Chapter 2
Aku menjatuhkan ponsel itu kesamping tubuhku. Menutup mataku untuk mengerahkan semua kesadaranku. Dan ketika keberanianku muncul aku menatapnya dengan tatapan yang sama seperti dia menatapku, "Maaf, aku bisa menjelaskannya padamu lain kali, sampai jumpa" kataku sambil berjalan melewatinya, tapi dia memegang lenganku dan memutarku sehingga kini tubuh kami bertabrakan.
"Kau mau kemana Luhan?"
Luhan?
Kenapa dia terus memanggilku Luhan padahal dia tahu aku bukanlah Luhan.
Aku menggerakkan tubuhku bermaksut untuk melepaskan diri, tapi dia mencengkeram pinggangku dengan kuat.
"Kurasa kita bisa membicarakan ini setelah kau cukup sadar" Chanyeol membelai pipiku dengan ibu jarinya, dan sentakan dari belaiannya mengalirkan jutaan listrik kedalam tubuhku. Aku menegang.
"Karena aku datang kesini untuk menjemputmu, maka aku akan mengantarkanmu pulang"
"Aku bawa mobil" kataku cepat, "Dan tolong lepaskan aku"
Chanyeol menyisihkan helaian rambut yang menjuntai diwajahku kebelakang telingaku, mengelus pipiku sebentar kemudian melepaskan tubuhku. "Kurasa kau tidak bisa menyetir sendirian dalam kondisi seperti ini"
"Aku bisa"
"Jangan membantah"
Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa ketika ia mulai menarik tanganku dan menyeretku menuju mobilnya, mendorongku masuk kemudian dia berlari menuju kursi pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya.
Kepalaku pusing. Sepanjang perjalanan dia tidak mengajakku bicara, hanya memberikan sebotol air putih yang langsung kutenggak, dan pada akhirnya aku juga tidak berniat untuk membuka suara. Aku terlalu bingung dan kepalaku tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Ketika aku mulai menyadari bahwa arah yang kami lalui tidak mengarah keapartemenku aku mulai resah, aku menoleh kearahnya dan berdehem, "Jalan keapartemenku tidak melalui arah ini"
"Siapa yang akan membawamu keapartemenmu?"
Keningku berkerut, "lalu kau akan membawaku kemana?"
"Ketempatku"
"Apa?" Aku memekik. Tidak mungkin. Ini tidak benar. Apa yang akan dilakukannya padaku ketika dia membawaku keapartemennya, Apakah dia akan menghukumku disana? "Aku bisa turun disini, tolong hentikan mobilnya"
"Kau tidak bisa turun disini sekarang" katanya tanpa melihat kearahku.
"Turunkan aku"
"Tidak"
"Turunkan aku Chanyeol"
Chanyeol menoleh dan menggertakkan giginya, "Aku tidak akan melepaskanmu sekarang"
"Turunkan aku atau aku akan melompat" Aku mulai meraih gagang pintu mobil dan melirik kearahnya berharap dia mengerti dan menepikan mobilnya, "Chanyeol turunkan aku"
"Baekhyun!"
Aku tersentak.
Dia memanggilku. Dia memanggil namaku. Dia tidak lagi memanggilku dengan nama Luhan.
"Aku sudah muak dengan permainan ini, kau harus ikut denganku dan kita selesaikan masalah kita malam ini ditempatku, itupun jika kau masih cukup sadar"
Aku melepaskan pegangan tanganku dipintu. Tubuhku melemas. Aku menatap Chanyeol, tangannya seperti menahan sesuatu, buku-buku jarinya menegang, rahangnya terkatup dengan rapat dan mengeras. Apa dia marah karena aku telah menipunya selama ini? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus menghadapinya? Apa aku harus minta maaf?
"Maaf" aku bergumam, memilin kedua tanganku dan menunduk.
"Kau ingin minta maaf untuk apa Baek?"
Oh sial, dia ingin aku mengatakannya bahwa aku benar-benar menipunya. "Maaf karena kita bertemu dalam situasi yang tidak baik, oh dan tentu saja aku minta maaf karena aku telah menipumu, dan juga karena aku mabuk" Tuhan, tolong, bisakah aku pingsan saat ini?
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Maksudmu menipu? Tidak….ini pertama kalinya dan aku tidak berniat mengulanginya lagi"
Mobil tiba-tiba menurun kecepatannya dan menepi. Aku mendongakkan kepalaku dan menyadari bahwa ini berada di basement. Ketika mesin telah mati Chanyeol keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku keluar dan mendesah.
Dia menarik tanganku untuk memasuki lift dan memencet tombol 10 yang berada didalam lift, ketika kami berdua berada didalam lift aku masih menunduk, menatap tangannya yang mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Aku bisa memastikan bahwa tanganku pasti memerah.
Lift berbunyi 'ting' dan kita keluar, dia berjalan menyusuri koridor dan memencet beberapa tombol password untuk membuka kunci apartemen.
6104.
Aku harus mengingatnya. Besok pagi aku harus keluar dari tempat ini apabila dia bermaksud untuk mengurungku.
Ketika kami sampai didalam dia menghempaskanku kesofa. Dia duduk didepanku dan memandangku dengan tatapannya yang tajam.
"Jadi katakan padaku apa yang bisa kau jelaskan sekarang"
Aku menatap mata coklatnya yang menyala. Dia marah. Aku tahu dia marah. "Err….aku benar-benar minta maaf"
Dia mengamatiku dari atas kebawah lalu mengerutkan keningnya, "Aku tidak menyangka jika Baekhyun teman Luhan adalah seorang gadis ingusan sepertimu"
"Apa maksudmu?"
"Kau kuliah dimana? Semester berapa? Apa kau saudaranya?"
Oh Tuhan. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Dia menganggapku masih mahasiswa. Sial ini pasti karena dandananku sekarang. Aku akan memastikan bahwa aku tidak akan berdandan seperti ini lagi dikemudian hari.
"Maaf bukankah aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku sudah bekerja?"
"Oh benar, kau mengatakan padaku bahwa kau baru saja dipecat. Dan kurasa itu adalah kebohongan, sama seperti kau telah berbohong untuk menjadi Luhan selama ini"
Kepalaku terasa panas, aku berdiri kearahnya sambil mengepalkan tanganku, dan dia menatapku sambil menautkan kedua alisnya, "Kau…" Aku menunjuk dengan jari telunjukku kearahnya, "Meskipun aku menipumu karena berpura-pura menjadi Luhan, aku tidak pernah berbohong tentang apa yang kukatakan. Asal kau tahu saja, aku 24 tahun, dan aku bukan gadis ingusan" Aku melepaskan ikatan rambutku dan membiarkan rambut panjang gelombangku terurai jatuh kepunggungku. Aku melihat dia terkejut, tapi aku terlalu mabuk untuk tahu apa yang tengah dipikirkannya, "Aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan padamu. Tapi aku minta maaf aku telah menipumu. Dan aku mohon tolong menjauh dari hidup Luhan mulai sekarang" Aku melemparkan tali rambutku tepat didepannya dengan pandangan marah, lalu berbalik dan berjalan dengan terhuyung kearah pintu.
Aku merasakan dia berlari kearahku dan merengkuh tubuhku yang hampir jatuh. Dia membalikkanku hingga membuat kami berhadapan, dan untuk kedua kalinya aku bisa melihat wajah tampannya dengan jarak sedekat ini. "Apa lagi sekarang?"
"Aku minta maaf oke" Aku mengerutkan keningku? Dia meminta maaf? Untuk apa? Karena telah mengataiku gadis ingusan? Aku melihat matanya, berusaha mencari kebenaran dalam matanya. Dia mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut yang berantakan diwajahku, menyisihkannya hingga kebelakang telingaku, "Kau tahu bagiamana gilanya aku ketika aku tahu kau berada di bar, dalam kondisi mabuk dan sendirian?" Dia mendesah, "Aku mengkhawatirkanmu"
"Bukan aku yang kau khawatirkan tapi Luhan"
"Ya, Luhan yang kukhawatirkan pada awalnya, tapi sialan!" Dia menatapku lagi, melepaskan tangannya yang berada dilenganku, "Ketika aku pertama kali mendengar suaramu aku tahu kau bukan Luhan tapi aku tidak percaya dengan semua ini. Demi Tuhan aku malah mempercayai semua kebohonganmu tetang suaramu yang berubah karena usia dan….."
"Maafkan aku"
"Kenapa kau lakukan ini Baekhyun? Kenapa justru kau yang menjadi Luhan? Kenapa bukan orang lain?"
"Maaf?"
Chanyeol meletakkan kedua tangannya dirambutnya dan mendesah frustasi, "Kau tahu, melihatmu disana, muntah-muntah dan mengetahui bahwa selama ini yang kuhubungi bukan Luhan tapi kau, membuatku…."
"Marah"
"Ya, harusnya aku marah tapi ini entahlah…."
"Aku minta maaf"
"Untuk apa lagi kau minta maaf?"
"Aku minta maaf karena aku mabuk, aku minta maaf karena menjadi Luhan, dan aku minta maaf karena mungkin aku membuatmu kecewa" Aku bergumam, menundukkan wajahku.
Chanyeol menarik daguku dengan sebelah tangannya, membiarkan mataku menatap tepat ke iris coklatnya, "Aku marah karena kau telah menipuku Baekhyun. Dan aku marah karena yang menipuku adalah seorang gadis yang begitu cantik dan sexy. Aku marah karena melihat penampilanmu malam ini dengan perut terbuka dan leher yang terekspos seperti itu. Dan aku marah karena kau membangkitkan gairahku"
"A…aku membangkitkan gairahmu?"
Dia mendesah, "Ya…."
Aku menatapnya. Menatap mulut Chanyeol yang indah dan terpesona. Melihat bibir itu bergerak ketika bicara dan membayangkan bibir itu melumat bibirku dengan penuh gairah. Demi Tuhan, sesuatu dalam tubuhku menggeliat. Gelora dalam tubuhku membara. Dan hanya dengan melihat mulut itu membuatku merasakan tarikan yang kuat untuk menciumnya.
Chanyeol. Tolong cium aku!
Aku tahu mungkin saat ini aku sedang mabuk. Mungkin saat ini pikiranku sedang tidak waras. Tapi tubuhku terasa lumpuh. Aku tidak bisa bergerak. Aku mendamba sebuah sentuhan dari pria yang sedang berdiri didepanku. Mendambakan sentuhannya, belaiannya dan pelukannya. Aku menggigit bibirku untuk menahan hasratku.
Dia bernapas lebih keras. Matanya menggelap. Kemudian dia menutup matanya dan mendesah, "Demi Tuhan Baekhyun, jika kau melakukan itu padaku. Aku bersumpah aku akan menyerangmu sekarang"
"Melakukan apa?"
"Menggigit bibirmu"
Demi Tuhan aku tidak sanggup lagi menahannya. Dorongan ini semakin kuat dan membuatku bergetar karena mendamba, "Cium aku!"
Aku sudah gila.
Aku yakin aku tidak sadar mulutku menggumamkan kata-kata itu. tapi aku tidak bisa menarik kembali ucapanku. Yang bisa kupikirkan hanya menatap mulut Chanyeol, membayangkan dia menciumku dengan lembut dan basah, dan pikiranku buntu. "Tolong, cium aku"
"Kau mabuk Baekhyun"
"Cium aku" Aku merintih, memegang wajahnya dengan kedua tanganku, "Kumohon" Aku tidak bisa menahan gairah ini lebih lama lagi. Jika dia tidak memulainya maka aku yang akan memulainya. Aku menarik wajahnya dan mendekatkan bibirnya kebibirku. Mengecupnya dengan kecupan ringan lalu melumatnya.
Manis.
Ya Tuhan rasanya bagaikan alcohol yang memabukkan. Ini benar-benar nikmat. Aku melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, mendorong lidahku untuk memasuki bibirnya. Dia mengerang dan membuka mulutnya, segera meraup mulut kecilku. Kedua tangannya berada dibelakang telingaku, menekan kepalaku untuk memperdalam ciumanku. Lidah kami saling membelit. Dan aku memejamkan mataku.
Ya Tuhan, ciumannya bagai candu. Bagai ekstasi yang mampu membuatku ketagihan.
Chanyeol melepaskan ciumannya dengan tarikan kuat sehingga membuat nafasku terengah-engah, "Ya Tuhan, tolong jangan hentikan aku karena aku tidak akan berhenti"
"Lakukan sesukamu Chanyeol, cium aku lagi"
Chanyeol segera menarik kembali wajahku dan mulai memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Aku melupakan segala hal batasan yang telah kuatur selama ini. Melupakan semua yang akan aku katakan. Sambil melingkarkan lengan dibahu lebar Chanyeol, aku menyerah berusaha berpikir dan membiarkan diriku terlena dalam eksplorasi lembut Chanyeol.
Ini sebenarnya tidak boleh. Chanyeol menyukai Luhan dan mungkin dia hanya menganggapku sebagai Luhan. Tapi aku terlalu menginginkannya sekarang. Bagaimana aku bisa membentuk pemikiran rasional sementara aku berada dalam pelukan pria yang tampannya melebihi Dewa? Seorang pria yang mampu membangkitkan gairah yang telah kututup selama ini?
Detak jantungku memburu dan aku tak sepenuhnya yakin akan kembali normal saat Chanyeol dengan pelan menggerakkan tangan dari punggung keperutku, lalu kebagian bawah payudaraku. Tidak pernah terpikirkan dalam imajinasi liarku jika ini akan menjadi sesuatu yang menggairahkan. Saat tangan Chanyeol masuk melewati braku dan menangkup payudaraku dengan telapak tangannya dan mulai menggoda puncaknya dengan ibu jarinya membuat aliran listrik menyengat sekujur tubuhku.
"Buka matamu" kata Chanyeol menghentikan ciuman untuk menggigit kecil leherku hingga ketepi atas t-shirtku.
Saat aku membuka mataku dan mendongak, Chanyeol memberikanku senyum yang menghangatkan tubuhku hingga kedalam jiwaku sementara pria itu menggunakan jemarinya untuk menelusuri pinggiran leher t-shirtku, "Bagaimana kalau kulepaskan bajumu ini?" Sebelum aku bisa merespon, Chanyeol menarik kaosku melewati kepalaku dan membuangnya.
Dengan napas tercekat aku memejamkan mataku. Aku tidak pernah merasa semalu ini. Aku terekspose didepan Chanyeol dengan hanya menggunakan bra berendaku. "Demi Tuhan Baekhyun, kau begitu indah"
Aku menutup mataku kembali, tidak berani membuka mataku. Hanya bisa merasakan hembusan nafas Chanyeol disekujur tubuhku. Ketika aku tidak merasakan adanya pergerakan aku mulai membuka mataku. Bertemu dengan matanya yang tengah mengagumi tubuhku, "Kumohon Chanyeol" Aku tidak percaya aku merintih, memohon kepada Chanyeol dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku melihat sudut bibirnya membentuk senyuman kemudian tangannya menelusuri tali braku dan melepaskannya, melemparnya dan matanya menatap payudaraku yang membusung dengan mata berbinar. Ini memalukan. Tapi sulit untuk berpikir rasional ketika tangan Chanyeol menelusuri lembah diantara payudaraku.
"Oh Tuhan kau sangat lembut"
Saat Chanyeol mendekatkan bibir kepuncak payudaraku yang sudah sangat peka, hempasan hawa panas berkumpul dititik tubuh bagian bawahku dan aku melupakan semua hal kecuali perasaan yang ditimbulkan oleh Chanyeol.
Aku meremas rambut hitam Chanyeol untuk memeganginya dan perlu beberapa saat untuk aku menyadari bahwa pria itu telah menyelipkan tangannya untuk membuka resleting celanaku dan menurunkannya hingga kini aku hanya memakai celana dalam.
Aku mendesis ketika tangan Chanyeol telah masuk melewati celah celana dalamku, senti demi senti yang lambat, Chanyeol membelai hingga kebagian inti tubuhku yang paling rahasia, dan aku merasa seperti akan meleleh karena hawa panas nikmat yang menyebar keseluruh urat nadiku. Hasrat intens yang diciptakan Chanyeol tidak seperti apapun yang pernah aku rasakan sebelumnya. Chanyeol mampu membuatku mendamba, dan frustasi ketika ia hanya bermain secara pelan yang membuat eranganku terdengar.
Saat Chanyeol kembali mengulum puncak payudaraku dalam-dalam, perasaan nikmat mengalir kesetiap saraf tubuhku dan membuat kepalaku terasa berat oleh nafsu dan gairah. Aku membuka mataku, melihat bibir Chanyeol yang padat mengulum payudaraku. Tanganku meremas rambut hitamnya dan aku merasa semuanya berputar. Chanyeol tersenyum padaku. "Aku tidak bisa menahannya sayang, aku akan memasukimu, tapi sebelum itu aku akan membawamu keranjangku"
Chanyeol menggendongku, aku mengalungkan tanganku kelehernya dan mencium lehernya, menghirup bau maskulinnya dan menciumnya. Dia mendesah kecil ketika aku menggigit lehernya.
Dia menurunkanku diranjangnya yang besar. Melepaskan celana dalamku lalu melepas semua bajunya dan membuatku tercengang. Cahaya remang didalam kamar itu membuat siluet tubuh Chanyeol bak patung yang dipahat dengan detil yang sangat teliti. Indah dan mengagumkan.
Lengannya yang berotot, dadanya yang bidang, dan otot perutnya yang terbentuk dengan sempurna. Pinggulnya. Oh Tuhan aku bisa gila. Dia adalah jelmaan Dewa. Ya Chanyeol seorang dewa. Dewa yang tampan dan sexy, dewa yang diciptakan untuk menjadi alat pemuas nafsu perempuan.
Chanyeol mencium keningku, menatap mataku dalam-dalam, mengelus pipiku dan mengecup bibirku pelan. Tindakan ringan itu bahkan telah membuat tubuhku bergetar karena merasakan nikmat. Tanganku terulur untuk menjelajahi wajahnya dan dia mencium telapak tanganku dengan ringan. Bibirnya mencium rahangku, leherku, belahan dadaku, perut rataku lalu beralih untuk melebarkan pahaku.
Oh Tuhan aku begitu terbuka untuknya. Chanyeol memandanginya seolah-olah dia baru pertama kali melihat organ intim wanita. Aku merasa malu dan menutupi bagian bawah tubuhku dengan telapak tangaku, "Jangan ditutupi sayang, ini indah" Chanyeol menjauhkan tanganku kemudian dia menurunkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya dibelahan pahaku.
Aku mengerang. Terangsang dengan sentuhannya yang pelan dan lembut. Lidahnya mulai membelah celah organku dan aku terkesiap. Rasanya seperti seluruh aliran listrik disetrumkan ketubuhmu. Ini nikmat, dan aku tidak punya kemampuan lagi untuk menolak ketika mulut terlatih Chanyeol menghabisi organku.
"Aku ingin memasukimu sekarang" Chanyeol berbisik ditelingaku, dan getaran itu kembali muncul. Ketika dia menggesekkan kejantanannya kebagian tengah pahaku. Semuanya terlupakan. Aku hanya merasakan nikmat menjalar disekujur tubuhku. Aku melupakan semuanya. Melupakan bahwa aku tidak pernah disentuh sampai seintim ini.
Aku menggigit bibirku dan menelan tangisan kesakitanku saat dia mencoba menerobos penghalang keperawananku. "Sial, kau begitu sempit" Dia terengah-engah saat aku memulai gerakan turun sampai kedasar hingga membuat kejantanannya tertanam penuh kedalamku.
"Benar-benar nikmat, sempit dan ketat" lalu dia menariknya keluar sedikit dan mengumpat pelan,
"Sialan kau masih…Brengsek!" Dia ingin melepasnya dan aku meringis menahan lengannya.
"Tidak, jangan! Aku baik-baik saja"
"Tapi kau masih……."
"Aku baik-baik saja" kataku sambil menurunkan tubuhku dan membuat kejantannya masuk kembali keliangku.
"Tahan sebentar cantik. Aku tahu ini akan sakit, tapi aku akan pelan-pelan" Chanyeol berkata sambil membelai pipiku, mencium air mataku dengan lembut dan mengecupku. Tuhan, kenapa kau menciptakan orang yang begitu lembut seperti ini. Aku tahu aku mabuk. Aku tahu mungkin dia hanya berpikir aku hanyalah gadis gampangan yang mudah untuk tidur dengan siapa saja. Tapi aku tidak pernah bisa menyangka bahwa aku menyerahkan keperawananku pada Chanyeol. Orang asing yang tidak mengenalku.
Dia hanya terdiam beberapa saat. Dan aku dengan senang hati mengikutinya. Memberinya waktu untuk bisa menikmati berada didalamku karena aku sendiri juga sedang berjuang untuk melawan rasa sakit dipangkalku. Aku melengkungkan punggungku hingga putingku menelusuri dadanya dan menciumnya. Lidahnya bergelut dengan lidahku dan aku merasakan otot-otat dalam organku mengendur membuatnya lebih mudah untuk diatur. Aku mulai bergerak dibawahnya tapi tangannya mengencang dipinggulku, memaksaku untuk tetap diam.
"Belum sekarang" Ucapnya, "Brengsek, aku akan keluar jika kau bergerak sayang, dan saat ini aku tidak memakai kondom" Dia menahan pinggulku dan mengeluarkan kembali kejantanannya dari liangku. Aku melihat tangannya meraba laci, mengambil foil, membukanya dan membungkusnya disekitar kejantanannya, kemudian menatapku dengan senyum, "Apa kau bisa menahannya jika aku masuk lagi?"
Aku mengangguk pasrah dan dia mulai mendorong masuk kembali kejantanannya. "Chanyeol…" aku butuh kau bergerak sekarang.
Aku bisa gila jika dia hanya diam saja tanpa melakukan pergerakan dan membelaiku seperti ini. Aku sudah terbakar untuknya. Dan memahami kebutuhanku ibu jarinya menggosok klitorisku membuatku bergetar, "Kumohon Chanyeol…."
Dia akhirnya bergerak diatasku. Pelan dengan tempo yang diatur seirama mungkin. Kemudian dia mulai mempercepat gerakannya dan aku mengerang merasakan nikmat yang menjalar ditubuhku untuk pertama kalinya. Dia begitu penuh, menggesek organku dengan keras dan aku bisa pingsan merasakan api yang membakar kepalaku. Sesuatu dalam tubuhku ingin meledak. Vaginaku bedenyut kepalaku berputar.
"Chanyeol…" aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kepalaku terasa terbakar, "Sialan Chanyeol, aku…"
"Oh Tuhan….." Dada Chanyeol melengkung lalu jatuh menindihku saat melakukan pelepasannya. Aku terengah-engah, mencoba untuk bernafas.
Lengannya mendekapku erat dan dia mencium bahuku, "Menakjubkan" gumamnya. Aku tersenyum dibawahnya. Mataku berat dan tidak bisa terbuka. Kurasa aku akan pingsan sekarang. Ketika kesadaranku perlahan mulai hilang aku merasakan Chanyeol mengguncang bahuku, aku tidak bisa membuka mataku, kepalaku pusing, dan hal terakhir yang bisa kudengar adalah umpatannya.
"Brengsek!"
-To Be Continued-
