Pada Chapter ini, author membawa kalian untuk sedikit flashback bagaimana masa lalu seorang Park Chanyeol. Untuk yang chapter kemarin menjawab lili putih adalah ketulusan, selamat anda benar ! juga mendeskripsikan ketulusan atas seseorang yang telah meninggal dunia.
CAST
Park Chanyeol (25)
Byun Baekhyun (19)
Kami telah berada dimobil saat Chanyeol tengah berbicara dengan seseorang diseberang sana dengan handphone ditelinganya.
"Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya. Ya, hanya siapkan laporan yang telah kita dapatkan. Baik, aku akan sampai dalam 15 menit" ucapnya lalu mengakhiri panggilan.
"Siapa ?" Tanyaku.
"Sekertaris. Ada kesalahan dalam proyek dan aku tidak ingin mengambil resiko menyerahkan masalah ini kepada sekertarisku, aku harus kesana. Kau mau kuantar kemana ? pulang ke apartement atau kerumahku ?. Tapi aku sarankan kerumahku saja" ucapnya sesekali membawa pandangannya padaku.
"Kenapa begitu ? Sebenarnya aku ingin pulang kerumahku" jawabku.
"Dan sendirian disana ? Tidak. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian" , alisnya sedikit menukik saat mengatakannya.
"Memangnya dimana ibuku ? Mereka sedang pergi ?"
"Semacam itu. Ayah dan ibumu. Sedangkan hyungmu belum pulang dari kantor karena jam pulang masih sangat lama" jelasnya.
"Mengapa ibu tidak memberi tahu hal ini ?" Tanyaku.
"Dia ya, tapi saat semalam kau sudah terlelap dan aku tidak tega jika harus membangunkanmu. Jadi ?. Ibuku ada dirumah sekarang. Kau tidak akan kesepian"
Aku mengedikkan bahuku.
"Tidak ada pilihan lain" ucapku. Kemudian mobil melaju menuju kediaman Park.
.
.
.
"Baekhyun ! Ohh aku merindukanmu" ucap Nyonya Park saat aku dan Chanyeol memasuki rumahnya.
"Aku juga uhuk eomma" ucapku sedikit terbatuk karena pelukannya cukup erat.
"Eomma, kontrol dirimu. Kau membuat Baekhyun tidak bisa bernapas"
"Omo ! Mianhae.. eomma hanya terlalu senang kalian berkunjung. Ayo masuk masuk" ucapnya mempersilahkan kami setelah melepas pelukannya padaku.
"Tidak hari ini. Aku hanya mengantar Baekhyun kesini" ucap Chanyeol.
Nyonya Park sedikit terkejut dan aku meringis melihat ekspresi kecewa di wajahnya.
"Kau selalu seperti itu. Kapan tidur disini ? eomma merindukanmu"
"Maafkan aku eomma. Aku berjanji akan menginap, tapi tidak hari ini. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan kantor. Tolong jaga babyku selama aku pergi. Aku pergi dulu dear.." ucap Chanyeol lalu mengecup pipiku singkat didepan ibunya.
Didepan, ibunya. Perlu aku garis bawahi ?. Well, terimakasih Chanyeol, kulit wajahku setara dengan tomat matang sekarang.
"Chanyeol ! Lihat sekarang dia memerah malu karena ciumanmu" goda Nyonya Park. Sedang Chanyeol tertawa sambil melangkah menuju mobilnya tanpa rasa bersalah. Sial !.
.
.
.
Sebenarnya aku tidak benar-benar tahu apa yang harus aku lakukan disini. Karena benar-benar hanya aku dan ibu Chanyeol disini. Tapi melihat ibu Chanyeol tengah menanam sesuatu di halaman belakang membuatku ingin membantunya.
"Eomma"
"Ya" sahut Ibu Chanyeol yang saat ini tengah menggali tanah dengan sekop kecil di tangan kanannya.
"Bisakah saya membantu ?"
"Oh tentu-tentu. Bisakah kau mengambil tanaman didalam keranjang dekat keran air ?"
Aku mengangguk lalu menggelung kemejaku sampai lengan dan berjalan untuk mengambil tanaman yang dimaksud Nyonya Park.
"Ah terimakasih Baekhyun" ucapnya saat aku telah memberikan tanaman itu kepadanya.
"Aku tidak melihat Jun, dimana dia ?"
"Seperti biasa. Keluar bersama teman-temannya. Aku membiarkannya bermain bersama teman-temannya karena ujiannya telah berakhir. Kasihan dia telah belajar terlalu keras karena suamiku memarahi nilai ujiannya semester sebelumnya"
Aku menganguk-angguk.
"Anda suka berkebun ?" Tanyaku.
"Tidak juga, hanya untuk membunuh kebosanan. Aku bersyukur kau datang kesini. Setidaknya ada seseorang yang bisa kuajak bicara"
Aku meringis, perasaan bersalah menghinggapiku.
"Maaf eomma" cicitku.
"Aniya aniya.. aku mengerti jika kalian sibuk. Oh ya, bukankah kau sebentar lagi lulus ?"
"Ya, menunggu sekolah menetapkan tanggal untuk hari kelulusan"
"Lalu berencana meneruskan dimana ?"
"Saya berpikir tentang universitas S"
"Tidak salah. Kau memang siswa yang pintar Baekhyun. Hei, dan jangan terlalu formal" ucapnya mengingatkanku saat bahasaku kembali terdengar formal.
Aku bahkan tidak menyadarinya. Fakta bahwa yang sedang berbicara denganku adalah ibu dari kekasihku membuat sopan santunku keluar begitu saja.
"Apakah tadi kalian berkencan ?", sedang tangannya masih sibuk meletakkan tanaman di lubang yang telah ia gali.
"Eh ?. Kami mengunjungi makam.." ucapku mengambang, menimang lebih tepatnya.
Tunggu, bagaimana aku mengatakannnya ?. Nyonya Han ? Ibu kandung Chanyeol ? Ibu kandung ? Lalu apa maksudmu dengan menganggap Nyonya Park ibu tiri Chanyeol ?. Aku tidak enak hati untuk mengatakannya, melihat bahkan Nyonya Park terlihat begitu menyayangi Chanyeol.
"Makam Han Hyo Joo ?" Ucap Nyonya Park membuatku reflek menelan ludahku.
"Apakah itu benar Baekhyun ?" Tanyanya.
Bibirku terbuka untuk menjawabnya tapi aku bahkan tidak bisa menebak suasana hatinya. Apakah Nyonya Park marah ? Bagaimana aku harus menjawabnya ?
"Baekhyun.."
"Iya eomma" , mendapatkan kembali suaraku berharap bahwa aku tidak akan menyesali jawabanku. Tapi kemudian aku meragu saat tak ada respon apapun dari Nyonya Park. Tangannya bahkan berhenti dari kegiatannya.
"Eomma.." lirihku sambil menyentuh bahunya. Aku tersentak ditempatku saat perlahan punggung tangannya menggosok pipinya, menyeka air matanya.
"Eomma.." panggilku.
"A-aku tidak papa Baekhyun.."
"Aku minta maaf"
Aku tidak tahu mengapa aku meminta maaf. Tapi perasaan bersalah saat melihatnya menangis membuatku mengatakannya, aku hanya tidak bisa melihatnya bersedih.
Ia menoleh padaku dan tersenyum walau jejak airmatanya masih tersisa dipermukaan pipinya.
"Aku tidak menyangka. Tidak, aku berterimakasih padamu untuk membuat Chanyeol-ku berani menghadapi ketakutannya"
Dahiku berkerut, tidak mendapatkan maksud yang jelas dari perkataannya.
"Han Hyo Joo, ibunya, ketakutannya" ucapnya.
"Ketakutan Chanyeol ?" Ulangku. Nyonya Park mengangguk.
"Dia tidak pernah menunjukannya kepada siapapun. Dia keras, menutupi segala kegelisahan dan ketakutannya dari orang lain. Aku tidak pernah bisa merasakan bagaimana seorang anak kecil menumpahkan segala kesalahan pada dirinya sendiri. Membangun batas atas dirinya sendiri dan dunia. Tidak mengijinkan seorangpun tahu betapa hancurnya dia. Tidak seorangpun"
Aku terdiam saat suara Nyonya Park kembali bergetar. Chanyeol bukan anaknya, tapi bahkan aku merasa bahwa darahnya mengalir pada tiap pembuluh darah Chanyeol.
"Apakah eomma mengenal Nyonya Han Hyo Joo ?" Tanyaku.
"Tentu. Siapa yang tidak mengenal kekasih hati Park ?"
Ibu kandung Chanyeol adalah kekasih ayahnya, dan nyonya Park tahu ?.
"Aku tahu Baekhyun. Sangat tahu. Sampai saat ini pun aku tahu bahwa Han Hyo Joo tetap hidup dihati ayahnya dan Chanyeol. Aku mengenal Hyo Joo unnie. Ah, sudah lama sejak terakhir kali aku memanggilnya 'unnie'. Dia kakak tingkatku di universitas dengan jurusan yang sama. Pintar, baik, cantik. Bukan kalangan orang terpandang atau diatas. Tapi kepintarannya membuatnya diakui oleh universitas. Dia adalah idola, siapa yang tidak jatuh karena pesona kedua iris coklat terangnya itu. Termasuk seorang Park. Ayah Chanyeol adalah sunbaeku yang diam-diam kucintai semenjak SMA. Tapi hati bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan kan, Baekhyun ?. Ayah Chanyeol begitu mencintainya. Aku menyalah artikan kepeduliannya padaku sebagai sebuah kasih sayang sementara Park hanya menganggapku seperti adiknya sendiri. Ya, karena keluarga kami teman baik dan aku mengenalnya terlebih dahulu"
"Apakah eomma membencinya ?" Tanyaku. Rasa penasaranku tidak bisa terbendung lagi.
"Ya, dulu. Aku hanya adik tingkat Hyo Joo unnie yang kebetulan akrab dengannya waktu itu. Aku menekan amarahku karena aku bukan siapa-siapa bukan ?. Sampai suatu hari, aku dan ayah Chanyeol dijodohkan. Yang mereka tahu adalah anaknya akrab dan tidak menutup kemungkinan menyukai satu sama lain. Aku tentu saja tidak menolaknya, kesempatan untuk bersamanya ada didepan mata, bodoh jika aku menyia-nyiakannya"
"Ayah Chanyeol.. apakah menolak perjodohan itu ?" Tanyaku.
"Tentu saja. Dia marah. Sangat marah. Aku masih bisa mendengar saat gelas ditangannya pecah oleh kemarahannya sendiri. Hyo Joo unnie mengetahuinya, dia membenciku. Berteriak sumpah serapah tentang penghianatan. Aku hanya bisa diam waktu itu, karena tidak ada yang membuatku membela diri. Tapi Park datang, menghentikannya. Hyo Joo unnie marah dan kesalah pahaman terjadi diantara mereka. Aku tidak tahu bagaimana detailnya, tapi pernikahanku tetap terlaksana. Ayah suamiku marah dan ikut campur untuk memisahkan Hyo Joo unnie dan Park. Karena Hyo Joo unnie bukan seseorang dari kalangan atas. Aku bahagia karena akhirnya aku mengikat janji suci dengan orang yang kucintai"
Cinta terkadang membuat seseorang lupa diri, bukan perkara hati lagi, tapi ego yang mengambil alih.
"Apakah.. pada saat itu ayah Chanyeol masih mencintai Nyonya Han ?"
Nyonya Park terkekeh dan menggeleng.
"Aku tidak tahu. Tapi tidak juga bukan jawaban yang tepat. Aku bisa megatakan kami keluarga yang bahagia terlebih saat aku mengandung. Park benar-benar seorang penyayang pada saat itu. Aku hampir melupakan seorang Han Hyo Joo. Sampai pada saat itu datang. Park pulang dengan keadaan mabuk, kacau, menangis, merancau tentang dosa tak termaafkan. Aku menyadarinya, sesuatu terjadi pada Hyo Joo unnie. Sebuah plelangan"
Aku menutup mulutku, terlalu terkejut. Pelelangan ?.
"Pelelangan ?" Tanyaku masih dengan perasaan terkejut. Nyonya Park mengangguk.
"Perasaan bersalah mulai menggerogotiku. Berpikir tentang 'seandainya' membuatku gila. Seandainya aku tidak menikah dengan kekasihnya, seandainya perjodohan ini tidak terjadi, seandainya keegoisanku tidak membuatku buta, seandainya aku tidak ada. Aku.. terus"
"Eomma.. eomma tidak perlu menceritakannya. Aku tahu itu sangat tidak mudah" Aku mengusap bahu dan lengannya saat perasaannya kian tak terkendali. Tapi Nyonya Park menggumam baik-baik saja sambil menepuk punggung tanganku, meyakinkanku. Tapi nyatanya mulutnya berdusta, karena airmatanya berkata yang sebenarnya.
"Anggap saja ini sebuah pelajaran yang kau dengar dari dosa yang kulakukan agar setiap saat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Cha, ayo cuci tanganmu. Kita kedalam saja"
.
.
.
Lalu nyonya Park berlalu meninggalkan begitu saja tanaman yang akan ditanamnya.
"Ini teh hijau kesukaanku. Coba cicipi. Chanyeol berulang kali mengatakan bahwa itu hanya seduhan rerumputan karena rasanya pahit" ucap Nyonya Park sedikit terkekeh.
Aku meminumnya, mengecap rasanya yang memenuhi permukaan lidahku.
"Bagaimana ?"
"Mengesampingkan pahit. Ini lebih terasa menyegarkan dan mm.. aku menyukainya eomma" ucapku.
"Geure ?"
Aku mengangguk.
"Tch, anak itu memang tidak suka pahit. Jadi sampai dimana kita tadi ?"
"Itu.. pelelangan ?. Eomma, eomma benar-benar tidak harus menceritakannya jika-"
"Ssh..shh.. tidak papa Baekhyun. Ya ya, pelelangan. Hyo Joo unnie terjebak disana, aku juga tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Park membantunya dan dia berhasil keluar dari sana. Tapi sesuatu telah merusak tubuhnya saat dia kembali. Kokain. Dia kecanduan dan itu yang membuatnya meninggalkan dunia. Overdosis. Hatiku sakit saat aku bertemu anak kecil ketika aku dan Park kesana. Aku ingin mati saja saat itu karena fakta bahwa Hyo Joo unnie meninggalkan seorang anak kecil yang bahkan tidak tahu apa-apa"
[Flashback]
Saat itu sedang hujan deras ketika Nyonya Park datang bersama suaminya. Rintik hujan yang turun tak karuan membuat coat keduanya menjadi lebih gelap. Tuan Park menggedor pintu kecil itu tidak sabaran sampai seorang anak kecil muncul membukakan pintunya.
"Appa.." lirih anak kecil itu membuat Nyonya Park tercengang ditempat.
"Dimana ibumu ?" Tanya Tuan Park.
"Ibu.. ibu sedang tidur. Dia susah untuk dibangunkan. Aku tidak tahu kenapa" jawab Phoenix kecil.
Lalu Tuan Park segera masuk tak mengindahkan istri juga anaknya didepan pintu.
"Nyonya siapa ?" Tanya anak kecil dengan baju berkerah sobek itu. Nyonya Park sedikit menyembunyikan keterkejutannya lalu membungkuk mensejajarkan tingginya dengan anak kecil itu.
"Bolehkah aku tahu siapa namamu ?" Tanya Nyonya Park.
"Chanyeol, Han Chanyeol" jawab anak kecil itu. Airmata tak terbendung lagi dari kedua mata Nyonya Park.
"Aku Soo Young, Choi Soo Young" jawabnya tidak ingin mengubah marganya menjadi marga suaminya didepan anak itu.
Teriakan dari dalam membuat Soo Young dan Chanyeol kecil berlari menuju sumber suara. Park berlutut sambil menggenggam tangan wanita yang sedang terpejam diatas ranjang. Soo Young menggigit bibirnya menahan isakan yang ingin keluar, Tuhan telah memanggil wanita disana. Atensinya teralih saat sebuah tangan menarik kecil roknya.
"Nyonya, kenapa appa menangis ?" Tanya anak itu sambil mendongak keatas.
Tangis Soo Young pecah dan segera memeluk anak itu. Jiwanya berjanji untuk menjaga tubuh kecil dalam dekapannya mulai detik itu juga.
Ambulans datang setelah itu. Membawa tubuh wanita yang telah terbujur kaku. Dokter melakukan autopsi dan menemukan bahwa overdosis yang telah merenggut nyawanya. Park terpuruk, menangis. Sedang Soo Young tetap disamping anak itu. Bertanya-tanya, mengapa anak itu hanya terdiam.
"Chanyeol" panggilnya.
"Ya Nyonya"
"Apakah kau baik-baik saja ?"
Anak itu terdiam, dahinya berkerut.
"Ibu.. meninggalkanku ya ?"
"Chanyeol.."
"Aku pasti anak nakal. Appa dulu meninggalkanku, lalu sekarang ibu. Pasti Tuhan sangat membenciku sehingga dia tidak memanggilku melainkan ibu" ucapnya sedikit parau.
Soo Young menggeleng dengan keras saat mendengar lirih suara anak kecil disampingnya. Bagaimana bisa seorang anak kecil memiliki pikiran seperti itu ?.
"Argh.."
Chanyeol kecil meringis, tangan kecilnya mencengkram perutnya dan Soo Young tidak bisa lebih panik lagi. Dia menggendong anak itu dan mencoba menemukan dokter. Hatinya sedikit lega saat seorang dokter tertangkap pandangannya.
"Dokter ! Dokter, tolong periksa anak ini secepatnya !" Ucap Soo Young masih dengan Chanyeol digendongannya sedang meringis kesakitan.
--
Dokter itu menghampiri wanita itu.
"Anda..?"
"Ibunya !", reflek mengejutkan. Tapi bahkan Soo Young tidak bisa memikirkan apa-apa selain keadaan anak itu.
Dokter itu menghela napas, membuat Soo Young semakin cemas.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saya bisa mengatakan bahwa tubuhnya tidak menerima asupan makanan dengan baik selama beberapa hari dan berdampak pada lambungnya. Saya juga menemukan beberapa luka lebam di paha dan pinggangnya. Kami telah mengobatinya dan memberinya infus"
Soo Young menahan pilu dihatinya saat mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan anak itu.
"Bolehkah saya melihatnya ?"
"Tentu"
Kedua kakinya tergesa-gesa untuk segera menbuka pintu ruangan Chanyeol. Mendekati anak itu yang kini tengah terduduk.
"Nyonya.."
"Bagaimana keadaanmu nak ?"
"Perih. Tapi lebih baik daripada tadi" jawab Chanyeol kecil.
"Dokter mengatakan bahwa kau tidak makan selama beberapa hari. Bisa aku tahu alasan kenapa kau tidak makan ?"
"Aku tidak boleh" ucap phoenix itu sambil menggelengkan kepalanya.
Soo Young mengeryit.
"Tidak boleh ?"ulangnya. Chanyeol mengangguk.
"Kata eomma aku tidak boleh menerima makanan dari orang asing. Appa bukan orang asing, tapi eomma marah ketika appa membelikanku makanan. Eomma tidur terus beberapa hari ini, aku tidak bisa membangunkannya, jadi aku tidak bisa makan " ucap polos si phoenix kecil.
"Lalu bagaimana dengan lebam di paha juga pinggangmu, bisa aku tahu kenapa ?"
"Itu.. teman laki-laki ibu sangat kasar. Saat mereka bertanya dimana ibu dan ketika aku tidak tahu, mereka marah. Lalu memukulku. Padahal aku tidak berbohong kepada mereka"
Airmata mengalir dipermukaan pipi wanita itu untuk yang kesekian kali. Anak itu disana, bersama ibunya tanpa tahu bahwa ibunya telah tak bernyawa. Dia hanya anak kecil, astaga, hidup seperti ini tidak pantas untuknya. Batinnya berteriak. Soo Young meninggalkan ruangan itu saat tangisnya menjadi kacau.
"Sayang.." panggil suaminya.
Ia segera memeluk suaminya dan menangis dengan keras dibahunya.
"Maafkan aku" ucap Tuan Park.
Nyonya Park menggeleng dengan keras lalu menarik pelukannya. Matanya memerah, dirinya kacau.
"Kumohon.. ijinkan aku untuk menjadi eomma Chanyeol" ucapnya kepayahan. Tuan Park terkejut atas perkataan Istrinya.
"Tapi-"
"Kumohon !" Kini Soo Young berlutut didepan suaminya.
Park segera menariknya dalam pelukan untuk menenangkannya.
"Baiklah baiklah.. Kita akan merawat Chanyeol bersama. Sebagai orangtua"
Langit gelap, hujan mengguyur Seoul. Pemakaman Han Hyo Joo berlangsung dengan hening. Hanya suara rintik hujan mengenai dua payung berwarna hitam yang terdengar. Orang-orang telah kembali lebih dahulu, menyisakan sepasang suami istri dan anak kecil yang masih bertahan disana. Nyonya Park dan suaminya menahan suara tangisnya saat melihat nisan disana untuk menjaga hati anak kecil yang berdiri didepan mereka. Tapi hati wanita tetaplah lemah. Isakan itu keluar begitu saja tak tertahan dari bibir Nyonya Park. Chanyeol kecil mendongak ketika pendengarannya mendengar isak tangis itu.
"Nyonya jangan menangis" ucap phoenix itu membuatnya tertegun. Bahkan anak kecil itu tidak menangis. Wajahnya tetap sama, tak berekspresi.
"Aku tidak boleh menangis jika didekat eomma. Nanti eomma juga ikut sedih. Eomma jadi menganggapku bukan laki-laki yang kuat lagi nanti"
Lalu Soo Young berlutut memeluk Chanyeol kecil bersamaan dengan tangisan Tuan Park yang terdengar. Mengutuk hidupnya atas orang-orang yang telah ia sakiti.
[Flashback End]
Bukan hanya Nyonya Park tapi kini Baekhyun juga ikut meneteskan airmata mendengar masa lalu Chanyeol. Dia begitu kuat juga sangat rapuh tak terkira. Bahkan Baekhyun tidak akan sanggup membayangkannya.
"Chanyeol-ku, dia adalah lelaki yang kuat sampai sekarang. Aku tahu itu. Dia menyimpan dengan baik kesedihannya sendiri agar tak membuat orang lain tahu dan ikut bersedih. Chanyeol-ku.. dia telah menanggung beban yang tidak seharusnya. Chanyeol-ku.. uri Chanyeol"
Aku bergerak kedepan, menuntun Nyonya Park kedalam sebuah pelukan. Mengelus punggungnya untuk mengendalikan isak tangisnya yang kian menyayat hatiku.
"Eomma.. eomma tenanglah.." ucapku.
"Berjanjilah.. berjanjilah untuk menjaga Chanyeolku.."
"Aku berjanji.. aku berjanji eomma. Aku akan menjaga Chanyeol"
Chanyeol, wanita dipelukanku ini sangat menyayangimu. Kasih sayangnya selalu tercurah ketika bahkan darahnya tidak mengalir dalam tubuhmu. Tapi kenapa aku merasa jika detak jantungnya bisa berhenti kapan saja karena mengkhawatirkanmu ?. Karena sebuah penghakiman tak beralasan atas hal yang bahkan tidak kau inginkan, Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
Thanyou soo much untuk yg followed,favorite this story ! Parah, seneng baca review dari kalian. Makin tambah semangat ngetik kkk. Last, review juseyoo~
