A request-fanfiction from my colleague in work, Fahma. She made the main idea of this story.

Idea FahmaLKim

Story alexssucchi

Characters Allah and their parents or families.

An Infinite Fanfiction

Kisah mengenai perjodohan antara Lee Sungjong dan Kim Myungsoo dikarenakan masalah yang menimpa keluarga Sungjong. Sungjong yang memiliki jiwa yang bebas, menolak dengan tegas perjodohan tersebut yang sayangnya diabaikan oleh pihak keluarganya. Di sisi lain, Kim Myungsoo malah menerima perjodohan tersebut tanpa banyak kata. Dan ketika mereka diresmikan sebagai pasangan yang belum menikahberkendala pendidikandan ditempatkan di bawah atap yang sama, ada banyak hal yang terjadi dan itu membuat Lee Sungjong frustasi. Apa sajakah hal tersebut?

This story contain BL, Yaoi, Sho-ai, typos,full of EYD, too formal words, difficult sentences to understand ('Cause I use the novel-translated language), too dramatic, repeated-words, and out of character (I guess, 'cause I don't really know, tho).

.

.

.

Chapter 2 : Lee Sungjong's Background, The Beginning of Revealed Problem

Lee Sungjong hanyalah pemuda biasa. Ia lahir di lingkungan yang biasa. Di keluarga yang biasa. Dan segala sesuatu lain yang bisa dikatakan biasa-biasa saja. Karena serba biasa, ia juga jadi menjalani kesehariannya dengan tampang yang biasa. Bahkan sekarang Sungjong sedang menulis sebuah daftar yang berisi tentang sesuatu yang biasa. Entah bagaimana ia bisa melakukan hal itu.

Biasa yang dimaksud disini adalah tepat di garis yang dinamakan rata-rata. Tidak di atas rata-rata apalagi di bawahnya.

Ia sendiri juga berteman dengan orang yang semuanya biasa, di sekolahnya yang biasa, dengan guru yang biasa, juga nilai yang biasa.

Sungjong memainkan ballpoint-nya sambil terus memikirkan kira-kira apalagi bagian dari dirinya yang biasa-biasa saja. Ia memiringkan kepalanya. Dengan malas ia melempar alat tulis berisi tinta itu dari tangannya. Ia berdiri dan berjalan ke luar kamar tanpa mau repot-repot mengambil ballpoint-nya yang menggelinding jatuh dari atas meja belajarnya, setelah melemparkannya dengan asal.

Ia menuju ruang tamu dan menduduki sofa yang juga diduduki seorang namja yang sedang memakan cemilan di tangannya sambil menonton televisi. Sungjong merebut cemilan itu dari tangan pemuda itu dan memakannya tanpa meminta izin dari si pemilik. Sedangkan pemiliknya hanya tersenyum maklum.

Kemudian laki-laki itu mendorong Sungjong jatuh dari posisinya dan naik ke atasnya. Yang didorong tidak memedulikannya dan tetap memusatkan perhatiannya pada televisi dan cemilan di tangannya. Laki-laki yang menindihnya memeluk Sungjong dengan erat.

Membuat Sungjong terganggu.

"Biasanya aku hanya diam. Tapi kali ini aku benar-benar merasa sesak," Sungjong menyikut lelaki itu di bagian dada. "Lepaskan dan menyingkirlah, Lee Sungyeol."

Yang dimaksud hanya senyum-senyum. "Kamu hangat sekali, aku tidak mau melepaskanmu," kemudian ia menyentil dahi Sungjong. "Dan kamu masih melupakan cara untuk memanggil seseorang yang lebih tua."

Sungjong melotot. "Lepaskan, Sungyeol―hyung," ia berusaha lepas dari pelukan ketat itu. "Sekarang aku sudah memanggilmu begitu, cepat lepaskan."

Sungyeol terbahak sambil menggosok rambut Sungjong dengan kasar. "Duh, dongsaeng-ku yang imut."

Sungjong melempar tubuh Sungyeol jatuh dari sofa setelah ia bisa melepaskan tangan Sungyeol. Yang dilempar hanya bisa mengaduh sambil mengelus pinggangnya. Ia melirik Sungjong yang dengan santainya kembali duduk dan kembali ke aktivitasnya yang sempat terganggu. Tidak memedulikan sedikitpun korbannya.

Sungyeol berdiri sambil menggeleng. "Aku tidak mengerti kenapa bisa kenal dengan orang sepertimu."

Sambil tetap menonton televisi, Sungjong membalas, "Kalau kamu tidak mau berkenalan denganku lagi, pergilah."

Sungyeol meringis. "Aku tidak bermaksud seperti itu, kamu tahu?"

"Tidak peduli yang mana maksudmu, tapi arti dari kalimatku juga akan tetap sama."

Tertawa, Sungyeol merasa ingin menangis saat itu juga. Kenapa bisa ia akrab dengan orang yang uncaring seperti ini, sih?

"Kita 'kan sudah berteman sejak kecil, kenapa tidak mencoba untuk memperlakukanku dengan sedikit halus?" Sungyeol duduk di samping Sungjong. Tangannya bergerak hendak mengambil cemilan yang dipegang Sungjong, yang langsung ditepis. Cemilan itu sebenarnya milik siapa, sih? Sungyeol merengek di dalam hati.

"Aku tidak ingin memperlakukan orang dengan cara yang berbeda-beda," Sungjong menatap sebentar kepada Sungyeol yang agak merengut. "Karena aku terlalu malas untuk melakukan hal itu."

Sungyeol mengerucutkan bibirnya lalu menonton televisi bersama dengan Sungjong.

Sebenarnya, Sungjong tidak sungguh-sungguh mengucapkan kalimat yang baru saja diujarkannya. Bagi Sungjong, Sungyeol adalah sosok yang istimewa di hidupnya selain orangtuanya. Sungyeol adalah sahabat berharga baginya. Ia sebenarnya sudah memperlakukan Sungyeol dengan cara yang berbeda. Tapi tampaknya Sungyeol terlalu bodoh untuk menyadarinya.

"Dimana ahjumma dan ahjusshi?" Pertanyaan Sungyeol membuyarkan pikiran Sungjong.

"Entahlah. Ketika aku pulang sekolah, mereka sudah tidak ada di rumah."

Sungyeol mengangguk-angguk sambil menolehkan kepalanya ke belakang.

Menemukan foto dirinya dan Sungjong yang masih kecil sedang bermain pasir pantai dipigurakan dengan baik di atas sebuah buffet berukuran sedang. Sungyeol membentuk senyum di bibirnya melihat salah satu kenangan masa kecilnya bersama Sungjong.

Ia menatap Sungjong yang fokus menonton acara televisi di sampingnya. Padahal dulu Sungjong adalah anak yang bersikap manis padanya. Kenapa sekarang ia malah jadi pemuda datar yang sangat jarang menanggapi kalimat Sungyeol.

Pernah suatu hari ia menanyakannya, Sungjong hanya menimpali bahwa ia menganggap apa yang dikatakan Sungyeol tidak penting untuk ditanggapi atau bahkan didengarkan. Alhasil, Sungyeol pulang dengan tetesan air mata, membuat bingung orang-orang di rumahnya.

Jari-jarinya memainkan rambut Sungjong. Mungkin kali ini Sungjong akan mendengarkannya.

"Jongie."

Sungjong menoleh sedetik. Sungyeol menghela napas.

"Aku―bulan depan, aku dan keluargaku akan pindah rumah." Sungyeol membuka topik dengan kalimat yang berhasil membuat Sungjong mengganti obyek perhatiannya.

"Apa?" Sungjong memasang ekspresi terkejut yang tidak terlalu kentara.

Sungyeol menggaruk tengkuknya. "Appa, maksudku pekerjaan Appa yang mengharuskan kami untuk pindah rumah," Ia menatap bungkus cemilan di tangan Sungjong. "Kami akan pindah ke luar kota."

Sungjong memandang Sungyeol dengan tatapan ngeri. Ia tidak ingin sahabat baiknya meninggalkannya disini sendirian. Ia tidak akan membiarkannya.

Belum sempat ia melontarkan kalimat protes. Ia mendengar pintu rumah terbuka dengan sepasang pria dan wanita yang berjalan tergesa ke arah Sungjong. Sungjong memerhatikan mereka dengan bingung.

"Appa? Eomma?" Sungjong berdiri dari duduknya. "Ada apa? Kenapa terburu-buru seperti itu?"

"Kemasi barang-barangmu, Jongie." Ibunya memerintah dengan cepat.

"Untuk apa?" Sungjong menaikkan salah satu alisnya.

Kalimat yang diucapkan Nyonya Lee, ibu Sungjong, berikutnya sebagai jawaban atas pertanyaan Sungjong cukup untuk membuat Sungjong dan Sungyeol diam di tempat dengan keterkejutan.

"Kita akan pindah rumah."

\(^◦^)/

"Eomma tidak bilang jauh-jauh hari."

Wanita itu hanya menatap anaknya yang sedari tadi mengeluh dengan tatapan menyesal.

"Kalau saja, Eomma mau bilang," Sungjong menatap ke luar jendela mobil taksi, tidak menghiraukan tatapan ibunya. "Aku pasti akan mengusahakan sesuatu, jadi kita tidak perlu terlibat dalam hal ini."

Ia menoleh ke kaca spion mobil untuk menatap bayangan Appa-nya. "Aku bahkan tidak sempat mengatakan apa-apa pada Sungyeol tadi. Berpamitan dengan pantas pun, tidak."

Sungjong menggeleng, melepaskan tangan ibunya yang memegang bahunya. Ia menyesali keadaan ini, sungguh.

Orangtuanya yang terlibat hutang dan sudah tidak sanggup untuk membayarnya. Membuat mereka harus meminta tolong kepada teman Ayahnya. Tapi tidak ada yang mau dimintai tolong, kecuali satu orang yang bernama Tuan Kim. Tidak secara cuma-cuma, ada hal yang harus mereka lakukan demi mendapatkan bantuan dari Tuan Kim itu.

Dan itu adalah dengan membuat anak dari Tuan Kim untuk kembali menyukai gadis atau perempuan. Tuan Kim selalu dilanda kegelisahan setiap hari, ketakutan akan nasib anaknya di masa depan jika ia membiarkan anaknya untuk menjadi seseorang yang menyukai sesama jenis.

Dengan itu, ia meminta orangtua Sungjong untuk menjodohkan anaknya dengan Sungjong. Dengan tujuan, supaya anaknya menyadari kalau menyukai laki-laki itu tidak sebagus yang ia bayangkan. Dan membuatnya kembali menyukai perempuan. Yang membuat Sungjong frustrasi adalah kenapa orangtuanya setuju dengan persyaratan tersebut.

Belum lagi saat ia mendengar kabar itu bersama dengan Sungyeol, Sungyeol langsung berdiri serta meninggalkan tempat tinggal mereka setelah berpamitan ke orangtua Sungjong. Ia hanya tersenyum tidak ikhlas ke arah Sungjong. Apakah pemuda itu ingin mengatakan kalau ia merasa jijik dengan keadaan Sungjong sekarang? Hal ini 'kan, bukan kesalahannya.

Sungjong menghela napas. Kenapa ia harus terlibat dengan hal serumit ini? Apa salahnya di masa lalu? Beberapa menit yang lalu ia merasa hubungannya dengan Sungyeol akan baik-baik saja, hingga kemudian orangtuanya membawa kabar buruk bagi persahabatannya. Secepat inikah ia harus menerima nasib buruk bagi hubungan mereka?

Ingin rasanya Sungjong menangis. Tapi ia tidak ingin memperburuk keadaannya dengan mengeluarkan air mata dan ingus. Ia tidak membawa tisu. Dia tidak ingin menggunakan bajunya sebagai media yang digunakan untuk mengusap salah satu atau bahkan kedua hal yang telah disebut sebelumnya. Lagipula rasa pusing yang dihasilkan setelah menangis akan membuat mood Sungjong makin buruk. Jadi ia memilih untuk tetap diam.

Ia menggaruk hidungnya. Sesekali mengintip apakah ibunya masih menatapnya, yang ternyata memang masih beliau lakukan. Sungjong merasa tidak enak. Bukannya ia ingin menolak—maksudnya, memang benar ia bermaksud untuk menolak hal yang dipaksakan kepadanya, tapi ia tidak bermaksud untuk menyakiti hati ibunya. Ini semua salah, harusnya ibunya tahu akan hal ini.

"Tidak ada jalan lain, seperti itu, 'kan?" Sungjong berkata tanpa sadar sambil menunduk.

Ibunya mengerjap. Saat menyadari maksud Sungjong, ia hanya mengangguk sedih. Sungjong memandang bagian belakang kursi sopir dengan kecewa. Andai mereka memberitahu Sungjong, setidaknya ia akan dapat melakukan sesuatu yang—ahh, berandai-andai pun tidak akan ada gunanya. Semuanya sudah terjadi, mau nasib buruk atau baik, toh semuanya sudah terlimpah kepadanya. Ia hanya perlu menjalani kisahnya walau ia tidak senang akan hal itu.

Barangkali ia bisa menemukan hikmah di akhir cerita. Itu pun kalau akhir ceritanya berjalan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ah. Pokoknya ia hanya perlu menjalani ini dan kemudian mencari jalan lain untuk keluar dari hal ini nantinya.

Ia hanya perlu membuat anak Tuan Kim itu jatuh cinta kepada gadis, 'kan? Sungjong meringis. Bukan hal optimis yang ada di pikirannya. Ia rasa ini tidak akan mudah.

Selama perjalanan menuju rumah Tuan Kim, Sungjong habiskan dengan memikirkan cara-cara yang mungkin dapat berpengaruh.

\(^◦^)/

Sungjong sedikit menganga melihat rumah besar di depannya. Dengan segera ia tutup karena tidak mau dianggap mengagumi rumah itu. Ia menoleh ke arah Appa-nya. "Kalau Ayah yakin ini bukan rumahnya, kita masih bisa menyuruh taksi itu untuk segera pergi dari sini."

Tuan Lee menatap anaknya dengan pasrah. "Sayangnya, Ayah sangat yakin kalau ini adalah rumahnya."

Walau Ayahnya berkata begitu, Sungjong masih ingin membetahkan dirinya di kursi penumpang dalam taksi itu. Yang dengan cepat harus pupus sesaat setelah sopir taksi masuk ke dalam setelah membantu mengeluarkan barang mereka dan menginjak pedal gas. Sungjong menatap bagian belakang taksi itu dengan tidak rela.

Ibunya mengambil inisiatif untuk mengusap bahu anaknya dengan lembut berusaha untuk mengurangi setidaknya sedikit dari beban yang diterima anaknya. Dan agaknya, hal itu manjur bagi Sungjong. Ia tersenyum sedih.

"Kamu masih punya kami, Jongie." Ibunya mencoba untuk menghibur.

"Ya. Tentu saja." Sungjong mengangguk.

Itu benar. Walaupun dia akan tinggal serumah dengan anak Tuan Kim, ia tidak benar-benar sendirian disana karena orangtuanya masih ada di sisinya.

Setelah melihat ekspresi anaknya yang agak melunak, Tuan Lee mengajak anak dan istrinya masuk. Ia yang menekan bel rumah.

Beberapa detik setelah ia menekan bel itu, seseorang membuka pintu gerbang berwarna coklat rumah besar di depan Sungjong. Seorang perempuan muda, cantik, yang membukanya. Sungjong sempat bertatapan dengan gadis itu.

Gadis itu bertanya setelah melihat mereka dan barang-barang mereka. "Tuan Lee?"

Ayah Sungjong mengangguk.

Tersenyum, si gadis kemudian memanggil beberapa orang untuk membawa barang mereka dan mempersilakan mereka masuk ke balik pintu gerbang, melewati halaman depan dan sampai di pintu depan.

Sungjong menahan mulutnya untuk tidak menganga melihat rumah yang begitu menyiratkan kekayaan itu. Sekali lagi, ia hanya pemuda biasa—yang sebenar-benarnya sangat biasa. Jadi agaknya hal baru bagi Sungjong melihat sesuatu yang merupakan hal yang ada di atas garis rata-rata. Saat sampai di pintu depan pun, Sungjong harus menahan rahang bawahnya untuk tidak jatuh.

Melihat pintu kayu yang dipelitur dengan cantiknya. Tergambar hiasan di permukaannya—Sungjong hampir saja menyentuh dan merabanya—dan kenop pintu yang di mata Sungjong terlihat mahal sekali. Hingga kemudian pintu itu dibuka dan memperlihatkan kondisi di dalam rumah. Sungjong menelan ludahnya. Baru pertama kali ia berkunjung ke rumah semahal ini.

Pikiran Sungjong teralihkan saat Nyonya Lee menarik tangannya yang membatu di depan pintu. Sungjong sempat berpikiran untuk tidak masuk ke dalam rumah saat melihat lantainya yang sangat bersih menyilaukan. Ia sedih saat memikirkan kotornya lantai itu kalau ia masuk ke dalam. Telapak sepatunya telah menjejak kemana-mana, hal wajar baginya untuk memikirkan hal itu saat akan masuk ke dalam rumah orang lain yang sangat bersih.

Kemudian pikirannya teralih lagi setiap kali ia melihat hal bagus di rumah itu yang belum pernah ia lihat, bahkan di dalam mimpi. Hingga mereka sampai di suatu tempat. Di depan pintu sebuah ruangan. Sungjong bisa menebak, pasti ada orang yang bernama Tuan Kim di dalam.

"Tuan Kim sudah menunggu di dalam," Sungjong ingin memakai kacamata hitam rasanya, ia merasa keren saat mengetahui tebakannya benar. "Barang-barang Tuan Lee sekeluarga akan dibawa ke kamar masing-masing."

Gadis itu membungkuk setelah membawa mereka masuk ke dalam ruangan itu dimana ada seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di sebuah sofa beludru berwarna merah marun, kemudian melangkah keluar dan pergi meninggalkan ruangan.

Lelaki paruh baya itu tersenyum ramah. Sungjong langsung membuang pemikiran tentang seorang pria gemuk berjenggot tebal saat membayangkan rupa Tuan Kim ataupun pria yang suka berkata kasar saat membayangkan sifatnya. Pria di depannya adalah orang yang baik, Sungjong bisa melihat itu dari matanya.

"Selamat datang," Pria itu melirik ke arah Sungjong. "Inikah putramu yang bernama Sungjong, Lee?"

Ayah Sungjong mengangguk dan membalas senyuman Tuan Kim. "Ya, itu dia."

"Dia tampan," Tuan Kim tertawa. "Sama sepertimu waktu masih muda dulu."

Tuan Lee ikut tertawa. "Tentu saja."

Tuan Kim mendekati Sungjong yang agak gugup. Dia tersenyum yang sedikitnya mengurangi kegugupan Sungjong. "Selamat datang di rumahku, Sungjong. Maaf telah melibatkan pemuda tampan sepertimu ke dalam masalah ini."

Sungjong melihat senyuman miris disana, kegugupannya serta-merta hilang. "Tidak. Saya justru merasa tersanjung karena Tuan Kim bersedia membantu keluarga kami." Sungjong tidak tahu makna dari apa yang ia ucapkan. Ia hanya tidak mau melihat pria ini sedih di hadapannya. Terlihat dari matanya bahwa pria ini sepertinya kekurangan tidur, yang Sungjong dapat menelaah apa masalahnya.

Sungjong membungkuk. "Terima kasih banyak."

Pria itu tertawa untuk yang kesekian kalinya—membuat Sungjong merasa bersalah telah memikirkan hal buruk tentangnya padahal mereka belum pernah bertemu. "Selain tampan, kamu juga sopan. Aku menyukaimu."

Kemudian Tuan Kim menepuk pundak Sungjong. "Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu yang mau direpotkan dengan hal seperti ini."

Sungjong menggeleng membantah, membuat senyuman terbentuk di bibir Tuan Kim. "Hal yang bagus bisa memiliki anak sepertinya, Lee." Ia menepuk rambut Sungjong sambil menoleh kepada Ayah Sungjong.

"Aku sendiri sangat bersyukur." Ibu Sungjong memeluk tangan kanan Sungjong.

Tuan Kim tersenyum lagi kemudian melangkah ke arah meja kecil dengan telepon di atasnya. Ia menekan beberapa tombol dan terlihat membicarakan beberapa hal dengan orang yang dihubunginya. Ia menutup teleponnya beberapa detik kemudian. Mempersilakan tamunya duduk setelah berkata anaknya akan datang ke ruangan itu.

"Kamu sudah mengerti akan masalahnya, 'kan, Sungjong?" Tanya Tuan Kim seusai tamunya menyamankan diri di sofanya.

Sungjong mengangguk.

"Jangan bicarakan hal itu dengannya."

"Aku mengerti."

Tuan Kim melanjutkan, "Kamu masih sekolah, bukan? Aku yang akan menanggung biaya sekolahmu."

Sungjong ingin berteriak senang, di sisi lain ia juga merasa tidak enak karena telah membuat beban baru bagi pria itu.

"Tidak perlu khawatir," Pria itu mengibaskan tangannya saat mengerti arti ekspresi Sungjong. "Kamu sama sekali bukan beban. Aku juga telah berjanji akan menolong, 'kan?"

Sungjong hanya menatap Tuan Kim.

"Sayangnya, kamu harus pindah," Rasanya Sungjong tidak perlu lagi kaget, ia sudah menduganya. "Kamu akan satu sekolah bersama anakku, sebuah sekolah favorit di sekitar sini."

Anggukan Sungjong yang jadi tanda bahwa ia paham.

"Kamu adalah pemuda yang tegar." Pujian Tuan Kim kali ini membuat Sungjong agak tersipu—karena hal itu sama sekali tidak benar. Ia sama sekali bukan pemuda yang tegar.

Pintu terbuka, membuat orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Menanti sosok yang akan muncul di hadapan mereka.

"Aku masuk." Seorang pemuda masuk dengan langkah pelan, menutup pintu, membungkukkan badannya di hadapan keluarga Lee, menatap Sungjong sebentar, kemudian duduk di samping Tuan Kim.

Dekil.

Adalah kesan pertama dari Sungjong untuk pemuda di depannya.

Bukan dalam artian sebenarnya. Tapi entah kenapa kata itu yang terpikirkan pertama kali oleh Sungjong.

"Ini anakku, namanya Myungsoo." Tuan Kim memeluk bahu anaknya.

Pemuda bernama Myungsoo itu mengangguk sopan. Sungjong masih mencari alasan kenapa ia bisa berpikir kalau pemuda itu dekil di matanya. Sikutan dari Ibu Sungjong menyadarkannya, dengan segera ia berdiri dan membungkuk.

"Lee Sungjong imnida." Setelahnya ia duduk kembali dan tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Myungsoo, namja itu tersenyum. Sungjong membalas senyumnya, dengan paksa.

Kemudian mereka mengobrol perihal ke depannya tentang Sungjong dan Myungsoo. Pembicaraan tersebut sebenarnya membuat Sungjong tidak nyaman, tapi ia harus menghadapi kenyataannya. Yang ia tidak bisa hadapi adalah tatapan Myungsoo yang terus-terusan diarahkan kepadanya.

Ia berpikir ini akan benar-benar berat.

*Cerita berlanjut ke adegan yang ada di Bab Prolog*

Sungjong sedang sibuk mennginjak orang di bawahnya. Tidak memedulikan apakah yang jadi targetnya kesakitan atau tidak. Ia tidak peduli. Ini sudah siang dan pemuda yang harusnya mengantarkannya ke sekolah masih belum juga bangun.

"Bangun kau, dasar dekil!" Sungjong dengan kasar menduduki tubuh Myungsoo, kemudian menarik kaos pendek yang dipakainya.

Yang diganggu hanya melenguh pelan tanpa berniat membuka matanya ataupun bangkit dari tidurnya, membuat Sungjong semakin kesal.

Ia menarik bantal yang digunakan Myungsoo. Pemuda itu masih bersikeras tidak bangun justru menggunakan lengannya sebagai pengganti bantal.

"Kim Myungsoo! Aku bilang bangun sekarang juga!" Perintah Sungjong sambil mencubit lengan Myungsoo yang kini kemerahan.

Tanpa disangka-sangka, Myungsoo terbangun dan membalik posisi mereka. Terlalu cepat bagi Sungjong. Kini ia terperangkap di antara kedua tangan Myungsoo yang ada di sisi kanan dan kiri kepalanya.

"Selamat pagi juga. Kim Sungjong." Namja itu tersenyum nakal lalu mendekatkan kepalanya ke arah Sungjong.

Sungjong menatap Myungsoo horor.

Yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk bagi Sungjong. Dengan cepat Myungsoo mengecup pipi Sungjong lembut. Saat melihat respon yang diberikan Sungjong hanyalah membatu, Myungsoo mengambil kesempatan itu dengan mengecup pipi sebelahnya, dengan cepat, dua kali.

Setelahnya ia bangkit kemudian dengan gesit lari ke kamar mandi.

Semua ini butuh proses di otak Sungjong. Saat prosesnya sudah memberi hasil, Sungjong dengan cepat bangkit dari posisinya. Kemudian lari ke depan pintu kamar mandi.

Menendang pintunya dengan keras, Sungjong berteriak, "DASAR PEMUDA MESUM DAN BRENGSEK!"

2-0 untuk Myungsoo.

.

.

.

To be Continued...

Story Count Words : 2.782 (Without Summary, Emoji, dots, explanation, and Author Notes).

Terima kasih bagi yang sudah membaca. Saya mengapresiasi para silent reader yang sangat banyak berkunjung ke fanfic milik Saya. Bagi yang sudah me-review, fav, ataupun follow, saya juga sangat berterima kasih.

Semoga cerita di bab ini tetap membuat pembaca untuk setia menunggu kelanjutannya.

Sekian.

17012016

alexssucchi.