.

.

Naruto Masashi Kishimoto

Warning T rated

Genres : Romance/Drama/Fantasy/Tragedy

Main Pair : SasukeXHinata(Sisanya Slight)

.

Sorceres And The Knight

01001

-Nice To Meet You-

.

.

Beberapa bulan kemudian, kediaman Hyuuga

.

"Pokoknya aku ikut!"

Terdengar suara rajukan seorang gadis di tengah ruangan sambil menampakkan wajah muramnya kepada seorang laki-laki paruh-baya.

"Hinata, kepergian Ayah ke Konoha bukan untuk bermain-main, tetapi untuk kepentingan Negara. Ayah harap kamu mengerti." Pria separuh-baya yang masih terlihat gagah itu hanya mampu mendesah pasrah melihat kemauan keras Hinata untuk ikut dengannya ke Konohagakure.

"Kenapa Ayah meninggalkanku sementara Neji dan Hanabi diperbolehkan untuk ikut?" Bibir Hinata mengerucut.

'Tentu saja aku tidak membiarkanmu pergi jauh dari Sunagakure. Kau tidak tahu kalau kau memiliki sesuatu yang spesial dan terlalu berbahaya bagimu untuk pergi terlalu jauh, apalagi ke Konoha….' Tapi, suara hati pria itu hanya bisa tertahan di dalam dadanya. Sebagai gantinya ia kembali menghela napas dalam-dalam, dan berkata, "baiklah, kau boleh ikut. Tapi dengan satu syarat. Jangan lepas dari pengawasan Neji, apa kau bisa mematuhi perintahku yang satu ini, Hinata?"

"Tentu aku bisa!" Hinata mengangguk cepat. "Ayah, terima-kasih! Aku sayang sekali pada Ayah," ucapnya sambil memeluk sang ayah secara spontan.

"Ehem, sudah Hinata. Cepat ganti pakaianmu." Hiashi, nama pria itu. Ia tampak agak gelagapan mengatasi pelukan putri sulungnya.

"Hehehe, baiklah." Hinata tersenyum geli melihat tingkah ayahnya. Kemudian ia berlari meninggalkan ruangan dengan langkah riang.


Konohagakure

.

Sore itu para pemuda-pemudi di Konoha tengah berkumpul di sebuah restoran. Wajah-wajah mereka menampakkan suatu keceriaan, khas anak muda.

"Mari bersulang untuk keberhasilan kita!" Sorak seorang pemuda pirang dengan nada gembira. Ia mengangkat segelas wine di tangannya.

"CHEERS!" Sambut pemuda-pemudi lainnya, mengikuti jejak si pemuda pirang.

Bunyi gelas yang saling berdentingan pun tercipta membuat suasana kala itu semakin meriah.

"Aku benar-benar tidak menyangka kalau sekarang kita semua resmi menjadi anggota ANBU," ucap seorang gadis berambut pirang meluapkan rasa kegembiraannya.

"Aku malah lebih tidak menyangka lagi kalau Ino bisa menjadi anggota Anbu!" Seorang gadis dengan tatanan rambut khas Cina melirik ke arah gadis pirang tadi yang bernama Ino.

"Hei, apa maksud perkataanmu itu, Tenten? Jangan merusak mood-ku yang sedang bagus yah!" Ino mendengus dan melirik gadis yang menyindirnya tadi dengan sengit.

"Sudah-sudah. Kalian berdua jangan bertengkar. Bukankah harusnya saat ini kita bersenang-senang?" Timpal seorang pemuda dengan ciri tato segitiga terbalik pada kedua pipinya, mencoba untuk menengahi perdebatan di antara Ino dan Tenten.

"Ah, benar-benar. Lagian tadi aku hanya bercanda saja kok! Jangan diambil hati ya, Ino." Tenten tersenyum lebar sambil menyikut lengan Ino yang duduk di sebelahnya.

"Ya, ya tidak usah dibahas karena hari ini aku ingin berpesta sampai puas!" Balas Ino yang kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya dan langsung ia minum hanya dalam sekali napas.

"Astaga…." Shikamaru, teman satu tim Ino begidik ngeri melihat cara Ino menghabiskan wine.

"Eh, ya ngomong-ngomong, apa kalian tahu kalau Gaara tidak lulus dalam ujian Anbu?" Pemuda dengan alis tebal memulai pembicaraan yang agak serius.

"Hee? Serius? Gaara yang itu? Dia tidak lulus ujian Anbu?" Ino membulatkan kedua matanya lebar-lebar. Gadis itu tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

"Sulit dipercaya kalau dia tidak lulus. Bukankah dia salah satu kandidat terkuat sama seperti Sasuke?" Reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh Tenten.

"Aku tidak sedang mengarang cerita, karena instruktur Shizune sendiri yang bercerita." Pemuda dengan alis tebal itu berusaha meyakinkan teman-temannya.

"Memangnya apa yang membuat dia sampai gagal?" Tanya Shino, pemuda berkacamata hitam yang sejak tadi lebih memilih menjadi pendengar saja akhirnya ikut penasaran.

"Dari yang kudengar, katanya saat ujian Gaara melukai Sasuke cukup parah. Padahal saat itu hanya diperkenankan latih tanding saja sebagai pembuktian diri. Tapi Gaara melakukannya dengan sungguh-sungguh," jawab Lee sambil memotong kecil-kecil daging steak pesanannya.

"Gaara melukai Sasuke?" Untuk yang kedua kalinya Ino tampak terkejut dengan kedua-bola mata yang membelalak lebar. Lee hanya mengangguk pelan.

"Jadi itu alasannya saat ini Sasuke tidak bersama kita," ucap Kiba sambil manggut-manggut yang mulai memahami ketidakhadiran Sasuke di antara mereka.

"Aku tidak menyukai Gaara dan aku senang karena sekarang dia mendapat balasannya," celetuk Naruto disela-sela suapannya.

"Hei, kenapa suasananya jadi tegang begini? Bukankah kita kemari untuk bersenang-senang?" Satu-satunya pemuda dengan tubuh besar melirik ke arah teman-temannya yang memasang raut wajah terlalu serius untuk suasana pesta seperti ini. "Sudah, jangan bicarakan mereka berdua lagi. Lebih baik kita makan!" Serunya sambil mengambil satu piring berisi 12 sushi dan mulai melahapnya satu-persatu.

"A-aku permisi dulu."

Tiba-tiba Ino berdiri dari kursinya. Sikapnya yang begitu mendadak membuat teman-temannya keheranan. Masing-masing dari mereka menatap Ino dengan penuh tanda-tanya.

"Terimakasih untuk semuanya hari ini. Aku pergi dulu." Gadis itu membungkuk dan setelah itu ia cepat-cepat pergi meninggalkan meja makan.

"He-hei Ino, kau mau kemana?!"

Meski sudah diteriaki Ino tetap saja pergi dengan langkah cepat meninggalkan restoran. Tenten dan yang lain hanya bisa saling melempar pandang mengenai sikap aneh yang ditunjukkan oleh Ino barusan.

"Aku yakin Ino pasti ingin melihat keadaan Sasuke," ucap Chouji yang sejak tadi asik makan. "Yah, seperti yang kita sudah tahu kalau sejak awal masuk akademi, Ino memang memiliki perhatian yang lebih kepada Sasuke. Dia bahkan lebih mengkhawatirkan kalau sampai Sasuke yang tidak lulus menjadi anggota Anbu dibanding dirinya sendiri," lanjutnya panjang-lebar. Semuanya terdiam, mencoba memaklumi sikap Ino barusan.

"Sudahlah, ayo lanjutkan makannya. Aku kelaparan sekali!" Seru Naruto langsung menyomot satu buah sushi dari piring Chouji dengan sumpitnya dan sukses mendapat satu tamparan di tangannya dari sang penguasa piring.


Ino berjalan dengan cepat memasuki sebuah klinik yang berada di dalam Konoha Akademi. Keberadaan klinik itu memang sengaja dibuat sebagai salah satu fasilitas yang disediakan oleh Konoha. Klinik itu biasanya buka 24 jam dan Ino yakin kalau Sasuke pasti ada di sana. Langkah kakinya terhenti di depan meja recepsionist. Kini ia bergerak sedikit lebih pelan, menghampiri seorang perawat yang sedang berjaga.

"Maaf, apa Sasuke dirawat di sini? Sasuke Uchiha dan dia baru saja mengalami kecelakaan saat ujian ANBU," tanyanya kepada sang perawat dengan nada suara cemas yang tak bisa ditutupinya lagi, begitu pun dengan raut wajahnya. Ada suatu kegundahan tergambar pada wajah cantiknya.

"Tunggu sebentar ya. Aku akan memeriksanya dulu," balas sang perawat sambil melempar senyuman tipis. Kemudian ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah buku yang bertuliskan daftar nama-nama pasien.

"Sasuke Uchiha…, Sasuke Uchiha…." Perawat itu bergumam, menyebutkan nama Sasuke berkali-kali sambil menatap penuh konsentrasi buku yang sedang ia pegang.

Ino hanya berdiri dengan perasaan tidak sabar bercampur gelisah. Namun itu tak berlangsung lama ketika wajah sang perawat berubah sumringah. "Ah, ada, Uchiha Sasuke. Dia baru saja masuk kemarin sore dan dirawat di ruangan 304," ucapnya kepada Ino.

"Hah, terima kasih." Ino langsung bernapas lega. Rasanya semua beban yang tertumpuk di dalam dadanya telah hilang sebagian. Ya, hanya sebagian. Karena yang sebagian lagi dia harus benar-benar memastikan keadaan Sasuke.

"Silahkan isi buku pengunjungnya."

Ino menuliskan namanya pada buku pengunjung klinik yang disodorkan sang perawat kepadanya. Setelah selesai ia segera mengucapkan terima kasih dan bergegas menelusuri lorong di sebelah kanannya untuk mencari ruangan Sasuke dirawat.


Kamar 304

.

Kini Ino sudah berdiri di depan ruangan kamar di mana Sasuke berada. Ia menatap pintu kamar tersebut dengan perasaan agak canggung. Entah kenapa tiba-tiba dia menjadi ragu untuk masuk ke dalam. Ino berpikir, apakah Sasuke akan menyukai kedatangannya atau malah akan mengusirnya.

"Ah, sudahlah. Aku sudah terlanjur datang. Lebih baik aku masuk saja," gumamnya dengan pelan untuk memberikan keberanian pada dirinya sendiri.

Krieeet….

Pelan-pelan Ino membuka pintu kamar tersebut. Kepalanya sedikit melongok ke dalam. Matanya menangkap sosok Sasuke yang tengah bersandar di atas tempat tidur. Pemuda itu sedang membaca sebuah buku dengan wajah bosan.

"Sasuke…."

Ino memanggil nama pemuda itu dengan lembut. Ia masuk ke dalam ruangan secara perlahan dan menutup rapat pintu ruangan.

Sasuke, pemuda yang dipanggilnya hanya melirik sesaat ke arah Ino sebelum pandangannya kembali teralih ke buku yang sedang dibacanya.

"Apa…, aku mengganggumu…?" Tanya Ino pelan. Gadis itu masih berdiri di depan pintu. Ia tak berani bergerak sebelum benar-benar diperbolehkan Sasuke untuk mendekat.

"Hn, tidak," jawab Sasuke singkat.

Ino tersenyum sedikit dan kembali melangkah setelah melihat respon Sasuke yang positif (menurutnya).

"Aku mendengar kabar tentangmu dari Lee dan memutuskan untuk menjengukmu," ucap Ino seraya berjalan mendekati sisi tempat tidur Sasuke. "Sasuke…, apa…, kau baik-baik saja…?" Tanyanya setelah berdiri persis di sisi kanan tempat tidur.

"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil." Sasuke menjawab dengan cepat. Terkadang ia heran, kenapa Ino dan para wanita lainnya suka sekali bersikap berlebihan, atau semua wanita memang diciptakan untuk selalu berlebihan? Belum lama Shizune sudah menjenguknya dan ia terlihat sangat cemas dengan keadaannya yang disebabkan oleh Gaara.

"Luka kecil apanya, Sasuke? Lihat dirimu. Kepala dan tangan kirimu sampai harus dibungkus seperti ini!" Ino meninggikan sedikit nada suaranya. Ia berkacak pinggang dan melotot ke arah Sasuke.

"Sebenarnya kau ini datang kemari mau menjengukku, atau mau memarahiku?"

Ino menghela napas berat dan perlahan-lahan sikapnya kembali seperti semula. Dia jadi merasa tidak enak karena sempat membentak Sasuke. Tapi ia begitu juga karena terlalu mencemaskan Sasuke dan murni spontanitas.

"Maaf…," ucapnya setelah bisa mengontrol emosinya.

Keadaan menjadi hening sesaat. Baik Ino maupun Sasuke sama-sama terdiam.

"Sasuke, jangan ulangi lagi, ya….," kata Ino secara tiba-tiba. Sasuke memandang Ino sambil mengernyitkan alis. "Jangan mencari masalah lagi dengan Gaara. Kau tahu 'kan kalau Gaara itu nekad. Aku tidak ingin dia melukaimu…."

"Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Masalahku dengan Gaara kau tidak perlu mencampurinya."

"Tapi, Sasuke. Aku dan yang lainnya mencemaskanmu! Apa kau tidak paham juga? Kami semua tidak ingin kau terluka, dan hentikan pertengkaran kalian berdua. Apa tidak bisa kau berdamai sebentar saja dengan Gaara?"

"Jangan mengatur hidupku!"

Ino tersentak. Dia benar-benar tak menyangka kalau Sasuke membentaknya untuk yang pertama-kali. Gadis itu terdiam dengan tubuh yang bergetar. Dieratkannya kuat-kuat kepalan kedua-tangannya untuk menahan jeritan suaranya sendiri. Sakit, itulah yang dirasakan Ino saat ini. Tapi dia harus maklum. Mungkin dia memang terlalu berlebihan, mungkin Sasuke merasa tidak nyaman, atau mungkin sejak awal Sasuke memang tidak pernah suka dengan perhatian yang diberikan olehnya. Entahlah. Ino merasakan dadanya semakin sesak, dan ia ingin lekas pergi dari sana.

"Baiklah, Sasuke. Aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi. Tapi, aku mohon jaga dirimu baik-baik," ujarnya dengan suara lemah.

Sasuke mendengus, berusaha untuk menjaga egonya. Ia tahu kalau apa yang dilakukannya barusan kemungkinan besar menyakiti perasaan Ino dan ia cukup berterima-kasih atas semua perhatian Ino kepadanya selama ini, tapi jujur saja, perlakuan Ino membuatnya tak nyaman. Terkadang gadis itu bersikap terlalu overprotektif dan overposesif. Sasuke jadi heran kenapa Ino bisa bersikap demikian, padahal hubungan mereka hanya sebatas teman, tak lebih.

Sasuke dan Ino sudah berteman dan saling mengenal sejak kecil. Mereka bermain bersama, menghabiskan waktu bersama dan tumbuh besar juga bersama. Sasuke hanya melihat Ino sebagai teman masa kecil, begitupun sebaliknya (dan seharusnya 'kan?). Ia sama sekali tidak tertarik kalau harus berhubungan lebih dari itu dengan Ino. Rasanya sangat aneh.

"Oh, ya aku hampir lupa memberitahukanmu. Besok malam ada pesta resmi untuk menyambut anggota akademi yang berhasil menjadi ANBU. Tapi kalau kau tidak bisa hadir kurasa yang lain bisa memaklumi," ucap Ino yang tiba-tiba berubah kembali ceria.

"Aku akan datang."

"Kalau begitu, besok malam aku dan yang lain akan menunggumu."

Ino tersenyum lebar. Aneh, padahal beberapa detik lalu gadis itu terlihat begitu tersakiti, tapi sekarang ia dapat memamerkan sebuah senyuman lebar kepadanya.

Sasuke mengernyitkan alis (lagi). Tiba-tiba ia teringat akan Shikamaru yang selalu mengatakan kalau wanita itu merepotkan. Mungkin ungkapan itu ada benarnya juga. Wanita memang merepotkan karena sulit sekali dimengerti.

"Sudah hampir larut, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik."

Ino memutar tubuhnya, melangkahkan kakinya menjauhi sang pemilik ruangan. Sasuke memandangi punggung Ino sesaat dan kembali terfokus pada buku bacaan yang sempat tertunda sejenak tadi.

Begitu tiba di ambang pintu, Ino masih sempat menoleh ke belakang hanya untuk memandang Sasuke sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan. Raut kecemasan masih tergambar pada wajah Ino, namun tersirat ada suatu kelegaan juga. Ino merasa lebih tenang dari sebelumnya karena luka yang dialami Sasuke tidak separah yang ia pikirkan.

"Selamat malam, Sasuke," bisiknya pelan sambil membuka pintu. Ia berjalan keluar dan kembali menutup pintu itu rapat dengan hati-hati.


2 jam kemudian, Konoha Leaf Hotel

.

Rombongan keluarga Hyuuga sudah tiba di hotel tempat mereka akan menginap malam ini di Konoha. Setelah mendapatkan masing-masing kunci ruangan, Hiashi, Neji, Hinata dan hanabi pergi menuju ruangan kamar.

Keluarga ini berjalan menelusuri lorong hotel dengan tatapan takjub para pengunjung hotel lainnya. Bagaimana tidak. Hiashi berjalan sambil didampingi oleh 10 orang pengawal dan masih ada sisanya di luar hotel.

Derap langkah kaki itu berhenti secara bersamaan tepat di depan ruangan kamar bernomor 32. Dua orang gadis berdiri paling depan, bersiap untuk memasuki ruangan tersebut.

"Selamat malam, Ayah," ucap kedua gadis itu kepada Hiashi.

"Ingat, besok jangan pergi kemana-mana selama Ayah pergi. Kalau kalian ada kebutuhan yang mendesak mintalah Neji untuk mengantarkan kalian, paham."

"Kami mengerti, Ayah."

Setelah mendapat sedikit nasehat dari sang ayah, kedua putri Hyuuga itu lekas masuk ke dalam. Hiashi beserta Neji dan para pengawalnya kembali berjalan melalui lorong tersebut.

Sementara itu di dalam kamar, Hinata segera menghambur ke atas tempat tidur. Ia melompat dan menjatuhkan dirinya. Hanabi, sang adik hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Hinata. Terkadang ia merasa kalau sifat Hinata itu lebih mirip seorang adik dibandingkan seorang kakak untuknya.

"Hinata-nee jangan langsung tidur. Ganti bajumu dulu," ucapnya mengingatkan.

"Iya-iya aku akan segera mengganti bajuku." Hinata mengerucutkan bibirnya dan segera bangkit dari atas tempat tidur.

Gadis itu menghampiri tasnya yang tergeletak di lantai (karena dia melemparnya ketika masuk ke kamar tadi), dan memporak-porandakan isi tas tersebut sampai ia berhasil menemukan satu set piyama berwarna biru gelap.

'Besok malam aku akan pergi ke Konoha Akademi untuk menemui Gaara. Aku yakin dia ada di sana.' Hinata membatin dengan perasaan antusias.

Sebenarnya ia sudah merencanakan hal ini dari awal. Itulah kenapa dia ngotot sekali untuk ikut Hiashi pergi. Dia ingin bertemu dengan Gaara, karena ada suatu hal penting yang harus ia sampaikan kepada Gaara, dan ia sangat berharap banyak Gaara akan memberikan respon yang positif.

TBC


A/N : Makasih sarannya, ini sudah author panjangin. Maaf gak bisa terlalu panjang.