The One I Love
Chapter 2
Namikaze Naruto, come back
Disclaimer : Naruto belongs to Mashashi Kishimoto
Happy reading !
.
.
.
Sasuke tidak mengerti maksud dari pesan yang disampaikan Naruto sebelum perpisahan senja itu. Dan kini dia mengerti maksud pesan 'sampai jumpa, delapan tahun lagi' setelah berhadapan dengan seorang gadis berambut pirang pucat yang dikenalnya sebagai sahabat Naruto, Ino, di cafe dekat perpustakaan kota yang menggantikan kedatangan Naruto diakhir pekan ini, seraya menyerahkan sebuah kotak pada Sasuke.
Sasuke memandangi kotak berwarna biru tua dengan sebuah pita berwarna orange yang menghiasinya. Kemudian beralih memandang Ino yang duduk didepannya begitupun dengan Ino yang menatapnya dengan tatapan yang entah apa itu. Mereka hanya sekedar tau nama dan pernah berhadapan sekali saat Naruto mengenalkan mereka.
"Naruto menitipkan itu untukmu dan aku tidak tau apa isinya" setelah terdiam cukup lama, Ino mulai menyuarakan jawaban dari tatapan bertanya Sasuke.
"Kenapa Naruto menitipkan ini padamu ? Kenapa tidak diberikan langsung saja, kemana Naruto ?" Ino menghela napas berat dan tatapannya sedikit menyendu.
"Buka saja kotaknya jika kau ingin tau dan kenapa Naruto menitipkannya padaku, itu karena dia tidak bisa menyerahkannya secara langsung padamu" jawab Ino dengan menekankan kata 'tidak bisa' pada kalimatnya.
Sasuke mulai membuka kotak berukuran sedang itu, didalamnya terdapat sebuah gantungan berbentuk rubah, sebuah boneka berukuran sekepala manusia yang berbentuk tomat dan sebuah surat. Sasuke masih terdiam melihat isi kotak itu, dia bahkan belum menyentuh satu bendapun yang ada didalamnya. Setelah cukup lama mereka terdiam, Ino kembali menyuarakan diri dikeheningan diantara mereka.
"Naruto pergi dua hari yang lalu" penyataan Ino menarik perhatian Sasuke hingga membuatnya kembali menatap gadis itu.
"Pergi ?" lirihnya tak mengerti.
"Dia mendapat kesempatan mengikuti pertukaran pelajar yang diadakan universitas kami keluar negeri. Sebelum dia pergi dia menitipkan itu padaku, dia bilang itu adalah hadiah yang tak bisa dia berikan ketika kau diterima disebuah SMA makanya dia menitipkannya padaku." Ujarnya kemudian menyesap jusnya.
Sasuke kembali menatap isi kotak itu dan menatapnya sedikit nanar. Banyak pertanyaan 'kenapa' yang menghinggapi otak jeniusnya. Seperti 'kenapa dia tidak bilang kalau dia akan pergi ?', 'kenapa dia tak memberitahunya kalau dia mengikuti program pertukaran pelajar itu ?, 'kenapa dia tidak menemuinya sebelum dia pergi ?', kenapa dan kenapa yang lainnya terus bermunculan diotaknya.
"Kenapa..." lirih Sasuke yang membuat Ino semakin menatapnya sendu.
"Bacalah suratnya dan kau akan tau semua alasan atas pertanyaanmu. Aku harus pergi, sampai jumpa" ujar Ino seraya beranjak dari kursinya dan meninggalkan cafe.
Sasuke masih diam ditempatnya seraya memandangi isi kotak dari Naruto itu. Rautnya menyiratkan banyak arti kecewa, sedih dan sesak. Perlahan tangan alabasternya mengambil surat dari kotak itu dan mulai membacanya.
To : Uchiha Sasuke
Hai, Sasuke !
Merindukanku, hm ?
Ck, tentu saja aku tau ! terlihat jelas diwajahmu. Hehehee
Maaf akhir pekan ini aku tidak bisa datang. Hei jangan memasang wajah jelek seperti itu ! itu sungguh menggelikan kau tau ! ahahaa...
Dan untuk akhir pekan berikutnya, berikutnya lagi dan berikut-berikutnya lagi... aku juga tidak bisa datang.
Gomenasai ne...
Ah, aku baru ingat!
Selamat atas kelulusanmu memasuki SMA Konoha, maaf aku tidak bisa mengucapkan selamat secara langsung padamu...
Tapi hei ! Aku telah mengirim Ino untuk menggantikanku menemuimu dan memberikan salamku ini!
Maaf... tidak memberitahumu sebelumnya, kalau aku akan pergi.
Bahkan aku tak menemuimu saat aku akan pergi...
Itu karena aku tak bisa.
Hei, Kau mau aku tidak jadi berangkat karena melihatmu, hah ?
Kau ingat ucapanku saat ditaman itu ?
Aku tau kau jenius, jadi tidak mungkin kau lupa!
Inilah yang kumaksud tentang 'Jika kau tak mengalami perpisahan kaupun tak akan mengerti hakikat pertemuan'.
Dengan mengalami perpisahan, kau akan mengerti bagaimana rasanya pertemuan. Begitupun dengan sakitnya kehilangan, kau akan mengerti indahnya memiliki.
Maka dari itu kau akan menghargai setiap pertemuan dan apapun yang kau miliki.
Berbahagialah selama aku pergi dan jangan coba-coba mencariku sebelum waktunya.
Sampai jumpa delapan tahun lagi, Sasuke...
Aku menyayangimu...
-Namikaze Naruto-
Sasuke menghela napas pelan setelah membaca surat itu.
"Jadi kencan itu adalah kencan perpisahan, huh ?" gumam Sasuke.
Ino merebahkan tubuhnya dikasur empuknya, menatap langit-langit kamarnya, mengenang setiap memory yang ditorehkan sahabat sekaligus adiknya, Naruto. Ino menghela napas pelan, walau masih beberapa hari tapi dia sudah sangat merindukan gadis berisik yang sudah dianggap adiknya itu. Walaupun mereka saling mengenal saat memasuki SMA tapi jalinan persahabatan mereka sangat erat.
"Sialan kau Naruto ! Kau membuatku merana, haah~" Dan Ino merasa dia sudah seperti nenek-nenek sekarang.
Dia teringat dua hari sebelum keberangkatannya, Naruto mengajaknya mengunjungi rumahnya yang berada di pinggiran Konoha. Selama ini Naruto tinggal diapartemen dekat kampus, karena jarak antara rumah dan kampusnya cukup jauh.
Flasback
"Hei jangan menatapku seperti itu, Ino ! Akukan hanya pergi untuk belajar bukan pergi untuk selamanya"Bletak ! Ino menjitak kepala pirang itu.
"Itai!"teriak Naruto seraya mengelus kepalanya.
"Bagaimana kalau aku jadi bodoh hah ? Atau aku-"GREB ! sebelum Naruto menyelesaikan ucapannya Ino telah memeluknya erat.
"Baka! kau tak akan menjadi bodoh hanya karena satu jitakan dariku dan jangan bilang kau akan pergi selamanya atau aku yang akan mengakhiri hidupmu itu!" sebisa mungkin Ino menahan tangisnya saat Naruto mulai membalas pelukannya.
"Aku tak akan meninggalkanmu, Nesan. Aku hanya pergi sebentar, aku akan sering menghubungimu dan selalu mengingatmu. Kau sahabat sekaligus kakakku yang terbaik" ucap Naruto yang membuat Ino melepaskan pelukannya dan menampakkan wajah memerah menahan tangis.
"Baka! Tentu saja kau harus selalu menghubungi dan mengingatku ! Kalau tidak aku akan terbang ke London hanya untuk memarahimu jika kau berani melupakanku!" sungutnya yang tak terasa air matanya mulai mengalir tanpa disadarinya.
"Aku pasti akan merindukan saat kau memarahiku"
"Kalau perlu aku akan menelponmu setiap hari hanya untuk memarahimu!"
Mereka tertawa bersama walau bulir air mata Ino tak dapat dibendung lagi. Dia tertawa sambil menangis, bahagia dan sedih karena sahabat sekaligus adiknya itu mendapat kesempatan mewujudkan impiannya dan sedih karena dia akan ditinggalkan. Kemudian mereka terdiam cukup lama, mengingat setiap potong kenangan yang telah mereka lalui bersama sambil berbaring diatas rumput hijau belakang rumah Naruto.
Flasback off
Ino kembali menghela napas lelah. Dia ingin tau apa yang ada diotak jenius Naruto, hingga dia harus merahasiakan kemana dia pergi dari pemuda itu. Tapi setidaknya dia tau bagaimana perasaan Naruto terhadap pemuda itu walau terlihat samar.
^-^Skiptime^-^
Setelah kepergian Naruto, Sasuke tetaplah Sasuke. Sasuke yang minim ekspresi, Sasuke yang irit kata, Sasuke yang acuh pada sekitar, Sasuke yang selalu dingin, Sasuke yang masih dan selalu populer dan Sasuke yang selalu menunggu Naruto. Hanya saja, kadarnya saat ini menjadi overload. Sepeninggal Naruto, Sasuke tak pernah melirik pada fansgirl atau gadis yang ditemuinya karena semua gadis yang ditemuinya sama saja, berisik dan munafik karena hanya memandang dari segi ketampanan, kejeniusan atau kekayaannya. Kecuali gadis itu, gadis yang selalu menjadi mimpi-mimpinya setiap malam, gadis yang akan menjadi miliknya dan dia harus bersabar sampai batas waktu itu.
Seorang pria dengan setelan tuxedo hitam memasuki sebuah ruangan yang dihuni oleh sesosok pemuda yang tengah berkutat dengan dokumen-dokumennya. Pria yang memiliki tanda lahir keriput itu mendekat dan duduk disofa ruangan itu.
"Jadi, untuk kali ini apa yang kau inginkan Otouto ?" tanya pria itu pada sang adik yang hanya dibalas dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Hadiah ulang tahunku" jawabnya kemudian tanpa merubah ekspresi atau menghentikan aktivitasnya. Itachi menaikkan sebelah alisnya sebelum mengutarakan sesuatu yang menjanggal dihatinya.
"Hadiah ulang tahun ya..." gumam Itachi sangat lirih. Setelah enam tahun berlalu, baru kali ini Sasuke meminta hadiah ulang tahunnya. Itachi teringat saat dia bertanya hadiah apa yang Sasuke inginkan diusianya ke 15 tahun beberapa tahun yang lalu.
'Aku akan memintanya nanti. Saat ini aku belum menginginkannya'
Hingga tahun-tahun selanjutnya sampai ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu, jawaban yang samalah yang didapat Itachi saat dia bertanya 'hadiah apa yang kau inginkan' atau 'apa yang sebenarnya kau inginkan' atau 'kapan kau menginginkan hadiahmu'. Dan saat ini setelah ulang tahunnya terlewat berbulan-bulan yang lalu, dia memintanya dengan tampang tanpa dosanya bahkan tanpa ekspresi yang sangat berarti.
"Jadi kau meminta hadiah tertundamu dan yang akan datang saat ini ? Jadi apa ini sudah tiba waktunya ?" Pria yang akan berusia 30 tahun lima bulan lagi itu menunjukkan seringaian penasarannya terhadap adiknya itu yang hanya dibalas gumaman keramat milik adiknya itu "Hn"
"Jadi apa yang kau inginkan ?" tanyanya antusias.
"Aku ingin kau mencari seseorang" ujar Sasuke yang kini manatap kakaknya dengan raut serius.
"Mencari seseorang ? Kenapa kau tidak mencarinya sendiri ? Dengan posisimu saat ini, mencari seseorang tak akan sulit Otouto dan kenapa harus aku ?" tanyanya benar-benar bingung. Untuk apa mencari seseorang yang Itachi yakin, bahwa Sasuke sendiri mampu untuk mencarinya.
Sasuke membuang napas lelah seraya menyenderkan tubuhnya dikursi kerjanya. Mata hitamnya menatap langit-langit ruangannya sebelum tangan putihnya membuka laci mejanya dan mengambil sebuah foto. Seorang gadis berambut pirang yang sedang tersenyum riang bersama seorang pemuda berambut hitam kebiruan yang tengah membuang muka untuk mengalihkan wajahnya yang merona saat gadis yang lebih tinggi itu merangkul bahu pemuda itu dengan wajah yang cukup dekat.
Itachi hanya menatap adiknya dalam diam sambil mengamati setiap perubahan mimik wajah sang adik. Wajah yang biasanya tak menunjukkan ekspresi, mata hitam yang selalu menatap sekitarnya datar kini semua itu berubah, wajah kerasnya menjadi lebih rileks dan mata hitamnya melembut bahkan senyum yang sangat tipis dari bibir pucatnya pun tak luput dari pengamatan Itachi. Itachi benar-benar menatapnya tak percaya.
'Sebenarnya foto siapa yang dilihatnya itu?'
"Kalau aku bisa, aku sudah pasti mencarinya sendiri. Tapi kenyataannya sampai saat ini aku tak tau dimana dia sekarang. Terakhir yang ku tau dia berada di London itupun dua tahun setelah dia pergi, setelah itu aku tidak tau dia dimana sampai sekarang" Itachi yakin itulah kalimat terpanjang yang pernah didengarnya seumur hidupnya dari mulut adiknya itu.
"Beritahu aku saat usiaku 22 tahun dan selama itu rahasiakan dariku apapun tentang dirinya bahkan jika kau telah menemukannya sekalipun"
"Baiklah"
Bandara Narita, Tokyo Jepang
Seorang wanita muda bak model keluar dari area dalam bandara mencari seseorang yang akan menjemputnya, dengan balutan blouse putih berenda kain disekeliling kancing bajunya yang dimasukkan pada rok span hitam selututnya dan dipadukan dengan sepatu high hills hitam 15 cm membuat sosoknya terlihat anggun nan menawan. Pemilik rambut pirang sepinggang yang tergerai indah itu berhenti, melepas kacamata hitam yang dikenakannya menampilkan samudra yang jernih dipantulan iris mata birunya, wajah tanpa cacatnya menyunggingkan senyum manisnya, sukses membuat siapa saja yang melihatnya terpana untuk beberapa lama bahkan rona merah terlihat jelas diantara manusia yang berlalu lalang disekitarnya.
Seorang lelaki dengan sebuah luka melintang dihidungnya menghampiri wanita muda itu kemudian membungkuk 90 derajat setelah berada didepan wanita itu.
"Selamat datang kembali di Jepang, Naruto-sama" sambutnya masih dengan posisi membungkuk.
Wanita yang dipanggil Naruto itu tersenyum, "Tadaima, Iruka-san" balasnya kemudian. Lelaki 48 tahun itu bangkit dan membalas senyum nonanya, kemudian menggiring nonanya keluar dari bandara itu dan kembali ke kediamannya. Setelah dua jam perjalanan dari Tokyo ke Konoha, akhirnya mereka sampai dikediaman yang nampak asri dan yang sangat dirindukannya.
"Tidak berubah sama sekali, masih sama seperti tujuh tahun yang lalu, ne Iruka-san ?" ujar Naruto setelah puas memandang sekitar rumahnya dipinggiran Konoha itu.
"Begitulah Naru-sama, kami merawatnya sesuai dengan pesan Naru-sama sebelum berangkat ke London" sahut Iruka sambil membukakan pintu untuk Naruto yang langsung disambut seorang wanita seumuran dengan Iruka, Sasame.
"Selamat datang kembali, Naru-sama" sambutnya sambil membungkuk.
"Terimakasih Sasame-san" balasnya dengan seulas senyum.
Setelah melepas rindu, Naruto menuju kamarnya yang berada dilantai dua untuk melepas penat setelah perjalanan panjang yang dilaluinya. Karena mulai besok dia sudah mulai bekerja.
Sebuah mobil ferrari enzo merah memasuki kawasan Universitas Konoha dan berhenti disamping jajaran mobil lainnya diarea parkir. Naruto, pemilik mobil itu keluar dan memandang Universitas yang telah ditinggalkannya sebelum lulus dari sana. Semua mata memandang wanita yang tak familiar bagi mereka itu. Cantik dan ramah. Kesan pertama yang ditorehkan setiap orang pada Naruto saat melihat ulasan senyumnya. Tak ingin berlama-lama dalam nostalgianya, Naruto segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang Rektor. Semua mata masih memandangnya kagum dan terpesona. Apalagi jika senyum diwajahnya senantiasa bertengger disana. Bahkan bisik-bisik tentang siapa dirinya menggema disetiap koridor yang dilewatinya. Siapa dia? Mahasiswa barukah? Pindahan darimana? Dan pertanyaan lainnya.
Dan terjawablah pertanyaan mereka, saat wanita yang dibicarakan sedari tadi memasuki sebuah ruang kelas jurusan ekonomi diantar seorang dosen, Morino Ibiki.
"Namikaze-sensei, ini kelas anda. Kalau begitu saya permisi"
"Ah, terimakasih Morino-sensei" balasnya dengan senyumnya.
Naruto memasuki kelas yang tadinya penuh dengan suara bisik-bisik, teriakan dan lain sebagainya. Dan benar saja, setelah memasuki kelas itu, semua langsung terdiam memandang kearah depan dimana seorang Naruto berdiri dengan sebuah senyum diwajahnya. Sukses membuat seisi kelas merona akan perilakunya. Naruto menilik seisi kelas sebelum membuka suaranya, memperkenalkan diri.
Acara mengajar Naruto yang mudah dipahami yang juga terkesan humble dapat dengan mudah diterima mahasiswanya. Bahkan dengan segala macam peraturan yang ditetapkannya membuatnya semakin dikagumi dan menjadi dosen favorit setelah first meetingnya. Diluar jam mengajarnya, dia yang ramah dan mudah membaur membuatnya semakin disukai dari mahasiswa sampai dosen-dosen lain.
Seminggu sudah Naruto mengajar di UK, hari ini Naruto berencana mengunjungi teman lama setelah acara mengajarnya selesai. Mungkin akan menjadi sedikit kejutan.
Suara sambungan telepon terdengar saat Naruto mulai memanggil seseorang diseberang sana. Lama menunggu akhirnya telponnya diangkat juga.
"Moshi-moshi" sahut orang diseberang sana saat Naruto mulai membuka pintu mobilnya kemudian menutupnya dengan debaman pelan.
"Bisa bicara dengan Nara Ino ?" tanyanya dengan nada yang diformalkan seraya memasang headset ditelinganya kemudian menjalankan mobilnya keluar kawasan UK.
"Ini dengan siapa ? Apa aku mengenalmu ?"
"Kau sudah melupakanku ? Padahal masih dua minggu aku tak menghubungimu" sahut Naruto dengan nada yang dibuat kecewa.
"Na-naruto ? Astaga ! sialan kau, kau mempermainkanku!" sungutnya.
"Hahaaa maaf, apa kau dirumah sekarang ?"
"Memangnya kenapa ? Kau mau main kemari ? Jarak Amerika kemari itu sangat jauh, baka ! Jangan main-main" sahut Ino kesal.
"Siapa yang main-main. Akukan hanya bertanya kau ada dirumah atau tidak, memang siapa yang bilang kalau aku mau kerumahmu ?" balas Naruto dengan seringai licik.
"Ah, benar juga ya. Kau tak mungkin jauh-jauh terbang kemari hanya untuk menemuiku. Bahkan saat pernikahanku pun kau tak pulang ! Dasar Adik durhaka!" sahutnya tambah kesal.
Naruto terkekeh pelan, "Maaf, aku benar-benar tidak bisa datang waktu itu. Jadi bagaimana kabar keponakanku ?"
"Kalau mau tau, cepat pulang dan lihat sendiri seperti apa kabarnya, baka" sungut Ino membuat Naruto semakin terkekeh keras.
"Baiklah... aku pasti akan segera tau bagaimana kabarnya. Tunggu saja..." sahut Naruto yang membuat Ino mendesis.
Ting tong... suara bel terdengar saat Ino akan membalas ucapan Naruto. Dengan perasaan jengkel nan kesalnya Ino berjalan menuju pintu depan.
"Siapa yang datang ? Dasar pengganggu. Ne, Naru... chotto mat- te ne..." ucap Ino terputus saat pintu itu terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik yang tidak asing baginya.
"Kau tak boleh berkata seperti itu pada tamumu Ino..." masih dengan ponsel ditelinganya yang menghubungkannya dengan sahabat lamanya.
"Na.. Na-ruto ?" syock dengan yang dilihatnya, Ino masih mematung dengan ekspresi tak percayanya. Dimatikannya telpon yang menghubungkan mereka sebelum Naruto tersenyum tulus untuk wanita yang dianggap kakaknya itu.
"Tadaima Oneesan..." ucapnya dengan senyum teduh yang dulu selalu Ino lihat.
"O-okaeri... Baka-Naru!" Greb! Sebuah pelukan erat dilayangkan Ino padanya.
"Kapan kau pulang ? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya ? Dasar adik durhaka ! Dua minggu tak menghubungiku tiba-tiba kau sudah didepan pintu rumahku. Bahkan ponselmu tidak aktif selama itu. Apa kau tidak tau aku sangat mencemaskanmu ? Dasar Baka-Naru, hiks... Aku sangat merindukanmu" ungkap Ino mencurahkan segala hal yang mengganjal dihatinya. Naruto hanya tersenyum dan membalas pelukannya.
"Gomen ne... aku juga sangat merindukanmu" lama mereka berpelukan didepan pintu sebelum Naruto kembali menginterupsi.
"Jadi, kau lebih suka berpelukan didepan pintu daripada mempersilahkan tamu mu masuk, hmm ?" sindirnya yang membuat Ino melepas pelukannya kemudian menyeka bekas air matanya dengan punggung tangan.
"Ck, Baka. Kau memang pandai merusak suanana. Masuklah..." sedangkan Naruto hanya membalasnya dengan senyuman miringnya.
"Ah, Shino-kun... kau sudah besar ya... aku bahkan tidak tau kapan kau bayi..." ujar Naruto pada bocah yang berusia 2 tahun 7 bulan.
"Tentu saja, kau terlalu sibuk dengan study dan pekerjaanmu disana" sahut Ino sambil membawa minuman dari dapur.
"Yaah mau bagaimana lagi..." sahutnya cuek.
"Jadi... bagaimana denganmu ?" Tanya Ino masih menggantung sambil memperhatikan Naruto yang sibuk bermain dengan anaknya.
"Hmm ?"
"Haah~ kapan kau menikah ? Bukankah banyak laki-laki mapan dan tampan diluar sana yang menginginkanmu, hmm ? Kenapa kau masih juga sendiri ? Atau jangan-jangan... kau... masih dengan janji konyolmu itu ?" Naruto menoleh kearah Ino dan tersenyum sampai matanya menyipit.
"Oh... Astaga... Kau masih menunggu bocah itu ? Yang benar saja Namikaze Naruto ?! Ini sudah berjalan tujuh tahun lebih dan kau masih dengan janji konyolmu itu ? Apa kau tidak berpikir, bagaimana kalau bocah itu sudah menemukan wanita lain atau sekarang dia sudah berkeluarga a-"
"Ino..." panggil Naruto lirih yang menyita perhatian Ino seketika.
"Aku tidak tau kenapa aku membuat janji itu. Aku tidak tau kenapa aku mau menunggunya selama itu. Aku juga tidak tau kenapa aku percaya bahwa dia juga menungguku. Akupun masih mencari tau akan semua pertanyaan-pertanyaan itu..." Diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya kemudian tersenyum sendu dan melanjutkan bermain dengan Shino.
"Akupun ingin tau perasaan apa yang selama ini berdiam dihatiku tanpa ku tau yang selama ini menemaniku... Kau tau Ino, aku merasa dia telah menempati sebuah ruang dihatiku..."
"Aku mengerti. Setidaknya kau juga harus mencoba berkencan dengan pria-pria tampan itu Naru..." ujar Ino pada akhirnya.
"Hmm" sahut Naruto masih bermain dengan Shino yang diperhatikan oleh Ino.
'Aku hanya berharap yang terbaik untukmu, Naru.'
Waktu bergulir begitu cepat, hari demi hari bahkan bulan telah berganti tahun. Selama itu pula, perasaan tulus dan selalu ingin memiliki yang dikenal dengan nama Cinta, akan terus bersemayam dalam diri seseorang sampai batas waktu yang tak terhingga bahkan sampai seseorang itu telah tiada, perasaan cinta itu tetap ada selamanya.
Seorang pemuda dengan setelan kemeja putih berompi hitam duduk dengan gaya angkuhnya, menumpu kaki kirinya dengan kaki kanan dan menyenderkan tubuh atletisnya pada kursi kerjanya sambil menerawang keluar jendela dilantai paling atas gedung pencakar langitnya seraya mengamati hiruk pikuk dan keramaian Konoha ditemani dengan segelas wine ditangan kirinya.
Cklek!
Pintu ruang kerja miliknya dibuka tanpa permisi oleh sosok pria yang identik dengannya, Uchiha Itachi. Menghiraukan Itachi yang masuk tanpa permisi, Sasuke masih terdiam dengan mata yang menerawang keluar. Merasa dihiraukan oleh adik satu-satunya Itachi hanya bisa menghela napas pasrah, sedikit meratapi nasibnya memiliki adik yang sungguh dingin. Dia hanya berharap ada yang akan membuat adiknya seperti dulu lagi.
"Aku membawa yang kau inginkan" ujarnya kemudian seraya menaruh sebuah amplop coklat besar dimeja adiknya kemudian berjalan menuju shofa dipojok ruangan.
Sasuke melirik amplop itu, perasaannya bercampur aduk bahkan dirinya sendiri pun tak bisa menjabarkan satu persatu. Dari kejauhan Itachi meneliti setiap perubahan mimik adiknya, Itachi pun penasaran bagaimana reaksi Sasuke setelah melihat itu. Perlahan tangan putih alabaster itu menaruh gelas winenya dan terulur meraih amplop coklat itu. Sasuke masih termangu menatap amplop itu, entah apa yang dipikirkannya tapi untuk kali ini Itachi akan pergi untuk memberi sedikit privasi untuk adik kesayangannya.
"Naa, Sasuke Otanjoubi Omedetou" ucap Itachi seraya berdiri menatap adiknya yang kini balas menatapnya. Tersenyum kecil kemudian berbalik melangkah keluar.
"Itachi" panggil Sasuke sebelum Itachi memutar knop pintu dan sedikit menolehkan wajahnya untuk melirik sang adik.
"Arigatou" lanjut Sasuke sedikit mengalihkan pendangannya kesamping membuat Itachi terdiam sejenak sebelum sebuah senyum tulus terpatri diwajah tampannya.
Setelah benar-benar keluar dari ruangan Sasuke, perasaan Itachi terasa sangat hangat dan berbunga-bunga, betapa bahagianya dirinya mendengar ucapan terimakasih dari adiknya seperti sewaktu dia masih bocah.
"Itachi-sama anda terlihat sangat senang" sapa seorang pria berkuncir.
"Aah... Benarkah ? Apa terlihat begitu ?" balik tanya Itachi pada bawahan adiknya itu yang dibalas dengan sebuah luapan bosan yang membuat Itachi terkekeh.
"Naa, Shikamaru bagaimana kalau ku traktir kopi untuk merayakannya?" tawar Itachi seraya berjalan mendahului orang yang dipanggil Shikamaru itu.
"Hooahmm, mendokusai" tapi tetap saja diikuti olehnya.
Sementara didalam ruangan, Sasuke masih menatap amplop itu. Belum pernah semasa hidupnya dia merasa seperti ini, dengan perlahan dia mulai membuka amplop itu. Sebuah kertas yang dijepit menjadi satu mulai dibacanya dengan teliti. Itu adalah biodata lengkap seorang wanita, mulai dari usia, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan dan penjabaran lainnya. Dibalik kertas-kertas itu beberapa foto seorang wanita muda yang tak lain wanita yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya hampir delapan tahun ini.
"Namikaze Naruto" gumamnya pelan dengan ekspresi menyendu namun ada kilat bahagia dimata hitamnya.
.
.
.
Tbc
fict ini memang sudah pernah dipost diwattpad dan untuk pertanyaan lainnya ikuti saja kelanjutannya ne..
sankyuu :*
