" Bhahaha..."
" Berhentilah tertawa Hyung, Apa mulutmu itu tidak capek. Ini sudah hampir 5 jam kau tertawa." Taehyung mendengus, menatap sosok Min Yoongi dengan pandangan kesalnya.
Bayangkan saja, sejak kejadian di Cafe tadi hingga kini berada di Apartemenya. Sahabatnya itu masih saja tertawa seperti orang gila, Taehyung saja sampai takut jika pita suara Yoongi ini akan rusak setelah ini.
" Hahaha... habis ini lucu sekali.
Yoongi masih tertawa lebar, tak peduli pada Taehyung yang kini telah melingkarkan tubuhnya di tempat tidur karena kesal.
" Apanya yang lucu?" Taehyung menjawab malas, menyenderkan setengah badanya pada kepala ranjang dengan tangan yang bersedekap dada.
" Bayangkan saja, selama ini aku menyuruhmu untuk mencari kekasih. Tapi sampai mulutku berbusa pun, kau selalu saja menolakku. Tapi tadi apa, kau ditembak oleh anak kecil. Kurasa ini memang takdirmu Tae."
" Apanya yang takdir, aku bukan pedofil Hyung. Dan lagi, mana mau aku dengan bocah ababil dan urakan macam dia." Taehyung bergidik ngeri, membayangkan jika bocah kecil bernama Jungkook itu menjadi kekasihnya. Duh, hidupnya pasti akan jungkir balik sekarang juga.
" Tapi dia cantikkan? Dan lagi, kurasa dia cocok denganmu. Hidupmu itu terlalu monoton dan hidupnya kelewat berwarna. Jadi jika kau bersama denganya, hidupmu pasti akan indah pada waktunya."
" Ckck... bahasamu sudah seperti lagu saja. Sudah pulang sana, aku mau tidur!" Taehyung mendelik, membaringkan tubuhnya kembali keatas kasur. Lalu dengan cepat ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga kepala.
Yoongi menghela napas, menatap adik sepupunya yang telah meringkuk seperti bayi.
" Baiklah aku pulang, tidur yang nyenyak. Berhenti memimpikan Seokjin, mulai sekarang kau harus memulai memimpikan Jeon Jungkook. Bye Tae..."
" Mimpi Jeon Jungkook, aku akan gila sepertinya." Taehyung terkekeh mengulang ucapan sepupunya. "Baiklah selamat malam Hyung, hoam..." Taehyung berteriak, lalu mulai memejamkan matanya dengan perlahan.
Setelah menaruh mobilnya kedalam garasi, pemuda 17 tahun memasuki rumahnya dengan langkah pelan. Ia sudah biasa seperti ini, kluyuran tidak jelas setiap hari. Balapan mobil, pergi ke Club atau hanya sekedar karaoke hingga berakhir menginap dirumah Jimin selama minggu.
Dengan tenang, ia mengeluarkan kunci dari dalam kantong celananya. Memasukkan kelubang kunci dan memutarnya pelan. Kemudian setelah terdengar bunyi klek, ia mendorong pintu rumah depanya dengan pelan. Setelah menutup pintu dan menguncinya kembali, Jungkook melenggang santai menuju kamarnya dilantai dua.
" Kau keluyuran lagi, bukankah Ayah sudah mengatakan padamu untuk diam dirumah selama 3 bulan ini." Sebuah suara dari sosok paruh baya yang baru muncul dari dalam kamarnya, sukses membuat pemuda itu menghentikan langkahnya.
" Hah..." Jungkook mendesah malas. " Aku hanya berada dirumah Jimin, Ayah tahukan aku sering menginap disana."
" Ya, dan Ayah tidak suka itu."
" Kenapa? Bukankah, Ayah tak mempermasalahkanya selama ini?"
Jungkook mendudukkan tubuhnya disofa kamar tamu dengan malas. Ia tahu Ayahnya pasti akan mengoceh panjang lebar, maka daripada ia capek berdiri lebih baik ia mendengarkanya sambil duduk.
Tuan Jeon ikut mendudukkan tubuhnya disofa lain, tepat didepan Jungkook yang terhalang meja. " Ayah tahu, Jimin itu sahabatmu sejak kecil. Dia baik dan pintar, hanya saja Ayah merasa akhir- akhir kau jadi memanfaatkan itu."
" Maksud Ayah?" Jungkook menyenderkan tubuhnya disandaran sofa, ia sudah mengantuk jujur saja. Dan buruknya, Ayahnya mengajak berdiskusi disaat jam dinding menunjukkan pukul 1 pagi. Uh, jika boleh jujur ia menyesal pulang tadi. Setidaknya diomeli disiang hari, lebih baikkan?
" Kau pikir Ayah tidak tahu apa yang kau lakukan diluar sana, balapan, ke Club, karaoke..."
" Ayah ini bukan salah Jimin!"
" Bukan itu maksud Ayah, Ayah hanya ingin kau berubah Jungkook. Kau masih 17 tahun, ditambah lagi beberapa bulan lagi kau harus ujian akhir. Jimin bilang, nilaimu turun dratis akhir- akhir ini."
" Nilai turun bukan berarti aku tidak akan lulus kan?"
" Ayah tahu Jungkook, kau itu anak yang pintar. Aku tak pernah meragukan kemampuan otakmu, hanya saja sikapmu akhir- akhir ini sungguh membuatku khwatir."
" Lalu Ayah akan mencarikanku tutor agar nilaiku sempurna lagi? Lakukan saja, asal jangan dihari minggu. Ayah tahu itu jadwalku untuk bersenang- senangkan?"
" Ayah tidak akan mencarikanmu tutor, ayah tahu tahu kau tak membutuhkan itu."
" Lalu?" Jungkook mengernyit, sungguh ia tidak bisa menebak apa keinginan Ayahnya itu kali ini.
" Ayah akan menjodohkanmu dengan seseorang." Tuam Jeon menjawab santai, dan Jungkook melotot horor.
" Jangan gila Ayah, aku masih 17 tahun! Mana mungkin aku menikah." Jungkook menatap Ayahnya tak percaya.
" Kenapa tidak, toh 3 bulan kau lulus SMA. Di Universitas tak ada peraturan mahasiswa tidak boleh menikah, jadi tidak masalahkan?"
" Tapi demi Tuhan ini gila Ayah, aku ini anak satu- satunya. Masak Ayah tegasih." Jungkook cemberut, menatap Ayahnya dengan tatapan frustasinya.
" Kenapa tidak, justru karena kau anak satu- satunya Ayah. Maka Ayah tidak mau kau terjerumus kedalam hal yang buruk."
" Dengan menikahkan anakmu ini dengan pilihan Ayah. Dengan seseorang yang tidak kukenal, ini konyol Ayah. Apa tidak ada cara lain?" Jungkook menatap Ayahnya penuh harap.
" Hah..." tuan Jeon menghela napas, lalu menatap anaknya dengan tatapan serius.
" Baiklah, Ayah beri satu keringanan untukmu."
Jungkook sudah ingin bersorak sebelum tuan Jeon melanjutkan ucapanya.
" Ayah tahu kau tidak suka jika Ayah menjodohkanmu, jadi Ayah memberi kebebasan untukmu memilih calon sendiri. Ayah beri waktu kau 3 bulan dari sekarang, jika pilihanmu tidak sesuai dengan kriteria Ayah. Maka Ayah akan tetap pada keputusan awal, menjodohkanmu dengan pilihan Ayah."
Jungkook menghela napas frustasi, " Tiga bulan Ayah?"
" Ya, dan satu lagi, kau harus lulus dengan sempurna tahun ini. Ingat, Ayah tidak main- main dengan ucapan Ayah."
" Ya baiklah, setidaknya itu lebih baik daripada aku dijodohkan." Jungkook menggumam lesu, membuat tuan Jeon diam- diam tersenyum.
" Ayah tahu kau bisa Jungkook, sudahlah tidur sana. Ini sudah terlalu larut." tuan Jeon lalu beranjak menunju kamarnya, meninggalkan Jungkook yang langsung menumpukan kepalanya kemeja dengan wajah frustasi.
" Dia pikir, siapa yang membuatku jadi tidur makin larut. Hua... aku harus bagaimana! Dasar Ayah gila!"
Next...
Nb : Kalau gak salah di chap 1 ada bagian jin dibilang perempuan cantik sorry itu typo. Jin tetep laki- laki kok.
