Wolf Moon
Genre: Fantasy, Romance
Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia
Disclaimer: Tite Kubo
Langkah demi langkah, tidak berlari, hanya berjalan—kaki kanan di depan kemudian disusul oleh yang kiri. Ichigo merundukkan kepalanya untuk memastikan kalau tanah yang dipijaknya tidak akan membuatnya celaka. Langit masih cerah, menyengat kulit bocah itu sehingga dia harus mengelap bulir-bulir keringat yang menitik dari pelipisnya. Rasanya dia sudah berjalan lama sekali, tetapi jembatan itu tidak kunjung muncul.
Dengan muram, bocah itu menendang batu seukuran kelereng yang ditemukannya di depan kaki. Kemudian benda abu-abu itu masuk ke dalam sungai sebelum benar-benar tenggelam di sana.
Ah, itu dia. Aliran sungai itu adalah perbatasan tempat di mana dia tinggal. Ichigo segera mencari-cari tumpukan ranting pohon yang sudah disusun sedemikian rupa membentuk jembatan. Saat menemukannya, dia berlari dan naik di atasnya. Kedua tangan terentang di sisi tubuhnya untuk menjaga keseimbangan agar tidak tercebur ke air. Bayangan tangannya meliuk-liuk di permukaan air seperti ular.
Saat sudah setengah jalan, mata cokelatnya melihat ke depan, bertemu dengan sosok anak serigala yang ukurannya seperti anjing golden retriever. Ichigo terkejut, dan tiba-tiba saja gerakannya menjadi limbung, dia pun jatuh ke sisi kanan jembatan itu. Kepalanya muncul ke permukaan air sedetik kemudian untuk melihat anak serigala itu mengaing dan merendahkan kepalanya.
"Oh, Renji," desah Ichigo sambil berenang ke tepian, mencoba untuk tidak terbawa arus. "Kau membuatku kaget. Lain kali kumohon jangan menyeringai seperti itu. Berita buruknya, kau mungkin bisa membuatku kena serangan jantung."
Werewolf kecil itu menjulurkan lidahnya dan menggonggong senang, seolah-olah mereka sedang bermain. "Kau kan masih kecil, tidak mungkin seberat itu. Dan berita baiknya, kau bisa mandi air yang segar."
Ichigo duduk di tepi sambil mengeluarkan air dari sepatunya.
"Apa yang kau lakukan di luar sana?" tanya serigala berbulu perunggu itu, duduk di hadapan Ichigo seperti anjing yang meminta makanan, tetapi untuk kasus ini, dia meminta jawaban. "Ayahmu akan marah mengetahui anaknya berkeliaran sendirian lagi di hutan."
"Aku, eh," Ichigo menggantung kalimatnya. Otaknya yang belum cukup luas tidak tahu harus merespons apa. "Dia sudah pulang?"
"Belum." Renji menggeleng dengan polos. "Dia masih pergi berburu, kita sedang kekurangan makanan karena hewan buruan mencari tempat lain."
"Mereka tahu kalau kita akan memangsanya." Setelah merasa agak nyaman, Ichigo melanjutkan perjalanan lagi bersama Renji hingga benar-benar tiba di sarang mereka. Werewolf sama halnya seperti serigala, akan hidup berkelompok namun mereka bukan hewan nomaden. Gua-gua ini adalah tempat tinggal mereka yang tetap, biasanya diisi oleh tiga sampai empat werewolf.
Walaupun ibunya adalah manusia, Ichigo beruntung mendapatkan dirinya terlahir sebagai werewolf. Jika dia terlahir sebagai manusia, mungkin anak itu tidak bisa hidup dengan tenang di dalam kelompoknya—secara harfiah, werewolf akan sangat ganas saat bertemu manusia. Tapi entah kenapa, ibunya yang sudah tiada itu bisa menjalin hubungan dengan baik dengan ayah werewolf-nya. Itu merupakan suatu hadiah, yang juga menurun kepada putra satu-satunya.
Ichigo sendiri tidak menyesal mendapatkan dirinya apa adanya. Berkat keturunan yang bisa berubah wujud ini, Ichigo bisa mendapatkan teman-teman yang baik baginya. Namun, karena ayahnya yang menikah dengan wanita berbeda dunia, tidak menutup kemungkinan ada werewolf yang membencinya terang-terangan.
Ketika tiba, Renji langsung diserbu oleh anak-anak anjing yang lainnya. Mereka saling menggonggong dengan nada bersahabat, termasuk kepada Ichigo.
"Hei, itu si makhluk aneh dalam kelompok," ujar seekor serigala kepada temannya yang lain, matanya dengan sengaja diarahkan kepada Ichigo. "Di mana bulu bolamu, kucing kecil?" Lalu mereka tertawa dalam gonggongan yang aneh. Ichigo mengacuhkannya seperti lebah yang lewat.
"Kata-kata itu kukembalikan pada kalian!" seru Renji terbawa emosi. "Tenang saja, Ichigo. Kita adalah makhluk aneh di antara makhluk aneh, jadi kau bisa menendang bokong mereka saat usiamu sudah cukup dewasa."
Renji mungkin bisa jadi motivator yang dapat membuat semangat seseorang kembali membara-bara. Tetapi dia belum cukup berpengalaman untuk menghibur sahabatnya sendiri. Ichigo tertawa dengan hambar, itulah yang membuatnya lebih sering berkelana di luar wilayahnya daripada menerima cemoohan dari yang lain. Namun dia menghargai usaha Renji.
Sejurus kemudian, beberapa werewolf dewasa sudah kembali dari acara berburu mereka. Anak-anak serigala itu meninggalkan taman bermainnya dan segera menyerbu daging-daging rusa yang masih segar. Renji pun bangkit dari tempatnya kemudian mengajak Ichigo untuk makan bersama mereka, tetapi anak itu menolak dengan halus.
"Ayolah, kau tahu kalau jenis kita membutuhkan makan lebih banyak daripada hewan biasa. Kau bisa mati kehabisan tenaga di luar sana," ajak Renji sambil memutar bola matanya yang berwarna emas. Ichigo menghela napas.
"Aku tidak sedang lapar," balasnya lemah.
Sebelum Renji sempat membalas perkataannya lagi, ayah Ichigo yang berwujud seekor serigala hitam yang besar datang menghampiri. Renji yang menyadari ada bayangan gelap di belakangnya segera menoleh untuk bertemu pandang dengan sang alpha di kelompok mereka. "Paman Isshin," sapanya, "Ichigo tidak mau makan. Dia bilang tidak sedang lapar dan dia sudah keluar dari perbatasan tanpa meminta izin. Aku yang menjemputnya dari seberang sungai."
Serigala berukuran beruang itu terkekeh mendengar laporan dari Renji, seolah-olah dia sudah menjadi asistennya yang terpercaya. Isshin mengusap kepala Renji dengan cakarnya yang besar. "Ambil dulu bagianmu. Aku yang akan bicara dengan Ichigo."
Renji pun dengan lincah segera berlari menuju kerumunan serigala yang lain sementara Isshin duduk dengan dua kaki di belakangnya dan menatap ke depan. Ichigo yang berada di sisinya hanya bisa menghela napas sekali lagi. Mungkin Isshin akan memarahinya karena tidak mau makan seperti apa yang dilaporkan Renji.
"Ayah, aku..."
"Apa yang membuatmu begitu khawatir, Nak?"
Ichigo menggenggam sejumput tanah di bawah telapak tangannya. Syukurlah dia tidak marah. "Tidak ada," bisiknya pelan, dia memalingkan wajahnya ke sisi yang lain. "Ayah, apa aku bisa menjadi sepertimu?"
Werewolf itu memutar kepalanya untuk melihat wajah putranya. "Untuk menjadi pemimpin kelompok, ya. Karena gelar alpha diwariskan secara turun temurun."
"Begitu." Ichigo pun terdiam, sebenarnya bukan itu jawaban yang diinginkannya. Anak itu hanya tidak tahu bagaimana menanyakannya.
"Pergilah untuk mengambil bagianmu," kata ayahnya bijak sambil mendorong punggung Ichigo dengan moncongnya. Akhirnya anak itu menurut dan berdiri dari sana. Tetapi Isshin mengendus bau yang aneh saat putranya berjalan melewatinya. Dia memanggilnya sekali lagi.
"Ichigo." Cakarnya dijulurkan ke depan untuk membuat Ichigo berhenti berjalan. Anak itu mendongakkan kepala untuk melihat ayahnya yang mengendus-endus di udara, mata emasnya menyipit tajam. Tidak ada unsur manusia dalam gerakannya dan berkat itu dia mengundang perhatian werewolf yang lain. Jantung Ichigo bertalu-talu saat ayahnya bertanya, "Apa kau baru bertemu dengan Penghuni Luar?"
(*)(*)(*)
"Rukia, tolong berikan bekal ini untuk ayah," Hisana memanggil putrinya yang tengah bermain dengan peliharaan barunya. Kelinci seputih salju itu diberi nama Chappy, sama seperti nama bonekanya. Kuchiki kecil itu meraih kotak bekal dari tangan ibunya.
"Baiklah," jawab gadis cilik itu singkat. Rukia sudah terbiasa mengantarkan bekal makan siang untuk ayahnya yang sedang bekerja. Dia tidak punya waktu untuk pulang ke rumah dan kembali ke sana. Rukia berjalan keluar dari pintu untuk menemui Byakuya.
Rukia berjanji untuk terus merahasiakan momen kecil-kecilan itu. Saat di mana dia bertemu dengan anak laki-laki yang asing dan wajahnya sangat imut. Sampai sekarang dia masih bertanya-tanya dari mana anak itu berasal. Tentu saja gadis itu lebih senang melihat benda yang bersinar ketimbang sebuah tanya jawab.
Langkah kakinya yang kecil ternyata sudah membawanya tepat di depan sang ayah yang sedang memukul tongkat besi yang panjang. Di gudangnya ada dua orang yang sedang menunggu, dan Rukia harus mendongakkan kepala untuk melihat tubuh mereka yang jangkung. Saat mata violetnya yang bulat berserobok dengan Byakuya, Rukia tersenyum kikuk lalu menyerahkan kotak bekalnya.
"Terima kasih, Rukia. Temani aku makan?"
Gadis itu mengangguk semangat lalu dia duduk di samping ayahnya sambil bercanda tawa. Terkadang dia memerhatikan ayahnya yang berbicara dengan pengunjung, atau saat dia kembali bekerja. Ruangan ini begitu panas karena bara api yang terus menyala, Rukia takjub bagaimana ayahnya bisa bertahan di ruangan sepanas ini. Saat mengedarkan pandangan ke setiap sudut, iris violetnya tidak berkedip mengarungi peralatan serta senjata-senjata yang digantung di tembok. Sebagian besar terbuat dari besi, namun ada juga yang perak.
Byakuya tidak sengaja melihat putrinya yang berwajah polos dan penuh dengan rasa ingin tahu itu. Dia teringat akan malam kelahiran putrinya. Byakuya lalu mengambil tempat duduk di samping Rukia dan gadis itu langsung mengerjap dua kali.
"Kau tahu," Byakuya memulai pembicaraan, "sudah berapa tahun aku tidak pernah melihat wajah polos itu."
"Apa?" tanya Rukia bingung.
"Matamu tidak berkedip dari tadi. Wajahmu seperti bertanya benda apa itu." Byakuya melambaikan tangan ke dindingnya yang memajang berbagai besi yang sudah terbentuk. Rukia menelan ludahnya, dia tidak merasakannya, itu terjadi secara alamiah.
"Kapan terakhir kali Ayah melihatku seperti yang tadi?"
"Saat kau lahir. Waktu itu kau tidak berhenti menangis. Aku dan ibumu tidak tahu harus melakukan apa untuk membuatmu tenang, kami benar-benar kerepotan"—di sini Byakuya tertawa ringan—"tapi kemudian terdengar suara lolongan serigala dari luar serta cahaya bulan yang begitu bersinar. 14 Januari adalah malam bulan purnama, kebetulan orang-orang di sini menyebutnya sebagai Bulan Serigala karena lolongan mereka yang kelaparan terdengar dari luar desa. Kawanan serigala maupun werewolf akan keluar di malam itu untuk berburu. Mendadak kau menjadi sangat tenang, memerhatikan bulan keluar jendela sedemikian rupa seolah-olah ingin mengetahui apa yang akan terjadi dengan benda itu jika kau terus memandangnya."
Rukia terperangah selama beberapa detik. Membiarkan Byakuya meneruskan ceritanya tanpa disela satu kata pun. "Kau hanya membuka matamu dan memberitahu kepada dunia bahwa kau sudah lahir. Wajahmu begitu damai saat itu, mendengarkan nyanyian serigala yang nyaring seakan-akan itu adalah lagu nina bobo. Terlebih lagi suara itu milik para werewolf."
Gadis itu termenung. Dia menelan ludah dengan susah payah. "Apakah itu pertanda buruk?" Karena yang Rukia tahu, suara serigala di tengah malam itu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kurasa tidak. Itu hal yang wajar, Rukia. Tidak sedikit orang lahir saat malam bulan purnama, dan sebagian besar dari mereka baik-baik saja."
Itu menimbulkan satu tanda tanya besar di kepala Rukia. "Jika Ayah berkata begitu, apakah ada dari mereka yang, eh, kurang beruntung?"
Wajah ayahnya menjadi muram saat mendengar pertanyaan itu. Jika dia memberitahu rahasia—rahasia yang disimpan desa ini selama bertahun-tahun—mungkin anaknya yang masih berusia 6 tahun ini akan ketakutan. Jadi dia mengubah mimik wajahnya menjadi ceria saat melanjutkan, "Tidak ada, Sayang. Sebenarnya yang tadi tidak perlu dipikirkan terlalu banyak. Tidak ada salahnya kita menghabiskan waktu bersama-sama dengan bercerita. Apa ibumu suka mendongeng?"
Ternyata Byakuya berhasil mengalihkan pertanyaan karena gadis itu langsung mengangguk senang. "Ya, ibu pernah menceritakan serigala-serigala besar itu yang senang datang ke desa. Kurasa mereka bukan hewan jahat," ujar Rukia begitu semangat sambil tersenyum ketika membayangkan anjing-anjing yang bersahabat. "Ibu juga pernah menceritakan dongeng Si Cantik dan Si Buruk Rupa."
Byakuya tertawa mendengar putrinya begitu antusias. Syukurlah dia memang baik-baik saja. "Kelihatannya suhu ruangan ini tidak bagus untuk kau, Rukia. Kembalilah ke rumah dan katakan pada ibumu kalau aku akan pulang saat makan malam."
Rukia pun berdiri dan memeluk ayahnya sebelum benar-benar pulang. "Aku mencintaimu, Ayah."
Pria beriris kelabu itu tersenyum di balik punggung anaknya. "Hati-hati di jalan."
Rukia lalu berlari menerobos kerumunan orang-orang. Byakuya menarik napasnya dengan tenang. Siapa pun yang lahir saat malam bulan purnama dikatakan bisa menjadi jelmaan serigala—tidak ada yang tahu bagaimana itu bisa terjadi. Walaupun begitu kebanyakan dari mereka selamat.
(*)(*)(*)
Desa Karakura masih berdiri dengan damai hingga sekarang. Sebelas tahun sudah berlalu dan semua tampak sama, kecuali beberapa orang yang tumbuh menjadi remaja sehat. Termasuk Rukia Kuchiki. Di usianya yang ke-17, dia menjadi gadis yang cantik. Tubuhnya sudah terbentuk layaknya wanita dewasa, rambut hitamnya dipotong hingga sebatas leher, dan tingginya sudah menyamai sang ibu.
"Selamat pagi, Ayah!" serunya sambil mengangkat satu tangan kanannya saat melintas di depan Byakuya. Dia membawa satu ember kayu di tangannya dengan senyum yang tak kalah cerah dari matahari pagi. Sang ayah hanya mengangguk sambil memerhatikan ke mana putrinya yang tak disangka-sangka sudah remaja akan pergi.
Byakuya tetap pada pekerjaannya sebagai seorang blacksmith dan dia sudah mengajarkan sedikit talentanya itu pada Rukia.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan air itu?" tanyanya saat melihat Rukia ternyata menimba air di sumur belakang. Dia menjaga keseimbangan agar ember itu tidak tumpah.
"Menyiram tanaman kesayangan ibu. Ayah tahu sendiri," kata Rukia penuh pertimbangan, "akhir-akhir ini ibu sakit dan bahkan tidak bisa berdiri dari tempat tidurnya. Kurasa seseorang harus menggantikan pekerjaannya di hutan."
"Apa?" Byakuya berhenti melemparkan arang ke tempat perapian. Wajah Rukia tiba-tiba saja tersenyum lebar.
"Ya, Ayah, kau dengar aku. Aku akan senang sekali jika kau mau mengajarku untuk berburu."
Byakuya menaikkan satu alisnya. "Sudah kukatakan kau tidak boleh menginjakkan kaki di sana lagi."
"Tapi, kenapa ibu boleh? Jika dia bisa melakukannya, maka aku juga harus," tantang Rukia dengan kedua tangan di pinggangnya setelah meletakkan ember di bawah kakinya. Sebenarnya Rukia sering pergi ke hutan secara diam-diam. Dia hanya berpura-pura untuk sekarang ini. "Kenapa kau harus melarangku untuk melakukan sesuatu yang kuinginkan?"
"Karena itu berbahaya."
"Itu salah satu alasan kenapa kita tinggal di desa ini, bukan? Ayah, aku ingin membantu ibu. Dengan penghasilan dari pandai besi itu tidak cukup untuk membeli obat. Aku bisa meminta temanku untuk menjaga ibu. Jika aku sudah mendapat uang dari hasil buruanku, maka aku akan membaginya pada kalian berdua, juga dengan temanku. Bagaimana?" tawarnya dengan enteng walaupun tidak menyadari raut wajah ayahnya yang ditekuk. Apakah Rukia harus mendengar kata tidak lagi sebagai jawabannya?
"Baiklah, baik. Tapi tidak dengan temanmu. Aku tidak mau merepotkannya, lalu—"
"Yeah! Terima kasih, Ayah! Kau yang terbaik, dan omong-omong aku akan memberitahu ibu berita baik ini. Setelah itu ajarkan aku, oke?" Rukia menyela perkataan ayahnya dengan terlalu terburu-buru. Dia berlari tergopoh-gopoh menuju rumahnya, sambil tetap menjaga keseimbangan terhadap embernya, sementara Byakuya hanya menghela napas sambil mengusap rambut hitamnya.
"Dasar anak itu."
"Bu, aku punya berita bagus!" seru Rukia dari luar jendela kemudian menumpahkan seluruh air dari dalam embernya ke pot-pot bunga milik Hisana dengan terlalu keras sehingga membuat airnya berceceran ke mana-mana. "Ups." Rukia menggigit bibir bawahnya, kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya sebelum sang ibu melihat ke luar jendela.
"Ada apa, Sayang?" Hisana berjalan keluar dari kamarnya. Tubuhnya sekarang begitu kurus dan ada lingkaran samar di bawah mata violetnya yang kian redup. Rukia tersenyum miris melihat ibunya. Gadis itu segera mengambilkan kursi kayu dan mendorongnya untuk Hisana.
"Sebenarnya aku tidak yakin Ibu akan mengizinkan atau tidak, tetapi kumohon dengarkan sampai selesai."
Hisana mengangguk, "Lanjutkan."
"Oh, untung dia bukan seperti ayah," bisik Rukia pada dirinya sendiri saat meraih kursi untuknya duduk. "Eh, begini, setelah kupikir jauh-jauh, aku ingin menggantikan pekerjaanmu, apalagi sekarang Ibu sakit keras dan semakin tua."
Hisana tahu pasti suatu saat hari ini akan datang. Hari di mana putrinya harus menggantikan tempatnya untuk mencari uang sementara dia terbaring sakit di atas tempat tidur. Ironis sekali. Tidak dapat dipercaya ini adalah gadis satu-satunya yang dulu masih kecil yang sekarang sudah bisa mengambil risikonya sendiri.
"Aku tidak akan memaksa Ibu untuk mengizinkanku—toh, ayah juga kelihatannya tidak setuju. Tapi, jika kau benar-benar melakukannya, aku akan, entahlah, mungkin aku akan memberikan semua hasilnya padamu kemudian aku bisa membelikan obat untuk penyakitmu, dan..."
Hisana hanya tersenyum melihat dan merasakan betapa sayang Rukia padanya. Wanita ini tidak berpikiran rumit seperti yang Byakuya lakukan. "Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, Sayang."
Mata Rukia melebar, dan dia tidak sanggup untuk tidak tertawa senang. "Oh, terima kasih, Ibu." Gadis itu berdiri dari kursinya dan memeluknya erat. Baunya masih tetap sama. Bau bunga aster yang baru saja mekar, menyeruak ke dalam hidung Rukia. Gadis itu benar-benar bersyukur mendapatkan seorang ibu seperti Hisana.
"Berhati-hatilah di sana. Hewan buas tidak selalu muncul saat malam hari." Setelah melepas pelukan mereka, Hisana menatap Rukia dalam-dalam. "Begitu pula werewolf. Jangan melewati batas yang sudah ditetapkan, atau mereka bisa menemukanmu."
"Aku tahu," jawab Rukia, tetapi suaranya bergetar dan dia tidak mampu menyembunyikannya. "Aku sudah menghabiskan waktuku selama berrtahun-tahun untuk keluar masuk hutan. Jadi, kurasa, aku sudah hapal mana tempat yang tidak boleh kukunjungi."
Walaupun Hisana tersenyum dia masih ragu akan keputusannya. Berburu ke hutan itu bukan semudah kau memanjat pohon. Rukia juga menyadari kemampuan berburunya tidaklah sehebat orang-orang dewasa yang lain, tetapi hanya ini satu-satunya jalan yang dia miliki untuk membantu ibunya.
"Kau ingin pergi sekarang?" tanya Hisana, bahkan tidak repot-repot untuk menyembunyikan nada khawatirnya. Tangan Rukia terulur untuk membuka kenop pintu.
"Ya. Aku sudah mengatakan pada ayah kalau dia harus mengajarku dan sekarang aku akan menagihnya." Sebelum Rukia meninggalkan Hisana sendirian di dalam rumahnya, dia berbisik di ambang pintu. "Jangan lupa meminum obat yang ada. Kau tahu kalau aku akan menangis jika menemukanmu kambuh lagi."
Hisana hanya melambaikan tangannya, mengisyaratkan untuk menutup pintu. Rukia nyengir dan menarik keluar kepalanya.
Pintu pun ditutup dengan ceklikan lembut.
(*)(*)(*)
"Lagi!"
Suara benturan yang keras membuat seorang pemuda mengernyitkan dahinya. Dia menolehkan kepala untuk melihat latihan antara dua serigala besar yang membosankan itu. Ada tendangan dan hantaman bengis, serta suara tulang yang terkunyah—memuakkan. Mereka saling menggeram satu sama lain, menghantamkan tubuhnya yang penuh luka cakar serta berwarna merah darah. Pupil hitamnya mengecil sebesar biji cabai.
Ichigo memutar tubuhnya keseluruhan dan menghela napas frustasi untuk kesekian kalinya.
"Serius, Renji, kau ingin membuat mereka saling bunuh? Hentikan saja sebelum tenggorokanmu yang mereka terkam."
Renji dengan sosok manusianya—rambut merah yang dikuncir ke atas, kaus sederhana berwarna cokelat dan celananya yang bermotif abstrak—sama sekali tidak menggubris kata-kata Ichigo yang sedang duduk di sampingnya melainkan terus meneriaki dua hewan buas yang sudah terlihat kelelahan itu. Hanya dengan mendengar, Ichigo bisa tahu kalau latihan itu lebih dari keras dan kejam.
Sama seperti yang lain, Ichigo serta Renji pun tumbuh menjadi werewolf yang sehat dan tidak ada kecacatan. Ichigo terkadang menjadi serigala yang keras kepala, apalagi rasa benci dari kawan yang lain semakin menjadi-jadi. Ichigo merasa dia harus melakukan suatu pertahanan dari racauan mental itu, dan hal terakhir yang bisa dilakukannya hanya dengan bersikap dingin. Dia tidak terlalu merasa dikucilkan karena masih ada Renji dan ayahnya.
"Seharusnya kau juga ikut," saran Renji, menghentikan acara latihannya. "Ini bukan hanya untuk mengetes kekuatanmu, tapi untuk menjaga agar emosimu tidak meledak-ledak. Kau kan tahu kalau werewolf punya kelemahannya tersendiri. Menjaga emosi itu tugas yang paling berat untuk kita."
Ichigo mencibir. "Aku sudah paham yoga omong kosong macam itu. Dan, omong-omong, kau tidak perlu kata 'kita' di sini."
"Hanya karena kau mempunyai kalung itu," balas Renji sambil menyipitkan matanya. Sudah menjadi kebiasaan untuknya saat membalas kata-kata Ichigo dengan komentar pedas. Dan tidak ada dari mereka yang keberatan. "Bisa apa kau tanpanya?"
Ichigo menarik napas yang panjang sebelum insting hewan menguasainya. Latihan dari Renji mungkin bisa berguna. "Lalu, kenapa?" tanyanya mencoba terdengar setenang mungkin. Ichigo menahan desakan untuk tidak menggenggam kalungnya. "Kalau ini bukan pemberian ibuku, aku pun tidak akan memakainya."
Renji bungkam saat itu juga. Dia duduk di samping Ichigo. "Bisakah kau tidak berbohong hanya untuk terlihat keren di depanku? Jika aku jadi kau"—Renji menunjuk batang hidung pemuda itu—"aku akan menerima kekalahanku daripada menyangkal benda ini sebagai peninggalan dari wanita yang meninggal karena melahirkanku. Kau seharusnya berterima kasih, sialan, seberapa hebatnya kalung itu? Aku bahkan bisa merasakan diriku cemburu hanya dengan melihat benda merah itu menggantung di lehermu setiap saat." Renji kemudian melepaskan tawanya dan memukul punggung Ichigo. Dua pukulan yang keras.
Ichigo hanya meringis dan ikut tertawa datar setelah itu. Mungkin ini termasuk salah satu isyarat Renji untuk meminta maaf. Secara laki-laki tentunya.
"Aku tahu." Ichigo akhirnya menggenggam kalung itu. Mungkin kedengarannya konyol, namun sekujur tubuhnya merasa lebih hangat dan nyaman setelah menggenggamnya. "Ayahku mengatakan kalau kalung ini akan melindungi pemiliknya. Mungkin ibuku membuatnya dengan suatu alasan. Dia tahu aku akan dibesarkan di tengah-tengah alam bebas."
"Itu sangat menjelaskan kenapa tidak pernah ada hewan buas yang bisa menyerangmu, begitu pula dengan kami," Renji akhirnya menyimpulkan. Sahabatnya itu hanya memutar-mutar batu rubi di jari telunjuk dan ibu jarinya.
Kalung ini pemberian ibumu, kata-kata ayahnya terngiang-ngiang. Dia mengatakan ini untuk melindungi orang yang memakainya dari serangan hewan buas karena dia tahu kau akan menjalani sisa hidupmu sebagai manusia separuh serigala. Entah mantra apa yang dia gunakan, tetapi hewan yang melihat batu ini tidak akan bisa menyerangmu, termasuk kami.
"Aku hanya mengulang apa yang dikatakan ayahku. Dia mengatakan dengan tegas, dan bagaimana kata-kata itu terus menempel di kepalaku," ujar Ichigo, suaranya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi tidak dengan manusia. Mau bagaimanapun, mereka masih bisa menyerang dan membunuhku."
Renji hanya mengangguk. Lagi pula, respons apa yang bisa kau berikan setelah mendengar itu? Keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Suatu saat kau diharapkan untuk menjadi pelindung dalam kelompokmu. Sama seperti kalung itu; seperti arti namamu.
Ichigo memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini. Ayahnya tidak ada lagi, dia tidak pernah bisa menghabiskan waktunya untuk Ichigo. Tugas sebagai pemimpin kelompok memang berat.
"Aku akan pergi untuk mencari makan." Dia mengedikkan bahunya yang kaku, dan berdiri untuk merentangkan kedua lengannya. Saat melihat Renji ikut berdiri, Ichigo menambahkan dengan tajam, "Sendiri."
Mata cokelat tua milik Renji berkedip sekali, tanpa perlu diminta, dia sudah meninggalkan Ichigo sendiri. Benar-benar sendirian tanpa ada satu hewan pun.
Pemuda jangkung itu lagi-lagi termenung. Dia teringat dua tahun lalu saat ada seekor singa yang hampir merobek lehernya saat dia sedang menikmati daging buruannya. Ichigo melayangkan cakarnya secara naluri, tetapi singa itu diam membeku sebelum berhasil menggigit leher serigala itu. Dia mengendus-endus dan dengan perlahan berjalan mundur seolah-olah ketakutan. Ichigo diam di tempatnya sambil memerhatikan singa itu pergi dari sana.
Ayahnya benar. Ini bukan kalung sembarangan yang hanya untuk mengenang ibunya. Tetapi sekaligus melindunginya.
Napas Ichigo memburu dan darahnya mengalir lebih deras—dia bisa merasakan getaran di bawah kulitnya. Taring yang tajam memenuhi rongga mulut Ichigo yang sepenuhnya sudah menjadi moncong serigala. Selama beberapa detik, irisnya sudah berubah menjadi emas yang mengilat dan napasnya lebih terdengar seperti hewan yang terengah-engah. Bulu-bulu cokelat mulai menyelimuti tubuh manusianya, dan mengubah bentuknya menjadi serigala sempurna yang lebih besar dari ukuran serigala normal.
Juga untuk melindungi orang yang kau cintai.
Werewolfitu kemudian melesat, meninggalkan tempatnya berpijak dan menerobos pepohonan.
(*)(*)(*)
Rukia mengambil anak panah yang dia lempar sia-sia. Rusa yang dibidik olehnya barusan berhasil melarikan diri sehingga lemparannya meleset dan tertancap di batang pohon. Gadis yang baru memulai perburuan pertamanya satu jam yang lalu itu belum mendapat apa-apa. Mungkin hari ini bukan hari keberuntungannya.
"Yang dibutuhkan dalam menembak anak panah hanya keyakinan." Rukia ingat akan kata-kata ayahnya sebelum dia masuk ke dalam hutan sendirian. Gadis itu menghela napas sambil merapikan bulu di ujung panahnya.
"Baiklah, itu tidak memberitahuku apa-apa. Aku sudah mencobanya dan tidak ada satu pun dari mereka yang kena sasaran," gumam Rukia pada dirinya sendiri, memasukkan kembali anak panahnya ke dalam tas yang disampirkan di belakang punggung. Kawasan aman hanya sebatas ini saja sementara rusa-rusa gemuk itu pasti berkumpul di padang rumput yang lebih luas.
Tidak mau berpikir lama-lama, Rukia pun mengambil tempat duduk yang nyaman di bawah pohon rimbun. Mengistirahatkan otot-otot kakinya yang pegal. Saat sedang menenggak air di botol minumnya, Rukia mendengar suara kecipak dari belakang.
Selidik punya selidik, gadis itu mengintip dari balik batang pohon. Dia mendapati seekor angsa yang begitu cantik tengah berendam di atas danau. Mata Rukia membelalak. Bukan hanya cantik, angsa itu gemuk dan tampak sehat. Tangan mungil Rukia mengambil satu anak panah dari belakang punggungnya tanpa mengalihkan pandangan. Bagus, tetap diam di sana. Angsa itu tidak bergerak dari tempatnya dan juga tidak menyadari keberadaan Rukia.
Gadis yang kurang lebih setinggi 150 senti itu berdiri dengan pelan. Menutup satu mata kirinya dan menarik napas.
"Jika gemetar untuk menembak anak panah, kau bisa menahan napasmu."
Rukia pun melakukan saran ayahnya saat merasakan bidikan panahnya terlalu gemetar. Takut berlama-lama akan menghilangkan konsentrasinya, Rukia pun melepaskan panah dari tali busurnya. Satu detik kemudian, panah itu sudah menancap di sayap angsa tersebut. Karena satu sayapnya lumpuh, ia kehilangan keseimbangan untuk berenang ke tepi, dan berakhir dengan meronta-ronta di atas air sebelum benar-benar tenggelam.
Dengan sigap Rukia berlari dan menangkap angsa itu keluar dari danau. Matanya beralih pada sayap putih angsa itu, dengan panahnya di sana.
Walaupun iba, tetapi di lain sisi Rukia merasa senang karena bisa mendapatkan buruan pertamanya. Setelah menarik keluar panahnya, angsa itu mendadak meronta di tangan Rukia seolah-olah gadis itu akan memakannya hidup-hidup. "Hei, aku tidak akan melukaimu, kau hanya akan dibawa..."
Perkataan Rukia terhenti saat mendengar daun kering yang diinjak dan menimbulkan suara gemerisik yang tidak nyaman. Dengan perlahan dia mengedarkan pandangan dan tidak sengaja melihat dua bola mata emas sedang memerhatikannya sedemikian rupa dari balik semak. Rukia menahan napasnya saat melihat dengan lebih jeli kalau bola mata itu tidak memandang ke arah lain melainkan padanya.
Werewolf.
"Oh, Tuhan." Sebelum Rukia sempat berpikir lagi, werewolf itu menyerangnya.
To Be Continued
Reply Review:
Mirai Mine: Sama! Tos dulu dong XD. Yap, ini sudah di-update, makasih banyak ya! :D
Chappy: Yap, ini sudah dilanjut. Makasih Review-nya! :D
Naruzhea AiChi: Iya, yg mereka tau werewolf itu hewan mengerikan. Makasih Review-nya ya! :D
uzumaki . kuchiki: Sip, ini sudah dilanjut. Makasih Review-nya ya! :D
hendrik . widyawati: Hehe, segini udah cepet belum? XD Makasih Review-nya ya! :D
Kanzaki asamu: Wah, saya kira abg yg jatuh cinta pada pandangan pertama itu ide yg udah pasaran, ternyata masih ada yg suka, huehehe. Makasih banyak ya! Ini sudah di-update :D
krabby paty: Salam kenal juga :) Yep, ini sudah dilanjut. Makasih Review-nya! :D
Hepta Py: Iya, saya suka banget sama fantasy, sampe idenya muncul terus XD. Makasih banyak ya buat Review-nya! :D Btw, Ruki-Senpai kan udah pernah Review fic saya yg masih pertama itu ;) huehehe.
miisakura: Hehe, makasih mii! ;) Ini sudah dilanjut, makasih Review-nya! :D
Akira21: Gak telat kok, hehehe. Sama, saya juga suka banget :D. Yup, ini sudah di-update, makasih Review-nya!
Naah, di sini Rukia dan Ichigo udah sama2 remaja. Mereka belum ketemu lagi, tapi di chapter 3 bakal dijelasin semuanya. Terima kasih sekali lagi buat para Readers and Reviewer kita. Jika ada kesalahan atau typo dan kawan-kawannya, jangan segan2 untuk ditulis di kotak Review.
Sampai jumpa di chapter berikutnya! Merry Christmas and Happy New Year 2013 for everyone!
