Sejak hari itu, Sakuno mulai menjauhi klub tenis. Bahkan untuk masuk sekolah pun rasanya enggan sekali. Padahal dia hanya ingin menghindari satu orang saja.
Tomoka sempat pergi menengok setelah mendapati sang sahabat tidak masuk sekolah selama dua hari. Saat itu Sakuno menceritakan semuanya kepada Tomoka yang langsung naik pitam. Dia berkata ingin memukul Ryoma sebagai ganti Sakuno yang tidak pernah mungkin berani melakukannya. Namun, Sakuno memilih untuk tidak memulai masalah baru.
Dengan dukungan semangat dari sang sahabat, akhirnya Sakuno kembali masuk sekolah. Meski begitu dia masih belum bisa jika harus bertemu dengan Ryoma. Jadi, dia selalu berhati-hati jika berjalan-jalan di sekitar sekolah, dan tidak pernah mau berpisah dengan Tomoka.
"Aakh! Kenapa sih guru itu selalu saja menyuruh kita yang membereskan semua ini! Kenapa tidak anak laki-laki saja sih?!" gerutu Tomoka.
"Haha tidak apa, itu berarti Pak Tanaka mempercayai kita. Lagipula hanya menyimpan bola ke gudang kan tidak repot."
"Iya sih…"
"Yup, akhirnya sampai. Berantakan sekali di dalam sini."
"Iya, hati-hati Sakuno, jangan sampai tersandung. Akh!" baru saja selesai berbicara, Tomoka terjatuh karena kakinya tersangkut oleh papan kayu. Alhasil bola voli harus berjatuhan dari dalam kardus. "Aaah, bolanya jadi berantakan!"
"Kamu tidak apa-apa?"
"Iya, cuma lecet sedikit."
"Cepat ke UKS kalau begitu, biar aku yang bereskan."
"Nanti saja."
"Jangan, nanti bisa-bisa infeksi!"
"Umm, baiklah. Kamu tidak apa-apa sendiri?"
Sakuno mengangguk.
Tomoka pun segera berjalan ke luar gudang, meninggalkan Sakuno yang mulai memunguti bola satu persatu.
Tidak lama kemudian, Sakuno menyadari ada seseorang yang datang.
"Kamu tidak jadi ke UKS, Tomo chan?"
Sakuno membalikkan badan. Wajahnya mendadak berubah saat menyadari bahwa yang datang ternyata bukan orang yang dia kira.
"Hai," sapa Ryoma.
Ingin sekali Sakuno kabur dari sana. Tapi apa daya, Ryoma menghalangi pintu gudang sehingga dia terperangkap di dalam sana. Jadi, Sakuno hanya membalikkan badan agar tidak perlu memandang ke arah lelaki yang dijauhinya itu.
"Um… aku tahu kamu marah padaku. Meski sebenarnya aku cukup bingung waktu itu. Tapi Osakada sempat datang, menjelaskan semuanya padaku. Dan sekarang, aku menemuimu untuk meminta maaf."
Sakuno masih terdiam. Suaranya seakan tertahan dalam tenggorokan. Ditambah lagi air matanya mulai mendesak keluar.
"Aku memang selalu tidak sadar jika kata-kataku menyakiti orang lain. Mungkin hari itu menjadi yang paling parah. Umm… Maaf…" Ryoma sedikit kesulitan merangkai kata. "Aku khawatir kamu tidak bisa memaafkanku semudah itu. Jadi, sebagai permintaan maaf, aku ingin memberikan sesuatu… Osakada bilang hari Minggu ini adalah hari ulang tahunmu. Jadi jika kamu tidak keberatan, aku akan menunggu di kafe blok C jam sepuluh."
Sakuno masih tidak bergeming dan tetap bungkam meski langkah Ryoma terdengar mulai menjauh dari gudang.
Sebelum benar-benar menghilang dari sana, Ryoma menghentikan langkahnya sesaat. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan juga," tambahnya.
Tanpa sadar, butiran air mata berjatuhan sejak tadi. Entah kenapa ada perasaan aneh yang Sakuno rasakan. Dia masih merasa kesal kepada apa yang Ryoma lakukan tempo hari. Tapi di satu sisi dia tidak bisa memungkiri, bahwa dia masih sangat menyukai temannya itu.
Lantas apakah Sakuno akan pergi menemui Ryoma di hari Minggu atau tidak, masih belum dia tentukan…
Tanpa terasa hari Sabtu pun tiba, Sakuno semakin gelisah memikirkan ajakan Ryoma. Padahal besok seharusnya menjadi hari ulang tahun terindah baginya. Tapi, keadaan tidak pernah berhenti memberikan berbagai perasaan yang baru pertama kali dia rasa.
'Apa aku tidak usah datang saja ya? Tapi Ryoma kun sudah berbaik hati mengajakku. Tapi bagaimana jika aku tidak bisa menahan tangis di depannya? Lalu apa yang ingin dia katakan? Kenapa dia tidak langsung mengatakannya waktu itu saja?' berbagai pertanyaan berterbangan di dalam kepala.
'Ceklek' suara pintu kamar dibuka mengejutkan si gadis berkepang. Seorang wanita muncul dari balik sana.
"Kamu belum tidur, Sakuno?"
"Ah, nenek. Iya belum. Ada apa, nek?"
"Kamu sudah dengar kabar tentang Ryoma?"
"Hah, ada apa dengan Ryoma kun, nek? Dia baik-baik saja?" Sakuno sedikit panik karena mengira ada hal buruk terjadi.
"Tenanglah, dia baik-baik saja. Kenapa kamu khawatir seperti itu?"
"Huf," ditariknya napas penuh kelegaan. "Aku pikir ada apa. Soalnya besok kami ada janji." Sakuno sedikit tersipu.
"Lho, jangan-jangan kamu memang belum tahu ya?"
Sakuno berwajah penuh tanya. Meski tidak berkata apa-apa, namun sang nenek dapat langsung mengerti.
"Nanjiro mendadak mengirim Ryoma ke Amerika untuk mengikuti turnamen."
"Hah, kapan, nek?"
"Lusa. Jadi dia berangkat pukul tiga pagi besok."
"Hah?" Sakuno kembali dibuat merasa terkejut untuk yang kedua kalinya. "Sampai kapan turnamennya berlangsung?"
"Hanya satu minggu. Tapi masalahnya Ryoma mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang lama."
"Ke-kenapa?"
"Karena dia akan melanjutkan sekolah di sana."
Kali ini, Sakuno tidak bisa berkata apapun lagi.
