Musim semi, kau buat aku berbunga-bunga, euphoria yang meledak-ledak membuatku ingin menjerit. Musim panas, kau mulai menjaga jarak. Tapi aku yakin, bukan karena kau malas keluar rumah disaat mentari menyengat kulit. Musim gugur, bersama dengan sapuan angin yang membawa daun gingko berterbangan, daun yang menutupi jejak kebohonganmu tersapu. Dan musim dingin, ialah musim yang sangat kubenci seumur hidupku—,
STACIE KANIKO©
PROUD TO BE PRESENT
COAGULATION
Disclaimer : This Story is mine, all of casts is Tsugumi Ohba's & Takeshi Obata's.
Pair : Light ↔ Misa
Author's Feels inside
No copycat and plagiarize, because it's sinning!
Chapter 2 : Summer
Seperti biasa, bunga Sakura tak mekar dengan abadi —hanya dalam kurun waktu 2 minggu.
Sekarang memasuki bulan Mei, dan musim panas telah tiba. Cukup menyenangkan jikalau memikirkan tentang panas mentari yang selama ini kutunggu, berjemur—Menggelapkan warna kulit.
Aku hanyalah gadis biasa, alasanku pun tipikal—sama seperti remaja Jepang lainnya. Berjemur diawal musim panas, bermain dengan ombak. Aku juga bisa pergi mengajaknya. Sungguh indah bukan menikati sunset berdampingan dengan orang yang kau sukai? Begitu pula denganku.
Deringan ponsel membuatku beralih, dengan cepat meraihnya dari nakas. Tak butuh watu lama untuk mengecek sebuah e-mail, setelahnya langsung kulempar benda mungil itu keranjang. Membosankan.
Baiklah, sudah waktunya aku untuk kembali beraktivitas. Tapi disinilah letak ketidaksukaanku dengan musim panas, udara terlalu panas dan membuatku malas untuk keluar apartemen. Namun, menejerku yang baik hati itu telah mengingatkan jadwal untukku.
Dengan menyeret kedua kakiku, aku masuk kedalam kamar mandi dan bergegas membersihkan diri.
*** Stacie_Coagulation ***
Produk baru yang aku tampikan ialah iklan pelembab kulit. Kami mengambil lokasi di sekitar penginapan keluarga Tota, teman lamaku. Memakan waktu sampai 8 jam untuk shooting dan segala macam, malamnya kami mengadakan pesta dan menginap. Rasa lelah menghantuiku membuatku pulang cepat ke kamar penginapan nyaris tertidur ketika berbaring dikasur.
Hanya saja ketukan berulang membuatku terjaga dan membuka pintu ternyata Tota Sayu, teman lama sekaligus mantan adiknya Light-kun. ia mengajakku untuk berendam, kau tahu 'kan pemandian air panas cukup trend disini, terlebih ketika musim panas datang.
Sayu adalah anak yang menyenangkan, cantik dan baik. Aku sendiri iri dengan cantiknya yang alami. Terlebih ia mirip dengan kakaknya, mengingat itu membuatku tersenyum sedih. Beginikah rasanya Long distance Relathionship?
"Bagaimana kabarmu, Misa-nee?" ujarnya seraya merapikan handuk dikepalanya.
Aku mengangguk, dan melempar senyum, "Tak buruk. Ne, bagaimana pernikahanmu?"
Wajahnya memerah melebihi ketika baru memasuki kolam air panas, "Y-yah begitu. Matsu begitu menyebalkan, tapi baik sekali."
Aku menatapnya tertarik, "Apakah menikah itu asik?"
"Lebih dari asyik. Percayalah."
Dan sekilas aku membayangkan upacara pernikahanku dengan Light-kun, itu membuatku merona. "Ah~ aku ingin juga."
Sayu terkikik, "Capatlaah Neechan, aku ingin melihat kakakku lebih terarah. Hidupnya hanya kerja, kerja, dan kerja. Kupikir dengan otaknya yang kerdil itu, keluarga di nomor seratuskan!"
Aku tertawa, "Kalau otaknya kerdil, aku apa?"
Mereka tertawa bersama.
"Bagaimana hubunganmu dengan kakak?"
AKu berhenti tertawa, "Baik-baik saja. Musim semi kemarin ia mengunjungiku. Kau tak tahu itu hari yang sangat indah bagiku," aku mengerling, "Pacaran tentu saja."
Sayu mengangguk, "aku senang mendengarnya. Tapi kudengar ia sekarang tidak di Jepang, benarkah?"
"Ayolah, kau adiknya!"
"Oh sungguh ia terlalu sibuk untuk mengabarkan adiknya." Sayu memutar bola matanya jengkel.
"Tahun lalu, ya. Cuma katanya ia dutigaskan untuk mengawasi kantor barunya—," Sayu nyaris memprotes. ",—Di Jepang kok, tenang."
"Kalian seatap?"
"Tidak." Aku cemberut sebal.
Sayu terkekeh, "Setidaknya kalian sempat kencan."
"Kami LDR!"
"Kau bilang kantornya di Jepang."
"Kau pikir Jepang hanya sebesar kolam air ini?" ujarku sarkasme. Ia menggaruk pipinya.
"Coba saja hubungi dia, kau kan punya hak," Sayu memainkan alisnya, "Pacar, kan?"
Dan aku pun kembali bersemangat. Rasanya kantukku menghilang setelah menghabiskan waktu bersama wanita muda ini.
*** Stacie Kaniko_Coagulation ***
Dua hari berselang, aku kembali ke apartemenku. Rasanya makin lama tubuhku makin cepat letih. Matsui sadar akan keadaanku dan diam-diam berusaha mengurangi jadwalku. Aku tersenyum memikirkannya, dia benar-benar baik. Hari ini aku istirahat total dan betapa menyenangkan ini.
Hal pertama yang kulakukan setelah minum obat adalah mengecek ponselku, sial. Tak ada e-mail dari kekasihku. Dia benar-benar keterlaluan,
Dan bodohnya aku terlalu sulit untuk bisa marah padanya.
Aku kembali tersenyum dan menelponnya, dua kali deringan panjang terdengar namun belum terjawab. Bukan Amane Misa namanya jika menyerah semudah ini. Maka pada deringan ketiga suara rendahnya terdengar. Pipiku panas seketika.
"Light-kun!"
"Hmm?"
"Aku kangen!"
"Aku juga."
"Benarkah?" hatiku hangat.
"Hm. Sudah makan?"
"Hum! Sudah semua. Hari ini aku free. Oh, menyenangkan!"
"Baguslah, aku senang mendengarnya." Aku menggerutu, senang tapi suaranya datar. Benar-benar lelaki yang pandai menguasai diri. Menyebalkan.
"Oh bisakah kau main kemari? Matsui sangaaaat baik, sia memberiku waktu untuk libur."
"Ku pikir ia memberimu waktu istirahat total."
"Tebakan bagus, tuan jenius."
"Terimakasih, nona cantik."
Pipiku merah sepertinya, yang jelas aku berguling senang. Dia memujiku, OH TUHAN Light-kun yang kupuja memujiku! Pasti limited sekali.
"Halo?"
"Ya. Siapa dulu pacarku." Sahutku bangga.
"Siapa, ya?"
"Light-kun!"
Terdengar ia tertawa sesaat. "Kau tahu, mungkin kau kecewa, maaf. Tapi hari ini aku tak bisa meninggalkan markas."
Aku terdiam rasanya kesal melanda, "Kenapa?"
"Tentu saja tugas."
"Kau selalu memakai kata, 'tugas.' Light-kun." Ini menyebalkan. Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku selalu mencari waktu untuknya. Siapa yang egois disini?
"Haruskah aku bercerita?"
"Apanya?"
"Misiku."
"Kenyataannya kau tak penah cerita apa pun." Aku menutup wajahku dengan bantal. "Kau tak menganggapku ada."
"Ini bukan sesuatu yang bisa diceritakan dengan bebas."
"Aku pacarmu."
"Tetap saja rahasia."
"Aku benci kau. Pembohong, pacari saja asistenmu jika ada! Atau misimu, atau siapa pun." Dan telponnya kumatikan. Dengan kasar ku cabut batrai ponsel dan melemparnya ke sisi tubuhu.
Selalu saja seperti ini.
Aku hanya butuh perhatianmu,
Bodoh.
Yang bodoh aku, atau kau?
*** Stacie Kaniko_Coagulation ***
Hari ini aku check-up. Kedaannya tak jauh lebih baik dari kemarin. Hanya saja setidaknya masih stabil, tidak memburuk ataupun membaik. Penyakit turunan memang bukan hal yang umum. Dan dari sekian banyak manusia di muka bumi, mengapa aku termasuk?
Tidak adil.
Aku memang terkenal, cantik, dan banyak uang. Namun hanya karena itu kah aku harus menanggung menderitaan yang bahkan lebih buruk dibanding jatuh miskin?
Tidak adil.
Harusnya manusia punya umur yang cukup untuk menikmati dunia yang indah ini. Aku iri dengan banyak orang yang memiliki semuanya. Aku iri. Mereka cantik, kaya, memiliki keluarga yang indah, juga terhormat. Hebat.
Aku bisa apa?
Terlahir dengan darah Jepang-Rusia. Dari seorang wanita yang pernah menjadi wanita bar di negerinya dan pindah ke Jepang. Ikut audisi dan terkenal, sukses menjadi model fashion luar; siapa yang tidak tahu busuknya seorang model seperti itu. Mereka memang terkenal dan di gilai,
Tapi harga dirinya entah kemana. Itu yang membuatku tak menyukai ibu. Ia kaya dan cantik, tapi aku ingin lebih—atau malah yang lebih sederhana, andai ia hanya wanita baik-baik yang bisa menjaga tubuhnya dari mata jahanam orang-orang.
Tapi sudahlah, aku bersyukur masih bisa lahir darinya.
Atau bahkan ayah yang pergi meninggalkan kami berdua ketika umurku baru 6 tahun. Ia hanyalah pembohong besar yang kasar. Ia menghilang dan dikabarkan meninggal, nyatanya setelah aku dewasa dan terkenal ia malah muncul dihadapanku sebagai ayah yang menuntut uang balas budi anaknya.
Setelah meninggalkan aku dan ibu mencari uang sendiri.
Setelah meninggalkanku penyakit kutukan dalam darahku.
Setelah lepas tanggung jawab dan membiarkan kami berdua membayar hutang-hutangnya.
Tidak adil.
Sudahlah, akhirnya ia ditangkap karena pemalsuan. Lelah diasingkan, akhirnya aku pindah ke Jepang dan mengikuti karir seberti ibu, namun setahun aku di Jepang ibu malah meninggal karena asma.
Begitu saja hidup keluarga kecilku. Sulit dan sudah terlewati. Mentalku sudah sering dibanting.
Berharap bersama dengan Light-kun membawa sedikit keajaiban untuk hidupku yang sudah tak menyenangkan. Setidaknya, aku mendapatkan kekasih yang benar-benar kukasihi, tampan, cerdas, mapan, menyayangiku.
Untukku Light-kun adalah segalanya. Dan begitu kusadari ia mulai mengabaikanku, rasanya begitu sakit. Sakit yang dapat digambarkan. Patah hati.
Musim panas tahun ini terlewati begitu saja. Kekasihku hanya menghampiriku 2 kali, namun rasanya begitu menyenangkan. Aku tahu ini kekanakan, namun dunia terasa indah bila kau habiskan dengan orang yang kau cinta. Meski hanya sesaat. It called the real Quality time, That's all.
TSUZUKU
Happy new year, everyone. Im so glad I could publish it one. I hope you're—You've have been waiting for new chapie—satisfied as well.
What 'bout ur feel after read this? Any comments are welcome, so let me know!
Feedback?
Jan, 01st 2015
Regard,
Stacie Kaniko
