Dari sekian juta frasa di dunia, hanya dua kata paling tepat yang bisa menjelaskan situasi saat itu—gelap dan mencekam.
Tidak minim cahaya, namun auranya kelewat pekat untuk bisa ditembus sinar–setidaknya itulah yang dirasakan ketika orang melintas. Ruangan yang luas itu terfokus pada dua pria yang saling memandang. Dinding berbahan mahal menjadi sandaran bagi bayang-bayang mereka. Ketika yang satu berdiri dengan sebegitu angkuhnya, pria lain berlutut dengan kedua tangan terikat di belakang punggung.
Berpasang-pasang mata dibuat berhenti, terpaku pada lelaki dengan eksistensi yang kelewat menyilaukan–hingga butuh lebih dari sekadar kain untuk menyerap pancara cahaya sang lelaki. Ia membungkuk, bukan karena ingin merendahkan posisi, namun menunjukkan seberapa tingginya ia hingga perlu menunduk sedemikian rupa.
"Menunduk."
Dipaksa patuh, punggung pria ringkih melengkung. Menatap bengis–namun juga cinta–pada sepatu penyiksanya. Wajahnya kena lebih banyak sapuan tanah dibandingkan sol alas kaki yang dikenakan.
"Bukannya kau sudah kusuruh untuk menjadi budak yang baik, Tetsuya." Akashi bertanya sok heran. "Sekarang jilat sepatuku."
"Tidak mau."
Rantai dibentang paksa.Suara napas tertahan terdengar dari sana-sini.Tetsuya mengerang ketika tulang lehernya terasa remuk. Udara di tenggorokan menipis–ia terbatuk. "Kubilang jilat!"
Orang-orang ingin mendekat, membelanya, namun tak berani melontar sepatah kata pun. Melangkah sesenti saja ragu. Ini adalah urusan mereka—yang sengaja dieksibisikan di depan publik.
"Tidak!" keringat dan darah dari mulut bercampur menjadi satu. Kuroko melengking sengit. "Ego macam apa yang menyuruhku setia padamu seorang–padahal kau sendiri punya puluhan tawanan yang kauajak meranjang tiap malam? Tidak. Aku menolak."
"Ah, jadi kau cemburu rupanya." Mata darah berkilat bangga. Tidak peduli berapa gadis yang perlu ia lukai hanya untuk menarik perhatian pasangannya.
Leher Kuroko ditarik hingga terangkat, menatap wajah Akashi yang tanpa cela. "Apakah kau cemburu aku mengencani wanita-wanita itu?"
"Hanya orang bodoh yang melakukannya." Kuroko menjawab angkuh.Bangsawan sesuperior Akashi tidak cukup untuk menundukkan kepalanya sedikit lebih rendah. "Aku mencintai kebebasan dan harga diriku."
"Ah, kebodohan,"desah Akashi–dalam dan penuh pesona. "Seandainya Tetsuya lebih pintar, tentu saja Tetsuya tidak membiarkan dirinya diperbudak seperti ini, bukan?"
"Aku–"
"Kalau saja Tetsuya merasa dirinya lebih pintar, jauh lebih cerdas, semestinya Tetsuya sudah berdiri di sisiku. Bukan di bawahku seperti ini. Benar begitu, sayangku?"
Si budak terdiam, tersedak darahnya sendiri.
"Aku mencintaimu." Bibir pucat penuh luka dikecup. Berkali-kali dengan agresif. "Seharusnya kau mengerti. Aku mencintaimu sepenuh hati. Membiarkan Tetsuya pergi adalah sebuah kebodohan."
Kuroko terengah. Berusaha menyerap oksigen sebanyak-banyaknya paska ciuman. Ia tidak bodoh, dan semestinya Akashi juga tahu. Ia hanya pasrah. Menyerah dan menerima nasib–bukan karena lemah, namun karena situasi ini menariknya pada takdir yang mencandu. Tak seorangpun di ruangan itu–kecuali dirinya dan sang tuan itu sendiri–tahu kalau mereka kelewat sering bergelut di atas ranjang.
Bola mata kebiruan itu sudah bersimbah air mata ketika menyahut serak. "Karena itu, salahkah kalau aku juga meminta hal yang sama?"
Adegan berhenti sampai di sana. Buku ditutup setelah puas dibaca berkali-kali. Akashi menyeringai pada sosok yang cemberut di sebelahnya. "Bagaimana?"
Seperti biasa, ia menikmati hasil karyanya di perpustakaan pribadi. Isinya karya sastrawan yang namanya rata-rata tidak pernah terdengar di permukaan dunia literasi–entah bagaimana caranya mengumpulkan karya-karya itu. Membuka kembali buku-buku lama, lalu menertawakan adegan yang terlihat semakin aneh seiring berjalannya waktu. Lucu memang, otak seseorang bisa meningkat sebegitu cepatnya–lebih-lebih dalam kasus Akashi sendiri, yang tercatat sebagai salah satu dari beberapa manusia dengan karunia otak di atas rata-rata.
Dan seperti yang sudah-sudah pula, ia tidak sendirian. Layaknya seorang anak yang bergelayut manja dengan sang ibunda, ia menitahkan Kuroko Tetsuya untuk berada di sisinya. Duduk manis selama pengerjaan dan tidak boleh pergi sama sekali.
"Apanya yang bagaimana?" laki-laki itu memberengut. "Aku dijadikan korban penyiksaan–itu namanya kejam, Sei-kun. Aku tidak suka dirantai. Pasti sakit sekali."
Buku tebal berkonten setengah rim ditepuk lembut ke kepala kekasihnya. Akashi terkekeh gemas. "Kejam? Tapi Tetsuya di sini suka disiksa."
"Hanya karena Sei-kun membuatku jadi begitu. Tindakan seperti itu adalah bentuk pelanggaran hak asasi manusia."
"Kukira kau lebih peduli dengan berapa banyak perempuan yang kukencani di sini," kata Akashi. "Tidak cemburu?"
"Buat apa?"
Ah, dasar sok keras kepala.
Bibir manyun diserang dengan sekali kecup. Pelakunya hanya mengerdip nakal. "Buat memotivasiku untuk segera mengawini Tetsuya."
"Menikahi."
"Basi. Menikah hanya formalitas belaka. Tahu sendiri seberapa kerasnya orang-orang dalam hubungan sesama jenis. Kawin jauh lebih bebas dan menghargai privasi."
"Tetap saja–" Kuroko mencari-cari alasan untuk berdalih. Tidak terima harga dirinya dijatuhkan sedemikian rupa (dan tidak pernikahan sudah menjadi satu kemustahilan bagi mereka). "Buku seperti ini terlalu vulgar."
"Memangnya Tetsuya tidak menyukainya?" tanya Akashi, separuh meledek.
Kekasihnya meragu. Ingin menjawab ya–tapi saat ini ia sedang berada dalam fase keras kepala (tidak mau menyetujui apapun kata Akashi)–tapi kalau menjawab sebaliknya, mana ia tahu apa yang akan dilakukan si rambut merah?
Kuroko enggan mengakui kalau sebenarnya ia adalah salah seorang penggemar kisah Akashi Seijuurou—dalam konteks ini, ia menggunakan nama pena 'Akaro Seishi'–dan bagaimana tidak, karena ia yang begitu biasa bisa disulap menjadi sebuah mahakarya. Bukunya meledak di pasaran karena dua hal: menarik dan kontroversial.
Menjabarkan bagaimana hubungan homoseksual–terutama dalam adegan persenggamaan liar (mereka bertanya-tanya, bagaimana adegan seks bisa berubah menjadi bentuk seni yang berkelas?)–dan tentang kaum-kaum minoritas yang menjerit minta kebebasan, kisah itu memagnet siapapun yang membacanya.
Berlatar puluhan dekade yang lalu, pembaca dibawa hadir ke dalam kisahnya. Kuroko Tetsuya sebagai budak, dan Akashi Seijuurou adalah majikan. Hubungan sado-masokis tercipta ketika leher putih Tetsuya terjerat rantai, ditarik hingga gurat-gurat merah itu memeta permanen di kulit. Luka-luka yang tergambar sempurna dalam bentuk aksara berhasil membuat Akashi menjadi penulis muda dengan rekor penjualan buku tertinggi di Jepang–dan berada di barisan sepuluh besar penulis internasional–selama beberapa bulan terakhir secara konsekutif.
Diterbitkan dalam bentuk trilogi, pembaca fanatik rela menghabiskan ribuan yen hanya untuk membeli versi lengkapnya. Rumornya, mereka yang sudah membaca novel itu sebanyak empat kali akan dipuaskan nafsunya–entah benar atau tidak. Sudah banyak korban (wanita) yang ditemukan klimaks sambil mendekap karya sastra tersebut.
Nama Akaro Seishi pernah dinominasikan dalam award paling bergengsi di kalangan penulis. Diserahi piala berlapis emas murni, atau bahkan dilengkapi pernak-pernik berlian asli, yang menjadi rebutan sastrawan kelas atas. Tawaran mempublikasi karyanya dalam bentuk film sudah memenuhi notifikasi e-mail–yang sampai sekarang tidak digubris.
"Aku hanya heran." Kuroko mengalihkan topik. "Kenapa Sei-kun selalu menekankan konten erotis seperti ini? Maksudku–seolah-olah keahlian Sei-kun sendiri hanya seputar topik seksual. Apalagi budaya ketimuran kan sangat menentang cerita seperti ini–"
"Pacarku berotak sempit ternyata. Jangan-jangan kau juga tipikal warga negara yang kolot." Kopi panas ditiup sebelum ditenggak masuk tenggorokan. "Kalau seperti itu jalan pikiranmu, berarti semua guru biologi adalah manusia mesum berkedok ilmuwan."
"Tapi mereka melakukannya untuk pendidikan–"
"Dan aku melakukannya untuk seni." Akashi berargumen. "Apa itu salah?"
Kuroko tidak menjawab.
"Butuh lebih dari sekian puluh tahun untuk memahami makna tersirat dari tulisanku." Ia tersenyum pahit. "Percayalah, Tetsuya. Bahkan kau–orang nomor satu dalam hidupku–tidak akan pernah paham. Aku menulis cerita ini karena aku mencintainya. Afeksinya kuat, tapi berbeda dengan cintaku pada Tetsuya."
Mulut mungil itu kembali mengerucut. Memilih untuk mengelak. "Menumbalkan aku sebagai korban senimu itu yang salah."
Akashi ingin sekali melumat mulut bawel kekasihnya dengan ciuman mesra–namun tidak mungkin ia lakukan. Bisa-bisa pipinya kena tampar Kuroko. Pundak mungil lembut itu diraih, dihadapkan ke depan layar. "Kau cantik sekali di sini, Tetsuya. Lihat, aku membuat ekspresi di wajahmu jauh lebih hidup, lebih indah–dan lebih malaikat dari makhluk kahyangan manapun."
"Aku diciptakan sebagai seorang laki-laki, bukan perempuan. Mana mau aku disebut 'cantik'?" Kuroko menyahut, kesal. "Seharusnya Sei-kun yang paling tahu."
"Kalau cantik hanya dilabelkan pada segala sesuatu bergender perempuan, apa gunanya?" laptop kembali dinyalakan. Rasanya minat menulis Akashi kembali bangkit hanya dengan mencerca protagonis kesayangan. "Dan jangan samakan aku dengan laki-laki haus belaian seperti Daiki."
Mana mungkin ia menyatakan penyebabnya pada Kuroko? Pria itu masih polos. Tidak cocok dinodai dengan cerita gelap (memasukkan Kuroko ke dalam cerita adalah pengecualian).
Lelah karena terus berdebat tanpa bisa menang, Kuroko menyerah. "Sudah sana, lanjutkan tulisanmu."
"Dengan senang hati."
Fokus kembali pada laptop, Akashi menggerakkan jemarinya dengan lincah di atas papan ketik. Alunan musik gubahan Lizst berkumandang di penjuru ruang kerja. Adegan seksual dimainkan ketika piano mendenting galak, diiringi orkestra yang sama agresifnya. Ketika melodi melembut, skenario berubah tenang namun sensual. Ujung kaki si penulis naik-turun, mengetuk lantai seiring irama.
Memang sejenius itu Akashi Seijuurou—mengubah suasana biasa menjadi karya seni, dan menyulap seni yang sudah ada menjadi mahakarya. Jangan tanya otaknya terbuat dari apa, dan seperti apa rancangannya (bahkan kata 'sempurna' seolah begitu merendahkan kualitas si penulis yang sebenarnya).
Kuroko disisipkan kembali di dalam paragraf. Merintih–Tuan, setidaknya longgarkan belenggu rantai di tanganku ini–dan dijawab dengan tegas oleh dirinya.
"Aku akan meredakannya dengan rasa sakit yang lain."
Di sisinya, si lakon pendamping sudah hilang. Mungkin jengkel karena terus-terusan diposisikan sebagai pihak submisif–tapi memang itulah peran yang cocok untuknya–dan barangkali Akashi perlu membujuk sang kesayangan dengan beberapa gelas milkshake.
–itupun kalau Kuroko cukup toleran untuk meminumnya. Terakhir kali Akashi memesan vanilla milkshake, minuman itu membusuk tiga hari kemudian.
"Dasar bocah gengsi."
Biarkan saja Kuroko mengambek. Toh, mau seperti apapun, ia tidak akan bisa kabur dari jari-jari seorang Akashi Seijuurou.
.
.
Sudah pukul tujuh malam lewat limabelas menit.
Berarti sebentar lagi–tepatnya pukul setengah delapan–sang editor, Midorima Shintarou, akan segera datang dan mengoreksi naskah untuk bab terbarunya. Menghadapi pria perfeksionis minus kemampuan mengkomplimen orang lain membuat Akashi perlu menghisap lebih banyak nikotin sebagai penyegar otak.
"Bukannya Seijuurou-kun harus menyiapkan teh?" tanya Kuroko. "Jangan hanya mengetik dan menunggu Midorima-kun mengetuk, dong."
"Sekali-sekali jadi pasangan yang berguna kenapa." Akashi menggerutu, masih menggeluti baris demi baris. "Sekarang seharusnya Tetsuya tahu kenapa aku lebih suka melihatmu dirantai."
"Kalau begitu aku marah."
"Marah kok bilang-bilang." Tubuh mungil ditepuk-tepuk hingga melesak di sandaran kursi. "Sekarang Tetsuya masuk ke dalam kamar saja, ya. Shintarou bisa ribut lagi kalau Tetsuya terus menggangguku di sini."
Mengabaikan celoteh berisik Kuroko, Akashi menggotong pria biru ke dalam kamar. Terakhir kali ia membiarkan Kuroko duduk di sisinya, Midorima mencak-mencak dan mengocehkan hal tidak masuk akal seperti "periksakan kondisi mental daripada tambah gawat", atau "konsentrasi pada pekerjaanmu. Jangan jadi orang putus asa seperti ini".
Dasar Midorima bodoh, dianya saja yang tidak memahami estetika mencintai. Otaknya kelewat rasional untuk membayangkan hal-hal imajinatif ketika bercinta. Berkencan sambil bekerja malah dikira sakit jiwa—ini yang terjangkit gangguan yang mana, coba.
Padahal sang editor sebenarnya sama saja—diam-diam menghanyutkan. Gosip terakhir memaparkan kalau lelaki berkacamata itu sedang dekat dengan seorang fotografer kelas A, tapi Akashi menolak percaya (memangnya seniman macam apa yang bersedia dikencani oleh pria kaku seperti Midorima?).
Lepas dari karakter sang editor, Akashi mengandalkannya. Tidak ada orang lain yang lebih cermat dari Midorima, dan ialah penyebab Akashi berhasil mendorong karyanya ke deret tertinggi daftar buku terlaris.
Kuroko dibaringkan di atas kasur. Mulutnya sudah disumpal buntalan celana dalam–peduli amat anak itu mengomel di dalam mimpi. Beruntung hawa kehadirannya diciptakan sedemikian tipis hingga orang secermat Midorima pun kerap kesulitan mendeteksi. Satu-satunya cara menotis eksistensi laki-laki itu hanyalah melalui tulisan—lewat kisah-kisah Akashi.
Bel pintu berbunyi beberapa saat kemudian.
Tanpa tergesa-gesa, Akashi menguak daun pintu. Mengintip tamunya dari celah. "Kau datang terlalu cepat." Nada suaranya mencemooh.
"Memang kenapa?" Midorima mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan, mencoba mencari jejak mencurigakan di tiap sudut. "Kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi, kan?"
"Seharusnya Shintarou-lah yang kutanya begitu." Akashi menutup pintu setelah membiarkan editornya masuk. "Kau dan gebetanmu–siapa namanya? Takao?"
Dijawab dengan ketus. "Dia bukan gebetanku."
Tapi Akashi tidak mungkin mengabaikan semburat merah yang muncul di pipi pucat itu. Ia menyeringai. "Jangan bohong. Kalian bertemu tadi siang."
"Apa–" mata hijau membola. Kaget setengah mati. "Darimana kau tahu?"
"Aroma kolonyemu lebih tajam dari biasa. Aku bahkan tidak ingat kapan kau menyemprotkan kolonye sebanyak itu." Mata Akashi menelusuri sekujur tubuh Midorima. Yang ditatap buru-buru menyapu kain kemejanya. "Dan itu bukan jas yang biasa kaupakai setiap kali ke sini. Jelas-jelas editorku sengaja menarik perhatian serangga incarannya dengan terlihat atraktif."
Wajah Midorima kini memanas. "Jangan asal mendeduksi orang lain."
"Aku hanya ingin bilang," ujar Akashi kalem. "Kalau kau saja bisa dekat-dekat dengan lelaki lain–jangan denial, Shintarou. Jelas-jelas orientasimu belok–kenapa aku juga tidak boleh?"
Lawan bicaranya memijat kening. Berusaha menyusun kata-kata yang tepat. "Cintamu itu salah tempat."
"Yang mana? Salah memilih gender? Kau sendiri juga begitu. Atau salah gara-gara tuntutan pekerjaan?"
"Bukan dua-duanya–demi apapun." Kembali jemari menekan cuping hidung. "Kuroko Tetsuya adalah muse-mu, aku tahu. Tapi tolong, tolong jangan tetapkan dia sebagai sosok yang lebih dari itu."
Senyum tipis terbentuk. "Shintarou pura-pura kolot atau bagaimana? Bahkan ratusan tahun silam banyak pelukis yang jatuh cinta pada model sendiri." Wajah kalut rekan kerjanya semakin memicu Akashi untuk terus meledek. "Sama seperti kau yang tertarik pada fotografermu, aku juga bisa tertarik dengan tokoh modelku. Satu sama, kan?"
Midorima memejamkan mata dan menghela napas. Mau diberitahu dengan cara bagaimanapun, kalau Akashi tetap denial ya percuma. Ia juga tidak setega itu untuk memadamkan imajinasi Akashi. "Sudahlah. Sekarang, mana naskahmu?"
Laptop diputar hingga menghadap Midorima, dengan layar menampilkan hasil ketikan (yang terus terang saja, sejak tadi tidak maju-maju). Begitu triloginya usai, Akashi berencana meluncurkan buku baru dengan tema yang jauh lebih panas, namun kegarangannya tersembunyi lembut di balik kata-kata seduktif.
Untuk hal ini, Midorima perlu mengucapkan apresiasi.
"Kali ini temanya modern, kah?" ia membaca dengan hati-hati. "Kenapa sangat kontras dengan karyamu yang sebelumnya?"
"Yang penting adegan seksnya." Akashi mencondongkan tubuh, ikut menilik layar. "Berapa banyak buku erotis yang hanya main tusuk tanpa estetika? Menulis lima ribu kata penuh desahan sih, buatku, tidak butuh waktu lebih dari tiga puluh menit."
"Jadi kau ingin memutarbalik persepsi orang?"
"Lebih dari itu. Aku ingin mengenalkan sistem tradisional bersetubuh tanpa menghilangkan unsur modern. Rantai dan borgol selalu menjadi favoritku di cerita-cerita seperti ini," jawabnya. "Dan aku berencana memasukkan unsur ilmiah ke sini–memodifikasi organ reproduksi laki-laki, mungkin."
Midorima menebak, "Yang artinya, kau membutuhkan survei terlebih dahulu." Sudut mata melirik ke arah ponsel. "Mungkin aku perlu mengontak kerabatku. Barangkali dia bisa membantu."
Senyum tipis tersungging. "Aku senang kau bisa memahamiku dengan baik."
Entah komplimen atau sindiran, Midorima memutuskan untuk tidak menjawab. Kembali fokus pada deret tulisan di layar. Seperti biasa, Akashi akan membiarkan editornya membaca naskah hingga tuntas tanpa diganggu, sementara ia sendiri menghabiskan waktu membaca komentar pembaca yang dimuat di situs editorial.
Akaro-sensei sangat keren. Aku penasaran bagaimana dia bisa mendapat ide seperti itu untuk cerita-ceritanya.
Aku penasaran apa pesan ini bisa disampaikan ke Akaro-sensei secara langsung. Aku pengagum beratnya, dan sudah menjadi keinginanku sejak dulu untuk menemuinya.
Apa sensei sudah punya pacar?
Ceritanya agak kontroversial. Kuharap sensei tidak betulan homoseksual seperti yang digambarkan di buku-buku sensei.
Layar browser langsung ditutup. Akashi penat membaca lebih lanjut.
Salah satu hal yang tidak ia sukai—beruntung ia sudah cukup cerdas untuk mengabaikan komentar publik—adalah pandangan sempit mereka terhadap hal-hal minoritas yang dianggap menyimpang. Memangnya apa yang salah dengan hubungan sesama jenis, apalagi tipikal pasangan yang memanfaatkan kekerasan untuk mencapai kepuasan lahir-batin? Kenapa orang begitu membatasi hubungna, kalau yang diperlukan untuk melanggengkan suatu relasi adalah komitmen dan rasa percaya?
Mungkin itulah salah satu pemicu Akashi menggoreskan kisah dengan topik seperti ini. Barangkali, ia sudah kelewat gemas dengan berbagai opini bodoh yang sudah menyebar.
Akashi ingat betul. Pertama kali ia muncul dengan karyanya, pihak penerbit menolak mentah-mentah. Mereka khawatir kalau ceritanya akan memunculkan konflik baru di masyarakat—yang terus terang saja, memang terjadi. Sudah belasan penerbit dijajal, dan rata-rata jawabannya sama.
"Maaf, kami tidak berani menerima naskah ini. Terlalu kontroversial."
"Naskah Anda memuat konten yang berbahaya. Kami tidak mungkin mempublikasikan cerita seperti ini."
Alasan itu mainstream, tapi Akashi memakluminya. Karya yang ia sajikan saat itu memang sangat kental dengan konten-konten erotis dan melawan ajaran yang sudah menjadi paham mutlak masyarakat. Akashi paham, dan ia maklum.
Hanya saja, sebagaimana penulis pada umumnya, ia kecewa. Kesal karena keinginan menyampaikan pemikiran-pemikiran hebatnya selama ini tidak dapat tersampaikan dengan baik.
Ketika kalimat penolakan kembali diucapkan padanya untuk yang kesekian kali, kupingnya sudah panas. Secara defensif ia memutuskan untuk mundur. Bukan sebagai sastrawan gagal, namun sebagai sosok dengan pemikiran yang jauh lebih kontroversial lagi.
"Kalau mereka tidak bersedia menerbitkan karyaku, biar aku yang menerbitkannya sendiri."
Dengan bantuan kerabat semasa kuliah, dan beberapa relasi (dalam hal ini ia sedikit berterimakasih pada jaringan luas ayahnya), Akashi menciptakan publishing house sendiri. Sebuah rumah produksi yang tidak menerima karya apapun kecuali karya Akashi Seijuurou seorang.
Dengan catatan, tidak ada yang tahu kalau kantor penerbitan itu dibawahi olehnya—kecuali pekerja-pekerja dalam yang bisa dibungkam dengan segepok uang.
Midorima sendiri adalah salah satu dari sekian banyak orang yang cukup beruntung—atau malah jadi korban sial—untuk bisa berada di dalam lingkaran sosial Akashi yang sebegitu sempitnya. Melakukan pendekatan dengan penulis yang satu itu sama sekali bukan hal yang mudah. Dibutuhkan lebih dari sekadar pertemuan intensif, pembicaraan canggung (karena sungguh, Midorima bukan tipikal orang dengan kemampuan bicara yang baik), dan kerelaan menjadi pekerja submisif.
Sebagai editor yang sudah bekerjasama dengan Akashi selama satu tahun terakhir, ia mengetahui masalah pria itu. Ketakutan-ketakutannya, perasaan tidak nyaman sang penulis ketika berinteraksi dengan orang asing, dan kecintaannya yang berebih pada seorang Kuroko Tetsuya.
Ah, menyebut nama itu saja sudah mengaduk perut.
Seorang manusia—atau bukan?—yang terpanggil dari mahakarya Akashi. Tercipta sedemikian rupa hingga membentuk satu manusia yang, entah kenapa, begitu memikat.
Mata biru yang kosong itu malah mengintimidasi. Begitu pula dengan ekspresi datar yang membingkai. Memasuki zona Akashi berarti ia harus berurusan dengan makhluk biru itu—entah tampak atau tidak.
Mungkin, ia berusaha menabahkan diri. Akashi memang kelewat cerdas menciptakan imajinasi—sampai-sampai aku ikut terbawa.
Mudah-mudahan saja memang benar begitu.
