Naruto © Masashi Kishimoto

LIFE

Warning : Typo, EYD yang tidak tepat, tidak jelas, belibet dan sebagainya.

Dibutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apapun, akan diterima dengan senang hati

Disinilah Sakura sekarang, berada dikota Paris. Kota dimana bisnis keluarganya berkembang pesat ditangan kakaknya. Ia akan memulai hidup baru. Meski mimpi buruk selalu menghantui, ia berusaha untuk bisa mengatasi seorang diri tanpa melibatkan kakaknya yang sangat over protective kepadanya. Sudah cukup ia membuat repot kakaknya itu dengan segala tingkahnya.

Sasori melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah bangunan apartement berlantai tujuh. Setiap lantai terdapat dua apartement dimasing-masing sisi kecuali lantai bawah yang hanya dikhususkan sebagai tempat hiburan dan lantai paling atas sebagai tempat meeting kerja. Sakura mengikutinya dari belakang dalam diam. Ia sama sekali tak bersuara jika tak ditanya. Dalam hati Sasori berkata Sakura berubah sejak hari itu. Sasori sendiri bingung, apa penyebab adiknya berubah sederastis ini. tak ada keceriaan, tak ada senyuman yang selalu merekah di wajah cantiknya kalaupun ada Sasori merasa semua itu palsu. Tak ada Sakura yang cerewet dan banyak bicara semuanya berubah, jika dipikir ini berawal saat Sakura pertama kali masuk high school. Ia bisa saja mencari tahu segalanya dengan menyediakan mata-mata untuk adiknya. Rencana itupun gagal karena sakura tak ingin ia melakukannya bahkan adiknya itu sempat marah padanya selama hampir seminggu dan akhirnya ia memilih menuruti adiknya untuk bebas dari mata-mata termasuk bebas dari marga Akasuna yang sangat dihormati di Jepang dan berusaha mempercayai adiknya 'jika semua akan baik-baik saja'namun kini berbanding terbalik dari kepercayaannya. Kini Sakura yang bersamanya adalah Sakura yang berbeda. Pendiam, datar dan irit kata.

Usai menyapa recepsionist, Sasori mengajak adiknya masuk kedalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai lima tempat dimana apartement Sasori berada. Pintu lift terbuka, suasana didalam apartement ini memang sepi karena memang apartement ini dibangun khusus hanya untuk sepuluh orang sahabat yang ingin tinggal dalam satu bangunan agar disaat sibuk mereka bisa saling mengunjungi ataupun bertemu secara mudah tak perlu mencari. Berharap membawa persahabatan mereka pada satu hal yang harmonis ,selalu rukun dan selalu terjaga dalam hal apapun tidak terputus.

Kakak beradik itu berdiri didepan pintu yang berukiran nama Sasori disana. Sang pemilik menekan password yang terletak disamping pintu lalu membukanya. Meminta adiknya lebih dulu masuk kedalam sedangkan Sasori sendiri membawa masuk barang-barang bawaan adiknya yang diletakkan office boy disamping pintu. Sakura memandang kedalam apartement Sasori dalam diam. Untuk ukuran seorang laki-laki sibuk apartement Sasori cukup bersih, rapi dan luas. Ada tiga pintu tertutup disana, satu beberapa langkah dari pintu, dua beberapa langkah dari pintu pertama dan ketiga berseberangan dengan pintu kedua. Ditengah tengah pintu kedua dan ketiga terdapat dapur sekaligus bar kecil karena terlihat beberap wine disana juga meja dan kursi ala bar. Dibelakang dapur terdapat balkon dengan pemandang yang indah. Dari pintu masuk, beberapa langkah lagi lalu berbelok kekiri disana ada sofa tunggal dan dua sofa panjang dibentuk seperti huruf U ditengahnya terdapat meja kaca dan didepan sofa tunggal televisi menempel di dinding. Beberapa lemari kecil ada dibawahnya berjejer secara rapi. Disamping ruang tengah terdapat jendela kaca besar berhubung dengan balkon yang lumayan luas. Tersedia sebuah sofa tunggal merah disebelah kanan, disebelah kiri ada meja bundar dengan tiga kursi dan dilantai ada karpet berbulu berwarna coklat lembut. Langitnya agak menjorok kedepan sejauh satu meter agar saat hujan tidak sampai ke balkon dan mengenai benda-benda yang ada di balkon. Intinya ini adalah apartement yang nyaman untuk ditinggali.

"kau suka apartementnya?" Tanya Sasori usai membawa barang-barang Sakura masuk kedalam kamar yang telah ia siapkan untuk Sakura sudah jauh-jauh hari sejak ia membangun apartement ini berharap Sakura ikut bersamanya tapi sayangnya adiknya itu lebih memilih tinggal di Tokyo. Bersyukur sekarang adiknya mau untuk tinggal bersamanya. Sakura menatap kakaknya yang berjalan menghampiri dirinya di ruang tengah lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan kakaknya tadi. "pergilah kekamar mu, istirahat disana" tanpa menjawab pertanyaan Sasori, Sakura berlalu pergi menuju kamarnya. Sasori menatap punggung adiknya yang perlahan mulai menjauh dalam diam sebelum dia sendiri pergi kekamarnya untuk istirahat.

.

.

Sasori keluar dari kamarnya, sekarang pukul empat sore dan ia lapar. Pergi kedapur, melihat kulkas sudah penuh akan beberapa makanan untuk seminggu kedepan. Mengambil beberapa bahan yang diperlukan untuk makan dirinya dan adiknya. Hampir 20 menit semua makanan telah siap, Sasori akan beranjak untuk memanggil adiknya namun Sakura lebih dulu keluar dari kamarnya. "ayo makan" ajaknya.

Mereka makan dalam diam, tak ada pembicaraan sebelum Sasori yang terlebih dahulu menghabiskan makanannya memecah keheningan tersebut "kau mau jalan-jalan. Ke pantai mungkin?" Sakura melirik kakaknya sejenak, tanpa ada tanda-tanda untuk menjawab. "atau mau ke menara Eiffel?"

"terserah niichan"

"baiklah, setelah ini kau mandi dan ganti baju oke. Kita akan jalan-jalan" Sakura mengangguk, Sasori tersenyum tipis melihatnya.

.

.

.

Kakak beradik itu melangkah keluar dari apartement. Sasori dengan jaket, kaos serta celana jeans sedangkan Sakura memakai dreess selutut berwarna baby blue tanpa lengan dengan sweeter merah dilehernya, rambutnya terurai panjang ditambah poni miring menjuntai indah didahinya. Cantik dan tampan itulah mereka. Belum sempat mereka berdua memasuki mobil, penjaga gerbang terlebih dahulu membuka pagar dan terlihat beberapa mobil memasuki halaman apartement. Oh ya,disini ada dua apartement. Satu apartement para directur atau ke 10 sahabat dan satu lagi untuk para orang kepercayaan mereka masing-masing. Sakura yang berdiri disamping kakaknya hanya menatap datar, mereka semua yang mulai satu persatu turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.

"yo, Sasori un. Kau mau kemana?" pria pirang panjang dikuncir dengan poni menjuntai sampai menutupi matanya menghampiri Sasori dan Sakura.

"pergi"

"huaaa, senpai mau jalan-jalan. Tobi mau ikut..?!" rengek Tobi sambil menggoyang-goyangkan lengan sebelah kiri Sasori. Gerakan tangan Tobi terhenti saat bertemu pandang dengan Sakura yang menatapnya datar. "huaaa, kau siapa? Cantik sekali" dalam sekali gerakan Tobi berdiri didepan Sakura, matanya berbinar senang.

Sakura yang merasa dirinya kini menjadi pusat perhatian teman-teman kakaknya mencoba bersikap tenang agar tidak memalukan Sasori. Sebagai bentuk kesopanan disaat awal bertemu ia harus memperkenalkan diri. "Sakura" ia memang sengaja tidak menggunakan marga apapun karena dirasa tak perlu.

"Sakura-chan, perkenalkan namaku Uchiha Obito. Tapi mereka biasa memanggilku Tobi"

Deg.. seketika mendengar marga itu fikiran Sakura kosong. Bayangan yang tidak ingin ia ingat, kini berputar layaknya video. "U-u-uchi-ha" gumam Sakura terbata-bata dan berjalan mundur dengan pandangan kosong menatap Obito. Semua kaget melihat tingkah Sakura termasuk Sasori sendiri. "ti-tidak mung-kin" perempuan merah mudah itu jatuh terduduk disertai air mata yang terus mengalir. Sakura sungguh tak menyangka, tujuannya ikut bersama kakaknya ke Paris adalah untuk menghindari orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Dan sekarang ia bertemu orang yang memiliki marga sama. Siapa dia? Apa hubungannya pria itu dengan seseorang disana?

Sasori berlari menghampiri adiknya lalu berjongkok disisi Sakura diikuti yang lainnya. "Saki, kau kenapa? Ada apa?" Tanya Sasori. Dari nadanya Sasori sangat mengkhatirkan adiknya itu. Ditangkupnya pipi Sakura dengan kedua tangannya. "Saki, katakan padaku?" Sakura menatap Sasori dengan derai air mata, mulutnya diam seakan terkunci. Sasori menghapus airmata Sakura dan seketika itu Sakura pingsan. "Saki..Saki"

"bawa dia kekamarnya Sasori dan lepas sweeternya. Aku akan memanggil dokter" ucap satu-satuya wanita yang ada disana. Wanita bersurai dark blue pendek sebahu. Tanpa banyak bicara Sasori membawa Sakura kekamarnya dan meletakkanya diatas ranjang lalu melepas sweeter yang dipakai adiknya sesuai perintah Konan.

"kumohon buka matamu Saki, jangan buat aku takut" lirih Sasori sambil menatap sendu adiknya. Hatinya gelisah. Ia menggenggam tangan adiknya erat, sesekali mengelus puncak kepala Sakura. Teman-teman Sasori menunggu diruang tengah, ikut menemani Sasori. Ini pertama kalinya mereka melihat Sasori dekat dengan cewek dan pertama kalinya bagi mereka sejauh mengenal Sasori baru kali ini melihat ekspresi lain diwajah Sasori selain seringaian, senyum tipis dan wajah datarnya.

Tak lama Konan datang membawa dokter perempuan yang datang bersama seorang perawat. Konan menghampiri Sasori, meminta Sasori menunggu diluar dan membiarkan dokter memeriksanya.

"senpai, maafkan Tobi. Sungguh Tobi tidak tau mengapa Sakura-chan seperti itu, Tobi tadi hanya berniat untuk berkenalan saja. Kau melihatnya sendiri kan senpai?" Tobi yang merasa bersalah akan keadaan Sakura meminta maaf pada Sasori. Pemuda itu hanya diam tidak menanggapi ucapan Tobi sesekali ia beranjak dari duduknya lalu mondar mandir tak jelas. Sungguh perasaannya sekarang tidak tenang. Ia takut.

"kau tahu Sasori, ini pertama kalinya aku melihat kau membawa seorang cewek ke apartementmu. Aku fikir kau sama seperti mereka yang gila kerja apalagi kau terlihat sangat khawatir dan cemas. Apa kau sangat mencintainya? Tenang saja semua akan bak-baik saja" ujar Konan mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Sasori disertai sindiran untuk delapan laki-laki yang juga berada disana.

"kau menyindir kami, bukankah kau sama gila kerja juga. Hmm" pemuda yang berada disamping Konan duduk menyeringai melihat wajah Konan memerah antara malu dan marah karena mendengar ucapannya.

"diam kau Pain. Ck menyebalkan" para laki-laki yang disindir Konan menyeringai sedangkan Tobi dan Deidara tertawa. "diamlah kalian berdua" mereka berdua langsung mengatupkan bibir melihat aura tak menyenangkan dari Konan menguar.

"memangnya dia siapa Sasori? Kekasihmu?" Tanya laki-laki bersurai hijau yang sedari tadi menyimak.

"dia Sakura, adikku"

"aappa addikk?!" Konan, Deidara dan Tobi serempak berteriak akan kekagetan mereka tentang Sasori memiliki adik.

"ya, dia satu-satunya adikku. Satu-satunya harta berharga yang kupunya. Melihatnya seperti ini membuatku takut dan gelisah"

"tenanglah Sasori seperti kataku tadi, semua akan baik-baik saja" Konan mencoba menenangkan usai menenangkan dirinya sendiri dari kekagetannya tadi.

"sejak sejak usianya sepuluh tahun aku sudah meninggalkannya, tetapi dua tahun kemudian aku kembali karena keadaan Sakura yang tidak ingin aku ingat. Dan sekarang aku kehilangannya. Adikku yang dulunya ceria, selalu bersemangat, cerewet dan manja semuanya telah hilang digantikan dengan diamnya gadis itu" tanpa sadar air mata Sasori menetes " aku selalu berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaganya, waktu iu aku memintanya untuk ikut denganku disini. Ia menolak dan aku rasa keputusanku untuk menerima keputusan yang diambil Sakura itu salah dan aku menyesal"

"Sasori.."

Pintu kamar Sakura terbuka, terlihat dokter dan perawatnya keluar dari sana dengan langkah terburu-buru Sasori menghampiri sang dokter kemudian menanyakan keadaan adiknya itu. "sebelum itu saya ingin bertanya, kenapa adik anda pingsan?"

Mendengar penuturan dokter tubuh Tobi menegang takut disalahkan. "aku sendiri kurang tau dokter. Tetapi dia pingsan setelah berkenalan dengan teman saya" jawab Sasori seadanya.

"apakah dia mengatakan sesuatu setelah itu?"

"dia bergumam marga teman saya, lalu berjalan mundur. Jatuh terduduk dan menangis kemudian pingsan"

Sang dokter mengangguk mengerti "kemungkinan adik anda mengalami trauma dan memiliki ketakutan tersendiri untuk marga tersebut. Apa sebelum ini adik anda mengalami perlakuan yang buruk?"

Sasori menggeleng "kurang tau dok"

"dibeberapa bagian tubuh adik anda terdapat lebab. Kemungkinan dia mengalami hal yang buruk sehingga membuatnya trauma seperti ini. dia juga kurang tidur. Sebaiknya untuk saat ini jangan bertanya apapun padanya, cobalah selalu disampingnya. Berikan dia kasih sayang,siapa tau ia bisa terbuka akan masalahnya. Ini resep obat yang harus ditebus. Jaga adik anda baik-baik Akasuna sama. Saya permisi." Dokter kepercayaan Sasori dan teman-temannya berlalu pergi meninggalkan Sasori dengan keterpakuaannya dan keterkejutannya. Sehingga tanpa sadar ia menjatuhkan resep obat lalu berjalan menuju kamar adiknya dengan tergesah-gesah.

Krieet..

Pintu kamar Sakura terbuka dan hal pertama yang Sasori lihat adalah adiknya sedang berbaring lemah dengan infus ditangan kirinya. Hatinya terasa sesak melihat keadaan adiknya. Sungguh ia tak mengerti apa yang terjadi, apa maksud adiknya itu dan Uchiha, apa hubungannya?. Mengambil kursi meja belajar Sakura, menggeretnya disamping ranjang lalu ia duduki, matanya pun tak teralihkan dari adiknya yang masih setia memejamkan matanya. Tangan Sasori terulur menggenggam erat tangan Sakura. Beberapa langkah kaki mendekat pun tak ia hiraukan, matanya masih focus pada adiknya.

"aku tak mengerti, ada apa sebenarnya. Dia selalu diam ketika kutanya. Aku tak mungkin memaksanya. Aku terlalu menyayanginya. Gagal, aku merasa gagal menjadi kakak yang baik untuknya"

"sudahlah un, kau harus kuat demi adikmu. Yang aku fikirkan sekarang, apa hubungan Sakura dengan Uchiha? seperti dia merasakan ketakutan dan keengganan tersendiri atau ia anti. Entahlah apa sangkut pautnya"

"aku sendiri merasakan hal yang sama" Sasori menatap pemuda bersurai hitam panjang dikuncir dengan kerutan diwajahnya. Pemuda itu berdiri disisi lain ranjang, berhadapan dengan Sasori.

"apa maksudmu Itachi?"

"ini hanya perkiraan, coba kau pastikan sendiri, dan aku tak akan ikut campur" Itachi menatap Sasori serius.

"jika ini memang ada hubungannya dengan salah satu Uchiha, aku tidak akan mengampuninya. Meski kalian berdua temanku sedari kecil" Sasori balik menatap Itachi serius "aku bisa kehilangan apapun tapi aku tidak bisa kehilangan adikku"

Konan mengelus pundak Sasori "untuk sekarang fikirkan kesehatan adikmu terlebih dulu. Serahkan semua urusan itu pada anak buahmu. Kau harus berkepala dingin untuk menyelesaikan semuanya"

.

.

.


Terima kasih yang sudah mampir dan yang meninggalkan jejak.. sayang kalian semua…