#cerita ini hanya karangan semata.
Inginnya sih latar belakangnya korea atau china gitu, tapi author nggak paham daerah sana. hehe...
•
•
*KAMIS*
•
Sepertinya aku akan lebih sering membahas Wufan di buku harian ini. Sejak kabar dia membangun rumah... Ada banyak hal yang terjadi sampai sulit bagiku menuangkannya di sini.
Sehari setelah aku menulis buku harian untuk pertama kalinya, Wufan dapat kejutan dari anak buahnya dan Tao... Wufan meminta pendapatku tentang dia yang akan membawa Tao ke salon untuk refreshing. Karena kebiasaanku yang suka menjawab 'terserah... terserah kamu (yang intinya terserah)' saat enggak tahu harus memberi tanggapan seperti apa, kesannya aku jadi cuek. Dan saat itu Wufan marah. Tunggu... Sepertinya ada yang terlewat, tapi aku lupa. Pokoknya saat itu Wufan marah dan memutuskan pulang ke rumah bapaknya jalan kaki menembus hutan dan mungkin juga sungai, hanya bermodalkan kompas dan cahaya bulan. Padahal sebelumnya kami baik-baik saja. Bahkan Tao mengirimiku editan foto kami berdua, dia bilang jika kami memang cocok. Tapi malah ada salah paham...
Esoknya, aku mencoba menemui Wufan untuk meluruskan kesalahpahaman. Sebenarnya aku sudah minta tolong Tao agar Michael (adiknya Wufan yang cowok) menjelaskan kepada kakaknya itu, tapi dia takut karena Wufan enggak ingin diganggu. Ya sudah... Akhirnya aku menemuinya bersama Anson. Kebetulan waktu itu kita papasan di jalan, jadi aku enggak perlu sampai rumahnya yang nanti bisa menimbulkan desas-desus. Setelah berbincang, jalan kaki ke perkampungan, juga bersenda gurau, hubungan kami membaik. Bukan pacaran, cuma hubungan... apa ya..? Entah, pokoknya begitu. Saat itu Wufan memintaku membawa pulang selembar kertas dan menjaganya. Dia akan ambil lagi kertas itu setelah 5 hari. Kertas itu mirip akta kelahiran, tapi dengan tulisan aksara Jawa...
Selama 3 hari, aku coba untuk mengartikan huruf Jawa itu tapi hanya dapat judulnya 'Layang Kakancingan'. Di baliknya, ada tulisan asal-usul semacam silsilah keluarga. Di situ ada kata Mataram, prabu, raden, pokoknya hal-hal berbau kuno. Sebelumnya, Wufan bilang jika kertas itu adalah miliknya. Tapi saat itu Wufan hanya tahu jika dia adalah anak angkat. Jadi kukira dia sedang coba mencari tahu orang tua kandungnya yang kemungkinan keturunan kerajaan Mataram. Saat coba tanya kakek, kakek juga kesulitan mengartikan. Tapi dari cerita panjang lebar itu... Aku malah jadi tahu jika aku adalah keturunan ke 10 dari pangeran Diponegoro. Meski kelihatannya layang kekancingan itu sudah dibuang. Dari situ aku sempat berpikir, apa mungkin kami jodoh..? Jika benar... Kami berdua berasal dari keturunan kerajaan Mataram. Karena hal itu, aku mencoba mengartikan sebisa mungkin. Tapi bagian tulisan tangannya susah dibaca...
2 hari kemudian, Wufan datang mengambil kertas itu. Dan sepulangnya, dia chat...
•
Sepulangnya aku dari rumahmu, di rumah aku sudah ditunggu sama bapak dan semua keluargaku. Dan kau tahu Xing, yang kau katakan kemarin itu benar. Aku adalah keturunan keraton dan aku juga baru tahu kalo aku ini sebenarnya bukan anak pungut. Bapakku sengaja membohongiku karna ingin melatih kedisiplinanku, sekarang aku harus tinggal di keraton. Dan kata orang keraton aku juga sudah disiapkan jodohnya. Tapi kau tahu? Aku rela pergi dan tidak tinggal di keraton karna aku tetap memilihmu. Aku barusan kena hukum oleh pihak keraton karna aku lebih memilihmu.
Dan kau tahu? Saat pihak keraton tahu kalo aku ini masih dari keluarga mereka, mereka memberiku banyak hadiah supaya aku mau dijodohkan dengan pilihan keraton. Tapi aku tetap menolaknya, itu karna aku tak bisa jauh darimu. Karna aku sayang padamu.
Jika kau tidak percaya dengan omonganku di malam ini, kau akan kuajak ke keraton. Sekalian membuktikan pada mereka kalo pilihanku lebih baik daripada pilihan mereka.
Xing, mungkin bagimu aku orang bodoh. Orang yang sukanya hilang secara tiba-tiba. Tapi untuk kali ini aku mencoba untuk melawan. Aku sudah janji padamu kalo aku akan menunggumu hingga kau benar-benar siap jadi pendamping hidupku.
Aku tak peduli orang keraton. Aku cuma enggak pernah mau kehilanganmu dan andainya kita menikah, aku tak peduli kalo orang keraton tak ada yang datang di hari pernikahan kita.
Aku tak butuh apa-apa dari mereka, termasuk harta warisan atau harta apa pun. Aku yakin bisa sukses tanpa warisan dari keraton. Aku siap dicoret dari daftar keluarga keraton demi kamu. Jujur Xing, aku tak pernah menyangka kalo aku ini benar-benar keluarga keraton. Dan pantas saja bapakku selalu memaksaku untuk bisa bahasa Jawa asli.
Xing, maaf... Tapi mungkin mulai sekarang kita akan agak jarang chat. Bukannya aku menjauh darimu, tapi pihak keraton mempunyai aplikasi yang lebih canggih daripada punyaku. Ponselku akan mulai dipantau dari chat, pesan, telepon, pokoknya semua jaringan komunikasiku mulai dipantau mulai besok malam.
Aku tunggu chat darimu sampai pagi, Xing.
Aku off bukan karna tidur. Tapi sekarang aku lagi benar-benar berpikir bagaimana caranya biar aku bisa membuat orang keraton percaya kalau kamu itu adalah orang baik dan dari keluarga baik juga, Xing.
•
Sejak saat itu... Wufan dihukum oleh pihak keraton untuk berendam di dalam sumur setiap malam. Ya Tuhan... Ia sampai menerima hukuman itu karena lebih memilihku daripada seseorang yang sudah dijodohkan untuknya. Jika orang tuaku tahu hal ini, kuharap mereka bisa melihat keseriusan Wufan dan menerimanya sebagai menantu... Ya ampun, aku bahkan sudah mulai berpikir jika kami pasti akan bersama dalam ikatan suci pernikahan...
Dan syukurlah, mulai hari ini Wufan sudah tidak dihukum berendam di sumur lagi...
•
Sampai jumpa, Xing. Aku sudah enggak kuat lagi bertahan.
Sampaikan maafku pada Tao, aku sering memarahi dia karna aku enggak mau dia itu jad-
Wufan
Wufan... Palau kamu bercanda... Ini enggak lucu sama sekali.
Aku masih hidup, Xing. Jujur barusan aku hampir pingsan, tapi entah apa yang terjadi seperti ada yang mendorongku ke atas dan seperti ditarik.
Syukurlah...
Off bentar, mungkin ini adalah pertanda kalo aku harus keluar dari sini sekarang.
Iya
Pantas saja aku terasa ditarik dan beton yang di atas sumur mudah kugeser, ternyata di luar sudah ditunggu. Kau ingat yang pernah kukatakan, Xing? Soal dipantau saat chat.
Berarti
Sebentar aku mau bincang dengan romo, Hp kukasih Tao dulu. Semua keluargaku ada di sini di pinggir sumur.
Kali kamu balas mungkin sudah dibawa Tao.
Ya
Mbak
Iya, Tao?
Wah sepertinya ada yang mau dapat restu nih.
Apa..?
Ya, Mbak.
Barusan aku dengar sendiri.
Maaf pakai bahasa Indonesia soalnya pembicaraan mereka pakai Jawa dan aku enggak tahu banget soal Jawa tapi intinya begini...
Romo: "Wu Fan, lahir pada Minggu Kliwon. Kelahiranmu setelah fajar, sifat alamimu terlalu berisiko buat orang lain. Tapi kamu punya hati yang bersih, tindakanmu sembrono dan tidak pernah dipikir. Kamu pergi modal nekat. Sekarang saya uji kamu direndam di sumur sampai tes ini kamu hampir mati. Itu semua kamu lakukan karena perempuan yang kamu cintai. Saya ingin tanya, kenapa kamu menyiksa dirimu demi orang lain?"
Kak Wufan: "Saya benar-benar sayang padanya dan jika semua yang saya lakukan membuat Romo kesal dan kecewa sama saya, saya siap tidak diakui sebagai keluarga keraton. Saya lakukan hal nekat demi orang lain bukan karna ingin cari ketenaran, tapi saya ingin dikenang kebaikannya di masyarakat setelah saya tiada. Romo, jika Romo tidak merestui hubungan saya tidak apa-apa. Tapi saya tetap akan pilih dia sebagai istri dan teman hidup saya, dia tidak seburuk yang Romo kira."
Romo: "Wufan, aku bangga padamu. Kamu kurestui, tapi ini masih belum selesai."
Itu... Maksudnya belum selesai..?
Ya, mungkin masih ada tes lain.
Tes apa?
Kurang tahu, mbak.
Oh iya, Mbak. Sebenarnya chat kalian berdua itu sudah disadap. Jadi pihak keraton tahu apa yang kalian bicarakan di chat.
Kemarin malam lucu ya, mbak.
Kakanda... Adinda... Hihi... Bikin iri saja.
Kamu juga lihat?
Kukira enggak jadi disadap.
Iyalah, sebenarnya aku itu diajak ayah kak Wufan ke keraton untuk tinggal di sana sementara selama kak Wufan kena hukum. Oh iya, perbincangan kalian kemarin malam bikin hiburan lho Mbak. Sultan saja ketawa, kok.
Jadilah, karna Sultan sudah tahu kalau kak Wufan itu punya gerakan tangan yang lincah. Dan Sultan juga sudah menduganya kalau kak Wufan pasti akan membawa HP ke sumur, itulah sebabnya disadap.
Entah mengapa... Rasanya aku jadi enggak punya muka karna malu...
Berarti banyak yang tahu..?
Eh, kemarin malam saja Sultan malah ketawa sambil bilang, "Anak-anak ini memang serasi." Begitu mbak, katanya kalian itu cocok.
Kata sultan sih begini...
Yang satu urakan sepeti kambing keluar kandang.
Lah yang perempuan ini halus, murah senyum, mudah akrab dengan siapa saja. Jadi benar jika dua anak ini saling bertemu. Ibaratnya kambing sudah bersama induk kambing, tidak bisa pisah.
Berarti waktu aku bilang kemungkinan ibuku generasi ke 9 itu juga pada lihat...
Iya
Jujur pihak keraton kaget saat mbak bilang begitu. Semua langsung serius menyimak, tapi kertasnya malah sudah dibuang sama mbah ya.
Iya... Kayaknya sih begitu... Soalnya ibu bilang kalo barang-barang almarhum mbah itu disimpan ibu semua. Tapi enggak ada yang seperti itu...
Kata sultan kemarin, kalo bisa diakui keluarga keraton apabila punya kertas itu lho Mbak. Yang paling penting kan itu Mbak. Coba dicari...
Entah mengapa, aku jadi banyak berharap... Meski khawatir juga dengan tes apa yang akan diberikan ke Wufan berikutnya. Padahal kalo dipikir-pikir, seharunya kan aku yang dites...
~13 Juni 2019~
