"Inside his silver head, there is only a little kid with a never ending mourn."
CHAPTER 1
[-||-]
NEWCOMERS
Byun Baekhyun, 24 tahun, bertubuh pendek dengan rambut gelap dengan kening dan hidung yang selalu mengerut jijik, mengedarkan pandangannya dengan tampang tak senang ke dalam ruangan sempit berisi tiga orang di dalamnya.
Ia dipindahkan ke ruangan lain hari ini, dengan dalih bahwa Profesor Choi yang mengurusnya selama enam tahun belakangan ini berkata bahwa ia sedang dalam tahap perkembangan yang baik, dan ia perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Baekhyun memiliki ruangan khusus sebelumnya, dan ia sudah menempati ruangan itu selama enam tahun terakhir. Ruangan itu memiliki fasilitas paling nyaman bagi Baekhyun—terhadap ketakutannya akan penyakit dan bakteri. Ruangan itu bagaikan gelembung amannya selama ini.
Berdasarkan penjelasan Profesor Choi saat konseling terakhir mereka, Baekhyun sudah tidak 'separah' sebelumnya—ha, tentu saja. Ia sakit mental. Ia tahu kalau semua keluarganya menganggapnya sakit jiwa. Baekhyun tidak pernah mau berjabat tangan dengan orang lain, selalu mandi dan mencuci tangan berkali-kali, merapikan dan membersihkan kamarnya yang lama setiap beberapa jam sekali—intinya, sekarang ia sudah lebih baik. Baekhyun sudah mulai mau berjabat tangan dengan orang lain, meski ia harus selalu mensterilkan tangannya dengan hand sanitizer setelah ia bersalaman dengan wajah panik dan jijik, dan hanya akan mandi atau mencuci tangan beberapa kali sehari. Rekornya paling banyak adalah lima kali, dan ya, itu termasuk jauh lebih baik.
Selama bertahun-tahun, Baekhyun merasakan stress akibat kebutuhannya ini, meski begitu ia tetap melakukannya bahkan ketika ia tahu apa yang ia kerjakan adalah hal sia-sia—karena ia akan selalu kotor, entah seberapa kali ia membersihkan dirinya. Manusia itu sumber pernyakit. Hati kecilnya selalu merasa seperti itu. Baekhyun juga sangat sadar bahwa segala kegiatan yang ia lakukan—mencuci tangan, mandi, membersihkan barang-barang, hanya akan memberinya kenyamanan sementara, membuatnya tenang meski hanya sesaat.
Maka dari itu, Profesor Choi nampaknya berpikir bahwa menempatkan Baekhyun dalam satu kamar bersama pasien lainnya adalah hal yang bagus.
Baekhyun berjengit ketika ketiga kepala itu menoleh ke pintu secara bersamaan untuk menatap pendatang baru yang kini tengah berdiri sambil mengangkut boks kardus yang bahkan kelewat besar untuk tubuhnya sendiri—seprai, selimut dan bantal bersih yang dilipat rapi, baru saja ia ambil dari petugas laundry, lengkap dengan sekotak kecil hand sanitizer, dan sekotak lain berisi sabun cair ada di dalam boks kardus tersebut.
Di dalam ruangan sempit itu, terdapat lima dipan kasur kayu yang diletakkan secara selang-seli. Di sebelah kiri terdapat tiga kasur, tiga-tiganya sudah berpenghuni, sementara dua kasur di sebelah kanannya masih kosong. Di tengah-tengah pada ujung tembok terdapat jendela yang diberi teralis besi, sementara di samping jendela terdapat toilet berukuran kecil. Lalu ada wastafel di samping pintu masuk, tepat di samping kanan dimana Baekhyun sedang berpijak sekarang. Baekhyun merasakan tangannya gatal lagi. Sensasi aneh yang ia rasakan ketika dorongan untuk mencuci tangan memenuhi kepalanya.
Ia tidak suka kamar ini.
Kamar ini sempit dan berbau pesing. Baekhyun ingin muntah. Kepalanya pusing. Tapi petugas yang mengantarnya kesini sudah mendorong tubuhnya menggunakan baton di tangannya—dan tidak, Baekhyun tidak mau dihajar menggunakan baton itu.
Pria itu maju selangkah dan meringis, memeluk boks kardusnya erat-erat. Seeorang yang sedang baring di kasur paling ujung menyeringai dan melambai padanya. Baekhyun terpaku untuk beberapa saat. Ia sungguh tidak ingin tidur di salah satu kasur ini—apalagi kasur ujung yang paling dekat dengan toilet berbau pesing itu—Baekhyun segera saja merinding. Dorongan dalam perutnya makin kuat.
Perlahan, Baekhyun beringsut. Setidaknya, kasur yang paling dekat dengan wastafel masih lebih baik dengan kasur di depan toilet itu—tetap saja, jaraknya tidak begitu jauh, dan baunya masih pesing—ya Tuhan, bau pesing dimana-mana.
Baekhyun dengan cepat meletakkan boks kardusnya di atas kasur, mengusak-usak isinya dengan panik. Ia meraih botol sabun cair dan hampir berlari menuju wastafel. Tangannya bergerak cepat menghidupkan keran air, dan bunyi gemercik air yang berbenturan dengan wastafel membuatnya sedikit tenang. Ia mengatur napasnya perlahan, memejamkan mata.
Ketika ia membuka mata, ia melihat wajah pria berumur 24 tahun yang terlihat pucat dan lelah tengah menatapnya balik dari pantulan cermin retak. Ia membuang napas berat dan menuangkan sabun cairnya ke telapak tangan, melihat sedikit kulit di bagian kuku-kukunya sudah memerah dan mengelupas, lalu mulai menggosok tangannya perlahan. Rasanya sedikit perih, namun Baekhyun tidak berhenti.
Ia terus menggosok tangannya sampai napasnya teratur.
Ia tidak merasakan seseorang berjalan di belakangnya, mengendap-endap bagaikan kucing. Itu adalah pria yang tadinya sedang duduk di kasur tengah, entah sejak kapan sudah berdiri di samping Baekhyun.
Ketika Baekhyun akhirnya hendak membasuh tangannya, pria itu harus berjengit horor karena ia mendengar seseorang di sampingnya baru saja menyedot ingus dari tenggorokkannya—kau tahu, kan? Bunyi menjijikkan yang seseorang lakukan ketika cairan kental menyangkut di tenggorokan?
Perlahan, Baekhyun menoleh ke samping dengan ngeri. Pria itu berdiri sangat dekat, masih berusaha menyedot ingusnya, lalu tahu-tahu saja—cuih.
Ia baru saja meludahkan cairan kuning kental ke wastafel, dan cairan kental itu menempel pada tepiannya.
"Ah, sori noona." Kata pria itu, mengangkat sebelah tangannya dan meringis tepat di depan wajah Baekhyun.
Mata Baekhyun membelalak, sementara ia melihat sulur-sulur hitam berkumpul di sudut matanya, mengeluarkan bau busuk, berbisik riuh.
Baekhyun berteriak, dan kemudian tak sadarkan diri.
Kim Jumnyeon, 27 tahun, pasien kleptomania yang sudah dirawat di Sowon Mental Hospital selama hampir tiga tahun, hari ini mendapatkan teman sekamarnya yang baru. Pria itu baru saja tiba—Junmyeon mendengar bahwa dia adalah anak spesial Profesor Choi karena ia memiliki kamar pribadi sebelumnya—cih, Junmyeon bisa saja membeli rumah sakit jiwa ini kalau ia menginginkannya, tahu. Pokoknya, pria ini jelas terlihat normal. Dia tidak terlihat sakit, kau paham, kan?
Umurnya mungkin lebih muda dari Junmyeon, bertubuh pendek dengan rambut gelap, dan ia memeluk boks besarnya seakan hidupnya bergantung dengan benda itu.
Intinya, pria ini tidak nampak berbahaya. Hey, jangan salahkan dirinya kalau ia sedikit berprasangka. Junmyeon hanya tidak ingin sekamar dengan orang sakit jiwa yang hobi mencekik—ya, dia punya teman sekamar yang seperti itu, dulu sekali.
Junmyeon melirik Kim Jongdae yang duduk dengan waspada di kasurnya, kepala mereka sama-sama menoleh ke pintu dengan sikap tertarik. Sejujurnya, Jongdae saja sudah cukup membuatnya pusing—ah, bukan Jongdae, sebenarnya. Jongdae adalah pria paling nomal sekaligus paling sakit di ruangan ini. Ia normal kalau ia sedang menjadi Jongdae, dan bisa menjadi begitu berisik dan bersemangat kalau ia sudah berubah menjadi adiknya, Kim Jongin—yep. Tebakan kalian benar. Kim Jongdae menderita dissociative identity disorder, atau singkatnya, kepribadian ganda.
Tapi sudah sebulan lalu sejak Jongdae mengalami episode, jadi seharusnya mereka baik-baik saja hari ini.
Lalu ada Kim Minseok di kasur paling depan, yang hari ini tampak lebih kalem dari biasanya. Kasus Minseok (mereka seumuran), bahkan bagi Junmyeon sendiri, agak spesial. Initnya, Minseok memakai terlalu banyak heroin hingga pikirannya rusak, dengan cara yang amat menarik. Bahkan menurut Junmyeon, Minseok adalah orang yang memiliki pikiran sangat terbuka, karena menurutnya, ia bisa menjadi apa saja yang ia inginkan di alam semesta ini.
Manusia bukan hanya manusia, dan Minseok membuktikannya.
Ada hari-harinya ia menjadi batu—iya, dia berdiam diri, tidak bergerak maupun makan, rekor terlamanya adalah empat hari, ada hari lain ketika ia menjadi bunga, rumput, pepohonan, dan yang terakhir kali adalah celana dalam.
Junmyeon akan ceritakan itu lain kali, karena si anak baru tampaknya tegang, dan Junmyeon tanpa sadar tersenyum lalu melambai kepadanya.
Pria itu tidak membalasnya, namun hanya berjalan kaku menuju kasurnya dan meletakkan boksnya, lalu tahu-tahu saja mulai mencari-cari sesuatu dengan panik di dalam boksnya dan menuju wastafel untuk mencuci tangan.
Kim Junmyeon sudah melihat banyak orang gila, dan yang ini sejujurnya agak baru. Ia biasanya akan selalu tahu apa masalah orang dalam sekali lihat, tapi pria ini ambigu. Junmyeon menebak-nebak apa yang membuat pria itu bisa sampai ke kamar ini, namun tidak satupun dapat terpikirkan olehnya.
Tapi tak lama kemudian ia mendengar kasur kayu di sampingnya berderak halus dan melihat Jongdae berjinjit-jinjit menuju wastafel, mengendap bagaikan pencuri ulung. Junmyeon tidak perlu menebak dua kali untuk tahu bahwa Kim Jongin sudah kembali.
Ah, sayang sekali kalau kau harus dikerjai pada hari pertamamu. Sejujurnya Junmyeon cukup prihatin.
Kemudian si anak baru berteriak dan pingsan—ya, dia pingsan, dan Junmyeon tahu mereka dalam masalah.
Pria itu mengerang. "Kim Jongin!" teriaknya kesal, sementara pria yang menjadi sasaran amukan hanya nyengir lebar dari depan pintu kamar.
"Sambutan selamat datang," katanya dengan wajah kalem yang sangat ingin Junmyeon tonjok.
Tak lama setelahnya, ia melihat Minseok memeluk lututnya. "Apa lagi hari ini?" kata Junmyeon jengkel.
"Bola tidak bisa berbicara." Jawab Minseok.
Junmyeon memutar bola matanya. "Kau baru saja berbicara, Minseok."
"Reset."
Oh, astaga.
Baekhyun terbangun di ruangan medis, terlonjak begitu kuat sehingga ia jatuh dari kasur besi. Ia berteriak, dan seseorang melemparinya sebotol hand sanitizer. Ia berdiri dengan cepat, menuangkan isi botol dan menggosok tangannya kuat-kuat.
"I-ini tidak cukup," kata Baekhyun, melihat begitu banyak kepulan awan hitam dari sudut matanya, "a-aku mau mandi." Tuntutnya, bergegas pergi.
"Baekhyun," panggil seseorang dari kasur besi di sebelahnya.
Baekhyun berbalik dan melihat Profesor Choi Shinwoo, menatapnya sambil bersedekap.
Baekhyun menggigil, ia melihat sesuatu merayap di langit-langit, berbau busuk. "Aku mau mandi."
Pria paruh baya di hadapan Baekhyun menghela napasnya, lalu mengangguk. Ia memberi kode kepada perawat yang sedang berjaga di depan pintu, yang kemudian menuntun Baekhyun untuk mandi.
Tepat setelah satu jam lima puluh tujuh menit setelahnya, Baekhyun kembali ke ruangan medis, lengkap dengan piyama bersih yang berbau seperti pewangi baju dan rambut yang masih meneteskan air. Baekhyun menunduk malu. "Maafkan aku."
Profesor Choi menggeleng. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf." Pria itu kemudian berjalan dan duduk di meja dokter di ujung ruangan. Baekhyun duduk di hadapannya, mengernyitkan dahi sedikit ketika ia melihat setitik debu di atas meja. "Apa kau baik-baik saja?"
Baekhyun menggeleng seketika, mengutis-ngutis kutikula pada jempol kukunya. "Aku ingin kembali ke kamarku."
Profesor Choi melepaskan kacamatanya. "Kita sudah membicarakan ini, Baekhyun."
"Tidak." Baekhyun mengatupkan rahang. "Aku tidak merasakan kemajuan yang kau bicarakan. Aku masih terganggu dengan hal-hal yang…" Baekhyun menggigit bagian dalam bibirnya, "kotor," lanjutnya, melirik debu di atas meja.
"Aku mengerti kekhawatiranmu." Ucap Profesor Choi tenang, kembali memasang kacamatanya. "Tapi kau memang mengalami kemajuan, Baekhyun. Aku tidak mengada-ada."
"Aku tidak merasakannya." Tegas Baekhyun.
Pria di hadapan Baekhyun itu menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya berkata, "apa kau masih melihat atau mendengar sesuatu?"
Baekhyun terdiam. Ia tanpa sadar melirik sudut matanya, melihat sulur-sulur hitam bergerap pelan, tidak mendekat, hanya bergerak dalam riak tenang, berbisik-bisik halus dan berbau seperti mulut seseorang yang tidak pernah gosok gigi.
"Tidak." Jawab Baekhyun.
Profesor Choi menatapnya tidak yakin, mengamatinya dari balik kacamatanya. "Kau bisa duduk di sini tanpa perlu sapu tangan, benar?"
Baekhyun berhenti mengutis kukunya. Ia melihat dirinya sendiri, duduk di atas kursi kayu yang barangkali sudah diduduki dan dijamah tangan-tangan kotor, dan ia duduk di atasnya. Baekhyun bergetar dan menarik napas dalam. Ia selalu membawa sapu tangannya dulu, meletakkannya di atas kursi-kursi sebelum duduk—tapi sekarang ia duduk tanpa alas.
Ketika matanya menatap jempol kukunya, sudutnya sudah berdarah.
"Kau tidak merasakannya, memang benar." Profesor Choi berucap perlahan, "tapi aku selalu memonitormu, Baekhyun. Sangat sulit bagi pasien sepertimu untuk menunjukkan kemajuan—jangan tersinggung—"
"Aku tidak tersinggung." Kata Baekhyun cepat, merogoh botol hand sanitizer dari dalam saku piyamanya, menuangnya pada telapak tangan dengan gopoh. Ia berdesis sedikit ketika campuran alkohol dalam cairan itu mengenai luka pada sudut jempolnya, menyadari bahwa sulur-sulur hitam di sudut matanya mulai mengabur. Ia membuang napas lega.
Profesor Choi tersenyum. "Aku tahu." Katanya. "Aku percaya kau bisa sembuh sepenuhnya."
Mata Baekhyun tertuju pada lututnya. "Aku tidak yakin begitu."
"Semuanya butuh proses dan usaha, Baekhyun. Aku yakin aku tidak perlu menjelaskan ini lagi padamu." Profesor Choi membuka lemari mejanya, mengeluarkan satu map yang berwarna kecokelatan. Ia mengambil beberapa kertas dari dalam map itu dan meletakkannya di atas meja. "Salah satunya, bisa dimulai dengan berkenalan."
Baekhyun menaikkan alisnya. Ia melihat kertas-kertas di atas meja, membacanya cepat, sama sekali tidak berniat untuk menyentuhnya. Sebuah profil, atau biodata pasien, mungkin?
Profesor Choi membalikkan kertasnya menghadap Baekhyun. Ia melihat foto di sudut kiri kertas, foto seorang pria yang Baekhyun yakini merupakan teman sekamarnya, yang melambai kepadanya tadi pagi.
"Kim Junmyeon," Profesor Choi memulai. "Dia anak tunggal dari Kim Canning Factory, Perusahaan Pengalengan. Orang kaya, benar. Ibunya mengirimnya kesini karena dia agak…"
"Agak?"
"Dia suka barang-barang berkilau dan bagus."
Baekhyun menatap Profesor Choi bingung. "Aku tidak mengerti."
"Kleptomania." Jawab Profesor Choi. "Dia sedikit memiliki dorongan untuk mencuri barang-barang orang dan menumpuknya di dalam ruangan khususnya."
Kerutan di dahi Baekhyun makin dalam. Pria ini sama sepertinya. Tampak sangat normal—kelewat normal dan kelewat kaya untuk mencuri barang-barang milik orang lain.
"Kemudian," Profesor Choi menumpuk kertas lainnya di atas kertas Junmyeon, "Kim Minseok. Dia punya sedikit kelainan jiwa yang percaya bahwa dirinya bisa berubah menjadi apapun, sedikit membuat kewalahan ketika ia percaya dirinya batu—tidak mau makan dan minum, tidak bergerak."
Baekhyun menatap foto Minseok. Ia terlihat pucat, matanya berbentuk seperti mata kucing.
"Kim Jongdae," lanjut Profesor Choi, kembali meletakkan kertas lain di hadapan Baekhyun, "dan adiknya Kim Jongin." Ia menambahkan satu foto lain, seorang bocah yang barangkali berumur kurang lebih sepuluh tahun, tersenyum lebar dengan satu gigi depan yang ompong, berkulit gelap dengan mata yang berbentuk bulan sabit. "Jongdae hidup berdua dengan adiknya, mereka yatim piatu. Jongdae masih SMA ketika ia kehilangan Jongin yang waktu itu berumur sebelas tahun."
"Kenapa?" tanya Baekhyun.
"Jongin agak sedikit… hiper. Jongdae bercerita bahwa ketika ia pulang, rumahnya kebakaran. Dari investigasi polisi, api berasal dari kompor gas yang tidak sengaja terbuka."
Baekhyun mengerutkan hidungnya. "Ulah adiknya?"
Profesor Choi mengangguk. "Kurang lebih seperti itu."
"Lalu kenapa ia bisa disini? Maksudku, apa hubungannya dengan adiknya?"
Profesor Choi menatap foto Jongdae dan Jongin bergantian, ada emosi di matanya yang Baekhyun tidak bisa jelaskan. "Jongdae tidak mampu pulih dari trauma itu dan ia menciptakan Jongin ke dalam pikirannya. Sewaktu-waktu, Jongin akan muncul sementara Jongdae tertidur atau bersembunyi."
Baekhyun hampir mengeluarkan desahan sedih dari mulutnya. Pria bernama Kim Jongdae ini nampaknya sangat baik. Terlalu baik hingga ia tidak bisa melupakan adiknya dan menciptakannya untuk dirinya sendiri.
"Kurasa dia yang meludahiku." Baekhyun menunjuk foto bocah ompong itu dengan dagunya, eskpresinya jijik.
Pria paruh baya dihadapannya tergelak. "Ya, itu Jongin."
"Aku masih tidak mengerti." Baekhyun menggeleng. "Kenapa kau melakukan ini?"
"Mereka semua teman sekamarku dan pasien khusus yang aku tangani, Baekhyun."
"Kau memasukkanku ke dalam ruangan berisi tikus percobaanmu?" Baekhyun mendongak menatap Profesor Choi. Matanya tajam.
Meski begitu, pria itu hanya tersenyum. "Kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu."
Baekhyun tidak menjawab dan kembali menatapi lututnya.
"Mereka semua menunjukkan kemajuan yang sangat baik selama beberapa tahun terakhir ini, sama sepertimu. Aku hanya berpikir jika kalian bisa membantu satu sama lain."
Baekhyun hanya mendengus kasar.
Profesor Choi menautkan jemarinya. "Kumohon, Baekhyun. Cobalah untuk beradaptasi. Aku percaya kau mampu. Kau bisa melakukannya."
Baekhyun jengkel, jelas saja. Ia ingin kembali ke kamarnya. Tapi ia melihat kilatan tulus dari mata Profesor Choi, dan ia sungguh-sungguh membencinya, karena ia tahu ia tidak akan bisa melawan pria ini.
"Aku selalu berpikir bahwa aku adalah orang yang sangat beruntung karena bisa merawat kalian disini, dan mereka semua orang baik, Baekhyun. Mereka hanya sedikit…"
"Gila. Sama sepertiku." Kata Baekhyun dingin. "Tidak apa-apa. Kau bisa mengatakannya."
"Spesial." Jawab Profesor Choi, jelas tidak setuju dengan pernyataan Baekhyun. "Mereka, dan dirimu, kalian spesial."
Tidak perlu jawaban bagi Profesor Choi ketika ia mulai mengemasi kertas-kertasnya dan meletakkannya kembali ke dalam map. Ia kemudian berdiri dan tersenyum cerah, kerutan-kerutan kecil terbentuk di sekitar matanya. "Ayo kita coba sapa lagi teman kamarmu."
Baekhyun mengerang.
Junmyeon dan Jongdae—yang sekarang sudah bertransformasi menjadi Jongin, berdiri dengan cepat dari atas kasur mereka ketika mereka melihat Baekhyun masuk. Ia kembali dikawal oleh dua orang perawat yang menyematkan baton hitam di pinggang, tampak siap siaga untuk menariknya kapan saja.
Pria di depan pintu itu berjengit ketika ia mendapatkan perhatian yang tidak ia inginkan.
"Noona!" ia mendengar pria di samping Junmyeon berteriak. Suaranya bernada tinggi khas anak-anak, dan ia bertingkah sangat aneh.
Baekhyun mendur selangkah, menatap keduanya tidak yakin, melirik sedikit pada kasur paling depan—Minseok, tengah bergelung di atas kasurnya tanpa bergerak.
Junmyeon dengan cepat meraih kerah Jongin, menariknya mundur. "Maafkan dia." Kata Junmyeon, kemudian menendang tulang keringnya pelan. Jongin mengaduh dan menatap Junmyeon sengit. Pria itu kemudian berbisik, dan Baekhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas. "Dia laki-laki, bodoh."
Jongin menelengkan kepalanya, menatap Baekhyun tidak yakin. "Lalu kenapa wajahnya sangat cantik?" suaranya benar-benar membuat Baekhyun merinding karena ia memang terdengar seperti bocah berumur sebelas tahun. Ia bahkan berbicara dengan gaya yang sengaja dibuat-buat konyol sehingga nampak menjengkelkan.
Junmyeon menatap Baekhyun dan Jongin bergantian. "Maafkan aku." Kata pria itu akhirnya.
Baekhyun meringis, pelan-pelan melangkah masuk dalam kamar dan berdiri di samping kasurnya. "Ti-tidak apa-apa." Baekhyun tergagap.
Mereka terdiam selama beberapa saat.
"Baekhyun." Kata pria berambut gelap itu. "Namaku Byun Baekhyun."
Junmyeon mengangguk dan tersenyum. "Kim Junmyeon." Katanya, lalu menunjuk Jongin. "Ini Kim Jongda—sori, maksudku Kim Jongin. Kalau dalam mode normal, namanya Kim Jongdae. Dan itu," ia menunjuk seseorang yang sedang berbaring di kasurnya tanpa bergerak, masih bergelung memeluk lututnya erat-erat, "Kim Minseok."
Baekhyun menatap Minseok tidak yakin. "Kenapa dia?"
"Tidak usah pedulikan dia." Jawab Junmyeon, ia menyeringai.
Jongin kemudian maju selangkah, tidak begitu dekat namun Baekhyun masih dapat melihat wajahnya dengan jelas. "Maafkan Jongin, noona. Jongin tidak bermaksud untuk menganggumu."
"Profesor Choi sudah bicara kepada kami," Junmyeon menimpali. "Kami tidak tahu kalau kau…"
"Tidak apa-apa." Kata Baekhyun cepat. Matanya kemudian beralih kepada Jongin. "Aku baik-baik saja, Jongin."
Junmyeon kemudian membuang napas lega. Profesor Choi memang berbicara kepada mereka sebentar mengenai kondisi Baekhyun saat beberapa perawat membawanya ke ruangan medis. Tidak pernah terpikir oleh Junmyeon bahwa pria yang nampak sangat rapuh ini memiliki gangguan yang sangat rumit. Itu menjelaskan mengapa Baekhyun memiliki kamar sendiri sebelumnya. Profesor Choi juga berkata bahwa Baekhyun mengalami halusinasi dan kadang berbicara sendiri.
"Kalau begitu, apa kau laki-laki?" tanya Jongin setelahnya.
Baekhyun mulai membongkar boks besar yang belum sempat ia kemasi, lalu mengangguk. "Ya."
"Tapi Jongin ingin memanggilmu noona. Jongin tidak punya noona!" Jongin memajukan bibirnya ke depan, memasang wajah merajuk.
"Aduh," kata Kim Junmyeon, memegangi pelipisnya, "dia mulai lagi."
Baekhyun meringis. "Tentu." Jawabnya.
Junmyeon mendongak cepat dan matanya membelalak menatap Baekhyun tidak percaya. "Kau serius?!"
Baekhyun menurunkan boksnya ke bawah, mulai memasang seprai barunya. Kamar ini masih berbau tidak menyenangkan, namun Baekhyun akan berusaha untuk menahan rasa mualnya. Lagi pula, setidaknya ia tidak melihat sesuatu dari sudut matanya—belum. Pria itu mengedikkan bahunya. "Aku tidak masalah dengan itu." Ia kemudian beralih menatap Jongin. "Kau bisa memanggilku dengan apapun yang kau mau, Jongin, termasuk noona."
Jongin berteriak girang sekali, melompat sembari bertepuk tangan dan meninju perut Junmyeon sebagai perayaan, membuat pria itu memaki pelan.
"Jinx!" Jongin menuding Junmyeon. "Jongdae hyung berkata kau berhutang sepuluh ribu won kepadaku setiap kali kau memaki, Junmyeon hyung."
Junmyeon memegangi perutnya. "Jongdae sialan."
"Jinx dua kali!" Jongin melompat riang lagi. "Dua puluh ribu won!"
Untuk pertama kalinya, Baekhyun sadar dirinya baru saja tersenyum kecil.
Jongin hendak berlari ketika Junmyeon berusaha untuk memukul kepalanya, dan ia bermaksud untuk bersembunyi di belakang Baekhyun. Baekhyun berjengit bahkan sebelum Jongin menyentuhnya, namun Junmyeon meraih kerah bajunya terlebih dahulu.
"Ingat apa yang Profesor Choi katakan padamu." Kaa Junmyeon, suaranya memperingati. Ia menarik Jongin mundur hingga pria itu duduk di kasurnya.
Jongin menunduk lesu. "Baekhyun noona tidak suka disentuh." Ia memajukan bibirnya lagi beberapa senti. "Kalau Jongin menganggu noona, Paman Choi tidak akan membelikan Jongin es krim. Paman Choi sering membelikan Jongin es krim dan Jongin suka es krim." Suaranya terdengar sedih.
Baekhyun mengatup rahangnya rapat-rapat karena ia tidak bisa menyangkal kalimat barusan. Ia juga tidak bisa berkata bahwa ia baik-baik saja jika Jongin menyentuhnya. Ia masih belum terbiasa dengan sentuhan orang lain.
"Baiklah," kata Junmyeon akhirnya, menepuk tangannya dengan gestur yang dibuat-buat riang, "isitrahatlah. Sudah cukup untuk satu hari ini. Ayo, Jongin. Tidur siang."
Jongin mengangguk, memasukkan dirinya sendiri ke dalam selimut.
Junmyeon mendongak dan menatap Baekhyun. "Kau boleh melanjutkan kegiatanmu," katanya, melirik boks Baekhyun yang baru setengah dibongkar. "Ini agak telat, tapi, selamat datang."
Baekhyun tidak membalas tatapan Junmyeon. Wajahnya memerah. "Terima kasih," cicitnya pelan.
Baekhyun bertahan beberapa hari setelahnya dengan baik, setidaknya ia berpikir begitu. Minseok hanya bertahan menjadi bola selama satu hari, ia kembali normal setelahnya, begitu juga dengan Jongin yang segera menghilang begitu ia bangun dari tidurnya, yang omong-omong kemudian memperkenalkan diri sebagai Kim Jongdae kepada Baekhyun.
Yang membuat Baekhyun takjub adalah kenyataan Jongdae terlihat sangat sopan dan ramah. Ia berbicara dengan suara layaknya seorang pria alih-alih bocah sebelas tahun, dan berkali-kali meminta maaf kepada Baekhyun atas masalah yang sudah Jongin sebabkan untuknya.
Minseok adalah pria pemalu yang tidak banyak berbicara, hanya sesekali melirik Baekhyun dengan wajah penuh minat, tapi tidak pernah benar-benar berbicara kepadanya.
Selama tiga hari itu, tidak ada satupun dari mereka yang berusaha melakukan kontak fisik kepada Baekhyun—yang sesungguhnya sangat membuat Baekhyun lega.
Yang masih menganggunya hanya bau pesing dari toilet, entah berapa kali ia menyemprotkan pewangi ruangan yang ia dapatkan dari gudang suplai, ruangan itu masih berbau tajam amoniak.
Baekhyun juga menyadari bahwa dirinya menjalankan hari-harinya cukup normal. Ia bangun pagi, membasuh muka dan melakukan olahraga massal di halaman depan jam 06.30, mandi jam 07.30 (ia masih mandi di kamarnya yang lama), dan kemudian sarapan di ruang makan jam 08.00. Baekhyun biasanya akan muncul di ruang makan sedikit lebih lama karena ia menghabiskan waktunya untuk mandi, dan makan tergesa-gesa setelahnya.
Baekhyun bisanya akan duduk sendirian di pojok ruang makan, dan kadang-kadang Junmyeon mengajaknya bergabung. Mereka duduk di meja yang sama, namun masih memberi jarak kepada Baekhyun. Minseok masih akan mencuri-curi pandang kepadanya, dan ketika Baekhyun mendapatinya sedang menatapinya bahkan saat makan, Minseok akan tersedak dan segera mengalihkan tatapannya.
Setelah sarapan, mereka biasanya akan mengikuti kegiatan harian seperti membaca, terapi, belajar, menghadari kegiatan keagamaan, atau sekedar tidur di kamar masing-masing. Baekhyun lebih memilih kembali ke kamar dan menggosok giginya, lalu membersihkan tempat tidur dan menyusun botol-botol sabun cairnya.
Jam malam mereka adalah jam 10. Seluruh pasien sudah harus berada di kamar saat jam 10 malam. Masing-masing kamar berpintu teralis akan segera dikunci hingga pagi. Rutinitas ini berjalan seperti ini selama beberapa hari. Membosankan, namun tenang.
Tidak ada yang aneh (apa yang kau harapkan dari rumah sakit jiwa, omong-omong?), dan ia tidak melihat atau mendengar apapun selama beberapa hari ini.
Malamnya, hujan mengguyur bumi dengan begitu derasnya. Baekhyun tidak bisa mendengar apa-apa selain bunyi gemuruh hujan. Namun ketika ia tidur malam itu, Baekhyun yakin ia mendengar seseorang berteriak kesakitan diantara bunyi gemuruh tersebut. Baekhyun tidak yakin jam berapa persisnya, dan berniat untuk mengabaikannya saja. Ia yakin suara-suara kesakitan dan penderitaan itu hanya berasal dari kepalanya. Ia sering mendengarnya, terutama ketika ia melihat sulur-sulur hitam berbau tajam di sudut matanya—tapi ia tidak melihat apapun.
Ia terbangun ketika ia mendengar bunyi bisik-bisik, kali ini ia yakini bukan berasal dari kepalanya. Baekhyun membuka mata, melihat ketiga teman kamarnya sedang berdempet-dempet di depan pintu, berusaha melihat dari balik teralis besi.
Kilat menyambar di langit, memantulkan silau yang menembus jendela mereka.
Junmyeon menyadari bahwa Baekhyun terbangun. "Mereka membawa orang baru!" desis pria itu. "Aku harap dia membawa banyak barang bagus."
Di sebelahnya, Jongdae menggeleng. "Kau bisa tidur lagi, Baekhyun. Jangan pedulikan kami."
Tapi kemudian Baekhyun terlonjak saat ia mendengar jeritan itu makin nyaring, disusul dengan makian dan bunyi gedebuk berkali-kali yang sangat keras—bunyi baton yang dihantamkan ke tubuh seseorang.
"Bangsat! Lepaskan aku!"
Makian bergema dari penjuru lorong, beberapa perawat berlari melewati pintu mereka menuju ujung lorong. Seseorang mengamuk.
"Aku bisa menuntut kalian semua, bajingan!"
Baekhyun duduk tegak sekarang, menatap was-was pada pintu teralis yang dikerumuni oleh ketiga teman kamarnya. Kepalanya berkali-kali mendongak ke atas, berusaha untuk setidaknya melihat apa yang sedang terjadi, tapi ia tidak melihat apapun. Ia juga tidak berusaha untuk ikut mendesakkan dirinya ke depan pintu—yah, kalian tahu alasannya.
Baekhyun menarik selimutnya mendekat.
Ia melihat lorong kemudian menjadi terang-benderang, sementara kamar-kamar lain juga mulai riuh. Beberapa petugas mengayunkan baton mereka ke pintu teralis, berusaha membuat pasien dalam kamar lain diam. Sebagian menyuruh mereka untuk kembali tidur, tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Jongdae menyadari bahwa Baekhyun nampaknya tertarik, jadi ia menepuk Junmyeon dan melirik Baekhyun.
"Baekhyun," panggil Junmyeon. "Apa kau ingin melihat?"
Baekhyun melongo sebentar, menatap ketiga orang di depan pintu itu bergantian. Ia kemudian meringis. "Tidak apa-apa," katanya, menggeleng halus. "Kalian saja."
Tapi kemudian Jongdae menarik Minseok dan Junmyeon menjauh dari pintu. "Kemarilah," katanya.
Baekhyun menatap mereka ragu, namun ia akhirnya keluar dari selimut dan memakai sandalnya, lalu berjalan pelan menuju pintu, sementara ketiga teman kamarnya menjaga jarak di belakangnya.
Baekhyun melirik sedikit, sedang terjadi kegaduhan di ujung lorong, beberapa perawat membawa pasien baru yang mengamuk, rupanya.
Pria tinggi, rambutnya berwarna silver terang, dan ia jelas pantang menyerah. Ia tidak mau dikekang, dan berkali-kali mengayunkan tinjunya yang nampak tidak stabil, sementara langkah kakinya sempoyongan. Seorang perawat mengayunkan batonnya ke bahu pria itu, dan ia mengerang nyaring. Baekhyun bergidik ngeri. Pria itu terjerembab, dan petugas lain menembakkan pistol setrum kepada pria itu.
Tubuhnya mengelepar untuk beberapa saat sebelum akhirnya berhenti. Ia berbaring telungkup, tidak bergerak.
Lorong kembali sunyi.
"Apa dia pingsan?" tanya Jongdae.
Baekhyun mengangguk pelan, matanya masih tertuju kepada pria itu.
Beberapa perawat kemdian menyeretnya, mereka bahkan tidak membawa kasur roda untuknya. Hanya menyeret tubuhnya yang ternyata setengah pingsan, karena Baekhyun masih melihat jarinya sedikit bergerak.
Bagaikan adegan slow motion, pria itu diseret oleh tiga orang perawat melewati depan kamar mereka. Baekhyun memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya pucat dan babak belur, hidung dan pelipisnya mengucurkan darah. Ia mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam yang kotor dengan noda kecokelatan seperti tanah dan noda lain yang jelas-jelas adalah darahnya sendiri.
Mereka menyeretnya dengan posisi terlentang, menarik tangannya hingga terdengar bunyi gesekan yang mengerikan antara lantai dan punggung pria itu.
Baekhyun sempat menangkap matanya ketika mereka melewati tepat depan kamarnya, dan Baekhyun yakin pria itu sedang menatapnya balik. Rambutnya berantakan, dan matanya nampak tidak fokus, hanya setengah terbuka seperti ia sedang mengigau.
Baekhyun bahkan yakin saat ia sudah agak jauh, mata pria itu masih menatapinya.
Di sebelah Jongdae, Junmyeon bergidik. "Aku punya perasaan buruk."
Minseok menatapinya, mengangguk setuju.
"Kamar ini masih punya satu kasur, dan seingatku kamar lain sudah penuh." Jongdae berucap pelan.
Baekhyun dengan cepat berbalik menatapi ketiga orang di hadapannya.
Junmyeon meringis. "Kita mungkin akan mendapatkan psycho sebagai teman baru. Sungguh malam yang menyenangkan."
Minseok membuang napasnya jengah. "Selamat malam, kalau begitu." Ia kemudian berjalan pelan menuju kasurnya sendiri, memadatkan diri dalam selimutnya.
Jongdae menguap. Ia tidak berkata apa-apa dan ikut kembali ke kasur, disusul oleh Junmyeon yang tampak jengkel.
Baekhyun bergidik ngeri. Ia mulai merasa nyaman dengan kamar ini, dan ia tidak butuh teman sekamar baru yang hobi mengamuk. Dengan perasaan pahit, Baekhyun mencuci tangannya di atas wastafel, lalu berjalan menuju kasurnya sendiri. Entah berapa lama ia memperhatikan rintik-rintik hujan yang turun mengaliri kaca jendela, kilat di luar menjilati awan-awan gelap kelabu yang terasa jauh.
Junmyeon benar. Pria dengan rambut silver menyala itu berdiri depan kamar mereka sembari memeluk boks besar keesokan harinya, tepat setelah mereka bersiap-siap untuk membersihkan diri sehabis olahraga pagi. Ia diapit oleh dua perawat yang berdiri di kanan dan kirinya, kali ini baton siap di tangan alih-alih di sabuk pinggang.
Baekhyun dapat mendengar Junmyeon menyumpah kecil, sementara Jongdae memberinya tatapan memperingati. Minseok sama bingungnya dengan Baekhyun, menatap pria itu dan dirinya bolak-balik dengan ragu.
Baekhyun merasakan sedikit déjà vu setelah ia melihat pria itu berdiri di depan kamar mereka. Ia seperti melihat dirinya sendiri. Bedanya, pria ini nampak keras dan sengak, seperti dirinya siap mati untuk melawan dunia, sementara Baekhyun hanya seorang pengecut yang takut kotor.
"Kalian bercanda." Kata pria itu, tergelak kecil. Ia menyikut perawat di sampingnya yang langsung menghadiahinya dengan tatapan siap membunuh. "Aku? Bersama culun-culun ini?" Ia menunjuk seisi kamar dengan dagunya, "tidak, tidak. Aku butuh kamar sendiri. Berapa harganya? Aku bisa membayarnya."
Perawat di sebelah kirinya mendengus. "Kau pikir ini hotel?! Masuk!" Ia menendang bokong pria itu hingga ia terjengkang ke depan, mendarat dengan sangat tidak elit di lantai kamar mereka, sementara boksnya jatuh ke samping dan mengeluarkan isinya hingga berantakan. Kedua perawat itu tertawa merendahkan dan kemudian berlalu.
Baekhyun terkejut dan mundur selangkah, mengeluarkan bunyi seperti tercekik.
"Ah, sialan." Maki pria, itu, mengusak rambutnya kesal.
Ia bangkit dan memungut barang-barangnya diiringi sumpah serapah yang membuat Baekhyun berjengit. Keempat pasang mata di dalam ruangan mengamatinya dengan hati-hati. Ketika ia berdiri, mata pria itu bertemu dengan mata Junmyeon, dan ia membalas tatapannya dengan sengit. "Lihat apa, brengsek?!"
Baekhyun dapat melihat Junmyeon mengepalkan tangannya, namun Jongdae menahan lengannya.
Pria itu menyeringai, merasa puas bukan main.
Ia lalu melemparkan boksnya di atas kasur dengan kasar, Baekhyun kembali terlonjak. "Hmmmm…" katanya, menggaruk-garuk lehernya. "Aku tidak suka kasur ini." Matanya kemudian beralih kepada Baekhyun.
Baekhyun mulai melihat sesuatu dari sudut matanya. Ia tidak menyukai ini.
"Oy, dungu." Panggilnya, matanya menatap Baekhyun yang perlahan mundur. "Mau tukar tempat tidur denganku?"
Baekhyun merasakan tangannya gatal, dan sesuatu merayap dari langit-langit. Tapi ia tidak akan menyerah hanya karena pria sinting ini. "Tidak." Jawab Baekhyun, namun suaranya bahkan mengkhianati dirinya sendiri. Ia terdengar takut, suaranya bergetar.
Pria itu tersenyum miring. "Oh, tentu saja kau mau." Ia berjalan pelan menuju kasur Baekhyun. "Park Chanyeol tidak biasa menerima penolakan."
Diakhiri dengan kalimat itu, pria itu mulai meraih bantal, selimut, seprai, semua yang bisa ia gapai dan melemparkannya ke penjuru ruangan. Ia berteriak, bertingkah seperti king kong sinting. Ia menghancurkan segala barang-barang Baekhyun, sementara Baekhyun menatapinya dengan mata yang terasa panas.
Ia bahkan tidak mampu untuk sekedar berteriak, jadi ia hanya bisa mundur, merapat ke dinding sementara pria itu mengamuk, lalu terduduk dan memeluk lututnya, mulai menangis.
Baekhyun bahkan tidak mendengar Minseok yang jarang berbicara akhirnya berteriak, memintanya untuk berhenti dan melempari Chanyeol dengan bantalnya sendiri sementara Junmyeon sudah mulai mengayunkan kepalan tangannya.
Pemandangan seperti ini cukup familier bagi Baekhyun. Ia dibesarkan di dalam keluarga yang senang akan kekerasan, namun bukan berarti ia terbiasa karenanya.
Ia melihat pria berambut silver itu menginjak-nginjak seprainya, sementara Jongdae berusaha untuk menghentikannya. Ia hanya menerjang Jongdae dengan kakinya yang panjang, membuat pria itu tersungkur melengkung sembari memeluk perutnya. Baekhyun tahu ia tidak bisa berdiam diri, ia tidak bisa melihat teman-temannya yang sudah memperlakukannya dengan baik selama beberapa hari ini dipukuli oleh orang sinting seperti pria ini.
Jadi Baekhyun berdiri, tubuhnya gemetar sementara matanya yang berair melihat sulur-sulur hitam memenuhi sudut-sudut ruangan. Sulur-sulur hitam bergelenyar, tebal dan berbau busuk.
Bunuh dia.
Seseorang berbisik di telinganya. Ia kenal suara ini. Ia pernah mendengarnya sebelumnya, karena ia pernah membunuh seseorang sebelumnya.
Bunuh dia seperti kau membunuh Ayahmu. Bunuh dia.
Baekhyun melihat sekelilingnya dengan panik, ia tidak bisa menemukan benda tajam apapun, jadi ia meraih botol-botol sabun cair dan hand sanitizer yang berserakan di lantai, yang sebelumnya sudah ia susun rapi.
Ia melemparkannya kepada pria ia secara membabi buta, beberapa botol mengenai kepala silvernya dan membuat pria itu makin menggila. Ia menggeram, menoleh untuk melihat Baekhyun dengan mata yang penuh amarah. Perlahan, ia berjalan mendekati Baekhyun. Baekhyun melihat hanya ada satu botol terakhir di tangannya. Ia mundur, pinggangnya membentur wastafel. Baekhyun melemparkan botol terakhir dan mengenai pelipis pria itu.
Dia menyeringai, ekspresinya tampak sinting.
Junmyeon dan Minseok berusaha menahan kakinya, sementara Jongdae sudah tak sadarkan diri di lantai.
"Menjauh!" Baekhyun berteriak, dan pria itu menelengkan kepalanya untuk melihat Baekhyun dengan senyum miringnya.
"Brengsek!" maki Junmyeon ketika pria itu menendang wajahnya. Junmyeon meraung membekap wajahnya selagi darah segar mengaliri jemarinya.
Pria itu berbalik sebentar hanya untuk mendorong Minseok yang berusaha menggelayuti lengannya. Lalu kembali menghadap Baekhyun dan tersenyum.
"Sudah cukup main-mainnya." Kata pria itu, suaranya sedingin es.
Baekhyun gemetar hingga kaki. Ia menumpukan seluruh beban tubuhnya pada wastafel. "Jangan dekati aku." Kata Baekhyun pelan, seluruh tubuhnya terasa gatal. Ia melihat banyak sulur-sulur hitam berputar-putar di sekitar tubuh pria itu. Tapi pria itu masih terus berjalan, jarak mereka sangat dekat dan Baekhyun tidak yakin ia bisa melarikan diri. "Jangan dekati ak—heeook!"
Pria itu mencengkram leher Baekhyun, membuat Baekhyun tidak bisa bernapas, matanya berkilat aneh. Baekhyun bersumpah ia mungkin mengalami episode paling buruk.
Ia tidak bisa melihat apapun selain sulur-sulur hitam dan wajah pria itu. Bahkan tangan yang mencekik lehernya bukanlah tangan manusia. Itu sulur-sulur hitam berbau busuk yang sering ia lihat.
Baekhyun meronta, kakinya menendang-nendang, tangannya menampar-nampar pria itu, mencakar lengannya, memintanya untuk berhenti. Tapi pria itu makin mengeratkan cengkramannya pada leher Baekhyun.
Baekhyun yakin pria itu mengatakan sesuatu, tapi ia tidak bisa mendengar apapun selain bisikan-bisikan kuat yang entah datang darimana. Tak lama setelahnya, Baekhyun menggelepar, mengalami kejang. Ia merasa sulit bernapas, bola matanya memutih sementara kaki dan tangannya meronta hebat.
Setelahnya, Baekhyun tidak melihat apapun lagi selain kegelapan. Semuanya gelap dan sesak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N: HALO?! ANYONE MISS ME? NO ONE? OKAY.
Maafkan saya, lagi-lagi tidak tahan membuat karakter Chanyeol seperti seorang bajingan.
Maafkan aku kalo chapter ini agak telat karena aku bener-bener melakukan beberapa research mengenai masalah gangguan kejiwaan ini, yang sejujurnya agak susah. Aku agak nggak yakin sebenernya mau nulis ini, tapi aku harap ini nggak terlalu mengecewakan sebagai chapter pembuka.
Sedikir reviewnya untuk chapter ini, please? Aku butuh feedback apakah ini udah cukup realistis, atau kurang atau gimana, I'll take all of your advices, so please?
OH, LAST BUT NOT LEAST, SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU BAGI YANG MERAYAKAN!
xoxo
