Wuaaa, terima kasih review-nya. Maaf, di chapter 1 kemarin ada sebagian yg aku edit. Kemarin habis memantapkan hati mau dibawa ke mana sebenarnya alur fic ini. Ga jadi fokus triangle LuNaSan karena akan ada 3 kisah. Jadi, LuNa-nya cuma sebatas slight/hint yang tersebar sepanjang cerita yang nantinya akan terjawab di ending. Aku masih pro SanNa, bagaimana pun aku tetap agak berat ngasih porsi romance berlebih untuk pairing yang tidak kusukai. SH laennya cuma karakter pendukung. Oke, kita masuk sesi review reply dulu.

Bebobobo: Apa? feel SanLu dan ZoLu? Hahaha, ya begitulah hubungan para Monster Trio ini. Di chapter ini kamu bakal tambah kaget lagi. Soal Prolog, itu ga berlaku untuk semua fic-ku kok. Entahlah lagi pengen aza. Tapi tetep trendsetter-nya kalian hehehe. Thanks juga koreksi typo-nya.

Aquillaa: Iya, emang susah. Justru karena ini AU, aku sih rela2 saja Nami dengan Luffy *kalau Sanji-nya ga mati ya ga boleh ceritanya* Bahasa gaul biar terkesan simpel kok. Kadang aku sendiri nemuin beberapa yg kayak gitu di terjemahan Elex.

ReadR: Emangnya tipikal flashback OP itu kayak apa ya? Aku kok ga nyadar. Tapi syukurlah kalau sama. Emang harusnya seperti itu^^. Aku senang kalau kmu suka. Itu aslinya Shoojo yang minta aku masukin adegan pemakaman. Tapi kok dia malah blom baca ya?

MelZzZ: Owh, tentu saja masih kerasa SanNa-nya karena emang porsi romance-nya HANYA untuk SanNa Memories (masih bakalan banyak flashback). Soal Zoro, apa saya ga sengaja menukar personality-nya dengan Robin? Di sini Zoro punya hubungan 'special' dengan Robin kok, mungkin karena itu jadi mirip hehehe^^

Princess Lawliet: Nangis lagi? Huaaa... Hik Hik Hik... Kutemani nangis deh *padahal kagak* Untuk ke depan juga masih banyak flashback lho. Khusus kamu, siapin tisu aza^^

Thepoetry: Wah, ga pake akun bountyvocca lagi nih untuk nge-review? Itu dia, aku itu banyak ide tapi kadang ga becus nuanginnya dalam bentuk fic. Contohnya ya soal suasana hati Luffy yang ga kegarap maksimal. Sisanya kujawab di bawah.

Monkey D. Kobayakawa Kudo: Ada hubungannya kok. Berarti aku sekelas Oda dong klo kmu bisa nyamain kematian Sanji di sini dengan kematian Ace hehehehe...

Yang bikin aku seneng itu adegan fave kalian beda2. Kok bisa? Bebobobo suka bagian Luffy menumpahkan kekekesalan setelah nonton berita. Aquillaa suka bagian Zoro ngejek Sanji. ReadR suka adegan pemakaman. Princess Lawliet suka semua dialog Sanji dalam flashback. Thepoetry suka bagian keluguan dan perhatian Luffy. MelZzZ, kamu yang mana nih? Ya sudah, daripada kebanyakan A/N, mari kita mulai saja.


-1,5 tahun yang lalu-

"Namaku Monkey D. Luffy, salam kenal."

Dua reaksi berbeda pun ditunjukkan di kelas.

"Hiiiii, datang benar," dari suara murid cowok yang bergidik.

"Shouta," dari suara murid cewek diam-diam bergumam.

Hanya Nami yang bereaksi standar. Apa benar cowok seperti itu yang berbuat keonaran di sekolah sebelumnya, pikirnya. Sepertinya tampang memang bisa menipu ya? Begitulah, beberapa minggu sebelum ini memang rumor kepindahan Monster Trio sudah santer dibicarakan seantero sekolah Nami. Salah satunya masuk ke kelasnya.

Siapa itu Monster Trio? Nami tak terlalu mengikuti beritanya. Yang ia tahu dari pembicaraan teman-temannya adalah mereka itu berandalan top dari SMA Grand Line, SMA yang reputasi seramnya sudah membuat hati orang ciut saat mendengarnya. Ketuanya, Monkey D. Luffy kabarnya adalah raja jalanan yang menaklukkan seluruh geng motor. Tangan kanannya yang bertampang dingin, Roronoa Zoro kabarnya pernah terlibat kasus pembunuhan. Dan satu lagi yang terpintar di antara mereka bertiga, Sanji, kabarnya pemuda paling kasar yang tidak pandang bulu menghajar siapa pun.

Padahal ini baru pertengahan semester, pikir Nami. Jika merujuk pada rumor, tidak mungkin mereka tidak betah bersekolah di SMA Grand Line dan meminta pindah. Pasti karena mereka bermasalah, mereka kini tengah menjalani masa pengawasan dan membuat mereka dipindahkan ke sekolah bereputasi baik, SMA East Blue.

Siapa yang menyangka bahwa salah satu Monster itu tidak bertampang monster? Dalam sekali lihat, tampak jelas keluguan di mata murid pindahan itu. Nami pun merasa rumor itu hanya dilebih-lebihkan saja. Ia pun berusaha santai. Melihat reaksi Nami, gurunya menyuruh Luffy duduk di sebelahnya. Luffy lalu memperlihatkan nyengir lebarnya membuat Nami berpikir anak itu aneh otaknya.

"Eh, tadi kata Pak Guru, namamu Nami kan?" tanya Luffy mencoba akrab.

"Iya," jawab Nami pendek.

"Aku Luffy," katanya ceria.

"Sudah tahu. Tadi kan kau perkenalan di depan."

"Kau tak takut padaku?"

"Kenapa harus takut?"

"Shishishi, kalau begitu kita berteman."

"Dasar, memutuskan seenaknya!"

"Soalnya kan kita bakal sekelas selama satu tahun ini."

"Satu semester," ralat Nami.

"Mohon bantuannya ya?"

Ada apa sih dengan anak ini, batin Nami. Apa benar dia ketua Monster Trio?

Empat jam kemudian...

TENG! TENG!

"Horeeee... Waktunya makan siang!"" Luffy bersorak mendengar bel sekolah berbunyi. Ia lalu meloncati bangku dan segera keluar kelas sambil berteriak. "SANJIIIII... MAKAN!"

"Huuufh," Nami menghela napas merasa lepas dari anak hiperaktif yang dengan cepat sok akrab dengannya sepanjang pelajaran karena mereka duduk bersebelahan, membuatnya tak bisa konsentrasi mendengarkan guru. "Dilihat dari sudut manapun, dia cuma anak aneh biasa."

Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama karena teman-teman ceweknya langsung mengerubutinya. Mereka penasaran bagaimana Nami bisa mudah akrab dengan pemuda yang mendapat julukan monster tersebut. Sebagian dari mereka mengaku jujur bahwa mereka tertarik dengan tampang shouta-nya, yang sangat jauh berbeda dari rumor.

Nami tidak tertarik hal itu. Setelah dirasa cukup meladeni pertanyaan teman-temannya, ia pun keluar kelas, merasa perlu menghirup udara kebebasan sejenak. Pandangannya beralih ke pintu kelas sebelah. Ia melihat dua orang dikerubuti murid-murid cewek. Nami belum pernah melihat mereka. Si pemuda berambut hijau menguap bosan, ia berkata ingin tidur di atap sekolah dan menyerahkan semua cewek-cewek itu pada temannya yang berambut pirang, yang justru antusias meladeni mereka. Nami juga melihat Luffy di sana, memanggil-manggil si rambut pirang ingin meminta bekal makan siang tapi tak digubris karena merasa sedang sibuk. Merasa tak dihiraukan, Luffy pun menghampiri Nami yang berdiri di depan kelas. Ia menggerutu dan mengomel dan Nami menanggapi keluhannya.

Melihat Luffy tampak akrab dengan seseorang di hari pertamanya, cowok pirang itu lalu meninggalkan begitu saja barisan cewek pemujanya yang mengelilinginya. Nami tak sadar saat tahu-tahu pergelangan tangannya terangkat dan dicium lembut olehnya. Luffy mengira temannya itu akhirnya mendatanginya tapi mata birunya hanya menatap Nami seolah terdapat simbol hati yang besar di dalam bola matanya, tanda orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Nami sendiri terkejut karena satu lagi Monster Trio langsung mendekatinya. Benarkah ia si pemuda paling kasar? Nami pun merasa kehidupannya bakal berubah setelah ini. Bukan lagi kehidupan SMA biasa karena bertemu orang-orang aneh ini.

Itulah pertemuan pertamanya dengan Sanji, seseorang yang ia kira akan menjadi cinta sejatinya. Setidaknya itu yang dipikirkan Nami dalam 45 menit terakhir saat ia masih bisa bersamanya. Seharusnya seperti itu selamanya. Nyatanya takdir telah memilihkan yang lain sejak tiga orang itu berdiri dalam satu lingkaran.


"On The Road" part II

Chapter 2

One Piece © Eiichiro Oda

.

.

Warning:

Read the prequel on "50 Ways to Love SanNa" ch 23 first.

High School AU, maybe OOC.

Mostly drama, not romance.

Banyak flashback sana-sini yg ga teratur penempatannya. Juga banyak dialog.


"NAMIIII!"

Di tengah kesadarannya yang menghilang di dalam air, Nami sayup-sayup mendengar suara seseorang memanggilnya. Tidak bisa, pernapasannya sesak. Keheningan dan kegelapan pun kemudian menyelimutinya.

"OI, NAMI!"

Suara itu terdengar lagi. Nami pun perlahan membuka mata. Meski masih kabur, ia bisa menenali sosoknya yang berambut hijau, sedang berwajah pucat penuh kecemasan sambil menepuk-nepuk pipinya.

"Sakit tahu!" seru Nami galak, tahu itu adalah Zoro, cowok yang paling menyebalkan baginya.

"Habisnya gimana lagi cara membangunkanmu?"

"Yang lembut sedikit kenapa sih?" kata Nami sewot. Ia lalu duduk.

"Kamu itu sudah ditolong malah ga berterima kasih!" Zoro ikutan sewot.

"Terima kasih apa?" nadanya masih ketus.

"Jadi kamu memang mau bunuh diri ya?"

"Bunuh diri apa?"

"Ga usah sok bingung deh. Tadi kamu jalan ke tengah laut kan?"

Jalan ke laut? Ia merasakan seluruh tubuhnya basah kuyup dan kotor karena airnya mengandung pasir. Ia juga melihat Zoro tak kalah basah dengan dirinya. Memangnya apa yang terjadi? Nami pun mencoba mengingat kembali. Tadi ia pulang sendiri setelah meninggalkan Luffy di gerbang sekolah. Lalu saat melewati pesisir pantai, langkahnya berbelok ke sana. Pandangannya kemudian menerawang jauh ke dalam sebuah kenangan, membuat hamparan laut di hadapannya seolah lenyap. Dan ia tak sadar sudah berjalan terlalu jauh. Terlalu ke tengah.

Apa aku tenggelam?

Ia lalu ingat betapa ia tadi tengah meratap dan mengumpat dalam hati bahwa ia tidak mau sendirian. Bahwa Sanji ia anggap meninggalkan dirinya seenaknya tanpa tahu perasaannya. Bahwa ia ingin...

...menyusulnya?

Benarkah itu?

"Oi Oi! Jangan bengong dong," seru Zoro membuyarkan lamunan Nami. "Kita masih harus menolong Luffy."

Apa katanya? Luffy? Tunggu dulu, pikir Nami. Suara yang terdengar memanggilnya pertama tadi saat masih di air memang bukan suara Zoro yang berat tapi suara cempreng yang khas milik seseorang. Nami pun menoleh ke samping. Ia melihat Luffy yang tergeletak basah.

"Luffy!" Nami segera mendekatinya. Ia menempelkan telinganya ke dada Luffy dan mengecek aliran napasnya.

"Untung tadi kami naik motor di belakangmu," kata Zoro. "Kalau tidak, mungkin kami terlambat menolongmu."

"Kami?" tanya Nami. "Jangan-jangan si bodoh ini..."

"Dia langsung melompat dari motor dan mengejarmu sebelum aku benar-benar berhenti," lanjut Zoro. "Sudah tahu ga bisa berenang malah mencebur ke laut, menyusahkan saja,"

Nami mendadak lemas. Bagaimana kalau Luffy juga ikut mati? "Perutnya kembung, Zoro," jelasnya panik.

"Lakukan pernafasan buatan sana!" jawab Zoro.

"Kau menyuruhku?"

"Kan gara-gara kamu dia tenggelam. Tanggung jawab sedikit knapa?"

"Bo-bodoh. Itu sama saja dengan ciuman pertamaku! Aku tidak mau!"

"Kenapa kamu samakan dengan ciuman?" Zoro cukup kaget bahwa Nami bahkan ternyata belum pernah ciuman dengan Sanji. Ah, tapi itu tak penting. "Ini menyelamatkan nyawa seseorang tahu!"

"Makanya, kau saja yang lakukan!" seru Nami. "Cepat! Sebelum dia mati!"

"Kamu cerewet sekali," geram Zoro. "Ya sudah. Minggir!"

Zoro pun melakukan pernafasan buatan pada Luffy. Nami membantu dengan memompa dadanya. Tak lama kemudian Luffy pun terbatuk dan memuncratkan air dari mulutnya.

"Aduh, aduh. Sakit!" teriaknya gelagapan, merasakan paru-parunya sudah terbebas dari rasa sakit yang membakar.

"Bangun, bodoh!" seru Nami memukul kepala Luffy.

"Kau yang bodoh!" balas Luffy secepat itu pulih.

"Berani-beraninya kau berkata itu padaku!" lanjut Nami. Ia memang sering mengatai para Monster Trio itu dengan sebutan bodoh tapi mereka belum pernah membalasnya dengan kata yang sama. "Kau itu bodoh karena selalu bertindak tanpa pikir panjang tahu!"

"Lalu apa maksud perbuatanmu tadi?" seru Luffy menunjuk ke arah laut. "Jadi ini mengapa kau selalu melarangku menemanimu pulang pergi ke sekolah? Agar kau bisa melakukan yang seperti tadi begitu?"

"Kau tidak akan mengerti!" kata Nami.

"Aku paling mengerti!" balas Luffy.

"Pede sekali kau mengatakan hal itu padahal kau lugu soal cinta!" Nami semakin membentak.

Memang ia tak merencanakan untuk bunuh diri, sesuatu yang sejak dulu ia anggap konyol. Rasanya ia ingin menyalahkan kakinya yang bergerak sendiri. Sungguh ia merasa tak sadar telah melakukannya tadi. Tapi, bukankah itu berarti adalah perintah otaknya? Atau perintah hatinya yang sudah menutup diri dari keadaan sekitar? Bahwa hanya ada dirinya dan perasaan menyesal setengah mati yang tertinggal karena waktu mereka begitu singkat dan ia sudah membuang satu setengah tahun percuma sejak mengenalnya? Begitu singkat hingga rasanya tak ingin melanjutkan waktu hanya dengan terbuai harapan-harapan kosong yang dulu dijanjikan tanpa keberadaannya. Siapa yang bisa merelakan hal itu? Siapa yang bisa mengerti betapa sakitnya hal itu?

"Aku tidak mau naik motor lagi! Aku tidak mau membonceng siapa pun lagi! Aku tidak mau jatuh cinta lagi!"

Bagaimana kau bisa hidup tenang jika kematiannya yang tragis masih bisa membayangimu hingga detik ini? Ya, bagaimana kau bisa menghapus gambar yang terpatri di matamu saat melihat dirinya ditutupi helai kain sementara kau didorong masuk ke dalam mobil ambulans?

Luffy memelankan suaranya. "Aku memang tak tahu tapi Sanji tak mungkin menginginkan hal ini."

"Sudah kubilang jangan sebut nama dia lagi! Kau selalu mengatasnamakan namanya, aku muak tahu! Kau bukan penjagaku."

"Kau temanku."

"Aku tak butuh kalimat itu!"

"Aku menyayangimu sama sepertinya, Nami!" nadanya meninggi lagi. Ditegaskan.

Nami pun mendadak terdiam.

Ada apa dengan si 'lamban' ini, batin Zoro. Apa dia tahu apa yang ia ucapkan barusan dengan sadar?

"Luffy?"

Nami jadi bertan-tanya. Eh? Apa maksudnya tadi? Masa sih selama ini ia memendamnya dan membiarkan aku dekat dengan Sanji-kun? Tapi, mungkin benar juga. Kami sekelas, bangku kami bersebelahan, dan aku orang pertama yang akrab dengannya di sekolah barunya. Saat dulu aku mendadak demam di kelas, mereka berdua yang membawaku ke Rumah Sakit Drum dan menungguiku sampai Nojiko datang. Saat sebuah geng yang dikepalai Enel menantang kelompok Luffy dengan game aneh dan menyekapku di markasnya, mereka berdualah yang menyelamatkanku.

Apa itu tanda perhatian lebihnya? Yang Nami tahu otak Luffy hanya penuh dengan agenda balap dan balap –dan makanan, karena itulah ia suka menempel Sanji dan Sanji suka menempelnya sehingga mereka sering terlihat bertiga. Luffy juga menempel Sanji yang pintar untuk urusan PR, suatu kebiasaannya sejak di SMA Grand Line dulu. Namun karena beda kelas dan Sanji sudah ogah membiarkannya bersenang-senang terus tanpa mencoba menjadi pelajar yang baik di sekolah baru, Luffy kini meminta tolong Nami –dengan bayaran tentunya. Dan, Sanji tidak mau membiarkan Nami-san nya repot-repot mengerjakan PR Luffy (atau entah dengan motif lain) sehingga mereka akhirnya sering belajar bersama –yang sayangnya Luffy ada di tengah mereka, antara ingin mengganggu atau ikut-ikutan berpikir serius. Ya, setiap hari hanya seperti itu.

Apa itu bentuk cari perhatiannya? Atau memang tumbuh perasaan lain karena mereka terus bersama? Nami tak pernah menyadarinya karena sikap Luffy yang begitu polos serta sangat mementingkan persahabatan, lupa bahwa bagaimana pun ia tetaplah remaja berusia 17 tahun. Bahwa hal itu jugalah yang selalu membuatnya tak pernah menganggap Luffy lebih dari itu, tak pernah melebihi Sanji yang berulangkali mengungkapkan cintanya secara lisan dan perbuatan nyata yang begitu melekat di hati Nami.

"Ahahahaha," tiba-tiba Nami tertawa. "Apa kubilang. Barusan di sekolah kukatakan kalau kau hanya ingin berlagak jadi pacarku. Jadi ternyata benar ya? Bodoh, jangan kira karena Sanji-kun sudah tiada ini kesempatan kau bisa mengisi ruang yang ia tinggalkan di hatiku!"

Ya, aku tak mau jatuh cinta lagi. Apalagi dengan seorang yang lekat dengan motor, trauma kecelakaan itu akan terus menghampiri. Aku bahkan ingin melupakannya.

Melupakan semua...

"Maksudmu apa sih? Bukan begitu," Luffy lalu menoleh ke arah Zoro dan menatapnya. "Zoro, kau juga menyayangi Nami kan?"

Zoro menaikkan alis. Nami juga. Sepertinya pembicaraan ini ke arah lain. "Aku?"

"Kalau kau tak menyayangi Nami pasti tadi tak mau mencebur ke laut juga. Kau menolongnya lebih dulu daripada aku tadi."

Gubrak! Zoro baru ingat kalau konteks "menyayangi" dari Luffy berlaku universal untuk seluruh nakama-nya. Nami juga ikutan jatuh komikal karena berarti tadi ia membayangkan terlalu jauh. Ternyata masih sama.

"Hei, Zoro," panggil Luffy lagi karena ia belum menjawab. "Kau menyayangi Nami juga kan?" Luffy mengulangi pertanyaannya.

"Begini," kata Zoro gusar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku akan lebih benci lagi jika Nami menyia-nyiakan nyawa si Alis Pelintir. Ia telah melakukan apa yang tak bisa kulakukan di masa lalu. Kalau ingat hal itu, rasanya aku ingin menghajar diriku sendiri jika aku hanya berdiam diri melihat kejadian tadi di depan mata."

Nami tidak terlalu mengerti maksud Zoro. Apa dulu Zoro pernah mengalami kejadian serupa dengannya?

"Intinya kau sayang Nami atau tidak?" tanya Luffy lagi, sama tidak mengertinya.

"Iya, bawel!" jawab Zoro. "Kita semua teman. Karena itulah kita tak mau membiarkannya terus-terusan menderita seperti ini. Benar begitu kan?"

"Benar, shishishi," kata Luffy menoleh ke arah Nami kembali dan merentangkan tangan, "Tuh kan. Banyak yang menyayangimu, Nami,"Kau masih punya kakakmu, aku, Zoro, dan yang lainnya. Saat dimana kita menyayangi seseorang berarti saat kita ingin menjaganya. Hanya itu yang kupikirkan. Kubilang aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi Sanji. Aku tak mau kehilangan siapa pun lagi."

"Lantas, kenapa kau harus pakai namanya?" tanya Nami. Jadi yang tadi itu bermakna ambigu, batinnya. "Ketahuilah, hal itu semakin membuatku sesak karena..."

"Pak Asap itu yang bilang," potong Luffy. "Ia kenal Monster Trio karena pernah menangani kami. Dan saat identitas Sanji dikenali, ia lalu menanyaiku dan Zoro mengenai status hubungan kalian untuk memantapkan kesimpulan."

"Itu kan hanya kecelakaan biasa?"

"Sekilas memang nampak seperti kecelakaan biasa. Sanji mengorbankan nyawanya, Nami. Ia telah memberimu peluang hidup. Aaargh, aku lupa kata-kata Pak Asap. Pokoknya Sanji tak ingin membuatmu cemas dan takut bahwa akan terjadi hal yang buruk menimpa kalian."

Be-benarkah, batin Nami.

"Pakai helm-ku, Nami-san. Peluk aku erat dan pejamkan matamu..."

Saat itu, tak ada yang menyadarinya.

"Kau tak bermaksud melupakannya kan?" lanjut Luffy. "Aku hanya ingin mengingatkanmu, Nami. Kupikir, kalau kau tahu betapa ia ingin kau hidup, kau bisa cepat semangat dan tak mungkin bertindak bodoh seperti tadi. Maaf, kalau selama ini aku bertindak kelewatan dan membuatmu marah."

Mendadak Nami kembali ingat sebuah kenangan lain. Sebuah dialog yang terlupakan...

.

.

"Nami-san, kau paling suka film apa?" tanya Sanji saat suatu ketika mereka lewat di depan bioskop yang penuh dengan tempelan poster film.

"Apa ya? Macam-macam sih," jawab Nami.

"Film horor seperti Luffy suka?"

"Horor? Tidak, terima kasih,"

"Kalau film action seperti Marimo?"

"Itu lumayan. Asal tidak terlalu keras saja. Kalau mengandalkan banyak efek biasanya aku suka. Kenapa sih tiba-tiba kau tanya itu?"

"Hanya ingin tahu apakah seleramu sama dengan mereka. Luffy itu aneh karena setiap hantu atau zombie-nya keluar, dimana justru penonton lain menahan napas atau menjerit, ia malah kegirangan dan bilang itu sangat keren, entah yang dimaksud sungguhan atau make up-nya. Sedangkan Marimo itu butuh action yang keras. Semakin keras dan menegangkan maka ia bisa tahan untuk tidak mengantuk di dalam bioskop. Kau tahu kan ia hobi tidur dan mudah tertidur?"

"Hooo," seloroh Nami. "Bilang saja kau ingin mengecek apakah aku bersedia menonton bioskop bersama mereka jika suatu saat nanti diajak. Agar kamu tidak perlu cemburu begitu?"

"Hehehe..."

"Huh, dasar. Kau kira aku tidak hapal dirimu apa?" lanjut Nami."Memangnya kamu suka film apa sih?

"Aku paling suka film Drama."

"Kau berbohong hanya untuk menyamakan seleraku kan?"

"Waaaaah, jadi kita suka jenis film yang sama? Senangnya..." Sanji mulai berputar melakukan tarian cinta.

Nami sweatdrop dan menegurnya. "Pasti kau suka film porno. Ngaku saja!"

"Itu sih cuma buat selingan."

"Tuh kan," Nami menjitak Sanji. "Memang kamu otak mesum."

"Hei, kubilang kan cuma untuk selingan," protes Sanji. "Aku benar-benar suka drama kok. Seperti Braveheart, Armageddon, Titanic, Pearl Harbour, Cold Mountain."

"Wow, itu kan film keren semua. Aku juga pernah menontonnya."

"Benar kan? Aku suka sekali dengan kisah-kisah pengorbanan mereka. Apalagi dengan ending saat bagaimana sang tokoh utama berjuang agar orang yang dikasihinya bisa terus hidup dan bagaimana orang yang ditinggalkan bisa tetap kuat."

.

.

...Tetap kuat.

Bagaimana aku bisa lupa? Bagaimana aku nyaris menyia-nyiakan pengorbanannya?

"Nami-san. Apa kau mencintaiku?"

Itu kata-katanya di atas motor. Nami sadar waktu yang terlalu sempit bukan menjadi alasan kita sudah tidak bisa mencintai orang yang telah tiada. Ke pantai, ke bioskop, ke mall, ke kafe; semua waktu yang hilang untuk memadu kasih itu; bukan itu caranya. Terlalu mencintai seseorang juga bukan alasan bahwa kita tak bisa merelakannya. Saat Nami menjawab "iya" maka itu tandanya Sanji percaya bahwa Nami telah paham hal ini. Seperti film kesukaan mereka.

"Aku mencintaimu, Nami-san. Selalu dan selamanya."

Aku juga, Sanji-kun. Kau tetap cinta pertamaku. Terima kasih untuk segalanya meski hanya sebentar.

.

.

"Nami?" tanya Luffy memandanginya karena lama tidak ada respon. Kemudian ia panik saat mengetahui Nami ternyata menangis. "Waaa Waaa, apa yang kulakukan?" Luffy pun merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap air matanya. "Saputanganku basah, pinjam punyamu, Zoro."

"Bodoh! Punyaku juga basah," jawabnya.

"Di tas ada tisu tidak?" tanyanya lagi.

"Kau pikir aku bawa barang begituan?" balas Zoro. "Itu cewek yang biasanya bawa."

"Tas Nami... Tas Nami," Luffy mulai mencari-cari tasnya. Barulah ia tersadar. "Gawat, tas dan tongkatnya hanyut! Kita tadi tak mengambilnya."

"Mana sempat tadi aku memikirkan itu? Menyelamatkan dua orang saja udah untung."

BLETAK! JDUAK!

Luffy dan Zoro kaget mendapat serangan saat mereka tengah berdebat. Mereka pun menoleh ke belakang dan melihat Nami mengepalkan tangan dengan aura setannya.

"Kalian harus mengganti rugi!" seru Nami. "Di tasku ada uang 3500 yen; bedak, cermin, dan sisir total 2000 yen; buku dan alat tulis 745 yen; kotak bekal Nojiko 683 yen, dan harga tas itu sendiri 1800 yen."

"JADI UANG LEBIH BERHARGA DARI NYAWAMU, HAH?" Luffy dan Zoro sweatdrop.

"Kalau kalian tadi membiarkan aku mati maka aku tidak perlu ambil pusing soal kehilangan uang."

"Sanji pasti menangis di alam sana karena menyesal berkorban untukmu," kata Luffy.

BLETAK!

"Dasar cewek iblis," komentar Zoro.

JDUAKK!

"Oi, hentikan Nami," seru Luffy. "Kamu kenapa sih?"

Nami tersenyum lebar. "Hahaha, ga tau. Rasanya aku ingin memukul kalian."

"Memangnya kami barang pelampiasanmu apa?" Zoro kesal diperlakukan seenaknya begitu. Meski demikian ia tahu, bahwa itu pertanda kesedihannya sudah menghilang. Teman mana yang tak ikut senang dengan itu?

"Ga pa pa, Zoro. Waktu itu, aku juga langsung mencari berandalan Shounan untuk kupukul hahaha..."

"Iya aku tahu... Kita juga sempat berkelahi sekembalinya kau."

Mendengar hal itu, Nami kembali menyadari sesuatu. Bodohnya aku, batinnya. Mereka kan juga kehilangan Sanji-kun. Kenapa aku berpikir hanya aku seorang saja yang bersedih?

"Kalau begitu, kenapa kamu pake menangis tadi, Nami? Menipu ya?" tanya Luffy ke Nami lagi.

"Bodoh! Itu namanya air mata lega tahu!" jawab Nami.

"Oh, lega? Syukurlah, shishishi..."

Masih duduk di atas pasir, ketiga sahabat itu pun tersenyum lepas. Matahari menyinari mereka. Melihat bayangan yang jauh memanjang di sampingnya, Zoro merasa bahwa waktu sudah semakin sore.

"Kalau begitu kita bisa pulang kan? Masalah sudah selesai," kata Zoro berdiri dan menepuk-nepuk celananya untuk menurunkan pasir ia lalu mengulurkan tangan pada Nami. "Nah, kau mau diantar pake motor berboncengan bertiga atau mau tetap berjalan kaki dengan kaki seperti itu tanpa tongkat?"

"A-Aku masih takut naik motor, Zoro," kata Nami berdiri menyambut tangan Zoro.

"Maaf," kata Zoro. "Tapi kau tidak mungkin pulang sendiri kan? Sudah mau diantar Luffy?"

Nami lalu menatap Luffy yang akhirnya berdiri belakangan. Merasa bersalah bahwa dalam beberapa hari ini sudah mengasarinya dan menolak semua perhatian tulusnya...sebagai teman. Apa Luffy masih mau mengantarnya?

"Aku bersedia menggendongmu, Nami," kata Luffy.

Menggendong? "Ta-tapi, Luffy."

"Ayolah, biar nanti cepat sampai rumahmu. Baju kita basah, bisa masuk angin kalau tidak lekas ganti. Aku bisa berlari, lagipula kita sudah setengah jalan. Tidak apa-apa kok, shishishi..."

Nami menghela napas. Harusnya ia sudah tahu Luffy tak mungkin mempermasalahkan yang sebelumnya. Ia pun tersenyum. "Thanks."

Mereka bertiga lalu berjalan ke jalan raya, tempat motor Zoro diparkir. Zoro pun duduk di motornya dan Luffy bersiap menggendong Nami.

"Tu-tunggu sebentar," kata Nami menghentikan gerakan Zoro dan Luffy. "Kalau begitu, siapa tadi yang memberikan nafas buatan untukku?"

"Tentu saja aku lah. Tidak ada orang lain kan di situ." Jawab Zoro begitu entengnya.

.

.

Senyap.

.

.

BLETAK! JDUAK!

Untung Zoro belum memakai helmnya sehingga Nami bisa memukul kepalanya lagi sampai puas.

"Ci-ciuman pertamaku..." isak Nami.

"Apa urusannya dengan ciuman pertamamu? Mana aku tahu?" Zoro tetaplah meringis kesakitan karena Nami sungguh-sungguh memukulnya. "Toh, itu bukan ciuman pertamaku. Makanya kan tadi kusuruh kau gantian melakukannya pada Luffy."

Nami makin kesal dengan jawaban cuek Zoro. "Malam nanti aku jamin Sanji-kun akan menerormu dalam mimpi!" kata Nami.

"Oh, di dalam mimpi pasti nanti dia akan berterima kasih padaku karena telah menolongmu. Sesekali aku ingin melihatnya bersujud di hadapanku."

"Mustahil..." kata Luffy mengibaskan tangan. Ia tidak bisa membayangkannya mengingat perkelahian rutin dua orang itu. "Ia pasti mencekikmu, mematahkan lehermu, membacokmu, lalu menggergajimu menjadi 7 bagian, dan mengubur mayatmu di 7 tempat berbeda..."

"Kau kebanyakan nonton film horor, Luffy," balas Zoro. "Ini bukan Nightmare of Elm Street."

"Tentu saja bukan, itu Rumah Dara," cerocos Luffy. "Eh, Rumah Dara kan ga ada adegan penguburannya."

"Kau juga akan diteror karena selalu menginterupsiku dan Sanji-kun, bodoh!" kali ini Nami mengacungkan telunjuknya pada Luffy. "Gara-gara kau, aku belum pernah jadi ciuman dengannya."

"Kalau begitu nanti bisa kuajak balapan di dalam mimpi. Aku lebih cepat pasti dia tak akan bisa mengejarku dan menerorku shishishi," kata Luffy. "Lagipula, aku kangen dia –dan masakannya."

"Masakan? Dia pasti akan memberimu makan belatung goreng, sushi isi bola mata manusia, serta jus campuran darah dan nanah," balas Zoro.

"TIDAKKKK!" Kali ini si pecinta horor itu bisa juga ngeri membayangkannya.

Nami sweatdrop melihat kesintingan nakama-nya. Tapi rasanya memang asyik seperti itu, seolah Monster Trio masih lengkap, bahwa Sanji tetap berada di samping mereka dan tak dilupakan. Nami berusaha belajar dari mereka. Ia pun ikut tertawa. Hihihi, kau tidak marah kan, Sanji-kun?

Nami lalu menatap langit sore dan memandangi barisan awan di atasnya. Hari itu sore yang sama, 45 menit setelah keluar dari gerbang sekolah, tapi juga sore yang berbeda.

Bersambung


LuNa, ZoNa, SanNa jadi satu ya kayak gini (plus ZoLu dan SanLu^^). Haha, hints-nya banyak kan? Kacian deh lo, Sanji. Ciuman pertama Nami direbut Zoro huahahaha... Pasti vocca puas kalau ada bonus ZoNa di sini. Tapi, seperti yang kutulis di atas, itu bukan ciuman pertama Zoro lho.

Oke, chapter berikutnya mengenai kisah Zoro. Awalnya mau aku jadikan oneshot terpisah alias spin-off tapi setelah kupikir-pikir mau aku sambungin aza deh di sini. Mungkin cukup satu chapter saja, nanti balik ke LuNa (hints) lagi. Tentu saja tetap bakalan bermunculan flashback, jadi Sanji juga masih ada^^. Aku masih belum ikhlas menghilangkan dia sepenuhnya dalam cerita.

Terkait dengan review Thepoetry, dimana aku kurang bisa mendeksripsikan suasana hati, masalahnya, aku membayangkan Strong World di mana Luffy ga baca pesan Nami secara lengkap dan salah paham sehingga emosinya memuncak, kupikir kalian juga paham. Seperti saat Luffy ingin menghajar berandalan itu juga aku membayangkan adegan ia menghancurkan bebatuan di Pulau Kuja. Atau di chapter ini saat Sanji meninggalkan cewek-cewek lain untuk menghampiri Nami itu juga terinspirasi langsung dari adegan di Baratie. Sisanya, bisa kalian bayangkan adegan Drum Island dan Skypea. Kenapa Luffy suka film horor juga tinggal bayangin Thriller Bark dimana dia malah pengen ngajak Zombie jadi kru. Bagaimana pun ternyata aku tetep ga bisa lepas dari Canon.

Oiya, lalu kenapa Nami begitu cepat lega hanya dengan kalimat Sanji, bayangkan sendiri adegan 5 film tsb *author nakal* Ada yg ga tau filmnya?