In Time With You

Summary: Mikan adalah seorang murid perempuan pemalu yang menyukai Natsume Hyuga, idola nomor satu di sekolahnya yang suka mempermainkan perempuan karena sebuah janji di masa lalu.

Tak kusangka aku bisa update ya, maaf lama

Terimakasih bagi yang sudah mau mereview dan membaca cerita ini ya, aku sangat senang dan terbantu oleh karenanya.

Disclaimer : I Don't Own Gakuen Alice


Salah seorang dari perempuan-perempuan itu, yang berambut merah menendang kaki Mikan dari depan sehingga dia terjatuh, untunglah Mikan sempat melindungi kepalanya dengan kedua tangannya sehingga kepalanya tidak terbentur. Perempuan yang menendang Mikan sepertinya tidak memperkirakan kalau Mikan akan terjatuh dan terlihat agak kebingungan dengan itu, apalagi Mikan jatuh ke atas lantai yang terbuat dari semen dengan suara yang agak keras. Walaupun begitu perempuan itu tetap maju. "I-itu karena k-kamu telah berani mengganggu Natsume-sama."

"Iya! Dasar perempuan bodoh!" bentak seorang perempuan berambut hitam yang berada di sampingnya. Sepertinya perempuan itu tidak menyadari kalau teman yang berada di sebelahnya merasa tegang.

Mikan berusaha bangkit dari tempatnya dengan bertumpu dengan kedua telapak tangannya tapi langsung terjatuh karena ada seseorang yang menginjak punggung tangannya. Mikan mengangkat kepalanya dan melihat perempuan berambut hijau yang tadi ditabraknya menatapnya dengan penuh kemarahan. Perempuan itu memiliki rambut hijau sebahu dengan sedikit bagian ikal di ujung bagian rambut kiri dan kanan wajahnya. "Ma-maaf." Mikan mencoba menarik tangannya tapi dia malah memperkeras injakannya pada tangan Mikan.

"Aduh!..." desis Mikan

"Maaf saja tidak akan cukup. Apa kamu tahu apa yang telah kamu lakukan pada Natsume-sama hah?" Perempuan berambut hijau itu melepaskan injakannya dan menarik kepala Mikan mendekat ke wajahnya. "Kamu telah melukai wajahnya dengan kebodohanmu," dia melepaskan pegangannya pada rambut Mikan dan melipat tangannya. "Tentu saja aku sebagai ketua fans club Natsume-sama tidak akan bisa membiarkan hal yang berbahaya menimpanya. Miki, Risa."

"Baik." Jawab perempuan berambut merah dan hitam bersamaan. Mereka lalu menahan kedua tangan Mikan ke belakang badannya dengan kuat dan memaksanya menatap kedua orang di depannya.

"Dan sekarang kamu akan membalas perbuatanmu sedikit demi sedikit."

Mikan bergetar mendengar suara perempuan berambut hijau. 'Bagaimana ini? Apa yang akan dia lakukan padaku? Apakah dia semarah itu? Apa yang harus kulakukan?'

Sementara Mikan terus panik dalam pikirannya. Perempuan berambut hijau dan temannya – atau lebih pantas disebut pengikut−sudah berada di depannya.

Tepat saat perempuan berambut hijau mengangkat tangannya dan akan menamparnya, Mikan dengan atau tanpa sengaja menendang kaki perempuan berambut hijau tersebut dan langsung membuatnya terjatuh ke lantai.

"KAICHO! (ketua)" teriak kedua perempuan di belakang Mikan. Mereka langsung melepaskan pegangannya pada Mikan dan membantu perempuan berambut hijau tersebut berdiri.

Awalnya Mikan ragu pada pemandangan yang ada di depannya sampai perempuan berambut hijau tersebut menatapnya dengan amarah yang seakan bisa meledak kapan saja. Bergerak karena insting, Mikan langsung berlari meninggalkan keempat perempuan di belakangnya.

"KEJAR DIA!" teriak perempuan berambut hijau itu.

'Bagaimana ini?' Pikir Mikan saat menyadari kalau keempat perempuan itu mengejar di belakangnya. Dia berniat meminta bantuan, tapi dia tidak menemukan siapapun di jalan yang dia lewati untuk dimintai tolong karena bel masuk sudah berbunyi dan semua guru dan murid sudah berada di kelas. Parahnya lagi dia sama sekali tidak mengenal tempat di mana dia berada sekarang mengingat kalau dia langsung berlari keluar kelas tanpa memperhatikan tujuannya sama sekali.

Mikan bertambah panik begitu menyadari kalau jaraknya dan keempat perempuan itu semakin mendekat. Dia lalu memutuskan untuk terus berlari sampai menemui bantuan ketika tiba-tiba sepasang lengan membekap mulutnya dan menariknya ke sebuah tempat gelap. Orang yang membekapnya mengisyaratkannya untuk diam dan dia mematuhinya.

Orang yang membantunya yang Mikan rasa adalah laki-laki karena tidak memiliki dada. (Ps: jangan berpikiran jorok ya XD Mikan mengetahui hal ini karena orang yang membekapnya harus menariknya mendekat agar tidak bersuara ^^) mengintintip hati-hati. Memperhatikan apakah perempuan-perempuan itu sudah pergi atau belum. Ketika menyadari kalau semua situasinya aman, lelaki itu segera melepaskan pegangannya pada Mikan. Membiarkan perempuan berambut coklat itu mengambil napas. "Ah.. te-terima kasih uhuk! uhuk!" katanya sambil terbatuk karena sudah lama tidak berlari selama itu dan karena tiba-tiba dibekap. Mikan mengerti kalau itu dimaksudkan untuk menolongnya jadi dia sama sekali tidak menyalahkan lelaki itu walaupun itu adalah alasan utama kenapa dia terbatuk-batuk.

"Seharusnya kamu lebih berhati-hati."

Mikan membeku mendengar suara itu. Matanya sudah bisa membiaskan dirinya dengan gelap dan dia mulai bisa melihat dengan jelas orang yang ada di depannya. Sosok orang yang berada di depannya memiliki tubuh yang tegap dan bidang, serta memiliki rambut berwarna hitam yang hampir tersamarkan dengan gelapnya tempat itu. Samar-samar Mikan bisa melihat iris matanya yang berwarna merah tua. Ya, orang yang tadi baru menolongnya tidak lain adalah Natsume!

"NATSU- hmph.. Hmp.." Mikan hampir saja berteriak saking terkejutnya. Untung saja Natsume segera menutup mulutnya dengan cepat.

Natsume lalu melepaskan pegangannya pada Mikan dan baru saja mau beranjak pergi ketika tiba-tiba kedua tangan Mikan yang kecil menariknya. "Ma-maaf Natsume-san. Ta-tapi bi-bisakah kamu be-berada di sini sebenta? A-ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Walaupun Natsume kurang suka dengan tambahan –san di belakang namanya, dia tetap mengiyakan keinginan Mikan. "Hn. Terserah. " katanya lalu bersandar pada dinding di belakangnya.

Ada pause sejenak di antara Mikan yang sempat membuatnya tegang. Tetapi dia sudah meyakinkan dirinya. Mikan menundukkan kepalanya. "Be-begini…. anu… aku.. sebenarnya dari awal aku…" Mikan menengadahkan kepalanya, "aku ingin me.. me.. me.." dia mencoba menekan suaranya.

"Me apa?" Tanya Natsume tidak sabar.

"Sebenarnya aku… sejak kemarin ingin meminta maaf." Katanya dengan sekuat tenaga walaupun suaranya masih tergolong kecil. "Aku benar-benar meminta maaf Natsume-san, aku tidak seharusnya melemparkan buku padamu. Aku benar-benar meminta maaf." Mikan menundukkan badannya.

Natsume hanya melihat Mikan tanpa mengatakan apapun yang membuat Mikan merasa semakin panik. 'Apakah dia masih marah dan tidak akan pernah mau memaafkanku ya? Tidak! Aku tidak mau itu terjadi.'

"Aku akan melakukan apapun sebagai gantinya," sambung Mikan cepat. "karena itu…" ucapan Mikan terpotong begitu dia mendengar suara tawa Natsume.

Mikan mengangkat kepalanya dengan pelan dan sangat terkejut begitu melihat Natsume menyeringai padanya. Bulu kuduk Mikan tanpa sadar berdiri karena entah kenapa dia merasakan akan ada hal buruk yang menimpanya.

Natsume mendekatkan wajahnya ke Mikan yang membuatnya mundur ke belakang, "Apapun?" katanya sambil menyeringai.

"Eh?" Mikan tidak bisa mundur lagi karena dia sudah terpojok di dinding.

Natsume mendekatkan wajahnya pada Mikan. Mengakibatkan wajah Mikan yang memerah saat itu juga. "Aku bilang…," dia mendekatkan kepalanya ke samping kepala Mikan dan berbisik di telinganya, memberikan efek sengatan listrik padanya "kamu akan melakukan apapun bukan?"

Karena sudah tidak dapat menahan efek sengatan listrik Natsume, Mikan langsung mendorong pundak Natsume menjauh darinya dan segera mengambil nafas yang tanpa sadar sudah ditahannya. Natsume tampaknya sudah memperkirakan hal yang akan Mikan lakukan jadi tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Mikan akhirnya bisa berbicara setelah mengambil napas "hah?" sedetik kemudian Mikan langsung menyadari apa yang Natsume maksudkan dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya, "Haaah?"

Natsume menahan niat dirinya untuk tertawa saat itu juga karena sikap Mikan−yang sepertinya sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkannya. 'permainan akan segera dimulai' pikirnya.

"Mikan"

Mikan mengangkat kepalanya. Walau matanya masih menunjukkan kebingungan di balik kacamatanya, dia tampak sudah mulai bisa mengerti situasi. "Ya?"

"Jadilah pacarku."

"Baiklah," jawab Mikan cepat karena dia pikir itu adalah perintah pertamanya "Eh?"

Natsume tertawa kecil. Apakah dia harus mengulang semua perkataannya baru perempuan di depannya mengerti?

"Kubilang jadilah pacarku Mikan Sakura"


Aku mau memberikan informasi kalau di chapter berikutnya aku Mungkin akan mulai menggunakan POV ya, terima kasih ^^