Title: Butterfly

Cast: Kyuhyun and others

Genre: Family, brothership

Rating: T

Warning: Gaje, typo(s), cerita pasaran, OOC, dll

Disclaimer: Cerita ini murni milik saya. Jangan dibaca kalau memang tidak mau membaca.

Summary: "Uljima, Kyuhyun-ie tidak boleh menangis lagi ya. Kyuhyun-ie kan sudah jadi hyung, jadi harus kuat."/"Jja, Henry naik ke punggung hyung. Palli!"/"Kyuhyun-ah...!"/"Aku memakannya, eomma."

.

.

Butterfly

Chapter 1

(The Story Begin)

Ctik ctik ctik

Bunyi tombol yang ditekan keras berulangkali menggema di ruang tamu yang sepi. Gerutuan tidak jelas sesekali terdengar dari bibir merah yang mengerucut lucu -seperti moncong bebek kata ayahnya. Bocah yang baru menginjak umur tiga tahun itu meletakkan benda persegi yang sedari tadi menemaninya membunuh sepi. Tulisan 'game over' -yang bahkan ia tidak tau bunyinya apa- terpampang dilayar hitam itu.

"Ugh...," keluhnya lalu beranjak dari sofa merah yang sedari tadi ia gunakan sebagai tempat duduk. Mata karamel miliknya berputar untuk menengok pintu rumahnya yang masih tertutup.

"Naaaa..." Rengeknya dengan logat cadelnya lalu berlari menuju dapur. Ia memeluk kaki wanita muda yang selama ini mengasuhnya.

Wanita itu tersentak kaget mendapat pelukan pada kakinya. Beruntung ia tidak sedang memegang panci penggorengan saat ini. Wanita dengan baju merah muda yang sedang mencuci sayuran itu menangguhkan pekerjaannya, lalu berjongkok -menyesuaikan tingginya dengan bocah menggemaskan berpipi bulat itu.

"Eoh, ada apa Kyuhyun-ie sampai mengangetkan noona?"

Senyum yang diulas oleh noona cantik -menurut bocah berpipi bulat itu- membuat bocah yang sedari tadi memajukan mulut itu sedikit mengubah ekspresinya.

"Ppa...Mma..." Ucap bocah berpipi bulat bernama Kyuhyun dengan bahasa yang tidak jelas namun ditangkap oleh wanita itu.

Wanita duapuluhlima tahun dengan nama Im Yoona itu tersenyum. Ia meraih Kyuhyun lalu menggendongnya.

"Appa dan eomma Kyuhyun-ie pasti akan pulang sebentar lagi. Kyuhyun-ie rindu appa dan eomma, uhm?" Tanya Yoona disambut anggukan cepat oleh Kyuhyun. Wanita itu tersenyum manis, membuat bocah dengan logat cadel itu ikut tersenyum.

"Sebentar lagi mereka pulang sambil membawa adik bayi, adik Kyuhyun-ie."

Kyuhyun berkedip beberapa kali mendengar penuturan Yoona. Ia tidak mengerti. Siapa itu adik bayi? Apakah mainan baru yang akan dibawakan orangtuanya? Atau apa?

"Adik bayi itu yang dibawa di perut eomma Kyuhyun-ie." Ulang Yoona lagi pada Kyuhyun yang masih tampak tidak memahami ucapannya.

"Ddiii... ddiii..." Kyuhyun tertawa sambil menepuk kedua tangannya. Berpikir jika appanya akan pulang dengan adik bayi diperut eommanya.

Yoona dibuat gemas dengan tawa renyah dari bibir Kyuhyun. Ia mencium pipi bulat itu, menimbulkan tawa yang semakin menggema dari Kyuhyun.

"Jja, Kyuhyun-ie main lagi, ya. Noona harus masak dulu untuk appa dan eomma Kyuhyun-ie." Yoona menuntun Kyuhyun untuk duduk di karpet bawah -dengan mainan berserakan disana. "Kyuhyun-ie tidak boleh nakal, ne?" Kyuhyun mengangguk. Yoona menjawil pipinya pelan lalu kembali ke dapur.

Sepeninggal Yoona, bocah bernama Kyuhyun itu meraih buku gambar yang tergelatak disampingnya. Ia juga meraih seperangkat crayon yang biasa digunakan olehnya.

Goresan-goresan tidak beraturan mulai nampak di buku yang semula berwarna putih mulus. Senyum tidak lepas dari wajahnya yang menggemaskan.

"Ppaa...Mmaa...Yuu...Dii.." dan berakhir dengan tepukan gembira dari bocah tiga tahun yang tengah bermain sendiri di ruang tamu yang luas.

.

.

.

Apa yang Kyuhyun pikirkan selama seharian ini ternyata salah. Ia pikir adiknya akan dibawa pulang dengan masih berada di perut eommanya. Ia pikir apa yang Yoona katakan tadi pagi seperti itu. Tapi, kenapa appanya yang pulang sendirian itu justru menunjukkan gambar yang Kyuhyun baru tahu jika itu bernama adik bayi. Dan yang lebih membuat Kyuhyun tidak mengerti, adik bayi yang dimaksud oleh Yoona ada dalam gambar yang ditunjukkan ayahnya.

Kyuhyun bingung, sungguh bingung. Ia ingin bertanya lebih pada appanya yang masih tersenyum sambil menunjukkan gambar itu. Namun, hanya kata-kata tidak jelas yang lagi-lagi Kyuhyun katakan.

"Kyuhyun-ie senang, bukan? Besok Henry akan pulang bersama eomma." Jelas pria itu -Hangeng- pada putranya.

Namun, respon yang diberikan putra sulungnya itu justru diluar dugaan. Kyuhyun menangis dengan keras sembari berlari menuju pintu depan. Hangeng langsung berteriak khawatir dan mengejar putranya.

"Huwwwaaaa...! Weeeee...!" Tangis Kyuhyun semakin keras. Tubuh kecilnya berdiri tegak didepan pintu sembari merentangkan tangan. Seolah menghalangi siapapun yang akan masuk kedalam rumah melalui pintu tersebut.

"Ada apa, Kyuhyun-ie, uhm? Kyuhyun-ie senang 'kan punya adik?" Hangeng berjongkok didepan Kyuhyun yang mengusap lelehan airmata dipipi bulatnya yang telah memerah karena tangis.

Kyuhyun hanya menggeleng dengan keras. Ia ingin mengatakan jika ia tidak mau benda yang disebut appanya sebagai adik bayi itu pulang. Namun, yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata tidak jelas yang bahkan Hangeng sendiri tidak tau maksudnya.

Pria itu mendekati putranya. Namun, tangis Kyuhyun justru semakin menjadi. Kulit wajah putranya yang semula berwarna putih pucat kini telah memerah.

"Huweee! Hiks...hiks...hiks..."

Tak tega melihat Kyuhyun yang menangis semakin keras, maka Hangeng segera mendekap putranya. Tangannya mengelus rambut kecoklatan milik Kyuhyun. Sesekali mulutnya membisikkan kalimat bernada menenangkan untuk putranya itu.

Selang dua puluh menit kemudian, tangis Kyuhyun mereda walau sesekali masih terdengar isakan dari bibir merah itu.

"Uljima, Kyuhyun-ie tidak boleh menangis lagi ya. Kyuhyun-ie kan sudah jadi hyung, jadi harus kuat."

Hangeng mencoba merayu putranya untuk berhenti menangis. Terdengar kalimat-kalimat tidak jelas dari bibir Kyuhyun. Pria bermarga Cho itu hanya tersenyum skeptis menyadarinya. Putranya itu termasuk sangat terlambat dalam berbicara. Di usianya yang sudah menginjak tiga tahun, Kyuhyun bahkan belum bisa mengucap kata 'appa' dan 'eomma' dengan benar. Ia dan istrinya telah membawa Kyuhyun ke dokter. Menurut dokter, tidak ada yang aneh dari pertumbuhan anaknya. Hanya saja Kyuhyun memang sedikit terlambat dalam berbicara.

"Eomma dan Henry akan pulang lusa. Kyuhyun-ie ikut appa menjenguk mereka, ne?" Tawar Hangeng.

Kyuhyun yang masih terisak tidak bereaksi apapun selain sibuk dengan lelehan airmata yang sesekali turun.

"Jja, sekarang waktunya mandi."

.

.

.

Mata bulat itu mengerjap berulang kali. Wajah bingung justru membuatnya terlihat berkali lipat lebih menggemaskan.

"Dia adik Kyuhyun-ie. Namanya Cho Henry." Hangeng berucap pelan. Ia melirik istrinya -Heechul- yang duduk menyandar di ranjang rumahsakit. Heechul hanya melempar senyumnya.

"Bukankah Henry sangat lucu, Kyuhyun-ie?" Giliran Heechul yang berucap. Ia mengelus pelan kulit kepala putranya yang baru lahir beberapa jam lalu.

"Ddiii...diiii..." ucap Kyuhyun sedikit keras. Membuat bayi yang tengah terlelap itu sedikit terusik dengan menggeliatkan tubuhnya.

"Ssttt...Kyuhyun-ie tidak boleh berisik. Nanti Henry terbangun."

Dan hanya dijawab dengan anggukkan kepala oleh Kyuhyun yang sama sekali tidak berpaling dari Henry. Hangeng mendekati istrinya lalu menggenggam tangannya.

"Setidaknya Kyuhyun tidak menangis seperti katamu tadi, Han."

Hangeng berganti mengamati Kyuhyun yang tengah tersenyum lebar karena melihat Henry yang kembali tenang dalan tidurnya. Kemudian kembali menatap istrinya dengan tatapan teduh. Ia hanya tersenyum lalu mengecup pucuk kepala sang istri.

"Ya. Dan terima kasih telah memberiku dua putra yang lucu."

.

.

.

"Kyuhyun, appa dan eomma akan pergi sebentar. Kau jaga adikmu, ya. Jangan biarkan Henry bermain diluar area rumah."

Bocah sepuluh tahun itu mengangguk. Ia tersenyum manis saat kedua orangtuanya mengecup kepalanya dan Henry secara bergantian.

"Oh! Dan jangan lagi memakan coklat didepan Henry! Henry pasti akan merengek meminta benda perusak gigi itu nantinya."

Kyuhyun merengut mendengar pantangan sang eomma.

"Ne, eomma." Jawabnya lesu. Heechul tersenyum karena Kyuhyun yang menurut.

"Kyuhyun-ie, Henry-ya, appa pergi dulu. Jangan bertengkar selama kami pergi."

Dua bocah berselisih tiga tahun itu mengangguk hampir bersamaan. Hangeng tersenyum tipis lalu mengusak rambut kedua putranya.

"Heenim, ayo!"

Wanita cantik itu mengangguk kemudian segera masuk kedalam mobil. Walau ada rasa tidak rela karena harus meninggalkan kedua putranya di rumah sendirian. Ada urusan penting yang harus ia bereskan bersama Hangeng dan tidak bisa membawa keduanya. Memang hanya dua jam, tapi kekhawatirannya sebagai ibu tidak berkurang.

"Kami pergi dulu. Kyuhyun-ie, jaga Henry! Jangan membuka pintu untuk orang yang tidak kalian kenal. Eomma menyayangimu."

Lambaian tangan Kyuhyun dan Henry membalas setiap ucapan Heechul. Kyuhyun menghela napas saat mobil yang ditumpangi ayah dan ibunya menghilang di belokan jalan. Ia merangkul Henry yang belum mengalihkan mata dari tempat terakhir mobil kedua orangtuanya terlihat.

"Jja, Henry-ya. Ayo masuk. Kita main didalam."

Henry mendongak pada sang kakak. Mengulas senyum manis di pipi putihnya yang bulat seperti kue mochi.

"Ne, Hyung-ie. Kita main!"

.

.

.

"Henry, jangan lari-lari terus! Nanti kalau kau jatuh, eomma akan marah."

Bocah sepuluh tahun itu menumpukan tangannya pada lutut. Ia mengelap peluh yang menetes di keningnya akibat terlalu lama berlari di halaman rumah yang tidak bisa dibilang sempit ini.

Brugh

"Huweee..."

Benar kan. Belum ada semenit Kyuhyun berkata seperti itu dan sekarang Henry telah tersungkur di rerumputan. Kyuhyun segera berlari pada Henry.

"Hyung...appo..." isak Henry seraya memegangi lututnya yang memar.

"Omo! Henry jangan menangis, ne? Sini biar hyung gendong Henry kedalam."

Kyuhyun berjongkok didepan Henry. "Jja, Henry naik ke punggung hyung. Palli!" Dengan gerakan pelan Henry naik ke punggung Kyuhyun.

"Wahh... Henry berat juga, uhm." Komentar Kyuhyun karena lumayan kesusahan menggendong tubuh Henry yang berisi itu.

Henry memajukan bibir. Tangisnya telah berhenti sejak Kyuhyun menggendong tubuhnya. "Henry tidak gendut, Hyung-ie..." balasnya.

Kyuhyun tertawa. "Kan hyung hanya bilang kalo Henry berat. Itu artinya Henry tidak gendut."

"Jeongmal?" Tanyanya antusias.

"Uhm" Kyuhyun mengangguk.

Dan sepertinya Kyuhyun harus menyesal, karena setelah itu Henry langsung melonjak dalam gendongannya. Tubuhnya yang memang tidak segemuk Henry langsung oleng. Dan berakhir dengan Henry yang menimpa tubuhnya yang tersungkur di halaman.

"Aduhh... Henry memang tidak gemuk. Tapi jangan melonjak-lonjak saat hyung menggendongmu."

.

.

.

"Cukup, Heenim! Kau tidak perlu menghukum Kyuhyun-ie sampai seperti ini." Ucap Hengeng pada istrinya. Kemudian menarik pelan Kyuhyun yang tengah menahan tangis di pojok ruang tamu dengan kedua tangan yang memegang telinga dan satu kaki yang dinaikkan.

"Itu pelajaran agar dia menjaga Henry dengan baik. Lihatlah lutur Henry yang memar karena terjatuh! Kalau Kyuhyun menjaga adiknya dengan baik, seharusnya ini tidak terjadi."

Tatapan tajam ia layangkan pada Hangeng yang tengah memeluk Kyuhyun. Bagaimana mungkin Henry kecilnya sampai mengalami memar seperti itu. Padahal hanya dua jam Henry di rumah bersama Kyuhyun. Ia bahkan tidak pernah membiarkan Henry terluka seujung jaripun.

Hangeng menghela napas panjang. "Kyuhyun hanyalah anak kecil. Terkadang ia akan bermain sesuai keinginannya. Lagipula itu bukanlah luka serius. Hal itu wajar dialami anak seusia Henry."

"Tapi Kyuhyun adalah seorang kakak. Ia tidak boleh egois pada adiknya." Tutur Heechul terdengar sangat egois.

"Eomma... Kenapa Hyung-ie harus berdiri disitu?" Henry yang tidak mengerti dengan situasi kali ini menarik ujung rok ibunya. Heechul menunduk. Dengan cepat mengubah tatapan tajamnya menjadi lembut saat menatap Henry.

"Itu hukuman untuk Hyung-ie. Ayo kita ke kamar, Henry." Tanpa mengatakan apapun pada suaminya, Heechul menuntun Henry menuju kamar.

Sekali lagi. Hangeng menghela napas kasar. Ia mengelus kepala Kyuhyun dan menciumnya beberapa kali.

"Jangan menangis lagi, ne? Appa akan menemanimu tidur malam ini." Hanya anggukan pelan yang dirasakan Hangeng. Dengan langkah lebarnya, ia berjalan menuju kamar putra sulungnya.

.

.

.

Srek srek srek

Suara mata pensil yang beradu dengan kertas gambar terdengar lebih keras dari biasanya. Suasana yang sepi membuat gerakan yang seharusnya tidak bersuara itu mendominasi ruangan.

Krek

"Huhh...patah." keluhnya sambil mengamati pensil yang kini patah menjadi dua bagian. Sedetik kemudian, pensil itu telah berpindah kedalam tempat sampah di pojok kamar.

Kyuhyun beranjak dari kursi lalu melangkah mendekati jendela. Ia menyibak gorden yang menutupi jendela, menampilkan langit kota Seoul yang tengah diselimuti awan. Malam yang gelap, tanpa cahaya bulan.

Bocah kelas empat sekolah dasar itu menghela napas panjang. Wajahnya terlihat keruh. Jelas sekali ada beban yang sedang ia pendam.

Tatapan ceria yang biasa ditampilkan saat bersama sang adik, hilang tak berbekas. Menerawang jauh, hanya ada kesenduan di wajah putihnya.

Srett

Ditengah lamunan, Kyuhyun melihat ada seberkas cahaya yang menyorot kearahnya. Seperti cahaya senter yang berasal dari rumah sebelah. Tunggu. Jika berasal dari rumah sebelah, berarti dari rumah Changmin.

"Kyuhyun-ah...!"

Ternyata benar. Cahaya itu dihasilkan dari senter yang tengah Changmin bawa. Kyuhyun membuka kedua sisi jendela lebar-lebar lalu memperhatikan Changmin yang berdiri diambang jendela kamar.

"Ada apa, Chang?" Balas Kyuhyun tanpa berteriak -seperti yang Changmin lakukan, mengingat jarak jendela kamar mereka hanya sekitar lima meter.

Changmin duduk disisi jendela. Mengarahkan senter yang sedari tadi ia nyalakan tepat pada Kyuhyun.

"Ishh... silau, Chang! Singkirkan itu!" Keluh Kyuhyun sambil menyipitkan mata. Mendengar keluhan Kyuhyun barusan membuat Changmin meringis minta maaf. Ia kemudian mematikan senter tersebut dan meletakkannya di lantai.

"Kau belum tidur?" Tanya Changmin, sedikit menajamkan penglihatannya. Lampu kamar Kyuhyun sepertinya dimatikan dan hanya disinari oleh lampu belajar yang samar-samar bisa Changmin lihat dari tempatnya duduk. Sementara Changmin sendiri masih menyalakan lampu kamarnya karena ia baru masuk kamar setelah selesai mengerjakan tugas dibantu oleh eomma dan appa-nya di ruang tamu.

Kyuhyun mengikuti Changmin dengan duduk disisi jendela kamar miliknya. Kedua bola matanya menerawang jauh ke langit.

"Belum bisa, Chang. Aku sedang belajar merangkai kata menjadi kalimat setelah pulang les tadi. Tapi...," jeda. Kyuhyun menghela napas. "Kenapa sangat sulit jika belajar sendiri? Padahal saat saenim memberi contoh ditempat les tadi terlihat sangat mudah." Lanjutnya.

"Kau tidak bosan terus mengikuti les seperti itu?"

"Sangat bosan sebenarnya. Tapi mau bagamina lagi, Chang. Eomma ingin aku bisa membaca dengan baik."

"Itu karena ahjumma ingin yang terbaik untukmu. Kata orangtuaku, setiap ayah dan ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitu, Kyu." Jelas Changmin sembari menirukan logat ayah dan ibunya. Kyuhyun tersenyum tipis mendengar celoteh sahabat sekaligus tetangganya itu.

Obrolan kedua sahabat itu berlanjut. Sampai satu jam kemudian, terdengar teriakan Jaejoong -ibu Changmin- yang menyuruh anaknya itu untuk segera tidur.

.

.

.

Pagi yang cerah telah datang. Saatnya orang-orang memulai harinya lagi dengan lebih semangat. Begitupula Kyuhyun. Senyum lebar tidak lepas dari wajahnya sejak bangun tidur.

"Wahh... ada telur dadar." Seru Kyuhyun lalu menarik kursi yang berhadapan dengan ibunya.

Heechul mengulas senyum. "Ini spesial untuk Kyuhyun-ie sarapan. Maafkan eomma, ne? Kemarin eomma terlalu khawatir pada Henry sampai menghukum Kyuhyun-ie seperti itu." Tutur Heechul pada putranya.

Kyuhyun hanya mengangguk. Pada intinya ia tidak terlalu memperhatikan apa yang ibunya ucapkan. Namun, ia masih mendengarnya. Matanya tidak lepas dari telur dadar yang sepertinya hanya ada satu di piringnya.

"Henry-ya... Ayo cepat sarapan." Heechul menoleh pada Henry yang tengah berjalan menuju meja makan.

"Aku mau duduk disitu!"

"Eh?"

Ketiga orang di ruang makan itu berseru kebingungan.

"Aku mau duduk disitu!" Ulang Henry dengan ketus sembari menunjuk kursi yang tengah ditempati oleh Kyuhyun.

"Kenapa tidak disamping eomma saja? Kan disina masih ada tempat, sayang." Bujuk Hangeng sembari meneguk kopi.

Henry tidak bereaksi. Hanya saja bibirnya mengerucut imut dan kedua alisnya menyatu.

"Baiklah. Henry, duduklah disini. Hyung akan pindah kesamping."

Kyuhyun beranjak dari kursinya. Tidak lupa membawa sepiring telur dadar miliknya.

"Dan aku juga mau makan itu! Eomma..." rengek Henry. Kyuhyun menatapnya bingung. "Maksud Henry?" Tanyanya pada sang adik.

"Aku mau makanan itu, Hyung-ie..."

"T-tapi ini milik hyung, Henry. Lihat di meja makan ada nasi goreng kesukaan Henry." Kyuhyun menarik piringnya kesamping. Lalu menunjuk pada nasi goreng di ujung meja.

"Aku tidak mau. Aku hanya mau itu..." rengek Henry dengan mata memerah.

Hangeng hanya menghela napas. Ia melirik istrinya yang juga nampak kebingungan.

"Sudahlah, jangan berdebat. Heenim, buatkan satu lagi untuk Henry." Suruh Hangeng pada sang istrinya.

Heechul tergagap. "Itu telur yang terakhir. Di dapur sudah tidak ada telur lagi. Aku lupa membelinya."

Menghela napas. Hangeng menatap kedua putranya yang tidak biasa berdebat apalagi disaat sarapan seperti ini.

"Kyuhyun-ie, kemarikan telurnya." Ucap Hangeng. Kyuhyun terlihat akan menolak namun Heechul melempar pandangan untuk menuruti sang appa. Dengan sedikit tidak rela, Kyuhyun mengulurkan telur dalam piring itu pada Hangeng.

Pria berkacamata itu mengambil sendok lalu membagi telur dipiring itu menjadi dua bagian. Setengah bagian ia letakkan di piring lain kemudian ia angsurkan pada Henry. Dan setengah bagian yang tersisa di piring ia berikan pada Kyuhyun.

"Jja. Sekarang makanlah. Ini lebih adil."

Kyuhyun menatap nanar telur yang kini tersisa setengah. Bukannya ia tidak mau berbagi pada adiknya. Namun, mengingat alasan kenapa ibunya membuat telur dadar spesial itu untuknya, ada rasa tidak rela yang menelusup dihatinya.

"Wow... appa hebat. Hehe..." Henry mengacungkan jempolnya pada sang ayah. Mulutnya melengkungkan senyum manis.

Melihat Henry yang tidak lagi merengek membuat Heechul tersenyum. Ia melirik suaminya yang kembali sibuk dengan koran pagi ini. Kemudian, Heechul berpaling mengamati Kyuhyun yang belum menyentuh telur di piring makannya. Berbeda dengan Henry yang tengah menyuap telur dengan lahap kedalam mulut.

"Kyuhyun-ie, kenapa tidak dimakan?"

Suara Heechul membuat Kyuhyun menoleh pada ibunya. Ia tersenyum.

"Aku memakannya, eomma."

Ya. Seharusnya ia memang harus sadar. Jika ingin menjadi kakak yang baik, maka ia harus mengalah pada adiknya. Itu pilihan yang terbaik yang ibunya berikan.

.

.

.

.

Benarkah? Lalu, apakah yang terbaik selalu benar?

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Maaf masih pendek.

*jgnketawalagipengenpakekataSAYAbukanAKU

Saya kembali dengan fanfic baru, tapi dg genre yg hampir mirip fanfic sebelumnya. Maaf juga karena jarak antara prolog sama chapter satu lumayan lama.

Oh ya. Ada yg protes sama tulisan 'SEMI-HIATUS' di akun ini?

Sebenarnya, berat buat pasang tulisan itu. Tapi, mohon maaf buat readers semua. Berhubung saya udah kelas 12, jadi harus lebih fokus sama pelajaran. Status semi hiatus juga buat ingetin saya kalo harus nomor satu-kan belajar. Ya, maklum lah. Kalo udah keenakan nulis, kadang sampe lupa kalo harus belajar.

Saya gak sepenuhnya hiatus kok. Kalo saya mau update cerita ya bisa aja. Tapi, dg catatan jangka waktu yang gak tentu. Bisa aja saya update chapter selanjutnya di bulan depan. Atau kalo gak dua bulan sekali bakal update fanfic. Tapi, inget! Ini gak pasti loh!

Gak enak banget sih. Kan biasanya saya sebulan bisa udpate dua atau tiga kali. Terus ini T_T mianhee...

But, don't worry. Saya bakal balik nulis seperti biasanya(read:normal) sekitar bulan Juli. #yakelahngomongajatahundepangitu -_-

Aduh, tisu mana tisu -_- *lupakan ini.

Buat yg review kemarin:

KuroiIlna/mayakyu/Younghee/meimeimayra/simahiro/siyohyuncho/Lily/blackbee/HyukRin67/Atik1125/kyukyu/AnandaELF/michhazz/LeeGyuWon/Apriliaa765/ChoKyuhyun34/jnonk/ratna/Lenychan/Nanakyu/nenkkurnia/Guest/Liilakyu/Choding/Songkyurina/btobae/Cuttiekyu94/rain/Awaelfkyu13/dd/abelkyu/sparkyuNee13/readlight/FitriMY/kyuli99/anaenyKyu/yulielf/WonhaesungLove/UL/triya/lydiasimatupang2301/angelsparkyu/MissBabyKyu

Terima kasih buat kalian. Ada yg belum kesebut? Maaf kalo kecewa sama chapter ini. Dan juga maaf kalo pada pengen muntah akibat curhatan saya yg seolah jadi orang paling menyedihkan di dunia ini*apaini?!

Udah ah, gitu aja.

Sekali lagi terimakasih. Dan maaf karena kita bakal jarang ketemu(?)/

Last, thank you very much*bow.

See you again.

July 24, 2016

.

With Love,

Jung Je Ah