Tinggal-lah Selamanya

(sequel dari Tinggal-lah Sebentar)

文豪ストレイドッグス Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka/Harukawa35

Story and Fiction by : satsuki grey

.

.

.

.

.

Declaimer:

Pairing:

Dazai Osamu x Nakahara Chuuya

Rated:

M

Warning:

Gaje asurd, Typo merajalela, Sho-ai Sei-ai tentu saja, ADA LEMONNYA! SLASH of LOVE, OOC kewajiban, Mature Content of course, R18, MENGANDUNG YAOI BERLEBIHAN, dll warning gak jelasnya maka jangan di baca kecuali orang orang bhejat dan para hardcore of soukoku :''v / berisikk

Summary:

Setelah pertemuan itu, semuanya semakin jelas akan rasa cinta milik mereka masing-masing, namun di lain sisi Chuuya bertanya-tanya pada dirinya, apa benar dia di cintai atau tidak? (Sequel dari 'Tinggal-lah Sebentar') (Mature expilicit, KIDS STAY OUT) (hadn't words in sumarry :') )

Bungou Stray Dogs

Hurt/Comfort, Drama and Romance, Mature-of-shit, Indonesia, Dazai Osamu x Nakahara Chuuya

(Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini)

(Chapter ini chapter yang bisa di katakan sedikit membuat heran~ yahh I know… but, read it with your heart, understand the ooc… than you know what I mean :') )


.

.

.

.

.

Ruangan yang sepi dengan minimnya cahaya di sana, kembali bertautan berbagi rasa dan perasaan saat pernyataan itu meluncur mulus di mulut si raven coklat, dengan pipi merona -tidak terlalu terlihat- dia kembali memandangnya, dengan tenaga tersisa dari dirinya dia mengangkat kembali dirinya, mengeluarkan gumaman erotis kembali dari bibir ranum mungil itu, kembali menekannya dengan bibirnya yang tipis membuat sebuah suara kecupan yang terdengar panas menggema di seluruh ruangan ini, kamar ini.

Yahh awalnya mereka berada di ruang tamu, di atas sofa dan berpindah tepat, dan jangan lupakan posisi yang membuat mereka juga nyaman, terdengar gila, namun kenyataan memang selalu gila…, kan?

Dan semua ini kembali berlanjut untuk 2 tahun ke depannya, saling berbagi kehangatan bersama dimanapun jika tiba saatnya kalau mereka 'harus', 2 tahun yang penuh dengan bisikan dan godaan halus di malam hari di ruangan minim cahaya, meneguk latte-saliva di setiap tautan bibir dan erangan erotis milik mereka, dan jangan lupakan jika mereka sering melakukannya di gang gelap sunyi dekat gudang-gudang di pelabuhan kawasan Port Mafia.

Sungguh indah dunia jika kau memiliki semua yang kau mau,

Sungguh pahitnya kehidupan jika kau menyadari kalau kau sebenarnya kesepian.

Kembali pada wajah ranum di minimnya cahaya, Dazai kembali menatap Chuuya dengan kabut gairah di mata azure miliknya, tangannya mencengkram kemeja milik Dazai bibirnya mengigit bibir bawah miliknya sendiri, "Dazai…" hanya satu kata yang bisa di ucapkannya dengan keadaannya, mendengus memandang Chuuya dan perlahan dirinya memasuki tubuhnya.

"Ahhnn…, Da—daz…, uhhh" sekali suara indah itu terdengar kembali di telinga Dazai, dan perlahan menghentak dengan ritme normal, dia sungguh tau kalau kekasihnya ini tidak pernah sabaran akan tindakannya, dengan keterampilan di dirinya dia menghentakkan miliknya pada Chuuya dengan sedikit keras, "AHHNN…, TUNNGG—AH, AKHH AHNN…, DA…!" menjerit dengan salah satu bulir air mata di sudut mata indahnya.

Dazai mendekat ke telinga Chuuya membisikan sesuatu yang membuatnya merasa geli dan konyol, tentu saja, rasanya agak aneh ketika mengatakan ini pada sejenismu yang sama, persetan tentu, peduli setan tentu saja. Chuuya mendengus aneh, di tatapnya Dazai dalam simpul terpahat di wajahnya, dia tau itu simpul manis kesukaannya,

Hanya 1 kalimat yang terdengar konyol, itu…

.

"Aku mencintaimu…."

.

Mengakhiri permainan ini dengan satu kecupan panas nan manis, perlahan dan pasti Dazai mengeluarkan dirinya dari kehangatan di sana, dia yakin Chuuya menyukai ini namun apa daya dia juga kehabisan energi, berbaring di samping Chuuya, menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka yang keadaannya tanpa sehelai pakaian pun.

Dazai memeluk pinggang ramping milik Chuuya dan membenamkan wajahnya di pundaknya, sementara Chuuya masih mengambil nafas dalam, di tatapnya wajah Dazai yang sudah terlelap, namun dia masih tau Dazai belum terlelap karna tangannya masih dengan nyaman mengusap perut ramping Chuuya dengan tonjolan otot miliknya.

"Dazai…" panggilnya suaranya terdengar serak.

"Hmm?" sekarang mata Dazai menatapnya.

Hening untuk beberapa lama di suasana ini masih menatap dalam diam, yang tangan satu milik Dazai menyibak pelan helai senja milik Chuuya, dan bertanya "Ada apa, Chuuya..?" ucapnya suaranya rendah dan sedikit serak.

Chuuya masih menatapnya, masih diam memandangnya, keraguan itu memang selalu ada, memang selalu ada, "Dazai…," panggilnya dengan suara parau.

Dazai masih diam memandangnya.

"Bukan apa-apa, selamat malam…" ucapnya lalu membalikkan tubuhnya, sekarang punggungnya menatap Dazai.

Dazai hanya berdengus dengan senyuman, dan di ciumnya pundak Chuuya dan berkata, "Aku tidak yakin tidak ada apa-apa, ya sudahlahh…" dan kembali menutup matanya dengan lengan yang masih memeluk Chuuya.

Ingin sekali menanyakan satu hal, tidak rumit, tapi juga tidak yakin dia mendapatkan jawaban dengan mudahnya, dia juga tau pertanyaan yang terdengar biasa itu memerlukan jawaban yang tidak biasa, itu…

.

"Kau sebenarnya mencintaiku, dari apa?"

.

Terdengar konyol memang, dan menggelikan iya…, tentu saja, terkadang Chuuya berpikir, tidak kita berpikir, apa sebuah kasih sayang memerlukan sebuah alasan? Chuuya berpikir demikian, namun di hapusnya seluruh prasangka dan pemikiran itu menikmati segalanya yang ada saat ini…, semuanya saat ini…, dan hingga suatu peristiwa menyebabkan mereka harus berpisah dalam kurun waktu yang sangat lama.

4 tahun.

Bagaimana bisa kau melepaskan seseorang yang kau cintai di lubuk hatimu selama itu? Bagaimana bisa kau menahan semua hasrat dan rindumu di lubuk hatimu selama itu? Dan juga…, Bagaimana bisa kau mengucapkan selamat tinggal pada dia yang sebenarnya kau juga tak ingin berpisah darinya, Bagaimana bisa?

Apa terlalu naif akan semua ini? Tidak, meskipun Nakahara harus membunuh sendiri perasaan miliknya karna situasi dan keadaan yang ada, walapun dia sempat mengutuk Dazai sialan dengan membakar dan meledakkan mobil miliknya mungkin itu seperti penyemangat, 'Nahh karna mobil Chuuya sudah ku ledakkan, kau harus bekerja ekstra untuk membeli yang baru ya…' Dazai sialan! umpatnya dalam hatinya.

Namun satu kekecewaan yang mendalam, dia tidak bisa menanyakannya, tidak….

Suara dering handphone terdengar di telinganya memecahkan mimpi dan kenangannya, pukul 07 pagi alarm di handhonenya membangunkannya,

.

Mimpi, ya atau Kenangan?

.

Terkadang saat Chuuya terbangun dari tidurnya dengan sepinya ruangan mengingatkannya akan masa lalu suramnya yang sepi.

Mendengus dalam hati, tidak ada siapapun di ruangan ini masih sunyi seperti dulu, seperti saat dia pertama kali membeli apartemen ini. Duduk sebentar mengumpulkan sedikit kesadaran lalu berjalan menuju dapur untuk membuat segelas kopi dan menyiapkan air mandi untuknya, hingga suara menyapanya di pintu dapur, suara berat sedikit menggema yang selalu dia ingat.

Ingin sekali dia membunuh pemilik suara tersebut, ingin sekali namun apa daya…, rasa cinta dari hasratnya untuk membunuh Dazai lebih kecil dari rasa cintanya untuk memeluk Dazai di setiap malam, dia jujur pada dirinya sendiri…, kali ini…

"Selamat pagi Chuuya~, pastrie?" tawarnya sambil membawa sebuah plastik dengan harum manis di dalamnya yang menjalar di ruangan dapur.

Ternyata hanya mimpi yang di alaminya, sekarang adalah kenyataannya kalau Dazai sudah kembali ke sisinya.

Dengan senyuman Chuuya menjawab "Boleh, aku baru membuat kopi."

Apa mungkin…., dia bisa?


Tinggal-lah Selamanya

(jika belum membaca Tinggal-lah Sebentar harap di baca)

Chap. 2 Air Mata di Kenyataan

.

.

.

.

.

Sarapan sederhana dengan pastrie yang di belikan Dazai, kopi hangat dengan sepiring daging asap serta telur mata sapi yang panas mengawali pagi mereka yang lumayan cerah ini, Dazai menguap beberapa kali seraya merenggangkan tubuh jakungnya di udara memandang Chuuya yang tengah menyeruput kopi miliknya sambil melihat kabar berita di media sosial miliknya, hanya untuk sekedar melihat informasi tambahan.

"Chuuya" panggil Dazai, pandangannya berpindah dari layar handphone ke wajah milik Dazai di sana yang tengah melipat kedua telapak tangannya dan menopang dagunya lalu berkata.

"Jangan bermain handphone ketika makan, itu tidak baik sama sekali, kau tau itu" ucap Dazai yang berpindah posisi dari duduk di hadapannya yang sekarang duduk di sampingnya.

"Ah, maaf kalau begitu, lagi pula aku hanya mengecek timeline saja, apa salahnya?" tanya Chuuya yang masih keras kepala akan tindakkannya, Dazai menarik handphone milik Chuuya menekan tombol sleep dan meletakkannya di sampingnya.

"Tidak kok, aku ingin mengobrol denganmu, tapi melihatmu yang terlalu bersemangat akan duniamu membuatku tidak senang" ucap Dazai dengan simpulnya lalu menyeruput kopi miliknya.

"Aku tidak punya dunia apapun di sana, aku juga bukan anak remaja lagi"

"Lalu kau apa?" tanya Dazai seperti mengejek.

"Aku orang dewasa, kau Osamu sialan" ucap Chuuya seraya menginjak kaki Dazai dengan kerasnya membuat si raven coklat mengaduh pelan di iringi suara tawa.

"Yahh, soal pertemuan dengan klien tadi malam" ucap Dazai sedikit memainkan revennya sendiri.

"Hmm?" gumam Chuuya yang sekarang tengah melahap telur mata sapi di piringnya itu.

"Dia seorang wanita yang cantik, lho Chuu" ucap Dazai masih dengan senyuman.

"Hmm" Balas Chuuya dengan gumaman yang masih mengunyah telur di mulutnya.

"Kenapa kau diam?" tanya Dazai.

"Aku tidak diam, kenapa?" tanya Chuuya.

"Hehh…, biasanya responmu tidak seperti itu" nada Dazai seperti merengek meminta lebih.

"Lalu seperti apa?" sekarang Chuuya sudah merasa kesal dengan pandangan Dazai.

"Seperti, 'melaratlah kau sana dengan mimpi busukmu itu', nah begitu" ucap Dazai dengan ekspentasi di selingi wajah cemberutnya.

Chuuya sedikit tertawa "Oh, kalau begitu, dia menolakmu bunuh diri ganda begitu?" tanya Chuuya.

"Yapp! Tepat sekali, nilai seratus untuk Chuuyaku tersayang" ucap Dazai yang sekarang mengacak-acak rambut Chuuya, Chuuya menepis tangan Dazai dari sana sambil berdecih dengan semburat merah di pipinya.

"Hahaha, sebenarnya kasusnya tidak terlalu sulit, aku sudah tau akan jawabannya" ucap Dazai

"Oh,ya ada apa?" tanya Chuuya sambil merapikan rambutnya yang berantakkan karna Dazai.

"Wanita itu mengatakan temannya yang menjadi korban sudah menikah sekitar 2 bulan lalu meninggal dengan keadaan mengenaskan di sebuah hotel, sementara suaminya berada di luar negeri" ucap Dazai lalu memakan pastrie dengan isi coklat di piringnya.

"Bagaimana keadaan dia saat mati?"

"Ah, di tembak di jantungnya"

"Begitu" jawab Chuuya singkat lalu mengalihkan pandangannya dari Dazai.

"Sepertinya kau sudah biasa akan cerita yang begini, ya" simpul Dazai.

"Kau bahkan lebih mengerikan dari melubangi jantung seseorang dengan pistol Dazai" Chuuya melirik sambil menyeruput kopinya sendiri.

"Huh, itu masa lalu Chuuya" jawab Dazai santai kembali meregangkan tubuhnya yang sudah penat.

"Dan aku adalah masa lalumu" balas Chuuya, datar namun Dazai tau itu lawakan, sedikit menyakitkan.

"Kau masa depanku dan saat ini juga"

"Jangan merayuku pagi-pagi begini"

"Sebuah kenyataan"

"Tch, lanjutan saja ceritamu itu" sekarang pipinya merona mengalihkan pandangannya dari Dazai.

"Yahh, setelah di seldiki oleh polisi dan kami sebagai detektif swasta bayaran kasus ini bisa selesai dengan mudahnya" Dazai kembali menyantap sarapannya.

"Kapan kejadiannya?" tanya Chuuya.

"Kemarin sore pukul 6 kalau tidak salah, korban di temukan pukul 1 malam, saat kita sedang yahh…." Nada suara Dazai terputus saat mengingat kejadian tadi malam, tentu kalian juga tau apa itu, oh sial seandainya dia tidak membahas ini pastinya dia tidak memerah juga di pipinya.

Semburat merah di pipi Chuuya serta Dazai saat bibir tipis milik si raven coklat berkata demikian, berdehem keras memecahkan suasana aneh itu, walau mereka sudah terbiasa, yahh apa salahnya jika mereka sedikit malu saat mengungkit hal itu.

"Kenapa kau malu, Chuuya? Lagi pula kita sudah biasa" nahh benar bukan, Dazai mengangkat topik itu.

"Kau mengatakkan itu seakan-akan kita ini sudah menikah" balas Chuuya ketus dengan semburat semakin merah.

"Soal pernikahan? Aku jadi teringat akan korban tadi malam itu" Dazai bersikap sok santai dengan nada kalemnya

"Apa memangnya?"

"Motif yang biasanya terjadi, emosi dari kecemburuan atau ketidak puasan, begitulah. Ternyata teman dekatnya sendiri yang membunuh sang korban lantaran kehidupan pribadinya juga suaminya sendiri, yahh banyak masa lalu di sana sini yang tidak mau ku dengarkan sebenarnya…" ucap Dazai dengan helaan nafas di sana sambil mengaduk kopi dengan rasa chapuchino di keramik putih itu.

"Kau…, kenapa merasa jijik akan itu, Dazai?" sekarang Chuuya terpancing akan perkataan Dazai barusan.

"Hmm? Kenapa?" tanya Dazai dengan satu alis terangkat, lalu kembali berkata,

"Yahh, jika kau tanya pendapatku…, aku selalu bertanya-tanya kenapa seseorang memerlukan sebuah alasan untuk di cintai" ucap Dazai datar, nadanya seperti tidak senang akan kata-katanya sendiri.

Chuuya terdiam dengan perkataan Dazai barusan, entah mengapa rasanya dadanya sangat sesak untuk bernafas, tangannya mulai bergetar entah sebab yang tak pasti, entahlah Chuuya sedikit shock akan perkataan barusan.

"Aku merasa itu pertanyaan terkonyol, yahh itu lebih baik dari pada tidak ada yang mencintaimu sama sekali, lagi pula sang pelaku terus meneriaki itu di ruangan introgasi" ucap Dazai lalu memandang Chuuya di sampingnya.

Mata Dazai sedikit kaget memandang Chuuya yang diam dengan mata terbendung di sana, dia menunduk, melamun dengan ribuan alasan yang tak tau ingin menjelaskannya bagaimana caranya, Dazai kaget, tentu saja entah apa yang membuat Chuuya demikian, perlahan tangan dengan perban itu menyentuh pundaknya, dengan suara menggema rendahnya dia bertanya, "Chuuya, kau kenapa?"

Chuuya sadar akan lamuannya tersentak lalu menatap Dazai di sampingnya dengan tatapan keheranan, sebuah bulir air mata jatuh membasahi pipinya, mengelapnya sendiri dengan tangannya, namun jatuh sekali lagi.

"Ada apa?" tanya Dazai mengusap air mata itu.

"Aku…, bukan apa-apa ahaha, maaf…" ucap Chuuya menghapus air matanya lalu tersenyum pada Dazai yang memandangnya datar sekarang, pandangan datar atau entahlah, sulit untuk menjelaskan seperti apa tatapan Dazai saat menatapnya saat ini.

Chuuya sedikit terheran dengan pandangan itu dan berpekik "Apa?"

"Kau, tolong katakan apa yang ada di benakmu" ucap Dazai datar memegang dagu milik kekasihnya di sana.

"Apa?" tanya Chuuya berusaha menepis dagu itu pelan.

"Jangan tanya apa padaku, melainkan kau harus apa" seperti menuntut sesuatu namun tidak kasar.

"Aku tidak mengerti" jawab Chuuya heran.

"Begitu pula aku Chuuya" balas Dazai yang sama.

Hening menyelimuti mereka di detik seterusnya di jam dinding dapur, hanya dengan pikiran yang ada di benak mereka tanpa berbagi apapun pagi ini, beberapa menit berselang saat Chuuya menyelesaikan sarapannya, lalu Chuuya angkat bicara dengan membersihkan piringnya dan pergi untuk mandi, Dazai hanya mengiyakan saja dia juga lelah.

Menguap sebentar membereskan sarapannya lalu pergi ke kamar tidur milik Chuuya dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian rumah sederhana, dengan kaus putih tipisnya serta celana panjangnya berwarna hitam, lalu keluar dari kamar tidur ke ruang tamu klasik namun minimalis, berniat menyalakan televisi, namun dia menatap Chuuya saat ingin memasuki kamar untuk berpakaian.

Dazai menatapnya yang tengah buru-buru itu, entahlah, ada sesuatu di benaknya akan perlakuan Chuuya akhir-akhir ini, terkadang diam, terkadang emosi, melamun tanpa arti, meminta sesuatu yang dia juga tidak tau apa itu.

Seperti tadi malam tentunya, Dazai kaget dengan perlakuan Chuuya tapi berusaha menganggap itu hal biasa, namun tetap saja mengganggunya.

Seperti kebingungan begitu.

Menggaruk sendiri belakang kepalanya, berusaha untuk tidak memikirkan terlalu dalam akan hal itu, yahh apa salahnya mengintip tubuh elok Chuuya yang sedang berpakaian di sana, apapun itu Dazai memang selalu begini.

Dia memutuskan untuk memasuki kamar membuka pintu dengan derit pelan di dapatinya Chuuya yang sudah sedikit kemas namun masih acak-acakan dengan kemeja yang sudah rapi dan celana hitam yang sudah terpasang di kaki jenjangnya. Dazai sedikit cemberut, ah dia terlambat, sayang sekali. Memang sudah sedikit rapi namun tanpa rompi miliknya, Dazai mengambil rompi milik Chuuya yang menganggur di atas tempat tidur, memakaikannya pada Chuuya "Jangan buru – buru Chuuya" ucapnya menenangkan si mungil itu.

"Huh, kau tidak kerja?" Chuuya sedikit tersentak, ternyata dia tidak menyadari Osamu sedang memperhatikannya dari tadi.

"Jam masuk ku hari ini jadi jam 11 nanti, tadi malam aku kan lembur" jawab Dazai sambil tersenyum memandangnya.

"Hoo..., ingat janjimu agar menjadi rajin, ya" Chuuya mengancing satu persatu kancing rompi tersebut.

"Tentu, karna aku tak ingin di ganggu seperti tadi malam" simpul menawan dengan suara menggoda menganggu Chuuya sekarang.

"Bukan itu!" teriak Chuuya sambil memukul perut Dazai tepat di uluh hatinya membuatnya mengaduh, dazai tertawa sedikit.

"Haha, yahh aku tau" ucap Dazai masih tersenyum pede.

"Dasar otak udang sialan" humpat Chuuya yang sekarang memakai dasi miliknya, memandang pantulan dirinya di hadapan cermin, Dazai meraih rambut Chuuya menyisirnya dengan jarinya lembut dan mengarahkan ke samping pundak Chuuya yang kecil, namun kuat itu.

"Yahh, aku menjadi dungu karnamu" ucap Dazai yang masih sibuk akan pekerjaannya.

"Itu bawaan lahir, dasar bodoh!" lirik Chuuya pada pantulan Dazai di cermin, tidak senang.

"Hee, aku tidak boleh bilang demikian?" tanya Dazai dengan wajah ngambeknya.

"Tidak!" balas Chuuya ketus yang sekarang dasinya sudah terpasang rapi.

"Chuuya ini…" masih ngambek dengan perkataan kekasihnya itu.

Dazai memperhatikan tenguk belakang milik Chuuya, ada sedikit bercak merah karna tindakan Dazai sendiri, entah mengapa Dazai malah mendekatkan hidungnya ke sana, mendegus di sana membuat Chuuya tersentak dan kaget akan tindakannya dan memukulnya, berteriak kesal juga akan si bodoh ini, walaupun begitu dia tetap saja mencintainya.

"Bodoh, gelii!" teriaknya sambil mengusap sendiri tenguk belakangnya.

"Maaf, itu reflkes" Dazai tersenyum sok polos memandang Chuuya memerah seperti makanan favoritnya itu.

"Omong kosong, kau memang goblok tau gakk" teriak Chuuya dia memerah.

"Aku goblok karnamu" balas Dazai masih sama.

"Begooo!"

"Haha, aku bego karnamu!"

"Entah kenapa jadinya, alasan hidupmu hanya aku? Miris…" Chuuya memandang Dazai, jijik tentunya.

Dazai tertawa sambil mencupit pipi Chuuya gemas, sementara Chuuya memukulnya kuat lantaran sangat kesal dengan kelakuan Dazai sendiri.

"Chuuya mana Chokermu, biar ku pakaikan" tawar Dazai dengan tangan terbuka di hadapannya dan juga senyuman yang ingin dia hapuskan dari mulut di sana, mungkin pukulan atau tendangan sangat cukup.

"Ini" ucap Chuuya sambil menyerahkan choker hitam miliknya, dia memandang Dazai yang sekarang sudah mengambil kalung tersebut.

"Kau tidak bisa kalau tidak pakai ini kah?" tanya Dazai yang sekarang memakaikan Choker itu di lehernya.

"Tidak" balas Chuuya singkat.

"Begitu, bilang saja ingin menyembunyikan bekas kan?" sekarang simpul itu sangat menganggunya, ingin memukulnya tapi menolak karna sangat malas membuang energi demi menanggapinya.

"Bajingan kau memang" balas Chuuya kesal.

Dazai tertawa, memakaikan Choker itu pada leher jenjang milik Chuuya, memandangnya yang lebih mungil itu, tatapan Chuuya sangat kesal di hadapanya tentu Dazai menahan kegemasannya sendiri utnuk tidak mencubit pipinya yang sengaja di kembungkan itu. Setelah selesai Chuuya kembali pada cermin di hadapannya, yahh mau bagaimanapun Nakahara Chuuya adalah sosok termodis yang Dazai kenal, mulai dari sepatu, pakaian, farfum atau apapun Dazai mengahapal merek-merek favoritnya yang tergolong mahal, namun tentu dia tau Chuuya bisa membeli semuanya karna gajinya sangat besar sebagai anggota eksekutif Port Mafia, yang Dazai juga pernah merasakan kemewahan itu.

"Yahh, aku selesai" ucap Chuuya lalu mengambil salah satu helai pakainnya lagi, sebuah cardigan gantung bewarna hitam dengan lengan seperempat di sana, Dazai menatap pantulan Chuuya dari cermin, dan entah mengapa dazai malah memeluknya manja dari belakang, membuat si raven orange kesal.

"Awass, aku mau kerjaaa!" teriak Chuuya kesal sambil menjitak kepala Dazai yang sekarang bermanja di pundaknya.

"Huu aku mengantukk" rengek Dazai semakin merapatkan pelukan itu.

"Ya sudah tidur sana!" Chuuya berusaha mendorong kepala Dazai agar menjauh.

"Tapi aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk Chuuya" rengekannya semakin menjadi-jadi.

"Ambil bantal atau apa tohh, tinggal tidur aja kenapa susah begituuu" Chuuya semakin kesal dan mendorong kepala Dazai semakin keras, dia bisa terlambat.

"Sensasinya beda" balas Dazai masih dengan nada yang sama.

"Bodoh!" balas Chuuya ketus.

"Aku bodoh karnamu"

"Awas kau manusia perbanan, aku mau kerja, ada waktu nanti malam, jadi awas!" ucap Chuuya yang sekarang dahinya sudah penuh urat kesal di sana.

"Heee…, janji, ya~" rengek Dazai.

"Tidak sihh" balas Chuuya datar masih berusaha menolak Dazai.

"Hummph, bahkan aku belum menyelesaikan yang tadi malam" sekaang Dazai menatapnya yang sangat dekat itu.

"Kau ungkit itu ku hajar kau!" teriak Chuuya di sertai wajah ranum parah.

"Eh, garang ah" Dazai menatapnya dengan senyuman kemenangan.

Dazai melepas pelukan itu membuat Chuuya menarik kerah kaos miliknya, Dazai mengangkat lengannya tanda dia menyerah. Malas menggubris Dazai, Chuuya mengambil parfum milknya lalu menyemprotkan sedikit ke tubuhnya, dia yakin dazai akan menjahilinya jadi dia menyemprotkan sedikit ke hadapan Dazai, membuat Dazai tersentak.

"Jangan main-main ah, aku mau kerja, ada waktu luang nanti malam" balas Chuuya menolak tubuh Dazai di hadapannya pelan dengan tatapan mafia kesalnya itu.

"Yahh, kalau ada" dengan nada sedikit kecewa di lontarkan Dazai.

"Jangan berkata begitu" balas Chuuya sedikit tersenyum, menepis sedikit raven coklat tua milik Dazai, lalu berjalan melaluinya.

"Yahh…" Dazai malah merebahkan dirinya di atas tempat tidur seraya membanting tubuh jakungya di sana, dia kelelahan.

"Aku pergi" ucap Chuuya lalu membuka engsel pintu kamar dan keluar dari sana.

Dazai berusaha memejamkan matanya dan menghela nafas panjang namun di detik berikutnya dia tersentak, terduduk lalu berlari sambil berteriak "Chuuyaaa~~~!" dengan nada merengek miliknya.

Chuuya mengambil sepatu miliknya memakainya, saat membuka pintu apartemen miliknya dia mendengar teriakan manja itu lalu menajwab dengan ketus "Apa lagi!?" sambil menoleh pada Dazai di belakangnya.

"Cium!"

Perkataan Dazai membingungkannya, "Apa?" ucapnya keheranan di sertai wajah datar, ekspresinya campur aduk, ingin marah atau apa dia juga bingung.

"Aku bilang cium" ucap Dazai dengan wajah sok polosnya.

"Kau ini…!" teriak Chuuya kesal.

"Ayolah, sekali saja…, anggap saja awal hari begitulahhh lahh lahh" Dazai terseyum sok polos kekanakan, Chuuya berdecih kesal saat membuka pintu apartemen mencoba mengabaikan perkataan Dazai, Dazai malah menutupnya paksa dan mendekatkan dirinya pada Chuuya masih merengek padanya.

"Aku tidak mau!" balas Chuuya ketus, menolak Dazai.

"Aku mau" balas Dazai dengan kekerasan kepalanya serta nada manjanya.

"Cium sana dinding" perintah Chuuya dengan urat di kepalanya.

"Aku maunya bibirnya Chuu-ya! Titik." ucap Dazai dengan bibir di majukan, ngambek.

"Kau ini!" teriak Chuuya kesal lalu kembali berkata, "Ini pemaksaan namanya"

"Makanya Chuuya harus tulus" rengek Dazai.

"Gak!" jawabnya ketus.

"Ayolah, sedikit saja, satu kecupan lalu kau berkerja sana…" sekarang Dazai tersenyum memandangnya.

"Sialan! Kau kira aku apaa?" sekarang nada Chuuya memanas dengan pipi yang memanas juga.

"Chuuya! Kau itu Chuuya, Chuuyaku tersayang!" balas Dazai santai.

"Bodoh sumpahh ngawurrr!" teriak Chuuya semakin kesal.

Dazai masih merengek, tentu Chuuya bisa terlambat bekerja dengan sifat si sialan Osamu ini, mungkin dia belum puas akan tadi malam, kalau boleh jujur Chuuya juga. Dengan sifat dewasanya mengalahlah Chuuya membiarkan dirinya di cium oleh Dazai, memang hanya sebuah kecupan singkat, lalu Dazai terseyum memandangnya yang sudah memasang wajah mengerikannya.

"Sudahkan!? Hati – hati…" Dazai menjauh dari Chuuya melangkah mundur sambil melambaikan tangannya.

"Tch, kau sialan!" teriak Chuuya yang sudah memerah, bahkan sangat merah, mengelap bibirnya sendiri lantaran kesal, malu atau apa dia juga tidak bisa mengatakannya.

"Jika aku pulang akan ku bawakan kau oleh-oleh racun tikus atau apa!" ucapnya kesal

"Kau ingin bunuh diri ganda denganku? Aku sungguh senang…" balas Dazai dengan senyum pedenya.

Merasa humpatannya di balas demikian Chuuya malah berteriak kesal, membuka pintu yang berada di belakangnya, lalu suara Dazai memanggilnya, dia megabaikannya.

"Itterasshai ne…" sekarang suara Dazai merendah dengan senyuman yang tulus nan hangat itu, Chuuya diam sejenak mendengar kata-kata itu, tentu saja. Sudah lama sekali tidak mendengar kata itu, kata yang sepele namun entahlah, sudah lama tidak ada yang mengharapkan dia pulang ke apartemennya, mengingat hari-harinya yang begitu sepi.

Masih mengalihkan pandangan lalu menjawab "Itte…, ki…, masu!" ucapnya yang Dazai tau wajah Chuuya sudah ada semburat di sana, lalu pergi.

Dazai memandangnya yang sudah keluar dari apartemennya, namun saat Chuuya menutup pintu itu dari luar dia mendengar Dazai bersuara, mengatakan sesuatu.

Chuuya mengabaikannya dan berjalan menjauh dari apartemennya menuju parkiran di bawah, Dazai mendengus dengan senyuman kecil melihat reaksi kekasihnya itu.

"Kau memang tidak mau jujur, Chuuya" pekik Dazai dan kembali ke kamar tidur untuk beristhirahat, mau bagaimanapun sifat Chuuya tidak berubah sama sekali, yah biarlah.

.

"Katakan padaku apa yang ada di benakmu kalau kau siap!"

.

Sementara Chuuya yang tengah menjalani mobilnya keluar dari parkiran menuju jalanan, setelah itu kata-kata dazai masih menghantui pikirannya.

Yahh, jika dia masih memiliki keinginan untuk bertanya, atau jika dia mampu mengatakan apa yang ada di benakknya sendiri mengingat Dazai mengatakkan sesuatu saat sarapan tadi, dia uga heran mengapa dirinya bisa menangis mendengar kata-kata demikian, sepertinya Dazai sudap paham akan benaknya atau apa, apa hanya kebetulan belaka?

Entahlah…, yang intinya dia juga tidak bisa mengatakan apapun di hatinya itu, ah sungguh membingungkan.

Berusaha mengabaikan seluruh pemkirannya, yang sekarang berfokus pada kenyataan.


.

.

.

.

.

"Da-…, Da- " mencoba memanggil nama Dazai pada akhirnya dia melepas ciuman itu, benang saliva menggeliat membentuk tali, berjatuhan.

Chuuya mengambil nafas dalam-dalam pipinya memerah, terbatuk dan kepalanya semakin pusing, nafasnya menggebu bibirnya basah, semua sungguh membuat Dazai berkata;

.

"Chuuya, jadilah milikku."

.

"Apa yang kau lakukan, idiot!" ucap Chuuya sambil mengelap bibirnya yang lembab akan saliva milik Dazai.

Dia mendekatkan dirinya pada Chuuya, mata mereka bertemu seketika jantung Chuuya berdetak lebih kencang dari biasanya dia merasa pipinya mulai memerah padam, apa ini? pekiknya dalam hati. Dazai menatapnya tanpa ekspresi, matanya coklat kemerahan, tatapannya sangatlah dalam, perlahan dia mendekat pada Chuuya, sementara Chuuya menutup matanya Dazai membisikkan sesuatu yang membuat Chuuya lemas seketika.

.

"Chuuya, aku bilang Jadilah Milik-ku…" suaranya parau dan dalam, juga menggema.

.

"A…apa?" pekiknya tidak percaya pada kata-kata itu.

"Seperti yang ku katakan barusan" datar di detik berikutnya sebuah simpul ringan menyapa matanya, kembali mendekatkan dirinya pada si raven orange.

"Tidak…" ucap Chuuya berusaha mendorong Dazai di hadapannya.

"Kenapa?" tanya Dazai heran dengan tindakan Chuuya.

"Kau mabuk, bukan?" tanya Chuuya dengan pipi semu.

"Eh, aku baru minum seteguk lho, itu juga dari mulutmu di sana" masih berusaha mendekat pada Chuuya.

"Kau! kau yang melakukannya bukan aku, bangsat" balas Chuuya semakin merah dengan nada tidak senang sama sekali.

"Aku tidak mabuk" balas Dazai datar

"Kau sungguh tidak mabuk?" tanya Chuuya

"Tidak"

"Lalu, apa itu sungguhan?"

"Apa?"

"Jangan paksa aku untuk mengatakannya" suara Chuuya mulai meninggi.

"Katakan saja"

"Tidak"

"Chuuya…" panggil Dazai.

"Kau tau yang kau katakan barusan bukan, kau sa-sadar bukan!?" mencoba untuk tidak emosi akan perkataan Dazai dan tindakannya

"Tentu aku sadar" balas si raven coklat singkat.

"Jangan paksa aku mengatakkannya!" teriak Chuuya, mengalihkan pandangannya.

"Ayolah, bilang saja"

"Tidak!"

"Tidak mau jujur!" mengejek dengan senyuman.

"Apa? Seenaknya dasar bangsat!"

Tertawa rendah kembali mendekatkan dirinya pada si raven orange membuatnya tak nyaman pada tingkah lakunya, memerah dan berteriak "Kau bilang kau datang ke mari untuk bercerita bukan!? Kau bilang kau mau curhat!" teriak Chuuya dengan pipi memerah.

"Yahh…, itu yang ingin ku ceritakan"

"Apa?"

"Yahh…, aku terus memikirkanmu akhir-akhir ini" ucap Dazai dengan senyuman, singkat.

"Bohong, menjijikkan. Menjauhlah dariku, Osamu sialan!" mendorong pundak Dazai, namun tenaga Dazai lebih kuat darinya.

"Tidak bohong, kejujuran yang memang terdengar menjijikkan"

"Kau tau itu, lalu kenapa masih mengatakannya?" masih dengan nada yang sama masih dengan pipi merona.

"Karna aku orang yang jujur tidak sepertimu, Chuuya" Dazai menggenggam tangannya, mencium talapak tangannya

"Menghinaku, ku remukkan kepalamu" Chuuya menarik kembali tangannya, jengkel. Masih dengan pipi memerah, bisa di katakan kalau Chuuya sungguh manis, sekarang.

"Coba saja kalau kau bisa" ejek Dazai dengan senyuman meremehkan.

"Akan ku coba…"

"Yahh boleh, tapi sebelumnya…, kau harus mencoba yang ini…"

Mata Chuuya terbelalak atas perlakuan Dazai, mengecup bibirnya dengan tiba-tiba membuatnya tersentak ingin mendorongnya, apa daya dia tidak bisa, sungguh sialan jika kau tau Dazai bisa menahan tenaga Chuuya itu, berusaha mendorongnya menjauhkannya, apapun itu, apa daya…, dia malah terhanyut akan kecupan itu, menutup matanya pelan dan membiarkan Dazai berbuat apapapun sesukanya, mungkin setelah itu dia akan memukul telak kepalanya, ah tapi tentu jika dia punya kesempatan melakukan itu, jika dia punya.

Masih bertautan di sana, Chuuya membuka mulutnya yang dia tidak tau mengapa dia membuka mulutnya sendiri, membiarkan benda kenyal lebih tepatnya lidah lainnya menjelajah masuk kedalam rongga mulutnya di dalam sana, dan dalam satu hentakan yang tak terduga lagi, Dazai menjatuhkan tubuh ramping Chuuya ke atas sofa, mengunci kedua lengannya dengan tangannya sendiri, menahan tubuhnya di bawahnya dengan bibir yang masih bertautan erat.

Ada sensasi aneh di pipinya, panas. Ada sensasi aneh di jantungnya, berdetak lebih kencang. Dan juga ada sensai aneh di tubuhnya, bergejolak panas, aneh, tidak nyaman namun meminta lebih atas perlakuan dia yang berada di atasnya.

Apa itu? Pekiknya pada dirinya sendiri, entah apa yang merasuki otaknya, lengannya menuntun dirinya untuk memeluk pundak Dazai, dia juga bingung mengapa dia melakukan itu, apa Wine barusan dengan saliva itu memabukannya atau Dazai sendiri yang menontrol tubuhnya, dia tidak tau, dia tidak mengerti.

Sembari mengangkat dirinya, menopang tubuhnya di bawah dengan sikunya, mengangkat sedikit leher dan kepalanya, mendongak memperdalam ciuman yang tergolong kasar itu. Dazai kaget dengan tindakkannya itu, tapi biarlah. Masih dengan ciuman panas di sertai suara kecupan dan geraman erotis, yang di bawah meminta lebih dan yang di atas ingin berlama, mereka mabuk, sungguh mabuk.

Ah, sialan. Sungguh sialan pekiknya saat dia benar-benar tidak bisa mengontrol tubuhnya itu, apa yang membuatnya demikian dia juga tak tau.

Chuuya membuka mulutnya, membiarkan lidah Dazai kembali bersenang-senang di dalam sana, dengan nafas yang menggebu panas dan suara kecupan yang menggema, dia bergumam dengan suara erotis yang tak ia kenali sendiri.

Dazai kembali menyapa rongga mulut di sana, menjilati langit-langit mulut itu dengan ujung lidahnya yang sudah hangat akan saliva di sana bercampur dengan milik Chuuya, menetes di sudut bibirnya, mengabsen setiap deretan gigi rapi di dalam sana, kembali menyerang lidah Chuuya dengan agresifnya dengan gumaman erotis dan lenguhan di sana, Dazai juga membiarkan Chuuya bersenang-senang dengan tindakannya, hei apa salahnya?

Mengigit bibir bawah ranum yang lebih kecil dan mungil itu darinya membuat Chuuya bergumam "Mnnnhhh, ngghh Da-…, ahh…" sebuah simpul senyum tipis terpapat mendengarnya, setiap tutur kata itu, oh tentu dia akan melakukan hal lebih selain menciumi bibir Chuuya yang lembut ini.

Dazai melepas ciuman panas itu, mendapati wajah ranum Chuuya, perlahan dia membaringkannya kembali ke sofa dengan lembut seraya menepiskan auburn yang sudah basah akan keringat itu, pipi ranum dengan bibir merah muda mengkilat akan saliva milik Dazai sendiri, nafasnya menggebu panas, Chuuya mengelap bibirnya menatap Dazai dengan tatapan sayu dengan pupil azure sedalam lautan di matanya itu.

Tersenyum menatap Chuuya, dan mendekatkan wajahnya pada sudut lehernya ke telinganya berbisik sesuatu,

"Aku kira kau tidak akan menikmatinya, aku salah nee Chuuya?" suaranya menggoda, menggema, membuat Chuuya semakin merah dan Dazai tau itu.

Semakin merah mendengarnya, entahlah dia tidak bisa menolak yang barusan dia juga tidak mengerti dia sangat malu akan kata-kata itu, apapun itu. Chuuya berdecih kesal saja. Sementara Dazai tertawa rendah seraya mencium belakang daun telinga Chuuya membuatnya geli, dan berkata,

"Entahlah…, aku tidak salah dengar dengan apa yang kau katakan itu, kan?" tanya Chuuya menutup satu matanya, dengan manisnya wajahnya serta pipi ranum di sana, menahan gumamannya yang ia lakukan dengan mengigit bibir bawahnya.

"Tidak" balas Dazai singkat masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Kalau begitu…" Chuuya mengarahkan wajah Dazai padanya, menatapnya datar namun dengan pipi merona miliknya, "Kenapa tidak kau selesaikan, dan buktikan padaku kalau itu bukan omong kosong belaka! Bodoh!" ucapnya, nada jengkel nan malu-malu.

Dazai sedikit terbelalak mendengarnya, apa benar si mafia mungil ini berkata demikian? Tertawa pelan, "Apa?" tanya Dazai mencoba mengusir prasangka itu dari kepalanya.

"Kau dengar apa yang aku katakan, bukan?" ucap Chuuya masih dengan ekspresi yang sama.

"Iya, aku dengar" jawab Dazai singkat

"Ya- ya sudah, kau lakukan saja apa yang kau mau" ucap Chuuya mengalihkan pandangannya, tapi Dazai sungguh tau kalau wajahnya sudah ranum parah.

"Hee…, dengan senang hati. Tapi kalau tidak ada persetujuan, aku tidak mau"

"Jangan sok legal, aku akan menendangmu"

"Aku akan menciummu kalau begitu"

"Sialan, kau benar-benar…"

"Apa?"

Berdecih kesal, tidak sabaran, selalu emosian begitulah Chuuya, dan Dazai berhasil memancingnya.

"Kamprett! Ukhh! Jangan banyak omong, dan buktikan padaku" ucapnya dengan teriakan kali ini.

"Kau tidak pernah sabaran, sungguh…, manis!" ucap Dazai, tersenyum seraya menepihkan helai-helai rambut yang basah akan keringat di sana.

Chuuya semakin memerah dengan perkataan barusan, Dazai mendekat pada telinganya membisiskkan sesuatu, "Aku akan melakukannya dengan caraku, hmm?"

Chuuya menatap punggung sofa menggigit bibir bawahnya saat merasakan lidah Dazai berada dekat dengan telinganya, mencium di sekitar sana, sementara tangan kanan milik Dazai meraba mulus menyelinap masuk kedalam kemeja yang ia kenakan, kaki Chuuya sedikit menggeliat akan tindakan Dazai, tangan kiri Dazai menahan tangan kiri Chuuya yang sudah menggenggam kuat tangan kemeja putihnya, sementara tangan kanannya memeras erat kemejanya, berpindah kedua tangannya sekarang menggenggam erat kemejanya. Kembali pada diri Dazai dengan bibir yang masih menempel di tenguknya.

Dari sana dia mencium setiap sisi kulit sawo matang itu, menghirup sedalam mungkin aroma yang ada di sana, bercampur-campur aduk, namun nyaman, ada bau rokok yahh tentu Chuuya perokok dia juga sama walau bukan berat, ada bau Wine barusan yang ia buka, parfum dengan merek mahal kesukaan Chuuya di sana, dia tau itu, lalu keringat di sana yang Dazai hirup kembali mendengusnya dengan lembutnya, sayang Chuuya tak bisa menahan geramannya saat Dazai membuka mulutnya dan membiarkan lidahnya mencicipi tenguk itu yang baunya sudah menempel pada memo otaknya yang dalam.

"Arrrghh…, Da-…, ahhn…, mmmnnnhh…, haaa… hah hhnnhh" seru erotis itu menggema ketika deret gigi menggigit leher kulitnya di sana, menghisapnya, menjilatnya, oh apapun itu yang biasanya mulutnya lakukan selain melontarkan hasutan ala golongan hitam atau apapunlah…, penggambaran yang mengerikan.

Kembali mendengus, merasakan jenjang leher itu dengan mulutnya sendiri, Chuuya memeras kemeja Dazai semakin erat, melenguh semakin panas saat mulut Dazai berada tepat di tulang lehernya yang jenjang itu, mengigitnya memberikan tanda di sana, menggerutu Chuuya namun dengan suara erotis. Dazai tersenyum tak henti-hentinya memberikan tanda di sana.

Menatap Chuuya dalam setelah memeberikan tanda di sana, hangat dalam dan…, penuh kasih sayang? Jika kau berpikir demikian. Apa mereka mengatakkan kata cinta? Tidak sama sekali.

Bertautan kembali, memanggil geraman erotis saat Dazai kembali menyelinapkan lidah basahnya di dalam mulut Chuuya, tangan nakal nan hangat milik Dazai perlahan membuka satu-persatu kancing di sana, perlahan namun pasti, dada bidang tanpa penjagaan terlihat di bawahnya, Dazai melepasnya, menatap Chuuya di bawahnya yang ia masih menahannya.

Chuuya mengambil nafas dengan keringat, nafasnya berat, menatap Dazai penuh kabut gairah.

"Kau…" berusaha bersuara

Dazai menyingkirkan tepi kemeja tidur itu, memandang elok tubuh di bawahnya, "Chuuya, kau memang sialan, aku tak tahan!" ucap Dazai memposisikan tangannya pada dada bidang Chuuya membuat Chuuya tersentak dengan tindakannya, sedikit berteriak.

Dazai mendekatkan dirinya pada Chuuya, pada sekitar dada bidangnya menggigit di sekitar sana, mendengus, mencium apapun itu yang ada di dalam birahinya, membuat Chuuya melenguh sekali lagi saat tau nafas Dazai benar-benar berada di atas kulitnya, "Ahh…, haa.., Daz-zai, tungg-.., ahnn..., haa…, haa.., ahh ahnn akhh. Sia—ahn ahh nnhh ngghh" masih dengan gumaman erotis itu dan masih dengan Dazai yang mencumbu Chuuya di sana.

Tiga menit dia lewatkan dengan merasakan hangat kulit Chuuya di sekitar sana, tak lupa memberikan tanda yang membuat Chuuya menjerit kesetanan dan membuat Dazai menjadi-jadi dengan tindakannya, padahal dia tau bersuara saat ini tidak baik sama sekali.

"Akhh…, sia- hhnn ahh mmnh—haa, nngghh ahn ahh, Da- ah zai…, ahhn" tanpa sadar dia mengeluarkannya kembali, masih dengan nada yang sama. Biarlah, memang dari awal nuansa ruangan ini memang sangat erotis, hanya dengan lampu pijar yang redup menjadi penerangan sekarang. Chuuya memang tidak menyukai ruangan silau, dan memang cocok dengan keadaan mereka sendiri.

Dia menggeram dengan gejolak panas di tubuhnya, salahkan Dazai sendiri, sebuah mulut sekarang dengan nikmatnya menghisap nipple milik Chuuya, membuat Chuuya tersentak ke belakang melengkung tak nyaman, namun Dazai menghiraukan itu dan masih sibuk dengan pekerjaannya. Ha, tentu saja dia menikmati ini.

Satu sibuk di manjakan dengan mulut hangatnya, mengigitnya terkadang yang membuat Chuuya tersentak, melenguh hebat lalu menyebut namanya kembali, tersendat-terputus karna jeritannya sendiri, "Ahh- pe- ahnn akhh nggh pelan—pe- ahh ahn…, mnnh nggh ah- ahhn- ah ah akkh! Daz- ah DAZ—tungg-ahnn…" memeras belakang kemejanya yang benar-benar sudah kusut sejadi-jadinya, satu tangannya lagi memainkan satu sisinya, mencubitnya gemas, menekannya ujungnya dengan jari telunjuknya, oh sungguh sialan pikir benaknya, dia benar – benar sudah gila karna jeritan dari mulut Chuuya dan tubuhnya memanas juga, oh sialan.

Dari dua tonjolan merah muda itu dia menurunkan mulutnya ke tonjolan perut Chuuya, otot perutnya, mengigit di sekitar sana, membuat Chuuya merasa tidak nyaman, namun hangat, gejolak tubuhnya meminta lebih dan lebih, sekarang tangan kirinya memeras kepala Dazai sesekali menarik rambut coklat itu, dengan jeritan gumaman dan geraman yang dia miliki, lebih tepatnya yang hanya bisa dia keluarkan di momen ini, ah sungguh sialan. Sementara tangan kanannya menutup sendiri mulutnya yang sudah memanas akan jeritan dengan intonasi yang tak ia sadari.

Dazai masih sibuk dengan pekerjaannya yang memeberikan sensasi aneh pada tubuh Chuuya, setelah beebrapa menit menghabiskan waktu di sana, dia menarik dirinya, menatap Chuuya yang sudah penuh akan kabut gairah di sana, entah mengapa senyumnya semakin lebar memandang pemandangan itu, kembali mendekat pada Chuuya yang di sambut sebuah lengan melingkar di pundaknya.

"Dazai…" panggil Chuuya suaranya lirih tersendat, dengan nafas yang turun-naik, berusaha mencakup udara.

"Hmm?"

Chuuya melingkarkan kakinya sendiri pada tubuh Dazai membuat Dazai sedikit kaget memandang tubuh mungil itu di bawahnya, ah jika dia katakan dengan kata-kata Dazai juga tak tau menggambarkan keindahan ini di mulutnya, mata lautan itu yang menatapnya penuh nafsu berkabut dia sana, bibir terbuka dan tertutup mengambil oksigen sebisanya, merahnya bibir dan pipi mulus itu sangat, sialan sangat seksi di mata coklat kemerahannya, Dazai menatapnya semakin lekat, mencium kelopak mata Chuuya.

"Chuuya, kau…" berpikir tentang apa yang akan dia ucapkan, astaga dia kehabisan kata-kata "Indah" hanya itu.

"Jangan.., bercanda" balas Chuuya ketus seperti biasanya.

"Tidak" Dazai kembali membenamkan wajahnya pada leher Chuuya, " Tidak sama sekali" sambungnya.

"Dazai…" panggil Chuuya yang membuat Dazai menatap Chuuya di bawahnya ini, matanya berkedip beberapa kali, hening sejenak hingga dia angkat suara.

"Kau mencintaiku?" tanyanya, tak yakin, tak percaya juga dengan apa yang barusan ia lontarkan.

Dazai masih menatapnya, agak lama juga hening dan memberikan senyuman, ringan, hangat, membuat padangan Chuuya tak lepas dari sorot matanya, "Tentu saja…" ucapnya merendah

Hening sejenak, masih menatap Dazai dengan lengan yang melingkar di pundaknya, semakin erat, di ikuti kakinya yang tak ingin melepas raga di sana, "Kalau begitu…"

Sebuah kecupan ringan ia berikan pada Dazai dengan mata terpejap, Dazai menatapnya, aneh dan heran, tapi dia diam mendengarkan.

.

"Kau mencintaiku dari apa?"

.

Pertanyaan yang mulus, kaget tentunya dengan itu, masih diam memandang Chuuya di bawahnya, mereka diam, hening. Hanya jam dinding yang masih sibuk menghabiskan satu persatu detik dengan suaranya, dan mereka yang berada di luar apartemen ini.

Dan di menit berikutnya, Dazai tersenyum memandang Chuuya perlahan dia mendekat kearahnya, Chuuya masih setia menatap sang seme di atasnya, semakin mendekat ke arahnya, surainya jatuh mengenai wajah mulusnya, mengatakan sesuatu yang membuat Chuuya tersentak…

Chuuya tersentak dengan bunyi dentingan gelas dan suara bar lainnya, dia melamun.

Wah, sungguh hebat dia melamun di tengah-tengah acara minumnya sendiri, memikirkan kejadian atau kenangan dengan mulusnya terekam hebat di otaknya, seperti film pendek. Mendengus aneh dengan pemikirannya sendiri menyeruput Wine di gelasnya, berusaha melupakan hal itu, hal yang barusan terlintas di otaknya, hebat sekali.

Dazai sekarang benar-benar bagian hidupnya, dia tidak bisa mengatakannya atau menceritakannya pada anggota lainnya bahkan pada kak Kyouyo sendiri orang yang mengasuhnya sejak kecil di Mafia, mengingat Dazai juga mantan anggota di Port Mafia, pengkhianat yang dia juga tau itu. Orang-orang menyebutnya demikian, tapi Chuuya tau semuanya.

Benar-benar menyimpan semua masalah untuk dirinya sendiri, yang sebenarnya dia cukup senang jika berbagi dengan Dazai, tapi…, berbagi dengannya tentang dirinya yang dia sendiri tak bisa katakan, begitu parau. Menyebalkan. Mendengus kesal, berhumpat-humpat tak jelas di dalam hatinya, terlintas sesuatu di benaknya.

.

"Yahh, jika kau tanya pendapatku…, aku selalu bertanya-tanya kenapa seseorang memerlukan sebuah alasan untuk di cintai"

.

Memijitkan matanya kembali, menekuk lengannya menopang dagunya sendiri di punggung tangannya lalu mendengus dan perlahan dia menghela nafasnya yang sekarang sangat berat karna efek alkohol dari Wine bermerek yang dia pesan.

.

"Aku merasa itu pertanyaan terkonyol, yahh itu lebih baik dari pada tidak ada yang mencintaimu sama sekali"

.

Chuuya membenamkan wajahnya pada meja, menghela kembali nafasnya. Bergumam kesal, kenapa dia bisa menjadi orang dungu seperti ini. Seolah-olah Dazai adalah bagian dari hidupnya sendiri, apa dia yang di sana juga berpikir demikian atau tidak sama sekali?

"Chuuya-san?" panggil seseorang, dia menoleh pada panggilan tersebut, dia mengenal orang tersebut menyapanya akrab.

"Oh, kau rupanya" menegakkan kembali dirinya dan merenggangkan tubuh mungilnya itu ke udara dia merasa penat, walau begitu dia cukup kuat. Iya tentu saja.

Pria yang satunya duduk di sampingnya, sedikit terbatuk, entah itu kebiasaannya atau mungkin dia memilik penyakit sendiri yang Chuuya tidak tau apapun.

"Kau mau, Akutagawa?" tawarnya pada yang lebih muda itu darinya, memang umur Akutagawa lebih muda dari Chuuya, tapi tinggi badannya tidak sama sekali.

"Tidak, aku tidak berniat minum malam ini" tolak Akutagawa, datar seperti biasanya.

"Hmm, begitu" jawab singkat Chuuya

"Kau frustasi?" tanya Akutagawa spontan, tanpa basa-basi yang bagus, membuat Chuuya menatapnya sangat heran.

"Aku?" pekiknya tak percaya.

"Ya, kau tentu saja. Ada apa?" jawab Akutagawa seperti biasanya.

"Oh, bukan apa-apa…" di selingi tawa lalu berkata, "Tidak biasanya melihatmu ke bar, ada apa? mencari kesenangan?" tanya Chuuya berusaha bercanda dengan situasi ini, juga menutup kenyataan kalu benar dia sudah frustasi.

"Tidak kok, hanya melihat-lihat" jawab pria di sebelahnya, cuek sambil menopang dagunya.

"Tch, melihat-lihat saja?" tak percaya, berdecih kesal.

"Iya…" jawab singkat Akutagawa, terbatuk sejenak.

"Kau bekerja cukup keras dengan penangkapan harimau itu, beristhirahatlah…" Chuuya menepuk pundak Akutagawa, memberikan sebuah gelas padanya.

"Justru aku masih mau menangkapnya" jawab Akutagawa, namun nada berubah, sedikit.

"Tidak perlu juga tidak apa, kan?" sekarang Chuuya terheran.

"Haa…, benar, aku tau" Akutagawa kembali menopang dagunya, merasa tak bersemangat.

"Aku tidak mengerti" lontar Chuuya yang memang tidak mengerti.

"Aku ingin mencabiknya, sekali lagi" ucap Akutagawa, datar, namun ada gejolak aneh yang Chuuya rasakan darinya.

"Sadis" ledeknya, komentarnya, miris menatapnya.

"Kau juga Chuuya-san, kau bahkan sangat sadis terhadap Dazai-san dulu" balas Akutagawa yang mungkin tak mau kalah.

Chuuya menghela nafas kasar saat mendengar nama itu, memang benar dia tidak memberi taukan pada siapapun kalau dia berhubungan dekat dengan Dazai sekarang, diam-diam tentunya.

"Si berengsek memang pantas mendapatkannya" dengan decihan dan kembali meminum sisa Wine di gelasnya.

"Beritau aku…" ucap Akutagawa yang membuat Chuuya menatapnya keheranan.

"Apa?"

"Bagaimana cara melumpuhkan seseorang tanpa membuatnya berdarah?" bersemangat dengan nada datar.

"Tidak tau…, aku bukan tukang eksperimen manusia" Chuuya sedikit terbatuk dengan kata-kata itu barusan.

"Kau pasti tau kan?"

"Tidak, kau tanya saja Kajii, dia pintar…, lagi pula untuk apa kau bertanya itu?"

"Aku ingin melumpuhkan Jinko" ucap Akutagawa yang sekarang tatapannya masih datar namun penuh pengharapan kalau dia akan mendapatkan jalan keluar sekarang. Dia berpikir demikian.

"Gila, kau bersemangat sekali mau menjualnya" ucap Chuuya, wajahnya agak horror menatap temannya itu.

"Ya.."

Chuuya berpikir sejenak dengan jawaban dan pertanyaan Akutagawa yang sangat aneh ini, tentu saja tidak biasanya Akutagawa Ryuunosuke mau mendekati seseorang terutama musuh, memang menangkap manusia harimau itu adalah tugasnya dan misinya sendiri, namun…, jika di pikir-pikir lagi. Melumpuhkan-mendekati sepertinya jika dia melarikan topik ini ke lainnya mungkin akan sama seperti dugaannya, ohh dia bisa menebak sesuatu yang sungguh membuatnya tidak percaya, sangat tidak percaya.

"Apa dari bos?" tanya Chuuya spontan, berharap jawaban iya.

"Tidak, pribadi" nah firasat Chuuya benar, mungkin efek berbaur dan menyatu dengan Dazai? Tidak bukan.

"Kau…" sekarang Chuuya paham dengam maksud Akutagawa, berdehem keras berusaha memberikan jawaban, yahh dia berpikir dan berkata dengan suara tersendat, "Dekati dia, pasang perangkap, bius yang kuat, lalu kau menang"

Mungkin dia akan bertanya pada Dazai akan ini setelah pulang dari bar, lagi pula ini masih jam 8 malam, dia tau benar Dazai akan datang lagi ke apartemennya. Sudah di luar kepalanya.


.

.

.

.

.

Menghentakan kakinya beberapa kali ke lantai tidak senangnya dengan pemandangan di hadapannya, urat nadinya terbentuk perempatan, melipat lengannya di depan dadanya. Dazai tertidur sambil bersender dan menutup wajahnya dengan laporannya sendiri, mengejek Kunikida yang sekarang menatapnya kesal. Dengan satu pukulan telak dan sangat kuat sambil berteriak, "Bangun kau sialan! Mengejek,ya! Selesaikan laporanmu Dazai bangsattt!" teriak Kunikida.

Dazai tersentak, memejapkan matanya menatap Kunikida dengan wajah tanpa dosa, serasa kebingungan dengan tuduhan tanpa bukti, begitulah. Kunikida semakin kesal dengan tatapan itu.

"Jangan jadi pemalas lagi…" pekiknya tak sadar.

"Huh!?" Kunikida berpekik heran dengan ucapan Dazai itu, dia mengigau kah?

"Duhh…, padahal aku sudah janji tidak jadi pemalas lagi nihh….!" Sekarang Dazai merenggangkan tubuh jakungnya sambil berhumpat-humpat dengan nada kekanakan.

"Kau kenapa?" tanya Kunikida yang heran dengan kelakuan rekan kerjanya yang sudah sengklek, dia memang begitu.

"Bukan apa-apa hehe" jawab Dazai dengan senyum

"Kalau buka apa-apa, cepat kau selesaikan itu, sialan!" menyentil kening Dazai kuat, dan berteriak penuh amarah.

Dazai mengaduh pelan, menghusap-usap keningnya lalu berkata "Baik-baik, aku lupa sampai mana…"

"MASIH JUDULL!" satu pukulan mendarat lagi dengan mulusnya.

"Masih judul,ya" tertawa, membuat Kunikida semakin panas, oh jika dia bisa mengeluarkan sebuah revolver dari buku idealnya dengan Ability miliknya pasti dia akan menembaki Dazai sampai puas. Tapi itu tidak mungkin, memang tidak.

"Kunikida-kun, aku lembur tadi malam lhoo" rengek Dazai, lalu menguap sampai air matanya keluar sedikit.

"Itu karna ulahmu sendiri!"

"Yahh…, jangan buat aku lembur lagi dong, kau mengganggu" Dazai cemberut khas anak-anak.

"Pemalas modelan sepertimu yang sampah masyarakat perbanan ini pantas menerimanya"

Dazai menjerit tak senang, memegang dadanya tertusuk akan hinaan Kunikida itu.

"Kau mengenai jantungku, kau Kunikida Doppo terhebat"

"Jangan ngawur Dazai bangsatt! Selesaikan laporanmu! GOBLOKK!" teriak Kunikida kembali melayangkan sebuah pukulan ke kepala Dazai, Dazai malah tertawa.

"Kunikida-kun, dari pada itu…, aku mau bertanya sesuatu…" ucapnya setelah puas dengan kejahilannya sendiri, bertanya pada rekannya yang sangat emosian.

"Huh? Apa?" tanya Kunikida dengan sweet drop.

"Bukan soal pekerjaan sih…, boleh?"

Kunikida berusaha mencerna kata-kata Dazai, mengerti dan paham memang dengan kata-kata Dazai, belum pernah dia mendengar kata itu dari Dazai semenjak dia bekerja dan menjadi rekannya selama 5 tahun ini. Seperti yang di katakan kalau Dazai itu sangat pandai menyembunyikan kehidupan pribadinya sendiri.

"Apa?" tanya Kunikida sekarang ekspresinya serius.

"Yahh…, aku mau tanya, bagaimana caranya membuat orang bicara dengan perasaannya sendiri?"

"Huh?" pertanyaan itu sontak membuat Kunikida melongo, membetulkan kacamatanya sendiri dan bertanya juga pada dirinya sendiri, Apa ini sebuah introgasi untuk kesenangan atau apa?

"Kau paham?" tanya Dazai menatap heran rekannya yang terdiam di sana.

"Aku paham ucapanmu, tapi… kenapa kau bertanya tentang itu?" Kunikida mendekat ke arah Dazai, sekarang dia sedikit penasaran.

"Kau rekanku Kunikida-kun, tolong jawab" Dazai malah mengibas-ngibaskan tangannya, dan menuntut sebuah jawaban dengan ringan.

Kunikida diam sejenak, berpikir dengan otak idealisnya, yahh selama ini dia selalu mengikuti prosedur hidupnya yang sudah ia tulis sendiri. Memang sifatnya yang tak ingin keluar jalur dari kata 'idealis', menatap Dazai diam lalu berkata, "Kau tidak bisa memaksa orang untuk berbicara tentang perasaannya begitu saja, kau tau yang namanya hidup ada proses kan!?"

"Yahh…, aku tau" jawab Dazai singkat.

"Tunggu saja"

"Akh, aku tidak bisa menunggu" sekarang Dazai seperti seorang yang frustasi.

"Memangnya siapa yang membuatmu bingung sampai seperti ini, pacar?" ada simpul miring dan dengusan meremehkan.

"Eh, kau tau, iya tentu saja" jawab Dazai dengan wajah tanpa dosanya.

Kunikida terdiam, dan berpekik tak percaya, "Hah?"

"Kenapa?" tanya Dazai.

"Kau, punya pacar?" masih tak ingin percaya pada kata-kata Dazai itu.

"Iya" jawab singkat dari Dazai.

"Kenapa aku baru tau!?" tanya Kunikida kesal.

"Kau tidak bertanya" Dazai malah menjawab seolah-olah tak memiliki dosa.

"Tch, sialan kau…" pekik Kunikida dengan satu keringat di pipinya.

"Hee…, Kunikida-kun kau kenapa?" Dazai tersenyum, mengejek lebih tepatnya

"Diam!" jawab Kunikida emosian, menunjuk Dazai kesal dan berhumpat. Mau bagaimanapun Kunikida selalu bertumpuh pada idealisnya, sesempit apapun suasana itu, dan juga soal wanita, itu sebabnya Dazai selalu mengoloknya.

"Jadi jawabanmu dari pertanyaanku hanya 'tunggu' saja begitu?" tanya Dazai.

"Ya, kau tidak bisa memaksa seseorang berkata-kata, itu mutlak. Kau harus menunggu saat dia siap dan jika tiba saatnya kau harus berada di sampingnya, kau mengerti kan. Kau harus menjadi seseorang yang sangat berguna baginya, walau apapun yang terjadi akan sangat sulit kedepannya…, uhumm! Memangnya ada apa dengan pacarmu?" berdehem keras Kunikida, tentu saja, dia tidak pernah mengatakan hal-hal serupa melankolis seperti itu, bahkan pada rekan kantoran sedikitpun, Dazai sedikit terdiam memandangnya lalu menjawab dengan nada tidak bersemangat sama sekali.

"Dia..., akhir-akhir ini diam, aneh tak seperti sifat biasanya" ucap Dazai sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.

"Ohh…, begitukah?" jawab Kunikida

"Tadi pagi dia sadar tak sadar kalau menangis" ucap Dazai dengan simpul.

"Kau memang bajinagn" ketus Kunikida memandang miris rekannya itu.

"Aku tak menyakitinya, serius!" ucap Dazai membela diri, yang sejujurnya dia benar.

"Kau tidak sadar dengan ucapanmu pastinya" ucap Kunikida masih denagn tatapan yang sama.

"Benarkah?" Dazai terheran.

"Mana ku tau…" Kunikida mengalihkan pandangannya, cuek dan malas.

"Huh…, ini membingungkan…, aku sudah bertanya dia berkata semuanya baik-baik saja" Dazai bersender pada punggung kursi kerjanya dan mengeluh.

"Ada kalanya seseorang tidak menceritakan apapun tentang apa yang di pendamnya" jawab Kunikida.

"Itu egois"

"Itu biasa"

"Tidak elit"

"Biasakanlah"

"Chuuya-ku tidak pernah begitu" sekarang nada suara Dazai kesal.

"Chuuya?" Kunikida berpekik heran, sedikit kaget tidak, kaget.

"Humm…" Dazai menagngguk dengan wajah sedikit di cemberutkan padanya.

Kunikida kaget mendengarnya, dia kenal betul nama itu memang tidak pernah beremu dengan orangnya namun dia tau itu siapa dari desas-desus, berusaha tenang walaupun dia sudah banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan pada Dazai. Terutama tentang hubungannya sebenarnya.

"Kau…, yahh…, aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian…" Kunikida membenarkan posisi kacamatanya dengan benar, berusaha tenang.

"Ini sudah seminggu penuh jika ku hitung-hitung" Dazai masih di ekspresi yang sama.

"Begitukah? Coba kau tanyakan saja langsung kalau begitu" hanya itu yang bisa ia lontarkan pada Dazai.

"Yahh…, terima kasih dehh" Dazai menguap dan mengucek matanya sendiri, mengantuk di jam 2 siang lebih 45 menit ini.

"Lagi pula Dazai…" Kunikida sekarang benar-benar penasaran.

"Ya?"

"Chuuya yang kau maksud-"

"Tentu saja dia, tidak ada Chuuya yang lain ku kenal selain si Chibi itu" Dazai tersenyum pada rekannya, membuat Kunikida benar-benar tidak bisa berkomentar apapun.

Kunikida hanya mengiyakan itu dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan sisanya yang masih menumpuk dan menunggu untuk di selesaikan satu persatu, tidak mau berkomentar atau apapun membuat Dazai heran dengan perilakunya itu. Dan Dazai sendiri berusaha membuat dirinya menjadi orang yang rajin yang berakhir dengan tertidur di depan komputer dan Atsushi datang membangunkannya dengan sangat tidak elit.


.

.

.

.

.

Chuuya kembali keapartemennya dengan anggurnya yang sudah tercena di perutnya, tentu dia menunggu agar minuman keras itu benar-benar sudah tercena sepenuhnya, sudah lebih dari dua jam dia duduk termenung dengan pemikirannya sendiri dan memutuskan untuk kembali saja, memang sangat menyenangkan ketika Akutagawa datang menanyakan kabarnya, sekedar berbagi penat sebagai rekan kerja, Chuuya juga kaget akan perlakuan dan kata-kata Akutagawa yang tak biasanya dan melampiaskan masalahnya layaknya orang normal-atau lebih tepatnya bukan Akutagawa sendiri, mulai dari pekerjaan, kehidupan, bahkan manusia yang dia sebut Jinko itu. Padahal dia tidak minum sama sekali.

Sebenarnya Chuuya juga heran, kenapa Akutagawa sangat bersemangat dengan anak bernama lengkap 'Nakajima Atsushi' itu, entahlah dia tidak mau menerka-nerka, dia juga punya kehidupannya sendiri yang harus dia selesaikan.

Kembali pada dirinya yang terhanyut dalam jalanan keramaian kota di puncak waktunya, sesekali melirik toko-toko dengan pernak-pernik atau aksesoris yang bukan seleranya di balik kaca mobilnya, padahal dia baru saja minum sebotol anggur dengan fermentasi keras, namun masih bisa berkemudi dengan baik, Chuuya seperti apa gaya hidupmu? Entahlah.

Berhenti di belakang garis saat lampu merah bersorot di palangnya, berpikir akan obrolannya dengan Akutagawa barusan, dia tidak menceritakannya keseluruhannya, melainkan beberapa yang benar-benar membuatnya terganggu.

"Apa? Chuuya-san…" Akutagawa kaget, tidak terlalu di perlihatkan, tapi Chuuya tau.

"Tidak, bukan begitu…, aku hanya bertanya, apa itu salah?" Chuuya berkata menghilangkan prasangkah aneh itu dari otaknya.

"Umm…, aku tidak terlalu mengerti akan kata-kata mu itu, tapi jika kau bertanya tentang pendapatku…, kenapa seseorang memerlukan alasan untuk di cintai…?" Akutagawa berdehem sekali, mencoba mengerti perkataan barusan itu.

"Konyol,ya?" tanya Chuuya dengan dengus dan simpul miring.

"Sedikit" jawab Akutagawa singkat.

"Yahh…"

Hening sejenak menyelimuti mereka, gelas-gelas kaca yang mengkilat terkena pantulan dari lampu pijaryang bersinar bewarna kuning keemasan menambah kesannya sendiri, Chuuya masih sama menatap dalam cairan keunguan di gelas bening kaca, memandang pantulannya sendiri.

"Aku rasa…"

"Yang di ucapkan pacarmu itu benar" pekik Chuuya yang tak sadar mengucapkannya sendiri, entahlah dia mengatakannya. Dia mengatakan kata-kata yang di ucapkan Akutagawa padanya. Seandainya perasaan ini benar-benar bisa ia hilangkan sepenuhnya, sungguh. Ini sangat menganggu.

"Akhh! Sialan!" humpatnya kesal, lalu kembali pada setirnya saat lampu sudah bernyala hijau.


.

.

.

.

.

Chuuya membanting pintu mobilnya, menguncinya dan berjalan menuju apartemennya. Kepalanya sekarang sedikit pusing entah itu efek alkohol atau pikirannya sendiri, menggunakan lift sebagai jalan pintas, lorong yang sepi seperti biasanya, hari-harinya yang biasanya, dia pulang untuk berlarut di dalam bar, dan sekarang tubuhnya berada di depan pintu apartemen miliknya, memandang pintunya hampa. Perlahan dengan keraguan atau apapun yang meneylimuti pikirannya dia membuka engselnya, entah mengapa…,

Dia tidak mengeharapkan Dazai ada di hadapannya sekarang, namun mengingat kalau dia berjanji akan punya waktu malam ini, sialan. Berdecih saat tau janji dan perasaan hati bisa berubah-ubah.

Pintunya masih terkunci, Chuuya menghela nafas lega ternyata Dazai belum datang ke apartemennya, syukurlah. Dia membuka pintu dan masuk dengan cepat, menguncinya lalu mematikan bel agar tidak di ganggu habis-habisan, dia perlu waktu untuk meluruskan penat dan pemikirannya sendiri, sungguh.

Melempar topi dengan jenis Porkpie itu ke lantai, jubahnya, cardigan yang tergantung dengan lengan seperempat itu, melonggarkan dasinya, menyalahkan lampu di ruang tamunya.

Tidak ada orang sama sekali di sini, tidak ada siapapun di sini. Seperti dulu. Sama. Sepi. Tapi memang beginilah harinya. Menghela nafasnya seraya berjalan ke arah sofa, duduk dengan santainya dan membuka handphone miliknya, di ambilnya rokok dengan merek kesukaannya dan menghidupkan satu di antaranya.

Semua hening, sepi. Mungkin sebuah musik dari piringan hitam bisa menemaninya malam ini, dia punya banyak di sana dengan pemutar bergaya klasik dan antik. Sudah lama juga Chuuya tidak memutarnya, menuju dengan mulut yang masih mengapit rokok, di ambilnya salah satu piringan hitam, meletakkannya di atas pemutar, dan kaget.

"Chuuya?" nada suara yang sangat ia kenal.

Chuuya tidak menoleh dengan panggilan itu, dia tau siapa itu, ternyata Dazai ada di apartemennya, ya?

"Kau sudah pulang?" tanya Dazai dengan nada bahagia.

"Iya" jawabnya singkat dan datar

"Wah, sudah jam 11 malam, aku ketiduran" Dazai menguap sambil merenggangkan tubuhnya.

"Begitu…" balas Chuuya datar.

Masih tak ingin menatap Dazai, Dazai malah berjalan ke arah sofa sambil membuka obrolan ringan, "Aku sudah menjadi sesuai perkataanmu lho, aku rajin, tidak terlalu nehh. Kunikida-kun malah memarahiku juga memukuliku kau tau hahaha" membaringkan tubuhnya di sofa sambil bergumam-gumam dengan lagu favoritnya.

Chuuya masih sibuk memilih-milih piringan hitam, sungguh dia tak menyadari Dazai berada di apartemennya padahal jelas-jelas pintu sudah terkunci, apa jangan-jangan dia memiliki kunci cadangan, atau duplikat, terkutuklah Dazai kalau begitu. Chuuya berhumpat-humpat dalam hati.

Dazai merasa di abaikan saat mengetahui Chuuya tidak menjawab omongannya, dia duduk memandang punggung Chuuya di sana lalu bertanya dengan suara yang bisa terdengar di seluruh ruangan, lebih tepatnya Dazai membangunkan lamunannya, "Apa yang kau lakukan di sana, Chuuya?" tanya Dazai

Chuuya tersentak, tapi tetap tak ingin menatap Dazai di sana, dia juga tidak menjawab atau memberikan reaksi apapun atas pertanyaannya itu. Lagi pula Chuuya itu memang keras kepala.

Dazai aku tak ingin bicara denganmu saat ini, mungkin itu yang ingin ia katakan, dia tidak marah dengan Dazai, tidak punya alasan yang pasti dan juga kuat, hanya di dalam benaknya, hanya sebuah keraguan saja. Ragu itu tidak salah.

"Chuuya…" tanpa sadar Chuuya mendengar suara itu sekarang sudah dekat, berada di belakangnya, Chuuya masih tak ingin menatapnya, hanya punggungnya dengan rompi dan kemeja di sana.

Chuuya berpekik saat tangan Dazai menyentuh tangan miliknya, membuatnya semakin tak ingin menatapnya, apapun itu, dia memang tidak sangat mood menatap Dazai. "Jangan abaikan aku, aku tak suka" sekarang dia mendengar suara Dazai, mulai mendingin.

Dengan hentakkan dia menghadapkan tubuh Chuuya, melihat wajahnya, Chuuya menutup matanya rapat tak ingin menatapnya, apapun itu.

"Lama sekali memilih lagunya, kalau begitu aku pu-"

Tanpa aba-aba yang pasti Chuuya malah membiarkan dirinya memeluk Dazai, membenamkan wajahnya di sana di dada bidangnya membuat Dazai sedikit kaget memandangnya, "Kau…, hei…" sekarang dia mengusap lembut auburn itu, ternyata Dazai tidak salah, dia mengira dirinya di abaikan.

"Aku kira kau marah padaku"

Chuuya juga tau Dazai akan mengatakan itu.

"Tidak" jawabnya singkat.

"Lalu? Kenapa kau mengabaikanku?"

Tidak mendapatkan jawaban yang kuat dia malah menjawab, "Aku kelelahan, sedikit mabuk" bohong tentu saja, pekerjaan hari ini tidak terlalu memberatkannya, lagi pula dia bisa menyetir dengan baik walaupun sudah meneguk sebotol Wine bermerek di bar langganannya.

"Oh, begitukah…" Chuuya melepas pelukan itu, saat Dazai menjawabnya dengan nada ringan berjalan menuju sofa, dan membaringkan tubuhnya mengambil sebuah bantal dan menutupi kepalanya, atau sengaja dia tak ingin menatap Dazai.

"Kau terlambat pulang karna minum di bar, begitukah Chuuya?" tanya Dazai yang berjalan menujunya, dan sekarang duduk di sofa yang sama.

"Begitulah" jawab Chuuya singkat.

"Ohh…" Dazai diam kemudian setelah menjawab singkat juga, hening menyelimuti mereka. Detik jam telah berlalu melewati mereka, pukul tengah malam kurang 30 menit. Dazai menatap Chuuya yang berbaring dengan bantal yang sengaja dia timpahkan ke kepalanya.

"Kau bisa sesak, Chuuya bodoh!" ucap Dazai berusaha menarik bantal tersebut dari Chuuya, malah di jawab ketus "Diam, kau yang bodoh!" bantal berhasil di tarik Chuuya malah membalikkan posisi tubuhnya dari terlentang menghadap langit-langit menjadi terlungkup, punggungnya menatap Dazai.

"Kau marah padaku,kan? Apa?" tanya Dazai, tentu dia bisa mengetahui itu dengan mudahnya.

"Sudah ku bilang tidak, aku kelelahan!" jawab Chuuya masih dengan posisinya.

Dazai diam setelahnya, mereka diam, hening cukup lama. Entah apa dia merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya dengan lembut, Chuuya tersentak tapi masih tak ingin menatap Dazai. "Aku sedang di mood" ucap Dazai yang membuat Chuuya memerah, dia bisa tau melihat telinga Chuuya sudah memerah, perlahan Dazai membalikkan tubuh mungil itu, menatap padanya di bawahnya, pipi ranum entah karna efek alkohol atau Dazai sendiri.

"Kau mau?" tanya Dazai, merendah.

"Entahlah…" jawab Chuuya, semakin merapatkan matanya, tindakannya bodoh, namun terlihat lucu di mata Dazai.

"Jangan begitu" jawab Dazai singkat.

"Tidak"

"Iya, atau tidak"

"Huh…, menurutmu?"

"Kau memang tidak mau jujur akan perasaanmu sendiri Chuuya"

"Apa kau pernah jujur pada persaanmu sendiri?"

"Selalu, terutama padamu"

Chuuya diam, matanya masih terpejam tak menatap Dazai, sementara Dazai sudah menatapnya sangat lekat, Chuuya memang tak ingin menatapnya malam ini.

"Benarkah?" tanya Chuuya masih sama dengan ekspresinya.

"Tentu"

"Lakukan sesukamu kalau begitu"

"Hmm?"

Chuuya masih tak ingin menatapnya namun bibirnya mengisyaratkan untuk mendapat perhatian dari di atasnya, lalu berkata "Aku bilang lakukan sesuai keinginanmu"

"Kau sendiri?"

"Aku terserah padamu"

"Dasar" Dazai mendekat pada Chuuya, pada bibirnya memberikan sebuah kecupan yang awalnya sangat pelan, lembut, mata Dazai masih menatap kelopak mata yang masih setia tertutup itu, entah apa yang ada di pikiran Chuuya, Dazai menark diri lalu berkata.

"Kau, matamu kenapa?"

"Sudah kubilang aku kelelahan" terdengar malas menjawabnya.

"Kalau kau mengantuk, kita batalkan saja"

"Boleh, tapi bagaimana denganmu sendiri?" pertanyaan Chuuya justru membuat membuat Dazai terdiam dengan bibir menggerutu tak puas. Ngambek.

"Yahh kalau begitu…, ikuti kata-kataku anggap saja matamu tertutup" sambung Dazai tak puas.

"Ambil dasi kalau begitu"

"Itu sudah lain Chuuya, emmm…, jangan menggodaku" ucap Dazai tak senang namun menarik juga, berpekik sejenak di hatinya, 'Chuuya ingin main SxM, kah?'

"Tidak sama sekali"

"Dasar…" kembali pada Dazai yang dengan manisnya mendekat pada kekasihnya yang sudah memerah, matanya tertutup dengan intentsnya, entah mengapa mengingatkan Dazai pada putri tidur yang cantik, tentu Dazai juga sering memandang wajah Chuuya yang tertidur pulas dengan wajah mendengkur lembut, ah sialan.

"Buka mulutmu, ulurkan lidahmu" ucap Dazai pada Chuuya, mau tak mau Chuuya hanya mendengus tak senang membiarkan mulutnya terbuka dan mengulurkan lidah mungilnya pada Dazai, Dazai tersenyum memandangnya.

Perlahan mulut satu lagi itu dengan senang hati memanjakkan lidah di bawahnya, menariknya dengan giginya lembut, menghisapnya seraya beradu geraman dan erangan di sana, Chuuya ikut seta masih dengan matanya yang tak ingin ia tampakkan pada Dazai, Dazai dengan puasnya dengan nafsunya melahap lidah tersebut, membuat suara kecupan dan tegukan di ruangan itu sebagai pengganti musik dari piringan hitam yang tak jadi di mainkan.

Dari lidahnya dia menyelinap masuk ke dalam mulut Chuuya, mengabsen deretan giginya dengan sangat panas, membuat Chuuya bergumam juga, lengannya yang sengaja ia rekatkan pada pundak Dazai sebagai acuan kontrolnya. Masih dengan suara kecupan yang panas dengan lenguhan yang menjadi pula, mengabsen langit-langit mulut mungil itu, menumpahkan saliva dari mulutnya ke mulut satunya, bertukar.

Chuuya memeras kemeja Dazai, kehabisan nafas. Dazai mengerti dan melepaskan ciuman itu, menatap Chuuya dengan mulut mengkilat lembab akan saliva milik Dazai sendiri, Dazai masih merasakan sekitar mulut Chuuya menciumi bibirnya pelan, menjilati sekitar bibirnya dengan lidah nakalnya yang serakah. Menatap Chuuya kembali yang masih tak ingin menatapnya, tapi dia bisa melihat mulut mungil itu berusaha mencakup oksigen saat tautan di lepaskan.

Dazai turun, dari mulut mungil yang selalu memberikan simpul khasnya sendiri ke leher jenjang dengan lapis kulit sawo matang, masih dengan harum yang sangat ia ingat di memori otaknya, bau khas Nakahara Chuuya, mendengus sebentar, melepas choker penutup itu, di lihatnya beberapa tanda penjelajahan yang masih menempel di sana, apa salahnya membuat lagi, bukan?

Dazai menciumi leher Chuuya, membuat Chuuya menggeram dan mendesah saat tau lidah yang arogan itu bersenang-senang di atas leher jenjangnya, Chuuya menggerang seperti biasanya saat mereka melakukan ini, tidak berubah sama sekali, pikir Dazai.

Melengkungkan tubuhnya, menampakkan leher untuk di ekspos oleh mulut Dazai sendiri, Chuuya menahan jeritannya dengan menggigit bawah bibirnya sendiri, sementara Dazai masih sibuk memberi tanda di sana dan sini.

"Ku kira, kau tidak menginginkannya"

"Ti—ahnn ahh.., Aku tidak bilang begi—mmnnh, Daz- ah ahh…" berusaha menjawab yang dia tau kalau dia hanya bisa membuat suara-suara demikian, sial.

Tertawa rendah dengan mulut yang masih berada di sekitar sana, perlahan dia menatap Chuuya yang berada di bawahnya. Menautkan lagi bibir tipisnya di sana membiarkan dirinya bersenang-senang, dengan bibir bertautan Dazai membuka satu persatu kancing rompi dan setelahnya kancing kemeja putihnya, Chuuya membuka mulutnya menyerang lidah Dazai dengan lidahnya tangannya juga melakukan hal yang sama, berpindah kedepan dada milik Dazai, membuka satu persatu kancing pakaian itu dan bergumam dengan suara erotis.

Mereka sama-sama merabah mulus dada masing masing, Dazai yang sesekali mencubit tonjolan milik Chuuya membuatnya menggeram tak senang, Dazai tau tapi masih sibuk melakukannya, Chuuya masih merasakan dada bidang di sana yang setia dari dulu di lilit perban putih, Chuuya juga tau ada banyak luka di sana-sini, dia pernah melihatnya sekali.

Perlahan tautan itu dia lepaskan dan menuju pada dada bidang tanpa penjagaan di abawahnya, menjilatinya, menggigitnya, memberi tanda sampai dia benar-benar puas, jika dia memang benar-benar bisa puas. Chuuya semakin menjadi-jadi, menutup mulutnya, memeras kepala Dazai dengan lenguhannya yang tak bisa ia kendalikan, perlahan dia merasakan kehangatan di satu nipple miliknya sementara yang lainnya di mainkan dengan leluasa, "AKHH AHN…, Daz—ahh ahnn…, apa ya- ahh ahn tungg—uhh, ah ahhh! Akh! Sia- ahnnn" masih dengan suara yang sama saat terakhir kali mereka melakukan ini, di kamar mandi.

Dia masih tak ingin menatap ke arah Dazai, meraba sesuai instingnya, dari atas ke bawah, hingga dia tak sengaja membuat Dazai melenguh dan mengerang saat tau tangan Chuuya meraba daerah sensitifnya yang sudah mulai memanas di sana,

"Kau…, hati-hati!" ucap Dazai melepaskan tautan itu dari Chuuya menatapnya, dengan keringat di pelipisnya dan aneh sedikit marah.

"Aku tidak tau…" Chuuya membuang pandangannya seraya mengalihkan pandangannya dari sana, dan tentu saja dengan mata yang masih setia tertutup di sana.

"Buka matamu kalau begitu"

"Tidak"

"Kenapa kau bersikeras, Chuuya?"

"Apa itu ma-masalah? Lanjutkan saja kalau kau mau" Chuuya kesal, membalikkan tubuhnya, masih tak ingin menatap Dazai, Dazai malah membalikkan tubuh Chuuya ke posisi semula, masih ingin menatapnya.

"Kalau begitu…, aku ingin kau menatapku"

"…" Chuuya diam tidak menajwab. Berusaha bersuara namun dia tersentak saat merasakan sebuah tangan dengan cepat membuka celananya yang dia sendiri ingin marah pada Dazai di atasnya, "Apa yang-"

Tersentak dengan sebuah jari yang entah mengapa bisa masuk ke dalam dirinya dengan mudahnya, padahal dia yakin Dazai belum melakukan sebelumnya, tidak langsung demikian dia memasukkan jarinya, tentu ini di luar tindakkannya sebelumnya.

"AKHH AHN NGG- ahh- ahh-" masih menjerit dengan tindakan Dazai, yang perlahan mendorong jari itu semakin masuk kedalam diri Chuuya, menekan pada spot yang sangat tau di mana letak kelemahan miliknya.

"Tatap aku…"

"Aku- ah– tid- uhh ahnn—, pela—ahh! tunggu-tung ahh akhh.. Daz—ah, zaii" masih bersuara dengan lenguhan erotis miliknya, yang membuat Dazai menambahkan satu jari pada Chuuya, dia tau seharusnya dia tidak melakukan ini, dia seperti menyiksanya. Tapi lihatlah Chuuya yang sudah menggila di bawahnya ini, bahkan dia tidak bisa bicara dengan normal.

"Aku—ahn- aku akhh ahh ngahh mmnh tungg- ahh ahhk , Daz-"

Tangan Dazai masih dengan leluasanya melakukan pekerjaan miliknya, membuat Chuuya tidak bisa berkomentar apapun, Dazai menuntut dan Chuuya tak ingin. Dia memang tak menginginkan malam ini seperti ini, sudah di bilang dia perlu waktu untuk meluruskan pikirannya, bukan bermalam panas di atas sofa.

"Henti- Daz- ahhn…, ber- ber- ahh ahh HENTIKAN!" teriak Chuuya yang masih di sertai suara erotisnya, Dazai menatapnya yang berteriak itu.

Jarinya masih di dalam liang milik Chuuya yang kembali sempit itu, yang jarinya sangat di apit oleh dindingnya, mencerna jeritan itu, "Apa?" tanya Dazai

"Henti….kan…, sudah" ucap Chuuya, sekarang menatap mata coklat kemerahan itu, dengan bulir air mata di sisinya, kesakitan? Diam sejenak memandangnya yang di bawah ini.

Hening sebentar.

"Hentika…nn..!" ucap Chuuya masih samar namun sungguh jelas.

Dazai mengeluarkan jarinya dari sana, Chuuya menggigit bibir bawahnya lagi. Perlahan Dazai mendekat ke arah Chuuya memeluknya dengan hangat dan berbisik, "Maaf, aku kasar…, kau tidak usah ragu padaku kalau kau tak ingin Chuuya…" ucap Dazai gema dan parau, di tatapnya Chuuya yang mengalihkan pandangan darinya.

Dazai menghapus sisa air mata itu dari sudut matanya, mengusap pelan pipinya yang sembab akan keringat atau air mata, mengecup pelan kelopak matanya dengan lembut.

"Kau mau ku antar ke kamar?" tanya Dazai dengan senyum.

"Tidak!" bantah Chuuya.

"Hm?"

"Aku ingin sendiri malam ini…" ucapnya datar suaranya agak lirih.

"Maksudmu?" tanya Dazai agak kaget.

"Boleh aku minta kau tidak bermalam di sini?"

Dazai diam mencerna kata-kata itu, memandangnya keheranan satu-satunya yang dapat ia lontarkan hanya, "Kenapa?"

"Aku lelah, Dazai" sekarang mata azure itu menatapnya sesuai permintaan Dazai, seharusnya dia tidak melakukan itu. Seperti meminta, memohon atau apapun itu. Tatapan yang Dazai sendiri tak pernah dia lihat wajah Chuuya seperti itu.

Hening menyelimuti sekitar mereka, berganti dari detik ke menit, perlahan Dazai mendekat pada Chuuya dan mengecup pelan bibirnya seraya berkata, "Baik, kalau itu mau mu" masih menatap mata yang tertutup itu, Dazai kembali mengenakan celana milik Chuuya pada kaki jenjangnya yang tadinya sudah separuh di kakinya, merapikannya sedia kala.

Mengangkat dirinya dari Chuuya, berjalan ke kamarnya untuk mengambil mantel golden-brown yang setia di pakainya. Chuuya menatap punggung sofa sekarang, menekuk tubuhnya memeluk dirinya hangat. Entah mengapa sebuah kain dengan lembutnya menyelimuti tubuhnya, itu dari Dazai yang sudah rapi akan pakaiannya. Chuuya masih tak ingin menatapnya. Entah mengapa dia berbuat demikian.

"Chuuya" Dazai berdiri memandangnya, dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku mantelnya.

Tangan penuh perban itu dengan lembutnya mengusap kepala denagn reven senja itu, hangat, lembut seperti Dazai yang biasanya pada Chuuya, lalu berkata dengan sangat dalam di nada bicaranya, membuat Chuuya kaget namun masih diam dengan posisinya, masih tak ingin menatapnya.

"Aku pergi, apa pagi ini aku boleh ke mari?" tanya Dazai masih ringan

"Tidak, mungkin 3 hari kedepannya…" ucap Chuuya, suaranya kecil namun Dazai bisa mendengarnya dengan jelas.

Hening sejenak menyelimuti mereka, Dazai diam dengan jawaban tersebut, mengehela nafas agak panjang dan berkata, "Begitu? Baiklah…"

"Oyasumi…" ucap Dazai, perlahan langkah kakinya menjauh dari Chuuya, yang dia bisa mendengarnya, dan sebuah derit pintu terbuka, kemudian tertutup.

Menyisakan Chuuya dengan pemikirannya sendiri, dengan perkataannya sendiri, dengan perbuatannya sendiri.

Kemudian bergumam, "Apa aku minta Dazai sekali lagi pergi dari sisiku?"

Chuuya menenggelamkan tubuhnya dalam selimut hangat itu, sungguh ini seperti kejadian dulu, saat Chuuya menyuruhnya untuk meninggalkannya.

Demi apa? Demi Dazai sendiri, tentunya.

Siapa juga yang tega melihatnya meringuk seperti itu, dan itu juga jalan keluarnya hanya itu.

Sekarang dia menyuruhnya untuk pergi lagi, apa lama? Dia mengucapkan tiga hari bukan? Bukannya Chuuya meminta untuk Dazai tak pernah pergi lagi dari sisinya? Terlalu egois. Dirinya terlalu egois. Dia sadar.

Seandainya dia sanggup untuk bertanya, yang terkadang sebuah permasalahan takkan selesai jika hanya di pendam saja. Tapi apa salahnya? Dia juga lelah dan dia perlu isthirahat. Dan keraguan di benak dan di hati itu memang selalu ada. Semua orang memilikinya. Semua…

.

.

.

.

.

Countinued


.

.

.

.

.

Omake

When people not being comfort with you… than you must stay away for while or talk about it… JUST THAT! :'''''''') /gak paham

Hahaha :''v so here it is…, gak sampe anu tapi anu yaa hmmmz ( ; _ ; ) itung-itung apalah gitu sebelum puasa huhu lrt :''v Thank youu minna, you enjoy this shit? You're rock! Yeahhh! Banyak yang protes karna gantungan di chap.1 /minta di tabok luu muehehe sepertinya lebih gantungan di sini lagi ( ; w : ) melaratlahh kaliaann / luu juga kann?

Untuk temanku yang sangat anu- uhumm baik, terima kasih smutnya, lain kali berikanlah baddas indonesia Soukoku,ya yaa! Aku menuntuttt! Dan selamat ulang tahun betewe~ Schwarzer-san ….! Eh, kemungkinan next chapter adalah chapter terakhirnya? Penasaran? penasaran? Sama saya jugaa :''v semakin gaje saja fanfic ini, seluruhnya…, semuanya…, bakar-bakar! /tabokk

Salam

satsuki grey


.

.

(Telah di perbaiki dari naskah sebelumnya karna mengandung banyak typo berlebihan, tolong tinggalkan pesan atau review jika menemukan typo lagi, Onegaishimasu!)

(The bgm was= "Zedd ft. Foxes – Clarity" / I am hurt's :'v )