Jimin | Yoongi | flash fiction | R-18 | lil Idol!AU | I don't take any profit with this chara | beware '-')/

.

Do not plagiarize!

.

(Hope you can) enjoy!

.

.

.

.

Blue Version.

.

.

Jimin merasa senang sekali dengan acara musik penutup tahun 2015 ini. Ia bisa melakukan semuanya dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkan Yoongi lagi. Yah, meski untuk beberapa performa leader mereka tak bisa ikut tampil.

Dan setelah semuanya selesai, mereka diberi jatah liburan hampir seminggu penuh dan bebas untuk melakukan apapun yang mereka mau.

Semua member sudah memiliki rencana masing-masing untuk berlibur. Dan kebanyakan dari mereka memilih untuk pulang ke kampung halaman masing-masing.

Terkecuali untuk Yoongi...

Yah, semuanya sudah tahu kalau secara tak langsung ayahnya telah mengusirnya pergi ketika Yoongi memilih jalan hidupnya untuk menjadi seorang rap artist ketimbang apa yang diinginkan oleh ayahnya.

Jadi untuk kali ini, seperti biasa Jimin akan diajak oleh Yoongi ke Busan.

Tetapi sepertinya Yoongi memiliki alasan lain untuk pergi. Ada tempat yang ia pikir harus didatanginya. Ada penyesalan tertinggal yang menurutnya perlu dipertanggungjawabkan sebagai seorang penyanyi yang memiliki banyak penggemar sepertinya.

.

Pagi-pagi yang dingin di dorm Bangtan, semua anggotanya telah terbangun dan bersiap-siap dengan koper mereka masing-masing. Tetapi tidak dengan Jimin dan Yoongi.

Yoongi masih didalam kamarnya tanpa muncul sedikitpun untuk menyapa membernya. Jimin bilang ada sesuatu yang perlu dibereskannya bersama kekasih pucatnya itu. Jadi Jimin akan pergi lebih siang daripada lima member lainnya.

Namjoon yang agak curiga dengan keduanya segera mendesak Jimin untuk mengatakan masalahnya. Namun Jimin tentu saja segera memberi alasan yang tepat pada leadernya bahwa semuanya baik-baik saja dan tak perlu ada yang dikhawatirkan pada Yoongi—yang juga belum keluar dari selimutnya pagi itu bahkan sampai sisa member yang lainnya telah berangkat. Pergi ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu keluarga mereka.

.

Jimin menghela napas berat. Setelah mengantarkan semuanya sampai pintu depan. Kini hanya ia dan Yoongi yang masih berada di dorm.

Well, sebenarnya sejak semalam Jimin sudah melarang Yoongi habis-habisan karena rencana konyolnya yang membuat Jimin tentu saja khawatir setengah mati. Yoongi bilang ingin pergi ke Jepang sendirian. Jelas Jimin melarangnya. Akhirnya mereka bertengkar sampai pagi ini. Karena sungguh, alasan Yoongi benar-benar terlalu melankolis sampai membuat Jimin kesal karena Yoongi bilang ia ingin ke tempat dimana mereka membatalkan konsernya kemarin di prefektur Kobe, Jepang.

Jimin lalu menghampiri sebuah kamar dimana terdapat Yoongi yang masih bergelung dalam selimut didalamnya. Jimin menghampiri ujung ranjang untuk mendekati dan membangunkan pemuda tersayangnya itu.

Jimin menatapi wajah pucat sayunya yang terlihat agak sembab. Sepertinya Yoongi menangis semalam. Ah, apa karena Jimin begitu menyakitinya karena larangannya?

"Yoongi-hyung..." Jimin memanggil pelan. Lengannya ia bawa untuk mengusap surai pirang mint milik Yoongi yang begitu halus.

Perlahan Yoongi membuka kedua matanya. Ia sudah terbangun dari tadi dan sengaja ia tak ingin menyapa Jimin lebih dulu dan membiarkan pemuda itu menghampirinya.

Yoongi bergumam kecil sebagai jawaban. Ia terlalu malas untuk bersuara. Namun ketika Jimin mendaratkannya sebuah ciuman selamat pagi di kedua kelopak matanya mau tak mau membuat Yoongi mengerang malas dan akhirnya ia mau bersuara juga. Hanya untuk memanggil nama Jimin.

"Jimin..."

Jimin tersenyum kemudian. Ia lalu meraih kedua bahu Yoongi untuk membuatnya terduduk diatas ranjang.

"Nah, sekarang cepat mandi dan siapkan semua barang-barangmu. Kita ke Busan hari ini—"

Jimin belum menyelesaikan perkataannya, namun Yoongi telah lebih dulu memprotesinya.

"Jimin! Sudah kubilang aku ingin pergi ke Jepang!" Yoongi menyahut keinginannya.

"Aku sudah memutuskannya." Jimin menghela napas sekali lagi. "Kita akan ke Busan lebih dulu baru setelah itu kita akan ke Kobe bersama-sama. Aku takkan membiarkanmu pergi sendirian."

Yoongi menunduk kemudian. Ia menggigit bibir bawahnya dan meremasa jemarinya sendiri. Jimin sungguh begitu mencintainya. Ia bahkan rela menuruti permintaan kekanakkan Yoongi sampai ke Jepang. Dan kini ia bingung harus bagaimana mengungkapkan rasa terimakasihnya pada kekasih yang lebih muda daripadanya itu. Yoongi tak pandai mengungkapkan sesuatu.

Jimin yang melihatnya tersenyum. Ia mengusap kepala Yoongi kemudian mengangkat wajahnya untuk menatapnya tenang penuh kehangatan. "Yoongi-hyung, aku mencintaimu."

Lalu Jimin memberikan sebuah pagutan manis yang selalu Yoongi sukai setiap pagi.

Jimin lalu mengulurkan tangannya pada Yoongi. Yoongi yang menatapnya tersenyum kecil dan membalas uluran tangan itu dengan genggaman lembutnya.

Jimin lalu mengeratkan genggaman mereka dan mengajaknya berdiri. Yoongi mengikutinya lalu Jimin menuntun Yoongi dan juga dirinya untuk berjalan kearah kamar mandi.

Mereka berdua akan bersiap-siap untuk pergi ke Busan.

.

.

Tak perlu perjalanan yang terlalu melarutkan, keduanya telah sampai di Busan. Jimin segera membenahi penampilannya agar sebisa mungkin tak dikenali oleh fans. Begitu pula dengan Yoongi yang memakai syal tebal hitamnya.

Tak butuh waktu yang lama juga untuk sampai ke kediaman keluarga Park, akhirnya mereka sampai dan disambut dengan begitu hangat oleh semua yang ada disana.

Yoongi merasakan kedua pipinya menghangat. Kebaikan keluarga Jimin selalu membuatnya terharu dan merindukan sosok keluarga yang sebenarnya. Bahkan ibu Jimin saja memperlakukannya sama seperti anaknya sendiri. Mengkhawatirkan Yoongi yang sebelumnya sakit, membuatkannya sup ayam ginseng hangat, memberinya nasihat yang baik, dan memeluk Yoongi ketika ia membicarakan Jimin yang membuatnya menangis semalam karena perdebatannya itu.

Pada akhirnya, satu malam Yoongi habiskan bersama keluarga Park di Busan. Yoongi senang. Ia merasa sangat bersyukur bahwa keluarga Jimin dapat menerimanya dengan hangat. Hal itu membuatnya semakin menyayangi Jimin bagaimana pun caranya.

Jimin memakaikan Yoongi sebuah syal tebal abu-abu yang akan dikenakannya untuk pergi ke Jepang. Mereka kini sedang menunggu jadwal pesawat yang akan ditumpangi untuk segera take off.

Yoongi terus-menerus menggenggam erat lengan Jimin. Udara dingin yang menusuk benar-benar membuatnya butuh kehangatan. Tadinya Yoongi ingin membeli kopi panas lagi. Tetapi Jimin telah lebih dulu melarangnya dan mengatakan bahwa Yoongi sudah minum satu kali hari ini dan itu harusnya cukup.

Ukh, Yoongi pikir itu menyebalkan. Tetapi memikirkannya membuat Yoongi mengerti kalau Jimin begitu perhatian padanya.

Yoongi memang tak bisa memberikan apapun untuk Jimin. Tetapi Jimin memberikan apapun untuk Yoongi. Memikirkan hal itu sebenarnya cukup mengganggu Yoongi. Ia takut Jimin lama-lama akan meninggalkannya...

Ah tetapi untuk apa mengkhawatirkan hal seperti itu. Jimin pernah bilang padanya untuk berhenti memikirkan hal-hal tak berguna seperti itu karena yang namanya Park Jimin telah mengunci dirinya dengan Min Yoongi. Semua akan baik-baik saja.

.

.

Sesampainya di Kobe, bukannya mencari penginapan hotel untuk mereka tinggal disana, tetapi Jimin lebih dulu membawa Yoongi untuk pergi ke rumah makan tradisional disana. Jimin bilang Yoongi tidak boleh sampai telat makan.

Yoongi tersenyum kecil. Ia terharu dengan bentuk perhatian Jimin. Kemana saja ia selama ini baru menyadari bahwa Jimin selalu memperhatikannya sampai ke hal-hal yang tidak Yoongi sadari sekalipun?

Yoongi malah lebih sering menentang pendapat Jimin.

Jimin terlihat asyik melahap makanannya. Mereka memesan sashimi porsi regular untuk keduanya. Tetapi tiba-tiba Yoongi berhenti mengunyah dan membiarkan sebelah pipinya menggembung lucu karena makanan yang masih berada dalam mulutnya.

Jimin gemas melihatnya. Ia segera menusuk pipi yang menggembung itu dengan jari telunjuknya.

"Kenapa berhenti? Sedang memikirkan apa, hm?" Tanya Jimin.

Yoongi segera mengunyah cepat makanannya dan hal itu membuat Jimin terkekeh gemas.

.

Hari memang masih siang di Kobe bahkan setelah mereka menyelesaikan makan siang. Pada akhirnya Yoongi merengek pada Jimin untuk tidak pergi memesan hotel terlebih dulu tetapi untuk menyelesaikan keinginannya mengapa ia ingin pergi ke Jepang.

Yaitu mendatangi World Kobe Hall. Sebuah tempat dimana seharusnya Yoongi berdiri diatas panggungnya bersama yang lain tetapi saat itu ia tak bisa melakukannya, tak bisa berdiri disana, tak bisa menepati jadwalnya dengan baik, dan yang bisa Yoongi lakukan saat itu hanyalah; mengecewakan semua orang.

Yoongi menyusuri seluruh bagian dari hall besar tersebut. Jimin disampingnya menggenggam lengannya begitu hati-hati dengan penuh perhatian. Jimin selalu ada disampingnya dan menemani kemana pun Yoongi melangkahkan kedua kakinya.

Mulai dari tempat pengantrian pintu masuk ke hall, Yoongi ingin bisa merasakan bagaimana para penggemar menunggu mereka dengan senang. Namun semakin memasuki ke dalam hall, Yoongi juga ingin bisa merasakan bagaimana perasaan senang itu harus hancur berkeping-keping karena orang yang mereka harapkan tidak bisa datang dan bernyanyi disana.

Ukh, Yoongi mulai sesak. Perasaan bersalahnya menyeruak begitu kuat. Ia telah mengecewakan fans dengan ketidakhadirannya dan membuat semuanya gagal. Membuat semuanya kecewa betapa bodohnya ia dalam menjaga kesehatannya sendiri. Membuat—

Jimin menghentikan langkah keduanya lalu memutar tubuhnya untuk menubruk tubuh Yoongi dalam dekapannya. Mendekapnya erat dan menepuk punggung sempitnya dengan pelan.

Tempat hall yang cukup sepi itu jadi terasa semakin menyesakkan bagi Yoongi.

Jimin berbisik lembut dalam dekapannya. "Yoongi-hyung, tolong jangan memikirkan hal tidak penting yang hanya akan membuatmu sakit kepala lagi."

Yoongi menggeleng pelan di bahu Jimin. Ia membalas dekapan hangat itu dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung Jimin. Tetapi perkataannya sangat tidak disetujui oleh Yoongi.

"Jimin... ini hal penting bagiku, aku—"

Jimin menggeleng dan mengeratkan pelukannya untuk menghentikan perkataan Yoongi.

"Tetapi yang terpenting bagiku adalah dirimu." Jimin berbisik lagi.

Yoongi tersenyum. Entah kebaikan apa yang pernah dilakukannya sampai ia bisa memiliki Jimin sebagai seorang kekasihnya, itu begitu beruntung.

"Kalau begitu biarkan aku berdoa disini." Yoongi sama sekali tak melepas pelukannya dengan Jimin. Ia semakin menyamankannya.

Jimin mengangguk pelan. Lengannya mengusap punggung Yoongi dengan hangat.

"Meski aku bukan orang yang taat, tetapi hari ini aku berdoa pada Tuhan. Aku berdoa untuk semua orang yang mengkhawatirkanku, fans, member, staf, keluarga, dan lelaki yang kupeluk ini... Semoga semuanya bisa berbahagia selamanya meski ada atau tanpa diriku. Aku juga berdoa untuk kesehatanku dan semua member agar mereka terus sehat dan tak perlu mengecewakan fans lagi! Dan yang terakhir... aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Terima kasih telah menghadirkan seseorang yang sempurna untuk bisa kucintai selama hidupku. Park Jimin, saranghae..."

Yoongi mengakhiri doanya dan membiarkan dirinya tetap dipeluk oleh Jimin.

Jimin tak mampu berkata apapun lagi mendengar tutur kata tulus dalam bibir Yoongi. Ia hanya bisa terus menggumamkan kalimat 'aku lebih mencintaimu' dalam dekapan yang takkan pernah bosan untuk ia lakukan pada Yoongi.

Yoongi tersenyum dalam diam. Jimin memang yang tersempurna baginya. Ia akan selalu mendekap Jimin seperti ini. Selalu.

.

Jimin memesankan sebuah kamar hotel tak jauh dari sana. Hari juga sudah mulai larut ketika mereka kembali dari hall yang dikunjungi. Saat ini lebih tepat rasanya jika mereka segera pergi untuk beristirahat.

Yoongi bergumam ketika ia memasuki hotelnya bersama Jimin. Ia hanya melihat satu ranjang queen disana. Seketika pipi pucatnya merona tipis.

"Jimin... kau memesan kamar dengan satu ranjang?" Ucapnya lalu mengitari ranjang dan duduk ditepiannya. Melepas syal tebal dan jaket yang dikenakannya.

Jimin tersenyum. Ia menyalakan penghangat ruangan lebih dulu sebelum melepas jaketnya. "Ya, tidak apa-apa bukan jika kita harus tidur berdua dalam satu ranjang?"

Yoongi hanya menatap Jimin tanpa berkata apapun. Tetapi lihatlah pandangan kedua mata sayunya. Pipi pucat meronanya dan bibir yang sedikit terbuka itu mau tak mau mengundang Jimin untuk menghampirinya.

Tak disangka begitu menghampirinya, Yoongi segera merangkul leher Jimin untuk mendekat padanya. Lalu menghadiahinya satu ciuman hangat di bibir penuhnya.

Jimin menyambutnya dengan bahagia. Ia lalu membawa Yoongi untuk berbaring di ranjang dan membiarkan mencurahkan seluruh cintanya hanya untuk Yoongi.

.

.

.

.

End.

.

.

Nb : oke, maksud dari blue version itu versi curhatan yungi yang kayak di fc. Kacian yungi baperan banget orangnya ;(

Thanks to kamu yang kemarin komentar: yukiyukaji , ningrumputri , Lsya , fluxgirl , Yessi94esy , HappyHeicou , Dandelion SparClouds , Firda473 , Jimsnoona , keikke , MiNiDdangKie , hyera , Baby Yoongi , zulierieztina , teplon , , viertwin , Mykyungieluvjonginie , naranari II , MinJiSu , Siska Yairawati Putri , Diy94 , GitARMY , Dyah Cho , VABshi , siscaMinstalove , Cupid , cindyvelicia99 , KimMinus , applecrushx , INDRIARMY , missright38 , melindarenty , michaelchildhood , she3nn0 , MyNameX

yeah, terima kasih sudah membaca sampai sini dan yang sempetin komentar :3 hihi

.

.

With Love,

.

This story copyright © by Phylindan.