Disclaimer: Harry Potter is owned by J.K. Rowling. I did not take any profit from this. I own nothing.
Warning: OOC. AR. Fluff. Drabble. Two-shots.
Selamat Berbahagia!
Ch 2. Malfoy
"...dan saya akan sangat merasa terhormat jika Tuan Potter bisa memberikan sepatah dua patah kata di pernikahan anak saya ini. Terima kasih."
Tepuk tangan mengiringi Lucius Malfoy mengakhiri kata sambutannya kepada para tamu setelah sebelumnya mengangguk singkat ke arah Harry yang tanpa sadar meneguk ludah. Pandangan semua orang tengah tertuju padanya. Ia mengedarkan emerald kembar ke sekitar mendapati para tamu pureblood di sekelilingnya memberi pandangan beragam. Dari kagum, berharap, sinis dan sebagainya. Tak bisa disangkal karena sebagian tamu yang hadir sedikit banyak mempunyai keluarga yang tertangkap sebagai Pelahap Maut. Tak bisa diharapkannya kehadirannya akan diterima baik mengingat dialah yang mengalahkan Pangeran Kegelapan. Dari semua ekspresi yang tertuju padanya, hanya satu yang menahan tawa geli. Tak lain tak bukan adalah sang pengantin mempelai pria, Draco Malfoy sendiri.
Harry memutar bola mata.
Ini pasti yang dimaksud Malfoy ketika akhir pidato di pernikahannya beberapa tahun lalu. Harry menganggap itu hanya candaan sebagaimana Malfoy sering mengatakan itu di masa sekolah mereka kala di Hogwarts. Jujur, ayah anak satu ini hanya pikir itu bukan hal penting. Tapi, saat mendapat undangan pernikahan Malfoy, seharusnya dia memperkirakan ini. Ia menghela nafas singkat sebelum berdiri, menghadapi para tamu undangan dengan wajah datar tak berekspresi sebagaimana pekerjaannya sehari-hari, sebagai auror.
Mengarahkan tongkat ke lehernya dan menggunakan mantra Sonorus menyapa para tamu undangan serta berterima kasih kepada Lucius atas kesempatan ini. Ia mengerling ke arah pengantin pria.
"Terima kasih, Ma—" ia terhenti, mengingat dirinya berada di pernikahan keluarga Malfoy dan bukan pengantin pria saja yang dia panggil 'Malfoy' akhirnya ia mengubah panggilannya sambil tersenyum, "—Draco, untuk undangannya. Sayang sekali, istriku, Ginny, sedang tidak enak badan karena sedang hamil muda jadi tidak bisa ikut datang. Dia menyampaikan salam untukmu dan istrimu," lanjutnya tersenyum juga ke pengantin wanita yang membalas dengan senyum anggun.
Harry mengalihkan pandangan ke tamu-tamu sekali lagi, "Untuk sejujurnya, aku tidak tahu harus berkata apa karena tidak terpikir olehku akan mendapat kesempatan berbicara seperti ini." Dan ia memperoleh senyum licik yang tidak berusaha ditutupi oleh Draco. Harry ikut tertawa singkat menyetujui bahwa mungkin ini yang dirasakan Draco saat diminta pidato di pernikahannya dulu. Yah, apa yang terjadi, sudah menjadi bubur.
"Jika diingat, pertemuan pertamaku dengan Draco ketika kami di Madam's Malkin adalah pertemuan pertamaku dengan orang yang jadi satu angkatan denganku di Hogwarts. Tentu saja saat itu kesanku tentangnya hanyalah bocah yang berharga diri tinggi." Harry tidak menyebutkan tentang membanggakan status darah atau semacamnya. Jelas, pendengarnya tidak akan mengapresiasi hal tersebut mengingat Draco dibesarkan di lingkungan pureblood adalah di atas segala-galanya. Mereka yang datang ke pernikahan ini sedikit banyak masih memegang paham tersebut. Tidak bijak jika dia menyinggung mereka sekalipun dia tak bermaksud.
"Sangat yakin kalau dia akan masuk Slytherin. Dan tentu saja, seperti yang kita tahu, dia memang masuk Slytherin. Bahkan sebelum Topi Seleksi diletakkan sepenuhnya di kepalanya," terdapat senyum bangga diantara para tamu serta Lucius dan Narcissa ke arah Draco yang masih menyunggingkan senyum ala Slytherin ke arah Harry. Namun, semua senyum itu padam perlahan begitu Harry melanjutkan, "Karena dia di Slytherinlah, ketika Topi Seleksi hendak menempatkanku di Slytherin, aku memilih asrama lain selain Slytherin."
Mereka semua memandang terkejut dan bisik-bisik sekitar mulai terdengar disusul pandangan tidak percaya bahwa seorang Harry Potter nyaris masuk Slytherin dan pandangan gila bahwa menolak masuk asrama berlambang ular tersebut. "Well, harus kuakui aku tidak merasa asing menghadapi Draco karena aku dibesarkan dengan seorang saudara sepupu yang sifatnya mirip dan... masa kecilku jauh dari kata menyenangkan. Hanya tidak ingin masa remajaku terulang lagi. Singkatnya, aku juga menolak uluran pertemanan Draco dulu juga karena alasan yang sama. Tapi... bisa kuakui itu kesalahan."
Sepasang emerald memaku silver kembar, tersenyum lega.
"Draco bukan sepupuku. Di saat aku butuh, justru dia memberikan bantuan. Siapa sangka justru dengan tongkat sihir miliknya-lah Voldemort bersenjatakan tongkat Elder bisa dikalahkan? Bukan dengan tongkatku, tongkat sahabatku tapi tongkat saingan terberatku. Tidak hanya itu saja, berulang kali hidupku bisa berakhir detik itu juga jika Draco tidak melakukan sesuatu untuk mencegahnya," seperti di Malfoy Manor atau ketika di ruang kebutuhan Crabbe dan Goyle mengarahkan tongkat kepadany, ia mengangkat gelas wine ke arah pengantin namun pandangannya ke Narcissa, "Seperti ibunya, Madam Narcissa, telah menyelamatku dengan berbohong tepat di hadapan Voldemort, like mother like son, bukan?" Narcissa memandangnya lembut meski senyumnya tak terlaku terlukis.
"Aku yakin pengantin wanita tak akan mendapat suami lebih baik dari sahabatku, Draco," Harry bersulang ke kedua pengantin dan tamu undangan, "Cheers!"
Selesai bersulang, tepuk tangan mengiringi Harry beranjak ke arah kedua pengantin. Ia mengucapkan selamat terlebih dahulu ke pengantin wanita yang dibalas dengan senyum sopan lalu menjabat Draco yang berdiri untuk merangkulnya singkat. "Cukup lama juga sebelum kau menerima tawaranku tingkat satu dulu saat kita di Hogwarts Express, hm?"
"Yeah," Harry tersenyum dengan tatapan meminta maaf, "Aku dibesarkan oleh muggle jadi tanpa tahu apa-apa di dunia sihir dan membuat keputusan di usia muda begitu, apa yang bisa kubilang?"
Percakapan mereka menjadi pusat perhatian para tamu yang berbisik-bisik dan menunjuk. Mengindikasikan pengakuan Harry atas persahabatannya dengan Draco sesuatu tercela atau hina. Melihat itu, Draco hanya tersenyum sinis ke Harry lalu berbisik di dekat kacamatanya.
"Scarred, Harry?"
Yang ditanya mendengus sebelum tersenyum yakin.
"You wish, Draco."
End
Thanks for reading this, please review if you don't mind!
emilia chika: ouh untunglah ada yang ngerti humornya hehe maaksih ya uda suka *ketcup*
Shiera Nafatu Lya: makasih~ *terharu*
