Love In Fairytale

Harry Potter © J.K. Rowling

.

.

Pairing : Draco Malfoy and Hermione Granger

Rated : T

Genre : Romance & Fantasy

.

.

Warning : Bad Language, OOC Story, OOC Character, Bad Story, Many Typo

Summary : Hermione dan Draco sama-sama terdiam. Ini semua benar-benar gila. Terhisap dalam buku dongeng, bertemu dengan kelinci yang bisa berbicara, dan yang paling gila menjadi tokoh utama dan menyelesaikan jalan cerita ini sampai selesai.

Tapi yang paling gila, Draco harus bersama Hermione untuk menyelesaikkan ini semua?

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

# Cinta itu datang tanpa di duga. Cinta itu sangat besar kekuatannya. Dapat memulihkan segala luka di hati. Memberikkan campuran berbagai warna dalam sebuah hati yang kosong. Pelangi menghiasi hari yang sunyi. Cinta dapat menyatukan apa saja. Menyatukan dua insan manusia yang saling membenci satu sama lain, bukan masalah kan? #

Chapter 2 : Finish The Story?

Udara kali ini terasa sangat dingin menusuk kulit. Kegelapan mengambil alih pandangan mata. Semua terasa gelap mencekam. Seakan membuat semua bulu kuduk berdiri tegak, merasakan aura tidak menyenangkan.

Di tempat ini, tempat seperti hutan menjadi tempat persinggahan pertama dua penyihir Hogwarts. Keduanya sedang terbaring, menunggu syaraf-syaraf tubuh mereka membangunkan mereka dari alam bawah sadar.

Srekk… srekk…

Angin bertiup semakin kencang. Membuat pohon saling bergesekkan, menimbulkan suara gemerisik yang semakin menambah kesan 'seram' di tempat ini. Pohon-pohon seakan melambai dan menyapa kedua penyihir yang tertidur ini.

"Ukkhh…"

Salah seorang penyihir berambut ikal pun membuka kedua bola matanya dan menampilkan kedua bola mata cokelat madu yang indah. Gadis ini mencoba sekuat tenaganya untuk bangun.

"Di mana ini?"

Gadis ini sudah berhasil duduk dan memasang wajah bingung. Gadis ini sama sekali tidak mengetahui di mana dia sekarang dan apa yang sudah terjadi dengannya.

Hilang ingatan sesaat?

"Apa yang harus aku lakukan?"

Kedua bola matanya masih setengah terbuka. Masih mencoba untuk menyesuaikan. Dan pandanggannya pun menangkap sosok tubuh manusia seperti dirinya. Seorang lelaki berambut pirang platina.

"Malfoy, apa yang di lakukannya di sini?"

Gadis ini mendekati tubuh sang pemuda. Mencoba menyadarkan pemuda itu dan menanyakan keberadaan mereka yang tiba-tiba di sini.

"Malfoy, ayo bangun!"

Gadis ini menguncangkan tubuh sang pemuda, mencoba menyadarkan sang pemuda untuk cepat-cepat kembali ke alam nyata.

Tak lama kemudian, kedua bola mata kelabu itu terbuka.

"Ukkhh…"

Pemuda ini mengerang sesaat saat merasakan kepalanya berdenyut. Sakit rasanya. Pemuda ini pun mencoba untuk duduk, di bantu sang gadis.

"Granger, apa yang mau kau lakukan?"

Hermione Granger menyadari bahwa tangannya telah memegang tangan Draco Malfoy. Dengan secepat kilat, Hermione melepaskan tangannya.

"Di mana kita?" Draco mengedarkan pandangannya dan hanya melihat bermacam-macam pohon mengelilingi mereka.

"Aku juga tidak tahu," Hermione mengelengkan kepalanya dan memasang wajah sedih. Bagaimana kita bisa pulang pikirnya.

"Ini semua kan karena kau yang menabrakku tadi dan tiba-tiba ada sinar yang seakan menarik kita ke sini, benar kan aku?"

Hermione kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.

Saat dia ke perpustakaan, meminjam buku dongeng, dan bertabrakkan dengan Draco.

Dan sinar itu.

"Apa maksud semua ini. Apa hubungannya dengan aku dan kau yang bertabrakkan, bukankah itu tidak ada efek sama sekali kecuali rasa sakit yang kita rasakan tadi?"

Hermione bingung sekarang. Ini semua terlalu aneh. Memang mereka sekolah di sekolah sihir, tapi bagaimana bisa dan apa yang membuat mereka bisa berada di sini?

Apa ada seseorang yang menyihir mereka?

"Aku juga tidak tahu darah lumpur, jika kau yang sok tahu saja tidak tahu, apalagi aku," Draco sekarang sudah berdiri dan mengibaskan bagian belakang celananya yang kotor.

"Ini semua tidak masuk akal."

Hermione juga sudah berdiri sekarang. Memasang wajah berpikir, sedang berusaha mencari jawaban atas keanehan yang terjadi ini. Sampai-sampai, Hermione sama sekali tidak membalas perkataan Draco yang menyebutnya 'darah lumpur'. Karena biasanya Hermione pasti akan membalasnya. Keanehan ini telah mengambil semua alam pikirnya.

"Kita eksplorasi dulu tempat ini, kita pikirkan saja jawabannya nanti."

Draco mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menyusuri hutan, di ikuti oleh Hermione. Kedua Ketua Murid ini sama-sama memfokuskan kedua bola mata mereka, menemukan apapun yang bisa di gunakan dan menjadi petunjuk.

Ternyata dengan terhisapnya mereka ke sini, membuat mereka tidak bertengkar mulut kan?

Mereka terus saja berjalan dan berjalan.

"Hei kalian berdua!"

Mereka pun berhenti seiring dengan sebuah suara yang seakan memanggil mereka. Namun, mereka sama sekali tidak melihat siapapun.

"Hei, aku di sini!"

Suara itu kembali memanggil mereka. Bulu kuduk Hermione semakin berdiri tegak. Di mana asal sumber suara itu?

"Siapa itu?" Draco bertanya dengan suara cukup nyaring. Dia sama sekali tidak menyukai ini.

"Aku di bawah sini, bodoh!"

Hermione dan Draco sama-sama melihat ke bawah dan menemukan seekor kelinci kecil berwarna putih yang sangat imut.

"Ke-kelinci berbicara?" Hermione memasang wajah yang semakin tidak karuan. Keanehan ini benar-benar membuatnya gila.

"Kenapa memangnya jika aku bisa berbicara, ada yang salah?" balas kelinci ini dengan nada tidak suka.

"Jelas salah, di mana-mana binatang itu bodoh," kata Draco yang langsung membuat sang kelinci tersinggung.

"Sialan kau sudah bilang aku bodoh. Jangan salah ya, aku ini adalah binatang yang pintar dan cantik, bukannya kau yang seperti ferret!"

Draco yang mendengar kata 'ferret'pun dahinya berkedut. Berani sekali kelinci ini pikirnya. Sementara Hermione berusaha sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak tertawa.

"Apa-apaan kau kelinci bodoh. Kau itu hanya binatang sialan yang jelek. Dan kau darah lumpur, jangan menertawaiku!" Draco marah sekarang. Hermione yang mendengar kata-kata Draco bukannya takut, malah semakin tertawa dengan lepas.

'Lucu sekali wajahnya,' ucap Hermione dalam hati.

"Jadi, apa kalian tahu kenapa kalian bisa berada di sini?"

Draco dan Hermione saling memandang satu sama lain. Sama-sama memasang wajah bingung. Kelinci betina ini tahu akan sesuatu?

"Memangnya apa yang membuat kami berada di sini?" Hermione memasang wajah serius. Semoga kelinci ini benar-benar bisa memberikan jalan keluar.

"Baiklah aku akan menjelaskannya. Kalian bisa berada di sini karena sebuah buku yang kau temukan di perpustakaan, Hermione," ucap sang kelinci. Hermione dan Draco yang capek menundukkan kepalanya, memutuskan untuk duduk.

"Buku dongeng bersampul cokelat tua itu?" tanya Hermione yang mendapat angukkan kepala dari sang kelinci.

"Iya itu benar. Dan saat kau dan si ferret ini bertabrakkan, kedua tongkat sihir kalian sama-sama terjatuh di atas buku dongeng itu," lanjut sang kelinci. Draco yang kembali mendengar kata 'ferret' pun menggerutu.

'Sialan sekali kelinci ini,' ucap Draco dalam hati.

"Kekuatan kedua tongkat sihir kalian menyatu dan akhirnya membuka jalan masuk ke dalam buku dongeng itu," Hermione mengangukkan kepalanya tanda mengerti.

"Jadi apa yang harus kami lakukan untuk bisa keluar dari sini?" tanya Draco.

"Yang harus kalian lakukan adalah menyelesaikan cerita dongeng ini sampai selesai."

Kedua bola mata Hermione dan Draco sama-sama melebar. Harus menyelesaikan cerita dongeng ini, bagaimana mungkin?

"Bagaimana mungkin?" Hermione mengelah napas panjang. Ini semua benar-benar gila pikirnya.

"Kalian berdua akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Kalian harus menyelesaikan semua jalan cerita ini sampai selesai. Jika kalian berhasil, kalian akan keluar dari sini," Draco mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kenapa dia harus menghadapi kenyataan ini?

"Aku akan mengirim kalian berdua ke dalam alur cerita. Kalian berdua harus bekerja sama, bahu membahu untuk menyelesaikan jalan cerita ini. Tanpa kerjasama, kalian tidak akan menyelesaikannya dengan baik," jelas sang kelinci betina.

Hermione dan Draco sama-sama terdiam. Ini semua benar-benar gila. Terhisap dalam buku dongeng, bertemu dengan kelinci yang bisa berbicara, dan yang paling gila menjadi tokoh utama dan menyelesaikan jalan cerita ini sampai selesai.

Tapi yang paling gila, Draco harus bersama Hermione untuk menyelesaikkan ini semua?

"Kenapa aku harus bersama darah lumpur sialan ini, kenapa tidak yang lain saja" Draco menggerutu sekarang. Dia baru menyadari kenapa dia dan siswi Gryffindor ini. Penyihir mudblood yang paling di bencinya dan yang akan selamanya di benci.

"Aku juga tidak mau bersamamu Malfoy junior. Kamu pikir aku akan sudi bekerja sama denganmu," Hermione memasang wajah angker. Sang kelinci sendiri sebagai orang ketiga bisa melihat petir yang berada di antara pandangan mereka. Petir itu makin lama makin besar. Sang kelinci berwarna putih ini hanya mengelengkan kepalanya.

"Kalian sudah di takdirkan untuk menyelesaikan jalan cerita ini, jadi terima sajalah."

"Aku tidak mau!" seru Hermione dan Draco bersama-sama.

'Kenapa harus mereka berdua yang di kirim untuk menyelesaikan jalan cerita ini?' sang kelinci hanya menghela napas. Tidak mengerti bagaimana cara menenangkan dua orang keras kepala ini.

Draco mencari tongkat sihirnya. Namun, dia sama sekali tidak menemukan tongkat sihir di jubahnya.

"Kemana tongkat sihirku?" tanya Draco. Hermione sekarang juga sedang mencari tongkat sihirnya dan hasilnya juga nihil.

"Tongkat sihir kalian akan kusita untuk sementara sampai saat waktunya tiba," jelas sang kelinci dan membuat mereka berdua menggeram.

"Oh iya, aku lupa memberitahu sesuatu," sang kelinci menghela napas sejenak dan membuat Hermione dan Draco kembali memfokuskan pikiran mereka untuk mendengar kata-kata sang kelinci selanjutnya. "Tokoh-tokoh selain kalian di tempat ini sama dengan orang-orang yang kalian kenal. Peringatan untuk kalian berdua, jika kalian tidak bisa menyelesaikan cerita ini tepat waktu, maka kalian dan semua orang yang kalian kenal akan selamanya terkurung di buku ini."

Kedua bola mata Hermione dan Draco kembali melebar. Mereka akan terhisap selamanya di sini jika tidak menyelesaikannya?

"Selain itu, dunia sihir dan dunia manusia akan musnah. Oleh karena itu, kalian adalah tumpuan harapan semua orang, baik itu penyihir maupun manusia."

Angin kembali bertiup dengan kencang. Menambah aura dingin menusuk yang mengelilingi atmosfir hutan ini. Langit semakin lama semakin gelap. Gradasi hitam semakin lama semakin megambil alih. Sinar bulan hanya menerangi sedikit. Kabut semakin lama semakin pekat.

Hermione terdiam. Ini semua sama sekali tidak bisa di jelaskan dengan logis oleh otak pintarnya. Gadis bermata cokelat madu ini tidak pernah membaca buku tentang sihir semacam ini. Ini sama sekali berada di luar pikirannya. Sihir ini telalu kuat dan besar lingkupannya.

Draco sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa. Sebagai penyihir terpintar kedua di Hogwarts, Draco sama sekali tidak bisa memberi penjelasan mengenai sihir apa yang sebenarnya sedang menangkap dirinya.

"Ini semua bohong kan?" Draco bertanya untuk memastikan kalau ini semua hanya mimpi. Ya, hanya mimpi sesaat dan dia akan bangun saat matahari pagi menyinari dunia.

"Tidak, ini semua kenyataan yang harus kalian jalani. Sekali kalian salah, maka semuanya akan lenyap," ucap sang kelinci.

"Kapan batas waktu kami untuk menyelesaikan jalan cerita ini?" tanya Hermione.

"Batas waktu kalian lima hari setelah jalan cerita ini berjalan. Pada hari yang kelima waktu akan habis saat matahari tenggelam."

"Secepat itukah?" tanya Draco.

"Iya begitulah," balas sang kelinci.

Diam kembali mengambil alih. Otak saling berpikir satu sama lain. Memutar berbagai cara.

"Dan jikalau aku boleh tahu, apa arti dari judul dongeng ini?" tanya Hermione.

"Kalian akan mengetahuinya nanti. Lightness and Darkness, kedua kata itu akan kalian pahami arti katanya nanti di akhir cerita," balas sang kelinci. Hermione mengangukkan kepalanya tanda mengerti.

"Jadi, apa kalian sudah siap?" tanya sang kelinci.

Hermione dan Draco mengangukkan kepalanya. Seberapa kuatnya niat mereka untuk mencoba kabur, itu sama sekali tidak ada gunanya. Sihir ini akan selalu melingkupi mereka sampai mereka menyelesaikan jalan cerita ini. Terutama saat ini mereka tidak mempunyai tongkat sihir.

"Aku siap," ucap Hermione.

"Aku juga siap," ucap Draco.

"Baiklah kalau begitu, bersiaplah."

Sinar terang kembali muncul, di ikuti dengan derai angin yang cukup kencang. Tak lama kemudian, tubuh Hermione dan Draco menghilang. Sang kelinci hanya tersenyum.

"Semoga kalian berhasil."

# Akankah sebuah dongeng dapat menyatukan dua insan yang saling membenci? Akankah dongeng ini dapat melunturkan semua kegelapan yang hitam dalam hati mereka? Bisakah sebuah dongeng yang banyak orang anggap 'bodoh' bisa memberi sebuah embun sejuk penyegar jiwa? Akankah Draco Malfoy dan Hermione Granger bisa bersatu, atau malah di pisahkan di sini untuk selamanya? #

#To Be Continued#

Special Thanks to chachacyrus, musicandfanfic, Dramione 25 ever, DraMione7, strin, beep,Fidya Raina Malfoy, dan Dramione to Cedmione. Terima kasih atas reviewnya.^^

Balasan Review :

#chachacyrus : Terima kasih pujiannya dan reviewnya, review anda sangat membantu^^ review anda selalu di tunggu...^^

#musicandfanfic : Terima kasih atas reviewnya. Iya di chapter satu dan dua memang belum ada adventurnya, tapi nanti akan ada di chapter tiga dan seterusnya. Di tunggu saja...^^ review anda selalu di tunggu...^^

#Dramione 25 ever : Terima kasih atas reviewnya. Iya ini cerita fantasy karena saya juga suka, hahaha...*gak da yang tanya*. Ini sudah update, silahkan di baca dan semoga anda suka...^^ review anda selalu di tunggu...^^

#Dramione 7 : Terima kasih atas reviewnya. Iya saya baru menyadari kalau salah tulis, maafkan atas kesalahan fatal ini. Dan terima kasih atas pujiannya dan semoga chapter ini lebih baik...^^ review anda selalu di tunggu...^^

#strin : Terima kasih atas reviewnya. Terima kasih atas pujiannya. Gak kekanakan kok suka fairytale, masalahnya aku juga penggemar fairytale...xp Sebenarnya saya sendiri tidak mengerti yang mana yang benar tentang profesor Snape, tapi sepertinya saya salah ya. Maaf jika memang salah. Di tunggu terus ya kelanjutan fic ini...^^

#beep : Terima kasih atas reviewnya. Mohon maaf jika memang bahasanya terlalu kasar. Sebenarnya saya juga tidak suka, tapi tuntutan peran memang, hehehe...^^ sekali lagi mohon maaf ya dan semoga tetap menunggu kelanjutan fic ini...^^

#Fidya Raina Malfoy : Terima kasih atas reviewnya. Ini sudah update, silahkan di baca dan review dari anda akan selalu di tunggu...^^

#Dramione to Cedmione : Terima kasih atas reviewnya. Terima kasih banyak atas sarannya, itu sangat membantu saya. Saya sendiri juga baru menyadari kalau fanfic di sini memakai kata 'kau' dan bukan 'kamu'. Sekali lagi terima kasih banyak dan mohon maaf atas kesalahan yang telah saya buat.^^ review anda selalu di tunggu...^^

ternyata setelah mendapat review, saya sangat menyadari banyak sekali kesalahan pada fic chap pertama. Terima kasih atas review kalian semua, semuanya sangat membantu...^^

Bagaimana dengan chapter 2 ini, apakah ada perubahan atau semakin banyak yang salah?

Mind to Review This Story?