Hanya sebuah FF absurd yang tujuan sebenarnya itu adalah sequel TKP.

Cast masih sama, hanya bertambah beberapa.

.

.

Cerita ini murni ide dan karya saya. Apabila ada kesamaan hal dengan cerita lain maka itu bukan hal yang di sengaja.

Selamat membaca ~

.

.

.

"Bagaimana? Apa dia baik-baik saja. Tak perlu dibawa ke Rumah Sakit, kan?"

Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan nada angkuh itu. Yah, itu adalah Park Chanyeol si CEO muda sekaligus ketua mafia besar nan tampan. Namun hal itu tidaklah berarti bagi kedua makhluk mungil yang kini sedang dia timang dikedua lengan kekarnya. Tentu saja, didalam hati dan pikiran suci mereka yang mereka tahu adalah pria tinggi ini adalah ayah mereka. Ayah yang selalu tersenyum dan memanjakan mereka selama 2 tahun ini. Seperti sekarang misalnya. Meskipun telah lancar berjalan dengan kaki-kaki mungil mereka, sang ayah tetap saja menggendong kedua buah hati tercintanya. Tak peduli dengan bajunya yang kusut dan bobot si mungil yang tidak bisa dibilang ringan. Berterima kasihlah kepada sang istri mungil -yang kini sedang berbaring lemah diatas king size bed dalam kamar megah itu- yang tidak pernah membiarkan anak mereka kelaparan.

Tunggu. Berbaring? Lemah?

Yah, gadis –oh mungkin tidak lagi-. Wanita mungil yang sudah sekitar 3 tahun menyandang gelar sebagai Nyonya Park itu kini sedang terbaring lemah ditempat tidur. Pipinya merona merah, bukan karena malu atau digoda sang suami, tapi karena demam dan flunya.

Oh, flu musim panas. Hah, Rumah Sakit?

Jangan heran, si Tuan Besar a.k.a Tuan Park Chanyeol yang agung akan selalu berubah menjadi manusia terlebay sejagat raya apabila ini menyangkut kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan 3 makhluk mungilnya –yang kalian tentunya kalian tahu siapa-. Buktinya adalah hari ini, bukan, tepatnya malam ini –atau bisa kita sebut pagi?-.

Mari kita berflashback sejenak (?).

Sejak beberapa jam lalu yang mana kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, kediaman megah si tampan beserta keluarga kecilnya itu dibuat heboh dengan teriakan kencang si Tuan Besar yang seolah ingin membangunkan warga se kampung dan member pengumuman bahwa sang istri mungil, belahan jiwanya, menggigil dalam tidurnya ketika dia pulang dari kantor beberapa jam lalu dan hendak mencium sang istri.

Keadaan semakin parah dengan pecahnya suara tangis kedua tuan dan nona kecil rumah itu yang sepertinya terkejut atas teriakan lowbass sang ayah. Tebak apa yang terjadi? Yah, kekacauan KECIL.

"Kenapa kalian diam saja?! Cepat siapkan alat kompres untuk istriku. Dan, dan- ugh! Lakukan apapun demi Tuhan!" –huwaaaaaa- "Ya sayang! Ayah datang.." lihat kan? Nada bicaranya akan berubah 180 derajat kalau sudah bicara kepada 3 malaikatnya. "Ahjumma.." panggilnya sebelum menaiki tangga menuju kamar si buah hati kesayangannya.

"Saya sudah memanggil dokter Cho, Tuan. Beliau akan datang dalam 15 menit jika tidak ada halangan dijalan." Potong Lee Ahjumma yang sudah paham dengan watak Tuan Park ini.

"Suruh para penjaga untuk menyusul dokter itu. Untuk berjaga-jaga jangan sampai ada yang menghalanginya dijalan." Sahutnya angkuh. Apakah Lee ahjumma akan menurutinya? Tentu saja tidak. Ia hafal betul bahwa kalimat itu keluar karena tuannya sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Seandainya tidak dalam suasana seperti ini, para pelayan rumah itu tentunya akan tertawa keras melihat wajah panik tuan besar mereka yang hampir tidak pernah terlihat kecuali salah satu dari malaikatnya terluka.

Clek.

Pintu kamar itu terbuka dengan cepat namun lembut. Kamar besar yang didominasi dengan warna softblue. Warna yang cukup netral untuk ditempati oleh dua makhluk mungil yang berbeda jenis kelamin itu.

Oke, izinkan Chanyeol untuk menggigit 2 anak mungilnya yang sungguh –sangat- imut itu. Si bungsu Jessie sedang terduduk menangis kencang sambil mengusap matanya. Jangan lupakan bibirnya yang mencebik lucu. Sementara yang lebih kakak sedang memeluk sang adik yang terus menangis sambil menggumam lucu khas anak balita.

"Waencanya ci-ya.. Oppa itco.." (Gwaencana Jessie-ya, Oppa isseo)" gumamnya tanpa henti sampai suara sang adik terdengar.

"Ayah… hiks hiks. Jeci takut hiks.." adunya sambil menyodorkan kedua tangannya merengek minta digendong ayahnya yang tentu saja dengan senang hati melakukannya. Jackson melepaskan pelukannya dan membiarkan sang adik diambil alih oleh ayahnya.

HUP.

Dengan mudahnya Chanyeol mengangkat dan menggendong anak perempuan yang sangat manja kepadanya ini. Chanyeol menimang-nimang anaknya dengan sedikit senandung pengantar tidur yang dia dengar dari istrinya setiap kali menidurkan kedua buah hati mereka. Saat berputar disekeliling ruangan dia tanpa sengaja melihat putranya sedang menunduk sambil memilin selimutnya.

"Oh my God." Gumam Chanyeol pelan. Bagaimana bisa dia melupakan putranya. Putranya yang sangat irit biacara kecuali pada ibu dan adiknya. Putranya yang meskipun selalu bersikap layaknya seorang kakak dewasa tetaplah anak balita yang butuh kasih sayang melimpah dari kedua orangtuanya.

"Ppa.. Oppa.." si balita cantik merengek pelan seraya mencoba menjangkau oppanya dengan tangannya yang mungil. Chanyeol dengan langkah cepat mendekati ranjang putra-putrinya. Dia lalu menyodorkan tangan kanannya untuk menarik sang putra kedalam gendongannya. Jessie yang sudah tenang tersenyum lucu dan langsung mencium oppanya begitu oppanya sudah dalam posisi nyaman dalam gendongan ayah mereka, lalu keduanya terkikik bersama.

Chanyeol? Dia sedang tercenung sambil tersenyum dari telinga ke telinga melihat interaksi manis anak-anaknya. Betapa dia kagum dengan Baekhyun yang mampu membentuk kepribadian anak mereka hingga bisa sangat akur dan saling menyayangi seperti ini. Dia mencium pelipis anaknya secara bergantian yang kini sedang merebahkan kepala mereka di bahu hangat sang ayah. Ada kecupan lebih untuk si sulung yang mana membuat si kecil sedikit terusik dan memandang bingung ayahnya.

"Terima kasih, jagoan ayah. Sudah membantu menenangkan adikmu. Ayah sangat menyayangi kalian berdua. Teruslah seperti ini dan jadilah lelaki yang kelas bisa mendampingi dan juga menyayangi wanita-wanita kita." Gumamnya halus yang dihadiahi senyuman polos dan pelukan erat dilehernya dari sang putra.

"Acon juga thayang ayah.." katanya pelan. Chanyeol tertawa pelan mendengar kecadelan putranya. Dalam hal fisik, memang Jackson tumbuh lebih pesat, dia sudah bisa berjalan ketika dia bahkan belum berumur 1 tahun, lebih cepat 4 bulan dari sang adik. Akan tetapi, dalam soal berbicara dan ekspresi, maka Jessie lah pemenangnya. Jika Chanyeol membatalkan rapat dan segera pulang setelah mengetahui Jackson berhasil melangkahkan kakinya untuk yang pertama kalinya, maka untuk kata pertama Jessie yaitu 'banana' –sangat jauh dari ekspektasi- (Baekhyun merekamnya dan mengirimkannya kepada Chanyeol) Chanyeol bersorak ditengah rapat pribadinya dengan klien besarnya. Kontrak gagal?

Tentu saja tidak. Awalnya semua klien yang ada tercengang dengan sorakan kencang sang CEO, terlebih lagi ekspresinya yang terlihat tersenyum dengan sangat lebar. Rapat itu berlanjut dengan mereka tertawa bersama setelah melihat bagaimana putri mungil CEO muda itu menggumamkan banana berkali-kali. Namun, Chanyeol tetaplah Chanyeol. Beberapa menit setelah itu dia berubah kembali menjadi sosok dingin menyebalkan yang sangat serius dengan rapat.

Setelah kedua anaknya tenang, dia berniat meletakkan kembali kedua anaknya ditempat tidur. Namun, pelukan keduanya semakin mengerat dileher –seksi-nya. Bukannya dia keberatan atau apa, dia hanya tidak ingin membuat anaknya tidur dalam posisi tidak nyaman, lagipula Chanyeol masih harus mengurus ibu dari kedua makhluk mungil ini.

"Chaniee~" telinga lebarnya menangkap dengan jernih suara samar wanitanya dari kamar sebelah. Dengan langkah cepat dia berjalan ke kamarnya dengan kedua anaknya dikanan dan kiri lengannya.

"Hei Baekboo.. Bagaimana perasaanmu? Dokter Cho sedang dalam perjalanan kesini." Ucap Chanyeol sambil mendekati ranjang mereka. Hatinya sedikit sesak melihat handuk kompres tergeletak horizontal di dahi sang istri yang wajahnya kini memerah dan tak berdaya. Istrinya memanglah lemah dan sedikit mudah terkena flu di musim panas. Jika biasanya dia akan dengan senang hati menjadi manusia yang paling menikmati rona itu, kali ini dia menjadi yang paling tidak ingin melihatnya. Karena rona itu bukan berasal dari godaannya, melainkan karena demam dan flu sialan itu.

"Hmm.. Aku tahu. Ahjumma sudah memberitahuku. Dan, apa maksudnya kedua anak koala ini menempel ditubuh suamiku, huh?" balas Baekhyun dengan suara lemahnya. Tangan mulusnya terangkat mengelus kepala kedua buah hatinya bergantian yang sedang tidur lelap dipelukan sang suami.

"Ah, mereka terbangun tadi. Kau tahu kan errh-"

"Ya ya ya. Aku mendengar teriakan hebohmu tadi. Hehehe," andaikan istrinya tidak sedang sakit atau tidak ada dua makhluk mungil ini yang jadi penghalang, mungkin dia sudah menghujani wajah istrinya dengan kecupan penuh pemujaan.

"Mereka terbangun dan menangis kencang. Dan tebak apa? Saat aku ke kamar, yang kulihat adalah pemandangan terindah sepanjang hidupku selain melihatmu telanjang tent- argh! Sakit sayang." Oh. Tidak terjadi apa-apa, hanya ada cubitan super mesra sang nyonya rumah. "Baik baik. Kau tahu Jessie sedang menangis tersedu sementara Jackson memeluknya erat sambil menggumamkan kata penenang bahwa semuanya baik-baik saja dan ada oppa disini.." ucapnya sambil tersenyum lembut melihat wajah lelap kedua buah hatinya.

"Waah.. Benarkah? Aigoo, uri Jackson oppa sangat baik hati yaa.. Teruslah menjaga adikmu seperti itu, arrachi? Jadilah lelaki kedua setelah ayahmu yang paling bisa kami andalkan untuk menjaga Ibu dan adikmu.." gumam Baekhyun. Kedua orang dewasa itu tidak melihat adanya senyuman kecil yang tersemat dalam tidur putra mereka.

Baiklah, kembali ke masa sekarang.

"Tidak apa-apa, tuan. Nyonya hanya flu biasa. Demamnya merupakan cara tubuhnya memerangi virus yang ada dalam tubuhnya. Ini adalah resep obatnya, tolong segera ditebus. Besok kemungkinan demamnya akan segera turun, tapi kalau untuk kepulihan totalnya tergantung dari sistem kekebalan tubuh nyonya sendiri. Saya pikir ada baiknya beliau beristirahat total. Apalagi yang saya tahu beliau mengurus kedua buah hati anda berdua seorang diri."

"Okay." Jawabnya singkat. Dia melirik kesalah satu pelayan prianya, member kode untuk segera mengambil kertas resep obat yang ada ditangan dokter tampan itu. Berhubung kedua tangannya tidaklah menganggur. Ingat kan kedua Park junior masih tidur dengan nyaman digendongan ayahnya. "Jadi istriku tidak harus ke Rumah Sakit?"

"Ya tuan.."

"Baiklah. Terimakasih sudah membantu. Dan maaf sudah membuatmu kesini di waktu seperti ini."

"Terima kasih kembali tuan Park. Ini memang sudah tugas saya sebagai dokter. Kalau begitu saya permisi dulu." Sahut sang dokter seraya membungkuk member hormat dan tentunya dibalas dengan sedikit kaku oleh Chanyeol dikarenakan 2 beban dikedua lengannya. Sang dokter yang paham hanya tersenyum lalu beranjak meninggalkan kamar itu disusul oleh beberapa pelayan. Chanyeol sendiri langsung beranjak mendekati sang istri.

"Cepat sembuh, sayangku. Aku mencintaimu. Aku tak bisa membayangkan apa yang aka terjadi besok tanpa kau. Apa aku bahkan bisa memasang dasiku sendiri setelah hampir 4 tahun kaulah yang memasangkannya untukku?"

.

.

.

Ada pemandangan yang tidak biasa pagi itu didalam kantor perusahaan Park Corporation. Apa itu? Pemandangan CEO muda nan tampan itu berjalan tegap dengan dikelilingi oleh banyak pengawal bukanlah hal baru, namun tetap saja menyita perhatian. Tapi ada yang baru nih. Dilengan kokohnya sebelah kiri, terlihat seorang balita super cantik, imut, lucu, dan segala hal yang dapat menggambarkan putri Park itu yang kini sedang bergelayutan manja dileher ayahnya sambil terus memainkan jakun ayahnya dengan jari mungilnya. Sang CEO sendiri tidak nampak terganggu ataupun risih. Sesekali dia akan tertawa lucu ketika ayahnya memainkan jakunnya. Di kiri dan kanannya nyari semua pengawalnya membawa tas yang kelihatannya berisi kebutuhan balita cantik jelita itu.

Jessie, setelah sedikit perselisihan kecil tadi pagi akhirnya diizinkan oleh ibunya untuk ikut ke kantor bersama ayahnya. Demam Baekhyun sudah sembuh, hanya saja Chanyeol sangat mempertimbangkan nasehat dokter semalam. Dia ingin Baekhyun beristirahat total. Awalnya dia ingin memboyong kedua anaknya, tapi Baekhyun langsung mencebik lucu sambil mengatakan bahwa dia akan sangat kesepian ketika berjauhan dengan kedua anaknya. Akhirnya, disinilah Jessie, dengan sweeter berwarna cream bermotif kelinci serta rok mengembang dan sepatu balet pinknya, dan jangan lupakan rambutnya sedikit bergelombang diujungnya yang di kuncir kuda dengan pita besar, tiba dengan senyuman di perusahaan milik ayahnya.

Disepanjang jalan menuju ruangannya Jessie selalu menunjukan ekspresi berbinarnya dan bertanya banyak hal kepada ayahnya tanpa henti. Chanyeol? Dengan senang hati dia menjawab semua rasa penasaran sang putri. Sebenarnya interaksi ayah-anak itu tidak luput dari perhatian orang-orang disekeliling mereka, baik itu pengawalnya maupun pegawai perusahaan itu. Siapa yang tida mendengar berita bagaimana hebohnya prosei kelahiran kedua anak CEO muda itu, terutama sang putri yang katanya harus dibujuk sendiri oleh ayahnya.

"Ayah? Jeci belat?" Tanya si mungil kepada ayahnya didalam lift sambil menyentuh semua anggota wajah ayahnya secara bergantian, yang mana membuat Chanyeol terkikik geli dan author iri. Helow! Siapa yang kagak mau nyentuh tuh benda yang melekat dengan sempurna di muka bangsatnya Enyol? Oke abaikan.

"Hm, tidak Jessie sayang. Ayah suka menggendong Jessie seperti ini. Ayah ingin menikmati ini sebelum Jessie semakin besar dan ayah semakin lemah sehingga ayah tak bisa menggendong putri cantik ayah ini.." ungkap Chanyeol sambil mencium gemas anaknya.

"Kalau begitu Jeci tidak mau makan banyak lagi. Jadi ayah bisa menggendong Jeci sampai nanti nanti," balas Jessie sambil menatap sedih ayahnya. Oh lihat! Chanyeol melihat 99% puppy eyes istrinya menurun pada anaknya yang satu ini. Hanya saja ukurannya lebih besar dari pada milik ibunya. Hei, bukannya itu membuatnya semakin cute?

"Tidak sayang, ayah akan sangat sedih dan menangis jika Jessie berhenti makan banyak. Setiap orang harus tumbuh besar sayang, nanti Jessie juga akan seperti ibu. Tumbuh menjadi Ibu Baekkie yang cantik lalu ayah dan ibu akan berubah menjadi seperti Popi dan Momi (panggilan Park junior untuk kakek dan neneknya). Meskipun tidak bisa ayah gendong lagi, Jessie kan masih bisa memeluk dan mencium ayah, benarkan?"

"Eung!"

"Anak pintar.. Anak siapa ini?"

"Anak tuan besal Pak Cayeoollllie! Yeay!" baiklah mari kita biarkan para pengawal diabetes dan Chanyeol yang nyaris ambruk melihat tingkat ke kyut an anaknya sendiri.

.

.

.

Apa kalian pikir Jessie akan merengek terus menerus dan mengeluh bosan di ruangan ayahnya? Atau dia akan bermain boneka seharian di ruang istrahat ayahnya? Jawabannya adalah tidak sama sekali.

Putri mungil itu sedang duduk diatas jas kerja ayahnya yang diletakkan diatas kursi kebesaran sang CEO diruang meeting utama dengan sebuah mangkuk berisi bermacam buah di pangkuannya. Dia makan dengan nikmat sambil terus memperhatikan ayahnya yang sedang menerangkan proyek perusahaan dengan mata berbinar lucu. Sesekali sang ayah akan mengalihkan perhatiannya kepada sang putri sebelum kembali menjelaskan. Para anggota perusahaan sendiri sangat menikmati perubahan ekspresi Park Chanyeol ketika melihat putrinya dan menghadap bawahannya yang jauh berbeda.

"Ayaah aaaaa.." ucap Jessie ketika ia mencoba menyuapi ayahnya dengan garpu yang berisi potongan pisang, buah yang dia ketahui adalah buah kesukaan sang ayah. Chanyeol berhenti sejenak dan berjalan menuju tempat putrinya duduk untuk menerima suapan dari tangan mungil putrinya.

"Aam. Mm! Segar dan manis sekali." Ucap Chanyeol sambil mengunyah potongan pisang itu. Namun hal yang terjadi selanjutnya, yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Chanyeol maupun semua orang yang ada diruangan itu adalah Jessie yang mencium bibir ayahnya dan mengelus pelan pelipis ayahnya seraya tersenyum.

"Chaleceoyo, ayah. Salanghae. Chu chu~" ucapnya dan ditambah dengan kecupan ringan di pipi kanan dan kiri Chanyeol. Para hadirin diruangan itu tersenyum lembut, merasakan kehangatan di hati mereka masing-masing melihat tingkah sang putri kecil. Tentu saja mereka langsung paham, berarti saat dirumah Jessie selalu diperlakukan seperti itu oleh orangtuanya terutama sang ibu.

"Oh, sayang.. Terimakasih banyak. Apa ini hadiah apa, hum?" andaikan dia hanya berdua saja dengan anaknya ini mungkin Chanyeol sudah menangis sejak tadi.

"Eung! Ibu celalu membeli Jeci stobeli kalau jadi anak baik. Chalanda Chalanda Jeci ya~ Hehehe," ucapnya menirukan suara ibunya sambil terus mengunyah buahnya.

Dan meeting itu terus berlanjut dengan suasana nyaman yang amat sangat terasa berkat kehadiran si malaikat kecil milih CEO berwajah dingin didepan sana. Sementara sang putrid? Kini sedang tidur nyenyak dipangkuan ayahnya yang sedang mengamati dengan cermat tender yang sedang di presentasikan oleh bawahannya. Sesekali Chanyeol akan melirik anaknya lalu mencium pucuk kepala mungil putrinya itu sambil terus mengelus kepala dan punggung si malaikat kecilnya.

.

.

.

Semua ketenangan itu harus tersingkirkan dengan kehebohan –lagi- yang dilakukan oleh CEO tampan itu. Bagaimana tidak? Setelah makan siang dengan lahap, Jessie menghilang saat Chanyeol sedang mengangkat telpon dari istri tercintanya. Chanyeol terus mengumpat dengan murka bahkan hampir menembak kepala pelayannya yang lupa menutup pintu saat keluar ruangannya jika saja dia tidak mengingat masa depan keluarganya kalau dia dipenjara.

Jika ada ajang pemilihan kantor paling berisik dan kacau, maka jangan Tanya siapa pemenanangnya. Tentu saja Park Corporation. Chanyeol, diikuti oleh puluhan pengawal sedang berlari kesana kemari. Pintu utama ditutup rapat agar tidak ada yang bisa keluar (mungkin saja ada yang berniat menculik anaknya, bukan?). Ratusan pengawal sedang mencari disekitar perusahaan sementara tidak ada satupun pegawai kantor yang berdiam diri, mereka ikut mencari keberadaan balita mungil lincah itu.

Chanyeol berhenti ditengah ruangan besar dekat pintu masuk diantara orang-orang luar yang berurusan di perusahaan setelah mendengar ponselnya berbunyi dengan nyaring.

SHIT. SHIT. SHIT.

"Baekhyun.." gumaman pelan itu terdengar oleh hampir seluruh orang yang ada diruangan itu. Suasana seketika berubah menjadi tegang. Siapa yang tidak tahu Byun Baekhyun, atau Park Baekhyun sekarang? Wanita yang terlihat imut namun dapat membuat Chanyeol membakar seluruh Seoul kalau dia disakiti. "Apa yang harus kukatakan…" lirihnya sambil menjambak rambut hitam legamnya yang sudah sedari tadi acak-acakan.

"Angkat saja, Park Sajangnim." Sahut seorang ibu yang sepertinya sudah berumur sekitar 40 tahunan dengan lembut. "Mungkin saja dia ingin bertanya sesuatu. Seorang ibu memiliki insting yang sangat kuat kalau ada hal buruk terjadi dengan keluarganya. Kalau anda mengabaikannya, beliau bisa saja semakin khawatir dan akhirnya menyusul kemari. Jika memang dia bertanya soal anak anda, maka jawablah dengan jujur dan jelaskan dengan pelan. Aku yakin dia akan mengerti dan menyusul kemari dengan perasaan yang lebih jernih dibandingkan dengan anda menjelaskannya dengan panik."

Seluruh penghuni ruangan itu menahan nafas melihat CEO mereka terdiam. Selama ini belum pernah ada yang berani menasehati tuan mereka. Tapi helaan nafas itu terdengar ketika sang CEO tersenyum kecil dan mengucapkan terimakasih.

"Halo?"

"Channie?"

"Ya sayang?" okay dimeja resepsionis seorang pegawai wanita jatuh pingsan mendengar nada mesra pria tampan yang menyandang sebagai CEOnya sisanya ada yang mimisan.

"Kenapa kau menutup telpon tiba-tiba? Apa hal buruk terjadi? Mana Jessie?"

"Ehm, Jessie sedang, sedang-"

"Sedang apa? Jangn berbelit-belit! Jangan bilang Jessie hil-"

"Ayah!" pekikan nyaring itu terdengar dari salah satu sudut ruangan diikuti dengan derap langkah kecil tapi cepat dari sepasang kaki mungil bersepatu balet.

"Jessie ya! Ya Tuhan anakku.." Chanyeol berjongkok menanti anaknya yang sedang berusaha berlari secepat mungkin.

"Chanyeol? Yak! Park Chanyeol! Apa yang terjadi? Kenapa suaramu sepert-" ucapan Baekhyun terhenti ketika mendengar rengekan manja anaknya yang disertai dengan tangisan. Membuatnya semakin khawatir. "Apa yang terjadi dengan anakmu Chanyeol Oppa?!" suara Baekhyun yang dingin itu berhasil menghentikan nafas seluruh orang diruangan itu. Namun, sang CEO sendiri langsung menarik nafas pelan sambil mengangkat anaknya ke dalam gendongannya lalu mulai berbicara lagi.

"Sayang?"

"…"

"Semua baik-baik saja, Jessie sempat kabur tadi. Tapi percayaloah semuanya baik. Aku mohon, untuk sekarang tenanglah dan percayakan semuanya padaku ya? Aku akan pulang sebentar lagi. Jessie masih lengkap dan cantik seperti sediakala, hanya ada sedikit rumput kering di rambutnya. Jadi bisakah kali ini saja kau mempercayakan aku menangani putri kecil kita? Kumohon?" /author mimisan/

"…" selama beberapa saat tidak ada jawaban, tak lama kemudian terdengar helaan nafas ringan dari seberang sana. "Huh, baiklah sayang.. Kumohon jaga Jessie. Apa boleh aku bicara padanya?"

"Tentu sayang, aku tahu kau juga khawatir. Hei putri kecil ayah, ini ibu berbicara." Kata Chanyeol sambil meletakkan ponselnya didepan mata anaknya. Videocall.

"Hei, Jessie. Omo! Kenapa kau terlihat berantakan sayang? Apa yang terjadi?"

"Hehehe, Ibu! Jeci main. Ada puppy kecil. Luka. Kyucu eonnie tolong. Jeci juga, bu.." ucapnya sambil beberapa kali berganti ekspresi, senang dan sedih.

"Wah, anak ibu bermain yaa.. Menyenangkan?" dan diangguki semangat oleh si mungil. "Jjaresseo. Ada mongmongie terluka?" Jessie mengangguk dengan sedih.

"Kaki, Ibu. Kaki mongmong puppy." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Kyucu eonnie tolong, Jeci juga.." jawabnya sambil tertawa bangga.

"Kyucu eonnie menolong mongmong? Siapa itu sayang?" Jesi meminta turun dari gendongan sang ayah dengan heboh dan berlari kecil menuju gadis remaja yang terlihat sedang menggendong seekor anak anjing yang sepertinya lemah sekali.

"Eonnie! Ibu Jeci.." Jessie menunjukkan ponsel ayahnya kepada gadis itu.

"Halo Bibi Park, namaku Do Kyungsoo. Aku kesini bersama ibu, lalu aku bermain ditaman dan melihat anjing kecil ini terluka. Tak lama adik kecil ini datang. Dia menangis kencang dan memintaku mengobati anjing ini.." yang tak lain adalah anak dari ibu yang tadi menasehati Chanyeol. "Maafkan aku karena tidak langsung mengantar Jessie pada Sajangnim.." ucap Kyungsoo dengan sedih.

"Kyungsoo sayang? Hei.. jangan sedih. Bibi mau berterimakasih karena sudah bersama Jessie. Mungkin dia akan benar-benar hilang kalau tidak bersamamu tadi. Terimakasih sudah mengajak Jessie berbuat baik. Lain kali mainlah kerumah Jessie ya? Kita makan bersama.."

"Ne, apa aku boleh membawa mongmongie?"

"Tentu saja sayang.. Bibi punya 4 mongmong besar dirumah, lho!"

"Benarkah?! Ibuu, libur besok kita kerumah bibi Park ya?" tanyanya antusias pada ibunya yang kini berwajah sungkan apalagi tahu dirinya sedang berhadapan dengan istri orang terpenting diperusahaan ini. Namun, keraguannya hilang setelah suara berat dan berkharisma menjawab semuanya.

"Datanglah, Nyonya. Istriku cukup pandai memasak."

"Baiklah. Terimakasih Park Sajangnim."

"Yeay! Kyucu Eonnie main main!" girang Jessie. Sementara Baekhyun hanya tertawa kecil.

"Baiklah sampai bertemu dirumah Jessie sayang. Bisa berikan telponnya kepada ayah?"

"Eung! Ayaahhh! Ini ibu, Jeci mau lihat puppy mongmongie" ujarnya penuh semangat. Para pegawai yang sedari tadi berkumpul kini sudah hampir habis. Semuanya sudah kembali ketempat kerja masih masing dengan perasaan lega. Setelah memberikan ponsel ayahnya, Jessie kembali ketempat Kyungsoo.

"Chan?"

"Hm?"

"Cepatlah pulang, aku merindukan kalian berdua.."

"Baiklah sayang.."

"…"

"Baekkie?"

"Ya?"

"Saranghae."

"Nado. Nado saranghae JacksonJessie appa.."

.

.

.

Chanyeol baru saja turun dari mobil, sementara Jessie sudah merengek turun dengan penuh semangat.

"Jeci mau tulun ayah. Jeci kau memencet bel."

"Belnya terlalu tinggi sayang, biar ayah bantu saja yaa.." bujuk Chanyeol. Sebenarnya dia masih terfikir kejadian tadi. Makanya dia samasekali tidak mau menurunkan Jessie sekalipun. Jessie terlihat berpikir keras sebelum akhirnya mengangguk cepat.

"Call! Ayo ayah cepattt! Jeci mau main sama Jack oppa.."

TING TONG TING TONG

"Ya, sebentar.." itu suara Baekhyun. "Eoh ayah? Hei Jessie sayang ibu-"

"Oppaaaaaaaaaa…" Jessie berlari kencang dan menubruk oppanya dengan pelukan erat. Jackson pun segera membalas pelukan adiknya dengan tersenyum lebar.

"Jeci cudah pulang? Celamat datang.. hehehe"

Kedus orangtua itu menggeleng sambil terawa melihat interaksi si kembar.

GREP

Chanyeol memeluk erat istrinya sambil menyandarkan kepalanya diceruk leher istrinya. Menghirup dalam dalam aroma lembut sang istri.

"C-Chanie…"

"Sebentar saja sayang, aku sangat lelah.. kumohon.." suara Chanyeol terdengan sangat lemah, membuat Baekhyun terenyuh. Pasti suaminya sangat frustasi dan lelah. Mulai dari menjaganya tadi malam, mengurus anak-anaknya sendiri, kekantor, dan bahkan harus bermain sebentar dengan hilangnya Jessie.

"Kau sudah bekerja keras Chanyeollie.. Terimakasih sudah menjaga kami dengan baik. Saranghae.." bisik Baekhyun sambil menangkup wajah tampan suaminya yang terlihat sendu. Sebagai hadiah, Baekhyun menjijitkan kakinya dan…

CUP

Sebuah ciuman lembut mendarat dibibir tebal sang suami. Chanyeol yang jarang mendapat ciuman mesra seperti ini sejak anaknya lahir tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menutup matanya lalu menarik pinggang istrinya hingga tubuh keduanya menempel erat. Dia mengulum bibir bawah istrinya dengan pelan dan penuh damba.

Manis, seperti dulu. Bahkan lebih manis.

Baekhyun yang mulai terbawa suasana pun mulai membalas ciuman itu dengan tak kalah mesra, dia menyesap ringan bibir tebal suaminya dengan penuh cinta. Bahkan sesekali mereka saling menggigit kecil bibir pasangannya. Bagi Chanyeol, bibir mungil istrinya adalah candu yang sangat memabukkan. Dia merasa tak akan sanggup untuk berhenti mengulum bibir mungil yang kini sedikit membengkak itu. Namun dia harus, karena dia masih ingin melihat istrinya hidup dan tidak mati kehabisan nafas hanya karena ciuman penuh hasrat mereka.

"Eungh~"

"Nado Saranghae Park Baekhyun.." bisiknya lembut didepan bibir istrinya setelah ciuman itu terputus.

"Hmm.." Baekhyun hanya tersenyum lalu bergumam "Kurasa malam ini kita bisa sedikit memanaskan kamar kita Yeollie.." Ujar Baekhyun malu-malu. Chanyeol yang mendengarkan terkekeh bahagia melihat wajah istrinya yang sudah memerah parah. Baekhyunnya yang polos telah kembali.

"Baiklah, Chanyeol kecil sepertinya sudah sangat rindu rumahnya.." bisik Chanyeol tepat ditelinga istrinya. "Dan, Baekhyun?"

"Hm, ya?"

"Jangan sakit lagi, kumohon…"

.

.

.

Keuuttt!

Maafkan FF absurd ini yang hanya diketik dalam waktu 4 jam. Ide ini muncul tiba-tiba sih sebenernya. Tanpa ada rencana jadi maaf kalau tidak memuaskan. Semoga saja ini bisa disebut sequel ya.. maaf banyak typo. Aku belom sempet ngedit soalnya udah ngantuk bang..

.

.

Mohon Reviewnya. Review kalian sangat berarti buat kami dan membuat kami merasa dihargai. Thanks.