Disclaimer : Punyanya paman saya, yaitu paman Masashi Kishimoto ^_-

Pairing : SASUHINA

Rate : T

Warning : AU, OOC, TYPOS, Abal, Aneh, Etc

Summary: Berawal oleh strategi seorang pria yang ia temui di bar untuk putus dari pacarnya membuat Hinata terseret dalam kesialan permainannya yang membuat hidupnya perlahan berubah.

Ch 2

Fortuna e Sfortuna

Hinata POV

Perkenalkan nama ku adalah Hinata, cukup Hinata tidak ada Haruno. Gadis yang menurut semua orang yang menyatakan bahwa aku adalah manusia yang paling beruntung. Karna, mereka selalu berpendapat memiliki badan yang indah, wajah yang manis, otak yang cerdas, dibesarkan oleh keluarga kaya, dan memiliki sifat yang lembut dan juga anggun. Membuat mereka selalu memujiku atau sekedar memandang iri padaku. Tapi bukan keberuntungan yang aku dapat dengan itu melainkan kesialan.

Memiliki tubuh yang sangat indah, membuatku selalu diganggu paman-paman hidung belang yang rasanya ingin kuhajar, dan itu berhasil waktu beberapa hari yang lalu. Memiliki wajah yang manis atau pun cantik, tidak akan membuat pacarmu setia denganmu. Memiliki otak yang cerdas, tidak membuat keluarga yang membesarkanmu bahagia. Dibesarkan oleh keluarga terpandang, tidak akan membuat dirimu bangga. Memiliki sifat yang lembut seperti bidadari, itu hanya sebuah topeng yang selayaknya seorang pemain sinetron kelas atas yang banyak mendapatkan penghargaan.

walau begitu aku terus bersyukur dengan tuhan yang telah mencipkan ku dengan segala yang aku miliki saat ini.

Aku hanya menghela nafas tidak senang saat ini, saat-saat seperti ini yang sangat aku benci, diam memandang langit-langit kamar sambil berfikir yang sepertinya tidak akan ada ujung permasalannya. Dan sinar matahari begitu sangat menyilaukan mata lavenderku.

'Dimana aku meletakkan tas itu?'

Pertanyaan yang tak dapat aku temukan jawabannya dikepalaku, tas merek terkenal yang mungkin sengaja seseorang berikan padaku saat aku melewati ulang tahunku yang ke 19 tahun lalu. Bukan Cuma tas ternama itu yang dia berikan tapi, seongok barang-barang mewah yang setiap tanggal ulang tahunku dia berikan. Sunguh misterius.

Tapi bukan tas bermerek itu yang sekarang aku kwatirkan, yang aku kwatirkan saat ini adalah isi didalam tas itu. Berupa dompet yang berisikan kartu Atm yang saat ini sangat penting bagiku, karena kartu-kartu itu akan ku kembalikan pada keluarga Haruno, Sakura adalah kakak angk.. ralat mungkin aku bukan siapa-siapa lagi olehnya. Sakura terus menghasut ayah angkatku agar semua barang yang telah mereka berikan padaku harus disita, apalagi saat mengetahui aku Cuma anak angkat, betapa senangnya gadis pingky itu. Membuatku ingin menamparnya dengan tanganku.

Aku sudah mencari tas itu di bar saat aku minum beberapa hari yang lalu tapi yang ku dapat, kosong. Aku bahkan ke kamar paman hidung belang itu untuk memastikan apa tasku ada disana, sayang hal yang sama yang kudapatkan berupa kata nihil. Kata repsionis sih, paman itu sudah pergi sekitar satu jam setelah kepulanganku.

Tapi kalau dipikir-pikir paman yang waktu aku tendang itu kalau tak salah namanya Sasuke, dia memiliki wajahnya sangat tampan, mata onix yang bengitu sulit ditebak serta ciumannya yang hot dan begitu membuat ku ketagihan ingin merasakannya..eh.. sabar Hinata, jangan membuat dirimu diliputi hawa nafsu. Harus tahan. Tapi, kenapa wajahnya begitu tidak asing bagiku?

Bruuk

Saat-saat aku sedang bergelut dengan pikiran tentang paman itu, tiba-tiba saja ada suara bantingan pintu yang telah menjadi makanku selama di rumah ini. Biasanya sih gadis yang tak tau sopan santun itu yang sering melakukannya, Sakura. Aku tidak akan beranjak dari kasur jika itu Sakura. Aku memiringkan gaya tidurku untuk menghadap pintu kamar , aku melihat sesosok tubuh yang tegap dan rambut yang mulai memutih. Itu bukan sosok Sakura tapi itu adalah ayah.

Aku segera memperbaiki posisi berbaring menjadi duduk dan segera beranjak dari ranjang ini. Aku segera menghampiri ayah yang sedang terlihat marah aku tak tau penyebabnya, tapi tatapan marahnya sangup membuatku menunduk ketakutan.

"Ayah?" aku bertanya dengan wajah tertunduh, aku ingin mengetahui gerangan apa ayah datang kekamarku.

"Katakan padaku, dua hari yang lalu, kau pergi kemana?" ayah menanyakan ku dengan suara begitu tajam.

"Aku ke rumah teman, namanya Tenten." Aku mencoba untuk berbohong dengan posisi tertunduk dan yang terlintas saat itu Cuma alasan itu.

"Benarkah?" suaranya makin membuatku takut.

"Iya," aku menjawab dengan menegakkan kepalaku dan juga memasang mimik wajah serius agar dapat menutupi kebohonganku. Jika ayah tau kalau aku ke bar, habis sudah nasip ku.

"Benarkah? Lalu kenapa tasmu berada di bar?" ayah berteriak kepadaku dan melemparkan sebuah benda kearahku, aku dapat menangkapnya walau perutku terasa sangat panas ketika berbenturan dengan benda itu.

Aku melihat ayah yang saat ini memandangku dengan tatapan sinis bercampur marah. Aku hanya diam dan kembali menunduk melihat tas yang ingin ku cari berada di tanganku saat ini. Berusaha menahan air mata yang sepertinya tidak akan lama dapat kubendung lagi.

"Ck, aku rasa tas itu, hasil dari menjual tubuhmu pada pria kaya kan?" aku mendengar suara sinis wanita, aku berusaha untuk tetap tenang dan mencoba menatap wanita itu.

Gadis yang tadi berbicara sinis padaku, sekarang tengah berada di belakang ayah. aku melihat gadis berkening lebar dan berambut pinky, yang mungkin berangapan seperti permen karet, dialah yang bernama Sakura. Seorang wanita yang akan membuatku selalu berada di atas tali kematian. Dia selalu mengangapku sebagai musuh.

"Ternyata, aku membesarkan seorang pelacur. Cih."

Jlepp

Rasanya sebuah pisau menancap dihatiku saat ayah mengatakan bahwa aku seorang pelacur, pisau yang mungkin tidak dapat aku tahan sakitnya. Aku sudah tidak kuat menahan air mata yang sepertinya memang sangat ingin keluar. Kalimat yang dilontarkan ayah sangat membekas dihatiku, ia berangapan bahwa aku adalah wanita murahan. Saat ini aku hanya bisa menangis sedih.

"Harus kau tau, keluarga Haruno adalah keluarga terhormat bukan keluarga yang tak punya harga diri. Jadi, jika kau mengerti aku harap kau enyah dari sini." Aku membulatkan mataku saat mendengar tutur Sakura kata yang membuat hatiku dipenuhi pisau-pisau tajam. Aku tak percaya mendengar kalimat yang intinya berupa kalimat usiran untukku.

"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya, jangan membuat kesalahan di dunia Haruno atau kau tahu sendiri yang terjadi. Dan satu lagi, kau tak usah repot, semua pakaianmu sudah dibereskan dan pergilah dari sini." Aku tak percaya, Ayah juga ikut mengusirku? Padahal aku sudah melakukan semua kemauannya selama ini, aku yakin Haruno Corp tidak akan dapat bangkit lagi jika tidak karna usaha besarku. Ayah lebih menyuruhku untuk membantu dari pada Sakura yang hanya tahu tentang Fasions. Mungkin itu saja yang telah kubayar karna mereka telah membesarkanku. Air mataku semakin berlinang, pipiku mulai terasa basah, sangat basah. Dan benar saja dua buah koper hitam muncul ketika Sakura berjalan ke samping.

"Ay.." aku mencoba memangil memangil ayah, tapi kemudian terpotong.

"Aku bukan ayahmu." Ayah memang telah mengatakan bahwa aku Cuma anak angkat, tapi tidak adakah rasa kasian padaku.

Aku melihat kearah ayah yang sepertinya akan beranjak dari ruangan kamar, setelah ayah pergi seharusnya disusul oleh Sakura, tapi sepertinya gadis itu akan menonton pertunjukan nagisku. Aku sangat membenci wanita itu, sangat. Aku menatap gadis yang sekarang menatap sinis padaku.

"Apa mau mu?" aku bertanya marah dengan mata yang seperinya merah.

"Mau ku? Aku hanya menyampaikan sesuatu, jika kau ingin kembali dengan pacarmu, silahkan. Karna, dia sangat tidak menyenangkan. Hahaha." Dia tertawa sinis, aku kini mulai tahu, Sakura hanya mau merebut pacarku agar aku merasa sengsara. Benar-benar gadis yang mengerikan. Gadis itu langsung meningalkan kamarku dengan wajah luar

biasa gembiranya.

Tak ada cara atau alasan lagi aku berada di sini, aku akan pergi.

End Hinata POV

###

Ruangan yang diwarnai cat putih yang begitu melekat pada dindingnya. Ruangan yang medapatkan cahaya matahari langsung melewati jendela, serta pemandangan yang sajikan oleh alam dapat membuat semua orang akan betah berlama-lama diruangan ini, tapi tidak dengan pria ini. Pria ini hanya memandang kertas-kertas berisikan kata-kata sehinga menutupi wajahnya, tidak mempedulikan keindahan yang menyapanya. Dan pria itu tidak lain adalah seorang presdir di perusahaan ini, tertulis jelas sebuah kaca yang bertuliskan ' "Wakil Presdir, Sasuke Uchiha'. Dialah Sasuke.

"Bacakan," perintahnya pada seseorang yang berada di depan mejanya, hanya mejalah yang memisahkan Sasuke dan pelayannya.

"Baik. Hinata Haruno, gadis berumur 19 tahun . Ia mendapatkan banyak prestasi dan lulus sma dengan nilai yang sangat memuaskan. Melanjutkan sekolah di Universitas Konoha dengan mengunakan beasiswa yang dimilikinya, tapi sudah 2 bulan dia tidak melakukan rutunitas sekolahnya, dia diketahui telah berhenti dari kuliahnya dengan alasan yang tidak dimengerti pihak sekolah. Kabar yang kami dapat dari pelayan rumahnya, mereka mengatakan Hinata bukan berasal dari keluarga Haruno. Gadis inilah yang telah membuat perusahan Haruno mulai bangkit dan dapat berdiri diposisi lima perusahaan teratas, dan informasi yang kami ketahui yang paling baru, Hinata ini diusir dari kediamanya da.." pelayan itu terus memberikan sebuah informasi kepada majikannya dan berhenti mendadak karna dipotong oleh Sasuke.

"Tunggu dulu, apa kau bilang? Di usir?" Sasuke langsung memutar kursinya dan langsung menatap pelayannya, Jugo.

"Iya, tuan." Jugo mengiyakan pertanyaan dari Sasuke.

"Dimana dia sekarang?" Sasuke meletakkan kertas yang tadi sempat ia pegang di meja kerjanya.

Jugo langsung memeriksa jasnya dan mengambil sebuah ponsel, tidak lama kemudia ia meletakkan kembali ponsenya di dalam jasnya lagi.

"Gadis itu berada di Game Counter, yang letaknya tak jauh dari sini, tuan."

Sasuke tersenyum senang. karna, ia tidak rugi menyewa penguntit dengan harga mahal untuk mengikuti bocah itu. Benar- benar tak rugi.

"Aku mau pergi, jika ayah tanya bilang aku pergi ke lapangan. Dan satu lagi, jangan mengikutiku." Sasuke beranjak dari tempat duduknya. Sasuke menyuruh pelayannya untuk sedikit berbohong untuk merahasiakan keberadaanya dan juga sebuah perintah. Sebelum benar-benar pergi, Sasuke merapikan berkas-berkas perusahan dengan rapi.

"Baik, tu.." kalimat Jugo kembali terpotong oleh sebuah teriakan.

"SASUKE!" seseorang berteriak serentak dengan hantaman pintu ruangannya.

Sasuke dan Jugo mengalihkan pandangannya kearah langsung menunduk hormat ketika yang masuk kedalam ruangan adalah tiga orang yang sangat ia hormati.

Yang dimulai dari laki-laki yang paling tua, Fugaku adalah ayah dari Sasuke. Disamping Fugaku ada Mikoto, ibu dari Sasuke. Dan yang terakhir Itachi, adalah kakak Sasuke, yang umurnya dua tahun diatas Sasuke.

Sasuke langsung berhenti merapikan meja kerjanya saat mengetahui bahwa keluarganya datang berkunjung.

"Dad," Sasuke melirik pada Fugaku yang kelihatannya sedang emosi.

"Berani sekali kau, kau pikir dengan membatalkan kerjasama dengan perusahaan yang begitu erat dengan perusahaan kita, itu gampang! Hah?" Fugaku langsung saja marah-marah didepan badan Sasuke sambil menjatuhkan seongok kertas tebal kemeja kerja Sasuke. Mikoto, ibu Sasuke terus menahan Fugaku agar tidak melebihi batas emosinya.

"Aku punya alasan untuk itu, Dad." Sasuke mencoba untuk membela dan mencegah ayahnya agar tidak berteriak sehiga telinganya aman dari kata 'tuli'.

"Apa?"

"Dad, keluarga Hyuga itu sangat licik. Mereka merekrut pegawai kita, apalagi pegawai yang sangat berperan penting di perusahaan ini. Aku melakukan ini agar perusahaan kita berkembang, itu saja."

"Tapi Sasu-chan, hal-hal seperti itu sering kami lakukan untuk menukar ide-ide tentang bisnis, lagi pula tidak sedikit pegawai mereka yang kita rekrut." Mikoto sepertinya juga tidak sesuai dengan Sasuke yang selalu berpikir hal yang menurutnya benar.

"Betul kata mommy, para pegawai itu hanya sementara disana, paling lama Cuma sebulan." Itachi sepertinya mulai bosan melihat tingkah Sasuke yang baru 2 bulan menjabat sebagai wakil presdir, dan selama 2 bulan pula sudah 3 perusahaan yang telah ia tarik saham perusahannya dari perusahaan yang menurutnya salah, ya salah satunya perusahaan Hyuga.

"Aku tak peduli kau menarik saham di perusahaan lain, tapi tidak di perusahaan Hyuga yang sangat memiliki kerjasama yang baik…" Fugaku sepertinya sudah dapat mengatur emosinya, walau terkadang setiap katanya selalu meninggi.

"Dan aku rasa, kau belum siap berada disini." Lanjut Fugaku sambil berbicara sinis pada Sasuke.

"Aku siap dan aku yakin dengan keputusanku. Jika terus begini, ini sama saja menginginkan mereka untuk bebas merusak organ perut dan kepala kita. Makannya aku langsung membatalkan kerjasama." Sasuke menjelaskan maksudnya dengan suatu kalimat 'umpama' agar terkesan sastrawan. Lagi pula siapa juga yang meminta Sasuke sebagai wakil pemimpin? Kan jadi begini hasilnya, parah. Apalagi kabar terakhir, sekretaris perusahan ini telah dipecat Sasuke, karna kesalahan yang sangat kecil.

Tapi sepertinya kalimat Sasuke tidak dapat menjalar di otak Fugaku, Mikoto, Itachi, Jugo dan yang terakhir Author sendiri. Bukan otak kami yang telat untuk berpikir, tapi kalimat Sasuke yang tidak dimengerti, ckckck.

"Merusak?" Itachi bertanya sambil memutar kembali kalimat Sasuke.

"Perut?" kini giliran Mikoto yang bertanya.

"Kepala?" giliran Fugaku. Sebenarnya Jugo kepingin bertanya juga, tapi langsung membatalkannya.

Hening menjalar di ruangan itu.

"Jangan-jangan, kau menyamakan perusahan ini dengan dirimu yang dua hari yang lalu di pukul seorang gadis berumur 19 tahun, ya?" Itachi tersenyum menahan tawa saat mengetahui makna yang disusun oleh Sasuke.

Padahal yang sebenarnya bukan itu yang terkandung dalam kalimat Sasuke, tapi beribu kalimat yang seharusnya disusun indah, hanya kalimat itu yang tertanam di kepala Sasuke.

"Apa?" Fugaku dan Mikoto tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Itachi. Dipukul wanita? Yang mereka tahu selama hidup Sasuke, belum satu wanita pun yang pernah memukul Sasuke, termasuk Mikoto. Tapi, jika wanita yang terpukul hatinya oleh Sasuke sih, sudah banyak dikehidupan mereka.

Jika, ada yang ingin disalahkan Sasuke saat ini, salahkanlah dirinya sendiri. Karna, curhat pada kakaknya yang jelas-jelas ucapannya tak dapat dipegang.

"Bukan begitu," Sasuke harap-harap cemas dengan muka yang tak kala pucat pasi. Sasuke sudah dapat membayangkan apa yang sebentar lagi terjadi.

"Buahahahah, memalukan. Kau dipukul seorang wanita." Sindir Fugaku kepada anak bungsunya. Inilah yang paling ditakuti Sasuke, sebuah sindiran dari orang tuanya. Tapi, Sasuke memiliki sesuatu untuk Fugaku.

"Tidak jauh berbeda dengan kelakuan daddy kan? Yang biasanya juga daddy dipukul mommy, malah daddy main petak umpet di rumah agar tidak ditemukan mommy." Sasuke berbicara lantang, dan membuat Fugaku yang mendengarnya diam menahan malu dan marah, apalagi didengar Jugo.

"Ehem, jika berbicara soal wanita, kapan kau akan menikah?" Mikoto mencoba mengalihkan pembicaraan dan bertanya pada Sasuke. Jika Mikoto sudah berbicara soal menikah, itu tandanya mulai berbicara serius.

"Entahlah," Itachi menjawab, Itachi tau sebenarnya kalimat itu dilontarkan pada Sasuke, tapi dia juga tau kalau Sasuke akan menjawab 'entahlah'.

"Ya ampun Sasuke, coba kau liat umurmu, sudah 58 dan kau belum menikah." Kelihatannya Mikoto mulai frustasi melihat anak bungsunya yang belum menikah.

Sasuke, Jugo, dan Fugaku membelalakkan mata tanda tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

"Mom, bukan 58 tapi, 28." Itachi mencoba mengoreksi kalimat ibunya.

"Huh, Cuma beda 3 saja." Mikoto menatap tajam kearah Itachi. Ya ampun Mikoto, dari mana letak beda 3? Bedanyakan 30, jangan-jangan Mikoto ini tidak lulus SD ya?.

"Kau payah nak, umurmu sudah 28 tahun. Tapi, tak satupun wanita yang lengket padamu, memalukan." Kembali lagi Fugaku menyindir, tanpa mempedulikan kehebohan atau lebih jelasnya kebodohan sang istri.

Sasuke tidak akan menghiraukan sindiran tentang para wanita , Sasuke berjalan kearah sofa untuk mengambil jasnya yang berjeletak diatasnya tanpa menghiraukan tatapan bingung orang yang berada diruangan kerjanya.

"Mau kemana?"

"Mau cari calon istri," ujar Sasuke santai. Sebenarnya itu adalah alasan agar bisa keluar dari ruangan kerjanya.

"Jangan lupa, buat proposal perjalinan kerja dengan Hyuga. lalu, cari calon sekretaris yang baru, kau mengeri?" Fugaku akan berusaha keras agar kerja samanya dengan Hyuga Corp terjalin kembali. Juga seorang pegawai baru, mengingat Sasuke memecat sekretarisnya dengan murkanya.

"Dan satu lagi, cari istri yang punya pinggul ramping agar bisa punya anak yang banyak." Lanjut Fugaku dengan menampilkan seringaian.

"Iya. Ah, Aku baru ingat sekarang, mom, ikat daddy di rumah jangan biarkan dia pergi malam ini. Karna, aku rasa daddy ada kencan dengan wanita di Caffe." Itulah kalimat yang dikeluarkan oleh Sasuke saat pergi keluar dari pintu ruangan kerjanya, sebelum itu Sasuke dapat merasakan ada hawa pembunuhan di kantornya.

"FUGAKU." Teriakan seorang wanita dari dalam ruangan kerja Sasuke.

Sasuke hanya terkikik geli, membayangkan wajah ayahnya nanti jika bertemu, pasti sangat mengerikan. Padahal, semua yang dikatakan Sasuke itu adalah kebohongan. Kebohongan yang baru saja diciptakannya akan membuat kesialan yang akan menimpanya.

###

"Maaf Hinata, sebenarnya malam ini tidak bisa. Calon suamiku akan menginap malam ini di kamarku dan semua kamar di rumahku sudah penuh, sekali lagi aku minta maaf," seorang wanita dengan rambut seperti dua buah bakpao dikepalanya, mengatakan kalimat yang tulus minta maaf pada gadis yang bernama Hinata yang saat ini sedang memasang senyuman pahit yang dapat disamarkannya agar temannya tidak lebih bersalah.

"Ha..ha." Gadis bernama Hinata itu hanya tertawa dengan tawaan yang khas seperti biasanya. "Sudahlah, tidak usah merasa bersalah begitu. Mengenai calon suamimu, kenapa aku tak pernah mengetahuinya, apa jangan-jangan kau dijodohkan ya, Tenten?" Hinata melanjutkan kalimatnya dengan sedikit nada mengoda, dengan topic yang berbeda agar kesedihannya hilang.

"Memang betul," gadis yang bernama Tenten itu menjawabnya dengan nada yang datar. Tenten tau kalau sahabatnya itu hanya bercanda, tapi bercanda Hinata itu ada benarnya juga, jadi tidak ada gunanya untuk berbohong.

"Maaf," sekarang giliran Hinata yang menunduk minta maaf.

"Tak masalah, sebenarnya aku ingin menyampaikannya lewat ponsel, tapi kau tidak dapat dihubungi." Tenten hanya tersenyum hambar, mengingat yang telah terjadi sebelumnya.

Hinata tidak dapat menyalahkan siapa-siapa jika ponselnya tidak dapat dihubungi, sebab dia tidak pernah menyentuh ponselnya semenjak kehilangan tasnya.

"Aku akan menikah minggu depan, dengan anak sulung keluarga Hyuga, kau harus datang ya?" Tenten tersenyum lagi.

"Pasti," Hinata berkata dengan semangatnya.

"Kau pasti haus, akan kuambilkan minuman untukmu. Sebagai permintaan maaf ku." Tenten beranjak dari tempat yang dia duduki untuk mengambil minuman dari dapur di tempat ia berkerja.

"Pastinya," Hinata mengiyakan keinginan Tenten walau kalimatnya tidak dapat didengar oleh temannya itu.

Hinata melihat kearah tempat Tenten berjalan, ada rasa salut pada temannya itu. Bagaimana tidak? Tenten adalah anak dari keluarga Tsuzku yang cukup terkenal di Jepang. Walau demikian Tenten, tidak pernah sombong, terbukti dia sekarang bekerja part time di Game Counter ini. Tenten bilang, dia hanya berusaha untuk belajar mandiri dan orang tuanya memberi semangat untuk keputusannya itu. Hinata juga pernah bekerja sebagai part time, tapi tidak sampai 2 hari, Sakura langsung menghubungi ayah agar aku di ceramahi lagi dan lagi. Tenten sungguh beruntung, karna dia akan menikah dengan putra sulung Hyuga dan bermimpi menjadi salah satu keluarga Hyuga adalah sebuah mimpi indah belaka. Tapi, tidak unuk Tenten yang sangat beruntung.

'Dimana sekarang aku tinggal?' Hinata membatin dengan raut gusar.

Hinata terus berkecimpung dengan pikiran yang sepertinya sangat tidak dapat diketahui jalan keluarnya. Karna terlalu banyak bergelut dengan pikirannya yang kacau dan mata tertutup, Hinata tidak dapat mengetahui bahwa seorang laki-laki duduk didepannya. Laki-laki itu mengengam satu kaleng botol minuman bersoda di tangan kanannya sambil melirik kearah wanita didepannya.

Pushh

Laki-laki itu membuka minuman kaleng soda yang menyebabkan bunyi 'pushh' sewaktu membukannya. Dan karna bunyi itulah, Hinata merasa bahwa Tenten lah yang telah duduk didepannya dan berusaha untuk membuka minuman yang tadi disarankan padanya.

Dengan mata terpejam Hinata merebut botol minuman dari tangan pria itu, yang Hinata kira bahwa itu adalah Tenten.

Hinata mulai meneguk minuman bersodanya dengan tetap menutup matanya.

"Ternyata kau gadis yang tidak punya sopan santun," pria itu berbicara berat dan sinis pada gadis yang merebut minuman dari tangannya.

Hinata berhenti meneguk minuman sodanya dan matanya sukses membulat sempurna saat mendengar suara tersebut bukan milik Tenten, jika Hinata bukan dibesarkan oleh keluarga berpendidikan, mungkin dia telah menyemburkan minuman soda yang berkumpul didalam mulutnya pada pria tersebut.

"Paman!" Hinata berteriak dan secara refleks, ia langsung membuat kuda-kuda dengan siap bertarung. Tentu saja, bukan hanya pria itu yang terkejut, tapi hampir seluruh pengunjung yang mendengar teriakan tersebut. Paman yang Hinata maksud adalah Sasuke yang ia temui di bar beberapa hari yang lalu.

Semua pengunjung pun melirik kearah Sasuke dan berbisik-bisik, mereka pikir kalau pria itu adalah pria yang jahat. Sasuke tidak mau dicap buruk ditempat manapun, dan beruntunglah dia mendapatkan sebuah ide cemerlang.

"Sayang, berhentilah memangilku paman, ingat dengan janin ditubuhmu. Jika terus seperti itu, sifat anak 'kita' akan buruk." Sasuke tersenyum untuk menenangkan Hinata dan mempertegas kalimat 'kita'nya. Lalu Sasuke menoleh pada para pegunjung. "Maafkan kami, menganggu aktifitas anda." Lanjutnya sambil menunduk hormat pada mereka yang memang kebanyakan adalah ibu-ibu yang membawa anaknya untuk bermain.

Ibu-ibu yang ada disanapun hanya senyuman kepada Sasuke, mereka semua mengetahui bahwa ibu hamil terkadang sifatnya berubah-ubah dan mereka pikir Hinata sekarang tengah berbadan dua. Para pengunjung kembali pada aktifitas mereka semula.

Sasuke menatap Hinata dengan pose yang masih memasang kuda-kuda. Tapi dari pada itu, Hinata tengah menyipitkan matanya untuk melihat kebusukan dari pria itu.

"Duduklah, kau pikir aku akan menyerangmu ditempat seramai ini?" Sasuke memandang rendah kearah Hinata.

Hinata kembali duduk dan masih menatap Sasuke dengan tajam. Hinata mengambil minuman soda dan kembali meneguknya lagi dengan mata yang masih menatap Sasuke. Lalu kemudian Sasuke tersenyum kepada Hinata.

"Kanapa kau tersenyum?" Hinata bertanya dengan penuh selidik pada Sasuke.

"Aku tersenyum, karna aku tak menyangka bahwa kau masih meminum pemberian dari ku." Sasuke menopang dagunya dengan tangan yang berada diatas meja.

"Tidak masalah," Hinata langsung meneguk habis minuman soda miliknya,

"Kau tidak akan bekata begitu, setelah aku mengatakan jika minuman itu telah aku beri obat perangsang." Sasuke menampilkan seringaian di wajah pucat miliknya.

Muka Hinata yang pucat dari lahir bertambah pucat saat Sasuke mengatakan bahwa ada obat perangsang didalam minuman beodanya. Tapi, kemudian dia dapat mengatur raut mukanya.

"Itu tidak mungkin, aku tak menyadarinya." Hinata menatap pria itu dengan tajam.

"Bagaimana kau menyadarinya jika tadi kau memejamkan matamu." Sasuke menirukan bagaima Hinata memejamkan mata dan ditambah dengan kerutan didahinya.

Memang benar tadi Hinata memejamkan matanya. Hinata langsung menatap setiap ujung ruangan untuk menemukan suatu benda yang mungkin dapat membantunya saat ini. Dan akhirnya ketemu. Hinata langsung berlari kearah tempat sampah, ia langsung membuka penutup sampah dan meletakkan kepalanya diatas tempat sampah itu. Sasuke yang melihat Hinata berlari kearah tempat sampah dan mengikutinya dengan gaya yang luar biasa santainya, membuat ibu-ibu terpesona.

"Huekk…huekk.." Hinata terus berusa untuk membuat dirinya mengeluarkan apa saja yang tadi dia konsumsi. Tapi, sepertinya caranya tidak berasil. Hinata merasakan ada tangan yang berada dipunggungnya dan mengelusnya, itu membuat Hinata mengeluarkan isi perutnya. Ini agar efek obatnya tidak membuat Hinata melakukan hal-hal gila.

Para ibu-ibu yang melihat kejadian itu hanya tersenyum, mereka pikir Hinata masih merasakan mual akibat kehamilannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa anak yang dikandung Hinata akan sangat beruntung sebab memiliki orang tua yang baik. Itu mereka simpulkan ketika Sasuke mengelus punggung Hinata dengan lembut. Sebenarnya sih, Sasuke tidak mengelus punggung Hinata dengan lembut. Tapi, Sasuke mengelus dengan sangat tidak kemanusiaan.

Hinata tidak akan mau berterima kasih pada Sasuke yang sempat mengelus punggungnya, bahkan Hinata membentak Sasuke.

"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, Paman." Suara Hinata tegas. Sasuke hanya diam melihat tingkah Hinata.

Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Sasuke dan Hinata dengan wajah panik, sangat panik malah. Dan langsung menghadap Sasuke tanpa peduli dengan Hinata.

"Tuan, apa tuan mengambil minuman soda dari kedai kami?" pria itu bertanya pada Sasuke dengan cepat sekali dan untungnya Sasuke dapat mendengarnya.

Sasuke hanya menganguk, berarti 'ya'.

"Maafkan kami tuan, sebenarnya minuman itu telah kami beri obat tikus. Apa tuan tidak meminumnya?" pria itu masih bertanya pada Sasuke dengan tatapan yang sangat panik dan takut.

Sasuke hanya mengeleng kepala.

"Syukurlah. Kalau begitu, saya permisi dulu." Pria itu menunduk hormat dengan wajah yang sangat senang. Pria yang aneh.

Lalu pria aneh itu pergi entah kemana.

"Seharusnya, ia bertanya. Kepada siapa aku memberikannya? Lalu dia baru boleh pergi." Sasuke kembali mengusap punggung Hinata, kemudian Hinata menatap Sasuke dengan tatapan terkejut bukan main.

"Kepada siapa kau memberikan minuman soda itu?" Hinata berdiri menghadap Sasuke.

"Padamu," dengan santainya Sasuke menjawab.

Hinata langsung membalikkan badan dengan muka pucat dan mencoba unuk memuntahkan makanannya, lagi. Tapi, sepertinya Hinata tidak dapat mengeluarkannya lagi karna semua makannya telah terkuras abis. Walau begitu, Hinata dapat mengetahui jika tadi Sasuke berbohong tentang obat perangsang.

Sasuke menghadap kebelakang dan menemukan pria yang tadi datang dengan panic yang mengatakan minuman soda yang diambil dari kedainya ada obat tikus didalamnya. Sasuke tersenyum pada pria aneh itu dan mengancungkan jempol pada pria itu, sedangkan pria aneh itu hanya menunduk hormat dari kejauhan. Sebenarnya, pria itu adalah supirnya. Sasuke yang sengaja ia perintahkan untuk melakukan peran murahan itu. Dan berasil.

Hinata yang merasakan kepalanya mulai terasa berat dan matanya mulai menutup secara perlahan, Hinata sudah tak sadarkan diri. Tapi sebelum merasakan lantai, Sasuke dapat menahannya dan kemudian medekatkan bibirnya ditelinga Hinata. Dengan seringaian yang khas dari bibirnya Sasuke mengatakan..

"Aku memang tidak memberikan obat perangsang atau pun obat tikus. Tapi, aku memberikanmu obat tidur, Hime."

TBC

A/U

Apa-apaan ini, aku nekat untuk updet padahal lagi sibuk nyari sma yang cocok, ckckck. di fic atas tak ada gambaran bagaimana Sasuke memberi obat tidur di minumannya kan? itu sengaja aku lakukan ^_^. disini adegan Sasuhinanya dikit, tapi ch selanjutnya akan kubuat banyak. dan aku rasa masih ada typo dan alur yang kecepatan.

Aku berterimakasih bagi yang udah review mengunakan akun ataupun tidak.

Mayuna namikaze, Sugar Princess71, uchihyuu nagisa, x, botol pasir, malas login, hana-chan, Ma Simba, hanata chan, cinta hinata, narura chan, Zoroutecchi. (udah pada tahu kan, berapa umur Sasuke? Umur Sasuke itu 58 *kata mikoto sih*, umur Sasuke itu adalah 28. ^_-)

lawliet cute: makasih ^_^

Miya-hime Nakashinki : setelah dibaca balik, memang ceper di scene Karin dan masalah typo aku rasa masih banyak juga ^_^.

Ai HinataLawliet: yup, Hime adalah anak angkat haruno ^_^.

Ririrea: udah updet nih ^_^, tapi aku rasa masih lambat untuk updet.

hyuuchiha prinka : ya begitulah, Sasuke aku buat senekat itu ^_^.