Chapter 2

Misteri Guci Biru

Disclaimer :

Naruto © Masashi kishimoto

Based on story by Agatha Christie

Rated : Teen.

Genre : Mystery and Crime

Summary : Uzumaki Naruto seorang Pemuda pecinta golf yang biasa-biasa saja, Pekerjaannya sebagai Pegawai pun juga biasa saja, Sampai ia mendengar suara teriakan "Pembunuhan! Tolong! Pembunuhan!" Hidupnya pun berubah menjadi tidak biasa.

Warning : AU, OOC, Miss Typo, And Other.


Keesokan harinya, kedua orang itu Naruto dan Kakashi berangkat pukul tujuh kurang sedikit. Hari itu hari yang sangat sempurna, tak berangin dan tak berawan, tapi tidak terlalu panas. Sang dokter bermain sangat bagus, sedangkan Naruto bermain sangat buruk. Karena keseluruhan pikirannya tertuju pada peristiwa yang bakal terjadi. Ia terus-menerus melirik jam tangannya. Mereka mencapai tee ketujuh pada pukul tujuh lewat dua puluh. Pondok itu terletak antara tee tersebut dan hole yang dituju.

Si gadis, seperti biasa, ada di kebun, ketika mereka lewat ia tidak mengangkat wajahnya.

Dua buah bola tergeletak di rumput. Bola Naruto di dekat lubang, bola sang dokter agak jauh.

"Ini dia " kata Kakashi. "Aku mesti berhasil, kurasa."

Kakashi membungkuk, memperkirakan kekuatan pukulan yang mesti diambilnya. Sementara Naruto berdiri kaku, matanya terpaku pada arlojinya. Saat itu pukul tujuh lewat dua puluh lima menit tepat.

Bola tersebut bergulir cepat di rumput, berhenti di tepi lubang, terdiam sebentar. Lalu masuk ke dalam lubang.

"Pukulan yang bagus," kata Naruto. Suaranya terdengar serak, tidak seperti suaranya sendiri... Ia mendorong arlojinya naik di lengannya, sambil mendesah lega. Tidak terjadi apa-apa. Kutukan itu sudah lewat rupanya.

"Kalau Anda tidak keberatan, aku ingin mengisap pipa." kata Naruto sambil mengambil pipa dari saku celananya.

Mereka berhenti sejenak di tee kedelapan. Naruto mengisi pipanya dan menyalakannya dengan jemari agak gemetar. Sebuah beban berat serasa terangkat dari pikirannya.

"Betapa indahnya hari ini," katanya sambil memandang ke depan dengan perasaan puas yang amat sangat. "Teruskan, Kakashi. pukulanmu."

Kemudian terjadilah hal itu. Tepat saat sang dokter hendak melakukan pukulan. Jeritan seorang wanita yang terdengar keras dan sedang ketakutan.

"Pembunuhan... Tolong! Pembunuhan!."

Pipa di tangan Naruto yang lemas terjatuh, sementara ia membalikkan tubuh ke arah suara tersebut. Lalu teringat sesuatu, ia menatap terkesiap pada rekannya.

Kakashi tengah memandang ke ujung lapangan, sambil menudungi mata.

"Agak terlalu pendek, cuma melewati bunker, kurasa."

Kakashi tidak mendengar apa-apa rupanya.

Dunia serasa berputar. Naruto mundur selangkah dua langkah, terhuyung-huyung dan terjatuh ke tanah yang berumput dan tidak berasa apa-apa lagi.


Setelah pulih kembali, ia mendapati dirinya terbaring di lapangan berumput pendek, dan Kakashi tengah membungkuk di atasnya.

"Nah, tenang saja. Tenanglah."

"Apa yang terjadi padaku?"

"Kau pingsan, anak muda, bisa dikatakan begitu."

"Ya Tuhan," kata Naruto, lalu mengerang.

"Ada apa? Ada yang kaupikirkan?"

"Akan kuceritakan padamu, tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu."

Sang dokter menatap Naruto sendiri, kemudian duduk di tepi lapangan.

"Silakan menanyakan apa saja yang kauinginkan," katanya tenang.

"Kau sudah mengamat-amatiku selama satu-dua hari belakangan ini. Kenapa?" tanya Naruto menuntut penjelasan.

Kedua mata Kakashi berbinar-binar sedikit.

"Pertanyaanmu agak aneh. Kucing boleh saja memandangi majikannya, bukan?"

"Jangan mengalihkan. Aku serius. Kenapa? Aku punya alasan penting, bertanya begini."

Wajah Kakashi menjadi serius.

"Aku akan menjawab sejujurnya. Dalam dirimu aku melihat semua tanda-tanda orang yang sedang mengalami ketegangan hebat, dan aku jadi penasaran, ketegangan apa yang sedang kau alami."

"Itu bisa kuceritakan dengan mudah," kata Naruto dengan nada pahit. "Aku sudah mau sinting rupanya." Ia berhenti bicara dengan dramatis, namun berhubung pernyataannya itu sepertinya tidak menghasilkan minat dan kecemasan yang diharapkannya, ia mengulangi ucapannya.

"Kubilang aku sudah mau sinting rupanya."

"Aneh sekali," gumam Kakashi. "Amat sangat aneh."

Naruto merasa tersinggung.

"Kurasa hanya itulah kesan yang kaudapatkan". Kata Naruto. "Dokter memang sangat tidak berperasaan." kata Naruto lagi.

"Ah, ah, sobat mudaku, kau bicara asal saja. Begini, walaupun aku punya gelar dokter, aku tidak berpraktek. Sebenarnya. aku bukan dokter maksudku bukan dokter yang menyembuhkan sakit fisik."

Naruto menatapnya dengan tajam.

"Juga bukan dokter jiwa?"

"Ya, bisa dikatakan begitu, tapi lebih tepatnya aku menyebut diriku dokter penyembuh jiwa."

"Oh!"

"Aku mendeteksi nada meremehkan dalam suaramu, tapi kita mesti menggunakan kata tertentu untuk menunjukkan unsur aktif yang bisa dipisahkan dan punya eksistensi tersendiri, lepas dari tubuh yang menjadi rumahnya. Orang mesti berdamai dengan jiwanya, sobat, kau tahu itu? Tapi kita sebut saja unsur itu sebagai 'pikiran' atau 'alam bawah sadar', atau dengan istilah apa pun yang lebih berkenan bagimu. Tadi kau tersinggung mendengar nada ucapanku. Tapi bisa kuyakinkan padamu, aku memang sangat heran, kenapa seorang anak muda yang punya kepribadian seimbang dan sepenuhnya normal seperti kau ini bisa mengalami delusi bahwa dirinya sudah sinting."

"Aku memang sudah sinting. Benar-benar sinting."

"Maafkan aku, tapi aku tak percaya."

"Aku benar-benar mengalami delusi." kata Naruto keras kepala.

"Sesudah makan malam?"

"Tidak, di pagi hari."

"Tak mungkin," kata sang dokter, sambil menatap Naruto dengan serius.

"Sungguh, aku mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain."

"Satu dalam seribu orang bisa melihat bulan-bulan planet Jupiter. Walaupun sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang lainnya tak bisa melihat itu, itu bukan alasan untuk meragukan keberadaan bulan-bulan Jupiter, dan jelas bukan alasan untuk menganggap orang keseribu itu sinting."

"Tapi bulan-bulan Jupiter sudah merupakan fakta ilmiah yang terbukti ada."

"Sangat mungkin bahwa apa yang hari ini berupa delusi, kelak menjadi fakta ilmiah yang terbukti nyata."

Mau tak mau, sikap tegas Kakashi berpengaruh juga terhadap Naruto. Ia merasa jauh lebih tenang dan gembira. Dokter itu mengamatinya dengan saksama selama sesaat, kemudian mengangguk

"Begitu lebih baik," katanya. "Masalahnya, kalian anak-anak muda suka terlalu yakin bahwa tak ada apa pun di luar apa-apa yang kalian yakini keberadaannya, sehingga kalian terkejut setengah mati kalau terjadi sesuatu yang membuat keyakinan kalian goyah. Coba kita dengarkan alasan-alasanmu menganggap dirimu sudah sinting, lalu kita putuskan, apakah kau memang perlu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa."

Sedapat mungkin Naruto memaparkan rangkaian peristiwa yang dialaminya.

"Yang tidak bisa kumengerti," katanya, "kenapa pagi ini jeritan itu terdengar pada jam setengah delapan, terlambat lima menit."

Kakashi berpikir sejenak. Kemudian...

"Jam berapa sekarang, menurut arlojimu?"

"Jam delapan kurang lima belas," sahut Naruto, sambil melihat arlojinya.

"Kalau begitu, sederhana saja. Menurut arlojiku, sekarang jam delapan kurang dua puluh menit. Arlojimu terlalu cepat lima menit. Itu point yang sangat menarik dan penting bagiku. Bahkan sangat berharga."

"Berharga bagaimana?"

Naruto mulai merasa tertarik.

"Yah, penjelasan yang paling jelas. Pada pagi pertama itu kau memang mendengar teriakan tersebut, mungkin teriakan itu hanya gurauan, mungkin juga tidak. Pada pagi-pagi berikutnya, kau mensugestikan dirimu mendengar teriakan itu pada jam yang sama."

"Aku yakin tidak begitu kejadiannya." tukas Naruto ragu-ragu.

"Tidak secara sadar tentunya, tapi alam bawah sadar suka mempermainkan kita, tahu? Tapi, bagaimanapun, penjelasan itu tidak bisa diambil begitu saja. Kalau ini sekadar masalah sugesti, kau pasti akan mendengar jeritan itu pada jam tujuh lewat dua puluh lima menit, menurut arlojimu, dan kau tak mungkin mendengarnya saat kejadian itu sudah lewat, seperti yang kaukira."

"Jadi?"

"Jadi... sudah jelas bukan? Teriakan minta tolong itu menempati waktu dan tempat tertentu di alam semesta ini. Tempatnya adalah di lingkungan pondok itu, dan waktunya adalah jam tujuh lewat dua puluh lima menit."

"Ya, tapi kenapa mesti aku yang mendengarnya? Aku tidak percaya pada hantu dan semacamnya segala pemanggilan roh dan sebagainya. Kenapa mesti aku yang mendengar teriakan itu?"

"Ah, soal itu belum bisa kita ketahui sebabnya saat ini. Anehnya, banyak medium terbaik pada mulanya adalah orang-orang yang sangat skeptis. Bukan orang-orang yang tertarik pada fenomena okultisme yang mendapatkan berbagai manifestasi. Ada orang-orang yang bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak dilihat dan didengar orang-orang lain, kita tidak tahu sebabnya, dan sembilan dari sepuluh kemungkinan. Mereka tidak ingin melihat atau mendengar hal-hal tersebut, dan mereka yakin bahwa mereka menderita delusi seperti dirimu, ini sama halnya dengan arus listrik. Ada substansi-substansi tertentu yang merupakan penghantar listrik yang baik, dan ada juga yang buruk. Untuk waktu lama, kita tidak tahu sebabnya, dan mesti puas dengan menerima saja kenyataan itu. Tapi sekarang ini kita sudah tahu sebabnya. Aku yakin suatu hari nanti kita akan tahu, kenapa kau mendengar teriakan itu, sementara aku dan gadis itu tidak mendengarnya. Segalanya diatur oleh hukum alam tidak ada yang namanya hal-hal supranatural itu. Menemukan hukum-hukum yang mengatur apa yang dinamakan fenomena psikis akan merupakan pekerjaan yang sangat sulit tapi kemajuan yang hanya sedikit pun bisa membantu."

"Tapi, apa yang mesti kulakukan?" tanya Naruto.

Kakashi mendecak.

"Kau orang yang berpikiran praktis rupanya. Nah, sobat mudaku, kau mesti sarapan yang enak, lalu berangkat ke kota tanpa perlu memikirkan lebih lanjut hal-hal yang tidak kaupahami. Sebaliknya, aku akan mengendus-endus dan mencari tahu tentang pondok di sana itu. Aku berani sumpah. di sanalah pusat misteri tersebut."

Naruto bangkit berdiri.

"Baiklah, Sir, aku akan berangkat, tapi..."

"Ya?" Wajah Naruto memerah malu.

"Aku yakin gadis itu tidak ada kaitannya," katanya pelan.

Kakashi tampak geli.

"Kau tidak bilang gadis itu cantik. Nah, tenanglah, kurasa misteri itu berawal sebelum dia lahir." Kata Kakashi tersenyum jenaka di balik maskernya, seandainya Naruto bisa lihat.


Malam itu Naruto pulang dengan perasaan ingin tahu yang sangat besar. Sekarang ia sudah menyerahkan kepercayaannya pada Kakashi sepenuhnya. Dokter itu telah menerima permasalahannya dengan sikap sangat wajar, telah memberikan respon tegas dan sama sekali tidak terpengaruh, hingga Naruto merasa sangat terkesan.

Naruto mendapati teman barunya itu tengah menunggunya di koridor, ketika ia turun untuk makan malam. Sang dokter menyarankan mereka makan malam bersama, di meja yang sama.

"Ada berita, Sir?" tanya Naruto dengan harap-harap cemas.

"Ya, Aku sudah mengumpulkan sejarah keberadaan pondok itu. Penyewa pertamanya adalah seorang tukang kebun tua bersama istrinya. Setelah tukang kebun itu meninggal, istrinya pindah, tinggal bersama anak perempuannya. Pondok itu jatuh ke tangan seorang pembangun, yang berhasil memperbaharuinya dengan sangat sukses, lalu menjualnya pada seorang pria dari kota Kumo, yang menggunakan pondok itu untuk berakhir minggu. Sekitar setahun yang lalu, dia menjual pondok itu pada pasangan bernama Sarutobi. Dari kesimpulanku, pasangan itu sepertinya agak aneh. Mereka hidup sangat tertutup, tidak bergaul dengan siapa pun, dan hampir tak pernah keluar dari kebun pondok itu. Berdasarkan gosip lokal, mereka takut akan sesuatu tapi menurutku kita tidak bisa berpegang pada gosip itu." Kakashi berhenti sebentar

"Lalu sekonyong-konyong, suatu hari mereka pergi, berangkat pagi-pagi sekali, dan tidak pernah kembali. Agen di sini menerima surat dari pemilik Pondok itu tuan Sarutobi Asuma, ditulis dari Konoha City, menginstruksikan dia untuk menjual pondok itu secepat mungkin. Perabotnya dijual semua, dan pondok itu sendiri dijual pada seorang pecinta Biologi, yang bernama Tuan Orochimaru yang tinggal di situ hanya selama dua minggu, lalu dia mengiklankan pondok itu untuk disewakan, berikut perabotnya. Orang-orang yang tinggal di situ sekarang adalah seorang profesor dari Universitas Konoha yang sedang sakit radang paru-paru, bersama anak perempuannya. Mereka baru sepuluh hari tinggal di sana."

Naruto menerima berita ini tanpa mengatakan apa-apa.

"Tapi ini tidak memberikan penjelasan lebih jauh pada kita," katanya akhirnya. "Atau ada?"

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang pasangan Sarutobi itu," kata Kakashi pelan. "Ingat, mereka berangkat meninggalkan pondok pagi-pagi sekali. Sejauh yang dapat kusimpulkan, tak seorang pun benar-benar melihat mereka pergi. Pernah ada yang melihat Sarutobi Asuma sesudahnya tapi tak ada orang yang pernah melihat istrinya".

Wajah Naruto memucat.

"Tak mungkin... maksudmu…"

"Jangan terlalu berdebar-debar dulu, Naruto. Pengaruh orang yang sedang menjelang ajal dan terutama kalau kematiannya berbau kekerasan pada lingkungan sekitarnya sangatlah kuat. Lingkungan itu bisa saja menyerap pengaruh tersebut, kemudian mentransmisikannya pada seorang penerima yang tepat dalam hal ini adalah dirimu."

"Tapi kenapa aku?" gumam Naruto, tak mau menerima. "Kenapa bukan orang lain yang bisa membantu?"

"Kau menganggap kekuatan itu sebagai sesuatu yang punya akal dan tujuan, bukan sekedar buta dan mekanis sifatnya. Aku sendiri tidak percaya pada roh-roh gentayangan yang suka menghantui tempat tertentu untuk tujuan tertentu. Tapi apa yang pernah kulihat berkali-kali hingga aku tak bisa lagi menganggapnya sebagai suatu kebetulan semata-mata adalah semacam gerakan meraba-raba yang buta ke arah keadilan. Suatu kekuatan buta yang bergerak di bawah tanah, selalu mengarah ke akhir yang sama itu..."

Sang dokter mengguncangkan tubuhnya sendiri seakan-akan hendak mengenyahkan suatu obsesi yang menyelimutinya, lalu ia beralih lagi pada Naruto dengan senyum ramah di balik maskernya.

"Mari kita lupakan saja topik ini, setidaknya untuk malam ini," sarannya.

Naruto dengan segera menyetujuinya, tapi ia merasa tidak mudah mengenyahkan topik tersebut dari pikirannya.

Selama akhir minggu itu, Naruto mengadakan penyelidikan-penyelidikan sendiri, tapi hasilnya tidak lebih banyak daripada yang sudah diperoleh sang dokter. Ia benar-benar sudah tidak lagi main golf sebelum sarapan.

Mata rantai berikutnya datang dari sudut yang sama sekali tak terduga. Suatu hari, sekembalinya di hotel, Naruto diberitahu bahwa ada seorang wanita muda menunggunya. Ia sangat terperanjat ketika melihat tamunya adalah gadis di kebun itu gadis bunga Lavender itu. Gadis itu tampak sangat gugup dan bingung.

"Maafkan saya, Tuan, datang menemui Anda seperti ini. Tapi ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Anda... saya... "

Ia melayangkan pandang ke sekelilingnya dengan tidak yakin.

"Masuklah," Naruto lekas-lekas berkata. Sambil berjalan mendahului ke ruang duduk yang sekarang sudah kosong di hotel itu. Ruangan itu suram, dan didominasi oleh beludru merah di mana-mana, juga sederet sofa yang berwarna kentara dengan beludru itu. "Silakan duduk, Nona, Nona..."

"Hinata, Tuan. Nama Saya Hyuuga Hinata."

Naruto mengangguk singkat "Duduklah, Nona Hinata dan katakan maksud kedatangan Anda." kata Naruto dengan wajah yang ingin tau.

To Be Continued...


Akankah misteri Pondok itu akan terungkap? Dan Kenapa bisa misteri itu ada hubungannya dengan Naruto?

Dan apa maksud kedatangan Hinata sang gadis bunga Lavender putih itu?

Review?