EGLANTINE ~*Aku Terluka untuk Sembuh*~
Author : Shee
Desclaimer : Tuhan YME, Orang tua mereka masing-masing, Pledis Ent.
CAST : SEVENTEEN member.
Rated : T
Genre : Romance, School Life, Angst (inginnya), Supranatural.
Summary : Didalam tubuh Jihoon ada satu lagi sisi manusia. Jihoon yang berjuang dengan kematiannya, dan sosok itu mencegahnya mati-matian.
.
Chapter 02
.
Seperti biasanya Jihoon pulang dengan keadaan tidak lebih baik dari biasanya, terkesan inilah hari yang paling buruk, Soonyoung menghajarnya habis-habisan, Seokmin menempelinya lebih banyak lagi permen karet di rambut Jihoon, dan Junhui tidak melakukan apa-apa tapi dia juga tidak membantu Jihoon sama sekali, dan lebih parah lagi dia yang menertawakan.
Dan di perjalanan pulang, dia bertemu dengan Seungkwan dan kelompoknya, itu bukan hal yang bagus jika kau sudah dibully satu genk dan menemui genk lain, bukannya kasihan malah mereka ingin tidak mau kalah juga.
Dan berakhirlah Jihoon pulang dengan muka penuh lumpur dan kepala yang penuh permen karet.
Sosok itu mulai khawatir dengan kehidupan Jihoon, ia takut kalau sebelum dia bisa meminjam tubuh Jihoon dia sudah tidak ada lagi.
"Kenapa kau tidak melawan mereka? itu keterlaluan. ."
"Akan lebih keterlalulan lagi kalau aku yang melawan. ."
Rasanya sosok hitam itu mulai tidak yakin kalau Jihoon ini seorang manusia, dia terkesan sabar dan tidak mau membalasnya. kalau itu dia, saat di kehidupan sebelum mati pasti akan membalas perbuatan itu, hanya orang-orang tidak berguna dan pencari perhatian seperti mereka yang bisa melakuka semua itu.
"Kau memikirkan supaya aku membalasnya, aku tidak akan pernah melakukannya, aku tahu kalau aku sampai mengalahkan mereka berarti aku tidak ada bedanya dengan mereka, selalu membully yang menurut mereka lemah dan menganggap diri sendiri sangat kuat . ."
"Aku tidak yakin kau ini adalah manusia, hatimu dari air ya?, tidak punya kah kau dendam?" sosok bukan manusia itu terus mengompori Jihoon. dan akhirnya dia pergi. sepertinya dia sudah tidak ingin mengutarakan maksudnya lagi, entah kenapa dia terlihat ragu untuk mengungkapkannya.
Dia bilang tidak akan mengatakan alasan mengikutinya sekarang, dia akan menunggu waktu yang tepat dan menjelaskan semuanya.
Jihoon mulai curiga pada sosok itu, alasan kenapa dia selalu diikuti mungkin saja bukan karena sekedar dia akan mati, kalau seperti itu tidak perlu susah-susah mengikuti Jihoon kemanapun kan?, ataukan dia menginginkan jasadnya setelah ia mati nanti, tapi untuk apa?
.
.
.
"Kau tidak apa?"
"Aku tidak butuh pertolonganmu . ."
"Aku hanya berniat membantu . "
"Aku tidak butuh bantuan dari orang sakit, kau pikir ini menyenangkan direndahkan olehmu. ."
"YA! kamu pikir, penyakit ini aku yang minta, ,! aku tidak pernah menginginkannya. ."
Laki-laki tinggi itu segera menjauh, Seseorang mencoba menolongnya, tapi tidak ada rasa terima kasih disana. Dia berlari meninggalkannya dan dia sempat tersandung sesuatu atau mungkin seseorang saat menyabrang jalan ditengah keramaian, Karena dia terus berlarian untuk menututi lampu hijau yang sebenarnya sudah sedari tadi menyala.
Dia segera bangun lagi dan mencoba berlari meninggalkan orang yang berusaha menolongnya tadi.
Sebelum itu terjadi dia melihat jelas ada sebuah truk tangki yang membawa bahan bakar sedang melaju kencang, dan kejadian itu berlalu begitu cepat dia tidak ingat apapun, yang dia rasakan cuma sakit akibat membentur keras ke tiang listrik, dan siku serta lututnya memar karena menabrak sesuatu. Dia tidak bisa merasakan anggota tubuhnya yang sakit, semua seperti mati rasa tapi dia masih bisa melihat keadaan di sekitarnya sebelum kesadarannya memburuk.
Yang dia lihat cuma awan putih yang perlahan menghilang dan menampakkan birunya langit, dan semua orang yang sedang mengerumuni Truk yang tadi hampir menabraknya.
Korbannya berada di pinggir jalan, tapi kenapa orang-orang malah berkumpul dan panik di tengah jalan.
Petugas ambulan mendatangi anak tinggi itu memeriksa tangannya yang berdarah dan terkena serpihan kaca serta kakinya yang memar dan terkilir masih terasa sakit itu berarti dia masih hidup, dan segera memasukkannya kedalam ambulans dia penasaran. lalu apa yang dikerumuni di tengah.
Dan dia tidak bisa menemukan teman yang berusaha menolongnya tadi disekitar sana.
.
.
.
"Katakan Jihoon. siapa yang melakukan ini padamu. biar mama adukan pada kepala sekolah. kalau kau begini terus tidak akan bisa merasakan SMA dengan nyaman." mama Jihoon kaget melihat keadaan anaknya yang seperti ini. Hari ini tidak ada alasan untuk menghilangkan lukanya dan seragamnya jadi dia pulang seperti itu.
"Kalau mama lapor kepala sekolah itu makin membuatku tidak nyaman. Toh aku tidak lama hidup."
Mamanya tercekat mendengar Jihoon mengatakan hal itu lagi, Semenjak dia masuk ke SMA itu, intensitasnya mengatakan kalau dia tidak lama hidup semakin sering. dia menderita penyakit itu semenjak kecil tapi dulu dia selalu berharap ingin sembuh saat mamanya mengatakan kalau dia bisa membuat 1000 origami berbentuk bangau harapannya mungkin bisa dikabulkan. Karena bagau melambangkan keabadian dan bisa hidup lebih lama, sampai hitungan 400 lebih setelah itu dia tidak melanjutkannya, Jihoon segera masuk kamarnya setelah dia mengambil gunting di dapur terlebih dulu, dan dengan terpaksa memotong rambut yang sedikit panjangnya, dia menyukai rambutnya yang agak panjang itu. tapi karena tidak mungkin menghilangkan permen karet yang menempel itu akhirnya dia merelakannya.
Dikamar dia cuma terdiam dan menatap kosong kearah kaca di kamarnya sambil sesekali melirik sosok hitam yang sedari kemarin selalu bersamanya, bahkan dia yakin saat Jihoon di kamar mandi pasti dia masih mengikutinya dan bahkan saat Jihoon terlelap, hantu itu pasti mengawasinya dari pojok kamar atau entah dimana.
Sesekali sosok hitam itu memandang iba saat satu per satu helai rambut Jihoon jatuh kelantai.
"Kenapa kau tidak cerita kalau kau punya penyakit?, mungkin mereka akan berhenti menjahilimu."
"Mereka akan membunuhku seketika itu juga hanya untuk memastikannya. ."
"Aku juga dulu sakit-sakitan karena sistem imunku lemah," sosok bukan orang itu sepertinya hendak menceritakan masa lalunya saat dia masih hidup, inginnya Jihoon mendatangi tempat dia tinggal dan mengirim bunga supaya tidak mengikutinya lagi, tapi dia terlalu malas melakukannya. Sampai sekarang dia tidak mengganggu kehidupan Jihoon jadi dia membiarkannya.
"Kau meninggal karena penyakit?"
"HIV"
Jihoon langsung memincingkan mata dan memandang jijik seolah-olah itu adalah dosa terbesar yang pernah dia dengar, ayolah siapa yang tidak tahu soal penyakit itu, itukan penyakit untuk pecandu narkoba atau kalau tidak pasti kau seorang gigolo atau bahkan pelacur.
"Percayalah aku tidak pernah melakukan apa yang ada didalam pikiranmu itu. hanya saja hidup tidak bisa memilih jadi aku lahir dari rahim seorang pengidap, otomatis aku juga kena. apa aku adalah orang jahat di kehidupanku sebelumnya sampai aku harus seperti ini? . "
"Itu bukan salahmu. kau baru saja kedunia dan tidak mengerti apapun, kalau ada yang disalahkan itu orang tuamu." tenang Jihoon, walau dia juga tidak terlalu yakin tentang penyakit itu.
"Yah dan mereka membuangku saat aku umur 9 tahun. tidak lama setelah itu, mereka meninggal karena kecelakaan mobil mereka yang terperosok ke jurang, rasanya aku senang sekali mendengar berita itu. "
"Kau bahagia orang tuamu meninggal?."
"Begitulah..."
Dan sosok bukan orang itu tersenyum, bukan senyum yang menakutkan melainkan senyum yang mengandung banyak kesedihan di dalamnya.
.
.
.
Keesokan harinya Sepulang sekolah, Jihoon mampir sebentar ke toko ice cream, dia sangat suka jajanan itu berkelas tapi terlihat minimalis dan lebih sehat. dan karena ini musim panas paling cocok menikmatinya siang-siang seperti ini.
Dia sengaja pulang lebih awal untuk menghindari perkelahian karena memang dia tidak menyukainya, lebih baik dia yang dipukuli dari pada dia menyakiti orang lain. di sisa hidupnya dia tidak ingin orang terluka karena dia. Dia sudah banyak melewati banyak orang yang terluka karena dia, setidaknya tidak untuk saat-saat terakhir hidupnya.
"Kau mau?"
"Nggak ah, aku tidak bisa makannya. ."
Kasir yang sedang menulis pesanan Jihoon pun merasa ada yang aneh, di belakang orang itu tidak ada yang lainnya tapi tadi dia tanya sesuatu, bingung dia berbicara pada siapa.
"Oh iya ya. jadi hantu itu tidak makan?, apa kamu tidak lapar?. kalau ingin sesuatu katakan saja."
Sosok hitam itu tahu kalau Jihoon mentraktirnya karena ini mungkin adalah hari-hari terakhir Jihoon, dan tidak ada teman yang bisa diajaknya untuk sekedar minum bersama. kenapa dia tidak manfaatkan saja kebaikan hatinya saat ini. mungkin ini saatnya untuk menggunakan tubuh Jihoon sudah lama sekali ia ingin segera bebas dan tanpa perasaan bersalah pada seseorang.
.
.o0o.
.
"Kenapa kau mengajakku kesini?"
Jihoon melihat ruangan yang sangat dia benci, walaupun dia juga sangat familiar. ruang tunggu rumah sakit, kalau bukan karena mamanya Jihoon tidak akan kemari.
"Kau bilang kalau aku ingin sesuatu tinggal minta. aku ingin kau." Setelah mengatakan itu, Jihoon langsung tidak sadarkan diri dan sekejap kemudian dia tersadar kembali dan pandangannya semakin menajam.
Jihoon berjalan dengan langkah tegap dan seperti bukan dia yang biasanya. dia menuju ke arah biasanya dia dirawat.
'Tubuhnya terlalu ringan untuk ukuran lelaki berumur 16 tahun'
Kosong.
Tidak ada siapapun yang ada di ruangan ini. Jihoon langsung duduk di kursi pasien dan mengambil secarik kertas untuk resep dan menuliskan beberapa kata, setelah itu dia segera pergi sebelum ada yang datang.
Ternyata calon dokter yang waktu itu, Jihoon menunduk sopan dan segera pergi.
Calon dokter itu cuma bisa menatap aneh kepergian Jihoon, dan dia kembali ke meja kerjanya.
Hanya ada secarik kertas dan tulisan diatasnya. Tapi sang dokter tidak menyadari pesan itu dan malah menindihnya dengan dokumen-dokumen yang baru dia bawa.
Diperjalanan Jihoon pulang, dia bertemu dengan geng Soonyoung di sebuah gang tempat biasa mereka berkumpul, Jihoon malah menyunggingkan seringaian tajam dan di matanya seperti ada garis hitam.
Mereka termasuk kelompok yang mengejar kekuatan itu, Jihoon menghampiri mereka dengan tatapan ingin membunuh yang tidak pernah ditunjukkan selama ini, Dia ingin menunjukkan apa itu kekuatan sebenarnya.
Melihat Jihoon mendatangi mereka bertiga, apalagi dengan tatapan menantang seperti itu, ketiga orang itu merasa dia sangat diremehkan oleh target mereka.
"Kau mau mendatangi kesialanmu sendiri hari ini?" Tanya Seokmin. dan dengan senyum sok seperti Jihoon yang menghadapinya saat ini pasti dia hanya menunduk saja, namun tidak kali ini.
"Kurasa hari ini adalah hari kesialan kalian, karena aku benar-benar membenci anak-anak seperti kalian." Mereka bertiga melongo karena tidak biasanya Jihoon ini akan melawan seperti ini.
"Dari mana kamu belajar kata seperti itu?."
Dokyeom hanya tersenyum mengejek atas gertakan itu, sementara Soonyoung merasa diremehkan dan dia mendekati Jihoon yang tidak biasanya itu.
"Aku datang mau membalas kelakuan kalian. kalian berani menyakiti tubuh ini, kalian harus merasakan kesakitan yang sama."
"Ada yang mengajarimu untuk melawan?." Soonyoung mulai tidak terima, dia tipe orang yang tidak mau kalah dari orang lain. Dia beranggapan bahwa di dunia orang yang kuatlah yang akan bertahan dan orang lemah seperti Jihoon harus lenyap.
"Jangan cuma berani dengan yang lemah, kalau kalian berani maju saja..."
Tidak ada setengah jam, Jihoon sudah membersihkan tangan serta seragamnya dan dia langsung mengambil tas lalu pergi. Dan ketiga orang yang tadi biasa memukulinya kini balik terkapar tidak berdaya.
.
.
.
"Ada Kabar. Lee Jihoon, Anak Paling Lemah Disekolah, Kemarin Berhasil Membuat Genk-Nya Seokmin Babak Belur. ." Seungchol yang mendengar dari kerumunan itu langsung ikut mendekat dan menganalisa apa yang terjadi. sepertinya tadi dia mendengar ada yang menyebut nama sahabatnya.
"EH LIHAT. LIHAT, ITU MEREKA!."
Seungchol ikut kemana arah mereka melihat. Soonyoung, Seokmin dan Junhui yang benar-benar babak belur dan bahkan tangan Soonyoung sampai patah. Seungchol percaya tidak percaya, mungkinkah ini kerjaannya Jihoon?. dia itu memukul kucing saja berpikir 9 kali keburu nyawa sang kucing habis.
Seungchol berlari ke kelas, dia menemukan Jihoon yang sedang merasa aneh karena menjadi pusat perhatian. tidak hanya teman sekelas tapi juga lain kelas atau bahkan kakak kelas yang entah sengaja atau tidak sengaja lewat dan mencibirnya
"Jihoon-a.."
Segera setelah itu, Seungchol mulai bertanya-tanya. apa benar dia melakukan itu pada mereka bertiga?, dan Jihoon hanya menceritakan apa yang dia ketahui, kenyataannya dia tidak mengingat apapun.
"Seungchol, Aku tidak akan pernah bisa melakukannya. ."
"Tapi mereka semua mengatakan kalau itu—"
"Kau pikir aku orang yang bisa membuat mereka babak belur?. untuk menaikkan nada suaraku saja aku tidak pernah melakukannya."
...
Setelah hari yang berat itu, Jihoon terus menjadi bulan-bulanan. Sehari dia dibully dan sehari berikutnya dia membalasnya, ternyata itu bukan dirinya tapi itu Sosok hitam yang memasuki dirinya, sebagai balas jasa karena dipinjami raga oleh Jihoon.
Sepulang sekolah, Jihoon mengajaknya ke suatu tempat yang sepi dan memarahinya. Berapa kali Jihoon harus mengatakan, kalau Jihoon hanya ingin hidup tenang bukan kehidupan yang jadi pusat perhatian dan menjadi bahan cibiran orang-orang lain seperti ini.
"Aku tidak ingin kau melakukan itu lagi, sudah cukup hentikan!"
"Lee Jihoon. aku melakukan ini untukmu"
"Aku tidak kuat lagi, Tubuhku lemah aku tidak bisa melakukannya. ini adalah terakhir kali kau membalas dendam pada mereka" ujarnya marah.
Dia ingin bicara pada Seungchol, Soonyoung dan yang lainnya. kalau dia akan mengehentikan kelakuannya yang semena-mena itu, dan juga berpikir untuk menghentikan pengobatan dan ingin segera selesaikan urusannya dengan sosok itu. sebenarnya dia ingin menangis tapi dia sudah tidak bisa melakukannya lagi.
Sosok hitam itu hanya tersenyum. kemudian dia mengajak ke sebuah jalanan ramai dan mereka berada tepat di tempat penyebrangan, entah ada apa disini.
Jihoon hanya diam mengikutinya.
Sosok itu hanya menatap lurus ke perempatan ini, dan tidak lama kemudian ada seseorang yang tampak diantara kerumunan dan membawa buket bunga lily. meletakkan bunganya ditepi jalan.
Dan Jihoon berjalan kearah pemuda tinggi yang sedang meletakkan bunga itu. karena kaget ada yang mendekat, pemuda langsung menjelaskan supaya tidak ada yang salah paham.
"Ah, aku sedang mengenang kecelakaan besar tahun lalu."
Jihoon hanya tersenyum melihatnya, dan segera memeluknya hangat. Awalnya orang itu merasa aneh, lalu tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menerima pelukan itu. ada apa dengan orang ini, kenapa tiba-tiba dia melakukan hal itu. apa mereka saling mengenal?.
Dan setelah lama memeluknya, Jihoon menangis entah apa alasannya, pemuda itu khawatir dan kemudian membawanya ke kafe terdekat.
"Jadi kenapa tadi kau menangis?" Tanya orang itu sambil menyodorkan moccacino pada Jihoon, dan Jihoon dia tidak ingat apapun yang dia lakukan sebelum ini, ia bahkan tidak ingat kenapa asisten dokternya tiba-tiba didepannya, menanyainya kenapa dia menangis dan dia sudah duduk di sini.
Sosok hitam itu hanya duduk diantara Jihoon dan pemuda tinggi bernama Mingyu yang selama ini menjadi asisten dokter tempat dia chek-up itu, dia terus saja melihat kearahnya.
Jihoon tidak pernah tahu namanya dan dokter ini pun tidak pernah secara langsung berkenalan, tapi entah kenapa Jihoon mengetahui namanya dan sedikit gambaran masa lalu milik Wonwoo yang tanpa sengaja terlintas di pikirannya.
"Maaf aku tiba-tiba melakukannya." Sebenarnya Jihoon ingin mencari alasan lain, tapi sepertinya dia langsung kepikiran itu. "Maaf tapi aku memang memelukmu ya, tadi?" Agak setengah sadar, soalnya itu bukan sepenuhnya dirinya.
Rasanya sering dia melihat orang ini, tapi dimana ya?
Ah dia pasien dari dokter senior yang diikutinya.
"Kita sering bertemu di rumah sakit, kan?" dia balik bertanya untuk memastikan.
"A..aku... aku...aku harus permisi dulu, ada yang harus aku lakukan..."
Jihoon lalu pergi secepat yang ia bisa, dan menyeret sosok hitam itu ikut pergi sekalian. Sempat terlintas di benak Jihoon beberapa memori tentang Mingyu yang tidak pernah dilihat sebelumnya. mungkin milik sosok hitam ini. Ketika Jihoon melihat ke wajah itu rasanya air matanya hendak keluar begitu saja, maka dari itu dia memilih untuk segera pergi.
"Apa yang kau lakukan, aku masih ingin melihatnya."
"Setidaknya katakan apa yang ingin kau katakan, kau pikir ini urusanku aku kan tidak tahu apa-apa..." marah Jihoon.
"Dia orang yang kusayangi dulu, aku bahkan merelakan hidupku demi dia agar dia bisa terus hidup dan memikirkan aku."
Mereka berdua duduk sebentar di tepian jalan, dan menunggu penyebrangan yang masih penuh sesak, Wonwoo pernah bilang dia sedikit trauma dengan penyebrangan yang sangat sesak seperti itu. dan Jihoon juga bisa melihat jelas bahwa hal terakhir yang dilewati Wonwoo sebelum pergi ke dunia lain adalah kerumunan dan penyebrangan jalan.
"Kau memilih sad ending, kenapa kalian tidak terluka bersama saja?."
"Tapi itu juga, setelah kupikir-pikir tidak terlalu baik, dan sekarang aku memutuskan untuk lebih baik padanya, membiarkan dia berhubungan dan mencari cinta yang lain selain aku." mata manik hitam itu pun menerawang jauh keatas langit, menggambarkan betapa tinggi nya yang dia impikan.
"Jadi, orang yang diceritakannya tempo lalu, itu kau?" Tanya Jihoon, sosok hitam itu tidak menjawab dan kini berada di depan Jihoon.
Mereka berdua berhenti disalah satu kedai bubbletea terdekat, karena satu-satunya tempat yang nyaman ya disana, ia tidak perduli dianggap gila karena bicara sendiri yang dia perdulikan adalah masalah hantu satu ini.
Tapi ada sosok yang sepertinya Jihoon sangat kenal, Sosok yang sangat tidak mungkin ada ditempat 'manis' begini seserius apapun kalian mengajaknya, tapi dia malah sedang memesan, apa yang sudah terjadi?, apakah sore nanti akan ada angin topan disertai hujan badai..
Itu Seungchol.
Jihoon tidak langsung menyapanya, ia ingin tahu lebih apa saja yang sudah terjadi disini.
Ternyata disisi lain. duduklah seorang Yoon Jeonghan. jadi Seungchol sudah resmi pacaran dengan Jeonghan. tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja kenapa sahabat baiknya tidak tahu sama sekali. Mungkin Jihoon selama ini sibuk dengan masalahnya dia sendiri, tapi setidaknya beritahukan satu patah kata, atau beri petunjuk sedikit.
Tanpa sadar Jihoon terus mengikutinya apa yang mereka lakukan, kemana saja mereka bahkan kalau bisa apa saja yang mereka bicarakan, dan hantu hitam itu tetap saja ikut dibelakangnya.
Melihat sepertinya orang yang selama ini diikutinya tidak dalam mood yang baik, membuat dia berspekulasi kosong itu masih mengikuti kegiatan mereka berdua sampai kepada hal intim seperti berciuman.
Ada hasrat dan gairah disana, mereka terlihat sangat cocok satu sama lain, kenapa Jihoon tidak bisa melihat itu sejak dulu. dibandingkan dengan dirinya Seungchol memang lebih bahagia dengan Jeonghan.
Sosok hitam itu melihatnya dengan pandangan prihatin.
"Aku sudah menyukainya bahkan sebelum dia berubah jadi seperti itu. masih Seungchol yang biasanya."
"Kau juga memilih akhir yang menyedihkan." walaupun tidak terasa, tapi sosok hitam itu berusaha memeluknya dan menenangkannya, Jihoon adalah pria baik yang tidak pernah neko-neko dalam hidupnya, pasti ada yang lebih baik dan lebih cocok untuknya daripada si Seungchol itu menurutnya.
"Carilah orang lain.."
"Tidak mau, daripada menyia-nyiakan waktuku lebih lama lagi, aku ingin mati sekarang saja, aku akan menghentikan pengobatanku." setelah mengucapkan itu, dia berbalik pulang dengan perasaan sedih bertambah sedih.
"Hei, hei... kau orang yang tidak terlalu perduli. tapi sekali kau tersakiti kau jadi tanpa harapan seperti ini."
"Aku bukan orang yang kau harapkan. carilah orang lain yang lebih memenuhi keinginanmu, aku tidak bisa seperti itu terus ada kalanya aku ingin menangis sendirian."
"Percayalah, tidak ada yang lebih polos darimu yang bisa kutemukan. menangislah dan tunggu orang lain yang mau menghapus air matamu dan meminjamkan sandarannya."
"Aku mau mati terlebih dulu sebelum itu terjadi,"
"Lee Jihoon, tunggu. dengarkan aku dulu."
"Berhenti mengikutiku lagi, Jeon Wonwoo."
.
.
.
TBC
Sebenarnya sih kemarin pake bahasa kasar itu mau menggambarkan kalau mereka itu orang yang urakan termasuk bahasa yang mereka gunakan, tapi jadi mempengaruhi seluruh cerita, terima kasih banyak masukannya semoga jadi lebih baik lagi.
Sudah saya perbaiki, kalau tidak keberatan mungkin mau dibaca ulang. Hehe
Kalau masih ada salah-salah Mohon koreksinya juga untuk chapter ini, saya sangat beruntung masih dinotice ini cerita bahkan sampai tahu kesalahannya dimana.
Saya istilahnya baru debut di dunia angst, dulu maunya ini jadi ff preman dan dengan bahasa yang campur-campur, dimana jihoon jadi orang yang menguasai dua genk itu tapi kalau diteruskan angst jalan ceritanya lain lagi.
Review please..
