Disclaimer : Naruto dan semua chara lainnya milik MASASHI KISHIMOTO
Shiro no Unmei plus beberapa OC milik KEZIA,
Warning : Zia orang baru, belum pandai nempatin genre, rate atau jenis cerita, mungkin cerita ini bisa dibilang Semi Canon. OOC alias Out of Character (mungkin), typo berserakan (?), alur gak jelas, sudut pandang rada aneh, pokoknya gaje stadium akhir deh.
Don't like, Don't read ! Zia belum siap dikasi flame, zia masih pemula
::
::
"Pergi ! Aku tak suka melihat penipu sepertimu!"/"Hiduplah bersamaku Hyuuga-san"/ "Aku tidak melarikan diri dari masalah, aku pergi karena ini jalan satu-satunya"/"… aku pergi, berbahagialah bersama Sakura."/ jalan hidupnya istimewa karena dia dapat mewarnai takdirnya yang berwarna putih sesukanya./ "…Hyuuga Hikaru"/ "Maaf Uzumaki - sama, apa anda yakin anda Uzumaki?"
::
::
::
Gadis itu masih tampak memeluk lututnya, surai panjangnya dibiarkan tak beraturan, pikirannya kacau. Dan selalu kembali ke peristiwa beberapa saat lalu. Tak ada yang bisa dilupakannya barang sedetik. Semua terputar jelas dalam ingatannya, terutama sekitar sejam yang lalu.
.
Gadis berambut gelap itu tampak terisak dengan tubuh gemetaran. Dengan pakaian yang asal dikenakan, gadis itu berjalan dengan terseok ke sudut ruangan. Matanya mengeluarkan liquid bening dengan deras, dan menatap datar sosok yang berada di tempat tidur. Pemuda itu. Impiannya. Impian kebahagiaannya, dulu. Karena untuk sekarang sosok berkulit tan itu menjadi mimpi buruknya.
Shinobi yang tadi tertidur itu terbangun. Nampaknya Ia merasa terkejut melihat seorang kunoichi yang dikenalnya berada dalam keadaan yang jauh dari kata rapi. Keterkejutannya bertambah saat melihat dirinya sendiri, polos, bak bayi yang baru lahir. Cepat – cepat ia memperbaiki keadaannya.
"Apa yang terjadi?" suara Naruto –yang terkesan dingin – terdengar dan berhasil menghentikan isakan dari Hinata.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu Naruto – kun" suara gadis Hyuuga itu terdengar datar, tanpa ekspresi. Naruto mengacak – acak rambutnya tanda bahwa Ia sedang frustasi. Namun, hanya dengan hitungan detik, suara Naruto terdengar.
"Heh, aku tahu kau mencintaiku Hinata. Tapi… aku tak suka caramu yang sekeji ini" dalam setiap perkataan Naruto terdengar nada yang meremehkan.
"Asal kau tahu. Hyuuga tak serendah itu Uzumaki – san." Kali ini perkataan gadis itu bernada dingin dan terdengar seperti menyudutkan Naruto. Sayang, Naruto bernyali besar. Ia tak kan ciut dengan aura yang dikeluarkan sosok Hyuuga dihadapannya.
"Terserah. Aku tak kan peduli apa yang kau katakan Hyuuga." Setelah mengatakan itu Naruto berjalan menuju arah pintu. "Oh, satu lagi." Naruto memutar menghadap Hinata. "Anggap saja semua ini tak pernah terjadi, dan anggap saja kita tak pernah saling mengenal." Kali ini Naruto memutar badan menghadap pintu lagi.
"Dengan senang hati." Hinata menjawab seakan semua bukan masalah. Ya, seakan. Hanya seakan. Karena sejujurnya jauh di dalam hatinya, ia merasa sakit,.
.
Gadis yang sedang memeluk lutut itu berdiri, meyakinkan hati bahwa dia bisa melewati semuanya. Diliriknya jam dinding yang ada dalam kamar Uchiha ini. Ah, dia di rumah Uchiha ternyata. Jam lima pagi. Dicarinya handuknya dalam tas yang dibawanya dari rumah, lalu menuju kamar mandi. Tak perlu berlama – lama, dia telah selesai melakukan keharusannya setiap pagi.
Belum ada yang bangun. Dengan cepat Hinata menuju kulkas yang ada di dapur. Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat bahan apa saja yang dapat diolahnya menjadi sarapan pagi yang nikmat dalam jumlah yang besar.? Hinata memulai kegiatan memasaknya, potongan – potongan sayuran dibuatnya serapi mungkin, bumbu – bumbu ditakarnya dengan hati – hati. Memasak kegiatan favoritnya. Karena memasak sendirian membuatnya melupakan masalahnya untuk sejenak dan mengundang senyum bahagianya karena berhasil meracik sebuah masakan yang lezat. Bisa dikatakan, harinya tak lengkap tanpa memasak.
Beberapa orang bangun begitu mencium aroma masakan hinata, padahal masakan hinata saja belum matang, dan itu masih masakan yang pertama. Mereka memutuskan untuk mandi. Ada yang mengantri untuk mandi di kamar mandi yang paling besar, ada juga yang memilih untuk mandi di kamar mandi yang ada di kamar mereka. Beberapa kunoichi bermaksud untuk membantu Hinata, tapi begitu melihat tatapan memelas hinata untuk bekerja sendiri, mereka mengurungkan niat mereka.
Semua masakan hinata sudah matang dan sudah tertata dengan rapi di meja makan keluarga Uchiha yang luas. Kebetulan, dapur dan ruang makan menyatu sehingga tak menyulitkan hinata untuk menata makanan diatas meja. Tepat jam setengah tujuh pagi, semua sudah bangun dan selesai mandi. Dan kini, mereka semua tengah berkumpul di ruang makan keluarga Uchiha.
"ITADAKIMASU" mereka semua menyuarakan hal yang sama, pertanda bahwa mereka memang sehati. *dalam hal memulai acara makan,tentunya.* Mereka semua makan dalam suasana yang terlihat ceria, diselingi candaan kecil sebagai hiburan. Sekali lagi, 'hanya terlihat', karena pada nyatanya mereka semua, tanpa terkecuali sudah merasakan hawa tak menyenangkan saat semua orang sudah berkumpul untuk makan.
"Hei hinata, ngomong – ngomong kenapa dari tadi kau hanya diam saja?" aiihh, rasa penasaran gadis Yamanaka yang satu ini memang tidak bisa dibendung ya.
"Heh, semua Hyuuga kan memang seperti itu, selalu punya banyak aturan" kali ini Naruto berbicara dengan sebelah tangan yang menutupi satu sisi mulutnya sehingga terlihat sedang berbisik, padahal jsedah jelas kalau suaranya *yang tak bisa dibilang pelan itu* tetap terdengar. Sementara Hinata yang mendengar itu hanya diam hingga makanannya yang memang hampir habis itu benar – benar habis. Kemudian membereskan meja makan.
"Terimakasih atas undangan pestanya, aku pulang dulu." Tebak siapa yang bicara? Yap, Tentu saja Hinata.
"Tunggu Hyuuga – san" Hinata terdiam bingung mendengar perkataan seorang pemuda yang bisa dibilang tak pernah dekat dengannya. Seakan mengerti tentang kebingungan yang dilanda Hinata, pemuda lain yang merupak teman se – tim Hinata cepat – cepat menambahkan
"Jangan pulang dulu, kita semua harus mengantar rombongan shinobi Sunagakure, lalu ke kantor hokage." Dan tanpa banyak bicara, Hinata mengikuti rombongan teman – temannya dari tempat paling belakang.
"Kau berbeda" seorang pemuda tampan mengeluarkan pendapatnya terhadap gadis yang kini tengah berjalan di sampingnya. Gadis itu tertawa kecil menanggapi perkataan 'teman'nya, dan bila diperhatikan dengan jelas, dalam tawa gadis itu terkandung nada tawa yang 'agak' meremehkan.
"Kau bahkan tidak mengenalku, Uchiha – san" Gadis itu tersenyum. Bukan senyum manis, tapi senyum kemenangan. Seakan tengah bergilir, kini sasuke yang tersenyum penuh kemenangan.
"Hn,ternyata benar. Gadis yang sedang sakit hati bertingkah aneh tanpa disadarinya."
"Apa maksudmu?" dengan masih tetap melangkah gadis itu bertanya pada Sasuke.
"Jangan bodoh Hyuuga. Aku tahu apa yang terjadi pada kalian semalam" Sasuke masih tetap tersenyum penuh kemenangan, apalagi dengan menekankan kata 'kalian' dalam perkataannya. Sementara rombongan teman – teman mereka yang berjalan di depan, merasa bingung melihat Sasuke dan Hinata mengobrol dengan senyum yang bertengger di wajah mereka masing – masing.
"Hei, apa mereka sedang… dalam masa pendekatan?" Ino, sang ratu gosip konoha tentu saja tertarik melihat keakraban sang Hyuuga dan Uchiha yang terkenal irit bicara, namun tiba – tiba terlihat akrab seakan telah berteman lama, padahal Sasuke jelas – jelas baru pulang ke Konoha. Tak ada yang menanggapi pertanyaan Ino, mereka hanya mengangkat bahu, ya lagipula… itu privasi kan? Eh… tunggu. Empat orang di sana sedang menunjukkan ekspresi yang biasa, sementara tangan mereka terkepal seakan tengah menahan amarah. 'SIAL.' lihat, bahkan isi hati mereka pun sama.
"Sampai jumpa dua minggu ke depan para Shinobi Sunagakure." Tsunade mengucapkan salam perpisahan pada rombongan shinobi Suna, diikuti oleh para ninja konoha yang lainnya. Dan para ninja konoha pun berbalik melangkah menuju kantor hokage.
"Lalu… apa yang kau inginkan?" Hinata bertanya pada pemuda Uchiha yang berjalan di sebelahnya –lagi.
"Aku ingin kau dan si dobe itu bersatu dan meraih kebahagiaan bersama". Hinata lagi – lagi tersenyum meremehkan
"Lalu kau akan menarik perhatian Sakura – chan kembali. Begitukah?" Sasuke sedikit mendelik mendengar penuturan sosok Hyuuga yang ada di sebelahnya.
"Aku hanya ingin memberikan bantuan. Bukan memberikan penawaran"
"Tidak ku terima." Hinata menjawab dengan cepat.
"Terserah"
.
'Shiro no Unmei-white destiny-takdir putih'
.
Tsunade mendelik kesal pada Ino.
"Ta – tapi Tsunade – sama, hal itu pasti sulit." Ino kembali memberi pendapatnya pada Tsunade
"Tak ada tapi – tapian, kalian sebelas akan menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan untuk pelantikan hokage baru nanti. Sementara Naruto, dia akan mendapat bimbingan khusus dari para tetua dari pagi sampai sore, jadi dia tak akan ikut bersama kalian" Bulat sudah keputusan Tsunade, tak ada yang bisa melawan bila dia sudah menetapkan keputusan.
"Huaammh, merepotkan saja." Uppss, perkataan Shikamaru seakan menuang minyak di atas bara api.
"KALIAN SEMUA JANGAN PULANG DULU. BANTU PARA WARGA MEMBANGUN DESA. JIKA HARI INI DESA MASIH MENGALAMI KERUSAKAN SEKECIL APAPUN, PEKERJAAN KALIAN AKAN BERTAMBAH"
Glekk. Benar kan?
.
'Shiro no Unmei-white destiny-takdir putih'
.
Sesosok bayangan wanita bersurai panjang tengah berlari melewati atap – atap rumah para penduduk konoha. Di punggungnya bertengger sebuah tas kecil yang berisi beberapa jumlah uang, gulungan – gulungan, kunai, shuriken, bahkan racun. Sebuah liquid bening keluar dari matanya yang mirip dengan bulan purnama. Tak ada raungan, teriakan, suara, bahkan isakan. Sosok itu menangis dalam diam, terlebih – lebih saat otaknya kembali memutar kejadian beberapa saat yang lalu.
.
"Apa mau mu?" suara seseorang memecah keheningan yang tercipta di ruangan itu. Tanpa mendengarkan suara lawan bicaranya, kunoichi berambut dark blue itu berkata
"Aku hamil"
"Lalu, kau ingin aku bertanggung jawab. Begitukah?" Mendengar nada santai yang dituangkan pemuda tersebut dalam kalimatnya, membuat orang yang ditanya hanya diam di dekat pintu.
"Aku memang bodoh. Tapi itu dulu. Saat aku masih di akademi. Aku tahu apa yang kau rencanakan Hyuuga. Rencana bodohmu bahkan sudah sering di perankan koyuki – nee-san"
"Apa maksudmu?" Hinata akhirnya berbicara.
"Ternyata benar yang di bilang oleh orang – orang sewaktu di akademi. Kau itu bodoh. Kau bodoh karena terlalu mencintaiku. Kau menjebak ku, agar kau memiliki ku. Sa – "
"Jaga bicara mu Uzumaki – san." Hinata menyela perkataan Naruto. Sementara Naruto yang kesal, berjalan menuju pintu. Kini diantara pintu dan Naruto ada Hinata. Pandangan mata Naruto tepat mengarah pada mata Hinata
"Heh, ku akui kau terlalu pintar bersandiwara Hyuuga. Di depan orang banyak kau bertingkah sopan, lemah lembut, benar – benar seperti putri. Sayangnya, aku tak akan tertipu oleh wanita rendaha –"
PLAKK.. Satu tamparan mengenai pipi Naruto, tidak kuat, namun cukup menghentikan perkataannya. Sekaligus mengingatkannya pada tamparan Hinata yang pertama di pipinya.
"Sudah ku bilang. Jaga bicara mu Uzumaki – san" Dingin, kalimat itu di ucapkan hinata tanpa ekspresi namun cukup untuk menciutkan nyali orang lain. Ya, orang lain saat orang itu sedang tidak di kendalikan kekesalan seperti Naruto. Naruto membuka pintu.
"Pergi ! Aku tak suka melihat penipu sepertimu!" Naruto mengusir Hinata dengan terang – terangan, dan Hinata segera pergi dari rumah Naruto. Pergi, benar – benar pergi. Entah mengapa, ada rasa aneh yang mendatangi Naruto saat gadis itu pergi. Rasanya, dia kehilangan sesuatu yang sangat penting. Ada sisi lain dirinya yang mengharapkan Hinata berbalik untuk melihatnya, walau hanya untuk melontarkan makian. Tak mungkin. Tentu saja tak mungkin. Hinata tak mungkin pernah mau berbalik menatap Naruto saat dirinya tengah… menangis.
BLAMM.. Suara bantingan pintu Naruto terdengar.
Seorang pemuda tampak panik melihat apa yang tengah terjadi pada 'pasiennya'
"Hyuuga – san. Hyuuga – san. Hyuu –" Berhasil, dia terbangun.
"Maaf. Aku membangunkanmu. Tadi aku melihatmu menangis jadi aku membangunkanmu. Apa aku mengganggu? Apa yang terjadi?" Rekor. Seorang Uchiha Sasuke berbicara panjang dengan cepat, tunggu, bahkan dia meminta maaf. Orang yang di panggil sebagai Hyuuga oleh Uchiha Sasuke berdiri menuju pintu, kemudian menggesernya hingga udara malam sangat terasa.
"Bahkan dalam pikirannya saat tidur, dia menolakku."
"Kau tak mau mencoba secara langsung?"
"Tak perlu. Dulu aku sudah pernah menyatakan perasaanku, secara langsung."
"Besok pelantikannya, Aku harap kau tidak melakukan hal yang bodoh."
"Terimakasih atas bantuan jutsu mu Uchiha – san."
"Sasuke. Jangan panggil aku Uchiha, aku jadi merasa seperti orang lain. Panggil aku Sasuke." Sasuke tersenyum setelah berkata begitu, ada sedikit rasa lega yang dirasakannya setelah mengatakan hal tersebut. Itu… tidak salah kan?
"Hn. Kalau begitu aku pulang dulu… Sasuke"
.
Hinata, masih saja melompati atap – atap rumah penduduk dengan terburu – buru. Dia harus cepat. Setidaknya, jangan sampai mengganggu waktu tidurnya, yang tentunya akan mengganggu kesehatan anaknya nanti.
Besok, hari dimana impian orang yang dia cintai terwujud. Hari yang selalu dinantinya sejak dulu, bahkan saat dia belum masuk ke akademi. Hari yang selalu diimpikannya, di saat cita – cita Naruto tergapai, di saat Naruto dilantik menjadi Rokudaime hokage. Sayangnya tak semua mimpi Hinata terwujud. Orang yang disayanginya sejak dulu seakan tak mengenalnya. Padahal… sejak dulu dia selalu ingin menjadi orang pertama yang bersorak senang saat Naruto dilantik nanti. Padahal… sejak dulu dia ingin menjadi orang yang berguna bagi Naruto, yang selalu siap untuk melindungi Naruto *walau terdengar konyol*. Padahal dia yang selalu ingin bergandengan tangan bersama Naruto, yang selalu ingin berjalan berdampingan bersama Naruto – bukan dibelakangnya.
Tapi… sepertinya semua itu tak akan tercapai ya?
.
'Shiro no Unmei-white destiny-takdir putih'
.
Seorang pelayan kini tengah menunduk di hadapan Hyuuga Hiashi. Sementara Hiashi hanya menggeleng – gelengkan kepalanya sembari menghela napas. Pemimpin Hyuuga itu mengangkat sebelah tangannya sebagai aba – aba agar pelayan itu keluar, dan tak lama setelah itu pelayan tadi pun keluar.
"Hanabi, pergilah duluan. Sebentar lagi acara pelantikan akan dimulai"
"Tou – sama, aku ing –"
"Seorang Hyuuga harus menghargai hubungan dengan orang lain, salah satunya adalah menghadiri undangan." Hiashi tiba – tiba menyela perkataan putri yang sering dibangga – banggakannya selama ini. Dan mau tak mau, Hanabi menuruti semua perkataan ayahnya. Gadis itu terus melangkahkan kakinya ke arah tempat pelantikan hokage.
Sementara di lapangan yang tak jauh dari gedung hokage, Naruto sedang terlihat begitu bahagia. Senyum hangatnya tak pernah lepas dari wajahnya. Wajar saja, hari ini mimpinya yang telah dideklarasikannya sejak kecil akan segera terwujud, apalagi di depannnya sudah berkumpul para penduduk konoha, para kage dari lima Negara besar, bahkan daimyou Negara Hi pun datang ke acara pelantikannya. Namun senyumnya terhenti sesaat ketika dia melihat seorang gadis Hyuuga di kejauhan. Gadis Hyuuga itu mengingatkan Naruto pada mimpinya tadi malam. Mimpi… tapi terasa sangat nyata.
"Selamat atas pelantikannya, Hokage – sama." Gadis hyuuga itu membungkukkan badannya sebagai rasa hormatnya pada orang yang berdiri di hadapannya.
"Ngg.. aku belum dilantik Hyuuga – san. Ng…?"
"Ada apa Uzumaki – sama?"
"Bisakah kau memanggil nama ku saja? Aku merasa sedikit risih" Gadis itu mengangguk.
"Oya… dimana kakak mu?" akhirnya Naruto menanyakan sesuatu yang mengganggunya sejak tadi.
"Hm… aku tak tahu dimana nee – chan. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Aku permisi dulu Naruto – nii"
Naruto terdiam, dia merasa ada yang aneh. Seharusnya, Gadis Hyuuga yang dicarinya sudah berada di dekatnya. Seharusnya, Gadis Hyuuga itu sudah datang untuk mengucapkan selamat. Harusnya… Hinata sudah di sini untuk menemaninya, dan bersorak senang atas keberhasilannya. Merindukannya Naruto?
TBC
(To Be Continue)
Hai readers.. Zia gak nyangka ada juga ternyata yang baca dan ngasih review di cerita zia… thanks sebanyak – banyaknya buat yang udah baca apalagi review.
Thanks to:
Black market, dewiekasari, andrijoe23, pulpen kecil, , kirei- neko, Namikaze archilles, Guests, uzumaki hime, Ayzhar, nindaumairoh
Buat yang nanya, itu Hinata apa bukan, Naruto masuk kamar Hinata apa bukan, jawabannya Iya, itu hinata, gampang ditebak ya?, maklum…, zia pemula sih.
Yang minta dilanjut, nih udah dilanjut, tapi maaf gak bisa update kilat. Walau Zia Namikaze, Zia gak bisa kayak Minato lho…. Buat yang bilang bagus dan ngasih semangat, Makasih…
Pokoknya Makasih buat Readers yang bersedia baca cerita Zia.
Oya, Review Please… :)
