Disclaimer : not own anything
Warning : Tipo, Incest, and many more…
Standar disclaimer applied
Family In Love
A Kuro Senju-Uchiha creation
.
.
Aku anaknya, anak kandungnya. Aku tidak tahu siapa ayahku, yang kutahu adalah bagaimana aku menjalani hidup dengan ibuku. Ibu yang begitu sempurna.
Sampai sempurnanya.. bahkan aku sampai jatuh cinta pada malaikat terlihat tersebut. Apa yang aku pikirkan, aku anaknya.. anak yang tidak pantas untuk menjalin kasih dengan ibunya sendiri.
-Uzumaki Naruto-
.
.
.
Naruto 6 tahun
''Naruto, kamu tidak apa-apa nak?'' Ibumu datang, dengan sejuta kenyaman yang ada hingga kau melupakan rasa sakit atas luka yang habis jatuh dari latihan sepedamu. Kau tersenyum ketika melihat raut khawatir ibumu.
''Aku tidak apa-apa Kaa-san, aku kan kuat!'' Kau sebisa mungkin berdiri, dan mulai mengambil kembali sepedamu yang terjatuh dan menaikinya kembali, namun ketika kau akan mengayun pedal itu, semuanya terhenti oleh pelukan ibumu.
''Sudah, jangan paksakan.'' Kau terdiam, akan nuansa hangat yang bersumber dari pelukan ibumu, Kushina. Kau tersenyum senang akan itu semuanya, kehangatan ini.. sangatlah berbeda.
''Aku tidak suka melihat anak tersayangku memaksakan diri. Ayo pulang, biar aku obati lukamu ya.'' Dan pada akhirnya kau menyerah dengan semua perhatian ibumu. Dengan semangat kau menjawab perkataan ibumu.
''Baiklah, tapi nanti malam temani aku tidur ya, Kaa-san!''
''Hmm, tenang saja, Kaa-san akan selalu bersamamu Naruto, hehehe~''
''Hahaha, Kaa-san yang terbaik! Aku cinta Kaa-san!''
''Aku juga cinta dan sayang sekali sama Naru, umm imut sekali~'' Kushina mencubit pipimu dengan gemas dengan wajah yang bahagia, membuatmu ingin protes namun mulutmu tidak bisa berkata apapun lagi ketika Ibumu langsung membawamu dalam dekapannya.
Kau terdiam, lalu detik berikutnya kau tersenyum senang dan mendekap lebih keras pelukan ibumu. Hingga kau tersadar sesuatu, yaitu sepedamu.
''Kaa-san, sepadanya!?'' Merasakan betapa hangat dan basah ketika bibir ibumu mengenai keningmu, membuat dirimu harus menatap ibumu dengan bingung dan sambil membersihkan bekas ciuman itu yang entah kenapa mengganggumu.
''Kaa-san!''
''Tenang Naruto-kun, sepedanya biar diurus oleh pengawal Kaa-san''
''Umm!'' Kau merajuk, demi apapun itu kau tidak senang ketika sepedanya harus disentuh oleh pengawal berbaju rapih yang selalu senan tiasa ada disampingmu dan ibumu. Kau menatap ibumu dengan jengkel, tetapi ibumu menatapmu dengan senyumannya.
''Kaa-san! Aku tidak suka sepedaku dibawa oleh mereka!''
''Um? Memangnya kenapa?''
''Karena aku tidak suka saja! Aku hanya ingin Kaa-san yang membawanya'' Ibumu tertawa halus ketika mendengar perkataan polosmu. Membuatmu semakin merajuk.
''Kaa-san!''
''Kamu itu.. ada-ada saja. Baiklah Kaa-san yang akan bawa sepedanya Dattebane~'' Merubah rautmu yang merajuk menjadi bahagia, kau tersenyum senang ketika ibumu melangkah kembali dan membawa sepeda itu dengan menuntunnya. Tidak dengan dirimu yang masih digendongnya.
Kau tertawa bersama dengan ibumu. Melepas segala rasa bahagia yang kau miliki. Hingga pada akhirnya dengan tertawaan dan candaanmu membawa kerumahmu dengan cepat, kau tidak sadar akan hal itu.
Yang kau tahu adalah kehangatan dari pelukan ibumu yang tidak pernah lepas sedari tadi. Kau.. menyukainya. Menyukai segalanya dari ibumu. Sangat.. sangat menyukainya.
.
.
.
-Family In Love-
.
Naruto 17 tahun
Kau memandang sengit kedepanmu, menghiraukan formulir kertas yang tadinya merupakan sebuah hal penting menjadi tidak penting dengan tidak baik lagi, rusak. Kau mengeratkan rahangmu, menahan segala rasa amarah yang memuncak.
Lihat dia, betapa kurang ajarnya orang itu. Berani-beraninya melamar ibunya. Kau marah, namun tidak bisa berbuat apapun. Hingga kau sadar akan sesuatu, kenapa dirimu bisa marah. Kenapa, justru kau harus senang karena ibumu akan bahagia dengan pendamping hidupnya. Kau sadar! Bahwa kau mencintai ibumu lebih, lebih besar dari rasa sayang.
Kau mencemkram erat dada kirimu, apa yang salah? Kenapa perasaan itu ada pada dirinya. Kau menatap kedepanmu lagi, tetapi kini kau bersembunyi dalam dinding ruang tamu. Mendengarkan segala perkataan yang tercurahkan oleh lelaki kurang ajar itu.
''Begini Kushina-san, sesungguhnya ketika aku melihatmu dan memerhatikanmu.. aku jadi suka padamu, aku jatuh cinta padamu.'' Kau mengeratkan lebih rahangmu, menutup mata indahmu dan kau melampiaskan amarahmu kepada kertas tak berdosa yang ada dalam genggamanmu.
''Maukah kau menikah denganku?'' Sudah cukup, kau pergi. Pergi dari perbincangan antara ibumu dengan orang asing yang entah kenapa membuatmu merasa.. cemburu dan marah. Kau pergi kekamarmu, mengambil sebuah jaket dan membawa kunci motormu dan pergi lagi menuju ke pintu depan untuk pergi dari rumah ini dengan membawa motormu.
''Naruto-kun?'' Kau masih marah, dan masih cemburu hingga panggilan ibumu yang ada diruang tamu dihiraukan olehmu, kau melihat sekilas lelaki kurang ajar itu yang entah kenapa tersenyum lembut kepadamu.
Cih, kurang ajar! Lihat senyuman memuakkan itu, kau tidak akan bisa menghajarnya jika ada ibumu didepanmu, dan kau harus menghela nafasmu.
''Aku pergi dulu Kaa-san, aku mau mencari angin bersama temanku'' Dan kau kembali melangkah cepat untuk segera pergi dari rumah yang entah kenapa menyiksamu.
''Hati-hati Naruto-kun!'' Kau membalasnya dengan pintu yang kau tutup sedikit keras, kau menutup matamu. Dan detik berikutnya kau melampiaskan amarahmu kepada sebotol kaleng munuman yang kosong. Kau marah, sangat marah.
Dan sesegera mungkin kau langsung menaiki motormu dan melaju dengan kencang, yang sekarang ada dipikiranmu adalah menuju rumah teman baikmu, yaitu Sasuke.
''Bagaimana, Kushina-san?''
''Umm, maaf Yagura-san. Aku.. tidak bisa,''
''O-oh begitu.''
''Anda tidak apa-apa?''
''Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih atas jawabanmu Kushina-san, maaf jika aku mengganggumu.'' Dan perbincangan itu, belumlah diketahui oleh Naruto.
.
.
.
-Family In Love-
Selepas kau menetralisir amarahmu dengan bermain bersama teman baikmu, kau sesegera mungkin untuk pulang karena hari sudah sore. Kau menyesal, bagaimana jika ibumu khawatir kepadamu dan tidak mau makan sebelum dirimu pulang.
Dan sekarang dalam motor yang sedang kau kendarai dengan kencang mendecih tidak suka. Egois sekali, seharusnya kau membiarkan ibumu bahagia dengan pendamping hidupnya. Kau payah, kenapa juga kau malah mencintai ibumu. Bodohnya dirimu, tuhan mengutukmu! Tuhan mengutukmu.
Ketika kau sudah sampai di rumahmu, dan memasukkan kembali motormu dalam garasi. Kau sesegera mungkin melangkahkan kakimu menuju kedalam rumahmu demi melihat keadaan ibumu. Dan benar apa dugaanmu, kau menemukan ibumu tertidur dalam meja makan yang dimana disitu ada berbagai makanan yang kemungkinan sudah dingin.
Kau menatap sendu keadaan ibumu yang sedang tertidur. Kau dengan pelan menggoyangkan badan itu berusaha untuk membangunkannya, dan sekarang kau merasa bersalah karena pergi selama ini.
''Kaa-san, bangun.''
''Umhh~'' Tubuh itu mulai bergerak, dan kau mulai menjaga jarak antara dirimu dengan ibumu. Kau menatap ibumu yang mulai membuka matanya, dan kau tersenyum hangat kepadanya.
''Naruto?'' Mengembangkan lagi senyummu, dan kau merasakan suatu kehangatan yang memang kau inginkan. Kehangatan berupa pelukan sayang dari ibu tercintamu yang.. cantik. Sungguh cantik.
''Kenapa baru pulang? Kaa-san khawatir,'' Tidak melepas pelukan itu, kau tersenyum lagi, dan lagi. Mungkin hanya kepada ibumu lah, kau akan tersenyum terus-menerus, bagaikan orang gila.
''Maaf, membuat Kaa-san khawatir,'' Kau mempererat pelukan itu, membawa tubuh ramping ibumu dalam dekapanmu. Menghirup bau harum rambut indah ibumu yang berwarna merah menjuntai kebawah, kau sampai tergila-gila untuk terus menghirupnya.
''Aku, hanya mencari angin saja kok, Kaa-san'' Kau melepas pelukan itu, membawa wajah cantik bagaikan dewi itu menatap tepat kearah wajahmu. Ibumu tersenyum, dan kau.. mulai merasakan perasaan yang aneh.
''Oke, aku sedang gembira Naruto. Coba tebak apa yang membuatku gembira ne~!'' Kau merasakannya, merasakan hal itu. Ya merasakan bahwa ibumu tidak akan lagi kau genggam dalam tidurmu, tidak bisa lagi menghirup bebas wangi rambut indahnya, dan lainnya. Kau merasakan.. bahwa ibumu menerima laki-laki itu.
Kau tersenyum kecut, seharusnya kau tahu bahwa itu memang seharusnya ibumu lakukan. Hidup tanpa adanya seorang pendamping, memang sulit. Dan kau mengakui itu, bahwa ibumu tidak ada pendampingnya. Kau inginnya menjadi pendamping itu, namun.. kenyataan pahit menghantuimu.
Kau tidak lain, adalah seorang anak. Anak kandung dari ibumu, ibu yang cantiknya tiada tara ini yang telah berhasil merebut hatimu tanpa sisa sedikitpun. Kau sadar, bahwa cintamu.. telah salah.
''Pasti Kaa-san menerima lamaran laki-laki tadi, dan akan membangun rumah tangga?'' Kau tahu, kau memuakkan. Sangat memuakkan dengan senyuman bodohmu itu.
''Mou~ Bukan itu, coba tebak lagi!'' Kaget? Kau terkejut ketika mendengar itu? Itu berarti ibumu menolak lamaran itu. Entah kau harus berteriak girang dengan goyang gangnam style, atau menembak mati dirimu. Yang sekarang ada dalam dirimu adalah rasa bahagia.
''Jadi? Kaa-san menolak lamaran tadi?'' Kushina tersenyum, sambil mengelus pelan pipi anakmu yang halus dengan sedikit kasar dibagian guratan mirip kucing, Kushina membawa tubuh tegap anaknya untuk kembali bersatu dalam pelukannya.
''Kaa-san?'' Kau menantikan, jawaban apa yang akan dijawab oleh ibumu. ''Aku menolaknya, lagipula.. Aku,'' jantungmu berdetak tidak sesuai dengan irama yang normal, Kau mulai membuat opinimu sendiri bahwa ibumu akan mengatakan bahwa dia mencintai dirimu.
Ah konyol, mana ada yang seperti itu. Mungkin hanya imajinasimu saja yang menginginkan hal itu terjadi. Dan kau, harus sesegera mungkin pergi kembali ke guru specialmu, dan mulai menanyakan tentang hubungan sedarah.
''Aku masih ingin sendirian, dengan anakku ini! Umm~ Imutnya~'' Well, walaupun sedikit melenceng dengan apa yang ada dalam pikiranmu, namun kata masih ingin sendiri dengan anakku. Kata itu memang sudah cukup baik untuk kau terima. Yah, akan tetapi.
Kau inginnya protes akan cubitan ibumu kepada kedua pipi kerenmu, namun hal itu tidak bisa kau lakukan. Karena ibumu sedang tertawa lepas, dengan memainkan pipimu.
''Kuaa-saom, Saikiit!'' Tertawa dan tertawa lagi, ibumu memang.. luar biasa.
''Dah, sekarang habiskan makanannya Tebbane!'' Uh, sedetik manis sedetik mengerikan. Dasar ibunya ini penuh akan kejutan.
''Tapi apa yang membuat Kaa-san bahagia?''
''Itu sekarang menjadi Pr-mu. Dah habiskan atau aku akan mencincang dagingmu dan memberikannya pada peliharaanku!'' Betul apa kata Shikamaru, ibu memang mengerikan.
''O-oke, Kaa-san!'' Dan kau mulai memakan makanan itu yang sudah dingin, namun tidak hilang dengan kelezatannya. Menguyah sambil berpikir, berpikir apa yang akan kau lakukan kedepannya. Kau bingung, bingung akan segalanya. Perasaanmu, dan kau mulai berpikir untuk mencari pasanganmu, sendiri.
.
.
.
-Family In Love-
''Sara, aku mencintaimu'' Kenyataan pahit yang kau pegang sekarang ini mengawali keseharianmu dalam penderitaan. Kebohongan yang kau ucapkan, kepada sesosok gadis cantik berambut merah yang berdiri didepanmu, sekarang ini.
Jantungmu tidak berdebar-debar seperti pada umumnya seorang lelaki menyatakan cinta. Kau sama sekali tidak.. mencintai sosok gadis didepanmu ini. Namun, melihat bagaimana rasa cintamu kepada ibumu merupakan hal yang mustahil. Kau memberanikan dirimu untuk memulai jalan cinta baru dengan pendamping gadis ini.
Mata berpupil biru itu tidak menghadap penuh harap akan jawaban yang akan dikeluarkan oleh gadis ini. Jika ditolak maka dia akan mencarinya lagi, dan jika diterima maka dia akan berusaha menjalin hubungan dengan gadis yang bernama Sara ini.
''Coba katakan itu sekali lagi!'' Kau membuang nafasmu, dan kau mengulangi kata itu. Dan detik berikutnya, kau merasakan kehangatan yang berbeda dari pelukan gadis ini. Ya, pelukan yang berbeda jauh sekali dengan pelukan hangat ibunya. Ini, tidak senikmat pelukan ibunya.
Namun kau justru membalas pelukan itu, membawa tubuh itu dalam genggamanmu. Mencoba menghirup bau harum rambut merah yang sama seperti ibumu, dan baunya pun berbeda. Tidak senikmat bau harum ibumu. Namun sekali lagi, kau akan berusaha untuk mencintai gadis ini.
Seragam sekolahmu, dengan keadaan yang sekarang ini berada pada halaman belakang sekolahmu yang ditumbuhi oleh rumput ilalang yang tinggi, membuat tubuhmu beserta tubuhnya terjatuh dalam laguna bunga yang indah. Menutupi segala rahasia yang sekarang ini kau lakukan pada gadis ini.
Kau menciumnya, dan gadis ini tidak begitu keberatan dengan ciumanmu. Saling membalas sapaan satu sama lainnya, membawa dampak nafsu yang kelewat batas untuk seorang yang baru resmi menjadi pasangannya. Dan kau sadar atas keliruanmu, kau berhenti menciumnya dan meninggalkan raut wajah kecewa dari Sara.
''Kenapa berhenti?'' Kau terdiam, tidak berniat untuk membalas perkataan itu. Sinar matahari sore menerpa wajahmu, memperlihatkan kepada gadismu betapa bersalahnya kau telah melakukan hal seperti tadi. Kau tertegun, ketika tangan putih milik gadismu mengelus pipimu. Kau melihatnya, melihat bahwa sekarang ini kau merasa bersalah dengan pernyataan tadi.
''Tidak apa-apa, aku sudah lama mencintaimu Naruto.'' Senyuman itu, senyuman cinta itu.
''Sudah lama sekali, namun aku tidak bisa mengutarakan rasa cintaku.'' Jangan, senyuman itu membuatmu merasa bersalah. Ya bersalah besar sekali dengan gadis ini. Gadis yang dari dulu adalah teman masa kecilmu.
''Karena, aku begitu takut jika nanti Naruto-kun menolakku. Oleh karena itu..'' Mulutmu terbuka, terkejut. Ketika tangan gadis ini berusaha untuk membuka kancing seragamnya.
''Cukup!'' Kau menghentikan kerja tangan itu dengan tanganmu. Membawa raut kebingungan dari gadis ini. Kau.. meneteskan air matamu, dan air mata itu menetes dan jatuh tepat pada mata indah Sara. Kau.. merasa bersalah. Karena kau bermaksud untuk menjadikan Sara sebagai pelariannya. Seharusnya kau tahu, bahwa pernyataan cinta itu bukanlah sesuatu yang dianggap enteng. Permainan berhias semanis madu ini, jangan sampai kau remehkan.
Sekarang lihat bagaimana reaksi Sara ketika mendengar pengakuan cinta palsumu kepadanya. Dan itu membuatmu menangis seperti sekarang ini, dan membuat Sara menjadi bingung dan khawatir.
''Naruto-kun?'' Kau menciumnya lagi, dan berharap bahwa ciuman itu dapat menebus rasa bersalahmu dengan gadis ini. Dan dengan segenap jiwa ragamu, dengan tekad yang membara dalam tungku dirimu. Kau akan berusaha untuk mencintai.. Sara.
.
.
.
-Family In Love-
.
Naruto 20 tahun
Hubungan yang menurutmu merupakan sebuah kesalahan sekarang telah berkembang dengan baik. Tidak terasa sudah 3 tahun kau menjalin hubungan dengan Sara dan semuanya berjalan dengan lancar, serta kau juga mulai menyukai gadismu. Namun tidak hilang dengan cintamu kepada ibumu.
Dan demi menghapus tuntas rasa cinta terlarang ini, kau berencana untuk memperkenalkan pacarmu Sara kepada ibumu, dan akan berencana juga untuk melamarnya. Dan dengan mendapat restu itu kau pasti bisa dengan mudah menghilangkan perasaan itu.
Akan tetapi.. Perkataan itu mengubah segalanya yang yang ada dalam hatimu. Cinta kepada Sara yang sekarang ini akan menjadi bunga dalam hatimu, harus rela menjadi layu dan hancur akibat perkataan itu. Perkataan mengejutkan, dari ibumu.
''Jika tidak ada, maka nikahi saja Kaa-san!'' Kau mendengar itu, mendengar bagaimana nada paksaan itu menghantam telingamu. Melihat dan mendengarkan sendiri pengakuan yang selama ini kau impikan, dan hanya bisa terwujud dalam mimpimu.
Sekarang ini menjadi kenyataan. Kau kalut, berteriak dengan kebersamaan dengan pacarmu. Kau menukik alismu setajam mungkin. Menggebrak meja dengan tidak biadab, dan menatap tajam ibumu sendiri. Kau senang, namun sekarang ini kau tidak bisa melampiaskannya dengan adanya Sara disisimu.
Kau akhirnya tahu, bahwa kekuatan cinta terlarangmu tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan cinta palsu ini. Kau menyuruh Sara untuk pulang, dan tidak bermaksud untuk mengantarnya. Dan ketika semuanya sepi, hanya ada kau dan ibumu yang sedang menangis.
Kau melampiaskan perasaanmu yang terlarang itu dalam lengkungan malam yang berhias cambuk petir membelah langit. Larut dalam empuknya ranjang yang ada dalam kamar ibumu, kau.. melampiaskannya.
Saling mengeluarkan perasaan masing-masing. Berbagi kehangatan dalam naungan semanis madu, memagut bagaikan permen lolipop. Dan semua itu tercampur dalam satu malam. Tenggelam, dan tenggelam.
Hingga pada akhirnya, kau hanya ingin bersama ibumu untuk selamanya. Dan akan terus bersama dalam naungan bunga mawar hitam, yang terlarang.
.
.
.
-Family In Love-
.
Putar lagu Shontelle – Impossible
.
''Naruto, bagaimana? Apakah Kaa-sanmu sudah memberi restu?'' Kau menatap Sara dengan dingin, tidak sehangat dahulu kala kau masih menjalin hubungan dengan gadis ini. Namun, dibalik wajah yang terukir datar itu kau menyembunyikan rasa bersalahmu dengan seorang diri.
''Tidak, Kaa-san tidak memberi restu.'' Kau melihat bagaimana wajah terlukanya Sara ketika mendengar ini. Menunduk dalam diam, dan kau hanya memerhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
''Begitu ya'' Kau bahkan tahu, bahwa gadis ini tengah menahan tangisannya. Begitu terdengar jelas dengan hanya caranya berbicara. Kau menaruh kedua telapak tanganmu pada pipinya yang lembut. Menggerakkan paksa kepala bermahkota merah itu untuk menghadap wajahnya.
''Percayalah.. Ini bukanlah akhir dari segalanya.'' Dan air mata itu akhirnya keluar dari sarangnya. Membawa rasa bersalah yang semakin besar dalam dirimu.
''Maafkan aku, sekarang kau tampar saja aku! Jika itu dapat menahan rasa sakitmu!'' Kau berteriak dalam heningnya sore yang ada di taman bunga ini. Jutaan buih air yang membentuk sungai itu menampilkan pantulan dirimu dengan Sara, dan pantulan itu terpaksa harus bergelombang tidak jelas. Karena ada sesosok katak yang mengganggunya.
''Aku tidak bisa!'' Bergantian dengan teriakan memilukan milik Sara, kau hanya bisa terdiam menahan segala rasa sakitmu. Kau menurunkan tanganmu, dan sekarang ini kau menggenggam erat kedua bahu Sara, yang bergetar.
''Sara..'' Suaramu mengalahkan segalanya, suara parau bagaikan seruling tanpa nada itu berkumandang.
''Kaa-san menyuruhku untuk memutuskan hubungan ini. Dan aku.. akan dijodohkan oleh pilihan Kaa-san.'' Ingin rasanya kau merobek mulut dan lidahmu sendiri tatkala kata itu yang keluar darinya. Kau berbohong, dan itu semua demi tidak ada yang mengganggu hubungan terlarangmu dengan ibu tercintamu.
''Kenapa.. Bukankah Kushina yang akan menikahimu! Kau jangan berbohong padaku Naruto!'' Kau terkejut bukan main ketika mendengar itu. Bagaimana Sara tahu bahwa dirimu tengah berbohong padanya.
''Naruto, aku tahu..'' Tangisan itu.
''Aku tahu segalanya tentang dirimu. Kau mencintai ibumu, lebih dari itu. Dan semua pandangamu terhadapnya memperjelas semua itu.'' Tangisan itu, senyuman itu. Kenapa?
''Naruto, aku juga tahu bahwa kau menyatakan cintamu kepadaku hanya untuk menghilangkan perasaan terlarangmu bukan?'' Kenapa? Kenapa bisa kau tahu segalanya tentang diriku ini.
''Jangan kau tutupi dariku Naruto. Aku tahu itu.. aku adalah teman masa kecilmu.'' Pandangan itu, mata bergetar itu.
''Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.'' Kenapa ini bisa terjadi. Kenapa dengan hatinya, kenapa hatimu justru bergetar takut akan kehilangan.. Sara.
''Dan akhirnya aku menghadapi momen ini. Momen dimana aku sudah tebak, bahwa kau tidak akan bisa meninggalkan perasaanmu terhadap ibumu, dan kau akan datang kepadaku untuk memutuskan hubungan palsu ini.'' Kau melepaskan tangan itu dari bahunya, dan sekarang ini tubuh Sara sedang memelukmu. Kau tidak bisa membalas pelukan itu, karena bagaimana pun juga. Tanganmu terlalu kotor untuk menyambut pelukan itu.
''Satu pesanku Naruto.. Perasaanmu terlarang, sangat terlarang.'' Tubuh itu kehilangan tenaga, hingga membuatmu mau tidak mau menjaga tubuh Sara dalam keterkejutan yang ada.
''Sara!'' Kau berteriak kalut, ketika mata itu tertutup.
''Tidak apa-apa Naruto.. Memang inilah takdirku. Aku menderita penyakit ini begitu lama'' Kau terkejut bukan main ketika mendengar itu.
''Apa maksudmu! Sekarang ayo kita ke dokter!'' Kau akan membawa tubuh itu, namun justru tubuh itu menolak. Sara tersenyum penuh arti dengan lelehan darah yang mengalir di sudut bibirnya. Dan kau semakin dibuat takut, oleh keadaan gadis yang sudah lama menjadi temanmu ini.
''Sara kumohon.'' Tidak dengan senyuman itu, dan tidak dengan pandangan itu.
''Aku mencapai batasku Naruto. Selama ini aku bertahan hidup itu hanya untukmu, kau adalah tujuanku.'' Tidak.
''Tapi, sepertinya sudah selesai ya, hehe.'' Tidak!
''Akhirnya tujuanku terselesaikan, dengan tidak berguna aku bagimu lagi. Semoga kau menjalin hubunganmu dengan baik,'' TIDAK!
''Kau masih berguna! Jangan gila! Aku akan segera mengantarkanmu ke dokter bagaimana pun caranya!'' Dan kau berlari dengan membawa tubuh lemas Sara dengan lelehan darah yang menghias mulutnya. Kau menerjang badai angin yang sedang melanda daerahmu secara tiba-tiba. Hujan air dengan berhias cambuk alam itu tidak menghentikan langkah kakimu untuk terus berlari menuju klinik terdekat.
''Sara! Bertahanlah!'' Sara tersenyum, dan kau terpengarah akan senyuman itu. Rambutnya basah, menutupi sebagian wajah cantiknya. Kau terduduk, dengan tubuh Sara yang sekarang ini sedang sekarat. Tetesan air hujan menimpa rambutmu, mengalir menelusuri helaiannya dan akhirnya menetes tepat pada dahi Sara.
''Terima kasih atas cintamu kepadaku.'' Suara halus itu.
''Selamat tinggal.. Naruto.'' Matamu melebar dengan guntur yang berdengung keras.
''TIDAK!'' Dan dengan teriakan itu, kau melampiaskan rasa sakitmu dan rasa bersalahmu kepada alam sekitar yang sedang menangis. Jalanan dengan kendaraan yang sepi, dan disitu kau jatuh terduduk dengan tubuh Sara yang sudah tidak bernafas lagi.
''BODOH! GADIS BODOH!'' Teriaknya pada tubuh yang kini telah tiada jiwanya.
''KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKAN PADAKU PENYAKITMU!'' Tidak ada hentinya, kau meneriaki Sara yang sayangnya hanya sia-sia belaka. Karena sekarang kau tahu, bahwa dia sudah tiada.
''Gadis bodoh..'' Dan akhirnya kau menangis dalam germecik hujan yang menghiasimu. Kau mengeratkan genggaman tanganmu, dan dengan sekuat tenaga menghantam aspal itu dengan tanganmu, dan pada akhirnya darahlah yang kau keluarkan.
''Sara.. Maafkan aku.'' Dan hari itupun tertutup oleh gorden hitam yang menutup segalanya. Membawa kehancuran hati bagimu, dan kau hanya bisa menangis menyesali segalanya.
.
.
.
-Family In Love-
Pemakaman yang berlangsung singkat dengan tidak adanya keluarga Sara yang mendampingi. Dan hal itu memang seharusnya, karena Sara hidup sendirian selama ini. Dan kau sangat terpukul akan kematian teman masa kecilmu. Lihat batu nisan itu, kau tidak menyadarinya bahwa Sara akan bertemu dengan sang pencipta lebih cepat daripada dirimu.
Kau terdiam ketika dirasakan tanganmu dipegang oleh tangan lainnya, kau sudah tahu siapa tangan itu. Tangan yang memiliki kehangatan tersendiri dalam genggamannya, dan kehalusannya.
''Naruto..'' Kau menggenggam balik tangan itu, tangan ibumu. Dan pergi meninggalkan tempat itu dengan angin yang berdesir tajam. Membawa puluhan daun berguguran itu untuk terbang menuju angkasa lepas.
Dengan menaiki mobil yang dimiliki oleh keluarganya, kau melaju kencang dan bermaksud untuk kembali pulang menuju ke kediamanmu. Selepas mengemudi mobil dan berhasil sampai rumahnya dengan selamat. Kau dan ibumu masuk menuju rumah yang besarnya tidak terlalu seperti bangsawan.
''Kaa-san,'' Kau menatap ibumu sejenak, dan dibalasnya dengan senyuman hangat ''Aku ingin kita mengakhiri ini.'' Ibumu mengangkat alisnya bingung, pertanda bahwa dia belum mengetahui maksud dari perkataanmu.
''Maksudmu?'' Kau menghela nafasmu sejenak, walaupun rasanya berat untuk mengungkapkan kata ini. Namun, cintanya adalah sebuah kesalahan. Cintanya terlarang seperti apa kata Sara terhadapmu. Kau bimbang, diantara lanjut atau tidak.
Namun melihat bagaimana dunia ini bekerja, kau ragu. Ragu akan semuanya. Bahwa tak akan selamanya kau hidup bersama dengan ibumu. Tuhan menciptakannya berpasang-pasangan, dan kau merasa bahwa pasangan itu adalah bukan ibunya.
Ibu, adalah sosok pendamping yang dititip tuhan untukmu. Sosok yang bermaksud untuk mengajarimu untuk hidup didunia ini. Namun, kau justru menjadikan ibumu sebagai pasangan hidupmu. Dan itu adalah sebuah kesalahan.
''Hubungan ini. Hubungan ini salah Kaa-san.'' Kau terjatuh dalam empuknya sofa yang menjadi alasmu, dan ini semua berkat tamparan keras ibumu terhadap pipi yang berhias guratan itu. Kau memegang bekas tamparan itu dan menghadap kearah ibumu dengan pandangan sedih.
''Jangan berkata seperti itu!'' Kau merasakan rasa sakit, rasa sakit yang teramat besar melebihi rasa sakit ketika kau dihadapkan kematian temanmu, Sara. Ibumu menangis dengan memegang dada kirinya, dan kau tahu akan hal itu. Ibumu merasakan rasa sakit akibat perkataannya.
Kau menundukkan kepalamu, tidak berani menatap wajah ibumu yang sedang menangis yang merupakan sumber kelemahanmu. Kau terdiam, memikirkan apa yang kau lakukan seterusnya. Namun semua pemikiran itu buyar dengan adanya pelukan hangat ibumu.
''Jangan katakan itu Naruto.'' Antara malu dan terkejut. Malu karena posisi kepalamu yang terbenam dalam dada wanita khas ibu, dan terkejut karena mendapat usapan halus dikepalamu.
''Aku tahu ini terlarang, tapi mau bagaimana lagi.. Aku teramat mencintaimu, Naruto'' Nada getir itu terdengar sampai ke gendang telingamu. Membuatmu tidak dapat melakukan tindakan apapun. Dalam sofa ini, ruangan tengah ini. Kau memeluknya dengan erat, membalas segala rasa cinta yang tercurahkan oleh ibumu.
Melepaskan pelukan itu dengan halus, kau mulai berjalan meninggalkan ibumu yang berdiri di ruang tamu dengan senyuman hangatnya. Kau tidak berniat untuk mencium dahinya, karena bagaimana pun kau tahu bahwa itu tidak diperlukan disaat seperti ini.
Berjalan menaiki anak tangga hingga menuju kamarmu, dan disitulah kau jatuh dalam lautan kesedihan. Kau menutup matamu dengan telapak tanganmu ketika mata itu tidak sengaja melihat foto Sara yang tersenyum cerah kepadamu.
Membuka kembali matamu, dan kau melihat diantara dua foto. Foto ibumu dan Sara, kau memerhatikan dua figur itu dengan raut wajah sedih. Kau terdiam, mana yang akan kau pilih nantinya. Perkataan Sara yang mengatakan bahwa ini terlarang, atau perkataan ibumu yang mengatakan ini baik-baik saja dan teruslah lanjutkan.
Dan kau pun harus menarik kembali kata-katamu yang sempat keluar pada malam penuh dosa itu, yang dimana terdapat perpaduan kasih antara dirimu dengan ibumu. Kata-kata yang kau keluarkan tanpa beban sedikitpun, dan saat ini kau menyesalinya karena telah berkata seperti itu.
Lalu apa yang akan kau lakukan.. Pilihanmu ada pada dua foto itu. Sara atau Kushina, teman sekaligus pacar palsumu atau ibu sekaligus cintamu. Pilihamu.. menentukan bagaimana duniamu, kehidupanmu.. Bekerja.
.
.
.
To be continued..
A/N : Rencanaku akan membuat dua ending. Yaitu Happy ending dan Sad ending. Jika tidak suka Happy ending maka bisa membaca Sad ending begitu pula sebaliknya, ingin mencoba sesuatu yang berbeda yang seperti ini. Jadi bagi reader yang meminta hal itu terjadi harap sabar ya, aku akan mempublishnya selepas hari raya idul fitri.
Jangan sungkan untuk me review. Karena Review kalian adalah obat untuk membuatmu semakin baik dan baik lagi.
A Kuro Senju-Uchiha out..
