Konnichiwa~ Annyeong~

Aqua'sora desu... kembali lagi~~ *lambai-lambai~*

Hehehe, chapter 2 update, nih. Sesuai permintaan teman-teman. Update kilat~~ *bener-bener kilat, nih*

Ehhmmm... boleh ngasih sinopsis gag, ya? Boleh gag, ya? Soalnya kalau Summary pendek sih... aiiggooo~~ ah, ngasih deh. Biar teman-teman lebih bisa mendalami cerita ini. *nah, loh?*

~ Sinopsis ~

Kuchiki Rukia adalah putri tunggal dari arsitektur ternama Kuchiki Byakuya, dan juga putri dari penyanyi sekaligus artis terkenal di Amerika, Kuchiki Hisana. Karena kesibukan kedua orang tuanya—yang bisa dikatakan workcaholic—yang padat sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk dihabiskan bersama putrinya, membuat Kuchiki Rukia merasa kesepian selama bertahun-tahun sejak pindah dari Jepang ke kota New York. Suatu ketika Rukia teringat pada negara kelahirannya yaitu Jepang, dimana pada saat yang sama pikirannya terus tertuju pada seorang anak laki-laki yang sempat di temuinya sehari sebelum keberangkatannya ke New York. Saat itu Rukia dan anak laki-laki itu masih berumur sekitar enam-tujuh tahun, dan sebelum berpisah dari anak laki-laki itu, Rukia berjanji untuk menemui anak laki-laki itu esoknya di tempat yang sama. Ternyata tanpa sepengetahuan Rukia, kedua orang tuanya memutuskan pergi meninggalkan Jepang setelah hampir seminggu meninggalnya Kakek Rukia.

Karena merasa kehidupannya tidak bahagia di New York, maka Rukia memutuskan untuk meninggalkan kota itu dan juga kedua orang tuannya dengan hanya meninggalkan selembar surat. Kuchiki Rukia, memutuskan untuk hidup sendiri di Jepang tanpa menggunakan nama keluarganya yang terkenal. Berbekal uang tabungannya, Rukia memulai hidupnya dengan identitas baru. Selain untuk membuat sadar kedua orang tuanya, kepergian Rukia ke Jepang juga untuk menepati janjinya yang sudah sepuluh tahun berlalu.

Akankah Rukia, putri dari arsitek dan artis terkenal dapat hidup sendiri di kota besar di Jepang? Akankah kepergiannya dapat membuat kedua orang tuanya sadar bahwa keluarga lebih penting dibandingkan pekerjaan? Akankah Rukia dapat bertemu kembali dengan anak laki-laki dari masa lalunya?

Oke, sepertinya benar-benar sinopsis yang panjang. Baiklah kalau begitu, kita mulai saja... ehhm, oh iya. Buat balasan review, nanti bagian bawah. *biar teman-teman baca ceritanya dulu. Kkk~*

Oke... *oke mulu'* gag usah banyak cincong deh author, mending langsung baca aja. Yuuukk... mari'~

Disclaimer : Bleach by Tite Kubo *Om, jangan bosan-bosan ngasih ijin ke aku-nya yah. Minjam doang kok chara-nya... ya ya ya~*

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Family

Starring : Rukia Kuchiki, Ichigo Kurosaki, Byakuya Kuchiki, Hisana Kuchiki, Uryuu Ishida, Isshin Kurosaki, DLL *Banyak deh~*

Warning : EYD ga sempurna *tahap belajar*, Typo di mana-mana *tahap belajar*

Chapter 2

~ don't be afraid of the dark ~

"Ichigo!" sebuah suara tepat di samping telingannya jelas membuat si pemilik telinga terloncat kaget.

"Suaramu itu, seandainya bisa sehari saja tidak berteriak." Ejek Ichigo dengan ekspresi menahan kesal.

"Hei, kamu lebih milih aku yang teriak atau Sutradara?" tanya Uryu santai, si pemilik suara sedang melihat-lihat buku panjang dan tebalnya. Tidak lupa dengan memperbaiki letak kaca matanya yang sudah benar.

"Ya.. ya..." balas Ichigo cuek sambil mempersiapkan dirinya yang baru selesai di make up oleh make up artis.

"Kulihat, beberapa hari ini kau melamun terus? Ini bukan tentang masalah kemarin kan? Itu sudah selesai." Mulai Uryu masih tetap dengan pandangannya yang tak lepas dari buku panjang, yang sebenarnya adalah jadwal-jadwal kegiatan Ichigo. Yah, Ishida Uryu adalah menejer Kurosaki Ichigo.

"Jangan sok tahu, jelaslah tidak ada sangkut pautnya dengan masalah model nggak tahu diri kemarin itu. Beruntung sekali dia dilamunin sama 'Kurosaki Ichigo' ini." Ucap Ichigo dengan nada angkuhnya seperti biasa. Ishida sudah sangat terbiasa dengan sifat Ichigo yang satu itu, 'narsisme'.

"Oh, baiklah. Lalu siapa yang sudah beruntung dilamunin sama 'Kurosaki Ichigo' ini?" tanya Uryu dengan penekanan pada nama Ichigo.

Hening. Ichigo sendiri tidak tahu mau menjawab apa. Karena dia sendiri pun tidak tahu siapa nama seseorang yang sudah berhasil membuatnya melamun. Ya, sejak mimpinya lima hari lalu, Ichigo semakin sering melamun tentang gadis kecil yang ditemuinya di taman sepuluh tahun lalu.

Jangan tanya kenapa dia sampai hari ini tidak tahu apa pun tentang gadis kecil itu, bahkan namanya. Setelah hari pertemuan mereka, sesuai janji si gadis kecil bergaun biru muda itu, Ichigo datang lagi ke taman itu. Bahkan bukan hanya hari itu, setiap hari Ichigo rela menunggu gadis kecil itu. Tetapi hasilnya nihil, gadis kecil itu tidak pernah muncul. Bahkan selama hampir setahun Ichigo dengan rajinnya datang ke taman itu.

Setelah setahun itu, Ichigo berpikir untuk tidak lagi percaya pada janji gadis kecil itu. Terakhir kali Ichigo teringat janji itu kembali waktu dia baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama, saat itu dengan kembalinya harapan dapat bertemu. Ichigo melangkahkan kakinya menuju taman dekat rumahnya itu. Tetapi tetap saja, gadis kecil dalam ingatannya tidak pernah datang.

Sekarang Ichigo hanya dapat bertanya-tanya, bagaimana kabar gadis kecil itu? Seperti apa dia sekarang? Sudah tinggikah? Masih kurus kah? Atau secantik apakah dia? Ichigo hanya dapat bertanya pada dirinya sendiri. Karena dia tidak pernah menceritakan itu semua pada siapa pun, kecuali pada Ibunya.

"Ya sudahlah," Ichigo tersadar, "Kau melamun lagi. Tidak usah dijawab. Sekarang cepat pergi sana untuk pengambilan gambar." Perintah Uryu sambil menepuk punggung Ichigo.

Ichigo tertawa pelan lalu berjalan menuju tempat pengambilan gambar yang berseting sebuah taman. Ada sebuah bangku di sana, dan sudah duduk seorang model berambut hitam pendek di sana.

"Nah, Kurosaki. Setelah Hinamori menoleh ke kanan, kau berjalan masuk ke arah taman lalu menyapanya. Bagaimana? Mengerti?" tanya sutradara pada Ichigo yang berdiri di sebelahnya. Ichigo mengangguk-angguk tanda mengerti, jelas saja dia sudah mempelajari skenario dari cerita yang akan jadi iklan parfum ini.

"Bagus," Sutradara berambut ikal diikat itu mengangguk senang, topi jeraminya ikut bergerak. "Oke, Hinamori bersiap!" teriak sutradara nyentrik itu dengan jubah bermotif bunga mawar itu. "And, Action!" teriaknya lagi.

Terlihat, Hinamori mendalami perannya. Setelah melihat jam tangannya, kemudian ia menengok ke sebelah kanan. "Ini saatnya," batin Ichigo. Dengan santai ia berjalan menuju bangku taman, di mana Hinamori sudah duduk disana.

Dalam pandangannya seakan semuanya berjalan lambat, Ichigo masih terus berusaha berakting sesuai skenario. Tanpa ada aba-aba, ingatannya berputar dengan tempo cepat seperti film rusak dan kembali pada ingatannya tentang gadis kecil itu. Dan seketika, dalam penglihatannya sosok Hinamori yang sedari tadi duduk di bangku taman, berubah menjadi sosok gadis kecil dengan gaun biru muda selututnya duduk di bangku itu.

Ekspresinya berubah kaget, kemudian beberapa detik selanjutnya dia tersenyum, masih berusaha sesuai dengan skenario walau entah kenapa di hadapannya kini tak lagi Hinamori melainkan gadis kecil yang sedang melihat langit. Bibirnya mulai bergerak, kata-kata ini sama persis seperti yang ingin ia ucapkan saat bertemu dengan si gadis kecil, suatu saat nanti.

"Hai, apa kabar?" ucapnya dengan tenang, namun penuh dengan perasaan bahagia di dalamnya. Setelah itu, gadis kecil yang sedang sibuk menatap langit tadi terdiam seperti kaget, lalu berbalik menatap matanya.

"Hai, Baik. Lama tak berjumpa." Ucapnya ceria sambil tersenyum manis sekali.

"CUUUUT!" teriakan sutradara membuat Ichigo kaget dan bayangan gadis kecil di hadapannya buyar dan berganti dengan sosok Hinamori. "Oke! Tadi itu bagus sekali." Sutradara nyentrik itu terlihat bahagia. Ichigo hanya tersenyum melihatnya sambil membungkukkan sedikit kepalanya pada sutradara yang masih bertepuk tangan sambil berteriak 'Bravo'. Hinamori membungkuk seraya mengucapkan terima kasih lalu pergi kembali menuju tendanya.

Ichigo masih betah di sana. Di tempat dia sedari tadi berdiri, menatap bangku yang kini kosong. "Lihat kan, masih sama. Lagi-lagi kamu membantuku." Batinnya lalu tersenyum pada bangku taman.

"Ichigo!" panggil Uryu sambil berlari kecil ke arahnya, membuat Ichigo berbalik.

"Ayo, siap-siap. Kamu masih ada jadwal pemotretan majalah Elite satu setengah jam lagi."

"Oke." Ichigo berjalan mengikuti langkah Uryu yang panjang-panjang, tanpa sadar dia berbalik ke arah taman tadi lalu mengucapkan kata yang sering ia ucapkan ketika dia menyadari, dirinya sudah di bantu oleh si gadis kecil. "Terima kasih"


"Bagaimana hasilnya?" tanya pria cantik di belakangnya, membuatnya menurunkan majalah yang sedari tadi menutupi wajahnya dari cermin.

"Hmmm... ini bagus." Ucap Rukia puas sambil menyentuh rambutnya yang kini lebih pendek dari sebelumnya. "Seperti bebanku ikut terpotong juga, rasanya ringan." Rukia memainkan rambut hitamnya yang kini hanya panjang seleher.

"Oh, Miss... ucapan itu yang selalu membuatku bersemangat. Saat mereka berkata beban mereka hilang bersama rambut mereka yang menjadi cantik." Si pria cantik bergerak lincah sambil sesekali memainkan bulu mata palsunya yang panjang.

"Terima kasih, Yumichika." Balas Rukia sambil berdiri dari kursi salonnya. Dengan begini, semakin sulit ketika nanti kelak, entah kapan orang tuanya mau mencarinya. Dengan gaya barunya, terutama rambut barunya.

"Lain kali datang lagi ke sini Miss Rukia yang cantik, khusus untukmu aku akan diskon." Ucap Yumichika sambil menerima uang dari Rukia.

"Itu pasti." Ucap Rukia mantap, berhubung salon Yumichika inilah yang tersembunyi dan sedikit pengunjung. Itulah target salon Rukia, dia tidak ingin ada orang yang bisa mengenalnya. Walau dia yakin, di Tokyo-Jepang ini kemungkinan besar sepuluh banding satu orang yang tidak mengenalnya dengan yang mengenalinya.

"Sampai jumpa lagi Miss Pretty..." teriak Yumichika sambil melambai pada Rukia yang keluar dari salonnya. Dari balik kaca Rukia membalas lambaian itu lalu berjalan menuju sebuah alamat yang tertera di layar handphone-nya. Jalan Midori, tempat tujuan berikutnya.

Setelah search di internet, akhirnya dia menemukan apartemen sederhana dan murah. Lingkungannya pun aman, apartemennya anak-anak sekolahan. Ya, Rukialah salah satu calon penghuni apartemen itu. Letak salon tadi ternyata tidak terlalu jauh dengan jalan Midori. Tidak berapa lama setelah naik bis, Rukia berhasil sampai di jalan midori.

"Nah, ini dia." Ucapnya semangat setelah berhasil menemukan apartemen yang dicarinya.

Dengan semangat, Rukia memasuki apartemen yang kira-kira mempunyai empat lantai itu. Sambil menarik koper kecilnya dan memperbaiki letak tas ransel di pundaknya dia berjalan mencari dimana ruangan kontraktornya. Ternyata di lantai satu, dan Rukia bersyukur karena tidak perlu susah-susah menarik kopernya.

"Yah, masuk!" perintah orang dalam ruangan yang dicari setelah Rukia mengetok dua kali pintunya.

"Permisi," ucap Rukia sopan sambil manarik kopernya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya si pemilik suara tadi.

"Apa masih ada kamar kosong untuk satu orang?" tanya Rukia, berharap lebih karena apartemen ini strategis karena jauh dari keramian.

"Tentu saja, ada banyak di sini kalau kau mau." Pria bertopi dan berambut pirang itu terlihat ceria begitu Rukia menanyakan kamar kosong. Dalam pikirannya ada lagi pemasukan barunya. "Oh, silahkan duduk dulu." Ucapnya sambil menawarkan agar Rukia duduk di sofa yang terlihat berdebu, sepertinya sudah lama tidak ada yang duduk di sana.

Rukia juga ikut senang sambil duduk di sofa, dia melihat pria bertopi itu sedang menyeduh dua gelas teh. "Kau tahu, kau orang yang pertama datang setelah enam bulan." Ucapnya.

"Oh, kalau boleh tahu. Di apartemen ini sekarang sedang berapa kamar yang kosong?" tanya Rukia penasaran. Sepertinya dia belum menangkap maksud dari si pria berambut pirang itu.

"Entahlah, kalau yang kosong. Tetapi kalau yang terisi Cuma lima kamar." Ucapnya masih dengan nada ceria.

Kini ekspresi Rukia sedikit heran, kenapa apartemen sebesar ini, penghuninya hanya sedikit. Ini bukan karena angker kan?

"Kenapa Cuma lima kamar, Pak?" Rukia mencoba mencari tahu, apa yang tidak beres dari apartemen ini.

Sambil membawa dua gelas teh, pria bertopi itu angkat bicara. "Ini semua karena apartemen baru di depan sana." Ucapnya santai. "Ayo, minum dulu tehnya." Tawarnya ramah.

Rukia kemudian mengambil tehnya dan meminumnya, kebetulan dia sedang kehausan. "Hmmm... memangnya apa bedanya apartemen ini dengan yang baru itu?" tanya Rukia.

"Entahlah, saya juga tidak tahu. Sejak apartemen baru itu di resmikan, semua penghuni apartemenku pindah ke sana. Kecuali mereka yang tinggal berlima sekarang ini." Jelas si pria bertopi itu. "Nah, kita belum berkenalan. Aku Uruhara Kisuke." Ucapnya ramah sambil mengulurkan tangan.

"Kuc... ehm... Shirayuki Rukia." Rukia tersenyum kecut, hampir saja dia keceplosan memakai nama Ayahnya, Kuchiki. Jelas saja nanti orang mengenalnya.

"Baiklah, Nona Shirayuki. Jadi pesan kamar di sini?" tanya Uruhara si Apartment's Owner.


"Wah, berdebu sekali." Ucap Rukia sambil mengibas-ngibaskan tangannya agar debu-debu dalam kamar itu tidak berterbangan masuk kehidungnya.

"Yah, maaf. Ini karena sudah lama tidak di huni. Tapi fasilitas dalam kamar ini masih bagus kok. Coba ini lampunya." Ucap Uruhara sambil mencoba sekering lampunya. Dan tepat, lampunya masih menyala. Bahkan terang.

"Tidak apa kok Mr. Uruhara." Rukia benar-benar senang, akhirnya memiliki ruangan pribadi sendiri.

"Berhubung karena berdebu, aku akan minta tolong anak-anak dari kamar lain untuk membantumu bersih-bersih." Ujar Mr. Uruhara - begitu dia ingin di panggilkan - beranjak dari kamar Rukia.

"Ah, Mr. Uruhara tidak usah. Nanti merepotkan yang lain. Aku bisa kok sendiri. Lagi pula barang-barangku sedikit. Jadi tidak sulit." Pinta Rukia, tidak enak kalau minta tolong pada yang lain.

"Oh, baiklah kalau begitu. Aku pergi mengambil penyedot debu dan alat pembersih lainnya yah." Ucap Mr. Uruhara semangat.

"Ya." Rukia tersenyum lalu memulai sendiri kegiatannya, dia membuka jendela kamarnya agar udara bersih bisa masuk menggantikan udara kotor dan berdebu dari dalam kamarnya.

Pemandangan dari jendela kamarnya tidak buruk juga, tidak salah dia memilih di lantai tiga. Langit sore terlihat jelas, bahkan matahari yang akan terbenam pun terlihat di antara atap-atap rumah. Warna langit yang indah, warna langit yang sama saat bertemu anak laki-laki berambut merah. "Hai, apa kabar?" tanya Rukia pada langit senja yang mengingatkannya lagi pada anak laki-laki berambut merah.

"Nah, ini dia." Suara Mr. Uruhara membuat Rukia sedikit terkejut.

"Terima kasih Mr. Uruhara." Rukia mengambil penyedot debu dan beberapa alat pembersih lainnya yang di bawa pria bertopi itu.

"Perlu bantuan?" tanya .

"Ah, Tidak usah Mr. Biar aku saja. Mr. Pasti banyak kerjaan lain kan?" tanya Rukia memberi alasan.

"Oh, baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, panggil aku saja. Aku selalu ada di ruanganku. Oke?"

"Oke" ucap Rukia mengacungkan jempolnya.


Masih sama, dalam benak gadis berambut pendek itu tentang ingatannya dengan tempat yang kini baru dikunjunginya lagi setelah sepuluh tahun. Tidak ada yang berubah, danaunya, pohon-pohonnya, udaranya, sejuknya, tenangnya. Semuanya terasa sama seperti dulu, taman inilah yang menjadi tempat pertama dia kunjungi setelah baru kemarin tiba di Jepang. Walaupun taman ini jarang dia datangi kecuali dulu saat kakeknya masih hidup, setiap akhir minggu kakeknya menyempatkan waktu untuk bisa jalan-jalan di taman ini bersama cucu satu-satunya.

Perasaan sedih kembali menyinggapi hatinya ketika mengingat kembali kakeknya. Perasaan rindu yang tiba-tiba menyerangnya membuat air matanya menetes. "Kakek pasti berarti sekali buatku yah? Aku selalu menangis kalau ingat kakek." Ucapnya senduh, di langkahkan kakinya menyusuri pinggiran danau. Seketika Rukia merasakan De javu, seperti mengulang kembali kejadian sepuluh tahun lalu.

Diedarkan pandangannya kesekeliling, tak ada siapa pun. Hanya hembusan angin sepoi musim gugur yang menemaninya. "Apa yang kau harapkan, Rukia?" tawa sinis dia berikan untuk dirinya sendiri. Seakan mengejek dirinya, mempertegas pikiran yang mengusiknya. "Masih adakah orang yang percaya pada janji sepuluh tahun lalu yang tidak kau tepati?"

Rukia menunduk, mendapati pantulan wajahnya dari air danau. Senyumnya terlihat begitu sedih. Perasaan hanya seorang diri dan merasa kesepian sering dia rasakan, tetapi baru kali ini dia merasakan kesedihan akan hal itu. "Hhhhh..." dihembuskannya nafasnya kuat-kuat. Berharap dengan begitu kesedihannya dapat pergi dan membuatnya kembali kuat.

"Cukup, berhentilah melankolis, Rukia! Tidak ada gunanya!" tegurnya pada diri sendiri, dia memilih berdiri dan perlahan meninggalkan danau dan juga taman kenangannya itu. Di dalam pikirannya hanya ada satu kalimat, "Jika sudah waktunya, semua akan kembali padamu lagi." Setelah itu, dengan mantap ditegakkan lagi kepalanya menatap langit siang yang begitu cerah dan berjalan meninggalkan taman itu.


Langit sore yang cerah, tanpa ada satu awan pun yang menghalangi sinar matahari senja yang dengan senang hati menumpahkan seluruh cahayanya pada sebuah taman. Entah apa yang membuatnya menginjak lagi taman itu, mungkin karena mimpinya beberapa hari lalu dan semakin sering membuat otaknya melamun tentang gadis kecil berambut hitam gelap dari masa lalunya. Padahal terakhir dia mengunjungi taman itu ketika kelulusan Sekolah Menengah Pertamanya dan bersikeras untuk tidak mendatangi lagi tempat ini. Tetapi percuma, semakin ia ingin melupakan kenangan tentang gadis kecil itu. Semakin sering pula objek lamunannya itu muncul dalam ingatan pria berumur 17 tahun itu.

Sejak lulus SMP, Ichigo lebih memilih untuk tinggal di sebuah apartemen di Tokyo, daripada di Karakura yang notabene kota kelahirannya, juga di mana Ayahnya tinggal dan bekerja sebagai Dokter. Selain untuk belajar mandiri dan juga untuk menghidarkan ayahnya dari kejaran wartawan, juga karena ingin menjauhkan dirinya dari taman itu agar tidak semakin intens pikirannya berkutat hanya tentang—gadis kecil, gaun biru muda, rambut hitam gelap, mata violet indah, pendek, cantik—dari hari ke hari.

Tetapi, kenyataanya sekarang lain. Kini kakinya malah menginjak taman itu, dengan masih berharap dapat bertemu lagi dengan gadis kecil itu yang pasti kini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Harapan yang bahkan untuk memudar pun, adalah hal yang mustahil.

Digenggamnya liontin kalung yang masih terpasang di lehernya, berharap dengan begitu si pemilik dapat muncul di hadapannya saat itu juga. Ichigo hanya terdiam, di bawah pohon besar yang dulu adalah tempatnya untuk bermain dan juga tempat pertama kali dia melihat anak kecil yang langsung menarik perhatiannya.

Ingatannya kembali berputar pada saat dirinya masih berumur tujuh tahun, dirinya yang sedang bersantai di sebuah dahan pohon sambil menikmati angin musim semi. Tiba-tiba ujung matanya mendapati sesuatu bergerak di dekat danau. Saat diperhatikannya baik-baik, ternyata sesuatu itu adalah anak kecil seumuran dengannya. Terlihat dari tempatnya, gadis kecil itu sedang termenung di tepi danau. Entah kenapa, dia bisa melihat hanya dari punggungnya saja, Ichigo kecil tahu kalau gadis itu sedang sedih.

Tiba-tiba Ichigo kecil mendapat ide, dengan sengaja melepas sebelah sepatunya lalu menjatuhkannya ke bawah. Dan dengan panggilan singkat, Ichigo berhasil membuat gadis kecil itu berbalik dan mencari dirinya. Saat itulah, kenangannya dimulai. Kenangan singkat yang tidak bisa begitu saja dia lupakan, bahkan mata violet gadis kecil itu masih terekam jelas dalam ingatannya ketika mata violet itu memandang kedua bola matanya lama.

Kini, setelah untuk kedua kalinya ia mengingkari janjinya untuk tidak datang lagi ke taman itu. Tetap saja yang di dapatnya sama seperti waktu dulu, hanya ada danau yang terlihat tenang, pohon-pohon yang daunnya bergerak pelan, dan juga hembusan angin. Hanya taman yang sepi tanpa pengunjung satu pun. "Kau masih belum di sini?" tanya Ichigo, entah pada daun yang berguguran ataukah pada angin yang berhembus menerpa lembut wajahnya.

"Kalau kau melihatku sekarang, aku yakin kau pasti akan menertawaiku." Angin musim gugur masih setia menemani sepasang mata coklat yang menyapu bersih pemandangan taman di hadapannya. "Jangan tanya kenapa aku masih di sini. Karena aku sendiri tidak tahu." Danau yang tadinya terlihat tenang kini bergerak-gerak tertiup angin, membuat gelombang-gelombang kecil di permukaannya. "Aku hanya berharap, suatu hari nanti, kau akan muncul di sini, di taman ini. Menyapaku seperti kau menyapaku di setiap mimpi." Suaranya semakin kecil, menahan sesuatu yang entah apa membuatnya jadi begitu lemah. Kemudian, Ichigo tertawa sendiri. Menertawai dirinya yang ternyata masih belum berubah, masih sama seperti waktu kecil. "Aku yang bodoh ini masih mengingatmu, apa kamu juga sama bodohnya seperti aku yang masih mengingat kenangan singkat kita?" tawanya berhenti, kini matanya menatap sendu air danau yang kini mulai kembali tenang. "Aku harap kau masih bodoh, sama sepertiku saat ini."

Ditatapnya langit senja yang semakin memerah, membantu rambutnya untuk berubah warna menjadi kemerahan. Ichigo tersenyum, entah karena apa. Kemudian memilih untuk meninggalkan taman itu. Tanpa sedikit pun berbalik ke belakang.


"Ibu, apa kabar?" suaranya terdengar serak. "Maaf Bu, lama tidak mengunjungimu."

Mata ambernya meneliti setiap lekuk batu yang berdiri kokoh di hadapannya. Masih sama ketika terakhir kali dilihatnya. Ia yakin, ini pasti kerjaan ayahnya sehingga batu kokoh di hadapannya itu masih terlihat bagus seperti bertahun-tahun lalu.

Bunga lily kesukaan ibunya dia letakkan di batu nisan itu, matanya menatap beberapa tangkai bunga di sana. Ia pikir, lagi-lagi mungkin ayahnya. "Sudah duabelas tahun ya, Bu" tanyanya pada batu tersebut. Langit senja kini semakin menghilang di ganti dengan langit malam, tepat saat waktu kepergian ibunya duabelas tahun lalu.

"Bu, hari ini lagi-lagi aku ke taman itu." Ichigo menatap sendu batu nisan itu, kemudian tersenyum. "Tetapi, lagi-lagi gadis itu tidak datang." Tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya, udara di sekitarnya membuatnya sedikit kedinginan. Udara musim gugur yang meninggalkan kenangan yang buruk untuknya. Udara yang terus berhembus walau sangat dingin dengan setia menemaninya bersama tubuh ibunya yang terbujur kaku di sampingnya duabelas tahun silam. Udara yang tidak akan berubah hangat walau saat itu dia menangis kencang tanpa henti.

"Ibu jangan tertawai aku, ya. Walau sudah lama aku bilang tidak akan percaya lagi pada janjinya, tetap saja perasaanku dan juga pikiranku teringat padanya dan mau tidak mau, janji, tempat dan segala macam tentang gadis kecil itu berkelebat dalam ingatanku." Ichigo sudah kembali memulai bercerita, tentang seseorang yang hanya ibunya yang tahu.

"Bu, aku bingung. Apakah aku harus membenci gadis itu karena tidak menepati janjinya atau aku harus tetap menunggunya?" tidak ada jawaban, lagi-lagi hanya angin yang bertiup. Ichigo menghela nafas, "Sepertinya, hanya waktu yang dapat menjawab. Ya, kan Bu?" Ichigo berjongkok tepat di hadapan batu nisan ibunya, mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana dan mengatupkan ke duanya di depan wajahnya. Matanya terpejam, berdoa untuk ibunya di surga. Setelah beberapa menit berlalu, Ichigo bangkit dan menatap batu nisan ibunya sebentar. Lalu berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.

Setelah beberapa batu nisan terlewati, terlihat sebuah batu nisan yang kini terlihat lebih bersih. Tidak sama seperti beberapa bulan lalu bahkan mungkin bertahun-tahun lalu. Sepertinya keluarga si pemilik batu nisan ini baru-baru mendatanginya, terlihat dari dupa yang baru di bakar dan juga sebuah bucket bunga matahari di sana. Ichigo menatap batu nisan itu sebentar, lalu memilih untuk kembali mengatupkan kedua tangannya dan berdoa untuk pemilik batu nisan ini di surga sana.

Ichigo membuka kedua matanya, terlihat nama yang tertera di sana. Kuchiki Ginrei. Ichigo merasa seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, setelah menggali ingatannya sesaat tetapi tidak mendapat hasil apa-apa. "Entahlah..." kemudian Ichigo melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman itu. Memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Welcome home, my son!" serbu ayah Ichigo, Isshin. Begitu melihat siapa yang berada di balik pintu rumahnya. Dengan sigap, Ichigo menghindari serangan ayahnya itu lalu berjalan masuk ke dalam rumah, membiarkan ayahnya menabrak pintu yang tidak bersalah.

"Tadaima," ucap Ichigo lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ayahnya kembali bergerak sambil mengelus-elus hidungnya yang sepertinya hampir bengkok dan segera menghampiri anaknya yang terlihat lelah.

"My son, kau tidak berubah. Masa' kau tidak membiarkan ayahmu ini memelukmu?" tanya Isshin dengan suara yang dibuat-buat kasihan.

Ichigo hanya menatap ayahnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, dipikirannya hanya satu, ayahnya tidak juga berubah. Tetap saja aneh. Tetapi diurungkan niatnya untuk mengatakan itu.

Kini ekspresi Isshin terlihat serius, "Nak, menetaplah di sini."

Ichigo terdiam sebentar, sudah terbiasa dengan permintaan Isshin ini. Mau Ichigo yang kembali ke Karakura ataukah ayahnya yang menjenguknya di Tokyo, permintaan yang sama selalu terlontar dari ayahnya itu. "Ayah, lebih baik seperti ini. Aku tidak mau ayah repot dengan wartawan yang nanti akan terus mengganggu ayah." Ucap Ichigo sambil menatap lantai rumahnya.

Isshin terdiam, Ichigo tahu ayahnya pasti kesepian. Tetapi, dia juga tidak mau ayahnya yang sudah sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter terusik dengan wartawan yang mencari tahu tentangnya dari ayahnya. "Baiklah," jawab Isshin kemudian. Jawaban yang juga sama setiap Ichigo mengatakan alasannya untuk tetap seperti sekarang.

"Apa kau lelah? Mau ayah buatkan makan malam? Sudah lama kita tidak makan malam bersama." Isshin kembali ke mode semangatnya, terlihat dia sudah bergerak ke arah dapur. "Baiklah ayah, kebetulan aku lapar." Jawab Ichigo sambil menyusul ayahnya ke dapur.

"Berapa hari liburmu, nak?" Isshin sudah memakai celemeknya sambil memandangi anaknya yang mengambil tempat di meja makan.

"Sampai lusa." Jawaban Ichigo itu, membuat Isshin tersenyum senang. Jarang anaknya mendapat hari libur yang panjang seperti sekarang. "Sepertinya menyenangkan kalau besok kita pergi memancing." Lanjut Ichigo lagi membuat Isshin tersenyum lebar dan semakin bersemangat untuk memasak makan malamnya kali ini juga untuk anak satu-satunya itu.


Rukia menatap pintu yang tertutup rapat di hadapannya, ada gantungan yang bertuliskan 'Sedang keluar'. Di tangannya terdapat sebuah keranjang berukuran sedang, berisi buah-buahan di dalamnya. Oleh-oleh yang dibawanya dari Karakura kemarin.

"Oh," sebuah suara membuat Rukia menoleh dan mendapati seseorang berdiri tak jauh darinya.

Seorang gadis kira-kira seumuran dengannya, berjalan mendekatinya. "Kau pasti Shirayuki Rukia." Tanyanya sambil meneliti setiap inci garis wajah Rukia.

Rukia hanya diam, menatap balik si penanya dengan ekspresi datar. Enggan menyapa balik, kebiasaan yang sudah terbentuk begitu saja secara alamiah berkat kehidupan tidak menyenangkannya selama di New York. Bertemu teman-teman palsu yang hanya ingin berteman dengannya karena ketenaran ibunya yang seorang artis papan atas. Bukan tidak mau, tetapi Rukia sulit menghilangkan sifat tidak peduliannya itu terhadap orang lain.

"Oh, maaf. Aku Arisawa Tatsuki, salam kenal." Tatsuki terlihat santai, walau gadis di hadapannya memberi ekspresi datar. Tak segan diulurkan tangan kanannya ke arah Rukia.

"Shirayuki Rukia," jawab Rukia, menyambut uluran tangan gadis berambut pendek cepak itu. "Salam kenal," ekspresinya berubah, grafik kedataran Rukia sedikit naik.

"Orang baru di lantai tiga itu, kan?" tanya Tatsuki lagi, Rukia mengangguk mengiyakan.

Tatsuki melihat keranjang buah di tangan gadis mungil di hadapannya itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu Mr. Uruhara, si Owner. "Dia sekarang pasti ada di Cafe." Tatsuki tersenyum ketika melihat ekspresi bingung Rukia. "Dia punya bisnis lain selain apartemen ini. Kalau kau mau, akan ku antar."

"Baiklah," Rukia menurut saja, merasa sayang dengan buah-buahan yang sudah di belinya jauh-jauh hanya untuk membusuk kemudian di buang.


"Nah, dari sini sudah kelihatan. Itu papannya," Tatsuki menunjuk papan nama yang bertuliskan 'Heaven', tidak jauh dari tempatnya dan Rukia berdiri.

Rukia mengikuti gerakan tangan Tatsuki, Cafe Mr. Uruhara berjarak beberapa rumah lagi. "Kamu tidak ikut?" tanya Rukia.

"Tidak, maaf ya Cuma bisa antar sampai sini. Aku ada latihan Karate di sekolah, sih." Jawab Tatsuki sambil memasang ekspresi menyesal.

"Oh, tidak apa. Kan sudah dekat juga. Terima kasih, ya. Hmmm.. maaf sudah merepotkan." Rukia sedikit ragu dengan kata terakhirnya, dia jarang mengucapkan maaf. Mungkin karena dulu ia merasa tidak pernah merepotkan siapa pun waktu di New York.

"Oke, tidak masalah. Lagipula searah, kan?" Tatsuki mulai memperbaiki letak tas ranselnya. "Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Bye!"

"Bye..." Rukia menatap Tatsuki yang berjalan menuju persimpangan, sedikit merasa lega bahwa kali ini dia sedikit berhasil mengontrol sifat cueknya. Rukia mencoba menanamkan kata-kata yang terlintas di benaknya sejak bertemu Tatsuki tadi, "Ingat Rukia! Sekarang di Jepang bukan di New York, mereka orang-orang baru bukan orang-orang palsu yang hanya ingin semua hal menyangkut materialistik dari kehidupanmu, dan kau... Shirayuki bukan Kuchiki!"

"Tatsuki!" panggil Rukia dengan suara keras. Tatsuki yang sudah beberapa meter di depan berbalik, dan dengan gerakan refleks menangkap sesuatu yang terbang ke arahnya. Di bukanya kedua telapak tangannya, dan mendapati sebuah jeruk.

"Penambah semangat! Hati-hati, ya!" teriak Rukia lagi, kali ini dengan senyum manis yang jarang ia beri untuk sesama manusia sejak beberapa tahun lalu.

Tatsuki nyegir, senang dengan jeruk di tangannya. "Thank's, ya." Kemudian berbalik dan semakin menghilang ditelan jarak. Rukia tersenyum sendiri, ternyata kalau di sini, sifat dan kebiasaannya tidak terlalu sulit untuk diubah. Yah... mungkin, selama mereka tidak tahu identitas aslinya.


Criiingg~ criiiingg~

Bunyi bel terdengar ketika Rukia membuka pintu, nuansa tenang dan sunyi menyambut kedatangannya. Interior di dalam Cafe yang walau sebagian besar terbuat dari kayu, tetap saja terlihat elegan. Rukia mengakui, design Cafe ini cukup bagus dan membuat orang nyaman.

Matanya menatap sekeliling, dan menyadari cahaya matahari yang masuk melalui jendela melayang di atas mendekati atap. Rukia memastikan bahwa pelanggan tidak akan terkena sinar matahari yang masuk karena hanya melayang-layang di atas kepala mereka. Terlihat indah, entah bagaimana caranya tetapi suasana di sini sesuai dengan papan berukuran persegi panjang yang tergantung di atap tepat di atas meja Counter – Welcome To Heaven – yang langsung menyambut setiap orang yang memasuki Cafe bernama 'Heaven' itu.

"Ah, Nona Shirayuki!" Mr. Uruhara terlihat kaget setelah muncul dari balik meja Counter-nya yang berukuran sedang. "Kok bisa sampai di sini?"

"Aku sengaja mencari Mr, Tatsuki yang tadi mengantarku," jawab Rukia, masih terpesona dengan Cafe Mr. Uruhara.

"Oh, lalu di mana dia sekarang?" tanya Mr. Uruhara sambil celingak-celinguk. Gerakannya sedikit kaku, seperti susah bergerak.

Rukia menangkap gerakan aneh Mr. Bertopi garis putih hijau itu, sepertinya berasal dari punggungnya, "Dia sedang ada latihan Karate di sekolahnya, jadi tidak bisa mampir." Rukia sedikit ragu, "Mr, baik-baik saja?"

"Ah, iya. Aku baik-baik saja." Jawabnya sambil menutupi wajahnya dengan kipas yang selalu setia di tangannya. "Hah, padahal aku membutuhkan anak itu," keluh Mr. Uruhara. Kemudian tersadar kembali, "Ah, ya. Nona Shirayuki. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, sambil mempersilahkan Rukia duduk.

"Tidak ada, aku ke sini membawakan Mr. Buah-buahan dari Karakura." Rukia mengangkat keranjang dan menaruhnya di atas meja, menggesernya ke arah Mr. Uruhara yang terlihat terharu.

"Aihh, Nona Shirayuki ini. Sampai repot-repot bawakan oleh-oleh." Mr. Uruhara menatap Rukia dengan mata berbinar-binar, "Terima kasih banyak, Nona."

Rukia tersenyum, lagi. Dia bisa tersenyum dengan tulus lagi kali ini. Wajarkan, mereka orang baik, batin Rukia. "Iya, sama-sama. Mr Sepertinya sedang tidak enak badan?" tanya Rukia masih penasaran dengan gerakan aneh Mr. Uruhara, bahkan pada saat duduk pun.

"Ah, iya. Sebenarnya tadi sewaktu memperbaiki letak papan itu," jawab Mr. Uruhara sambil menunjuk papan berukuran lumayan besar bertuliskan – Welcome To Heaven – "Tidak sengaja aku terjatuh dari bangku tempatku berpijak." Mr. Uruhara mengelus pelan punggungnya.

"Hah, padahal aku harus membeli bahan-bahan. Tetapi punggung ini, sakit sekali," Mr. Uruhara tertawa pelan, merutuki ketidak hati-hatiannya. "Sebenarnya ingin minta bantuan Tatsuki tadi, tapi dia sedang latihan Karate."

Rukia memperhatikan, Mr. Uruhara yang menahan sakit di punggungnya terlihat sangat menyedihkan. Pria yang kira-kira berumur tiga puluhan itu jadi seperti kakek-kakek berumur enam puluhan dengan penyakit 'Low Back Pain'.

"Mr.. aku sedang senggang. Minta tolong aku saja." Rukia menawarkan diri untuk membantu, berusaha memecah keadaan yang terlihat seperti 'Hitam – putih – abu-abu' dalam film-film tahun '30-an. Gambaran yang menyedihkan, entah Rukia yang mendramatisasi atau karena kemampuan Mr. Uruhara yang mampu membuat orang merasa kasihan padanya?

"Tapi, apa kau tahu tempatnya? Kau kan masih orang baru di sini," ujar Mr. Uruhara, merasa tidak enak. "Lebih baik jangan, nanti kau tersesat." Lanjutnya lagi sambil mengipas wajahnya.

Rukia menggeleng pelan sambil tersenyum, "Tidak apa, aku bisa bertanya pada orang-orang kan? Dari pada Mr. Tidak punya bahan-bahan, bisa-bisa besok Cafenya tidak buka." Perkataan Rukia barusan segera menciptakan khayalan absurd di kepala Mr. Uruhara, ia sangat takut dengan kata 'Tidak buka/Tutup' yang ditujukan untuk Cafenya. Dengan sekali gerakan, pria bertopi itu sudah hilang di balik meja counter-nya, beberapa detik kemudian kembali ke meja di mana ada Rukia di sana sambil menyodorkan selembar kertas dan beberapa lembar uang.

"Mohon bantuannya, Nona Shirayuki. Ini uang, daftar belanja dan alamat supermarket yang harus kau datangi." Mr. Uruhara menyodorkan tangannya sambil menatap Rukia penuh harap. Rukia tertawa kecil melihat mimik muka Mr. Uruhara yang terlihat sedikit konyol menurutnya.

"Baiklah, aku pergi dulu." Jawab Rukia sambil mengambil kertas dan beberapa lembar uang dari tangan Mr. Uruhara, ia bangun dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.

"Terima kasih banyak, Nona Shirayuki!" Lontar Mr. Uruhara tulus, sangat berterima kasih pada Rukia, yang sudah begitu baik padanya.

Rukia berbalik, "Ah," ia terdiam sesaat, masih begitu asing dengan nama belakangnya. "Iya, sama-sama. Dan..." Mr. Uruhara terlihat menunggu lanjutan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. "Tolong, panggil Rukia saja."


Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya Rukia berhasil menemukan supermarket yang Mr. Uruhara maksud. Letaknya lumayan jauh dari Cafe Heaven, tetapi tidak masalah bagi Rukia. Sekalian dia jalan-jalan untuk lebih tahu kota Tokyo yang besar ini. Saat ini di tangannya sudah lengkap bahan-bahan yang sama persis seperti yang ada di daftar belanja. Sekarang dia hanya perlu berjalan kaki sebentar menuju halte, naik bis sekitar dua puluh menit dan tiba di jalan Midori, tepatnya menuju Cafe Heaven.

Rukia menengadah, menatap sebentar langit yang terlihat gelap. Warna abu-abu gelap dan hitam mendominasi di sana. Sebentar lagi langit akan menjatuhkan berkahnya, berkah dari Tuhan untuk kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi. Rukia mulai melangkahkan kakinya, tidak cepat juga tidak lambat. Rukia suka udara yang mengelilinginya sesaat sebelum hujan. Hawa hangat bercampur angin yang dingin. Memberi sensasi tersendiri untuk kulitnya setiap dia bergerak di antara udara itu.

Setetes hujan turun mengenai wajahnya, kalau tidak ingat belanjaannya yang pasti akan hancur bila basah, Rukia pasti akan membiarkan dirinya berada di tengah-tengah rinai hujan yang dia sukai. Setetes hujan tadi kini sudah menyerbu Rukia, gerimis membuat bajunya sedikit basah. Kali ini, Rukia memilih menghindari hujan demi belanjaannya.

Rukia menatap ke depan, di sepanjang jalan tidak ada sesuatu pun yang bisa di jadikan tempat berlindung. Halte masih jauh di depan sana, jika Rukia nekat, dia hanya akan menemukan belanjaan yang sebagian besar tebungkus kardus itu hancur menjadi satu. Dia memilih untuk berlari sambil mencari tempat berlindung. Ada beberapa orang yang baru saja di lewatinya, seorang gadis seusianya terlihat sedang di dandan ketika hujan mulai turun semakin deras. Rukia mengabaikan, terus berlari sambil berusaha melindungi belanjaannya.

Di sana, ada sebuah taman. Dan, di sana, ada bungalow. Tempat yang pas untuk berteduh, hal yang wajar untuk sebuah taman memiliki tempat seperti itu. Rukia memasuki taman itu sambil berlari kecil, menuju bungalow berukuran sedang. Terlihat beberapa orang berlari mendahuluinya dan beberapa lagi sudah tiba di sana. Rukia harus cepat, jika tidak dia akan tetap kehujanan walau sudah menemukan tempat berteduh terdekat.

Langkahnya semakin cepat, berusaha agar secepatnya bisa sampai di bungalow itu tanpa basah kuyup. Tiba-tiba pergelangan tangannya ditangkap oleh sesuatu yang memblokir gerakannya. Rukia berhenti, berbalik untuk mendapati siapa yang saat ini – dalam keadaan dia sedang ingin buru-buru menghindari hujan – menggenggam pergelangan tangannya kuat.

Di hadapannya kini berdiri seseorang, dengan payung di tangan sebelah kanannya. Cowok bertubuh tegap itu menatapnya dalam, sedetik kemudian menarik tubuh Rukia hingga jarak mereka begitu dekat di bawah payung. Pikiran Rukia berteriak-teriak, tetapi tubuhya seakan membeku. Entah karena dinginnya udara, cengkraman tangan cowok di hadapannya ataukah karena tatapan mata itu?

Rukia membeku, bingung dengan apa yang sedang terjadi. Tetapi matanya tidak bisa lepas dari tatapan cowok di depannya, irisnya memancarkan kelembutan walau tatapannya tajam. Iris berwarna coklat keemasan. "Kau," satu kata keluar dari bibir Rukia, matanya menatap bingung cowok di hadapannya.

"Akhirnya," cowok itu bersuara, suara yang berat namun lembut. "Aku menemukanmu." Lanjutnya sambil menurunkan payung di tangannya.

Rukia masih diam, sarafnya seperti mati suri. Tidak berfungsi. "Mata ini..."

Cowok itu kembali menatapnya, mata ambernya seperti meminta penjelasan. Tetapi kemudian dia bersuara lagi, "Aromamu yang mempertemukan kita," ujarnya sambil memperpendek jarak wajahnya dengan wajah Rukia.

Rukia menahan nafas, "Apa yang mau cowok ini lakukan?" teriak otaknya. Benci dengan kekakuannya. Memaki sarafnya yang tidak berfungsi, merutuki ototnya yang tidak dapat bergerak semestinya. Rukia hanya diam, beradu pandang dengan cowok tinggi di hadapannya. Sementara jarak mereka semakin dekat, otak Rukia terus berusaha membangunkan saraf-sarafnya yang tertidur. Dalam jarak yang begitu dekat, mata cowok di hadapannya mulai terpejam. Saat itulah, dalam waktu sepersekian detik, sarafnya yang tertidur mulai berfungsi. Gerakannya cepat, menghindari wajah di hadapannya. Bergerak ke belakang sambil membalas mencengkram dan memelintir pergelangan tangan cowok tinggi itu.

Mata cowok itu terbuka, rasa sakit di pergelangan tangan kirinya membuatnya berteriak. "AARGGHHH... APA YANG KAU LAKUKAN?"

Rukia masih pada posisinya, menahan pergelangan cowok yang – Rukia baru tersadar – berambut orange itu – di belakang tubuh bidangnya.

Rukia menatap cowok itu tajam, "PERVERT!" Bentaknya keras.

To Be Continue...

Aaaahhhhh~~~ senangnyaaaa... selesai lagi, chap 2 ini... *lari-lari*

*Menangis terharu TT_TT* Sora udah baca review teman-teman sekalian~ *Meluk chingudeul, gag mau lepas*

Bener deh, Sora senang banget~~ ternyata begini perasaan penulis saat mendapat komentar tentang tulisannya. (perasaan pertama yang gag akan terlupakan) I Like it! *angkat jempol*

Terima kasih buat komentar teman-teman yang sungguh luar biasa... *alah~ lebay*

Komentar kalian yang buat aku update secepat ini... Si Newbie ini seperti mendapat keluarga baru... Sarang hae, chingu-yaaa~~~ *tebar lope-lope*

Oke, balesan Review-nya nih... *gag tahu caranya, jadi balesnya dari sini aja*

Naruzhea AiChi : Oke, nih udah dilanjutin :D tengkyu berat udah review... kamu reviewer pertamaku, loh~~ hehe... keep reading, yaa J

meyrien : Meyrien-san, arigatou ne~ udah suka fic pertama ku ini. *hug* iya, tuh. Mereka sibuk banget. Maklumlah, beban mereka di profesi masing-masing berat, sih... hehe, Hisana jd artis. Soalnya gag tega buat Hisana sakit-sakitan. Mending jadi orang yang super sibuk, kan. Soal kalung... ehhmmm, tetap baca aja, yaaaa... nanti juga bakal tahu, kok... terima kasih untuk review-nya..

mautauaja : *Hug~* tengkyu udah bilang keren fic ini. Penasaran? Oke, ni udh update... keep reading ya. Arigatou buat review-nya...

Kken RukIno : Adduuuhh~ jgn manggil senpai, aku ini kan masih junior~ *nunduk malu* manggil Sora aja, oke. ;) sesama Newbie, mohon bimbingan dan bantuannya*Bowing*

Hehe, arigatou ne~ Ken-san... udah suka fic aku ini. Sebenarnya gag tega juga buat Hisana n Byakuya kek gitu, tapi tuntutan skenario. Jadi mau gag mau mereka harus mau. *di geplak Byakuya ma Hisana* Ken-san jgn sedih ya~~

Ichigo ketemu Rukia? Udh baca chap di atas kan? Pasti tau, deh! ;) *kedip-kedip*

Oke~ thanks berat buat Ken-san yang udh me-review... *hug* keep reading yaa~

VitaLiu91 : *Hug~* makasih yaa~ udh bilang keren. *Blush* nih udh update, arigato ne udh review.. stay tune~~ hehe

inai chan : Oke~ nih udh update. bakilah, Sora akan berusaha untuk update fic ini. Krn itu, jgn bosen review ya~ itulah penyemangatku... :D hehe, kalo Sora sih selama ada dana, kenapa nggak? Kan emang Sora pengen banget ke Jepang *nah, mulai ngayal lagi deh* tengkyu buat reviewnya ya~ keep reading... J

Shizuku Kamae : Hehe~ salam kenal *Bowing* arigatou buat pujiannya.. *Hug~* Soal si rambut 'merah', ditunggu aja ya... hehe~ gomawo buat reviewnya, keep reading~ *ngasih lope*

: hehe, pemikiran kita sama Chingu~ Sora jga bakal kabur, selama ada dana..*dilempar papan bank danamon* hehe, soal ank kcl itu, masih rahasia. Keep reading aja, ntar jga ketahuan. J *guling2* di puji lagi. *blushing* meluk ah~ *gag mau lepas* oke, Sora akan brusaha tdk menelantarkan fic ini, slma ada dana *dilempar papan bank danamon yg lbh bsar* oke, gomawo chingu buat reviewnya~~ *ngusap benjol*

nenk rukiakate : *hug2 balik* iya, slm knal. Mohon bantuannya~ *bowing* terima kasih atas pujiannya, tetapi Sora benar-benar Newbie di sini. *meluk nenk-san gag mo lepas* gomawo atas pujiannya dan reviewnya... *muach*

Prabz SukebeTechnika : *Bowing* yoroshiku~ tengkyu buat pujiannya *hug~* but I really a Newbie here~ gomawo~ *bowing* ehhmm... hubungan fic ini dgn re:pray-nya Aimer... faktor utama krn Sora suka banget lagu itu, kalo denger, berasa Rukia-nee yang nyanyi... kalau dri meaning lagunya, tentang perpisahan, sih. Tetapi lagunya lbh menekankan perpisahan abadi. *so ta' deh* yah, pokoknya bgus deh kalo baca fic ini sambil denger lagu Aimer yg satu itu. That's sound nice.. gomawo yo, buat reviewnya... *much love*

Wakamiya Hikaru : *Hug~* thanks pujiannya. *jd semangat* yeah, that's right! Hal itu yg bakal jd konflik nnt *yah, buka rahasia deh* tp buat chingu gag pa deh. J haahhh, gomawo~ *hug lgi* pdhal Sora masih merasa berantakan deh~ but, nothings better than I read your review. Arigatou ne~

can-can : *hug~* gomawo yo~ can-can... nih, udh update kilat. Semoga suka yah.. Ganbatteeeee! *membara*

*nyulik sayap burung merpati tetangga* Sora seperti terbang setelah baca review chingu semua~~ Sora harap ke depannya, chingudeul nggak bosan buat baca fic Sora ini, dan juga gag bosan buat review. Biar Sora semangat! Oke, pai-pai chingu-yaaaa~~ *MUCH LOVE*