Akhirnya, selama berabad-abad author gaje ini update juga (?) Chapter 2 'Should I Do it?'. Silahkan kritikannya! Yang pedas boleh~ :3

Maaf kalau gak-nyam, gaje, nge-bosenin, dan gak seru.


Bel pulang sekolah pun berdenting seperti bunyi di stasiun kereta api Tokyo. Entah mengapa aku merasa ada firasat aneh yang tiba-tiba melewati ku. Hari ini aku tidak pulang dengan Iroha karena dia harus ikut club basketnya. Karena merasa takut untuk pulang sendiri, aku menunggu ada yang ingin pulang juga arahnya searah dengan arah rumah ku.

"Hei, Miki-chan! Butuh teman?" Tanya Zunko.

Zunko yang memiliki nama lengkap Tohoku Zunko yang berambut hijau ini juga salah satu teman dekat ku. Dia adalah salah satu dari kapten tim archer. Biasanya ia pulang bersama Luna Amane atau Luna, tetapi sama halnya dengan ku, Luna adalah anggota tim basket.

"Ah, Zunko-san. Kebetulan sekali. Ya, aku butuh teman pulang." Kata ku memelas.

"Ho! Yura ternyata masih megang juniornya ya? Luna juga. Oh, iya. Akhir-akhir ini kamu lagi deket sama Piko-chan ya? Ciee, tembak aja lah!" Goda Zunko pada ku.

"Ne, Zunko-san! Jangan keras-keras! Aku masih ragu-ragu buat nembak Piko. Tapi, kenapa kau manggil dia pakai 'chan'?" Tanya ku.

"Karena dia tidaklah jantan seperti kakaknya, Kiyoteru-sensei. Jauh 180 derajat! Kiyo-sensei itu cool, kalau Piko… aduh, aku bingung mau bilang apa. Tapi, tembak sajalah!" Kata Zunko menerangkan.

Oh iya, Piko-kun punya kakak yang namanya Hiyama Kiyoteru atau biasa di panggil dengan nama Kiyo-sensei. Kiyo-sensei ini sering di panggil oleh guru-guru di sekolah dengan panggilan kutubuku karena sering terlihat di perpustakaan. Jujur saja, aku pernah suka sama Kiyo-sensei saat masih SMP. Oh iya, Zunko terkenal nge-fans berat dengan sensei yang satu ini. Sampai-sampai pada saat ulangan yg diawasi Kiyo-sensei, ia tidak pernah mendapatkan nilai bagus karena selama 2 jam konsentrasinya terpusat kepada Kiyo-sensei (berlebihan).

"Hm, gak ah. Kiyo-sensei terlalu tua. Jadi, Miki pilih Piko-kun aja." Kata ku.

"Cieelah. Udah tembak aja sana, sebelum terlambat diembat orang lain." Kata Zunko sambil menyenggol ku.

Benar juga ya. Aku sudah lama dekat dengan Piko, kenapa gak aku tembak aja ya? Aku terus memikirkan saran Zunko dan ternyata mungkin memang seharusnya ku tembak dia duluan, karena itu sudah menjadi tradisi di sekolah ku bahwa anak perempuan selalu memiliki keberanian lebih di banding lelaki.

Aku terdiam sambil terus memikirkannya. Zunko menatapku tanpa ekspresi.

"Ada apa Miki? Kok diam?" Tanya-nya.

"Ah, bukan apa-apa. Cuma, aku kan gak berani, Ko." Jawabku sambil memainkan tangan. Saking seriusnya aku memikirkan hal itu, pipi ku mulai memerah.

"Aduh si pipi merah jambu, pipinya gembul pula (?). Gak usah malu! Inikan sudah jadi tradisi, mending kita lestarikan budaya sekolah kita!" Katanya sambil meremas pipi ku.

"Melestarikan budaya? Bukankah seharusnya lelaki itu lebih berani dibandingkan wanita?" Tanya ku.

"Yah, memang seharusnya begitu. Cuma kau tau kan, sekolah kita itu memperioritaskan kepintaran untuk lelaki, bukan fisik. Kalau fisik untuk perempuan. Karena girl power itu tak ada yang dapat menandinginya!" Jawab Zunko penuh dengan penghayatan.

Aku kembali berfikir. Tapi, apakah Piko juga merasakan apa yang ku rasakan? Kalau aku di tolak olehnya gimana? Harus berbuat apa aku?

"Doushite, Miki-chan? Kau bengong lagi." Tanya Zunko.

"Eh, etto…kalo aku di tolak bagaimana?" Tanya ku gugup.

"Remember this, Chan-Miki. Possitive! Selalu berfikir positif. Kau pasti diterima. Kau itu bisa. Di dunia ini, nothing impossible! You just want to say 'Im Possible'! Kau itu sudah terbilang paling perfect. Dapat nilai bagus saat periksa kerapihan seragam, rambut scarlet yang tergerai panjang, muka imut, kulit putih, baik, sopan, apalagi yang kurang?! Kalau kau diterimanya, berikan dia perhatian. Jangan dicuekin. Wakarimasuta?" Jelasnya panjang lebar.

"Hai! Demo … Aku tidak se-perfect Iroha. Dia kuat, dia tangguh, suaranya nge-bass, easy-going, banyak temannya pula." Kata ku sambil menundukkan kepala.

"Sudah ku katakan, jangan berfikir negatif!"

"Begitu, ya? Baiklah, akan ku coba!" Kata ku lantang.

#PIKO POV

"Aniue, kapan kau akan pulang?"

"Yah, sebentar lagi. Tumben kau menanyaiku?" Tanya Kiyo-sensei atau biasa ku panggil dengan sebutan 'Aniki' atau Aniue oleh ku.

"Supaya porsi makanan yang ku buat gak kelebihan. Takutnya aniue pulang malam." Jawab ku dengan tatapan sinis.

"Bilang saja kau ingin curhat kan? Kenapa gak curhat dengan anak berambut merah yang tadi pagi kau jumpai saja?" Tanya Aniue.

Deg deg …

"G-gak kenapa kenapa. Masa mau curhat ke cewek. Gak enak lah, Aniue."

"Jadi sebenarnya kau ingin menceritakan gadis berpipi merah jambu itu?" Kata Aniue meledek ku.

"U-urusai!" Teriak ku.

Giliran ku memperkenalkan tentang hal yang ku lalui. Aku, Utakane Piko, sebenarnya sudah sejak 4 elementary school, aku memiliki sejumlah rasa kepada anak yang bernama Miki. Itu terjadi pada saat aku sedang mengafal skenario cerita untuk pementasan drama kelas, dia yang selalu membantuku dan akhirnya pementasan drama itu benar-benar berjalan sukses. Entah mengapa pada saat itu aku mulai merasa ada sedikit getaran aneh.

"Jadi apa ingin kau lakukan, untuk selanjutnya?" Tanya Aniue sambil berjalan pulang.

"Begini, setelah ku pikir-pikir lagi . . . haruskah ku melepaskannya?" Tanya ku balik menanyakan.

Aniue tersentak

"Hah?!"

"Haruskah aku menyerah sekarang? Aku sudah kelamaan menunggu." Kata Piko.

"Oh, begitu. Mengapa harus menunggu? Bertindaklah sedikit." Kata Kiyo-sensei berjalan di samping ku.

"Tapi, kalau dilihat-lihat dia tidak sama sekali memiliki segemgam rasa kepada ku. Lagi pula toh seharusnya dia duluan yang bertindak bila perasaanya sama dengan ku. Maka dari itu aku mencoba untuk berpindah hati walau itu tidak mungkin sepenuhnya." Jelas ku panjang lebar.

Kiyo-sensei menatapku dengan senyuman khasnya.

"Lalu wanita beruntung manakah yang nanti akan menjadi pilihan mu yang berikutnya?" Tanyanya.

"Mungkin, Yura. Wajahnya selalu memerah disaat aku menghampirinya. Tapi, aku belum tau apakah ia punya rasa dengan ku atau tidak." Jawab ku.

Aniue kaget sampai-sampai langkahnya terhenti. Mungkinkah ia memiliki rasa kepada Yura?

"Oh, Yura. Kenapa harus pindah hati ke Yura?" Tanyanya lagi.

"Tadi sudah ku jelaskan. Jangan-jangan Aniue menyukainya ya?" Tanya ku.

"Tidak, Aniue belum akan menikah sebelum berumur 30 tahun. 24 adalah umur yang lumayan muda bukan? Lagi pula Iroha bukan tipe aniue. Tipe Aniue itu Miki." Jelasnya.

"Hah?! Kenapa Aniue suka dengan orang yang sama dengan ku?"

"Itu pun dulu, Piko. Karena anak itu lebih bisa diandalkan dibandingkan Iroha, saat Middle School dulu, Miki mau diajak kerjasama. Bahkan dia adalah salah satu dari pengurus OSIS terkenal di Middle Schoolnya bukan? Dibanding Yura yang agak sedikit melawan disaat diajak kerjasama, Miki tidak pernah melawan walaupun ia memegang tanggungjawab sebesar apapun." Jelas Kiyo-sensei.

"Yah, dia memang terkenal sih. Sampai-sampai sudah ditembak 4 kali dalam satu hari dan dalam hari itu juga ia menolak mereka. Aku takut bakalan seperti itu." Kata ku.

"Kalau begitu kau tidak akan pernah menjadi cowok jantan." Singkat kata Kiyo-sensei.

"Terserah apa katamu. Yang penting mulai sekarang aku mau berusaha buat 'move on'. Mau seburuk apa itu Yura, aku tetap akan menyukainya kalau dia memiliki rasa yang sama dengan ku." Kataku.

Kami pun berjalan berlalu. Walau setua apapun kakak ku, kebijakannya dan kelembutannya tidak akan pernah hilang. Kuharap ia akan menemaniku sampai aku dapat menemukan pasangan hidup ku.

Hari ini, hari sabtu (who care?). Semoga saja hari senin nanti aku sudah berpindah hati ke arah yang lain. Waktu ku hanya sehari untuk melupakannya, dan semoga saja itu berhasil.


Chapter 2 selesai! Butuh waktu buat nyusun ceritanya. Author pun gak punya waktu senggang buat istirahat karena sudah ada diambang batas masa SMP (?). Sampai jumpa di chapter 3!