Naruto Masashi Kishimoto
Musim Semiku
DLDR!
"Ayolah, Sasuke-kun! Kau ini sangat tidak asyik sekali! Percuma saja aku mengajak kau kesini jika kau hanya duduk diam tanpa mau ku ajak apapun! Dasar menyebalkan!" omel seorang gadis berambut merah muda yang kini tengah berkacak pinggang menghadap seorang laki-laki yang tengah duduk santai sambil bersedekap dada.
Tampak laki-laki yang bernama Sasuke tadi malah menghadap samudra -tak menghiraukan ocehan yang dikoar-koarkan oleh sahabat merah mudanya tersebut.
"Sasuke-kun!" teriak Sakura marah sambil menjambak rambut mencuat khas Uchiha bungsu itu. Mukanya yang biasanya cerah kini mendung -memerah karena marah. Suara gemeletuk gigi pun tak tertinggal dari mulut Sakura.
"Hn!" jawab Sasuke sekenanya. Dibalik kacamata hitamnya, mata sehitam jelaganya tengah menilik ekspresi apik yang tengah diekspresikan oleh Sakura. Ingin sekali ia tertawa karena ekspresi Sakura sekarang. Bukannya luluh dengan kemarahan Sakura, ia malah menganggap lucu dengan hal tersebut.
"Ayolah, Sasuke-kun. Aku ingin ke tebing itu!" tunjuknya ke arah utara -menunjuk sebuah tebing besar yang ditumbuhi beberapa pohon cemara disekelilingnya.
"Ayolah, Suke-chan!" bujuknya lagi dengan sedikit rayuan kecil yang mungkin malah akan menimbulkan kemarahan kecil Sasuke.
"Aww...sakit!" ringis Sakura yang mendapatkan sentilan di dahi lebarnya. Tangan yang tadinya menarik-narik lengan Sasuke kini terangkat mengusap-usap dahinya yang sedikit kemerahan akibat sentilan Sasuke.
"Jangan memanggilku seperti itu!" ucapnya tajam -mengancam Sakura -walaupun sebenarnya ancaman itu tak berarti apa-apa bagi Sakura.
"Bodoh! Pokoknya aku mau kesana. Aku akan kesana sendiri jika jau tak mau ikut! Tapi ingat! Aku tak akan menjamin jika aku akan hilang karena tersesat!" ancam Sakura yang kemudian berlari -meninggalkan Sasuke yang mendecih karena ulah Sakura.
"Dasar menyebalkan!" umpat Sasuke yang kemudian menyusul Sakura.
Dari kejauhan, Sakura tampak menyeringai kecil.
'Bagus!'
Flashback on
"Bangun, Suke-chan. Ini sudah jam berapa, heh?" bisik suara manis di cuping telinga Sasuke.
"Ngghhh... " leguh Sasuke pelan yang kemudian beralih sedikit -menelentangkan tubuhnya yang sebelumnya tengkurap.
"Bangun, Suke-kun ku sayang! Apakah kau tidak malu? Ada Sara-chan lho
disampingmu!" bisik suara itu lagi di telinga Sasuke.
Mendengar kata Sara, Sasuke langsung beringsut bangun. Pandangannya beralih -mengitari ruangan kamarnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Yang ada hanyalah sepucuk rambut merah muda yang kini tengah duduk manis di samping dirinya tidur.
"Sudah bangun?" suara yang terkesan dilembut-lembutkan itu kembali bergulir di gendang telinga Sasuke. Ia pun menoleh -memandang Sakura yang tengah tersenyum jahil.
"Memang kau tidak lihat? Mana Sara?" tanya Sasuke penuh penekanan. Dirinya kemudian mengacak rambut mencuatnya.
"Tak ada Sara disini. Adanya Sa-ku-ra!" ucap Sakura sambil menunjukkan deretan gigi putihnya kepada Sasuke.
"Kau membohongiku?"
.
.
"Aa..." angguknya masih mempertahankan senyum palsunya.
"Bodoh!" ucap Sasuke yang kemudian merebahkan tubuhnya untuk kembali tidur.
"Sasuke-kun! Kau tidak ingat dengan janji kita kemarin? Jangan tidur lagi, bodoh!" ucap Sakura menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke dan menarik-narik asal selimutnya.
"Janji apa lagi, Saki?" ucapnya malas.
"Kau benar tidak ingat? Kejam sekali kau ini! Kau kan sudah berjanji akan menemaniku ke pantai hari ini! Pokoknya aku akan tetap disini -menunggumu sampai kau mau menemaniku ke pantai! Ingat! Janji adalah hutang lho...
" ucapnya di depan wajah Sasuke.
Sasuke yang mendapatkan tatapan yang sangat dekat dengan wajah Sakura sontak memundurkan wajahnya.
"Terserah! Aku tidak mau melewatkan tidurku!" ucap Sasuke yang kembali bergelung dengan selimutnya.
"Ya sudah, aku juga akan terus mengganggu tidur 'manismu' itu! Terus dan terus!" ucap Sakura keras. Dirinya kemudian mengguncang-guncang tubuh Sasuke yang diam tak berkutik.
"Sasuke-kun!"
Nama itu terus bergulir dari mulut mungil Sakura.
Terus mendapatkan keusikan dalam tidurnya akhirnya Sasuke pun jengah juga. Ia kemudian bergerak duduk menghadap Sakura. Dirinya kemudian mengacak rambutnya sendiri -pusing dengan kelakuan sahabat dari kecilnya itu.
"Kau menang! Puas!" ucapnya kemudian beranjak ke kamar mandi. Sedangkan Sakura? Ia kini tengah tertawa senang setelah mendapat keputusan mutlak dari bungsu Uchiha itu.
Flashback off
Sakura tersenyum senang -membayangkan kejadian tadi pagi.
'Aku menang dan selalu menang!' pongahnya di dalam hati.
Mata hijaunya kini memandang lurus -menghadap matahari yang mulai menenggelamkan dirinya menuju singgasananya.
Rambut pendeknya berkibar -ditarikan oleh angin sore yang kini tengah bermain di tebing itu. Suara gebyuran ombak yang menghantam bebatuan tebing pun menambah romantisme sore itu.
Mata hijaunya kemudian ia pejamkan. Perlahan ia rasakan sensasi tenang yang diberikan alam kepadanya.
Suasana rumput tergesek membuat ia membuka matanya. Benar? Ada seseorang di sampingnya. Seseorang itu juga tengah menutup matanya. Rambut hitamnya juga dimainkan oleh angin.
Kini mata hijau itu tengah menelisik -menyimpan segala lekuk wajah sang pemuda yang berada di sampingnya itu di memorinya.
'Tuhan...
Aku sangat menyayanginya dan juga...
Sangat mencintainya!
Apakah salah jika aku mempunyai perasaan ini kepada sahabatku sendiri? Sahabat yang telah menemaniku baik saat aku senang maupun susah? Apakah salah Tuhan?'
Tangan ramping itu terangkat -ingin menyentuh pipi tirus sang pemuda.
Sedikit lagi akan tersentuh..
Tapi...
"Sakura..." ucap pemuda itu yang menghentikan gerak laju tangan Sakura yang kini sudah empunya tarik.
"Hn..." jawab Sakura singkat.
Lama pemuda itu tak berbicara. Sakura yang tidak mendapatkan respon apapun kemudian ikut memejamkan matanya -merasakan ketenangan yang juga pemuda itu rasakan.
"Suatu saat aku akan mengungkapkan perasaanku kepada orang yang kucintai disini! Di tebing ini! Aku ingin dia merasakan sensasi dari perasaan yang kurasakan! Aku ingin dia tahu bahwa perasaanku sekuat batu yang diterjang ombak. Dan cintaku yang akan selalu menggebu-gebu seperti ombak yang menerjang bebatuan. Aku ingin dia tahu bahwa perasaanku seperti angin yang akan selalu memberikan kenyamanan dan kesejukan di hatinya. Suatu saat! Aku akan menyampaikan semuanya. Bagaimana, Sasuke-kun?" ucapbSakura tanpa membuka pejaman matanya.
Sasuke pun menoleh -menatap raut wajah Sakura lurus.
"Semoga terkabul, sahabatku!"
Jawaban Sasuke tepat saat matahari tenggelam di ufuk barat yang juga ditandai dengan tetesan air mata yang keluar dari mata Sakura.
TBC
