipaksa terlebih dahulu, Yoo Seonho berjanji tidak akan membocorkan rahasia Guanlin kepada siapa pun. Tetapi, sebagai balasannya, Seonho minta sebuket bunga gratis setiap dia beli di sana.

Apakah kau mengira Seonho cuma datang satu kali? Tidak. Yoo Seonho datang ke Lin Florist setiap hari dan membeli—lebih tepatnya meminta—sebuket bunga yang sama. Mawar merah, lili putih, anyelir merah muda, dan krisan putih; satu tangkai setiap macamnya. Harus dibungkus secantik mungkin karena, katanya, yang menerima buket itu adalah orang yang spesial.

Kekesalan Lai Guanlin tidak berhenti sampai di sana saja. Setiap kali Yoo Seonho sudah mendapatkan buketnya dan pamit, dia selalu menyempatkan untuk memberi satu kedipan matanya kepada Guanlin! Argh, ada apa dengan bocah itu sebenarnya?!

Tanpa sadar, Guanlin mengacak-acak rambutnya sambil menjerit. Jeritan yang pastinya sangat jantan sekali, sampai-sampai membuat beberapa murid yang berada di sekitarnya, termasuk keempat temannya, terlonjak kaget. Mereka berempat kompak memberikan tatap meminta penjelasan kepada 'pemimpin' mereka itu.

"Man, baik-baik saja, huh?"

Guanlin mengembuskan napas berat lantas meletakkan sumpitnya begitu saja. Nafsu makannya sudah lesap. Bayangan anak bernama Yoo Seonho dan cengiran menyebalkannya itu benar-benar mengusiknya beberapa hari ini. Sejemang kemudian si pemuda Lai beranjak dari duduknya dan hendak melangkahkan tungkainya pergi.

"Kepalaku pusing. Tidak berselera makan lagi. Mau ke UKS dulu. Tidur."

Selepas mengucapkan rentetan kalimat putus-putus itu, sosok Guanlin sudah melenggang keluar kantin. Tatap keempat temannya masih senantiasa mengikuti kepergiannya hingga punggung laki-laki jangkung itu terlihat berbelok dan hilang dari pandangan.

.

.

.

"ASSA!"

Pekikan tiba-tiba serta gelakan tawa yang mengudara setelahnya itu membuat Ahn Hyungseob dan Justin Huang yang mulanya menikmati makan siangnya dengan tenang mengernyit curiga ke arah sahabatnya, Yoo Seonho. Sejak tadi, mereka perhatikan, Seonho sama sekali belum menyentuh makanannya. Hanya memainkan sumpit di antara jemarinya sembari menatap ke salah satu sudut kantin. Dan tentu saja Hyungseob dan Justin tahu jika objek sorot mata sang karib konstan memerhatikan meja 'wajib' Lai Guanlin dan teman-temannya.

"Kuhabiskan makananmu, Seonho!" Justin sengaja meneriakkan kalimat tersebut di telinga Seonho. Berharap kesadaran si pemuda Yoo yang masih terkekeh itu segera kembali.

"YAK! JUSTIN JANGAN BERANI-BERANI, YA?"

Dengan gerakan super cepat, Yoo Seonho segera melahap makanannya. Dia memasukkan banyak nasi dan sayuran ke dalam mulutnya hingga pipinya menggembung besar. Hyungseob hanya tertawa melihat kedua temannya yang sering beradu mulut itu lantas menelan makanannya sebelum memulai percakapan.

"Sejak tadi aku perhatikan, kamu melihat ke meja mereka terus, Seonho-ya. Apa yang lucu, huh?"

"Lai Guanlin. Dia lucu sekali, Hyung. Sungguh."

Justin hampir tersedak mendengar jawaban Seonho. Kedua alisnya tertaut pertanda keheranan. Sejak kapan Yoo Seonho memerhatikan Lai Guanlin, dan bahkan mengatakan jika tukang gencet itu lucu?

"Hei! Jangan macam-macam dengan mereka Seonho. Kamu bisa berakhir mengenaskan kalau sudah jadi 'korban' mereka, tahu." Itu suara Justin yang tampak sangat tidak suka ketika sahabatnya itu bermain-main dengan gerombolan murid pembuat onar itu.

"Lai Guanlin diam-diam begitu juga katanya sih sangat menyeramkan kalau sudah marah. Jangan coba-coba untuk berurusan dengannya, Seonho-ya."

Mendengar kalimat Hyungseob yang diangguki persetujuan oleh Justin barusan membuat Seonho semakin tidak bisa menahan tawanya. Yoo Seonho tergelak begitu hebat hingga seluruh badannya berguncang. Oh, yang benar saja!

Lai Guanlin? Apa memang semenyeramkan itu?

.

.

-tbc.