Title: "LOST STARS"
Words: 5K
Main Pair: ChanBaek - EXO Chanyeol, Baekhyun (GS)
Other Character: B.A.P. Daehyun, others
Genre: Romance, Drama, slight!Comedy


"Aku bersumpah akan membunuh kalian!" hardik Baekhyun pada kelima temannya yang terkikik puas.

Keenam gadis itu sedang duduk di kantin kampus mereka. Karena jam kuliah sudah selesai, mereka memutuskan untuk berkumpul walaupun sekadar berbincang atau mengeluh dengan tugas yang terus-terusan datang.

Kali ini Baekhyun, salah satu dari gadis itu murka. Kata-katanya dua hari lalu, sekarang berbuntut menjadi sebuah hutang. Park Chanyeol, lelaki yang juga berbincang bersama kelima temannya di salah satu sudut taman menjadi obyek mereka. Bukan rahasia jika Baekhyun dan Chanyeol pernah berkencan. Hanya saja setahun yang lalu mereka memutuskan berpisah karena terlalu sering bertengkar.

"Ayolah, Baek. Bukan hal yang sulit untuk mengajak Chanyeol di proyek konser untuk tugas akhir kita. Kau sendiri yang bertaruh untuk itu." ucap Minseok dengan senyum jahilnya.

"Kau ketua dari proyek ini, Minseok-ah! Kenapa harus aku yang mengajak dia?!" jawab Baekhyun yang masih bersungut-sungut.

"Byun Baekhyun, diantara kita berenam, hanya kau yang belum mendapatkan partner. Apa aku harus meminta tolong pada Daehyun untukmu?" tanya Luhan.

"NO! Apalagi dengan stalker itu!"

"Oleh karena itu," Tao menarik Baekhyun dari tempat duduknya, "Berjalanlah menuju pangeranmu, Nona Byun. Dia sedang duduk bersama yang lainnya." Ucapnya seraya mendorong Baekhyun menuju komplotan Chanyeol disana.

"What?! YA! YA!" teriak Baekhyun yang mencoba berontak dari dorongan Tao.

Terlambat. Baekhyun sekarang berada di belakang Chanyeol yang sedang berdiri menghadap teman-temannya yang sedang duduk. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas kelima teman lainnya tertawa terbahak-bahak sekarang.

Sejenak Baekhyun mengumpat karena Tao yang langsung melarikan diri. Sebenarnya dia juga sudah berbalik arah dan bersiap untuk kembali ke tempat duduknya, tapi siapa sangka, ada suara yang memanggilnya.

"Byun Baekhyun?"

'Oh, Kim Jongdae kenapa kau memanggilku! Aaaargh!'

Baekhyun membalikkan dirinya berbarengan dengan Chanyeol yang sudah menghadapkan diri padanya. Gadis itu langsung menunduk hingga rambut hitam sebahunya menutupi seluruh wajahnya. Tangannya meremas celana jeans yang ia kenakan.

"YA! Untuk apa kau kemari?" ucap lelaki di hadapannya tersebut.

Baekhyun mendongakkan kepalanya, "N-ne?" tanyanya seraya merapikan rambutnya ke belakang.

"Sedang apa kau disini, nenek sihir?" tanya Chanyeol.

'YA! KAU KURCACI RAKSASA!'

"Oh? Itu… Ngg… Chanyeol-ah, bisa bicara sebentar?"

"Kau sudah berbicara, Baek."

"Bukan itu… Berdua saja, bisa?"

Wajah Chanyeol terlihat terganggu dengan kehadiran Baekhyun. Tapi gadis itu tidak menyerah. Dia meneguhkan niatnya dengan berbagai alasan. Selain dia tidak ingin di-bully teman-teman satu komplotannya, dia juga tidak ingin berpasangan dengan Daehyun – orang yang mengejar Baekhyun habis-habisan – di konser nanti.

Chanyeol mendecakkan lidahnya, "Duduk disana saja." Ucapnya seraya menunjuk bangku di samping air mancur taman tersebut.

Baekhyun hanya bisa mengekor di belakang Chanyeol. Sebenarnya dia sendiri juga tidak ingin bertemu dengan lelaki itu, karena apa, dia muak jika harus ingat bagaimana masa lalunya.

"To the point saja. Ada apa?" tanya lelaki berpostur tinggi tersebut.

"Chanyeol-ah, kau tahu konser yang akan di adakan untuk tugas akhir kita, bukan? Hm… aku mendapatkan sebuah bagian disana. Dan aku harus punya partner yang bisa memainkan gitar. Tidak ada orang lagi dipikiranku kecuali dirimu. Apa… kau mau menjadi partner-ku?"

'DEMI APAPUN AKU SUDAH MEMPERTARUHKAN HARGA DIRIKU! KALAU KAU SAMPAI MENOLAKNYA, AKU AKAN-'

"Aku tidak mau." Jawab Chanyeol santai.

"WHAT?! Kau! Ayolah, Yeol-ah… aku mohon." Pinta Baekhyun memelas.

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya, "Aku tidak mau, Byun." Ucapnya seraya melangkah kembali ke tempatnya semula.

"Aku akan melakukan apapun agar kau mau menerimanya, Park Chanyeol!" teriak Baekhyun keras-keras.

'GADIS INI BENAR-BENAR GILA!' batin Chanyeol yang membuatnya berhenti di tempat.

Semua orang di sekitar taman dan kantin memperhatikan mereka berdua. Kejadian itu seperti sebuah scene di sebuah drama tentang seorang gadis yang meminta lelakinya kembali. Iya, kurang lebih begitu.

"Kalau Chanyeol tidak menerima Baekhyun pasti dia sudah gila!"

"Pasti Baekhyun benar-benar mencintainya sampai-sampai berani menjatuhkan harga dirinya seperti ini!"

"Kalau Chanyeol tidak mau, dia sungguh tega pada Baekhyun!"

Chanyeol mendengar bisikan-bisikan beberapa perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sejenak dia memperhatikan sekelilingnya. Well, memang sebagian besar semua orang memperhatikan mereka berdua. Bahkan kelima temannya hanya bisa membelalakkan matanya dan menatap Chanyeol penuh tanya.

Dia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya untuk sementara. Tangannya mengepal karena sebal dengan mulut Baekhyun yang tidak bisa dikontrol tersebut.

"Chanyeol-ah! Aku mohon!" teriak Baekhyun sekali lagi.

Chanyeol membalikkan badannya dan menghampiri Baekhyun. Lelaki itu berdiri tepat di hadapan Baekhyun dengan sesekali menghela nafasnya kuat-kuat.

"Kau melakukan ini dengan sengaja, bukan?"

"Apanya yang di sengaja?"

"Kau benar-benar bodoh, Byun." Ucap Chanyeol dengan rahang yang ditekan.

"Maksudmu?"

"Kontrol mulut harimaumu itu. Semua orang mengira kau memintaku kembali menjadi kekasihmu, Byun Baekhyun."

Baekhyun membulatkan mata seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dia baru sadar jika kata-katanya memang mirip dengan itu. Dan dia juga baru tersadar jika semua orang di sekeliling mereka memperhatikan kejadian tersebut.

"Tapi kau mau menerimanya, 'kan?" ucap Baekhyun lemah.

Chanyeol menghela nafasnya kuat-kuat, "Atur jadwal latihannya." Ucapnya.

"AH! Terima kasih!" Baekhyun yang tanpa sadar memeluk lelaki di hadapannya, "Maafkan aku!" katanya seraya melepas pelukan tersebut.

Baekhyun yang terkejut segera meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri disana. Gadis itu berlari tanpa menoleh ke belakang sama sekali.

"Terima kasih sudah membuatku malu, nenek sihir." Ujarnya geram.


Baekhyun mendudukkan dirinya kembali di samping Kyungsoo, yang hanya bisa membulatkan matanya. Bukan hanya Kyungsoo, tapi keempat temannya yang lain juga. Baekhyun sendiri juga masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

"DAEBAK." Kata pertama yang keluar dari mulut Minseok setelah beberapa saat hening.

"Okay, lupakan apapun yang baru saja terjadi. Dan jangan berkomentar apapun."

Gadis itu membenturkan kepalanya ke meja dengan pelan. Sesekali dia mengumpat layaknya, 'Stupid', 'Fuck', 'Screw your life, Baekhyun-ah' dan beberapa hewan yang muncul dari mulutnya.

"Apa yang dia katakan?" tanya Kyungsoo yang membenamkan sendoknya pada es krim.

"Hm?" Baekhyun mendongakkan kepalanya, "Dia menyuruhku untuk mengatur jadwal latihannya. Aku piikir dia menerima ini karena terpaksa. AH! Entahlah!" serunya seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Tunggu, jadi… tadi Baekhyun meminta Chanyeol untuk menjadi partner-nya atau kekasihnya lagi?" tanya Yixing.

"Come on, Zhang Yixing! Don't be so stupid!" Ujar Baekhyun gusar.

"Oh… kau ingin bersamanya lagi? Pantas saja kau berkata begitu!" seru Yixing seraya menepukkan kedua tangannya dengan puas.

Baekhyun berdiri dari tempat duduknya, "Kau sangat menggemaskan, gadis cantik. Hingga aku ingin membunuhmu sekarang juga." Ucapnya seraya pergi dari sana.

"EH? Kenapa dia begitu? Apa aku mengucapkan hal yang salah?" tanya Yixing dengan wajah yang tidak berdosa.

Keempat teman lainnya hanya meliriknya dengan wajah layaknya berkata, 'Unbelievable.'. Tapi tetap saja gadis itu tidak mengerti dan hanya mengedipkan matanya tidak berdosa. Kyungsoo yang sedari tadi tidak peduli sekarang menatap Yixing dengan tatapan psikopatnya. Dan Tao sudah merasa harus mengeluarkan jurus Wushu-nya sekarang.

"Bless you, Kim Junmyeon. Kekasihmu ini benar-benar seseorang yang jenius." Ucap Luhan dengan wajah sebalnya.


Baekhyun pulang ke apartment-nya dengan perasaan yang tidak karuan. Dia benar-benar malu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Belum lagi dia harus berhadapan dengan Chanyeol yang siap marah kapan saja. Di dalam hatinya dia tidak ingin mengalah jika lelaki itu mengajak berdebat atau apa, tapi mau tak mau dia harus mengalah demi tugas akhirnya nanti.

Bus yang membawanya pulang akhirnya sampai di hadapannya setelah hampir setengah jam menunggu. Sekarang dia yakin jika hari itu adalah hari tersialnya dalam dua bulan belakangan. Harus membuang harga dirinya di hadapan Chanyeol, merasa malu di depan teman-teman kampusnya, Yixing yang benar-benar jenius, dan harus menunggu lama agar bisa pulang ke apartment-nya.

Sejenak dia memperhatikan jalanan Seoul dari jendela yang ada di samping kirinya. Dengan lagu yang terputar di earphone-nya, dia berusaha mengusir rasa kesalnya hari itu. Tapi belum mood-nya kembali seperti semula, tiba-tiba lagu yang terputar membuatnya ingin menangis saja.

"Kenapa aku melakukan shuffle pada music player ini?!" gumamnya kesal.

Lost Stars. Dia tentu masih ingat apa kenangan dibalik lagu itu. Tentang bagaimana dia bernyanyi di sebuah restoran dan tiba-tiba dengan romantisnya Chanyeol datang dengan seikat bunga. Baekhyun bukan tipe orang yang suka hal-hal yang romantis, walaupun begitu, wanita mana yang hatinya tidak tergerak jika lelakinya menembus hujan hanya untuk membelikannya bunga?

"ARGH!" serunya yang menyebabkan semua orang di dalam bus menatapnya.

Baekhyun hanya bisa tersenyum canggung ketika semua orang mendecakkan lidah padanya. Apalagi ada juga seorang ahjumma yang menatapnya dengan garang.

'Oh God, cukup! Akhirilah hari sialku ini!' batinnya sembari menutup mata dan menyandarkan kepalanya di kaca jendela bus.

Ketika turun dari bus, dia segera berlari ke dalam gedung dan cepat-cepat menuju apartment-nya. Dia ingin lekas-lekas merebahkan badannya di ranjang dan tidur agar lupa dengan kesialannya hari ini.

Sesampainya di lantai dimana dia tinggal, dia mendapati seorang pria berdiri di pintu dorm-nya.

'Hell, Jung Daehyun.'

Dengan langkah yang ragu, dia menghampiri Daehyun yang membawa sekantong plastik yang nampaknya berisi ayam dan beberapa kaleng cola. Ketika melihat bungkusan tersebut, Baekhyun meyakinkan dirinya akan menyambut Daehyun dengan baik-baik kali ini.

"Baekhyun-ah!" panggil Daehyun ketika melihat Baekhyun keluar dari lift.

"Oh, hey, Daehyun-ah. Apa yang kau lakukan disini?"

Daehyun mengangkat kantong plastik yang dibawanya, "Aku membelikan ayam dan cola untukmu. Aku tidak tahu apa kau bisa meminum beer atau tidak, maka dari itu aku membelikan cola. Apa kau punya waktu untuk makan dan minum bersamaku?"

'Demi ayam dengan saus pedas, aku mengizinkan kau, Daehyun-ah!'

"Aku punya waktu. Aku buka dulu pintunya."

"Apa kau ingin menonton film juga? Aku sudah membawa beberapa film yang mungkin bisa kita tonton sekarang."

'Dan sekali lagi demi ayam saus pedas, aku mau!'

Baekhyun tersenyum, "Boleh, tapi aku ingin mengganti bajuku terlebih dulu. Kau bisa duduk disana, Daehyun-ah." Ucapnya seraya mempersilakan Daehyun duduk di sofa ruang tengahnya.

Kedua orang itu menonton film yang berjudul Begin Again itu dalam diam. Bahkan pandangan mata mereka tidak bergerak dan hanya tertuju pada layar kaca yang ada di hadapan mereka. Sesekali Daehyun membukakan cola untuk Baekhyun jika minuman gadis itu sudah habis.

Semua berjalan sempurna hingga lagu itu terputar lagi, Lost Stars. Baekhyun yang sedang meminum cola langsung memuntahkan dan menyebabkan mukanya memerah karena tersedak.

"Baekhyun-ah, is everything alright?" tanya Daehyun khawatir.

"Oh!" Baekhyun membersihkan cola yang membasahi bajunya, "Aku baik-baik saja, Dae. Bisa kau hentikan saja film-nya?"

"Kenapa? Ada yang salah? Tapi jika itu maumu, tidak apa-apa. Aku akan menghentikannya."

Baekhyun menghela nafasnya dan kembali sibuk dengan ayam yang digenggamnya. Dia tidak mengerti kenapa memilih film itu dan ternyata lagu tersebut menjadi salah satu soundtrack-nya. Pandangan matanya sekarang tidak fokus dan cenderung kosong. Dan ayam yang tadinya berniat untuk dimakan sekarang hanya digenggam begitu saja.

"Baekhyun-ah, kau kenapa?"

"Hm?" Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Daehyun, "Tidak apa-apa, Dae. Kau tenang saja."

"Kau jangan berbohong padaku."

"Apa aku terlihat berbohong?"

"Sangat."

Gadis itu menghembuskan nafasnya kuat-kuat, "Kau belum mendengar gosip yang beredar hari ini? Aku pikir itu sudah tersebar kemana-mana."

"Sejujurnya aku kemari untuk menanyakan itu, Baek. Apa itu benar?"

"Aku hanya memintanya untuk menjadi partner duet-ku untuk konser tugas akhir nanti, Dae. Dan karena apa yang kulakukan tadi, membuat semua orang mengira bahwa aku meminta lelaki bangsat itu untuk kembali padaku."

Daehyun mengangguk mengerti, "Berarti apa yang mereka katakan itu tidak benar?"

"Sangat tidak benar."

Baekhyun yakin Daehyun sedang tersenyum puas sekarang. Daehyun adalah orang yang menyukai Baekhyun sejak sekolah menengah. Bahkan sebelum dia dan Chanyeol berkencan. Daehyun sendiri tidak menyerah walaupun gadis itu sudah menolaknya berulang kali. Baginya, suatu hari nanti Baekhyun pasti sadar bahwa dia ada untuknya.


Keesokan harinya, Baekhyun memutuskan untuk menemui Chanyeol sekali lagi. Dia ingin memastikan apa Chanyeol benar-benar mau melaksanakan tugas itu dengannya. Baekhyun sendiri tidak memiliki nomor Chanyeol ataupun yang lainnya. Karena semenjak mereka berpisah, dia sudah menghapus dan memblokir apapun tentang lelaki itu.

Gadis itu menemukan Chanyeol sedang duduk bersama Sooyoung, gadis cantik yang menjadi idaman semua mahasiswa karena kecantikan dan kepintarannya. Hanya saja Baekhyun tidak suka dengan sikap gadis itu karena dia terlalu cocky dan sombong. Dengan segenap niat yang dimilikinya, mau tak mau Baekhyun menghampiri Chanyeol dan Sooyoung yang sedang menertawakan sesuatu.

"Hey, Chanyeol-ah, Sooyoung-ah. Maaf jika mengganggu kalian…" ujar Baekhyun lemah.

Sooyoung mengalihkan perhatiannya dan menatap Baekhyun sinis, "Kalau kau tahu bahwa kau mengganggu, kenapa kau kemari?" ucapnya.

'HAH! Sama sekali tidak sopan!'

"Aku ada perlu dengan Chanyeol sebentar. Bolehkah aku meminjamnya?"

"Kau pikir dia sebuah barang? Enak saja main pinjam begitu!"

Wajah Baekhyun mulai memerah karena ingin meledak. Ekspresinya sudah mulai tidak terkontrol dan senyumnya mulai berubah menjadi seringaian.

'Kalau sekarang tidak berada di kampus, aku akan membunuhmu, wanita jalang!'

"AH, Sooyoung-ah, tunggu sebentar, ya? Aku memang ada keperluan dengannya." Ucap Chanyeol yang kemudian bergerak menghampiri Baekhyun.

Lelaki itu menarik tangan Baekhyun agak menjauh dari sana, "Ada apa lagi? Bisakah kau berhenti menemuiku?"

"YA! Aku akan benar-benar berhenti menemuimu jika kau sudah mengiyakan tawaranku kemarin!"

Chanyeol memijat keningnya, "Bukankah aku sudah bilang 'atur jadwal latihannya'? Apa itu kurang jelas untukmu?"

"EH? Kau benar-benar mengiyakannya?" Baekhyun terkikik.

Lelaki itu mengetuk pucuk kepala Baekhyun, "YA! Jangan terlalu senang! Apa aku benar-benar berharga hingga kau kegirangan seperti itu?"

"ACK! Kau! Berani-beraninya kau memukul kepalaku! Dengar, aku tidak akan mengemis begini jika aku tidak benar-benar butuh! Jangan sombong kau, telinga lebar!"

"KAU!" Chanyeol melirihkan suaranya, "Jangan mengerjaiku jika kau benar-benar membutuhkan bantuanku, kau tahu!"

Baekhyun pun melakukan mimik dan cara Chanyeol berbicara dengan wajah yang mengejek. Dia benar-benar suka jika Chanyeol akan meledak seperti ini, "Eh, tunggu. Kau berkencan dengan Park Sooyoung, huh? Tak kusangka seleramu turun begitu!"

"What? Yang jelas dia lebih berotak daripada dirimu, Byun!"

"Kau pikir aku bodoh? Bukannya kau selalu memintaku untuk mengajarimu dulu?"

Chanyeol mendelik dan tertawa sinis, "Tapi pada akhirnya kau selalu merengek ketika hasil ujianmu keluar, 'kan? Ayolah, Baek. Aku tahu siapa kau."

Baekhyun berusaha mengumpulkan kesabarannya dan mencoba tersenyum meskipun sekarang dia ingin mencekik pria dihadapannya tersebut. Meskipun dia tahu jika dia tidak akan bisa karena tenaganya terlalu kecil bila dibandingkan dengan Chanyeol.

"Baiklah, anggap saja kau terlalu tahu dan memahamiku, fans." Ucap Baekhyun yang penuh penekanan pada kata 'fans'.

Kali ini Chanyeol tersenyum, "Kalau kau terus menggangguku, aku membatalkan rencana ini. Lupakan dan cari teman duetmu sendiri, Baek. Karena ini bukan urusanku." Katanya yang kemudian berlalu meninggalkan gadis itu sendirian.

"CHANYEOL-AH!" Baekhyun berlari ke arah Chanyeol dan meraih lengan pria itu, "Mianhae, eoh?" ucapnya dengan puppy eyes andalannya.

Chanyeol menoleh dan menggelengkan kepalanya, "Datang ke apartment-ku jam tujuh malam. Kita mulai latihan sebelum aku benar-benar menolaknya."


Gadis itu berdiri di apartment mantan kekasihnya. Dia tidak menyangka jika Chanyeol, lelaki itu, masih tinggal di apartment yang dulu mereka pakai untuk tinggal bersama. Iya, mereka pernah tinggal bersama selama kurang lebih satu tahun. Dan tempat itu pula menjadi saksi bisu dimana pertengkaran mereka dimulai.

"Bahkan dia belum mengubah password-nya." Gumam Baekhyun setelah mencoba memasukkan kode pada pintu tersebut.

Password pintu apartment itu masih tanggal, bulan, dan tahun dimana Baekhyun lahir. Masih ingat bagaimana Chanyeol dengan keras kepalanya meminta Baekhyun agar memakai hari lahirnya untuk password apartment mereka.

Baekhyun tersenyum jika mengingat Chanyeol yang merengek kala itu. Sedikit rasa sedih menggelayutinya sekarang. Benar-benar cepat waktu berlalu tapi Chanyeol masih tetap menggunakan hari lahirnya sebagai kode untuk apartment-nya.

Ketika masuk ke dalam apartment tersebut, sekali lagi Baekhyun merasa sedih saat melihat semuanya masih sama seperti dulu. Suasananya pun masih sama. Hanya saja bingkai-bingkai foto yang mereka pasang berdua dulu sudah tidak pada tempatnya.

Sejenak Baekhyun bergerak mengelilingi ruang tengah itu. Beberapa kali dia tersenyum melihat barang-barang masih terletak pada tempatnya seperti dulu. Ketika dia sedang sibuk meneliti situasi ruang tengah itu, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di kakinya.

"DUBU!" seru Baekhyun seraya mengangkat seekor kucing berbulu putih.

"Kau masih ingat dengan Eomma, eoh?" ucap Baekhyun kemudian.

Disaat dia sibuk bermain-main dengan Dubu di sofa, tiba-tiba pintu kamar terbuka, "Kau sudah datang?" tanya Chanyeol yang muncul hanya dengan handuk di pinggangnya.

Baekhyun mendongakkan kepalanya, "Pakai bajumu dulu, Yeol-ah." Ucapnya dengan wajah yang memerah.

"OH? Aku pikir kau sudah terbiasa dengan ini." Gumam Chanyeol, "Tunggu sebentar."

"Appa sedang memakai bajunya, Dubu-ya~" ucap Baekhyun seraya mengusap kucing yang ada di gendongannya.

"Tak kukira dia masih ingat denganmu." Ucap Chanyeol yang sekarang sudah memakai sebuah wife beater berwarna hitam dan celana jeans selututnya.

"YA! Aku yang selalu mengurusnya jika kau sedang sibuk. Mana mungkin dia lupa denganku. Iya 'kan, Dubu-ya?"

"Kau selalu menyalahkan aku. Buktinya sekarang dia tetap gemuk." Chanyeol bergegas ke dapur, "Kau ingin makan apa? Atau minum sesuatu?"

Baekhyun pun berdiri dan menyusul Chanyeol disana. Ketika dia melihat seisi dapur, dia masih tertegun karena sekali lagi, semua masih tetap sama. Beberapa saat dia terdiam dan tidak bereaksi.

"Hey, kau ingin makan atau minum sesuatu tidak? Kalau tidak aku tidak perlu repot-repot menyiapkan." Ucap lelaki itu sinis.

"OH?" Baekhyun tersadar dari lamunannya, "Terserah kau saja. Kalaupun hanya ada air mineral itu tidak masalah."

"Okay." Jawab lelaki itu dingin.

Baekhyun kembali melanjutkan petualangannya untuk menelusuri apartment mereka – Chanyeol maksudnya – dengan rasa penasaran. Bahkan dia melihat susunan buku di rak yang dulu dia susun masih seperti semula. Tidak ada yang berubah disana.

"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Chanyeol yang sudah duduk dengan gitarnya.

"OH? Ani. Aku hanya heran karena kau sama sekali tidak mengubah isi apartment-mu."

Chanyeol yang sudah sibuk dengan gitarnya pun tertawa kecil, "Aku malas untuk mengubahnya. Lagipula susunan itu sudah nyaman menurutku."

"Ah…" Baekhyun mengangguk dan kemudian pergi menuju dapur lagi, "Kau hanya makan makanan instan saja? Kau masih saja sama." ucapnya yang sedang meneliti isi rak makanan dan lemari es.

"Aku tidak bisa memasak. Kau tahu itu."

"Tapi paling tidak jangan makan ramyeon terus-menerus. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."

Lelaki itu mendecakkan lidahnya, "Kau datang kemari untuk berlatih atau untuk mengacak-acak rumahku? Pulang saja kalau tidak ada yang dikerjakan." Ucapnya sinis.

Baekhyun tertegun mendengar ucapan Chanyeol, "Aku hanya melihat-lihat dan kau berkata seperti itu? Ayolah! Aku tidak melakukan sebuah kesalahan besar disini." Sergahnya.

"Kau kemari untuk bertengkar? Kau membosankan, Baek."

"Kau yang menyuruhku kemari dan kau juga yang memulai semuanya."

"Geez." Chanyeol menghela nafasnya, "Kau masih saja tidak mau mengalah. Sekarang duduk, dan kita mulai latihannya."

Baekhyun pun menurut dan duduk di hadapan lelaki itu. Dalam hatinya dia ingin menangis karena sifat Chanyeol yang keras kepala masih saja dipertahankan olehnya. Iya, dia ingin menangis karena sekali lagi dia tidak bisa mendebat apa yang dikatakan Chanyeol.

"Lagu apa yang ingin kau nyanyikan?"

Tanpa pikir panjang, Baekhyun mengatakan, "Lost Stars."

Chanyeol yang sedang mencari-cari lagu di laptopnya pun mendongakkan kepalanya, "Lo-lost stars?"

"Hm. Wae?"

"Ani, ki-kita mulai saja latihannya."

Latihan malam itu memang berjalan dengan mudah. Tapi suasana kikuk tidak hilang dari sekitar mereka. Sesekali Baekhyun tertawa jika Chanyeol ceroboh ataupun melakukan kesalahan. Paling tidak ketegangan yang terjadi sebelum latihan sudah lebih mencair daripada sebelumnya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Karena Baekhyun merasa latihan sudah cukup, dia memutuskan untuk kembali ke apartment-nya sendiri.

"Yeol-ah, sebaiknya aku pulang sekarang." Ucap Baekhyun.

"Kau membawa mobil atau kendaraan sendiri?" tanya Chanyeol.

"Ani. Aku mencari taksi saja."

Chanyeol pun berdiri dari tempat duduknya, "Tunggu disini. Aku mengganti bajuku dulu."

Gadis itu tidak mengerti dan hanya memperhatikan Chanyeol yang kembali ke kamarnya. Sembari menunggu dia mengusap punggung Dubu yang tertidur di pangkuannya. Perhatiannya teralih pada ponsel Chanyeol yang tertinggal di meja. Tiba-tiba ponsel itu menyala yang menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Ada sesuatu yang membuat Baekhyun terkejut, latar belakang ponsel lelaki itu adalah foto mereka ketika berlibur di Jeju sekitar satu setengah tahun sebelumnya.

Awalnya Baekhyun ingin meraih ponsel itu. Tapi belum sempat dia mengambilnya, Chanyeol sudah keluar dengan pakaian casual-nya.

"Aku akan mengantarkanmu pulang."

"Tidak perlu, Yeol-ah. Aku bisa pulang-"

Ponsel Baekhyun pun berbunyi. Jung Daehyun.

"Halo?"

"Baekhyun-ah, kau dimana? Aku ingin mengantarkan tugas yang harus dikumpulkan besok lusa. Aku menunggumu sedari tadi di depan pintu apartment-mu."

"Oh, mianhae, Daehyun-ah. Aku sedang di apartment Chanyeol karena harus berlatih untuk konser nanti. Aku sebentar lagi akan pulang. Kau tunggu sebentar, eoh?"

"Di apartment Chanyeol? Ah, aku jemput saja kesana. Aku turun sekarang."

"Daehyun-ah kau- AISH!"

Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun pun akhirnya buka suara, "Jung Daehyun?"

"Hm. Kau tidak perlu mengantarku, Yeol-ah. Daehyun… sedang dalam perjalanannya kemari."

Lelaki itu memunculkan wajah tidak sukanya, "Menjemputmu? Kalian berkencan, hm?"

"Tidak! Aku tidak akan pernah mau berkencan dengannya."

"Lalu kenapa kau membiarkan dia menjemputmu?"

Baekhyun mulai kehilangan kesabarannya, "Dia menutup teleponnya sebelum aku selesai berbicara, kau tahu."

"Tapi tetap saja kau suka jika dia menjemputmu begini."

"YA! Kau ini kenapa? Kau tidak suka? Ini urusanku dan kenapa kau berkata begitu? Kau tidak punya hak, Park Chanyeol!"

"Geez." Chanyeol mendudukkan dirinya lagi, "Baiklah, aku memang tidak punya hak untuk mencampuri hubungan kalian, 'kan?"

"YA! KAU!"

Baekhyun pun akhirnya berdiri dan membiarkan Dubu terkejut dan berlari menjauhinya. Karena dia sudah tidak sabar, dia mengambil tas nya dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari apartment itu.


"Aku memutuskan untuk berduet dengan Daehyun saja." Ucap Baekhyun siang itu saat baru saja memasuki studio latihan.

"Jung Daehyun? Kau yakin? Bukannya kau menolak habis-habisan sebelumnya?" tanya Minseok tidak percaya.

"Aku lebih baik bersama Daehyun saja!" serunya seraya mengetukkan kepalanya dengan microphone yang ada di depannya.

"Wait, kalian bertengkar lagi?" ucap Luhan.

Baekhyun pun berdiri dan menengadahkan tangannya ke atas, "DEMI AYAM DENGAN SAUS PEDAS, AKU MEMBENCI SI TELINGA LEBAR!" teriaknya yang menyebabkan ke sepuluh orang lainnya menoleh ke arahnya.

"Dia… kenapa?" bisik Kris pada Tao yang duduk di sampingnya.

Tao hanya bisa tersenyum paksa dan berkata, "Dia hanya butuh obat penenang."

"Hubungi Daehyun dan suruh dia kemari sekarang juga." Ucap Kyungsoo yang sedang merapikan partitur yang berserakan di hadapannya.

"Okay, I'll do that." Baekhyun mengeluarkan ponselnya, "Halo? Daehyun-ah! Datang ke studio sekarang! Kita latihan untuk konser!"

"Daehyun? Apa kau terlalu memikirkannya sehingga menyebut namanya ketika meneleponku?"

'WAIT!'

Baekhyun menutup mulutnya ketika melihat siapa yang dihubunginya. Park Chanyeol. Segera dia menutup sambungan telepon itu. Kakinya serasa lemas dan dia hanya bisa mendudukkan dirinya di lantai.

"Baek, kenapa?" tanya Kyungsoo.

"AKU BENCI HIDUPKU! AAARGH!"

Pintu studio-pun terbuka. Seseorang berpostur tinggi masuk dengan gitar yang tersemat di punggungnya. Tanpa sadar lelaki itu menabrak seseorang yang sedang terduduk di lantai studio tersebut.

BUGH!

"YA!"

"ACK!"

"KAU! Banyak kursi dan kau memilih duduk disini. Bodoh!"

Baekhyun pun berdiri, "Bisa tidak kau berhenti mengatakan bahwa aku bodoh, ceroboh, tidak berotak, dan lainnya?!"

"Kau sendiri yang tidak berusaha mengubah sifatmu sama sekali!"

"Seharusnya itu tidak menjadi masalahmu, bukan? Sudah, pergi! Aku akan melaksanakan tugas ini dengan Daehyun saja!" ucapnya seraya menunjuk Chanyeol yang berdiri di hadapannya.

"Lagi-lagi dia, geez." Chanyeol tertawa kecil, "Kau benar-benar berkencan dengannya, 'kan?"

Baekhyun benar-benar kehilangan kesabarannya kali ini. Dengan mata yang memerah, dia berkata, "Iya, Park Chanyeol. Aku berkencan dengannya. Apa itu jawaban yang kau butuhkan? Hm?"

Chanyeol hanya terdiam dengan jawaban Baekhyun. Dia sama sekali tidak bereaksi dan hanya menatap manik gadis itu lekat-lekat. Semua orang disana juga hanya terdiam melihat kedua orang yang sama-sama berapi-api tersebut.

"What?" ucap Chanyeol akhirnya.

"Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan, huh?"

Lelaki itu menggigit bibir bawahnya dan melemparkan pandangannya jauh-jauh. Dia terlihat tidak percaya dengan jawaban yang baru dilontarkan oleh Baekhyun.

Disaat mereka bersitegang, ponsel Baekhyun berbunyi, "Halo?"

"Baekhyun-ah, kau mau makan siang bersamaku?"

"Kau dimana sekarang? Aku akan menyusulmu, Daehyun-ah."

Baekhyun meninggalkan studio itu tepat setelah sambungan telepon itu ditutup. Sebelum dia meninggalkan ruangan itu, sempat dia melirik Chanyeol yang mendelik ke arahnya. Di sisi lain, Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya, hanya bisa mengacak-acak rambutnya kasar. Entah apa yang dipikirkannya, dia terlihat sangat kesal kali ini.

"Kau menempuh jalan yang salah, hyung." Ucap Sehun, anggota termuda disana.

"Maksudmu? Aku tidak mengerti."

Dengan pandangan yang masih tertuju pada partitur di tangannya, "Kalau kau masih ingin bersamanya, kau harus merengkuhnya, bukan mendorongnya sejauh mungkin. Mendorongnya bisa menimbulkan dua kemungkinan. Dia akan meminta pertolonganmu, atau meminta kepada orang lain. Kali ini kau mengerti, 'kan?" Ujar Sehun.

'Apa benar aku masih ingin bersamanya?'


Chanyeol terduduk di balkon apartment-nya sore itu. Baekhyun tidak pernah menghubunginya semenjak kejadian di studio. Padahal konser kurang dari seminggu lagi. Awalnya berusaha tidak peduli, tapi ujung-ujungnya dia memikirkan gadis itu juga.

Dubu, kucing kesayangannya tertidur di pangkuannya. Masih ingat di benaknya bagaimana Baekhyun merengek untuk mengadopsi Dubu dua tahun lalu. Jika Chanyeol mengingat kejadian itu, dia merasa gemas dengan sikap Baekhyun yang seperti anak kecil. Dan dia juga masih ingat bagaimana ketika Dubu baru saja di bawa pulang, Baekhyun benar-benar memperlakukan kucing itu layaknya seorang bayi.

Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Dia ingin pergi ke sebuah restoran tempat Baekhyun menyanyikan lagu yang paling disukainya dulu. Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, akhirnya dia sampai disana. Semuanya masih sama seperti dulu, hanya saja dia datang sendirian sekarang.

Ketika dia memasuki restoran itu, dia mendapati seorang gadis dengan rambut hitam sebahunya sedang duduk disana. Pandangan gadis itu menerawang pada kaca jendela yang ada di samping kirinya. Di telinganya tersemat earphone yang mungkin sedang memutar sebuah lagu. Chanyeol yang mengamati gadis itu dibuat tertegun ketika air jatuh dari kedua matanya.

'Baekhyun-ah, what's wrong with you?' batinnya ketika melihat Baekhyun disana.

"Baek?" sapa Chanyeol yang akhirnya menghampiri Baekhyun.

Gadis itu hanya mengalihkan perhatiannya sebentar dan kembali menerawang ke jendela. Dia berusaha tidak peduli dengan kedatangan Chanyeol disana.

"Baekhyun-ah…" panggil Chanyeol yang akhirnya mendudukkan dirinya di depan Baekhyun.

Gadis tersebut menghela nafasnya seraya melepas earphone yang terpasang di telinganya, "Kau ingin membuat masalah lagi? Aku sedang tidak ingin berdebat, Yeol-ah."

"Tidak, Baek. Aku hanya… Kenapa kau menangis?"

"Entah. Aku merasa akhir-akhir ini selalu mengalami kesialan. Bahkan hari ini, ketika rehearsal pertama dimulai, aku tidak bisa mengikutinya karena aku tidak punya partner."

"Daehyun?"

Baekhyun tertawa kecil, "Si keparat itu? Aku tidak pernah mengajaknya sekalipun. Dia sudah membuatku muak karena sudah mengikutiku kemanapun aku pergi. Bahkan aku memarahinya dua hari yang lalu karena sudah mencoba memelukku tiba-tiba. Sekarang dia entah kemana. Aku sudah berusaha mengajak Sungjae dari departemen fotografi, tapi di hari konser dia harus ke Jepang karena mendapatkan sebuah proyek disana." Ucapnya diakhiri dengan senyumnya yang kecut.

"Kenapa kau tidak pernah menghubungiku lagi? Hm?"

"Untuk apa? Agar aku bisa bertengkar denganmu?"

Chanyeol tidak bisa menjawab ketika melihat air mata Baekhyun mengalir deras di pipinya. Di dalam hatinya dia ingin beranjak dan memeluk Baekhyun saat itu juga. Tapi sayang, dia terlalu menuruti ego dan memilih untuk diam di tempat duduknya.

"Aku lelah harus bertengkar denganmu, Yeol-ah…"

"Baek, aku tidak bermaksud-"

"Apa menyayangi seseorang akan berakhir sesakit ini?" Baekhyun kembali menerawang ke jendela di sampingnya, "Aku pikir dengan setahun berpisah kita bisa menjadi teman ataupun seperti sebelum kita berkencan. Ternyata semua sama saja. Kau dan aku masih saja bertengkar layaknya anak kecil. Sesungguhnya aku juga merindukan pertengkaran itu, Yeol-ah. Tapi tidak seperti ini.

Ketika melihat barang-barang di apartment-mu, aku merasa seperti pulang ke rumah. Apalagi ketika Dubu menyambutku ketika aku baru saja datang. Dia saja merindukanku, kenapa kau tidak bisa? Kenapa kau selalu mencari masalah jika bersamaku? Kau ingin mendorongku sejauh mungkin padahal aku berusaha menarikmu dengan segenap tenagaku."

"Baek, aku hanya-"

"Kau masih ingat, aku selalu menemanimu ketika masalah datang. Disaat orang tuamu bertengkar, aku rela menembus tengah malam hanya untuk menjemputmu. Kau tentu juga masih ingat ketika aku harus terjaga ketika kau sedang sakit. Aku merindukan itu meskipun aku harus mengorbankan waktu dan tenagaku."

"Bisakah aku menjelaskan sesuatu padamu?" tanya Chanyeol yang diakhiri dengan anggukan dari Baekhyun, "Maafkan atas sikapku yang menyebalkan akhir-akhir ini. Aku sadar jika kita sama-sama seperti anak kecil dulu. Aku selalu menuntut ini itu disaat kau sedang sibuk. Dan kau juga sering merengek ketika keinginanmu tidak dikabulkan. Asal kau tahu saja, aku tidak mengubah sedikitpun dari apartment kita karena aku hanya ingin mengingatmu setiap harinya. Mengingat bagaimana caramu membangunkanku setiap paginya. Mengingat bagaimana kita harus membersihkan semuanya bersama. Bahkan aku masih menyimpan semua bingkai foto yang beberapa kau pecahkan karena pertengkaran kita sebelum kau memutuskan untuk kembali ke apartment lamamu.

Aku sadar jika aku berusaha mendorongmu sejauh mungkin. Tapi ternyata aku masih berdiri di tempat yang sama. Kau tahu, kenapa aku selalu emosi jika kau menyebut nama Daehyun? Karena aku cemburu, Baek. Hanya karena itu."

Baekhyun tertawa mendengar kata-kata itu, "Kau selalu cemburu karena dia."

"YA! Tentu saja! Dia selalu membuntutimu kemanapun kau pergi. Bahkan ketika kau berkencan denganku! Dia itu stalker, sasaeng fans!"

"Aku tidak berkencan dengannya, Yeol. Asal kau tahu saja."

Wajah Chanyeol berubah sumringah, "Benarkah?" dia tertawa terbahak-bahak, "Sudah kuduga itu tidak akan pernah terjadi."

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Kenapa kau begitu senang, huh?"

"Karena berarti aku masih punya kesempatan untuk bersamamu lagi nantinya. Aku tidak berjanji untuk mengubah semua sikapku, tapi aku akan berusaha. Akan tidak sama hasilnya jika aku berjanji tetapi tidak bisa menepati. Apa aku benar?"

"Kau selalu benar, Chanyeol-ah." Ucap Baekhyun dengan senyumnya.

"Kemarilah," Baekhyun mendudukkan dirinya di samping Chanyeol, "Kau tahu, aku tidak pernah suka ketika melihatmu menangis. Karena kau adalah seseorang yang hanya menangis ketika sebuah masalah berat datang. Jangan menangis lagi."

Baekhyun tersenyum walaupun dengan wajah yang sembab, "Jangan bertengkar lagi."

"Arra. Mari kita buktikan bahwa kita tidak akan berakhir pada ending yang sama."


"Sudah kubilang jangan menerima bunga darinya!"

"Aku tidak tahu kalau ini dari dia!"

"YA! Jelas-jelas kau tahu dia menyerahkannya padamu ketika di panggung!"

"Geez, Chanyeol-ah! Harus berapa kali aku menjelaskan bahwa aku tidak menyukainya? Berhentilah protes terhadap hal-hal kecil seperti ini!"

Kesepuluh orang lainnya hanya bisa memperhatikan kedua orang itu bertengkar untuk kesekian kalinya. Hanya karena bunga dari Yunho, salah satu mahasiswa yang mengagumi Baekhyun habis-habisan.

Konser berjalan sukses hari itu. Proyek mereka untuk tugas akhir selesai dengan lancar. Banyak yang mengatakan kolaborasi mereka sangat apik dan layak dinikmati khalayak umum nantinya. Hanya saja kejadian dimana Yunho menyerahkan bunga pada Baekhyun di panggung membuat mood Chanyeol berantakan ketika lagu masih belum selesai.

"Aku lelah mendengarkan mereka bertengkar." Keluh Minseok yang kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak Jongdae.

"Sudah berapa kali mereka bertengkar hari ini, huh?" tanya Kris kemudian.

"Entah, telingaku sudah cukup lelah mencernanya." Ucap Junmyeon menimpali.

Baekhyun yang kesal tiba-tiba menyeruak diantara Kyungsoo dan Luhan yang duduk berdampingan, "Demi ayam dengan saus pedas aku akan memotong kedua telinganya." Gumamnya.

"Berhentilah bertengkar. Aku lelah mendengarkan kalian seperti ini." Ucap Luhan.

"Dia selalu cemburu dengan hal-hal kecil, Lu. Bagaimana aku tidak kesal?"

"Bicarakan baik-baik. Jangan memakai emosi. Kalau kalian bertengkar seperti ini terus, bisa-bisa kalian akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya." Kata Tao.

"NO!" seru Chanyeol dan Baekhyun bersamaan.

"YA! Kenapa kau mengikutiku?" tanya Chanyeol.

"Kita mengatakannya bersama-sama, telinga lebar!"

"YA! Nenek sihir!"

"What?"

Chanyeol tersenyum kikuk, "Sorry…"

Baekhyun hanya bisa tertawa melihat Chanyeol menggaruk tengkuknya dan menunduk. Kemudian dia berjalan menghampiri kekasihnya yang berdiri tak jauh darinya.

"Hugh, such a good boy…" ucapnya seraya memeluk Chanyeol yang masih mematung disana.

"Akhirnya…" gumam Luhan yang menghela nafas setelah melihat kedua temannya berkonsiliasi.

"Tunggu, aku masih tidak mengerti. Siapa si telinga lebar? Siapa si nenek sihir? Jelaskan padaku, Junmyeon-ah…" rengek Yixing.

"Bolehkah aku membunuh kekasihmu yang super jenius itu, Kim Junmyeon?" tanya Kyungsoo yang memulai peran pembunuh berdarah dinginnya.

.
.

END.