KEPINGAN PERMEN 2

.

.

11. Manis

Tsukasa menyesap pelan kopi di mug pink-nya. Rasanya pas untuknya, pakai empat blok gula. Tsukasa lalu beralih menikmati cake lalu melirik Daiki di sampingnya yang juga sedang makan cake.

Tsukasa memang suka yang manis-manis.

12. Suka atau Tidak?

"Tsukasa, sebenarnya kau suka padaku tidak?"

"Kenapa pakai tanya segala?"

"Kau tak pernah mesra padaku kalau ada orang lain!"

"Kau juga tidak!"

"Tsukasa, apa pacaran denganku memalukan bagimu?!"

Tsukasa menghela napas. Duduklah dia di tempat tidurnya untuk menenangkan diri.

Tsukasa meraih tangan Daiki, "Suasana hati kita sedang tak bagus. Lebih baik kita jalan-jalan sebentar."

Tsukasa terus menggenggam tangan Daiki, bahkan saat Natsumi dan Yuusuke memandangi mereka berdua.

13. Hujan

"Tuh, kan hujan. Ngapain juga kita keluar pas hujan-hujan begini?" kata Daiki.

Tsukasa membalas, "Cuma gerimis kok! Lagipula susana hujan kan bagus! Daripada cuma berteduh, sudah, ayo jalan-jalan!"

Tsukasa membuka payung transparan yang dibawanya. Daiki segera saja bergabung dengan Tsukasa di bawah payung.

14. Mencoba Romantis

Tsukasa dengan enggan menyodorkan setangkai mawar merah pada Daiki, "Ini."

Daiki menatap Tsukasa dengan bingung, "Kenapa kau memberiku mawar?"

"Yah, itu, anu ... siapa tahu. Maksudku—"

"Kau mencoba bersikap romantis?"

Wajah Tsukasa langsung jadi merah.

Daiki membaringkan kepalanya di pangkuan Tsukasa, "Begini saja aku sudah senang kok."

15. Panggil Sayang

"Ayolah, Daiki, panggil aku 'Sayang'."

"Kenapa aku perlu memanggilmu begitu?"

"Kita ini kan sekarang sudah menikah ..."

"Apa harus pasangan menikah memanggilnya begitu?"

"Ayolaaaaaah. Coba dulu saja."

Daiki menelan ludah, "Sa-sayang, kita ... Ah, Tsukasa, aneh banget rasanya! Nggak cocok!"

Tsukasa menghela napas.

Daiki yang melihat wajah Tsukasa angkat bicara, "Aku suka memanggil dan menyebut namamu."

16. Pertanyaan

"Tsukasa, kalau misalnya kita berdua tidak tinggal sekamar seperti ini, apa kau akan jatuh cinta padaku lagi? Apa kita akan jadi sepasang kekasih?"

"Aku tak tahu ..."

"Apakah hubungan kita terjalin karena merasa terlanjur saja? Apa dengan kita tinggal bersama membuat semuanya jadi terburu-buru?"

Tsukasa, mengenggam lembut tangan Daiki, "Dengan kita tinggal sekamar selama ini, kita bisa berinteraksi dengan intens. Apa yang lebih bisa menumbuhkan cinta selain interaksi sehari-hari?"

17. Bersandar

Tsukasa mendadak memeluk Daiki erat-erat dari belakang, bersandar padanya dan membenamkan wajahnya di tengkuk Daiki.

"Tsukasa? Tumben. Ada apa?"

Tsukasa tidak menjawab sama sekali.

Daiki membelai-belai lembut tangan Tsukasa yang memeluknya. Barangkali Tsukasa sedang punya masalah yang ingin diselesaikannya sendiri. Yang bisa dia lakukan adalah memberikan dukungan dengan cara seperti ini.

18. Tangan

Daiki senang melihat tangan Tsukasa. Saat tangan itu memegang kamera. Cara Tsukasa menggunakan tangannya untuk memasak makanan lezat.

Dan betapa lembut sentuhan tangan Tsukasa saat membelainya.

19. Kaki

"Daiki, kau suka kakiku kan?" tanya Tsukasa yang duduk di pinggiran tempat tidurnya.

"Si-siapa bilang?" Daiki mati-matian mengalihkan pandangannya dari kaki Tsukasa.

Tsukasa menggeser posisi duduknya dan meluruskan kedua kakinya, "Sudahlah, jujur saja."

"U-ukh! Dasar narsis."

Tsukasa menarik lembut Daiki agar duduk di sampingnya. Daiki dengan malu-malu meletakkan tangannya di kaki kiri Tsukasa.

20. Melihat Bintang

Tsukasa dan Daiki duduk berdua di balkon kamar mereka. Malam itu malam musim panas yang cerah. Bintang-bintang terlihat jelas. Daiki duduk di antara kedua kaki Tsukasa, bersandar di dada kekasihnya.

"Tsukasa, lihat! Itu Altair! Ah, kalau itu pasti Vega! Berarti yang itu Deneb!" seru Daiki dengan riang.

Tsukasa tidak menjawab. Terus saja dia pandangi Daiki lekat-lekat.

"Tsukasaaaaaa! Kita ini kan rencananya melihat bintang mumpung langit cerah. Kenapa kau malah memandangiku terus?"

"Kau lebih menarik."

"Gombal!" semburat merah muncul di pipi Daiki.

"Bagaimana kalau sekali-kali kau yang gantian merayuku?"

Muka Daiki makin merah, "I-itu—"

Tsukasa tertawa kecil. Diambilnya sebutir arare dari stoples di sebelah kanannya dan disuapkannya ke mulut Daiki.