Title : You've Got Me From Hello

Cast

Mark Lee & Lee Minhyung

Lee Haechan / Donghyuck

Na Jaemin

Other Cast

Lee Jeno

Vernon Chwe

Huang Renjun

Kim Doyoung

Genre

Romance

Drama

Sad

Family

Summary Chapter 1 : "Hallo..." Haechan masih bingung harus berkata apa, "Aku Lee Donghyuck, tapi biasanya orang memanggilku Haechan." Gumamnya pelan.

Disclaimer : Cerita ini 100% karya Kak Santhy Agatha. Aku hanya membuat REMAKE dengan cast Markhyuck. Disini aku hanya ngubah beberapa kalimat / kata supaya lebih enak dibaca.

THIS IS MARK X HAECHAN FANFICTION

THIS IS YAOI

THIS IS REMAKE FROM SANTHY AGATHA'S STORY

DO NOT LIKE DO NOT READ


HAPPY READING GUYSSSS


CHAPTER 1


Apartementnya masih berantakan, dia belum sempat merapikan pakaian dan beberapa barang pribadi yang baru dibelinya, sebuah televisi dan dispenser kecil. Untunglah apartement ini sudah menyediakan perabotan dasar seperti tempat tidur, sofa dan dapur. Haechan memutar bola matanya ketika menatap dapur itu, dia mungkin butuh berkunjung ke supermarket terdekat, mengisi bahan makanan di kulkas dan membeli beberapa peralatan memasak.

Tubuhnya lelah setelah perjalanan yang panjang dan dilanjutkan dengan mengurus surat-surat kontrak apartementnya, Huang Renjun, editornya yang kebetulan tinggal di kota ini sudah berbaik hati membantu mencarikan apartement yang siap pakai untuknya. Ya, Haechan memang berangkat ke sini karena usul dari Renjun.

Selain sebagai editornya, Renjun adalah sahabatnya, meskipun mereka kebanyakan berkorespondensi melalui email semata. Jadi, begitu Haechan menceritakan pengkhianatan Jeno dan rasa sakitnya, Renjun mengusulkan agar Haechan pindah sementara ke kotanya sampai hatinya tenang.

Dia hanya berpamitan kepada kedua orang tuanya dan tidak mengatakan kepergiannya kepada siapapun. Tetapi lambat laun Jeno pasti akan mengetahuinya juga. Haechan mendesah pahit. Sekarang ingatannya akan Jeno dipenuhi rasa muak dan sakit hati.

Ah ya ampun...

Haechan tidak akan pernah percaya lagi kepada janji laki-laki. Mereka semua adalah mahluk lemah yang tidak tahan godaan.

Ponselnya berkedip-kedip dan Haechan mengernyit, dia mengangkatnya ketika melihat nama Renjun di sana.

"Yeoboseyo?"

"Aku sudah sampai rumah dan baru teringat." Renjun berkata, "Naskah bab tujuhmu sudah selesai dikoreksi, ada beberapa catatan kecil di sana, mungkin kau ingin melihatnya."

"Aku akan melihatnya nanti." Gumam Haechan lemah, menyandarkan tubuhnya di sofa, "Saat ini aku lelah sekali."

"Istirahatlah dulu. Kau tidak akan bisa menyelesaikan tulisanmu kalau kau sakit."

"Kenapa kau memikirkan tulisanku? Bukan aku?" Haechan tersenyum.

"Karena sudah mendekati deadline dan kau baru sampai di bab tujuh. Haechan-ah, novelmu banyak ditunggu-tunggu oleh penggemarmu, penerbit sudah mengejarku untuk kepastian penyelesaian novelmu." Renjun tergelak, "Tetapi bukan berarti aku tidak mempedulikanmu, sebagai sahabat aku mencemaskanmu, jangan banyak pikiran ya. Lepaskan semuanya dan biarkan hatimu tenang."

Mata Haechan berkaca-kaca, menyadari bahwa hatinya sama sekali masih tidak tenang, "Terimakasih Renjun-ah." Gumamnya serak sebelum menutup pembicaraan.

Matanya nyalang menatap langit-langit kamar.. Mencoba melupakan rasa yang menyesakkan dada. Dia tidak akan bisa tidur malam ini, sambil menghela napas panjang, Haechan meraih jaketnya dan melangkah keluar dari apartementnya.


YOU'VE GOT ME FROM HELLO


Setelah berjalan tanpa tujuan di sekitar kompleks apartemennya yang cukup ramai karena terletak di area pusat perbelanjaan, Haechan begitu saja memasuki cafe disekitar situ. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi suasana tetap saja ramai.

Cafe itu terletak di pinggir jalan, di area yang dipadati pejalan kaki yang lalu lalang, suasananya sangat sejuk dan menyenangkan, karena dipenuhi oleh tanaman hijau yang ditata dengan indahnya, dengan dinding-dinding dari kaca yang memantulkan lampu jalan. Cafe itu buka duapuluh empat jam.

Dan Haechan langsung menemukan tempat yang cocok untuk duduk dan menulis. Dia duduk di sebuah sudut yang nyaman dan membuka buku menu yang ada di meja. Suasana cafe cukup ramai meskipun sudah malam, seakan-akan kehidupan terus berjalan di dalam sini.

Pada saat yang sama seorang pelayan, pria setengah baya mendekatinya dan tersenyum ramah kepadanya, "Selamat malam, apakah Anda ingin memesan sesuatu?"

Haechan mendongak menatap wajah yang ramah itu dan tersenyum, "Saya ingin steak yang ada di menu ini." Gumamnya pelan, lalu menatap pelayan yang membungkukkan tubuhnya dengan sopan setelah mencatat pesanannya dan melangkah pergi.

Haechan membuka laptopnya dan mulai menulis, tetapi baru beberapa detik dia mendesah. Novel yang ditulisnya adalah kisah romansa antara dua anak manusia yang saling mencintai. Haechan dulu sangat lancar menulis novel percintaan, kata-kata akan mengalir mudah dari jari-jarinya, membentuk rangkaian huruf yang membuaikan pembacanya, tetapi sekarang, setiap dia akan menulis kisah cinta, hatinya mencemooh, ingatan akan Jeno menyerbunya, membuat jemarinya kaku dan tidak bisa mengetikkan kisah romantis apapun.

Ternyata menulis itu dipengaruhi oleh hati. Ketika dia patah hati, jemarinya menolak untuk menuliskan kisah cinta yang menyentuh hati. Jiwanya tidak percaya akan keindahan romansa, semua terasa palsu baginya sejak pengkhianatan Jeno kepadanya.

"Biasanya kalau aku susah mendapatkan inspirasi aku akan mendengarkan musik."

Suara yang maskulin itu mengejutkan Haechan dari lamunannya, dia mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan sosok tampan yang begitu mendominasi ruangan, dengan pakaian serba hitam dan wajah klasik yang misterius.

Haechan mengernyitkan keningnya, menoleh ke belakangnya, tidak ada orang lain di dekatnya, jadi memang benar lelaki ini sedang menyapanya. Dia tidak mengenal lelaki ini, bagaimana lelaki ini bisa mengetahui bahwa dia sedang menulis?

"Para penulis biasanya datang ke cafe ini di malam hari, memenuhi setiap sudutnya dan berusaha mencari inspirasi." Lelaki itu tersenyum, "Maafkan aku tidak sopan menyapamu begitu saja." Dia mengulurkan tangannya, "Hallo, Aku pemilik cafe ini namaku Mark."

Haechan tetap ragu, meskipun begitu, demi kesopanan dia menyambut uluran tangan lelaki itu,

"Hallo...." Haechan masih bingung harus berkata apa, "Aku Lee Donghyuck, tapi biasanya orang memanggilku Haechan." Gumamnya pelan. Masih terpukau atas senyum ramah dan ketampanan lelaki di depannya.

"Oke kalau begitu, aku harap kau tidak bosan berkunjung kemari." Lelaki itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi.

Haechan masih terdiam, mengamati kepergian lelaki itu.

Mungkin sudah budaya di cafe ini untuk ramah kepada para pelanggannya, pikirnya dalam hati.

Lelaki itu tampak baik, ramah dan sopan.. tetapi kemudian ingatan akan Jeno menyerangnya dan membuatnya merasa pahit. Semua laki-laki sama di dunia ini, meskipun yang berpenampilan paling sempurna sekalipun.


YOU'VE GOT ME FROM HELLO


"Dan dia sangat tampan." Haechan bercerita kepada Renjun sahabatnya, "Dia juga pemilik cafe yang indah itu."

Renjun mengambil roti bakar di piring Haechan, mereka sedang menghabiskan minggu pagi di apartemen Haechan, Renjun berkunjung untuk membantu Haechan merapikan tempat barunya.

"Cafe itu cukup terkenal di kota ini, sangat ramai karena menyediakan semua yang dibutuhkan. Di pagi hari kau bisa memesan menu sarapan yang lezat, dan di malam hari, barnya dibuka sehingga semua orang yang ingin bersantai bisa duduk-duduk di sana selama mungkin dan menikmati minumannya. Tapi dari ceritamu, pemilik cafe itu sepertinya masih muda."

"Masih muda." Haechan merenung.

Masih muda dan sangat tampan.. batinnya.

"Apakah dia sudah menikah?" tanya Renjun tiba-tiba.

Haechan tergelak, "Kenapa aku harus memperhatikan apakah dia sudah menikah atau belum?'

"Karena kau harus belajar melepaskan diri dari Lee Jeno." Renjun mengedipkan sebelah matanya, "Pemilik cafe itu menyapamu, dan dia masih muda, siapa tahu dia juga tampan."

"Dia tampan." Gumam Haechan akhirnya.

"Nah! Mungkin dengan mencoba membuka lembaran baru kau bisa menyembuhkan lukamu."

"Tidak." Haechan mengernyitkan keningnya denga pedih, "Semua lelaki sama, Renjun-ah.. Mereka selalu bilang bahwa mereka adalah pecinta sejati. Tetapi di sisi lain mereka mudah berpindah hati."

"Kau tidak bisa terus-terusan seperti itu, Haechanie.. Masih banyak lelaki di luar sana yang berjiwa baik dan setia." Renjun menghela napas panjang, "Seperti pemilik cafe yang tampan itu, dia tampaknya baik, dan dia menyapamu, berarti dia ada perhatian kepadamu."

"Tidak." Haechan kembali menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Mungkin itu memang sudah menjadi ciri khas cafe itu, bersahabat dengan pelanggannya, bahkan pelayannya pun ramah-ramah." Tatapan mata Haechan lalu berubah serius, "Aku tidak ingin membuka hatiku untuk lelaki manapun Renjun-ah, aku sudah dikecewakan dan bagiku semua lelaki itu sama, mereka adalah pengkhianat."

Haechan meyakini kata-katanya. Pengalamannnya dengan Jeno sudah membuktikan semuanya. Dia tidak akan pernah percaya kepada laki-laki lagi, apalagi lelaki yang luar biasa tampannya seperti pemilik cafe itu kemarin. Lelaki setampan itu pastilah pemain perempuan ataupun laki-laki, karena dengan ketampanannya dia bisa mendapatkan banyak perempuan serta laki-laki yang dengan sukarela mau bertekuk lutut di bawah kakinya.


YOU'VE GOT ME FROM HELLO


Tetapi malam itu Haechan tidak bisa tidur lagi, dia sudah mencoba berbaring tetapi hanya berguling bolak-balik di atas ranjang. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kawasan tempat tinggalnya cukup aman dan ramai untuk keluar di malam hari.

Lagipula Cafe itu terletak begitu dekat, di seberang kompleks apartemennya..

Tanpa terasa Haechan sudah berjalan ke sana, memasuki cafe itu. Pelayan setengah baya yang sama yang menyambutnya,

"Anda ingin pesan apa?" lelaki itu menyapa dengan ramah ketika Haechan duduk di pojok yang rindang dengan dekorasi taman yang menyejukkan.

Haechan tersenyum, "Tidak, malam ini aku ingin kopi."

"Apakah Anda akan bergadang untuk menyelesaikan pekerjaan Anda?" Pelayan itu melirik ke arah laptop yang diletakkan Haechan di mejanya.

Haechan terkekeh, "Aku seorang penulis dan aku dikejar deadline."

"Penulis?" Pelayan itu tampak tertarik, "Penulis novel?"

Haechan menganggukkan kepalanya, "Ya. Novel percintaan."

"Ah." Pelayan itu terenyum penuh arti, "Saya sudah menduganya, itu sesuai dengan penampilan Anda yang lembut."

"Terimakasih atas pujiannya." Gumam Haechan sambil tertawa, mulai membuka laptopnya di atas meja itu, "Mungkin aku akan di sini sampai pagi."

"Anda tidak tidur?"

"Pekerjaanku kan penulis, aku bisa begadang semalaman dan tidur besok pagi." Haechan tergelak, "Semoga di sini diperbolehkan duduk sampai malam."

"Tentu saja." Pelayan itu mengedipkan sebelah matanya, "Asal Anda terus mengisi cangkir kopi anda setiap dua jam, Anda boleh duduk di sini selamanya." Candanya sambil tertawa, "Saya akan mengambilkan pesanan Anda dan karena sepertinya Anda akan menjadi pelanggan kami, Anda boleh memanggil saya Doyoung."

Haechan tersenyum menanggapi keramahan pelayan itu, "Terimakasih, Doyoung hyung." Gumamnya lembut.


YOU'VE GOT ME FROM HELLO


Hampir pukul tiga pagi dan Haechan masih menulis di sudut yang sama, dia sedang menulis adegan sedih, perpisahan antara dua tokohnya karena kesalahpahaman dan itu sesuai dengan perasaannya sekarang, karena itulah jemarinya mengalir lancar.

Tiba-tiba ponselnya berkedip-kedip, membuanya mengernyitkan kening.

Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?

Diambilnya ponselnya dan wajahnya memucat ketika melihat nama yang tertera di sana.

Lee Jeno..

Haechan meletakkan ponsel itu di meja dan membiarkannya. Tetapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti, begitu mengganggunya. Haechan mendesah kesal, mood menulisnya langsung hilang begitu saja melihat nama Jeno di layar itu.

Dan meskipun dia sudah berusaha mengabaikannya, ponsel itu terus menerus bergetar tak tahu malu, seolah Jeno tidak akan menyerah sebelum dia mengangkatnya.

Akhirnya setelah menghela napas panjang, Haechan mengangkat ponsel itu.

"Ada apa Lee Jeno?" gumamnya kesal.

"Haechan-ah, akhirnya." Suara Jeno terdengar lega di seberang sana, "Aku datang ke rumahmu dan orangtuamu bilang bahwa kau pergi keluar kota. Kau kemana?"

"Sudah bukan urusanmu lagi kan?" jawab Haechan dingin.

"Astaga Haechanie.. Sebegitu kejamnya kah kau padaku? Apakah kau pergi meninggalkan kota ini gara-gara aku?"

Kenapa pula Jeno harus bertanya? Tentu saja Haechan melakukannya karena Jeno, dia sudah muak bahkan untuk mengetahui bahwa dia menghirup udara yang sama dengan laki-laki itu, karena itulah dia pindah.

"Aku rasa apapun alasanku adalah urusanku." Haechan bergumam, "Dan aku harap kau tidak menggangguku lagi."

"Haechan... sayang... dengarkan aku... kau pindah kemana sayang? Orangtuamu tidak mau memberitahukan kepadaku dan aku mencemaskanmu."

Mencemaskan? Cih.. Dasar lelaki jahat..!

"Aku baik-baik saja." Haechan menguatkan hatinya, merasakan matanya berkaca-kaca, lalu langsung mematikan ponselnya.

Dia terpekur cukup lama di depan laptopnya, menatap hampa kepada tulisannya yang masih setengah jadi. Saat ini yang dia lakukan adalah membuat kisah tragedi, dengan akhir yang tragis dan memilukan untuk tokoh-tokohnya, kisah menyedihkan yang sama seperti yang sekarang dia alami.


YOU'VE GOT ME FROM HELLO


Mark memperhatikan Haechan dari dalam ruang kerjanya. Tentu saja Haechan tidak menyadarinya, ruang kerja Mark terletak di lantai dua, di atas tangga dengan kaca yang gelap yang didisain satu sisi, dimana Mark bisa dengan leluasa mengawasi seluruh bagian cafe miliknya dan orang dari luar tidak akan bisa melihat menembus ke dalam.

Mark tidak pernah merasakan ketertarikan seperti ini pada laki-laki manapun. Tetapi semalam, ketika kebetulan dia sedang berdiri di tempat ini, tempat yang sama, mengawasi cafenya, dia melihat laki-laki itu masuk, menatap keraguan laki-laki manis itu, dan entah kenapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati laki-laki itu.

Padahal penampilan laki-laki itu sederhana, dia mengenakan celana jeans biru dan kemeja warna polos yang membungkus tubuhnya yang tampak berisi itu. Tidak ada yang istimewa dan heboh dari penampilannya, rambutnya berwarna cokelat kemerahan dan Mark tidak bisa melepaskan pandangannya dari laki-laki itu.

Bahkan kemudian dia tidak bisa menahan diri untuk menyapa laki-laki ini, Mark ingin melihat lebih dekat. Mark tidak pernah menampakkan dirinya di depan pelanggan. Dia selalu bersembunyi di balik dinding kaca gelap yang misterius, hanya Doyoung lah yang dipercayanya sebagai tangan kanannya.

Mark memiliki jaringan cafe dan hotel di seluruh kota ini, tetapi Garden Cafe adalah favoritnya. Tempat inilah satu-satunya dari seluruh tempat yang dimilikinya yang membuatnya merasa nyaman.

Dan kemudian dia menemukan laki-laki ini, laki-laki yang langsung merenggut hatinya, ketika berucap halo dan menyambut uluran tangannya, lalu mengatakan namanya. Lee Donghyuck. Tapi Mark lebih senang saat laki-laki itu juga mengatakan nama panggilannya yaitu Haechan. Nama yang sangat manis menurut Mark dan Mark sudah mencatat nama itu dengan penuh rahasia, jauh di dalam hatinya yang kelam.


TBC


Notes

Wah.. makasih banyak buat yang udah review di prolog kmrn.. dan sesuai janjiku karena reviewnya bisa lebih dari 10 aku update chapter 1 nya hari ini

Aku baca dari bbrp review kmrn ada yang blng klo ff ini sama kyk ff yang judulnya Red Night (YukheixHaechan) dan pas aku liat ffnya emg ternyata kita meremake ff yang sama tapi beda judul sama beda cast ajaaa, gapapa ya aku lanjutin ff ini? yah.. walaupun jalan ceritanya sama sih tapi aku jamin deh nanti feel nya beda /? aku bakal ubah beberapa kalimat atau nambah beberapa kata nantinya supaya walaupun ceritanya sama kalian ga bakal bosen oke?

Aku usahain bakalan update tiap minggu biar ff ini cepet selesai karena aku juga pengen banget nyoba bikin ff Markhyuck yang berchapter, trus maaf kalau misalnya ada typo diatas karena maklum lah ya walaupun udh diedit + dibaca berulang kali kadang mata aku ada yg kelewatan gituu..

Udah gitu aja.. aku tunggu review kalian oke? Annyeongg~

Special Thanks To

BooSeungkwan, Rimm, oohara, hyuckbaby, yeri960, zeroo082, echa577, olal, blaxter972, jaeminteu, haechan-ah, .7, markeuhyucklee, indriana217, minge-ni, Nonono546,Dindch22,Lee9900

(Maaf kalau ada yang salah tulis / ga ketulis)