Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Sword Art Online milik Reki Kawahara

.

.

.

Multipairing:

Naruto x Asuna

Kirito x Shino

Genre: adventure/scifi/family

Rating: T

Setting: Canon (Sword Art Online)

Kamis, 16 Mei 2016

.

.

.

Fic request untuk Firdaus Minato

.

.

.

MY BROTHER, YOU ARE THE BEST

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

TAP! TAP! TAP!

Langkahku kuayunkan kembali karena sekarang aku berada di Algade City. Karena aku ingin memeriksa sekali lagi tanda-tanda keberadaan adikku. Entah siapa dia di dunia ini. Aku tidak tahu dia menggunakan nama apa. Namun, yang pasti aku akan menemukannya sebelum game ini berhasil ditaklukkan. Aku ingin memastikan Kazuto tetap hidup dan baik-baik saja selama di dunia digital ini. Itulah harapanku.

Algade City yang berada di lantai 50 ini, diterpa sinar matahari yang begitu menyengatkan kulit. Awan-awan putih yang berarak di langit biru yang tertampil di atas lantai. Burung-burung berkicau dengan riangnya karena menyambut pagi hari yang begitu damai. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Saatnya bagi para pemain keluar dari persembunyiannya dan bergegas untuk melakukan aktifitas sehari-harinya.

Area ini tidak begitu ramai. Teleport Gate tampak berada di tengah Algade. Di bagian tengah dari plaza yang melingkar, sebuah gerbang yang terbuat dari logam berdiri setinggi lima meter lebih. Di dalamnya, udara berputar-putar seperti sebuah pusaran dan orang-orang yang teleport keluar masuk. Empat jalan utama membentang di keempat arah dari plaza, dan di sisi dari semua jalan itu, banyak toko-toko kecil yang berdiri. Player-player yang akan pergi menjelajah, terlihat berbincang-bincang di depan toko makanan atau minuman.

Jika seseorang mencoba mendeskripsikan Algade ke dalam satu kata, itu pasti adalah "berantakan".

Tidak ada jalan besar seperti yang ada di Starting City dan banyak jalan gang yang bersilangan di seluruh kota. Ada toko-toko yang kau mungkin tidak tahu apa yang dijualnya, dan penginapan yang terlihat seperti kalau kau tidak akan pernah bisa keluar jika kau masuk ke dalam.

Sebenarnya, ada banyak player yang secara tidak sengaja memasuki salah satu gang di Algate dan tersesat selama beberapa hari sebelum bisa keluar. Aku sudah pernah ke sini hampir setiap hari, tapi aku masih tidak hapal setengah dari jalan di sini. Bahkan NPC di sini adalah orang-orang aneh yang pekerjaannya susah untuk ditebak, dan itu membuatmu berpikir kalau orang yang menjadikan tempat ini sebagai tempat tinggal sekarang ini adalah orang-orang aneh juga.

Tapi aku menyukai jalan-jalan di sini. Aku tidak bohong saat aku pernah bilang satu-satunya waktu aku merasa tenang adalah ketika aku meminum teh berbau aneh di sebuah toko di pojokan yang biasa kukunjungi. Alasan di baliknya adalah karena aku merasa tempat itu terasa sedikit mirip dengan toko elektronik yang sering kukunjungi bersama Kazuto di dunia nyata. Ya, tidak terlalu juga. Aku sendiri juga tidak tahu.

Tapi, aku merasakan adanya suatu fenomena yang mendadak karena begitu banyaknya pemain yang datang kemari. Dari arah kejauhan ujung jalan yang kupandang, sebuah toko kecil ramai dikerubungi oleh orang-orang. Aku cukup mengenal toko itu, pemiliknya bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Namanya Agil, seorang pria botak yang senang menjual peralatan, senjata, bahan-bahan makanan dan suka menawar serta membeli sebuah item jika ada player yang datang ke tokonya untuk sekedar menjual item. Umurnya mungkin berkisar 30 ke atas. Tapi, itu baru perkiraanku saja.

"Kenapa di toko Agil ramai sekali ya?" tanyaku pada diriku sendiri. Memandang dari kejauhan dengan tampang penasaran.

Tidak akan ada yang menjawab pertanyaanku ini. Tapi, aku rasa aku memang membutuhkan jawabannya segera hingga tanpa kusadari memang ada suara lembut yang menjawab pertanyaanku itu.

"Mungkin orang-orang ingin bertanya pada Agil soal di mana Kirito sekarang."

Spontan, kulirik ke arah samping kananku. Seorang gadis berambut panjang kastanye dan bermata coklat karamel serta memakai pakaian serba merah putih, sudah berdiri dengan anggunnya. Di pinggangnya, terseliplah sebuah pedang tipis dan ramping. Pedang sejenis rapier. Dia adalah wakil ketua dari guild KoB (Knight of Blood) itu. Aku sangat mengenalnya.

"Asuna ...," begitulah aku memanggilnya.

Dia adalah gadis manis yang kukenal saat ikut bergabung dalam penaklukan boss monster di dungeon tepat di lantai 45. Waktu itu, dia bersama laki-laki berpakaian serba hitam yang dikenal dengan nama Kirito. Kirito itu adalah temannya. Mereka cukup akrab dan saling mengenal sejak setahun yang lalu.

Namun, aku akui dia adalah gadis manis dari sedikit para player perempuan yang bermain di SAO. Merupakan primadona di dunia ini. Banyak pria yang sangat mengaguminya dan mengejar-ngejar dirinya. Bahkan ada yang berniat menjadi pengawal setianya yang akan melindunginya kemanapun dia pergi. Tapi, dia tidak menggubris hal tersebut dan tetap bersikap cuek. Dia tidak ingin dilindungi. Ingin bebas seperti burung yang terbang di angkasa.

Sejujurnya aku juga terpikat dengan bidadari surga di depanku ini. Apalagi dia menunjukkan senyumnya yang begitu memikat hati. Serasa melayang-layang ke langit ketujuh sekarang juga.

"Hei, kau kenapa?"

Aku tersentak saat Asuna mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Membuat lamunanku buyar seketika.

Dengan tertawa ngeles, aku menutupi rasa gugupku agar Asuna tidak curiga.

"Hah? Ti-Tidak ada."

"Kau aneh sekali, tahu!" wajah Asuna sedikit sewot."Apa yang kau pikirkan sih sehingga kau melihatku sampai segitunya?"

Aku benar-benar salah tingkah. Rasa gugup menguasai tubuhku. Dapat kurasakan semburat merah mulai muncul di dua pipiku.

"Benar. Nggak ada apa-apa kok. Aku nggak ada mikir apapun."

"Bohong! Kau pasti bohong! Kau mikir yang nggak-nggak tentang aku, kan? Ayo, ngaku!"

Gadis itu agak mencondongkan badannya ke depan. Sebagian bajuku ditariknya dengan kuat. Wajahnya cukup dekat dengan wajahku. Sehingga aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang cantik itu tepat di depan mataku.

Dapat kurasakan detakan jantungku meningkat dengan drastis. Rasa panas menguasai wajahku yang telah memerah rebus.

"Ka-Kalau gitu, aku minta maaf."

"Huh, iya. Aku maafkan. Dasar, Menma menyebalkan!"

Dengan wajah yang memerah padam karena kesal, dia pun menjauhkan dirinya dariku. Aku bernapas lega dan mematung sebentar sembari melirik dirinya lagi.

Setelah itu, iris coklat karamel itu menyudut ke arahku.

"Hari ini, kau ke sini lagi. Apa kau masih mencoba mencari keberadaan adikmu itu?"

DEG!

Jantungku agak kaget mendengarnya. Kedua mataku sedikit membulat lalu meredup sayu. Kupalingkan pandanganku ke jalanan, di tempatku berdiri saat ini.

"Ya, aku tetap terus mencarinya sampai ketemu. Itulah yang bisa aku lakukan sekarang, Asuna."

Ekspresi gadis itu entah bagaimana sekarang karena aku tidak bisa memperhatikannya dengan jelas. Kepalaku tertunduk. Perasaan kehilangan ini bergetar. Kedua tanganku mengepal kuat-kuat.

Asuna juga mengetahui tentang semua diriku. Tapi, aku tidak terlalu membeberkan siapa diriku yang asli padanya di dunia nyata. Sebab, para player tidak boleh mengungkit siapa sebenarnya mereka di dunia virtual ini. Aku tidak tahu pasti, namun begitulah peraturan resminya.

Di dunia SAO ini, aku memakai nama samaran "Menma" yang sama artinya dengan namaku, Naruto. Aku dikenal sebagai solo player yang menggunakan pedang jingga bergagang musang sehingga orang-orang menyebutku "Yellow Knight". Aku memiliki skill secepat api yang membara dengan lintasan cahaya kuning seperti api. Itulah skill one handed sword yang kukembangkan selama menjadi solo player. Kerjaku terus memburu monster, mengalahkan boss monster di dungeon, menolong para pemain lainnya dan menjelajah seluruh lantai seharian hanya untuk mencari tanda-tanda keberadaan adikku. Kazuto, yang belum juga kutemukan di SAO selama hampir dua tahun. Entah bagaimana nasibnya sekarang.

Sampai aku bertemu dengan Asuna dan Kirito. Mereka sudah menjadi teman dekatku selama setahun ini. Tapi, hanya Asuna yang paling dekat denganku daripada Kirito. Menurut Asuna, Kirito itu sangat menyebalkan, payah dan selalu tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan. Namun, Kirito sangat hebat dalam teknik berpedang. Apalagi setelah diketahui dia bisa menggunakan skill dual sword itu pada saat bertarung melawan boss monster di lantai 74, seisi Aincrad gempar dan berlomba-lomba hanya ingin bertemu dengannya. Ibaratnya dia menjadi artis dadakan yang dipuja-puja oleh semua orang.

Kabar itu kuketahui dari Asuna, kemarin. Aku tidak sempat ikut bergabung dengan mereka dalam penaklukan boss monster di lantai 74. Fokusku hanya ingin mencari keberadaan adikku. Aku ingin menemukannya sebelum game ini berhasil ditaklukkan.

"Menma ...," suara Asuna terdengar pelan dan lirih."Aku mengerti perasaanmu itu."

Aku pun mendongakkan kepalaku. Menengok pada Asuna yang berwajah kusut. Kedua matanya yang cantik itu meredup. Dia tersenyum penuh arti.

"Pasti suatu hari nanti, kau akan menemukan adikmu. Aku yakin itu. Yang penting kau berusaha dan nggak pantang menyerah. Aku sebagai temanmu, akan ikut membantumu, Menma," sambung Asuna lagi. Tangannya yang terbalut sarung tangan putih bergerak dan menggenggam tanganku seerat-eratnya.

Aku terpaku. Tidak bisa berbicara apa-apa karena terpesona dengan senyuman dan perhatian malaikat cantik ini. Membeku seperti di tengah badai salju yang menerpa diriku sekarang.

Semburat merah tipis muncul lagi di dua pipiku. Gadis itu tersenyum dengan manisnya.

"Ya sudah. Hari ini kau akan kemana?" dia bertanya sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kugaruk pipi kananku dengan gerakan halus.

"Hm ... Kupikir ... Aku akan sarapan dulu soalnya aku belum makan apa-apa dari rumah tadi."

Gelak tawa terdengar terkekeh di gendang telingaku. Aku melihat Asuna lagi. Dia tertawa dengan riangnya.

"Hahaha!"

"Kok kau ketawa sih?"

"Habisnya kau hampir mirip dengan Kirito. Selalu pergi terburu-buru tanpa makan terlebih dulu."

Entah mengapa aku merasa malu sendiri. Apalagi dapat kurasakan perutku tidak mau kompromi lagi. Meminta jatah makanan sekarang juga.

"Bagaimana kalau kita makan dulu? Tapi, nggak di sini."

Keningku mengerut. Tidak mengerti.

"Di mana?"

"Di rumahku."

Tanpa menunggu persetujuan dariku, Asuna langsung menggenggam tanganku dan menyeretku berbalik arah. Dengan tujuan ke Gate Teleport. Kami akan menuju ke tempat Asuna tinggal selama di dunia virtual ini yaitu Salemburg.

"Tu-Tunggu dulu, Asuna!" teriakku kelabakan.

"Pokoknya ikut saja!" Asuna terus menyeretku dengan paksa.

Ya, terpaksa aku menuruti permintaannya. Setidaknya aku merasa senang karena bisa berdekatan dengan gadis yang kukagumi ini.

.

.

.

Salemburg adalah kota yang mirip dengan kastil dan memiliki pemandangan indah yang terletak di lantai 61.

Kota Salemburg tidak terlalu besar. Tapi, kota dengan kastil yang berada di tengahnya itu terbuat dari batu granit putih, dan diwarnai dengan warna hijau yang kontras. Ada lumayan banyak toko di sini, jadi ada banyak player yang ingin menjadikan kota ini sebagai rumah mereka. Tapi karena karena rumah-rumah disini sangatlah mahal — harganya mungkin setidaknya tiga kali lebih mahal dibandingkan harga rumah di Algade — hampir mustahil untuk membelinya kecuali kau sudah berlevel tinggi.

Ketika Asuna dan aku sampai di teleport gate Salemburg, mataharinya tampak menyinari jalanan. Sebagian besar dari lantai 61 dipenuhi oleh sebuah danau besar dan Salemburg berada di sebuah pulau di tengahnya, jadi orang- orang bisa melihat pemandangan yang seperti sebuah gambar di kanvas di mana cahaya matahari pagi terpantul di danau.

Aku memandangi kota dengan terpesona, napasku berhenti sesaat karena kecantikan kota yang disinari oleh warna biru dan merah dengan danau yang sangat luas di baliknya. Tidak terlalu sulit bagi Nerve Gears untuk menciptakan efek pencahayaan seperti ini dengan CPU generasi baru dan diamond semiconductor nya.

Teleport gate-nya terletak di plaza di depan castle dan jalan utama, yang menuju ke utara, melewati kota dengan dikelilingi oleh lampu-lampu jalan. Toko dan rumah terbaris dengan rapi di kedua sisi jalan, dan bahkan NPC di sini berjalan berkeliling dengan pakaian yang terlihat bagus. Aku menarik napas yang dalam, bahkan udara disini berbeda dari udara di Algade, tempat yang kukunjungi tadi.

"Hmm ... Tempat ini luas dan hanya ada sedikit orang. Aku suka dengan tempat yang luas seperti ini."

"Kalau begitu kenapa kau tidak pindah?"

"Aku tidak punya uang yang cukup," Aku menjawab sambil menunjukkan cengiran khasku.

"Oh," Asuna membulatkan mulutnya seperti huruf o."Kalau gitu, ayo ikut aku!"

Dia masih saja menggenggam tanganku dan menyeretku dengan paksa. Aku kewalahan mengikutinya dari belakang.

Beberapa player berjalan melewati kami, tapi tidak ada seorang dari mereka melihat ke arah kami. Tapi, sebelum langkah kami mencapai ke tujuan, aku melihat ke arah pahatan indah yang memenuhi kota, aku berpikir kalau tinggal di kota seperti ini untuk beberapa waktu, tidaklah buruk. Tapi, kemudian aku mengubah pikiranku dan memutuskan kalau lebih baik jika aku hanya datang ke sini beberapa waktu sekali untuk melihat-lihat.

Rumah yang ditinggali Asuna adalah rumah bertingkat tiga yang kecil tapi indah yang bisa ditemukan dengan berjalan ke arah timur dari area pusat kota selama beberapa menit. Tentu saja itu adalah untuk kedua kalinya aku ke sini.

Sekarang jika dipikir-pikir, aku hanya menghabiskan waktuku untuk mencari adikku yang hilang dan kami bahkan tidak pernah bersama-sama makan di restoran NPC sebelumnya. Ketika aku sadar akan hal ini, aku berhenti di depan pintu dan bertanya.

"Apakah ini … Boleh? Kau tahu …"

Dia melirikku dan berdiri tepat di sampingku.

"Nggak apa-apa kok. Ayo, masuklah!"

"Ma-maaf mengganggu."

Aku membuka pintu dengan ragu- ragu lalu berdiri di sana tanpa bisa berbicara.

Aku melihat rumah yang serapi ini sebelumnya. Tetap dalam keadaan yang sama ketika aku berkunjung di sini untuk pertama kalinya. Ruang makan yang lebar dan dapur yang berada di sampingnya mempunyai furniture yang terbuat dari kayu yang berwarna cerah, dan di dekorasi dengan kain hijau tua.

Tanpa sadar, sudah beberapa menit, aku mematung di dekat pintu. Terdengarlah suara lembut Asuna yang menyadarkanku.

"Kok kau malah bengong di situ sih? Aku sudah suruh kau masuk, kan?"

Aku menganggukkan kepalaku dengan wajah yang polos. Lalu kulihat Asuna berjalan menuju dapur.

"Duduklah dulu di dekat meja dapur. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."

Sekali lagi aku mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata apapun dari tenggorokanku. Aku masuk ke dalam dan mengikuti langkah Asuna yang berjalan menuju dapur.

Dapurnya luas, dan berbagai alat memasak yang terletak di samping oven terlihat agak mahal.

Asuna meng-click dua kali di permukaan oven, mengatur waktu di pop up window yang muncul, dan mengeluarkan panci logam dari lemari. Dia menaruh daging mentah yang diambilnya dari akun windownya, memasukkan beberapa herb, dan menuangkan air ke dalamnya sebelum menutup pancinya.

"Jika ini memasak sungguhan, akan perlu membuat beberapa persiapan terlebih dahulu. Tapi, memasak di SAO sangat singkat hingga menjadi tidak menyenangkan."

Dia menaruh pancinya di dalam oven dan menekan tombol "start" di menu sambil menggerutu. Bahkan sambil menunggu selama 300 detik, dia membuat berbagai macam makanan lainnya dengan cepat. Aku melihatnya sambil bengong karena terpana, sebab dia tidak melakukan kesalahan sedikitpun dalam mengoperasikan menu dan mempersiapkan makanan.

Hanya dalam lima menit, mejanya sudah penuh dengan makanan dan Asuna dan aku duduk berhadapan di depan meja. Stew yang berwarna coklat itu terlihat sangat enak di depan mataku. Baunya yang tercium bersamaan dengan uap yang keluar membuatku semakin lapar. Saus yang lembut menutupi daging yang tebal dan krim putih yang berada di atasnya sangat mempesona.

Kami mengangkat sendok bersamaan, dan merasa kalau waktu untuk berkata "selamat makan" bahkan terlalu panjang. Lalu kami memakan sesendok penuh makanan terbaik yang pernah ada di SAO. Aku merasakan panas dan rasanya di dalam mulutku ketika aku menggigit dagingnya, dan cairan di dalamnya meleleh di mulutku.

Makan di SAO tidak memperhitungkan perasaan dari menggigit makanannya. Melainkan menggunakan "Taste Reproduction Engine" yang dibuat oleh Agas dan para programer pendesain yang bekerja sama. Sinyal itu mengirimkan sensasi "makan" yang telah diprogram dari berbagai makanan dan bisa membuat penggunanya merasa seperti mereka benar-benar memakan sesuatu. Itu sebenarnya dibuat untuk orang-orang yang sedang diet atau butuh membatasi jumlah makanan yang mereka makan, jadi Nerve Gear mengirimkan sinyal palsu ke bagian dari otak yang merespon panas, rasa, dan bau untuk membuat perasaan itu. Dengan kata lain, tubuh asli kami tidak benar-benar makan sesuatu sekarang ini dan yang sebenarnya terjadi adalah programnya mengirimkan sinyal secara acak untuk merangsang otak kami.

Tapi, memikirkan hal seperti itu di situasi ini tidaklah keren. Aku tidak salah lagi sedang memakan makanan terbaik yang pernah kurasakan sejak log in ke SAO.

Asuna dan aku tidak mengatakan apapun dan melanjutkan makan kami. Akhirnya, setelah kami memakan habis semua makanan kami dan membiarkan piring dan panci kosong di depannya, Asuna menghela napasnya.

"Ah ... Senangnya aku bisa makan bersamamu seperti ini."

Aku tertegun mendengar ucapannya barusan. Sejenak kurasakan jantungku berdetak lagi. Pasti wajahku sedikit memerah sekarang. Tapi, aku tidak mampu jua mengatakan apapun. Hingga aku meneguk teh yang berbau misterius di depanku. Apakah rasa dari daging yang baru makan dan teh yang kuminum ini benar-benar ada di dunia nyata? Atau itu hanyalah buatan dengan memanipulasi sistem? Aku memikirkan hal-hal tersebut sambil bengong.

Asuna, yang duduk di depanku dengan segelas teh yang dipegang di kedua tangannya, memecah keheningan yang ada sejak setelah makan.

"Hei, kenapa kau malah diam sih, Menma? Apa makanannya nggak enak?"

Asuna sedikit merengut. Aku terperanjat dibuatnya.

"Ah, ng-nggak. Makanannya sangat enak. Kau tahu, kau adalah koki terbaik yang pernah kutemui di dunia SAO ini," aku menjawabnya dengan senyuman kikuk."Ngomong-ngomong, kau semakin hebat dalam skill memasak ya?"

Dia memasang wajah yang sumringah. Pasti dia merasa senang mendengar perkataanku ini.

"Oh, syukurlah kalau kau menyukainya."

Senyuman lebar terpatri di wajahnya yang cantik.

"Kalau aku nggak suka, tentu saja aku nggak akan memakannya."

"Hehehe, benar juga."

Kami pun tertawa lepas di ruangan dapur itu. Hanya kami berdua saja yang menghuninya.

Teh yang kuminum sudah tandas dari gelasnya. Begitu juga dengan Asuna. Dua gelas yang kosong tersebut dibiarkan tergeletak begitu saja di meja.

"Setelah ini, kau mau kemana?" Asuna bertanya seraya melipat tangannya di atas meja.

"Mungkin aku pergi mencari adikku di lantai yang lain," ucapku enteng.

"Kalau gitu, aku boleh ikut denganmu nggak?"

"Eh?"

Aku sedikit kaget ketika dia menyodorkan kalimat itu padaku. Dia menatapku dengan pandangan yang serius.

"Tapi, kaukan berparty dengan Kirito."

"Itu nggak masalah kok. Kami hanya berparty untuk kemarin saja pas menaklukkan boss monster di lantai 74. Aku rasa Kirito sedang bersembunyi di toko Agil untuk menghindari orang-orang yang ingin bertemu dengannya. Lagipula aku merasa kesal sama dia sekarang."

"Kesal? Karena apa?"

"Pokoknya aku nggak mau kasih tahu sekarang!" tatapan mata Asuna melotot tajam ke arahku."Boleh nggak aku ikut denganmu? Kita mulai berparty mencari adikmu sekarang. Bagaimana, Menma?"

Mata coklat karamel itu berharap penuh padaku. Seakan-akan memohon sekali padaku agar aku mengiyakan permintaannya. Sungguh, hal ini membuatku tidak tega untuk menolaknya. Jadi, aku putuskan untuk menerimanya.

"Ya, kau boleh ikut, Asuna."

"Bagus! Kita mulai berparty sekarang, kan?"

"Ya."

"Arigatou, Menma."

Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat. Menyunggingkan tawa yang lebar saat melihat Asuna yang tersenyum. Dia tampak begitu senang karena dia akan mengadakan party denganku. Ini untuk pertama kalinya, kami akan bergabung dalam party.

"Kapan kita berangkat, Menma?"

"Sekarang."

"Kalau gitu, ayo!"

GYUT!

Dengan cepat, gadis itu menarik tanganku lagi. Menyeretku tanpa menunggu persetujuan dariku.

Dasar, Asuna!

Aku pun berteriak keras untuk berusaha menghentikannya. Namun, dia tidak menggubrisnya.

"ASUNA! TUNGGU DULU! JANGAN TARIK AKU KAYAK GINI DONG!"

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

BALASAN REVIEW:

wsusanto96: hai Susanto. Akhirnya kita bisa bertemu lagi ya.

Terima kasih sudah membaca fic ini. Hm, ada kok tokoh-tokoh chara dari anime Naruto yang lain. Mereka bakal muncul di chapter mendatang. Tunggu aja ya.

Ini udah up lagi.

yosi f: yap, chapter 2 udah up.

ahli kubur: oke, nggak masalah. Akan saya perjelas lagi penokohannya.

Ryuuki Namikaze Lucifer: terima kasih. Ini udah lanjut.

Yustinus224: terima kasih buat yustinus.

slamet luscfer: udah up lagi.

gilang: hm, rencananya Naruto sama Asuna. Kirito sama Shinon.

Akbar724: iya, nih lanjut.

Papa Haise The Centipede: halo juga. Oh, kamu Alfan ya. Salam kenal juga ya.

Neko Twins Kagamine: terima kasih banyak atas review-nya.

Gingga Mahardikq: terima kasih ya.

asd: nih lanjut kok.

septianamlinasteleport05: terima kasih :3

firdaus minato: yup, udah lanjut nih atas permintaanmu.

.

.

.

A/N:

Chapter 2 update.

Maaf, telat, Firdaus. Semoga kamu nggak marah ya.

Sekian sampai di sini untuk chapter 2-nya. Kalau ada waktu dan ide lagi, bakal saya lanjutin. Sampai jumpa di chapter 3.

Finish: Jumat, 17 Juni 2016