.
.
.
"Lee Renjun!"
Yang dipanggil langsung menghentikan jalannya, tak berniat berbalik dan mencari tau siapa yang memanggil. Karena tanpa melakulan hal itu pun Renjun tau kalau suara nyaring barusan adalah milik Haechan.
"Kenapa mencariku?"
"Aku mau langsung pulang juga," balas Haechan sambil mengatur nafasnya.
"Tidak menunggu Mark?" tanya Renjun heran. Pasalnya 3 bulan terakhir Haechan lebih sering pulang dengan Mark daripada dengannya.
Haechan menggeleng, "dia ada kerja kelompok."
"Oh, jadi mencariku kalau sedang ditinggal Mark saja? Hm. Oke."
Haechan tertawa kecil, tak merasa bersalah sama sekali. Renjun memutar bola matanya malas.
Keduanya berjalan beriringan sampai rumah, karena jarak sekolah dengan rumah mereka tak begitu jauh, jadi tak masalah kalau jalan kaki.
Omong-omong, Haechan itu saudara kembar Renjun. Iya percaya tidak percaya, kalian harus percaya bahwa lelaki cerewet dan banyak tingkah semacam Haechan itu punya kembaran sekalem Renjun. Wajah mereka memang tak begitu mirip, nama mereka juga tak ada korelasinya sama sekali—tak seperti anak kembar pada umumnya—. Jarak lahir keduanya hanya tujuh menit, Renjun duluan.
•••
Haechan sibuk melakukan hal random di meja belajarnya. Mulai dari menulis-nulis tidak jelas, menggambar, kemudian mencoret-coret, dan hal lain yang sama sekali tak ada hubungannya dengan belajar. Padahal sebelum itu dia bilang dia mau belajar. Renjun sendiri di ranjang tengah membaca novelnya yang hanya kurang beberapa ratus halaman lagi.
Kamar itu hening sampai sebuah suara dari ponsel Renjun mengalihkan fokus keduanya.
"Angkat, Njun. Itu berisik. Mengganggu belajarku saja." Padahal saat itu Haechan tengah berkreasi dengan gambar tokoh di buku sejarahnya. Di beri kumis, jenggot, tompel, dan lainnya.
Renjun segera menggeser lingkaran hijau disana dan menempelkan layar ponselnya ke telinga, "Halo?"
'Chan! Kau sedang apa?'
Anak itu reflek menjauhkan ponselnya dari telinga, "Haechan, ini temanmu!"
Haechan mendadak teringat Jeno. Anak itu memutar bola matanya malas, "sudah, ajak ngobrol saja. Aku malas."
"Hah?"
'Chan? Kau baik-baik saja 'kan?'
Renjun sedikit kebingungan sampai akhirnya dia ingat akan suara itu, "Jeno?"
'Hm! Kau sedang apa?'
"Belajar."
'Apa aku menganggumu?'
"Iya. Sangat."
'Ah… baiklah. Kalau begitu aku akan telepon lagi nanti. Jangan lupa simpan nomorku ya? Dan sering-sering sms!'
"E-eh, iya. Baiklah. Bye…"
Renjun langsung memutus panggilan dan menatap punggung adik kembarnya itu dengan kesal, "hey! Apa-apaan kau ini? Jadi kemarin sore kau minta nomorku untuk ini?"
"Ya. Kau kira?"
Renjun menghela nafas kesal. Adiknya ini memang menyebalkan. Selalu saja berhasil memancing emosinya.
"Sudah berapa kali sih aku bilang untuk jangan menyebarkan nomorku sembarangan? Kau pikir aku kemarin ganti nomor untuk apa? Untuk kau sebarkan pada para penggemarmu lagi?!"
"Ya salahkan mereka terlalu menyukaiku… aku kan sukanya hanya pada Mark," jawab Haechan tak terlalu peduli.
Lagi-lagi Renjun hanya bisa meghela nafas, mencoba untuk menyabarkan diri sendiri. Seandainya dia tak ingat kalau Haechan itu kembarannya, mungkin anak itu sudah mati sejak dulu.
Sudah terlalu banyak dosa yang diperbuat Haechan di dunia ini, dan Renjun harap Tuhan tak akan pernah mengampuni adiknya itu. Hhh.
Katakan Renjun jahat, itu semua akibat Haechan yang terlalu menyebalkan. Lagian manusia mana sih yang tak kesal kalau nomornya di sebarkan ke orang lain, sembarangan pula. Dan mereka rata-rata tidak Renjun kenali. Sangat menjengkelkan.
•••
"Renjun!"
Renjun yang saat itu tengah asik dengan makan siangnya langsung menatap orang yang kini sudah duduk di depannya, "ada apa?"
Jeno tertawa sebentar, "aku sudah punya nomornya Haechan. Wah rasanya aku makin dekat saja dengannya…"
Renjun dan Jeno itu luahan dekat akhir-akhir ini. Sejak Jeno tau kalau Renjun itu saudara kembar Haechan. Lelaki itu kerap curhat tentang pendekatannya dengan Haechan yang rata-rata tak pernah berhasil.
"Lalu?" tanya Renjun dengan tanpa minat.
Barusan Jeno bercerita kalau kemarin sore lelaki itu bertelepon, walau hanya sebentar, tapi Jeno tampak sangat bahagia. Renjun jadi miris melihatnya.
"Kira-kira apa lagi yang harus aku lakukan?"
"Apa?" tanya Renjun balik tak mengerti.
"Ya untuk mendekatinya lagi!"
"Aku tak tau."
Jeno memasang tampang datar, sudah sangat terbiasa dengan sifat Renjun yang sama sekali tak bisa diandalkan dalam hal percintaan seperti ini.
Renjun sendiri rasanya sudah gatal ingin memberitau Jeno kalau nomor itu sebenarnya adalah nomornya. Tapi seperti ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan jangan. Aneh?
Lain dengan Renjun dan Jeno yang kini tengah berada di taman belakang sekolah, lain pula Haechan yang sekarang tengah menonton Mark latihan di lapangan.
Bibirnya sesekali bergerak mencibir siswa atau siswi lain yang tampak cari perhatian pada Marknya. Oke. Sebenernya Mark memang belum jadi miliknya. Tapi kan dia sudah dekat sekali dengan Mark. Haechan tak suka. Apalagi saat gebetannya itu malah menebar senyum kemana-mana, "dih sok kegantengan."
Tapi mau sekesal apapun Haechan pada Mark, dia tetap sayang kok. Tapi Mark? Hehe. Haechan bahkan tak tau apa lelaki itu menyukainya juga atau tidak.
•••
"Mark, mau jalan tidak sore ini?"
Mark bergumam panjang sambil mengingat-ingat jadwalnya, "sepertinya tidak. Aku ada jadwal les nanti."
Haechan mengangguk sambil merengut. Mencoba mengerti keadaan Mark.
Ya keduanya memang sudah lumayan lama dekat, tapi untuk urusan jalan dan main berdua, mereka jarang sekali. Bahkan bisa dihitung pakai jari.
Mark tak punya banyak waktu luang mengingat dia sekarang berada di kelas dua, sedangkan Haechan masih bebas di kelas satu. Apalagi sebentar lagi ujian kenaikan kelas, bah, belajar sudah seperti pacar Mark sendiri. Haechan mah boro-boro belajar, cuma buka buku untuk dibaca saja jarang.
Terkadang Haechan berpikir, apa tujuan Mark ke sekolah itu hanya belajar-latihan basket-belajar-latihan basket saja? Apa menemui Haechan tidak termasuk?
"Kau mau menungguku lagi? Aku tak masalah mengantarmu pulang dulu…"
Haechan tersadar dari lamunannya, anak itu menggeleng sambil tersenyum kecil, "aku mau menunggumu latihan saja."
Daripada pulang dan tak ada kerjaan di rumah 'kan?
•••
"Jalan? Berdua?" Renjun membulatkan matanya, sedangkan Haechan yang tengah duduk di depannya hanya bisa menahan tawa.
'Iya. Kau dan aku. Bagaimana?'
"Tunggu, tunggu! Tapi ini terlalu cepat, aku bahkan belum begitu mengenalmu."
'Nah justru itu! Siapa tau kita jadi mengerti satu sama lain setelah—"
"Tidak. Aku tidak mau."
Renjun langsung mematikan teleponnya kemudian mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada Haechan dengan bantalnya.
"Kau lihat!? Aku tak mau tau pokoknya katakan yang sebenarnya pada anak itu besok. Atau kalau perlu sekarang sekalian!"
"Aduh aduh, iya kak. Ampun!"
Cuma disaat tersiksa begini Haechan ingat bahwa Renjun adalah kakak tujuh menitnya.
"Huhuhu iya kak, ampuuuunn!"
Renjun masih emosi. Rasanya dia ingin memukuli anak itu sampai mati.
Dia kesal. Kesal sekesal-kesalnya manusia.
Tapi entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang merasa… senang. Padahalkan barusan Jeno mengajak Haechan jalan, bukan dirinya 'kan?
TBC
•••
mantap soullls~ XD
btw, makasih yang uda review. unch. kalian pasti sayang aku kan? iya aku juga sayang kalian '3' *ayo silakan pukulin saya bareng-bareng :v*
dan masalah main pair, sebenernya aku bingung juga ini main pairnya siapa??? loh? XD ya dibaca aja pokoknya, nanti gantian kok. misalnya pas ini banyak Noren, besok banyakin Markhyuck, terus Nochan, yaaaaa gitulah pokoknya yha :3
huhuhu sebenernya aku udah bikin ini sampe chap 3 dan tanganku sudah sangat gatal sekali pingin update XD mianeeyong kalo updatenya kecepetan ToT
RnR juseyongg!
