Ophis duduk diam di puncak bangunan tertinggi memandang datar pada kumpulan pejalan kaki yang berlalu lalang di jalanan sana. Dari tempatnya duduk saat ini, orang-orang itu bagaikan butiran beras yang berserakan di lantai, menyampah kemana-mana. Akan sangat seru sekali jika ia memasukkan satu ularnya ke tubuh salah satu dari mereka kemudian tubuh yang ia kendalikan itu akan menyerang manusia-manusia lain yang berlalu lalang.. kemudian mereka akan saling bunuh-membunuh hingga mewarnai jalanan dengan merah darah mereka. Normalnya itu akan menjadi pemandangan yang menarik bagi Ophis, ia sudah sering melakukan itu, namun perkataan Naruto setahun yang lalu masih menghantui dirinya.
"Berbeda seperti kita, Ophis, kehidupan di bawah sana itu adalah sesuatu yang rapuh, menghilangkannya semudah membalikkan telapak tangan. Kita hanya perlu memecahkan kepala mereka, dan mereka akan mati. Atau, kau bisa menghancurkan jantung mereka, mematahkan leher mereka, menyumbat alat pernapasan mereka, atau bahkan memutilasi mereka.. itu semua akan mengakhiri kehidupan rapuh mereka. Tapi, Ophis, apa kau tahu hal yang lebih indah dan lebih menghibur dari sekedar proses hilangnya kehidupan rapuh itu?"
Hingga saat ini pun Ophis masih kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Apa yang lebih menghibur dari sekedar menyaksikan hilangnya nyawa seseorang? Tentu saja Ophis bisa memberikan jawaban yang menarik, namun itu selalu berujung pada proses melayangnya nyawa seseorang, sehingga itu akan kembali lagi ke poin utama petanyaan tersebut.
Mata Ophis menyipit begitu pupilnya tak sengaja melihat anak-anak bermain di taman tak jauh dari jalanan. Total ada lima anak-anak yang terlibat, empat anak laki-laki mengelilingi anak perempuan yang entah kenapa berada di tengah-tengah mereka. Sekilas mereka tampak bersenang-senang, namun Ophis dapat melihat air mata yang mengalir keluar dari pelupuk mata anak perempuan itu. Bukan berarti itu membuat Ophis bersedih, ia justru semakin tertarik untuk mengamati mereka.
Salah satu anak lelaki itu memegang topi bermotif bunga di tangan kanannya, dia melambai-lambaikan topi itu ke arah anak perempuan yang sedang menangis tersebut. Anak perempuan itu berlari ke arah anak tersebut berniat mengambil topinya kembali, namun tepat ketika dia akan meraihnya, anak lelaki tersebut melemparkan topi itu ke anak lelaki lainnya. Dan ketika anak perempuan itu berbalik berlari ke arah anak tersebut, anak itu juga melemparkan topi itu ke anak lainnya. Hal itu berlangsung terus-menerus hingga anak perempuan itu terjatuh hingga lututnya berdarah, keempat anak lelaki itu hanya mendesah kecewa melihat hal itu, mereka melemparkan topi bermotif bunga itu secara asal lalu pergi berlalu meninggalkan anak yang sedang terluka itu.
Tanpa sadar bibir Ophis melengkung membentuk senyuman lembut, ia langsung menghilang dari tempat duduknya dan muncul tepat beberapa langkah di belakang gadis kecil yang lututnya berdarah itu.
"Apa itu sakit?" tanya Ophis dengan senyum lembutnya.
"Hiks.. sa-sakit.."
Ophis mengambil topi bermotif bunga yang tergelatak di tanah lalu meletakkannya di kepala sang anak kecil, kemudian ia melangkah ke depan gadis itu dan ikut berjongkok bersamanya. Gadis kecil itu menolehkan pandangannya memandang Ophis, meskipun isak tangisnya sudah berhenti, bekas air matanya masih tersisa di pipi tembemnya.
"Mau disembuhkan?" tanya Ophis lagi dengan senyum lembutnya.
"Um, memang bisa?"
"Ee, tentu saja bisa." Ophis meletakkan kedua tangannya di atas kedua lutut gadis itu, dan ketika Ophis mengangkat kedua tangannya, kedua lutut gadis kecil itu langsung sembuh tak berbekas seolah-olah di sana tidak ada luka sama sekali. "Nah, sudah sembuh, kan?" tanya Ophis dengan suara lembutnya.
"Wah, benar-benar sembuh! Sugoi ne, Onee-chan!"
"Benarkah?"
"Um! Apa yang Onee-chan tadi lakukan itu adalah sihir?"
"Hm.. bisa jadi. Kenapa, apa kamu juga ingin bisa melakukannya?"
Gadis kecil itu mengangguk cepat, senyum senang segera terukir di wajah manisnya. Ophis yang melihat itu pun ikut tersenyum lembut. "Untuk bisa melakukannya, kau harus memiliki rasa keadilan yang tinggi," ucap Ophis dengan serius.
"Rasa keadilan?"
"Ya. Rasa keadilan itu adalah keinginan untuk menghukum mereka-mereka yang berlaku tidak adil. Contohnya anak-anak yang tadi membulimu, apa itu adalaha sebuah keadilan untuk mempermainkanmu seperti itu?"
Gadis kecil berusia delapan tahunan itu menggelengkan kepalanya, "Itu sangat tidak adil, Yui tidak pernah berbuat jahat."
"Tentu saja Yui tidak pernah berbuat jahat," komentar Ophis sambil mengelus pipi kiri gadis bernama Yui itu. "Meskipun Yui tidak berbuat jahat, mereka tetap membuli Yui, dan itu sangat tidak adil sekali. Akan tetapi, apa akan ada yang menuntut keadilan itu untuk Yui?"
"Okaa-san?"
"Okaa-san-nya Yui tidak melihat langsung kejadian itu; anak-anak itu juga bisa melaporkan ke ibu mereka kalau Yui berbohong, lalu apakah Okaa-san-nya Yui tetap akan menuntut keadilan?"
Yui menggelengkan kepalanya, wajahnya menjadi sedih seketika.
"Yang hanya bisa menuntut keadilan adalah Yui sendiri; yang berhak memberikan keadilan adalah Yui sendiri; hukuman yang berhak mereka terima adalah hukuman dari Yui. Kebaikan dibalas dengan kebaikan yang lebih besar, dan kejahatan pun dibalas dengan kejahatan yang berlipat-lipat. Jika tidak begitu maka para perusak keadilan tidak akan pernah jera; apa Yui mau melihat anak lain menjadi korban mereka seperti yang terjadi pada Yui seperti tadi?"
"Tidak.." geleng Yui cepat. "Yui tidak ingin kejadian seperti itu terulang, tapi.. apa Yui bisa melakukannya?"
Ophis meletakkan tangan kanannya di atas topi Yui. "Tentu saja Yui bisa," responnya dengan senyum hangat. "Aku akan memberikan Yui sihir yang akan membuat Yui bisa menjadi penegak keadilan, tapi itu artinya Yui akan menjadi berbeda dengan yang lainnya, apa Yui mau?"
"Berbeda bagaimana, Onee-chan?"
"Yui akan menjadi manusia yang spesial, tidak ada manusia yang lebih spesial dari Yui; semua orang akan memandang Yui dengan iri, namun pada saat yang bersamaan mereka akan mengelu-elukan Yui. Yui akan menjadi manusia super, apa Yui mau?"
"Seperti Onee-chan?"
Ophis hanya tersenyum lembut merespon pertanyaan polos itu. "Apa Yui mau?" tanya Ophis lagi.
"Um, Yui mau jadi manusia super seperti Onee-chan!"
Ophis tersenyum senang mendengarnya. "Kalau begitu tutup kedua matamu, aku akan memberikan sebagian sihirku untukmu. Jangan buka sampai aku bilang sudah."
Yui mengangguk dengan semangat seraya memejamkan kedua matanya. Ophis tersenyum puas melihat ekspresi gadis kecil tersebut. Ia langsung mengeluarkan seekor ular berwarna emas keputihan, ular itu berbeda dari ular yang biasa ia berikan kepada orang lain, ular itu sedikit mirip dengan inti keberadaan Ophis; ular itu memiliki sedikit aspek ketidakbatasan dari sang infinite dragon god. Ophis memposisikan kepala ular itu tepat di dahi Yui, kemudian secara perlahan ular itu menembus memasuki dahi Yui hingga tak bersisa. Setelah ular itu menghilang ke dalam diri Yui, tubuh gadis kecil itu langsung diselimuti oleh aura keemasan. Aura keemasan itu bertahan hingga setengah menit lamanya, barulah kemudian menghilang memasuki dahi Yui meninggalkan sebuah simbol belah ketupat kecil berwarna keemasan di sana.
"Sudah, kau boleh membuka matamu."
Yui mengangguk dan langsung membuka kedua kelopak matanya, membuat iris hazelnya kembali melihat dunia dalam segala warnanya.
"Bagaimana, apa Yui bisa merasakan sihir yang mengalir di tubuh Yui?" tanya Ophis dengan suara lembutnya.
"Um," angguk Yui. "Ini hebat, Yui sekarang adalah manusia super!"
"Ya, Yui sekarang adalah manusia super, tak ada yang lebih baik dari Yui di dunia ini. Perkataan Yui adalah perkataan yang paling benar, dan keputusan Yui adalah keputusan yang paling adil."
"Tapi, Okaa-san bilang perkataan dan keputusan Tuhanlah yang paling benar dan adil.."
Ophis meletakkan tangan kanannya di atas kepala sang gadis. "Benarkah begitu?" tanyanya sarkastik. "Lalu, apakah Tuhan telah mengambil keputusan yang benar dengan membiarkanmu disakiti oleh keempat anak itu? Lalu apakah itu adil membiarkan keempat anak itu berlalu tanpa hukuman? Dan yang paling penting, jika aku tidak menyembuhkan Yui, apakah Tuhan akan datang untuk menyembuhkanmu?"
Yui diam. Ia membuka mulutnya berniat memberi respon, namun ia kembali menutup mulutnya ketika pikirannya tak mampu memberinya alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yui juga sering melihat orang-orang banyak menderita, anak-anak seusianya yang tak punya rumah, serta bulian-bulian seperti yang dialaminya tadi.. dan Tuhan sama sekali tidak pernah menolong mereka, Dia sama sekali tidak peduli. "Okaa-san bohong.." simpul Yui. "Tuhan tidak baik; Dia jahat; Dia sama sekali tak peduli."
Ophis tersenyum lembut mendengar gumaman Yui. "Karena itu," ucapnya, "Yui harus menjadi pahlawan yang akan membawa kedamaian dan keadilan di dunia yang ditinggalkan Tuhan ini; tak ada yang bisa melakukan itu selain Yui, Yui adalah satu-satunya harapan manusia yang akan mengembalikan mereka ke jalan kebenaran. Bukankah itu artinya menjadi pahlawan, menjadi manusia super?"
Yui mengangguk pelan. Ophis kembali tersenyum lembut melihatnya. Anak seusia Yui, dari apa yang Ophis perhatikan, memang sangat tertarik dengan konsep pahlawan dan manusia super, terlebih setelah ia menyembuhkan gadis kecil ini tadi. Tentu, di mata gadis ini ia adalah pahlawan dengan sihir super, benar-benar lucu sekali.
"Jadi, apa Yui siap menunjukkan keadilan pada dunia?" tanya Ophis dengan nada menantang.
"Um!"
Ophis berdiri dari posisi jongkoknya dan mengulurkan tangan kannanya untuk diraih Yui. "Kalau begitu ayo pergi, mereka berempat pasti masih berada di sekitar sini."
"Ayo pergi, Onee-chan!" seru Yui sambil meraih uluran tangan Ophis.
Dengan itu keduanya pun berjalan bergandengan tangan menyusuri seluk beluk taman. Bagi para pengunjung taman atau orang yang sekedar lewat, mereka berdua terlihat seperti kakak-adik yang sedang menikmati waktu bersama di taman. Mungkin Yui pun beranggapan demikian, dia dengan senang memanggil dirinya Onee-chan. Namun bagi Ophis, Yui tak lebih dari sekedar objek yang telah menarik perhatiannya, ia ingin melihat sejauh apa gadis ini bisa membuatnya terhibur.
Mereka tak menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencari keempat pendosa itu, hanya lima menit setelah mereka berjalan mereka menemukan keempat anak itu sedang membuli seorang anak lainnya.
"Apa yang akan Yui lakukan pada mereka, hm?" tanya Ophis, ekspresinya menunjukkan ketertarikannya untuk mendengar jawaban gadis kecil di sampingnya.
Yui terdiam sebentar, Ophis dengan sabar menunggu.
"Yui akan memarahi mereka seperti Okaa-san memarahi Yui saat Yui nakal," ucap Yui dengan mantap, sorot matanya terlihat berapi-api.
"Apa Yui yakin mereka akan mendengar ucapan Yui, sedangkan tadi mereka menjadikan Yui bahan bulian mereka? Selain itu, apakah Yui telah menjadi anak baik sejak Okaa-san Yui memarahi Yui?"
Yui mengernyitkan keningnya, mungkin mengingat kejadian pembulian terhadapnya tadi, atau sikapnya ketika kena marah ibunya. Sesaat kemudian Yui menggelengkan kepalanya pelan, "Mereka pasti akan mengejek Yui," ucap Yui pada akhirnya.
"Kalau begitu, apa yang akan Yui lakukan?" tanya Ophis lagi.
Yui menengadahkan wajahnya memandang Ophis. "Apa yang harus Yui lakukan, Onee-chan?" tanyanya sungguh-sungguh.
Ophis tersenyum lembut, matanya terlihat berkilapan. "Buli mereka."
"Membuli mereka?"
"Ya," jawab Ophis mantap. "Setiap perbuatan jahat harus dibalas dengan perbuatan jahat yang berlipat, bila perlu balas berkali-kali lipat supaya mereka jera. Meskipun mereka nantinya memelas meminta maaf dan ampunan, jangan berikan. Karena jika kata maaf bisa menyelesaikan semuanya, buat apa ada penjara, buat apa pula ada neraka? Lalu, siapa yang akan menjamin kalau mereka tidak akan mengulanginya lagi? Dunia ini tidak akan pernah damai selama orang-orang jahat masih ada, dan sudah menjadi tugas pahlawan untuk memberikan mereka hukuman dan melenyapkan orang-orang seperti mereka. Sudah menjadi tugas Yui sebagai manusia pilihan untuk membawa manusia-manusia yang tersesat itu pada jalan kebenaran."
"Tapi, Okaa-san bilang seseorang bisa berubah menjadi lebih baik.."
"Yui, manusia adalah makhluk yang munafik, mereka adalah pembohong yang ulung. Jangan pernah langsung percaya pada perkataan manusia, karena sejatinya tipu daya manusia jauh lebih menakutkan daripada tipu daya setan yang semuanya prediktabel dan bodoh. Namun Yui saat ini, meskipun manusia, sudah bukan lagi bagian dari mereka."
"Yui spesial.."
"Ya, Yui spesial; tak ada yang lebih baik dari Yui."
Yui mengangguk, "Ya, Yui spesial.." ucapnya sambil melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ophis lalu berjalan menghampiri keempat anak yang tengah membuli seorang anak kecil tersebut.
"Hei, lihat, itu anak tadi!" seru salah seorang dari anak-anak tersebut sambil menunjuk ke arah Yui.
"Mau apa dia ke sini, apa mau dikerjai lagi?" tanya seorang lainnya.
"Mungkin dia kurang puas dengan yang tadi, dan sekarang dia mau ikut dikerjai bareng anak gendut ini."
"Eh, bisa jadi, kalau gitu ayo seret dia!"
Ophis memandang tertarik pada Yui yang tak gentar terhadap anak-anak yang mendatanginya itu. Memanipulasi Yui sangatlah mudah, namun membuatnya bertindak seperti apa yang ia harapkan sangatlah sulit mengingat anak kecil seusianya itu memiliki ketakutan tertentu terhadap hal-hal yang membahayakan. Namun Ophis tidak khawatir dengan itu, bukan saja ular yang ia masukkan ke tubuh gadis itu akan membuatnya menjadi manusia super namun juga akan membisikkan kata-kata sugesti di kepala gadis itu. Karenanya Ophis tidak menghentikan langkah gadis itu, ia sama sekali tidak meragukan tindakan Yui.
Begitu keempat anak itu berdiri dengan wajah angkuh tepat di depan Yui, gadis berambut hitam sebahu dan beriris hitam itu langsung mendaratkan sebuah pukulan di perut mereka secara berurutan. Pukulan itu cukup kuat hingga membuat keempat anak yang hanya satu atau dua tahun lebih tua dari Yui itu terlempar beberapa meter ke belakang, membuat mereka berempat mengaduh kesakitan sambil memegangi perut mereka. Seolah belum puas, Yui langsung melangkah menuju ke anak yang paling pinggir dan menjatuhkan telapak kakinya di wajah anak lelaki itu. Seringaian kecil terbentuk di wajah Yui, "Sakit?" tanyanya polos sambil menekan kuat kakinya ke wajah anak itu.
Yui tak peduli pada suara kesakitan sang anak, ia malah menolehkan pandangannya memandang anak gendut yang dibuli tadi yang kini memandang ke arahnya dengan takut. "Kau," ucap Yui, membuat anak gendut seusianya itu mengangguk cepat. "Pijak-pijak mereka sepuasmu!" perintah Yui.
"Ta-Ta-"
"Cepat!"
"H-Hai!" Bagaikan mendengar perintah Tuhan, anak gendut itu langsung bergegas menuju ke anak yang meringis kesakitan di samping anak yang mukanya Yui pijaki. Anak gendut itu dengan tanpa ragu langsung menghentakkan kakinya menghujam wajah anak itu, awalnya pelan, sekali, dua kali, lalu lama-lama senyum senang berkembang di bibir anak gendut itu dan dia langsung meningkatkan intensitas memijaknya hingga muka sang anak yang terbaring itu berlumuran darah. "Mampus kau!" seru anak gendut itu sambil melumpat dan mendaratkan pantatnya di perut anak yang sudah hampir setengah mati itu.
Tak berbeda jauh dengan anak gendut itu, Yui pun sangat menikmati menyakiti anak lelaki yang sedari tadi ia pijaki wajahnya hingga tulang hidungnya patah. Setelah ia puas, ia pun pindah untuk menyakiti anak lelaki lainnya yang mencoba untuk bangun. Ia menghantam kepala anak itu dengan lututnya hingga membuat anak itu jatuh menghantam tanah lagi, kali ini lebih keras dari yang tadi. Seolah tak ingin kalah dengan Yui, anak gendut itu pun meninggalkan korbannya dan menghampiri anak lelaki yang tersisa lalu menjatuhkan tubuhnya sekuat-kuatnya ke punggung sang anak, membuat bunyi retakan tulang terdengar ke telinga Ophis. Entah kenapa mereka berdua terlihat sangat professional ketika menyakiti anak-anak itu, seolah-olah mereka adalah ahli, meskipun kenyataannya itu adalah pertama kalinya mereka menyakiti seseorang hingga seperti itu.
Ophis tersenyum lembut menyaksikan pertunjukan yang sangat indah di depan matanya, itu bahkan lebih indah dari pertunjukan-pertunjukan lain yang telah ia tonton selama ini. Senyum yang bertengger di wajah Ophis sangatlah indah, itu seperti senyum bahagia yang muncul di wajah seorang ibu begitu dia merengkuh bayi yang baru dilahirkannya.. senyum tulus yang sangat lembut dan tanpa beban. Meskipun di mata orang lain apa yang tersaji di depan matanya adalah kengerian, di mata Ophis itu benar-benar pertunjukan yang sangat indah, terlebih lagi simfoni yang dilagukan oleh rintihan-rintihan kesakitan anak-anak itu. Masterpiece, batin Ophis.
"Hentikan!"
Ophis tak menoleh ketika suara seorang polisi dan beberapa warga di belakangnya terdengar, Ophis memang sengaja membiarkan mereka semua melihat supaya mereka menghentikan siksaan yang diberikan Yui dan anak gendut itu kepada keempat bocah itu. Karena jika tidak maka mereka akan menyiksanya sampai mati, dan itu tidak akan sempurna mengingat Ophis ingin tahu apa yang akan dilakukan keempat bocah itu setelah mereka keluar dari rumah sakit nanti, apakah balas dendam atau berhenti total dari membuli anak lain? Karena hal itu, Ophis mengangguk mengiyakan begitu dia bertanya apa harus berhenti.
Selagi polisi dan warga memeriksa kondisi keempat bocah itu, anak gendut itu sudah berlari menjauh dari mereka, dan Yui pun sudah berdiri di sampingnya dengan senyum puas. "Mau mencari para pendosa lainnya, kali ini yang lebih besar dari mereka berempat, mau?" tanya Ophis. Dan anggukan cepat dari Yui sudah cukup untuk menjawab pertanyaan itu, Ophis lalu merangkul Yui dan keduanya langsung menghilang dari situ seolah-olah mereka tidak ada, membuat para warga dan polisi tak becus itu kebingungan.
Selanjutnya Ophis membawa Yui ke tempat yang tak jauh dari taman, kendati demikian, itu adalah tempat dimana biasanya para berandalan berkeliaran untuk membuli atau memerasi orang-orang yang lewat. Ophis pun kembali menginstruksikan Yui tentang apa yang harus dilakukannya, dan Yui benar-benar melakukannya dengan sempurna dan senyum senang tanpa dosa yang terkadang berubah menjadi senyum sadis, namun Ophis menikmati semua pertunjukkan itu.
Orang-orang yang diselamatkan Yui dari para berandalan terkesan dengan kerja Yui. Mereka yang awalnya takut perlahan-lahan pun ikut-ikutan menyiksa para berandalan itu, sama seperti anak gendut tadi. Hal it uterus berlanjut hingga beberapa saat lamanya, dan ketika semuanya selesai dan polisi serta warga berdatangan, Ophis dan Yui pun hendak pergi. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini beberapa dari orang yang diselamatkan Yui memutuskan untuk mengikuti Yui dan memberikan hukuman pada orang-orang busuk lainnya. Dan seiring berjalannya waktu, pengikut Yui dan Ophis kian bertambah.
Tak terasa waktu kian berlalu, Ophis pun memutuskan untuk pergi dan membiarkan Yui memimpin mereka melanjutkan aksi mereka.
Ophis melambai pada Yui dan pengikutnya lalu menghilang begitu saja dari hadapan mereka, seolah-olah ia tidak pernah berada di sana sebelumnya. Ophis muncul kembali di puncak gedung tertinggi di kota ini, ia duduk dengan elegan dan mengamati mereka semua dari atas sini. Ophis tersenyum puas memandang Yui yang mulai berlalu lalang sembari berteriak "We're the judges; Evil doers shall be punished!" Beberapa anak-anak hingga orang dewasa mengikutinya dari belakang seolah-olah Yui adalah pemimpin mereka semua. Sama seperti Yui, mereka pun kompak meneriakkan "We're the judges; Evil doers shall be punished!"
Kira-kira, kekacauan apa yang akan disebabkan oleh Yui dan pengikutnya terhadap dunia supernatural, hm?
Senyum Ophis menghilang seketika begitu ia merasakan sebuah lingkaran sihir muncul beberapa meter di belakangnya. Ophis tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang datang. "Ada apa, Le Fay?" tanyanya datar.
"Semuanya telah berkumpul, Ophis."
"Oh, okay. Kau kembalilah duluan, aku akan menyusul."
"Baik."
Ophis kembali mendaratkan pandangannya pada Yui dan para pengikutnya, harus ia akui kalau melihat mereka membuatnya terhibur. Bagaimana kalau ia juga mulai mempermainkan dunia supernatural, sebagaimana halnya ia mempermainkan Yui dan yang lainnya? Mungkin juga ini adalah apa yang Naruto maksudkan, Ophis tidak tahu pasti, tapi ini sangat menyenangkan.
Senyum senang berkembang di bibir mungil nan tipis Ophis, saatnya kembali, batinnya dan ia pun lalu menghilang ke dalam distorsi ruang yang tiba-tiba terbentuk di alas tempatnya duduk menelan habis dirinya.
Ratusan mil dari tempat Ophis duduk tadi, sebuah distorsi ruang berwarna ungu tercipta begitu saja di sebuah ruangan besar yang minim akan penerangan. Dari robekan ruang itu keluarlah Ophis dengan wajah datarnya, ia melayang di tengah-tengah ruangan di hadapan puluhan orang yang berbaris berkelompok-kelompok. Sesaat kemudian muncul sebuah distorsi lain tepat di bawah Ophis, dari dalam distorsi itu keluarlah sofa santai berwarna merah darah. Sofa itu melayang tepat di bawah Ophis, dan seolah mendengar panggilan sang sofa, Ophis menurunkan tubuhnya dan secara perlahan dan elegan ia menduduki sofa mewah itu. Setelah membuat posisinya nyaman, Ophis memfokuskan pandangannya pada organisasi yang ia bentuk: Khaos Brigade.
Khaos Brigade adalah organisasi yang mayoritas anggotanya adalah kriminal dunia supernatural yang membentuk kelompok-kelompok tersendiri di dalam organisasi. Artinya, meskipun mereka berada dibawah naungan organisasi yang sama, mereka sama sekali tidak menganggap satu sama lain sebagai kolega. Mereka bahkan tak ragu untuk membunuh satu sama lain jika kematian seseorang itu dapat menguntungkan tujuan pribadi mereka. Toh, meskipun orang itu mati, tak akan ada yang mempermasalahkan hal itu. Jika mereka terbunuh dengan mudah maka mereka lemah, dan orang lemah sama sekali tidak diperlukan oleh Khaos Brigade.
Ophis mendirikan organisasi ini tiga tahun sebelum ia bertemu dengan Naruto. Saat itu, tujuan Ophis mendirikan organisasi ini murni hanya untuk mengisi waktu kosong selama ia tidak sibuk meningkatkan kontrol atas kekuatannya dan tentu saja, selama ia tidak sibuk mempraktikkan apa yang ia tonton dari "Final Destination" dan "Saw". Namun entah kenapa orang-orang di sini berpendapat kalau ia mendirikan organisasi ini bertujuan untuk mengusir Great Red dari celah dimensi. Meskipun Ophis bangga akan kekuatannya, ia tak searogan itu; bahkan jika seluruh makhluk supernatural bersekutu sekali pun, Great Red tetap tak akan kalah; jika ia berniat untuk mengusir Great Red maka ia tak akan repot-repot mendirikan organisasi ini, ia akan langsung mencari cara untuk membebaskan Trihexa dan membuatnya mengalahkan naga merah bodoh itu secara langsung. Namun Ophis tak menginginkan itu; ia ingin membuat Great Red bersujud di hadapannya, ia ingin menghancurkan harga diri naga merah itu berkeping-keping; membuat orang lain melakukan itu untuknya sama sekali tidak menyenangkan. Kendati demikian, Ophis sama sekali tak berusaha meluruskan kesalahpahaman mereka, itu justru bagus untuknya.
Akan tetapi saat ini berbeda, berkat keempat anak itu dan Yui, Ophis akhirnya sudah mendapatkan tujuan dari organisasi ini. Ophis tidak tahu apakah ini yang dimaksudkan Naruto atau tidak, tapi Ophis benar-benar menikmatinya. Membuat orang-orang bergerak layaknya bidak-bidak catur, itu sangat menyenangkan. Mungkin itu adalah alasan mengapa Naruto sering mengajaknya bermain shogi dan catur, permainan itu membuatnya seolah-olah penguasa dunia yang dilambangkan oleh papan catur dan shogi; Ophis bebas menggerakkan bidak-bidak itu sesuka hatinya. Ya.. ini adalah apa yang Naruto maksudkan, apalagi coba yang lebih menyenangkan dari menghilangkan kehidupan selain mempermainkannya?
Ophis mengernyitkan keningnya memikirkan hal itu lebih jauh, bisa jadi kalau Naruto juga menganggapnya sebagai bidak yang bisa dia gerakkan sesuka hati; bisa jadi kalau Naruto juga menganggapnya sebagai mainan untuk dimainkan. Hmph, Ophis tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, ialah yang akan membuat Naruto menjadi bidak dalam papan permainannya, bukan sebaliknya. Tapi sebelum itu, ia harus mengurus grupnya terlebih dahulu, dengan demikian ia akan punya bidak-bidak untuk dimainkan. "Menjadi pengawas dunia dan memusnahkan makhluk supernatural lainnya, itulah tujuanku yang sebenarnya dalam mendirikan Khaos Brigade," ucap Ophis memulai pertemuan dengan penuh keseriusan.
xxXxx
Kuoh High School adalah sekolah ternama di Kuoh Town. Dulunya sekolah ini hanya dikhususkan untuk golongan lelaki saja, namun kemudian aturan baru yang mengizinkan pelajar laki-laki untuk bersekolah di sana pun dibuat. Sejak saat itu, jumlah siswa laki-laki yang bergabung meningkat secara signifikan, namun demikian, perbandingan jumlah siswa dan siswi masihlah terlampau jauh.
Hyodou Issei adalah salah satu dari sekian jumlah siswa yang melanjutkan sekolah di sekolah itu. Ia bergabung dengan sekolah tersebut setahun yang lalu, dan sekarang adalah tahun keduanya di sana.
Seperti biasanya, Hyodou Issei dengan penuh semangat memulai perjalanan ke sekolah. Sekolah, bagi Issei, adalah salah satu taman surga. Mengapa? Tentu saja itu karena Issei akan bisa menikmati kenikmatan surgawi di sana secara leluasa. Apalagi ketika jam olahraga, Issei tidak akan pernah melewatkan kesempatan melihat para gadis dengan kedua buah surgawi mereka terlewatkan. Issei adalah orang yang sangat amat mesum, dan ia dengan amat sangat bangga mengakui kalau ia mesum. Buat apa malu? Toh, pada dasarnya semua manusia itu mesum, karena jika tidak maka tidak mungkin mereka akan beranak pinak sebanyak ini. Kebanyakan manusia adalah munafik, mereka membenci orang mesum padahal mereka sendiri pun mesum; Issei tidak ingin menjadi munafik seperti mereka, karenanya dengan sangat bangga ia mengatakan secara terang-terangan kalau dia itu orang yang sangat mesum.
Berbeda dari biasanya, kali ini Issei tidak berangkat sekolah sendiri; seorang gadis manis berambut pirang panjang dan setahun lebih muda darinya berjalan dengan wajah bahagia di samping Issei. Asia Argento, itu adalah nama dari gadis manis yang menemaninya itu. Meskipun dada Asia berukuran lebih kecil dari genggaman tangannya, namun Issei tidak mempermasalahkan hal itu; dada wanita tetaplah dada wanita, mereka adalah buah surgawi.
"Issei-san, apa sekolahnya masih jauh?"
Issei menoleh ke kirinya memandang raut cemas Asia. "Hanya dua blok lagi, Asia," jawab Issei dengan cengiran lebarnya. "Tidak perlu khawatir, kau pasti akan baik-baik saja di sana! Nanti aku kenalkan sama Buchou dan kau akan resmi bergabung dengan klub penelitian alam gaib setelahnya."
Asia mengangguk senang, "Terima kasih, Issei-san."
"Tidak masalah, Asia, aku akan selalu bersamamu!" seru Issei sungguh-sungguh, karena kau adalah anggota haremku yang pertama!
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi keduanya untuk sampai di depan gerbang sekolah, hanya dalam waktu delapan menit lebih mereka telah tiba di sana. Seperti biasanya, para siswi yang melihat Issei langsung mengiriminya pandangan jijik, seolah-olah dia adalah sampah yang harus dienyahkan. Namun Issei tak lagi terpengaruh sedikit pun, ia sudah kebal dengan semua pandangan-pandangan itu.
"Hei, apa yang kau lakukan di dekat si mesum itu?!"
"Pergi dari sana, hanya dengan berada di dekatnya itu cukup untuk membuatmu hami!"
"Demi kebaikanmu, kau harus menjauh dari si mesum itu!"
Issei melirikkan matanya memandang ekspresi Asia. Ia sangat tidak masalah jika orang-orang lainnya memandang jijik dirinya, tapi Issei tak ingin pandangan yang sama diberikan oleh Asia padanya. Asia adalah wanita pertama yang menganggapnya sebagai manusia spesial bukan karena hal apa pun melainkan murni karena dirinya sendiri, akan sangat menyakiti hati Issei jika mantan biarawati ini sampai memandang jijik dirinya.
"Issei-san," panggil Asia sambil meraih pergelangan tangan Issei, dia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Issei. "Issei-san adalah orang yang baik," ucap Asia dengan suara lembutnya.
Issei tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Mungkin di-seluruh permukaan bumi ini, hanya Asia seorang saja yang menerima dirinya apa adanya sebagai Hyoudou Issei, bukan Hyoudou Issei sang Sekiryutei yang diinginkan ketua klubnya. "Terima kasih, Asia."
"Aa.. Hyoudou-kun."
Issei langsung berbalik arah begitu mendengar suara yang familiar itu. "Uchiha-sensei," responnya ramah.
"Kau terlalu lama berdiri di depan gerbang, Hyoudou-kun."
Issei langsung membungkuk sembilan puluh derajat begitu ia sadar apa yang sudah dilakukannya. "Saya sungguh minta maaf, Uchiha-sensei!"
"Ee, tak apa, lain kali langsung masuk saja. Aah.. aku harus bergegas ke lab, sampai jumpa di kelas, Hyoudou-kun. Dan oh.. jangan lupa perkenalkan lingkungan sekolah pada siswi baru di sampingmu."
"Hai, sensei!"
Issei mengarahkan matanya memandang kepergian guru matematika yang mengajar di kelasnya itu, dari semua guru yang ada di sekolah ini, cuma beliau saja yang tak pernah mempermasalahkan kemesumannya. Karena itu pula Issei menghormati sang guru tersebut.
"Issei-san.."
"Ah, maaf Asia, kalau begitu ayo kita ke ruang klub sebelum bel masuk berbunyi."
Dengan itu Issei langsung bergegas menuntun Asia ke gedung sekolah lama dimana klub penelian alam gaib terletak. Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke sana, Issei dan Asia sudah berdiri di depan pintu ruang klub hanya setelah dua menit berjalan. Seperti biasanya, Issei tak mengetuk pintu, ia langsung membuka pintu dan memasuki ruangan. Biasanya, hal pertama yang menyambut pandangan Issei begitu ia memasuki ruangan ini adalah sosok Rias Gremory yang sedang berpakaian. Kadang ia mendapatkan keberuntungan besar dengan melihat sosok Rias tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, kadang pula ia hanya berkesempatan melihatnya dalam balutan pakaian dalam. Namun hari ini berbeda, yang menyambut pandangannya adalah sosok berpakaian lengkap Rias ditemani Akeno duduk berhadap-hadapan dengan sang ketua dan wakil ketua osis.
"Ara~, Issei-kun dan Asia-chan.. seperti biasa kau datang pagi Issei-kun~ fufufu, namun sayang hari ini kau sedang tak beruntung."
"Ah, selamat pagi, Issei."
"Hyoudou-san."
"Hyoudou-san."
"Ahahaha.. Akeno-senpai, Buchou, Kaichou, Fuku-Kaichou.." sapa Issei cengengesan sambil menggandeng Asia untuk memasuki ruangan. Ia langsung membawa Asia untuk menduduki sofa di sana setelah terlebih dahulu menutup pintu klub.
"Rias, kita tunda pembicaraan kita sampai jam pulang sekolah nanti, dan tolong cukup pergi berdua dengan Akeno nanti ke ruang osis." Tepat setelah mengatakan itu, kedua gadis berkacamata itu langsung pergi meninggalkan ruang klub penelitian ilmu gaib. Issei merasa seolah-olah keberadaannya telah mengusik ketenangan mereka berdua, memikirkan itu membuatnya tersenyum paksa.
"Tidak perlu dipikirkan, Issei," ucap Rias menenangkan. "Sona memang tidak pernah menyukai orang yang melakukan tindak kemesuman di tempat pendidikan, terlebih dia adalah ketua osis yang bertanggungjawab terhadap keteraturan lingkungan sekolah. Lebih baik fokus ke tujuan awalmu, bukankah kau ingin memperkenalkan Asia pada semuanya?"
"Fufufu.. kau harus siap menerima perlakukan buruk seperti apa pun jika masih bersikeras untuk menjadi raja harem, Issei-kun~.. dan siapa tahu pula nanti aku menjadi anggotanya.. fufufu."
Semangat Issei kembali berlipat-lipat setelah mendengar kata-kata penyemangat kedua senpainya. "Tentu saja, aku tidak akan berhenti meskipun semua orang memandangku jijik. Seperti yang Uchiha-sensei katakan: 'selama kau yakin dan siap menanggung segala konsekuensi dan resiko dari pilihanmu, maka kau tidak perlu mendengarkan ucapan-ucapan orang lain; yang menjalani hidupmu adalah kau sendiri, anggap saja mereka itu sampah yang mengganggu jalanmu: buang mereka pada tempatnya.'"
"Kau berhubungan baik dengan Uchiha-sensei?" tanya Rias penasaran.
"Er.. nggak juga sih, Buchou, hanya saja Uchiha-sensei adalah satu-satunya guru yang tidak pernah memandang jijik diriku. Ketika aku bertanya padanya, dia memberiku jawaban yang seperti itu, dan dia mengakhiri alasannya dengan 'dan aku tidak ingin menjadi salah satu sampah itu'."
"Ara ara.. seperti yang diharapkan dari Uchiha-sensei~"
Kemudian Issei pun mulai memperkenalkan satu per satu anggota klub penelitian alam gaib kepada Asia. Namun karena Kiba dan Koneko belum hadir dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, ia tidak mengatakan lebih jauh pada Asia dan memutuskan untuk melanjutkan nanti sewaktu jam istirahat. Setelah Asia memperkenalkan dirinya pada Akeno dan Rias, Issei langsung mengajak Asia untuk kembali ke gedung sekolah baru lalu mengantarnya ke ruang kelas.
"Sampai bertemu nanti, Asia," ucap Issei sembari bergegas ke ruang kelasnya. Ia mendengarkan ucapan "terima kasih, Issei-san" dari Asia, namun ia tidak membalas ucapan tersebut dan justru menambah laju langkahnya untuk menuju ke ruang kelas. Jam pertama nanti adalah mata pelajaran yang diampu Uchiha-sensei. Issei tidak ingin membuat guru satu-satunya yang mendukungnya tersebut kecewa padanya, karena itu Issei tak ingin terlambat, meskipun ia terkadang kesal melihat guru berwajah rupawan itu dikelilingi para gadis.
..sore, jam pulang sekolah, ruang osis..
Sona memandang datar pada papan catur yang terbentang rapi di hadapannya, ia sedang menunggu Tsubaki untuk memainkan gilirannya. Harus ia akui permainan Tsubaki makin hari makin berkembang, mengalahkan queen-nya ini tidak lagi semudah mengalahkan Rias atau pun Akeno. Bahkan beberapa kali Tsubaki hampir memaksakan terjadinya remis, gadis berkacamata sepertinya ini benar-benar telah berkembang pesat.
"Check."
Sona tersenyum kecil melihat langkah yang diambil Tsubaki, langkah itu sudah ia prediksikan, karena itu Sona tak langsung menggerakkan bidak kudanya untuk menghalangi bidak Tsubaki dari memangsa bidak rajanya. Tampaknya Tsubaki pun juga telah memprediksikan langkah yang akan ia ambil, geraknya yang cepat dalam menggerakkan bidak peluncurnya adalah buktinya. Namun Sona juga sudah memprediksikan hal ini, karena itu tanpa ragu ia menggerakkan bidak kuda lainnya untuk menyerang barisan pertahanan Tsubaki, dan jika Tsubaki tidak melihat papan catur dengan jeli maka bisa dipastikan Sona akan menang dalam tiga langkah lagi.
Kreeeaat.. dan permainan mereka langsung dihentikan begitu pintu ruang osis terbuka, Sona dan Tsubaki secara serentak menolehkan pandangan mereka kepada kedua sosok wanita tercantik di sekolah, katanya. "Rias, Akeno, silahkan duduk," ucap Sona sembari membetulkan posisi kacamatanya. Kedua gadis yang ia sebutkan langsung menduduki sofa di samping Tsubaki.
"Aku tak ingin bertele-tele," mulai Sona. "Karena itu dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan." Melihat anggukan dari Rias dan Akeno, Sona kembali melanjutkan ucapannya. "Orang yang kubilang memiliki sacred gear unik dan kuyakini bisa membantumu memenangkan rating-games melawan peerage-nya Raiser adalah Uchiha-sensei."
Kedua mata Rias dan Akeno sedikit melebar mendengarkan penuturan Sona. "Bagaimana mungkin? Aku sudah mengawasinya hampir setengah tahun sejak dia mulai mengajar di sekolah ini setahun yang lalu, aku tak mungkin melewatkannya jika dia memang memiliki sacred gear."
"Seperti yang Rias bilang, aku juga sudah mengawasinya, namun aku sama sekali tidak merasakan sacred gear dalam diri Uchiha-sensei."
Sona kembali membetulkan posisi kacamatanya lalu melipat kedua tangannya di bawah dadanya, senyum kecil terpatri di bibir tipisnya. " Aku tidak akan mengatakan atau pun menceritakan detailnya secara jelas, tapi aku akan menjelaskan secara singkat padamu: Kalau Uchiha-sensei tidak mengeluarkan sacred gearnya, maka tidak ada satu pun yang bisa merasakan keberadaan sacred gear itu dalam dirinya. Tak seperti kalian yang mengawasi dari jauh, aku langsung menanyakan hal itu pada sensei, dan dia mengatakan hal itu dan menunjukkan sacred gearnya langsung padaku. Dan harus kuakui, jika harus memilih antara dua sacred gear tipe longinus dengan sacred gear unik Uchiha-sensei, maka aku dengan tanpa keraguan sedikit pun akan memilih sacred gear-nya Uchiha-sensei."
"Jujur saja, itu sedikit sulit kupercaya sebelum melihatnya langsung. Namun melihat keseriusan di wajahmu membuatku yakin. Akan tetapi, jika memang begitu adanya, mengapa kau tak menjadikannya bagian dari peeragemu?" tanya Rias, Akeno juga sependapat dengan pertanyaan Rias barusan.
Sona kembali tersenyum kecil. "Alasannya sederhana, perbedaan kekuatanku dan kekuatan Uchiha-sensei terlampau jauh, karena itu menjadikannya sebagai iblis sangatlah mustahil. Karena itu aku berani mengatakan ini padamu: jika kau ingin mengalahkan Raiser, maka kau harus meminta bantuan pada Uchiha-sensei."
..malam, tak terlalu jauh dari Kuoh High School..
Setelah kurang lebih satu tahun berada di dunia ini, Naruto jadi mengerti satu hal yang fatal: para makhluk supernatural sama sekali tidak berhubungan dengan luar angkasa, mereka hanya berpusat pada planet yang bernama bumi ini saja dan dimensi-dimensi yang mengelilinginya. Jadi, tentu saja, Naruto langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka semua yang mengawa dewa-dewi tak lebih dari sekedar dewa-dewi gadungan. Karena jika mereka memang asli, lantas mengapa mereka masih membutuhkan penyembahan para manusia untuk mempertahankan keeksistensian mereka? Itu sangat tidak masuk akal bagi Naruto, karena itu menurutnya mereka semua palsu, hanya kearoganan mereka sajalah yang membuat mereka memanggil diri mereka sebagai dewa atau dewi.
Contohnya saja Kaguya. Orang-orang menganggapnya sebagai dewi, dan meskipun tak ada seorang pun yang menyembahnya, Kaguya tetap tidak akan bisa mati. Oleh sebab itu Naruto menganggap Kaguya adalah dewi asli, karena dia sama sekali tidak membutuhkan penyembahan manusia untuk mempertahankan keeksistensiannya.
Selama kurang lebih setahun ini, Naruto tidak melakukan banyak hal selain menngumpulkan informasi. Selama itu pula ia tinggal di sebuah rumah besar tak jauh dari Kuoh High School. Itu adalah rumah satu lantai dengan halaman yang lumayan luas. Kebanyakan rumah di kota ini adalah rumah dengan desain yang modern; rumah yang Naruto tempati adalah satu-satunya rumah yang memiliki desain tradisional Jepang. Alasannya, tentu saja, sebagai seorang uchiha, maka mempertahankan rumah khas klan uchiha adalah sesuatu yang normal baginya. Bahkan di dinding-dinding dalam pagar rumah ini pun memiliki beberapa gambar kipas merah putih yang merupakan lambang klan uchiha. Naruto memang tidak dibesarkan bersama dengan para uchiha lainnya, namun ia tetap menyukai klannya seperti halnya Madara yang tetap menyukai nama dari Desa Konoha.
Di dalam rumah besar itu, di dalam ruangan yang terlihat seperti ruang keluarga, di sana Naruto duduk ber-seiza memandang papan catur yang terletak rapi di atas meja kecil tepat di hadapannya. Papan catur tersebut tersusun lengkap dengan bidak-bidak putih dan hitamnya. Bidak putih berada di depan Naruto, sedangkan bidak hitam berada tepat di hadapan bidak-bidak putih Naruto. Bidak-bidak itu sudah digerakkan beberapa kali, Naruto sudah menggerakkan bidak putih ketika sebelum berangkat mengajar, dan sepulangnya dari mengajar ia menemukan kalau bidak hitam pun juga telah digerakkan oleh seseorang. Naruto tidak terkejut dengan itu; itu adalah hal yang normal, ia justru akan terkejut jika kembali dari mengajar dan bidak hitam sama sekali belum digerakkan.
Ini bukanlah permainan catur biasa. Meskipun sudah bermain tiga bula lebih, semua bidak-bidak catur masihlah lengkap, yang berubah sejauh ini hanyalah formasi-formasi mereka. Tapi sepertinya hal itu akan berakhir hari ini, Naruto melihat kalau kuda hitam sedang dalam posisi untuk mematikan salah satu pion miliknya. Ini sedikit aneh, biasanya Ophis tidak akan menyerang duluan, tapi hari ini berbeda, apa terjadi sesuatu padanya? Ophis adalah gadis naga yang cerdas, Naruto juga menyukai kepribadian Ophis, karena itu pula ia menjadikan bidak raja sebagai Ophis, sedangkan bidak raja putih sebagai dirinya. Akan tetapi jika entah karena apa Ophis masih tidak mengerti maksudnya, maka permainan ini akan menjadi sangat mudah.. dan itu tidak akan terlalu menghibur.
Hm.. mungkin aku harus mempermudah gadis naga itu.
Naruto menggerakkan tangannya mengambil bidak raja berwarna putih dan bidak raja berwarna hitam, kemudian ia meletakkan kedua bidak itu berebelahan di sebelah papan catur. Jika memang Ophis berpikiran seperti apa yang ia asumsikan, maka Naruto berharap gadis naga itu mengerti dengan tujuannya meletakkan kedua raja itu berdampingan menghadap ke papan permainan. Memikirkan Ophis kembali membuat Naruto teringat akan pertarungan mereka, harus ia akui kalau pertarungan itu lebih menarik dari pertarungannya dengan Kaguya.
"Katakan, Ophis, apa kau adalah makhluk yang terkuat di dunia ini?"
Ophis mengernyitkan keningnya. "Meskipun aku ingin mengatakan ya, namun kenyataannya ada dua makhluk lagi yang jauh lebih kuat dariku."
Seringaian Naruto langsung menghilang digantikan ekspresi kecewa, Ophis yang melihat itu menautkan kedua alisnya, ia merasa sedikit kesal. "Mengapa kau terlihat kecewa seperti itu?"
"Ha.." hela napas Naruto. "Jika kau adalah yang terkuat, maka aku ingin melihat seperti apa ekspresimu nanti begitu kau sadar kalau kau sama sekali tak berdaya di hadapan kekuatanku. Namun melihat kelinci yang ketakutan di hadapan singa akan sangat membosankan, itu tak akan membuatku terhibur."
"Hahaha.. haha. hahahahahaha.." Ophis tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir kau lebih kuat dariku, hah? Akan kutunjukkan padamu apa itu ketakutan," jeda Ophis sambil perlahan-lahan meningkatkan kekuatannya. "Ketika kau nanti tergeletak bersimbahkan darah, aku akan mencungkil kedua bola matamu lalu memasukkannya ke dalam mulutmu, kemudian kau akan kusiksa hingga aku puas!" seru Ophis, ia kini dikelilingi oleh energi emas kehitaman berbentuk antara naga dan ular.
"Hahaha.. kau yakin bisa melakukannya?" tanya Naruto sambil mengeluarkan complete susano'o-nya, kemudian ia menyelimuti complete susano'o-nya dengan api hitam amaterasu. "Kalau begitu ayo kita lihat, sekuat apa dirimu, Ophis Ouroboros!"
Mendengar seruan penuh tantangan itu, Ophis—dengan seluruh tubuhnya diselimuti energi emas kehitaman layaknya jubah—langsung menghilang dari tempatnya berada dan secara instans langsung berada tepat di atas susano'o Naruto dengan kedua tangan bersatu yang langsung menghantam armor kepala susano'o Naruto, menimbulkan suara debuman yang menggelegar dan membuat Naruto beserta susano'o-nya yang retak terjun bebas ke bawah bagaikan meteor yang menghujam bumi.
Boom! Gruargh! Naruto memuntahkan darah dari mulutnya begitu ia dan susano'o-nya menghujam tanah dengan sangat keras, membuat cekungan sedalam belasan meter dan menyebabkan susano'o-nya hancur berkeping-keping. Pukulan Ophis sangat-sangat kuat, kekuatannya membuat pukulan penuh Tsunade bagaikan pukulan bayi yang baru dilahirkan. Tak ingin membiarkan Ophis kembali menyerang, Naruto langsung bangkit dari posisi jatuhnya dan segera saja mengaktifkan rinnegannya. Dan dalam sekejap Naruto melesat ke atas bagaikan roket yang menanjaki langit.
Melihat Naruto yang sudah baik-baik saja meski terkena pukulan bermuatan lima puluh persen dari kekuatannya, Ophis mengernyitkan keningnya dan perlahan-lahan kembali meningkatkan output kekuatannya. Sedetik kemudian ia langsung melesat turun dengan kedua tangan terkepal dan menyambut tinju-tinju Naruto dengan tinju miliknya. Setiap tinju yang dilayangkan Naruto berhasil Ophis atasi dengan tinjunya, pertemuan tinju-tinju mereka menghasilkan suara debuman yang keras dan kejutan udara yang sangat kuat.
Ophis memiringkan kepalanya ke kiri menghindiri tinju tangan Naruto, dan pada saat yang bersamaan ia mengangkat kaki kanannya dan mencoba menendang menyamping pada perut kiri Naruto. Namun refleks lelaki itu sangat baik, ia dapat langsung mengangkat kaki kirinya memblok tendangan kaki kanan Ophis. Tidak cukup sampai di situ, pemuda itu langsung mengkonsentrasikan energinya dan lekas mengaktifkan teknik favoritnya, "Shinra Tensei."
Boom!
Ophis terlempar puluhan meter ke belakang, namun ia segera dapat mengontrol tubuhnya dan membuat laju tubuhnya terhenti dengan mengepakkan kedua sayap naganya. Ophis kemudian mengeluarkan dua pasang ular keemasan besar dari masing-masing lengan bajunya, kemudian keempat ular itu saling melingkari satu sama lain lalu ia mengarahkan mulut mereka ke arah Naruto, dan sedetik kemudian empat laser berwarna emas kehitamn keluar dari mulut keempat ular itu dan laser itu kemudian bersatu menjadi laser super besar dan melesat tajam ke arah Naruto.
Naruto tidak gentar. Ia memandang datar laser yang hendak menghantam tubuhnya itu, kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya ke arah datangnya laser tersebut. "Gakidou," ucap Naruto pelan. Perlahan tapi pasti, laser yang ditembakkan Ophis perlahan-lahan mulai menyusut karena telah diserap oleh Naruto.
Kemudian setelah ia menyerap energi laser itu sampai habis, Narutu langsung menyatukan kedua pangkal tangannya dan mengarahkannya ke depan. Lalu di antara kedua tangannya itu terbentuklah bola-bola merah dan biru lalu sedetik kemudian keduanya menyatu lalu Naruto langsung menembakkan laser hitam yang dikelilingi petir merah ke arah Ophis yang hanya diam melihat serangannya tadi diserap. Tak ayal, laser itu langsung menghantam sang dewa naga tanpa batas yang sama sekali tak berniat menghindar, menimbulkan asap tebal dan suara ledakan yang menggelegar memecah udara.
Naruto melayang dengan mata memandang datar pada kepulan asap tersebut. Dan ketika asap itu menghilang, Ophis masih melayang dengan tenang dengan kedua sayap naga keemasannya terbentang lebar. Seperti yang sudah-sudah, sama sekali tak terlihat kalau dia habis terkena serangan, seolah serangannya barusan sama sekali tak berasa. Melihat itu, Naruto menyelimuti kedua kepalan tangannya dengan chakra, kemudian ia langsung melesat tajam menuju Ophis.
Ophis menunduk sedikit menghindari tinju Naruto lalu ia bergerak cepat dan menangkap pergelangan kedua tangan lawannya itu sebelum kemudian membuka mulutnya menembakkan laser energi hitam keemasan tepat ke perut Naruto. Namun usaha Ophis jauh dari kata berhasil, bukannya membuat perut itu bolong, lasernya justru terpantulkan balik dan menghantam Ophis tepat di wajahnya, membuat dirinya terlempar puluhan meter ke udara.
Naruto tak berniat untuk membiarkan itu begitu saja, ia menyatukan kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Kedua tangannya langsung saja diselimuti petir kehitaman yang kemudian petir itu semakin membesar hingga membentuk pedang raksasa yang meradiasikan panas yang cukup tinggi. Namun tiba-tiba mata Naruto melebar, ia merasakan beberapa pemilik energi yang berbeda-beda sedang dalam perjalanan ke sini. Tak ingin diketahui mereka, Naruto langsung menghilangkan petir hitam yang membungkus tangannya dan membatalkan serangannya.
Tampaknya pun Ophis berpikiran serupa dengannya, begitu gadis itu menghentikan lajunya di udara, dia langsung menghilangkan sayap naganya dan melayang ke arahnya. "Aku tidak ingin pertarungan kita diganggu, apa kau punya tempat bertarung yang bisa membuat kita bertarung all-out?" tanya Ophis dengan wajah seriusnya.
"Ee, ayo ke dimensiku."
Lamunan Naruto langsung terhenti begitu ia mendengar suara bel rumahnya. Naruto langsung bangkit dari posisi duduknya dan meninggalkan ruang tempat papan catur spesial itu berada. Hanya ada tiga orang yang bisa memasuki pekarangan rumahnya tanpa membuat barrier yang ia pasang mengelilingi rumahnya untuk aktif: Ophis, Sona, dan Tsubaki. Ophis akan langsung memasuki rumahnya tanpa membunyikan bel seperti itu, maka sudah jelas yang bertamu adalah Sona atau pun Tsubaki. Kedua siswi tersebut rutin mendatangainya setiap akhir pekan untuk belajar berpedang dan bertarung padanya, namun ini bukanlah akhir pekan, kendati demikian Naruto sama sekali tidak terkejut. Dan ia juga sama sekali tidak terkejut begitu mendapati seluruh anggota klub penelitian ilmu gaib berdiri tepat di depan gerbang masuk rumahnya.
"Sona, Tsubaki." Naruto memandang datar keduanya, sebelum kemudian pandangannya menjadi ramah dan bibirnya melengkung membentuk senyumannya yang elegan. "Apa tiba-tiba ini menjadi akhir pekan?" tanya Naruto dengan nada bercanda, namun tentu saja baik Sona mau pun Tsubaki mengerti kalau ia sama sekali tidak bercanda.
Sona dan Tsubaki serentak membungkukkan tubuh mereka sebanyak empat puluh lima derajat. "Maafkan kami, sensei," ucap mereka serentak. "Saya tahu sensei tidak mengizinkan kami memberitahu siapa pun tentang sensei yang memiliki sacred gear yang unik," jujur Shona, "namun saya tidak bisa memikirkan siapa pun lagi yang bisa membantu teman saya selain sensei."
"Saya sudah berusaha menahan Sona, sensei," bicara Tsubaki. "Namun saya juga mengerti kalau Sona tak melakukan apa pun maka dia akan merasakan rasa bersalah terhadap teman masa kecilnya itu."
"Aah.. tidak apa-apa," respon Naruto sembari tersenyum kecil, "tidak perlu khawatir, aku tahu cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi. Kalau begitu ayo masuk, ajak mereka masuk juga."
"Hai, terima kasih, Naruto-sensei."
Naruto hanya mengangguk kecil dan kembali memasuki rumahnya. Ia tidak menunggu mereka di ruang tamu; Sona dan Tsubaki sudah sering ke sini, mereka berdua bisa menuntun yang lain ke ruang tamunya, sedangkan ia sendiri akan menyiapkan beberapa makanan ringan dan minuman hangat untuk mereka.. meskipun mereka itu iblis.
Sama seperti rumahnya yang uchiha-style, dapur miliknya pun minimali seperti halnya dapurnya dulu di elemental nations. Naruto langsung bergegas ke sana untuk membuat minuman. Namun sebelum Naruto membuka lemari tempat ia menyimpan peralatan makan, ia mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya. Seketika Naruto berbalik, "Sona..?" ucapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Em.. er.. aku ingin membantu sensei.." ujar Sona dengan wajah sedikit memerah, "..i-itu kalau sensei tidak keberatan."
"Ah, tentu saja, kalau begitu mohon bantuannya, ya ^^"
"U-um."
Naruto melihat Sona yang langsung bergerak membuka pintu lemari pendingin yang ada di sana. Kemudian gadis berkacamata dan berambut hitam sebahu itu mengeluarkan beberapa jenis makanan dari sana lalu berjalan ke arahnya. Naruto tersenyum kecil ke arahnya, pipi gadis itu langsung menjadi sedikit bersemu, dan Naruto kemudian kembali melanjutkan niatnya dan membuka lemari tempat penyimpanan peralatan makan.
Naruto mengambil dua buah nampan dan beberapa gelas dan tiga buah piring dari dalam sana. Ia menyerahkan tiga piring dan satu nampan kepada Sona, kemudian ia pergi membuat teh hangat untuk para tamunya.. meskipun mereka iblis.
"S-sensei.." panggil Sona.
"Hm?" Naruto tidak memandang ke arah Sona, ia memfokuskan dirinya membuat teh—sebagai anggota klan tradisional seperti uchiha, membuat teh dan menikmati teh adalah sebuah tradisi dan sesuatu yang disenangi oleh semua anggota klan, tak terkecuali Naruto.
"A-aku benar-benar minta maaf karena telah memberitahu rahasia Sensei pada yang lain.."
Naruto menghentikan aktivitasnya dan menolehkan pandangannya pada Sona. "Tidak apa-apa, Sona," ucapnya sambil tersenyum kecil. "Aku tahu cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi.. namun itu bukan berarti aku tidak mempercayaimu, namun terkadang kita harus memprioritaskan hal yang lebih berharga bagi kita, bukan begitu?"
"Aku lebih memprioritaskan sensei!" seru Sona sembari memalingkan wajahnya dari memandang Naruto. "Aku tidak memberitahu Rias hanya karena ingin menolongnya.. tapi yang menjadi tujuanku yang sebenarnya adalah aku ingin sensei lebih berinteraksi dengan yang lainnya selama diluar sekolah. Aku tahu.. sensei sama sekali tidak memiliki kehidupan sosial selain di sekolah, kan? Sensei pasti merasa kesepian.." Sona kembali memalingkan wajahnya menghadap ke arah Naruto, rona merah mewarnai pipi putihnya, senyum kecil terbentuk di bibirnya. "Aku tahu itu.. karena aku, lebih dari siapa pun, selalu mengamati sensei.."
Ekspresi Naruto mendingin seketika, namun sedetik kemudian bibirnya melengkung membentuk senyuman lembut. "Saat ini justru kaulah yang terlihat sebagai guru, Sona.." ucap Naruto setengah bercanda. "Tapi.. mungkin yang kau katakan itu memang benar adanya.. aku harap kau mau bertanggungjawab atas ucapanmu barusan, Sona."
Senyum lebar langsung terukir di bibir Sona. "Tentu saja, aku akan lebih sering mengunjungi sensei."
Mereka tidak menghabiskan banyak waktu di belakang, hanya berselang tiga menit kemudian keduanya sudah dalam perjalanan ke ruang tamu dengan masing-masing membawa sebuah nampan. Sesampainya di sana, Naruto langsung meletakkan nampan yang dibawanya di meja ruang tamu lalu menduduki single-seat sofa satu-satunya yang ada di situ, sedangkan Sona langsung duduk di kanan Tsubaki setelah ia meletakkan nampan yang dibawanya di meja.
"Ah, silahkan dinikmati.." ucap Naruto dengan senyum ramah di bibirnya. "Baru setelah itu kita bisa memulai pembicaraan."
Tidak ada satu pun yang komplain, mereka semua menuruti perkataan Naruto dan menikmati hidangan yang ia sajikan.
Naruto memandangi setiap anggota klub penelitian ilmu gaib satu per satu. Tentu saja ia sudah tahu semua hal yang harus ia ketahui tentang mereka, bahkan Naruto sudah tahu setiap kemampuan dan masa lalu mereka. Karena jika ia tidak mengenal betul bidak-bidaknya, maka akan sulit mengatur mereka di dalam papan permainannya. Naruto tidak membutuhkan bidak yang tidak bisa ia atur dengan mudah, karena itu tidak akan menghiburnya jika mereka tidak bisa dimainkan seperti keinginannya.
Naruto mengalihkan pandangannya memandang Sona dan Tsubaki, mereka berdua bersama-sama akan sangat membuat papan permainannya berwarna. Dan Ophis.. gadis naga itu akan membuat papan permainan Naruto menjadi seru.. karena jika semua bidak yang memenuhi papan catur berwarna putih atau hitam maka permainan tidak bisa dilakukan, untuk bisa bermain maka Naruto membutuhkan bidak hitam dan bidak putih di atas papan permainan.
"Jadi, apa alasan kedatangan kalian ke rumahku, pada malam hari seperti ini?"
-1-
Tidak sampai target ternyata…
