Chapter 2
Jongin merasakan perutnya sakit semenjak semalam, tubuhnya terasa sedikit panas ditambah tendangan terus menerus dari janin yang ada di dalam perutnya tidak membuat kondisinya semakin baik. Tubuhnya terasa sangat lemas dan lunglai hingga ia mulai merasakan tendangan janin diperutnya melemah hingga kini tidak terasa sama sekali, Jongin menjadi sedikit panic namun tubuhnya menghianatinya. Ia sangat lemas sekarang, dalam benaknya ia hanya berharap ada yang mau menolongnya membawa ke rumah sakit. Jongin mengenakan mantelnya dan berjalan pelan dengan ringisan sakit dari menopangkan tubuhnya pada dinding lorong flat yang ditempatinya. Tidak ada satupun tetangganya yang membuka pintu dan jongin juga tidak berani untuk mengetuk salah satu pintu disana. Ia berjalan perlahan untuk menopang tubuhnya yang terasa semakin panas.
Harapannya hanya satu, orang mau menolongnya. Jongin harus menuju ke Taman, namun ia meragukan dirinya kuat untuk menuju kesana, jaraknya sekitar 750 meter dari tempat jongin berdiri saat ini. Namun, ia memaksakan dirinya. Hanya satu harapannya. Chanyeol mau menolongnya.
Jongin melihatnya, setiap orang yang dilewatinya menatap iba padanya namun tidak seorangpun hanya melemparkan tatapan iba kemudian mengalihkan pandangannya. Jongin ingin menangis, perutnya semakin terasa sakit dan ia merasa ada cairan yang mengaliri kakinya. Jongin tidak ingin melihatnya, ia mempercepat langkahnya menuju taman. Ia mengedarkan pandangannya namun tidak nampak sekalipun figure Chanyeol, ia terus menggulirkan pandangannya hingga akhirnya menemukan chanyeol yang hendak menuju mobilnya.
GRAB
"Jongin?"Chanyeol terkejut karena seseorang memegang tangannya dari belakang. Itu Jongin. Jongin tampak membuka mulutnya namun tak ada suara yang keluar. Chanyeol sempat bingung dibuatnya hingga Jongin kehilangan kesadarannya dan tubuhnya hampir saja ambruk apabila tidak ada Chanyeol yang menopangnya.
"Astaga Jongin" Bodohnya Chanyeol baru melihat celana lusuh yang dikenakan Jongin penuh dengan darah dan segera membawa tubuh jongin masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Chanyeol tidak berhenti mondar-mandir di depan pintu UGD. ia sangat khawatir dengan kondisi Jongin, sudah hampir 2 jam ia berdisi disana menunggu jongin ditangani oleh tim dokter.
"Keluarga pasien Kim Jongin?" seorang suster memanggilnya.
"Saya sus, saya yang membawanya kemari."
"Silahkan selesaikan administrasi untuk pasien karena pasien sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelahnya tuan diharap menemui dokter Lee di bagian Obgyn. Permisi " suster meninggalkan chanyeol yang masih nampak berdiri menatap kosong kedepan.
Chanyeol kemudian segera melangkahkan kakinya untuk menuju tempat administrasi. Setelah menyelesaikan beberapa formulir yang tentunya chanyeol karang isinya karena well, Chanyeol hanya tahu nama dari Jongin saja. Ia juga mencantumkan dirinya sebagai penjamin Jongin di rumah sakit ini. Setelah itu Chanyeol segera menuju ke bagian obgyn.
"Bisakah saya bertemu dengan dokter Lee?"Chanyeol bertanya kepada resepsionist di bagian obgyn.
"Baik, mari saya antar." Seorang karyawati yang mengenakan seragam rumah sakit membawa chanyeol untuk menemui dokter Lee.
"Selamat siang dokter, saya keluarga dari pasien Kim Jongin." Ujar chanyeol ketika telah sampai di depan meja dokter Lee.
"Silahkan duduk tuan-
"Park Chanyeol."
"Baik, silahkan duduk tuan park. Disini saya akan menjelaskan beberapa kondisi tuan Jongin yang sangat memprihatinkan. Ia mengalami malnutrisi selama kehamilannya dan ini sangat berbahaya untuk kandungannya. Selain itu, nampaknya selama ini tuan Jongin tidak pernah mendapat asupan vitamin dan zat besi yang seharusnya dikonsumsi sejak trimester pertama kehamilannya. Kondisi kehamilan tuan Jongin ini adalah yang terburuk yang pernah kami temui. Saya harap tuan mampu menjaga pola makan tuan Jongin, paksa dia untuk makan teratur 3x sehari semual apapun ia dan juga jangan lupa ia harus selalu mengkonsumsi susu dan vitamin serta zat besi untuk mendukung kehamilannya." dokter lee menduga jongin mengalami malnutrisi karena tidak bisa memakan apapun akibat mual yang dialaminya.
"Baik dok" chanyeol bukanlah orang yang berpengalaman dalam mengurus orang hamil. Namun, kondisi Jongin yang dijelaskan oleh dokter Lee membuat Chanyeol merasakan sedikit sakit dalam hatinya. Bagaimana mungkin remaja seusia jongin mampu menghadapi ini sendiri.
"Selain itu tuan park, tuan Jongin hamil di usia yang amat dini, saya harap keluarganya mampu mendukungnya karena tingkat stress yang berlebihan dapat beresiko terhadap kondisi janin dalam kandungannya. Untuk hari ini, kami terpaksa merawat tuan Jongin disini untuk melihat perkembangan kondisinya. Apabila dalam 3 hari kondisinya membaik maka kami akan mengijinkan tuan untuk membawanya pulang." Ujar dokter lee mengakhiri.
"Baik dok. Terima kasih banyak." Chanyeol segera meninggalkan ruang dokter Lee dan menuju kamar inap Jongin, disana Jongin terbaring dengan baju pasien yang kebesaran ditubuhnya, memperlihatkan tulang leher dan selangkanya yang nampak menonjol dan lengannya yang kurus. Chanyeol miris melihatnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Jongin mulai saat ini.
Chanyeol meninggalkan ruang rawat Jongin, suster mengatakan bahwa Jongin akan tertidur selama kurang lebih tiga jam akibat bius yang diberikan padanya sebelumnya. Chanyeol segera menuju ke supermarket terdekat ia berbelanja buah-buahan segar, susu ibu hamil dengan bantuan beberapa pembeli perempuan yang ada disana untuk memilihkannya karena chanyeol sama sekali tidak mengerti susu yang baik untuk orang hamil. Tak lupa chanyeol juga membeli beberapa potong pakaian yang bisa dikenakan oleh Jongin. Chanyeol memacu mobilnya menuju kediamanya. Selama ini ia tinggal sendiri dengan maid yang akan datang pada pagi sampai siang hari untuk membersihkan dan memasakan sarapan untuknya. Selebihnya ia sendiri.
Chanyeol nampak membereskan sendiri kamar tamu yang ada di rumahnya. Cukup mewah namun minimalis dengan halaman yang luas dan hijau. Ia segera membereskan beberapa buah dan susu yang dibelinya kedalam lemari es kemudian kembali menuju rumah sakit. Ia memantapkan hati bahwa Jongin akan tinggal bersamanya mulai saat ini.
Jongin bangun ketika chanyeol membuka ruang rawatnya, jongin nampak bingung dan terkejut.
"Kau ada di rumah sakit sekarang" Ujar chanyeol mengerti akan kebingungan Jongin.
Jongin hanya mampu menganggukan kepalanya. Tubuhnya masih lemas dan ia masih merasa sangat pusing.
Chanyeol kemudian duduk disebelahnya. Tanpa disangka, jongin menggenggam tangannya kemudian ia menuliskan kamsahamnida dengan jari tangannya di telapak tangan chanyeol. Chanyeol hanya menjawabnya dengan senyum dan menganggukan mengelus pelan kepala jongin dan mengisyaratkan kepada jongin untuk kembali tidur.
.
.
.
.
Tiga hari perawatan telah berlalu, Chanyeol menjemput jongin. Jongin sudah duduk di sofa dengan baju yang dibawakan chanyeol sebelumnya. Chanyeol sudah berjanji akan mengantarnya pulang, dan jongin tidak mampu menolak permintaan chanyeol karena ini salah satu cara baginya untuk membalas kebaikan chanyeol.
Jongin nampak bingung selama perjalanan karena ia sama sekali ia tidak mengenal area ini hingga kahirnya mobil chanyeol berhenti disebuah rumah mewah namun minimalis. Jongin memegang tangan chanyeol dan Nampak melemparkan pandangan bingung pada chanyeol. Dan chanyeol mengerti itu.
"Kau akan tinggal disini mulai sekarang denganku."
Jongin membulatkan pandangannya lucu, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Chanyeol sudah memprediksi ini akan terjadi.
"Dengar Jongin, kau tidak menumpang disini. Kau akan bekerja padaku okay, kau bisa membantuku merapikan dan membersihkan rumah asal jangan sampai kau kelelahan. Kau ingat bukan kata dokter bahwa kandunganmu beresiko. Jadi, tidak ada penolakan. Kau akan tinggal bersamaku. Aku tidak memberikan ini cuma- cuma. Kau bekerja padaku jadi kau jangan sungkan."
Akhirnya jongin hanya menganggukan kepalanya. Tentunya chanyeol bahkan tidak mungkin tega untuk menyuruh jongin bersih-bersih, namun jika tidak dengan cara ini, chanyeol yakin Jongin tidak akan mau tinggal bersamanya.
Biarlah chanyeol terdengar sedikit kejam kali ini dengan memperkerjakan orang hamil tapi ini juga demi kebaikan Jongin.
Chanyeol hanya mampu tersenyum melihat jongin yang sedikit mempoutkan bibirnya merasa kesal dengan keputusan chanyeol.
Chanyeol mengantar jongin ke kamar tamu yang ada dirumahnya. Ia juga menunjukan beberapa ruang yang ada di rumahnya. Chanyeol tak lupa membuatkan segelas susu untuk Jongin dan menyuruhnya untuk istirahat dulu karena baru keluar dari rumah sakit.
Tap
Tap
Tap
"Shit park, kemana saja kau 3 hari ini?" Itu suara sehun. Jongin berdiri menegang memegang gelas susu yang sudah kosong.
"Apa yang kau lakukan disini pembohong?'Sehun menghardik Jongin ketika melihat Jongin berdiri di depan pantry. Jongin berdiri ketakutan karena Sehun berjalan mendekat dengan telunjuk yang mengarah ke jongin. ia memundurkan langkahnya perlahan ketika Sehun berjalan mendekat.
"Singkirkan tanganmu Oh, kau berbuat tidak sopan dirumah ku." Itu suara Chanyeol, Jongin bersyukur chanyeol muncul disaat yang tepat.
"Apa yang pembohong ini lakukan disini? Apa ia berhasil membohongimu?"Sehun bertanya dengan nada mengejek. Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca karena ucapan Sehun.
"Diamlah oh, kau tidak pantas untuk berkata seperti itu."
"Kau sekarang bahkan lebih membela seorang pembohong yang kastanya lebih rendah dari kita Park?"
"Dan aku lebih malu pada seorang yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. pergilah Oh"
"Sialan."
BRAK
Sehun keluar dari rumah Chanyeol dengan membanting pintu depan dengan keras. Tak berapa lama suara mobil menggema dengan keras meninggalkan kediaman Chanyeol, Jongin nampak menggigit bibirnya yang bergetar karena ketakutan.
"Shh... hei... tidak apa. Dia memang begitu. Jangan takut." Chanyeol berkata sambil mengelus pelan pundaknya.
"Ayo kita nonton TV" ajak Chanyeol untuk menghilangkan ketakutan Jongin.
.
.
.
"Sialan, awas kau-
TBC
anyeong hasimnika... saya kembali
Mohon maaf kepada pembaca semuanya menurut review teman-teman tata bahasa saya kemarin banyak typo, tapi percayalah saya sudah mengeditnya dan bahkan saya membacanya terlebih dahulu sebelum memostingnya tapi entah kenapa ketika sudah di post banyak sekali kata yang hilang jadi membuat pembaca sekalian kurang nyaman.
Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.
.
.
Karakter di FF saya semua seperti menyiksa tokoh utama, tebakan teman-teman ada yang benar, tersakiti adalah pembelajaran yang berharga dalam hidup agar mampu bangkit menjadi lebih baik. Dan saya adalah type orang yang tidak sanggup menulis cerita humor maupun romance. So, saya seolah menjadi seperti penulis dengan aliran Angst hehehehe.
Terima Kasih yang sudah mau membaca dan mereview karena itu merupakan penyemangat saya dalam melanjutkan cerita.
.
.
.
Hehehe,... mohon maaf jika lama karena saya dipindah tugaskan diarea pedesaan sehingga sedikit sulit untuk mendapatkan jaringan yang lancar. Harap maklum.
Terima Kasih
