"Berangkat dengan kondisi berpegangan tangan seperti ini, huh?" –Lgl.
"Tentu saja!" –Bjy.
Jeda beberapa detik.
"A-APAA?!"
"Maksudku tentu saja tidak bodoh!" –Bjy.
ヽ()/
[06:22 KST]
Kedua makhluk itu masih terlelap dengan berpelukan satu sama lain. Saling menghangatkan diri dan membagi kehangatan untuk mereka masing-masing.
Nyaman sekali.
Hangat dan tenang.
Tapi sayangnya, sang surya benar-benar tidak bisa ditahan untuk tidak menyinari bumi sehingga satu sosok yang masih bergelut di kasur kini mulai terusik.
Sosok mungil, Bae Jinyoung mengerjapkan matanya setengah tersadar. Ia mendapati dada kekar nan atletis tepat di depan wajahnya.
Memang belum sadar sepenuhnya ya?
Kepala kecil itu mendongak, menatap wajah tidur seorang Guanlin yang sangat lelap dengan lengan melingkar di pinggang ramping milik si mungil.
"Uh- Guanlin ya.." Jinyoung bergumam ketika melihat wajah Guanlin yang masih tidur di depannya.
Ia mengerjapkan mata beberapa kali.
Mengumpul nyawa yang entah berceceran dimana.
1
2
3
"A-APAA?!" pekikan pertama Bae Jinyoung hari ini.
Ia tampak baru sadar sepenuhnya. Jinyoung yang terkejut dengan wajah memanas itu langsung mendorong tubuh Guanlin sekuat tenaga hingga terjatuh ke lantai dengan posisi tidak elitnya.
Jinyoung lalu duduk di atas kasur dan melihat sekeliling mungkin dia masih mengingat-ingat kejadian semalam.
"Ah- iya, aku menginap di rumah Guanlin" monolognya.
"Akh! Punggung indahku." Jinyoung melirik Guanlin yang mulai terusik dari tidurnya karena dorongan maut Bae Jinyoung di pagi hari.
"Kau sudah bangun Baejin-ah?" suara rendah nan seksi khas orang baru bangun tidur terngiang di telinga Jinyoung.
Suara Guanlin saat baru bangun tidur itu benar-benar seksi di benaknya. Tiba tiba wajah Jinyoung semakin memanas, memunculkan semburat merah samar di pipi sedikit berisinya itu.
Menggemaskan.
"I-iya.. A-aku harus pulang sekarang. Terima kasih mengijinkanku menginap" dengan buru buru, Jinyoung berdiri. Sepertinya dia menyembunyikan rasa malu yang sedang ia rasakan sekarang.
"Tinggal bersamaku sampai kita beruban pun tidak masalah. Hoaaaahmm.." jawab Guanlin lalu menguap sambil menggaruk punggungnya.
Sementara Guanlin menggeliat kecil membetulkan kelenturan punggungnya kemudian meregangkan persendian lalu berdiri.
Kalian pikir dia akan mandi?
Tidak.
Guanlin kembali naik ke atas kasur lalu berbaring malas-malasan.
"Uhm.. Sampai ketemu di sekolah" lanjutnya pelan lalu berjalan keluar kamar Guanlin.
"Hoaahm.. Tumben kau mau bertemu denganku di sekolah.. Biasanya kau selalu menghindariku hoaaahm.." Guanlin terus menguap mulutnya seperti ikan yang di bawa ke daratan.
Jinyoung tidak begitu peduli dengan perkataan Guanlin langsung berjalan cepat keluar dari kamar Guanlin. Meninggalkan rumah yang sempat ia buat gaduh semalam.
"Baejin-ah.. Baejin-ah..?" teriak Guanlin yang masih tidak tau kalau dia ditinggalkan si manis.
"Bae? Kau ada di mana? Bukannya semalam kau memelukku? Baejin-ah!" Guanlin duduk kemudian bangkin mencari sosok yang ia panggil berkali-kali di setiap sisi rumahnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata lalu mulai sadar sepenuhnya.
"Dia sudah pergi rupanya. Tapi, kenapa aku merinding ya? Apa yang aku peluk kemarin adalah.. Hiii~" hobi bermonolognya sejak semalam semakin meningkat, ya?
Guanlin dengan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap berangkat sekolah.
Disisi lain, seorang Bae Jinyoung sudah sampai di rumah yang menjadi mimpi buruknya semalam.
Ia membuka pintu rumahnya pelan.
Tidak terkunci?
Dia benar-benar panik semalam tanpa ingat untuk mengunci rumahnya.
Saat pintu rumahnya terbuka sempurna, raut wajah si manis berubah, ia terkejut melihat isi rumah berantakan.
"Apa apaan?!" pekikan keduanya hari ini.
Jinyoung menoleh ke kanan kiri melihat seluruh isi rumahnya yang benar-benar berantakan. Baju yang berceceran dimana-mana, meja dan kursi tidak berada di tempatnya.
Sofa ruang tamu saja sampai terbalik!
Jinyoung berpikir kalau semalam ada yang merampok rumahnya karena kebodohannya tidak mengunci pintu.
Ia langsung berlari menuju kamarnya mencari tabungan yang selama ini ia kumpulkan untuk kuliahnya nanti.
Bae Jinyoung adalah anak yang mandiri, ia tinggal sendiri di rumah peninggalan kakeknya di Seoul. Walaupun beraksen rumah jaman dulu, tetap saja nyaman.
Kedua orang tuanya ada di Busan. Dia juga memiliki seorang Hyung yang bekerja disana. Mereka mengunjungi Jinyoung jika ada waktu.
Guanlin juga sama, dia tinggal sendiri karena kedua orang tuanya ada di Taiwan. Dia orang Taiwan yang merantau sepertinya. Tapi Guanlin sudah lama di Seoul jadi dia sudah terbiasa tinggal disini.
Kembali pada Jinyoung yang sedang menghela napas lega melihat tabungannya masih ada.
"Sepertinya ada yang masuk tadi malam. Tapi kenapa tidak ada yang hilang?"
"Pencuri? Tapi kalau pencuri pasti ada yang hilang.."
Akhirnya Jinyoung memutuskan untuk mengecek setiap ruangan di rumahnya tapi tidak mendapatkan sesuatu yang hilang.
Disana hanya berantakan.
Benar-benar kapal pecah. Peralatan dapur-pun ikut berceceran dimana-mana.
Apa ada gempa semalam?
Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan melirik jam yang bertenger rapi di dinding ruang tengahnya sekilas.
"Sial! Aku terlambat.." umpatnya lalu berlari masuk ke kamar mandi.
Ia mandi dengan buru buru tanpa sempat membereskan isi rumahnya yang benar-benar berantakan.
Ini mungkin mandi tercepat Jinyoung yang pernah ia lakukan selama hidupnya.
Dia sedang memakai seragam dengan cepat.
"Baejin-aaah! Ayo kita berangkaat!"
Suara berat khas yang hampir setiap hari Jinyoung dengar.
Dengan buru-buru sampai-sampai Jinyoung menginjak entah apalah itu yang berceceran di lantai rumahnya. Ia berlari keluar rumah.
"Guanlin-ah.. Sebaiknya kau masuk ke rumahku sebentar saja!"
"Apa? Ke rumahmu? Tun—"
Tanpa perlu menunggu sang tampan memberi respon, Jinyoung menarik tangan kekar Guanlin masuk ke dalam rumahnya.
Ia lalu melihat ekspresi terkejut Guanlin melihat isi rumahnya berantakan seperti kapal pecah. Bahkan lebih parah!
"Whoaaaaa, amaziiiing..." pekik Guanlin tidak percaya.
"Seorang Baejin yang terkenal rapi ternyata bisa membuat rumahnya berantakkan seperti ini ya. Kau mau pamer padaku? Atau, mau adu berantakkan rumah?" lanjut Guanlin yang dihadiahi cubitan di perut oleh Jinyoung.
"Yak sakit! Aduuuh perut kekarku..." Guanlin mengusapi perutnya sendiri kesakitan.
Jinyoung menatapnya sekilas lalu memutar bola matanya malas.
"Jangan pernah bercanda di saat aku serius, Guanlin-ah! Dasar bocah idiot!"
"Eheheh, mianhae."
Guanlin hanya terkekeh sekilas dan mulai memasang wajah seriusnya.
"Ku pikir ada yang masuk semalam.." ujar Jinyoung sambil memasang dasi.
"Tapi tidak ada yang hilang, menurutmu siapa yang melakukan ini?" lanjutnya.
"Yang melakukan ini, mungkin orang yang semalam mencekikmu. Aku penasaran," nada suara Guanlin kini menjadi serius.
Guanlin akhirnya masuk tanpa permisi ke lantai atas untuk memeriksanya.
Entah memeriksa apa.
"Hey!" teriak Jinyoung saat Guanlin berjalan memasuki lantai dua dengan seenaknya. Ia mengikuti Guanlin dari belakang.
"Yaa! Aku belum mengijinkanmu masuk. Jangan masuk seenaknya dasar bodoh!" lagi-lagi Jinyoung emosi karena sikap Guanlin yang benar-benar membuatnya kesal.
Jinyoung terus berjalan mengikuti Guanlin ke lantai atas sambil mengoceh di belakangnya.
Bugh!
Bagian depan Jinyoung bertabrakan dengan punggung atletis Guanlin yang tiba tiba berhenti berjalan.
"Ya Guanlin bodoh! Kenapa kau berhenti tiba tiba?!" pekik Jinyoung untuk ketiga kalinya hari ini.
Si manis terus mengoceh sambil mengusap kepalanya yang habis terbentur di punggung Guanlin.
"Ruangan apa ini?" Guanlin menoleh menghadap kebelakang mencari sosok Jinyoung yang masih mengumpat tidak jelas.
Guanlin menunjuk sebuah ruangan.
"Itu ruangan mendiang kakekku–"
Jinyoung belum selesai menjelaskan tiba tiba Guanlin dengan entengnya memegang gagang pintu ruangan itu.
"Tidakk! Jangan dibuka!" Jinyoung mencegat Guanlin, ia menepis tangan kekar yang memegang gagang pintu itu.
"Aish, kenapa?" tanya Guanlin sambil mengusap punggung tangannya.
"Ayahku melarang untuk membuka pintunya.. " lanjut Jinyoung.
Guanlin memutar bola matanya,
"Larangan itu kan untukmu, bukan untukku."
Tampaknya si jangkung itu bersikeras untuk membukanya karena penasaran sekali.
Setelah itu, Jinyoung menarik Guanlin untuk turun ke bawah tanpa peduli ucapan sosok yang ditarik.
"Yak, aku harus tahu ruangan itu, apakah berantakkan juga atau tidak! Ish,"
Guanlin penasaran dengan ruangan itu.
"Kita sudah terlambat, pulang sekolah kau harus membantuku membereskan rumahku."
Jinyoung menyambar tasnya yang ada di sofa dan masih menarik tangan Guanlin kuat sampai keluar dari rumahnya.
Jinyoung mengunci pintu.
"Ayo berangkat."
"Berangkat dengan kondisi berpegangan tangan seperti ini, huh?" tanya Guanlin heran.
Sepertinya Jinyoung tidak sadar kalau dirinya masih memegang tangan Guanlin.
"Tentu saja!" teriak Jinyoung.
Jeda beberapa detik.
"A-APAA?!" pekik Jinyoung yang keempat kalinya hari ini.
"Maksudku tentu saja tidak bodoh!" Jinyoung yang menyembunyikan wajah memerahnya langsung melepaskan tangan Guanlin.
"Yak yak yak, kau kenapa? Aku hanya bertanya!"
Wajah si manis memanas karena malu.
Lucunya.
Jinyoung yang masih memanas dengan wajah memerah jalan cepat meninggalkan Guanlin yang mematung.
Jinyoung mempercepat langkahnya menjauhi si jangkung.
"Sial sial sial-" Jinyoung meruntuki diri sendiri lalu menangkup kedua pipinya setelah itu menggelengkan kepala cepat.
Menggemaskan.
"Ya! Bae! Tunggu aku!" suara teriakan Guanlin terus membuat si manis mempercepat langkahnya.
Tapi dia kelelahan.
"Aish langkahmu ini cepat sekali, seperti atlet jalan cepat saja."
Guanlin terus mengejar si mungil yang masih berada di depannya.
Akhirnya Bae Jinyoung yang berusaha menutupi wajah memerahnya yang manis itu menyerah.
Ia memperlambat langkahnya dan membiarkan Guanlin berjalan disampingnya.
"Akhirnya," Guanlin menghela napas lega lalu berjalan di samping Jinyoung yang masih memalingkan wajahnya.
"Jinyoung-ah, sebenarnya ruangan itu ruangan apa? Jangan-jangan di dalamnya ada orang yang menyebabkan rumahmu berantakkan. Dan kenapa harus dilarang untuk dibuka? Kalau tidak boleh dibuka kenapa harus dibuat? Kau ini, sudah tahu angker tapi kenapa ditempati?"
Kini tangan Guanlin merangkul Jinyoung yang sedari tadi hanya bungkam.
"Kau bisa menginap lagi di rumahku. Atau kalau perlu, aku yang menemanimu di rumahmu." Guanlin menoleh sambil tersenyum manis menatap Jinyoung dari samping.
Guanlin terus melanjutkan langkah sambil tetap merangkul Jinyoung.
TBC
Yahh sepi :"v
Gausah lanjut ajalah ya :"v
Review juseyo ~T_T~
Krisar dibolehkan, jangan jadi sider TT
