Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
Untuk yang keempat kalinya dalam dua minggu ini, Sakura terbangun dengan lelehan air mata di wajahnya. Keadaan kasur di sebelahnya sudah dingin karena sang penghuni sudah pergi, jauh sebelum sang wanita bangun.
Wanita itu menangis dalam diam, namun tidak jarang isakan pilu lolos dari mulutnya. Sama seperti sebelumnya, setidaknya untuk satu jam ke depan Sakura hanya menangis dengan mencengkram erat selimut tebal yang membalut tubuh polosnya, menyalurkan rasa sakitnya.
Bukan, suaminya tidak melakukan kekerasan apapun semalam, hanya saja sikap suaminya kian dingin bahkan setelah mereka melakukan apa yang selayaknya dilakukan oleh pasangan suami istri.
Semuanya di mulai dua minggu yang lalu. Ketika itu Sasuke pulang dengan keadaan sedikit mabuk. Tidak seperti biasanya Sakura yang akan menunggu suaminya pulang waktu itu tertidur di sofa ruang tamu. Betapa dikejutkannya Sakura saat merasakan tubuhnya diangkat dan dibawa ke kasur kamar mereka. Malam itu, Sakura berharap adalah malam yang akan mengubah hubungan mereka menuju ke arah yang lebih baik. Tentu saja dengan senang hati, Sakura membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkannya. Karena jiwa dan raganya memang milik suaminya dan berharap dengan apa yang telah mereka bagi malam itu suaminya akan membalas perasaannya.
Kemudian malam itu berulang. Dalam dua minggu mereka berdua telah intim beberapa kali.
Namun nyatanya, sikap Sasuke pada istrinya sama sekali tidak berubah, bahkan terkesan semakin tidak peduli.
Jika biasanya sesekali Sasuke akan menanyakan bagaimana keadaan istrinya, apakah wanita itu memerlukan sesuatu dan lainnya atau dia akan pamit sebelum berangkat ke kantor. Namun sekarang, lelaki itu akan berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya bahkan sebelum Sakura bangun, akan pulang lebih larut dan selalu setelah Sakura tertidur. Ia juga tidak pernah menyentuh hidangan yang selalu dimasak oleh istrinya dan akan dibiarkan tanpa terjamah seperti semula di meja makan seperti biasanya.
"Kenapa?"
Sakura tidak lagi menahan isakannya. Akhirnya tangisan yang sudah ditahannya pecah menggema di apartemen yang selama menikah dengan Sasuke seolah menjadi sangkarnya.
Raungan pilu terus saja dikeluarkan Sakura, berharap hatinya akan merasa lebih baik. Sungguh tidak berguna, dirinya hanya bisa menangis dan pasrah terhadap apa yang telah menimpanya. Terlalu bodoh dan naif, masih berharap suaminya akan merubah sikap padanya dan mungkin mencintainya. Namun kenyataan tidak selalu seperti apa yang diharapkan.
.
.
.
.
.
Setelah puas menangis hingga suaranya serak, Sakura akhirnya bangun dan membersihkan diri. Kendati telah mandi, matanya masih terlihat sembab dengan hidung yang memerah.
Saat ini Sakura sedang menunggu roti yang tengah di panggangya di dalam toaster. Walaupun ia tidak memiliki napsu makan, namun sedari tadi perutnya terus berontak dan berbunyi karena dari semalam wanita itu memang belum makan.
Helaan napas panjang keluar dari mulutnya, pandangannya kosong dan raut wajahnya terlihat sendu. Walau sudah puas menangis, tapi nyatanya hal itu tidak cukup untuk membuat hatinya merasa lebih baik. Sudah seringkali pikiran untuk mengakhiri ikatan pernikahannya berkelebat di kepalanya. Namun hal itu selalu ditepisnya, ia masih berharap Sasuke akan memerhatikannya sebagai seorang istri seiring dengan berjalan waktu.
Namun sampai kapan ia harus menunggu?
Kadang, rasa lelah dan putus asa tidak jarang hinggap di hati wanita itu. Saat perasaan gundah itu melandanya, Sakura akan goyah akan keyakinannya sendiri. Tapi kepercayaannya kembali tumbuh di hati Sakura hanya dengan melihat Sasuke.
Begitu besarnyakah cintanya pada suaminya?
Tapi untuk sekarang ini, kegundahan hati Sakura masih belum jua hilang. Hampir setiap malam selama satu mingu terakhir ia selalu memikirkan masa depan pernikahannya. Selain memikirkan dirinya, tentu saja ia juga memikirkan kebahagiaan Sasuke. Seringkali Sakura berpikir, jika dirinya tidak menikah dengan Sasuke apa mungkin lelaki itu akan kembali pada mantan istrinya.
Tanpa sadar, wanita itu menggigit bibirnya menahan air mata di ambang pelupuk matanya.
Lalu kenapa Sasuke melamarnya saat itu jika dirinya tidak dianggap seperti ini. Apa karena pria itu tahu ia yang mencintainya dan membuatnya menjadi pelampiasan karena kegagalannya terdahulu. Sakura belum tahu jawabannya meski sudah seringkali ia menanyakan hal ini pada Sasuke.
Pernah suatu malam setelah malam intim mereka, Sakura menanyakan alasan Sasuke menikahinya. Namun lelaki itu hanya diam dan menjawabnya dengan gumaman khasnya. Lalu ketika Sakura kembali membicarakan topik yang sama, Sasuke hanya mendengus rendah dan meninggalkan wanita itu dengan air mata yang siap jatuh di pipinya.
Apa lebih baik Sakura mengakhirinya saja untuk kebaikan mereka berdua?
Ting!
Suara toaster yang menandakan roti yang dipanggangnya telah siap membuat Sakura kembali dari renungannya.
Wanita itu mendesah, mengusap pipinya yang sudah kembali basah. Ia beranjak dari kursinya dan mengambil sebuah piring porselen. Setelah menaruh roti yang sudah kaku namun garing tersebut, ia kembali duduk ke tempatnya semula dan mengoleskan rotinya dengan madu menggunakan pisau makan.
Perlahan, Sakura menggigit rotinya dan menelannya pelan-pelan. Ah, tenggorokannya terasa sedikit sakit ternyata. Ditemani dengan segelas susu hangat, wanita itu terus melahap sarapannya hingga habis.
Setelah selesai, Sakura mencuci piring dan pisau yang digunakannya.
Ia melihat masakannya tadi malam dan memilah makanan yang kiranya masih layak dan bisa dihangatkan. Setelah menghangatkan beberapa jenis makanan, ia membiarkannya sebentar hingga sedikit dingin sebelum memasukkannya ke dalam wadah plastik. Seperti biasa, Sakura akan mengantar makanan tersebut ke sebuah panti asuhan yang berada tidak jauh dari apartemennya.
.
.
.
Suigetsu tahu sahabat sekaligus atasannya itu tengah memiliki masalah dengan istrinya hingga membuatnya tidak fokus bahkan sering melamun. Sudah seringkali ia mencoba untuk membuat Sasuke berbicara tentang sesuatu yang sedang dipikirkannya, namun lelaki itu hanya mendengus dan berkata kalau itu bukan masalahnya.
Sama seperti sekarang ini, tumpukan dokumen yang hampir menggunung itu tidak tersentuh oleh Sasuke bahkan sudah beberapa kali ia menerima komplain dari beberapa pihak karena Sasuke membatalkan janji secara sepihak. Yang paling parah, salah satu relasi bisnisnya mengancam akan memutuskan kontrak kerjasama mereka.
Padahal, Sasuke tiba di kantor pagi-pagi sekali bahkan belum ada satupun karyawannya yang datang dan dia juga pulang paling akhir.
Apakah Sasuke menghindai istrinya? Apa mereka bertengkar?
Suigetsu menggeleng pelan, mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Memikirkan masalah rumah tangga Sasuke lebih berat dari memikirkan proyek-proyek rumit dengan deadline singkat yang telah dikerjakannya.
"Sasuke."
Suigetsu jengah karena sedari tadi Sasuke hanya diam dan menatap ke luar jendela. Pekerjaannya diabaikan begitu saja seolah tidak peduli dengan masa depan perusahannya.
"Kau menghindari Sakura, 'kan?" tanya Suigetsu yang sudah seminggu terakhir ini memerhatikan Sasuke yang pulang lewat tengah malam.
Suigetsu menyeringai saat melihat prubahan di wajah Sasuke meski hanya sekilas.
Tebakannya memang selalu benar.
"Sebaiknya kalian bicara," saran Suigetsu yang bersiap meninggalkan ruangan Sasuke. "Kalau kau terus seperti ini, aku tidak akan kaget kalau Sakura akan memilih untuk meninggalkanmu," imbuhnya sebelum menutup pintu ruangan lelaki Uchiha itu.
Suigetsu tidak melihat rahang Sasuke mengeras dan tubuhnya menegang setelah mendengar ucapannya.
.
.
.
.
.
Sakura tersenyum tipis saat keluar dari taxi dan menatap gedung perkantoran tempatnya bekerja dahulu. tangan kanannya menneteng sebuah plastik putih yang berisi bento di dalamnya. Ia sengaja membuat bento untuk suaminya dan mengantarkannya sekarang untuk makan siang.
Beberapa karyawan menyapanya saat memasuki gedung milik suaminya. Sakura hanya tersenyum dengan sapaan mereka, kadang berhenti hanya untuk sekedar berbincang sebentar dengan beberapa rekannya dulu.
"Mau mengantarkan makan siang untuk suamimu?" Seorang agdis bercepol mengedipkan matanya menggoda Sakura.
"Begitulah. Apa dia di ruangannya?"
Gadis itu mengangguk dan mempersilakan Sakura untuk pergi secepatnya.
Sakura hanya terkekh kemudian pamit dengan gadis yang diketahuinya berasal dari Cina itu. "Baiklah, aku pergi dulu," pamitnya kemudian.
Setelah masuk ke dlaam lift, Sakura memencet nomor tertentu dan merasakan lift mulai bergerak.
Untung saja, Sakura hanya sendirian di dalam sana. wanita itu mendesah dan menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Selain untuk mengantaran makan siang, hari ini ia bertekad untu berbicara yang serius dengans uaminya. Sakura sudah memikirkan hal ini selama berhari-hari dan sampai pada kesimpulannya yang diharapkan menjadi yang terbaik untuk keduanya.
Kendati diirnya masih mencintai Sauske, nmaun tekad wanita iu sudha bulat. Ia akan melepas Sasuke dan membiarkannya bahagia dengan wanita lain. Hal ini dilakukan Sakura bukan hanya untuk Sasuke, tapi untuk dirinya. dengan itu ia berharap, kelak akan ada kebehagiaan untuk dirinya kendati bukan dari lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
.
Ketika pintu lift terbuka, Sakura langsung melangkah keluar dan berjalan pelan menuju ruangan suaminya. Jantungnya berdebar kencang, tenggorokannya bahkan terasa kering. Belum saja ia berbicara namun sudah gugup dan takut begini. Untuk membuatnya sedikit tenang, Sakura diam sebentar di luar ruangan Sasuke untuk mengambil napas dan mengembalikan degup jantungnya kemali normal.
"Sial!" rutuknya kesal karena masih belum mampu untuk tegar. Tanpa sadar, pelupuk matanya kembali tergenang.
Sesungguhnya, Sakura masih belum rela untuk melepaskan Sasuke. Ia masih sangat berharap jikalau suatu saat lelaki itu akan benar-benar memperlakukannya sebagai seorang istri yang nyata. Tapi Sakura sudah lelah menunggu. Ia lelah meratap tiap malam, menanis sebelum tidur dan hanya menatap punggung lelaki yang dicintainya.
Wanita itu lelah dengan harapan-harapan kosong yang selama ini menjadi keyakinannya.
Mungkin.
Mungkin saja dengan melepaskan semuanya, ia bisa menemukan kebahagian sendiri.
Setelah lima menit berdiam diri di luar ruangan Sasuke, Sakura akhirnya sudah sedikit tenang dan siap untuk bertatap muka dengan suaminya. Tanpa mengetuk sebelumnya, Sakura memutar kenop pintu dan membukanya perlahan.
Sakura mematung dengan apa yang dilihatnya.
Napasnya tercekat, tubuhnya kaku. Tangan kirinya yang memegang handle pintu bergetar dan kemudian lemas di sisi tubuhnya. Emerald-nya melebar dan sudah berkaca-kaca melihat pemandangan yang terlihat dari celah pintu yang belum terbuka sepenuhnya.
Kendati sudah siap untuk berpisah dengan suaminya, namun melihat Sasuke tengah memeluk seorang wanita yang diketahuinya adalah mantan istri suaminya itu membuat air mata terjun bebas membasahi pipi mulusnya.
Dadanya sesak, paru-parunya terasa sangat sulit untuk menyerap oksigen. Dalam hati ia meraung menjerit pilu kendati tubuhnya kaku dengan wajah kosong yang berlinang air mata.
Dengan tangan lemas, Sakura menutup pintu mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan suaminya. Ia tidak perlu lagi berbicara dengan Sasuke tentang masa depan mereka berdua karena jawabannya sudah jelas bahkan sebelum ditanyakan.
Sakura tersenyum miris dalam tangisnya. Ia menatap sendu pintu yang tertutup tersebut dan berbalik pergi dari sana setelah sebelumnya mengabaikan bento buatannya yang tergeletak di depan ruangan Sasuke.
.
.
.
.
.
Sasuke mendesah, menatap handphone-nya yang menampilkan nama seseorang di layarnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, ia ingin menghubungi nomor yang tertera di layarnya namun keragu-raguan menyelimuti hatinya.
Kuso!
Ia memang pengecut, bahkan berbicara dengan istrinya saja ia tidak berani untuk memulainya.
"Sasuke!"
Sasuke meletakkan handphone-nya di atas meja, lalu mengernyit menatap Suigetsu yang masuk dengan sesuatu di tangannya.
"Apa itu?" tanyanya saat Suigetsu menaruh benda tersebut di depannya.
"Aku menemukannya di depan ruanganmu," sahut Suigetsu. Pria itu kemudian membuka kain pembungkusnya dan menemukan sebuah kotak bekal berwarna hijau. "Bento, eh?" Keningnya mengernyit melihat beberapa jenis makanan yang tersusun rapi di dalam sana.
Suigetsu langsung mengambil tempura udang dan melahapnya dalam satu kali gigitan. Enak, pikirnya.
"Siapa yang menaruhnya disana ya …?" Sugetsu berpikir sejenak, namun langsung mengabaikannya dan kembali mengambil udang.
"Mungkin itu beracun," ujar Sasuke yang kembali sibuk dengan handphone-nya, lebih tepatnya masih ragu-ragu akan menghubungi istrinya atau tidak.
Mendengar ucapan Sasuke, Suigetsu langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil onigiri. Mungkin yang dikatakan Sasuke benar, lagipula ia hanya menemukan bento tersebut tergeletak begitu saja di depan ruangan Sasuke.
Bagaimana kalau memang benar beracun karena ada seseorang yang sengaja menaruhnya disana?
"Sasuke-sama."
Perhatian Suigetsu dan Sasuke tertuju pada seseorang yang baru masuk dengan setumpuk dokumen di tangannya.
"Aku memerlukan tanda tangan anda, Sasuke-sama," ujar gadis bercepol yang baru masuk tersebut.
"Hn." Sasuke menanggapi dan menyuruh gadis itu untuk menaruhnya di atas meja kerjanya.
"Jadi anda belum sempat memakan bento dari Sakura-chan?" Tenten bertanya ingin tahu. Padahal Sakura datang siang tadi dan sekarang sudah sore.
"Sakura?" tanya Suigetsu yang seolah mewakili pertanyaan Sasuke.
Tenten mengangguk. "Tadi siang aku bertemu dengannya di lantai di bawah. Katanya ingin mengantarkan bento untuk suaminya," jelas Tenten yang melirik Sasuke.
"Benarkah?" Suigetsu menjadi bingung. Lalu kenapa ia menemukannya di luar ruangan Sasuke.
Tenten pun sama. Namun ia tidak ingin menanyakannya lebih lanjut. "Baiklah, saya permisi dulu." Setelah pamit, Tenten langsung keluar dari ruangan bosnya.
"Hei, Sasuke …"
Suigetsu terdiam, tidak melanjutkan ucapannya saat melihat ekspresi yang tengah ditampilkan oleh sahabatnya.
Nampak sangat jelas kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan di wajah yang biasanya tanpa emosi tersebut.
"Sial!"
Sasuke mengutuk, langsung menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar dari ruangannya meninggalkan Suigetsu yang menatap kepergiannya dengan wajah kebingungan.
"Dia pasti salah paham."
Entah kenapa ketakutan tiba-tiba muncul di benaknya. Sasuke tidak tahu hal itu datang darimana. Firasatnya benar-benar buruk.
"Sial!"
Bahkan lift-pun terasa sangat lamban dan itu membuatnya frustasi..
.
.
Benar saja.
Apartemennya kosong dan tidak menemukan siapa-siapa disana.
"Sakura!"
Sasuke berkali-kali memanggil nama istrinya lebih dari yang telah dilakukannya. Ia membuka pintu kamarnya dan menemukan tempat tidur masih rapi namun ia tidak menemukan Sakura diamna saja. Sasuke juga sudah menghubungi Sakura namun nomornya tidak aktif.
Ia membuka kama mandi, dan kosong.
"Sakura!"
Sasuke kembali berteriak frustasi.
Ketika membuka lemari, saat itu juga apa yang ditakutkannya selama ini menjadi kenyataan. Koper kecil yang tersimpan disana sudah tidak pada tempatnya lagi bahkan beberapa pakaian yang biasanya digunakan Sakura sehari-hari hanya menyisakan gaun-gaun mahal yang dibelikannya dulu. Sasuke juga membuka laci nakas dan tidak menemukan netbook yang biasanya digunakan Sakura sudah tidak ada disana.
Ucapan Suigetsu kembali terngiang-ngiang di kepalanya membuatnya semakin tidak menentu. Disaat itulah ia melihat sebuah map di atas nakas dengan secarik kertas di atasnya.
Sasuke mengambil map tersebut dan menaruhnya di atas pangkuannya. Terlebih dahulu ia membuka lipatan kertas putih di tangannya dan seketika tubuhnya lemas. Setelah membuka isi dari map di pangkuannya, Sasuke akhirnya ambruk di ranjangnya mengabaikan kertas-kertas yang terceceran dilantai.
Surat cerai.
Ya, kertas tersebut adalah surat cerai dengan tanda tangan Sakura di atasnya.
.
.
Aku sudah lama memikirkan semua ini, Sasuke-kun. Aku minta maaf karena tiba-tiba pergi dengan cara seperti ini. Awalnya aku memang berencana untuk membicarakan hal ini denganmu, tapi kurasa tidak perlu lagi.
Terimakasih untuk semuanya.
Maaf, aku tidak bisa menjadi istri yang baik seperti keinginanmu karena mungkin aku memang bukan wanita yang kau inginkan. Setelah ini, semoga kita berdua menemukan cinta masing-masing yang akan menjadi pasangan kita yang sesungguhnya.
Kau juga berharap begitu 'kan, Sasuke-kun?
Jaga pola makanmu, jangan terlalu banyak bekerja dan perhatkan kesehatanmu.
Selamat tinggal, Sasuke-kun.
.
.
Bersambung
.
Ehem. Pengen bikin yg agak ngehurt gitu, tapi susyyaahh buatku hahahah. Mudahan feelnya dapet walopun dikit wkwkkw
Target tamatnya sih di chap empat atau lima, mudahan bisa. Abis males bikin yg panjangpanjang ehehehhe
Selamat hari raya idul fitri buat yang merayakan, mohon maaf lahir batin.
Terimakasih juga untuk readers dan untuk kalian yang udah ngeripiu. Terimakasih banyaaakkkk
