ORANGE PEEL
BY OHANDEER
THIS IS GS!
MY IDEA
HUNHAN
.
.
.
.
.
Oh Sehun, 27tahun. Seorang arsitek, tampan dan mapan. Entah bagaimana harus mendeskripsikan makhluk Tuhan yang satu ini, potensi yang dimiliki tidak hanya dalam bidang menggambar, melukis, mengukur, dan menghitung dengan segala keteletiannya tetapi ia pun memiliki potensi dalam bidang sastra dan olahraga. Sebenarnya Sehun bisa keluar dan masuk negara orang dengan gampangnya jika ia mau, mengapa tidak? Ayolah dia pintar, siapapun membutuhkannya. Tetapi ia selalu menolak pekerjaan yang keluar dari negaranya sendiri, bahkan untuk keluar kota pun ia harus berpikir berkali-kali karena ia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap seseorang yang amat sangat ia cintai. Ia tinggal di sebuah apartemen mewah di Seoul ''Galleria Foret'', namun tidak tinggal sendiri. Sehun tinggal bersama orang yang ia cintai amat sangat—Oh Aleyna, putri tunggalnya yang berusia 6tahun. Aleyna tumbuh menjadi anak yang pandai, dan cantik.
Lalu apakah Sehun sudah menikah? Tentu saja jawabannya Ya. Ia menikah sekitar 7tahun yang lalu dengan wanita cantik bernama Lee Min Jung, mereka menikah yang bisa dikatakan tergolong umur muda. Kebahagiaan selalu merayap di kehidupan mereka sampai Tuhan memberikan anugerah kepada pasangan tersebut. Namun takdir pun berkehendak lain saat setelah 2 bulan Aleyna lahir. Minjung pun dipanggil oleh Sang Kuasa karena ia jatuh sakit.
Walau Aleyna tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu, tetapi ia merasakan kasih sayang seorang Ayah yang sangat sayang padanya. Memang, terkadang Aleyna merasakan kesepian, iri ketika melihat teman-temannya yang selalu diantar jemput oleh sang ibu, dan terkadang ia menjadi sedih ketika teman-temannya mengatakan bahwa ia tidak mempunyai ibu. Tetapi Ayahnya selalu mengatakan bahwa Ibunya akan selalu berada dalam dirinya—Aleyna—.
"Ayah, ayo cepat bangun". Gerutu putri cantik, karena sedari tadi ayahnya tak kunjung bangun, anak tersebut sudah memakai pakaian seragam sekolah yang rapih, hanya seragam belum keseluruhan. Seragam? Ya, tentu saja. Ia sudah menduduki bangku sekolah dasar di tingkat pertama.
Waktu telah menunjukkan pukul 5.35 dan ayahnya tak kunjung bangun, yah pekerjaan hingga larut malam yang menuntutnya semalaman hingga ia tidur pada jam dua dini hari. Tidak heran bukan jika ia masih ingin terlelap dalam tidurnya?
Bocah manis tersebut masih berusaha membangunkan Sehun, sang ayah. Mengguncangnya keras hingga Sehun menggeliat tak nyaman, dan kemudian ia membuka matanya—Setengah mata maksudku.
Lihatlah wajahnya terlihat sangat lelah, kantung matanya kentara sekali tetapi Sehun sengaja tidur larut dan menyelesaikan pekerjaannya agar hari ini ia tidak berkerja lagi, tinggal menyerahkan hasil penggambaran dan pengukuran yang dilakukannya untuk membangun sebuah apatermen kepada rekannya.
''oh Aley, jam berapa sekarang sayang? Apa ayah terlambat untuk bangun?". Tanya Sehun, dan Aleyna menganggukkan kepalanya sambil bersedekap dada.
''Baiklah, Ayah minta maaf oke?". Dan lagi-lagi Aleyna mengangguk. Sehun pun beranjak dari ranjang empuknya, mengambil sesuatu di meja—sebuah sisir dan ikat rambut kelinci berwarna merah muda, sangat manis.
Sehun menyisir rambut hitam panjang, sepinggang Aley dan menguncirnya ekor kuda tidak terlalu tinggi. Hal seperti ini sudah biasa bagi Sehun.
"apakah kita harus memotong rambutmu di akhir pekan nanti?". Tanya Sehun pada Aley.
"kurasa tidak Ayah". Sehun mengangguk mengerti, kemudian ia berkata pada Aley bahwa ia akan bersiap sebelum mengantar Aleyna ke sekolah, setelah sebelumnya ia bertanya apakah anak itu sudah sarapan? Dan Aley menjawab Ya, ia tadi memakan roti dengan selai favoritnya dengan segelas susu sebelum membangunkan ayahnya. Aah memang anak pintar.
.
.
.
.
.
Mobil hitam milik Sehun telah sampai di depan gerbang Jjang School, merupakan sekolah dasar dimana Aley bersekolah saat ini. Perlu diketahui, Aleyna memasuki sekolah dasar baru seminggu yang lalu.
"Hati-hati dan jangan nakal, ikuti apa yang gurumu katakan selagi itu hal baik oke? Dan jangan pulang sebelum Ayah menjemputmu". Ucap Sehun, lengkap. Ia selalu mengatakan hal seperti ini sebelum Aley turun dari mobil dan menuntut ilmu.
Aleyna mengangguk patuh selagi mendengarkan Ayahnya berkata, kemudian ia sedikit kehilangan fokus mendengar Ayahnya berbicara ketika ia melihat keluar jendela—melihat guru cantiknya—yang sepertinya baru saja sampai sama sepertinya. Bedanya guru cantik itu tidak memakai kendaraan apapun. Lalu Aley terburu-buru melepas sabuk pengamannya, berbalik menghadap ayahnya.
"Ayah aku mengerti, aku turun dan jangan terlambat untuk menjemput. Aku mencintaimu Ayah!". Ujar anak tersebut sambil tersenyum manis, dan mengecup pipi kiri ayahnya. Kemudian Aley pun turun dengan sedikit berlari demi mengejar guru cantiknya. Sehun sebenarnya heran mengapa putri cantiknya begitu tergesa-gesa. Namun, ia mengesampingkan pikirannya dan bisa bertanya pada anaknya nanti.
.
.
.
.
Aleyna berlari mengejar guru cantiknya yang hanya beberapa langkah didepannya, hingga akhirnya ia berada disamping sang guru tersebut sembari mengatur napas. Dan hal tersebut cukup membuat perhatian sang guru cantik—yang tadinya melihat kearah depan, arah jalan—namun sekarang menghadap bocah cilik nan cantik yang memiliki tinggi sepinggang si guru cantik.
''Aley? Apa yang kau lakukan sayang". Tanya guru tersebut dengan lembut dan senyuman manisnya tak pernah luput dari bibirnya. Aleyna kemudian tersenyum cerah seperti mentari yang bersinar hari ini.
''Aku hanya ingin berjalan bersama-sama dengan Ssaem . Apa ssaem langsung ke kelas?". Tanya Aleyna. Dan guru cantik tersebut mengangguk dengan senyumnya yang memikat.
"Ayo Luhan ssaem!". Aleyna mengucapnya dengan nada riang, lalu mereka-pun berjalan bersama menuju kelas A, kelas dimana Aley belajar dan Luhan ssaem mengajar.
Ya,
Guru cantik tersebut bernama Luhan, ia adalah wanita asal Cina. Dengan perawakannya yang mungil, mata rusanya yang selalu berbinar, oh dan jangan lupakan senyumnya yang selalu membuat siapa saja terpesona. Gadis cantik ini berumur 26 tahun, berprofesi sebagai seorang guru. Keluarganya menetap di Cina—Beijing. Luhan merupakan salah satu orang yang pandai untuk berdebat. Perlu diketahui bahwa Luhan belum menikah.
.
Orange Peel
.
.
Sekolah begitu sepi untuk para siswa-siswi berlalu lalang menuju kantin, karena musim dingin memasuki daerah Korea saat ini. Sebagian dari mereka—siswa dan siswi—menghabiskan waktu istirahat mereka dikelas, bergelut dengan jaket tebal mereka, berharap bel jam pulang sekolah dipercepat. Sebagian dari mereka juga ada yang memakan bekal. Namun, tidak dengan siswi cantik ini. Ia berjalan menyusuri koridor sambil menengadahkan kepalanya keatas menuju langit.
Sebenarnya ia tidak begitu menyukai musim dingin, tetapi apa mau dikata? Hal ini memang sudah menjadi ketetapan sejak dulu, ketetapan Tuhan.
Kemudian ia melanjutkan jalan menuju perpustakaan, ia suka sekali membaca. Tiada hari tanpa membaca, baginya terasa hambar...
.
.
.
.
Orange Peel
.
.
.
Drrrt Drrrt
Dering ponsel membuyarkan lamunannya, lamunan seorang Oh Sehun. Apa yang dia pikirkan? Tidak lebih dari sosok temannya yang selalu ia ikuti hingga sampai temannya itu menghilang dan dari situ Sehun berhenti mengikutinya.
'yeoboseyo?'
...
'aah ya, aku akan segera kesana'
...
'ya'
Sehun menutup panggilan diponselnya, ia beranjak mengambil jaket hitamnya dan kunci mobil. Ia berjalan keluar untuk menuju rekannya, membahas pembangunan apatermen yang mana gambarnya telah ia selesaikan hingga larut malam.
Ini sudah menunjukkan pukul 8 pagi, ya waktu terasa begitu cepat memang. Itu artinya sekitar satu jam lagi Aleyna pulang sekolah dan Sehun merasa dirinya akan terlambat menjemput putri cantiknya.
.
.
.
.
.
Suasana kelas A tampak begitu riang, mereka sedang mengerjakan pekerjaan mereka yaitu menggambar. Anak-anak tersebut diberi tema oleh guru mereka—Luhan ssaem. Luhan memberikan tema bahwa mereka harus menggambar keluarga mereka.
Luhan pun ikut tersenyum mengamati mereka, dan ia pun tertarik oleh anak yang bernama Aleyna. Anak itu terlihat serius dan tersenyum sesekali.
Luhan menghampiri Aley, sampai-sampai Aley-pun tidak menyadari Luhan tepat berada dibelakang anak tersebut. Luhan melihat, ia tengah menggambarkan tiga sosok yang Luhan yakini laki-laki yang memakai kemeja diwarnai dengan warna biru tua itu adalah ayahnya. Dan ada seorang anak perempuan dengan warna pakaian berwarna biru langit persis dengan gambar disebelah kiri si anak. Hanya postur tubuhnya yang berbeda. Itu keluarga Aleyna, dengan latar belakang penuh bunga seperti taman.
"Wah, kau menggambarnya dengan baik". Ujar Luhan dan sukses membuat anak tersebut menghadap Luhan dengan setengah terkejut. Namun hanya seperkian detik, kemudian ia langsung menampakkan wajah dengan penuh senyum.
"Terimakasih Luhan ssaem!" . ungkapnya.
"Bisakah kau ceritakan tentang gambarmu?". Tanya Luhan, dan anak tersebut mengangguk dengan semangat.
"Apa aku harus menceritakannya didepan kelas ssaem?".
"Jika kau bersedia, mengapa tidak?".
"Lebih baik aku menceritakan disini saja, hanya dengan ssaem".
"Baiklah".
Aleyna menarik napasnya kecil, dan tersenyum sebelum menceritakannya.
"ini adalah ayah, aley, dan ibu. Ayah sangat sayang dengan Aley, Ibu juga sangat menyayangi Aley. Ayah adalah seorang arsitek, Ayah selalu mengantar dan menjemputku kemanapun aku pergi. Aley senang bersama ayah dan ssaem harus tahu, ayahku sangat tampan".
"Eum, Aley mengapa kau hanya menceritakan ayahmu? Bagaimana dengan ibumu?". Tanya Luhan, dan ia tidak menyadari senyum sendu dari Aleyna.
"Ibu.. ibuku cantik, ibu sangat menyayangi Aley. Kata ayah, Tuhan sangat sayang pada ibu jadi Tuhan memanggil ibu. Eum, Ayah selalu bilang bahwa Ibu selalu berada didalam diriku ssaem". Aley menjelaskan dengan senyum yang tak lepas dari wajah yang sekarang sendu. Dan Luhan sangat mengerti sekarang apa yang terjadi.
"Maafkan ssaem". Sesalnya.
"Tidak apa ssaem". Senyum cerahnya kembali lagi. Dan membuat Luhan tambah menyesal menanyakan hal tadi.
Kringgg
Bel pulang-pun berdentang, mereka semua merapihkan peralatan gambar dan meletakkan dimasing-masing loker yang telah tersedia dibagian belakang kelas.
Duduk rapih, Berdoa untuk mengucapkan terimakasih untuk pelajaran hari ini. Mengucapkan salam dan pulang.
.
.
.
.
Duduk sendirian dihalaman depan sekolah memang tidak mengasyikan, tapi inilah yang saat ini Aley lakukan. Apalagi kalau tidak menunggu Ayahnya datang menjemput. Ayahnya telah terlambat 15 menit, Aley selalu patuh pada ayahnya.
Menit ke menit, uh rasanya ia ingin marah pada ayahnya nanti. Dan rasa kesal itu pun hilang saat seseorang duduk disampingnya, Luhan ssaem.
"Oh! Luhan ssaem". Pekiknya girang.
"Apa kau sedang menunggu ayahmu?". Tanya Luhan, dan anak itu mengangguk.
"Ayah lama sekali, tetapi Aley harus patuh dengan ayah". Luhan tersenyum mendengar pernyataan dari anak itu.
Luhan mengeluarkan lolipop dari tasnya dan memberikannya pada Aley.
"apa ini untukku?". Dan Luhan menjawab "Ya, tentu saja".
"apa Luhan ssaem memotong rambut sebahu? Mengapa aku baru menyadarinya, dan ssaem semakin cantik dan sangat cocok dengan rambut sebahu itu". Ujarnya polos.
"Akhir pekan aku ingin memotong rambutku seperti sonsaengnim".
"Waah, pasti Aley semakin cantik. Aah sebentar ne, ssaem mendapatkan panggilan (ponsel Luhan berdering). Jangan kemana-mana sebelum ayahmu menjemput". Aleyna mengangguk paham, dan Luhan meninggalkan Aleyna sebentar.
Selang beberapa langkah Luhan, mobil hitam-pun terlihat dan keluarlah sosok yang ditunggu-tunggu berlari menuju putri cantiknya.
"Maafkan ayah terlambat sayang".
Aleyna hanya terdiam, merajuk rupanya.
"Ayah janji akan membelikan es krim jumbo untukmu, sekarang berbicaralah dan segera kita beli es krim". Aleyna tergoda dengan kata-kata es-krim jumbo. Ia pun tersenyum pada Sehun.
"Kau sangat cantik jika tersenyum, aah lolipop dari siapa kau mendapatkan ini?".
"Saat aku menunggu ayah, lulu ssaem menemaniku dan memberikanku lolipop ini".
"Oh ya?". Mereka mulai memasuki mobil.
"Tentu, lulu ssaem sangat baik dan cantik. Ayah kapan-kapan ayah harus bertemu dengannya". Sehun memasangkan seat belt pada Aley, dan tersenyum.
"Baiklah".
"Akhir pekan aku ingin memotong rambutku sebahu, seperti Lulu ssaem". Ucapnya lagi, dan Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mobil-pun melaju.
Mobil melaju dan saat itulah Luhan kembali, yang tadinya ingin menemani Aley namun ternyata anak itu telah dijemput dan mobilnya pun sudah melaju. Tadinya juga Luhan ingin berniat melihat bagaimana Ayah Aleyna, tapi mungkin lain waktu.
O
O
O
O
O
To be continued
O
O
O
I'm back, aku sengaja nih update cepet gatau kenapa mungkin karena kalian review? Heehehe. Dan ya meskipun review gak sesuai target gak apa-apa. Dan gimana untuk chapter ini? Ngebosenin kah? Maaf yaaaaa. Aku gak bisa banyak cakap lagi, aku laper bhaha. Dan untuk pertanyaan, atau balesan review aku jawab lewat PM. Oiya aku juga minta maaf kalau misal ada penulisan yang kurang bagus, atau typo2. Aku ini ngepost lewat hp juga. Ok! See you all~
Wanna review?
Ohandeer
150224
22:05
