Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih sudah RnR/fave/alert fic maupun saya. :D
Dozo, Minna Sama!
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Setting: Alternate reality.
Warning: original characters, OOCness, typos, multi-pairings, Gray-centric, etc.
.
Have a nice read. ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Tiga tahun kemudian…
.
"Gray kun, mereka sudah tidak mencarimu lagi."
Sepintas kuning kecoklatan melesat kesana-kemari. Gray Fullbuster menghembuskan napas panjang, mata oniksnya menerawang jauh. Kepalanya bersandar lesu pada sepasang kaki yang dipeluknya.
"Haha, tenang saja, itu pasti karena mereka mulai menyadari bahwa aku cuma lenyap, tapi baik-baik saja dan tetap hidup."
"Sudah saatnya kau kembali, Nak," cetus pemilik mata sebening birunya laut.
Gray terkejut, ditolehkannya kepalanya pada sumber suara, ia menemukan kesungguhan yang terpancar dari mata biru berkilau itu. "Ke-kenapa?"
"Kau tak bisa selamanya di sini. Kau punya tempat kembali. Kau punya rumah dan orang-orang yang menanti kepulanganmu," tuturnya, menjelaskan hal yang logis.
Gray menatapnya tidak percaya. "Benarkah? Kau yakin?"
"Ya. Tapi, dia tetap harus ikut denganmu." Mata biru itu mengikuti pergeratan kilat kuning kecoklatan yang sibuk menyiapkan perbekalan untuknya dan Gray. "Kau harus menjaga Gray!"
"Oke~"
Senyum lega mengembang di wajah yang kini tampak dewasa itu. Ia mengangguk, matanya berkaca-kaca mendapati pandangan lunak terpancar dari mata biru berpupil yang menyerupai kepingan salju itu.
Gray bersujud penuh hormat padanya. Airmata bergulir dari sudut matanya. Sesak penuh keharuan. "Terima kasih, Shiva."
"Berjanjilah kau pasti menjaga Gray untukku, Nak."
"Tentu, Shiva. Aku akan menjaganya."
Yang dipanggil Shiva melayangkan tatapan serius pada Gray—masih bersujud di hadapannya. "Kau harus mencari cara untuk memberikan informasi ini pada mereka."
Gray menengadahkan kepalanya, tampak pelupuk matanya masih digenangi air yang siap tumpah kembali. Namun pemuda dewasa itu mengangguk. Ia buru-buru meraih tasnya dan siap hendak pergi sampai Shiva kembali bersuara.
"Pakai bajumu, Gray!"
"Oh, shimatta!" Gray melonjak terkejut. Pemuda itu mengambil baju yang dilemparkan Shiva padanya, ia bergegas memakainya kemudian membungkukkan badan pada Shiva.
"Sekali lagi, terima kasih, Shiva," ucap Gray tulus.
Shiva manggut-manggut. "Sana, cepatlah pergi! Kau pasti sudah tidak sabar bertemu Fairy Tail lagi, kan? Terutama si Er—Err… aduh, siapa nama cewek yang sering diceritakan Gray, ya?"
"Erza," cetus partner Gray yang kini bertengger di bahunya.
"Aish, aku sudah mau pergi, dan kalian masih saja menggodaku," gerutu Gray, tak mengacuhkan yang lain tergelak karena gerutuannya. Ia membalikkan badan, mengerling pada Shiva kemudian berkata, "Ittekimasu, Shiva."
Shiva melambai padanya. "Itterashai, Anata-tachi."
.
#~**~#
A "GrayErza" fanfiction,
.
Eternal Ice
.
Chapter 2
"Kembali"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
"Kita sudah sampai di Magnolia, ya? Di mana markas serikatmu?"
"Iya… ternyata kota ini tak banyak berubah." Pemuda itu mengedarkan pandangan pada kota Magnolia sepanjang jalan yang dilewatinya, memandangnya lekat sarat kerinduan. "Uhm, dekat laut." Ia berhenti melangkah.
"Ada apa?" Ia menoleh pada rekannya itu. "Takut merasa asing karena sudah lama tak kembali ke rumah?"
Matanya menatap ragu pada sebuah bangunan menjulang tinggi yang terletak di ujung kota, berbataskan laut. Tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Kau tunggu di sini."
Usai menitipkan barang-barang bawaannya, kilatan kuning kecoklatan itu lenyap dari bahu tegap yang berbalutkan baju putih.
.
#~**~#
.
"Shobby do bop~"
"Kau ngomong saja sudah fals, apalagi bernyanyi!" teriak Natsu seraya melemparkan kursi terdekat pada pemuda yang sedang bernyanyi sesuka hati di atas panggung. "Hentikan nyanyianmu yang tak bermutu itu, Gajeel!"
Gajeel sukses berkelit dari kursi yang malang karena dilayangkan padanya. Urat di keningnya berkedut, menandakan kekesalannya yang memuncak. Topi putihnya terhempas tatkala ia melesat menyongsong serangan Natsu.
Kedua kaki yang saling menendang itu bertemu di udara, disusul pukulan bertubi-tubi dan saling tangkis-menangkis. Lagi-lagi kedua dragon slayer itu memulai pertarungan tak penting yang dapat menghancurkan rumah para penyihir Fairy Tail.
"Sebagai lelaki sejati, kau tidak akan membiarkan kawan-kawanmu bertengkar layaknya lawan sejati!" Elfman ikut terjun dalam pertarungan itu, niat sucinya sih melerai Gajeel dan Natsu. Ah, rasanya mustahil.
"Mulai lagi, deh," komentar Lucy, sweatdrop. Ia mengerling pada Salamander yang beberapa tahun ini kesepian karena kehilangan rivalnya.
"Jika kalian terluka, jangan pernah mengharapkan bantuan Wendy untuk menyembuhkan kalian!" seru Charle galak. "Sia-sia saja menolong mereka."
"Ara, ara…" Mirajane menggeleng-gelengkan kepala dari balik meja bar, "kasihan Master. Uang kas Fairy Tail tidak henti berkurang kalau mereka berkelahi terus menerus."
"Ramainya…" desah pemuda berambut biru yang duduk di sisi Erza itu, senang.
"Hai~ jika tidak begini, bukan Fairy Tail namanya," ucap Happy, ia menonton pertarungan Natsu di sebelah Lucy yang bertopang dagu.
"Hajar terus, Natsu!" Lisanna menyemangati. "Taklukkan mereka, Elf Niichan!"
"Jangan kalah, Gajeel!" sorak Levy.
Gadis berambut pirang dengan mata coklat cemerlang itu tertawa garing. "Kalian pasti bercanda. Adakah yang bersedia mengorbankan diri untuk melerai mereka?"
"Bagaimana kalau aku saja?"
Lucy menoleh pada sumber suara, melongo kaget. "Kau yakin?"
Pemuda dengan ukiran apik di salah satu sisi wajahnya hendak menjawab ketidakpercayaan Lucy, tapi Erza keburu turun dari kursi dengan ekspresi iblis.
Lucy memandang panik pada Erza yang men-summon sepuluh pedang sekaligus, ia berbisik pada pemuda yang sebelumnya duduk di samping temannya. "Sebaiknya kauingatkan saja pada Erza agar tidak terlalu ganas."
Dia tertawa kecil. "Oke, Lucy."
Happy yang menangkap basah Lucy dan orang itu sedang bisik-bisik itu menyeringai menggoda, lalu berkata, "Lucy menyukaimuuu! Akan kulaporkan Lucy pada Natsu dan Erza Sama—"
"Aaargh… berhenti bicara yang tidak-tidak, Neko!" seru Lucy kesal.
Kerusuhan adalah hal paling biasa yang sudah menjadi kebiasaan tersendiri di Fairy Tail. Justru tak wajar rasanya kalau mereka tak ramai seperti ini. Lagi pula, meski mereka saling berseteru dan bertengkar, toh seisi serikat ternama itu menikmatinya.
Seekor kucing berbulu belang-belang kuning kecoklatan berjalan memasuki aula. Didapatinya kericuhan terjadi di dalamnya. Pemandangan yang tak lazim di mata berisis sewarna lemonnya.
"Eh, ada kucing!" pekik gadis kecil berambut biru gelap. "Kemarilah!"
"Nyan~" kucing itu mengeong, ia melangkah mendekati gadis kecil yang di sisinya terdapat exceed putih yang memandangnya datar.
"Ara… kucing darimana itu?" Mirajane mendekati Wendy yang mengangkat kucing tersebut ke dalam pelukannya.
Pemuda dengan kekuatan sihir dipertanyakan menatap tertarik pada kucing itu. "Dia kucing bertina. Bulunya bagus sekali."
"Nyan~"
Kucing itu mengeong seolah membenarkan perkataan pemuda yang memujinya, ia melompat dari pelukan Wendy, lalu menggesekkan kepalanya pada tangan pemuda yang sedang memegang gelas minuman.
"Wah, kucingnya menyukaimu," kata Lucy, ia berpindah posisi ke kursi yang sebelumnya ditempati Erza.
Dia hanya diam sambil mengelus kepala si kucing yang berbulukan belang-belang kuning kecoklatan. Si kucing mengeong pelan. Happy mendekatinya, mengendus-endus bau yang menguar dari kucing yang sedang dielusnya.
"Kemari sebentar, Natsuuu!" seru Happy. Ia merentangkan sayapnya, lalu terbang dan menarik Natsu keluar dari lingkaran setan pertarungan yang tiada henti itu.
"Oi, oi, Happy! Jangan seenaknya mengganggu. Aku sedang asik, tahu," protes Natsu.
Happy membawanya mendekati kucing yang mulai mencuri perhatian itu. Natsu hendak melayangkan protes keras-keras, namun diurungkan niatnya saat mengendus aroma yang lazim di ruang penciumannya.
"Are? Sepertinya aku kenal bau ini." Natsu mengendus-endus sekitarnya, lalu terhenti di kucing yang kini duduk manis, menatap orang-orang asing di hadapannya.
Makarov yang heran mendapati kekacauan telah berhenti tanpa perlu ia marah-marah, menghampiri penyihir-penyihir Fairy Tail yang entah sedang mengerubungi apa. Master kecil dengan kekuatan luar biasa dahsyat itu menyeruak masuk ke dalam kerumunan.
Kucing?
"Tu-tunggu, aku pernah melihatnya…" kata Charle, membuat riuh-rendah perlahan mereda.
"Pernah melihat kucing ini?" tanya Wendy memastikan.
Charle mengangguk. "Siklus ramalan, tiga tahun yang lalu."
Tak ada yang tak mencelos mendengar "tiga tahun lalu" yang diucapkan Charle. Tiga tahun lalu itu terjadi sebuah peristiwa yang melenyapkan salah seorang kawan mereka. Siapa yang bisa melakukannya? Suatu pukulan telak untuk Fairy Tail karena telah kehilangan salah satu kemilaunya.
"Berarti, kucing ini exceed?" tanya Erza dengan pandangan tertarik yang terarah pada kucing itu.
"Ja-jadi, dragon slayer terkutuk itu…" Lisanna mengingatkan kata-kata Charle waktu itu.
"…sudah datang? Ini adalah exceed-nya?" sambung Lily, panther yang satu itu menghujamkan pandangan curiga pada kucing yang berada di hadapannya.
"Aku tidak tahu." Exceed putih yang memiliki kemampuan istimewa untuk meramalkan masa depan itu menggeleng.
"Happy, coba kau tanyakan pada kucing ini!" Lucy menunjuk kucing yang sekarang sibuk membersihkan dirinya; menjilat sekujur tubuhnya.
"Oi, apakah kau exceed?" tanya Happy pada kucing itu.
Si kucing mendongak, menatap Happy. Ia mengeong dengan ekspresi lucu. "Nyan~"
Hening.
"Kawaii~" suara itu berdengung dari orang-orang yang terpesona pada kucing bermata bulan sabit.
Natsu menepuk-nepuk kepala si kucing. "Oi, jawablah yang benar!" perintahnya. Tapi kucing yang ditanya hanya mengeong, Natsu berdecak kesal. "Cih. Hanya kucing biasa. Kau salah, Charle."
Mata sewarna lemon itu berkilat.
Charle hendak bersikeras atas keyakinannya bahwa ia pernah melihat kucing ini dalam benaknya, berulang kali tiga tahun yang lalu. Tapi, tiba-tiba saja cakaran panjang melintang di sepanjang lengan Natsu.
"Ittaiii!" teriak Natsu kesakitan.
Makarov mengerjap-ngerjapkan mata. Tunggu, yang tadi itu…
"Oi, apa salahku sampai ada yang mencakarku? Hadapi aku!" tuntut Natsu, garang.
Lisanna memekik melihat cakaran panjang itu, tak mengucurkan darah, namun menimbulkan bekas yang dalam dan panjang sepanjang lengan kiri Natsu.
Natsu mengedarkan pandangannya, ia yakin tak ada satu orang pun di Fairy Tail yang akan saling menyerang dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini.
Pandangannya terhenti pada kucing yang menyibukkan diri dengan bersih-bersih. Natsu memicingkan mata, berkacak pinggang di hadapan makhluk lucu itu.
"Mengaku saja, oi, Neko!" seru Natsu pada kucing yang kelihatan amat inosen. "Kau yang mencakarku, kan?"
"Nyan~" Kucing dengan bulu kuning kecoklatan itu mengeong lagi, lalu memiringkan kepalanya seakan tak mengerti perkataan Natsu.
"Eh, tapi dari tadi aku terus memandanginya, dia masih di tempatnya," ujar Wendy.
Natsu mencak-mencak kesal, dan tak ada yang menghiraukannya. Makarov mengulurkan tangannya yang terbuka di hadapan kucing tersebut.
Si kucing menaruh paw-pawnya di telapak tangan Makarov. Sekali lagi ia mengeong, terdengar gembira.
"Kucing pintar," puji Master Fairy Tail. Kucing itu beranjak mendekati Makarov, menerima elusannya. "Apa yang kaulakukan di sini, Neko?"
Semua memandang heran pada seseorang yang sudah mereka anggap seperti ayah sendiri. Makarov mengajak berbicara kucing?
"Nyan! Nyan, nyan… nyaaan~" Sang kucing mengeong penuh semangat pada Makarov.
Sunyi.
"Err, Master... kau mengerti apa yang dikatakannya?" Ekspresi menyangsikan terlukis di wajah Erza.
Makarov tersenyum, kemudian menggeleng. "Tentu saja tidak."
GUBRAK
Makarov tergelak melihat anak-anak muda yang diasuhnya itu terkapar tidak elit di tempat masing-masing. Namun, mata beriris lemon itu berkaca-kaca. Menampilkan kekecewaan karena Makarov tak mengerti. Kepala yang lebat akan bulu kuning kecoklatan tertunduk lesu.
"Duh, Master bikin kaget saja," kata Lisanna seraya berusaha duduk kembali di kursinya.
Suasana kembali ramai. Kucing itu merasa senang berada di serikat Fairy Tail yang amat hangat dan ramai. Ia mengeong pelan pada Makarov, master Fairy Tail menepuk kepalanya. Dan kucing itu menyelinap keluar dari kerumunan tatkala orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Dengan santai si kucing berjalan di karpet merah, keempat kakinya berhenti melangkah tatkala mendengar seseorang berkata, "Mata sipit menyebalkan itu… tatapanmu dan baumu persis sekali seperti temanku." Kucing aneh itu menoleh. Mendapati Salamander nyengir lebar memandangnya.
"Mungkin saja dia adalah reinkarnasi Gray," kata Lucy sembari mengelus tubuh si kucing.
"Lucy, bagaimana bisa orang hidup menjalani reinkarnasi?"
Lucy menciut di bawah tatapan galak Erza. "Hai'. Gomenasai, Erza Sama."
Happy terbang berputar-putar mengelilingi mereka. "Dakara… 'Sama' tte nani?" tanyanya, menirukan Lucy.
"Urusai, Neko!" ketus Lucy.
"Bagaimana kalau kita pelihara kucing ini?" usul Erza.
"He? Untuk apa?" tanya Lucy heran.
"Yah, Natsu selalu dengan Happy, kau punya Plue, Lucy." Erza berlutut di samping kucing yang menurutnya amat manis, membelai sisi kanan kepalanya. "Bagaimana denganku? Sendiri saja."
Sweatdrop besar menggantung antara Natsu, Happy, dan Lucy. Bisa-bisanya Erza berpikiran demikian.
"Boleh-boleh saja," Lucy menyetujuinya.
"Lumayanlah, dia mirip Gray," ujar Natsu.
"Hai'~ Natsu, kau merindukan Gray~"
"Urusai, Happy." Natsu mendelik pada kucing yang melayang-layang di sekitarnya. Mana mau orang dengan gengsi setinggi Natsu mengakui bahwa ia benar-benar merindukan rival sekaligus kawannya?
"Yah, tapi harus kuakui, tak ada lawanku sengotot dia."
Lucy tersenyum—pandangannya melunak pada kucing yang dibelai oleh Erza, mengingat biasanya Gray dan Natsu nyaris selalu berdebat serta berkelahi. "Aneh rasanya kalau tak ada Gray yang menyaingi Natsu, bahkan aku rindu keanehannya—seperti selalu lupa memakai baju atau membuang pakaian sembarangan."
"Kita semua merindukan Gray," lirih Erza. Ia membelai kucing itu penuh kasih.
Dari ketiga manusia dan satu exceed itu tak menyadari perubahan ekspresi kucing aneh yang menjadi pusat perhatian mereka. Sorot matanya melembut. Seolah terenyuh mendengar fakta bahwa mereka sangat merindukan seseorang yang selalu disebut-sebut, menandakan mereka sangat menyayangi sosok bernama Gray Fullbuster.
"Nyan~" Kucing itu mengibas-ibaskan ekornya, lalu berlari ringan keluar dari ruangan.
"Jaa naa, Neko-nyan~" Happy melambai, gembira.
"E-eh, bukankah Erza ingin memelihara kucing itu?" tanya Lucy, mata coklatnya mengerling pada Erza.
Gadis yang dimaksudkan Lucy bersidekap. "Kalau kucing itu ingin bebas, biarkanlah dia mencari kebebasannya."
Natsu nyengir lebar. "Kucing aneh." Sekelebat ingatan terbersit di benaknya, ia terbelalak. "Oh ya, pertarungan kita belum selesai, Gajeel!"
Tak ada yang bersedia meladeninya, bahkan Gajeel sekali pun. Lucy dan Erza memutuskan untuk duduk di meja tempat mereka biasa berdiskusi. Tak menemukan lawan bertarung yang sepadan, Natsu menghempaskan diri di sebelah Erza. Ia bersungut-sungut kesal.
"Semuanya lemah dan payah," kata Natsu sebal.
"Kau terlalu hiperaktif," komentar Lucy. Ia menyodorkan segelas air pada Natsu—tanpa mengucapkan "terima kasih" langsung menenggaknya, yang dalam sekejap hanya tersisa tetesan air yang menggantung di tepi gelas.
Erza mengangguk, menyetujui perkataan Lucy. Tangannya yang menggenggam bolpoin sibuk menulis daftar perlengkapan barang-barang apa saja yang akan mereka bawa dalam misi selanjutnya. Lucy membantunya mengingatkan barang-barang yang harus dibawa dalam perjalanan.
"Tidak ada si Mata Sipit, sih," keluh Natsu. Ia menyandarkan kepalanya pada meja seraya memejamkan mata. "tidak ada yang ngotot melawanku."
"Haha, jadi kau memuji Gray?" tanya Lucy, tawa garing meluncur dari bibirnya.
"Pujian terselubung," pendapat Erza tanpa mengalihkan pandangan dari kertas yang mulai dinodai oleh tinta.
Natsu mengerucutkan bibirnya, membiarkan saja Happy bersandar pada kepalanya sambil memakan ikan. "Aku bersumpah akan menendang bokong si Hentai Yarou begitu dia pulang, sampai terpental ke Edoras. Lalu kubakar dan kuseret kembali kemari, kuikat dia ke tiang dekat panggung supaya dia tidak menghilang lagi."
"Rencana yang kejam," tanggap Lucy, sweatdrop.
"Hai'~" Happy manggut-manggut.
"Uhm-hm. Jika kau berani melaksanakan rencana idiotmu, aku bersumpah akan membuat Salamander tidak bisa dikenali lagi. Lalu kau akan kubekukan, dan kupajang di dekat panggung," sahut sebuah suara bariton yang akrab di telinga, tepat di sebelah Lucy.
Lucy terkikik geli. "Begitulah Natsu dan Gray. Lucu juga kalau benar-benar terjadi."
"Hipokrit kau, Lucy. Aku tahu kau tidak akan bilang begitu kalau benar-benar terjadi," ujar Happy.
Lucy memelototi kucing biru itu. "Urusai, Neko! Dan jangan sok tahu mengenai hipokrit—"
"Oh, tidak bisa…" Natsu menegakkan duduknya, "berani-beraninya mengatakan rencanaku idiot, Baka Gray!" serunya pada orang yang duduk di hadapannya, sekaligus duduk di sebelah Lucy.
"Aku tidak bodoh, Ahou Natsu!"
Erza mulai terusik ketenangannya. Begitu pula Lucy, ia dapat merasakan keregalan dari aura dingin yang baru saja dirasakannya di samping kirinya. Mereka mendongak, menemukan Natsu Dragneel dan Gray Fullbuster saling beradu dahi, keduanya sama-sama berdiri di atas kursi dengan sebelah kaki kanan bertumpu di meja.
"Duh, mulai lagi deh mereka." Happy terbang mengitari meja yang diduduki tim terkuat Fairy Tail itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
BUK
Sepasang kepalan tangan berselimutkan aura berwarna merah dan biru bertemu, menghempaskan udara pada sekeliling mereka. Merasakan aura pekat pertarungan yang tidak biasa itu menyedot perhatian dari orang-orang yang berada dalam aula utama.
Erza dan Lucy terbelalak kaget, mereka mengikuti jejak Natsu dan Gray. Bahkan lebih parah lagi, menaiki meja dan menapaki barang-barang yang berserakan di meja.
Happy berhenti terbang, ia terduduk pasrah di atas rambut merah muda Natsu, menatap tak percaya pada sosok yang tengah saling adu melotot dengan Natsu, di mana kucing aneh tadi bertengger di bahu yang berbalutkan baju putihnya.
"Nyan~"
"Gray…" panggil Erza, seakan menguji nama itu tak lagi terasing.
"Hm?" gumam Gray. "Ada apa, Erza?"
"He?" Natsu mengerjap-ngerjapkan mata. Ia memundurkan kepalanya, ikut melotot pada sosok yang menampilkan ekspresi inosen di hadapan mereka.
Jeritan yang menjajaki reinch vocal tinggi itu bergaung ke seluruh serikat Fairy Tail, seakan ingin memutuskan pita suara masing-masing.
"GRAAAY!"
Natsu, Lucy, Happy, dan Erza… disesaki haru dan kebahagiaan, penuh suka cita mereka berhamburan memeluk Gray dan kucingnya erat-erat.
.
To be continued
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Err, di-cut-nya gak pas banget. Huwee… chapter ini bukanlah yang terbaik dari saya. Maafkan saya. #bungkuk2 (Gray menyahut di pojokan, "Tiada maaf bagimu, Lite!" #pundung)
Maaf fic ini aneh. *lemes* masih adakah yang bersedia mengikuti fic ini?
.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan sarannya selalu ditunggu. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan (LoL)
