Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama

FREE © Kaizen Katsumoto

Warning: OOC, AU, Typo, BL, dan segala macam keabsurdan di dalam fanfic ini.

.

Summary: Rasa bersalah yang menguap karena senyuman Sang Ibu dan rasa nyeri mendalam akibat tamparannya. Hanya ada dua pilihan bagi seorang anak, menjadi berbakti atau durhaka. Semua jalan berada di tanganmu.

.

.

.

Periksalah penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini!

Enjoy!

.

.

.

Bagian II

Family dan Pylox

Pair: NamJin, TaeKook, dll

.

.

.

Perumahan kumuh pinggiran kota Seoul yang kotor, bau, tak terawat. Terdiri dari rumah tersusun bertingkat hingga berlantai-lantai tingginya. Seorang pemuda berjalan melalui anak tangga menuju tingkat di lantai ketiga. Kim Taehyung menaikkan hoodie jaket lusuhnya hingga menutupi rambut kecokelatan bercampur hijau di bagian depan oleh cat warna. Kedua maniknya bergulir menatap pemandangan sekitar—tempat yang pernah menjadi kelahirannya—sembari mengemut sebuah permen. Sudah hampir tiga tahun dia tak lagi menginjakkan kaki di rumahnya, tempat tinggal kedua orangtuanya. Sejujurnya dia tak terlalu serius ketika menyebut ayah dan ibunya sebagai orangtuanya. Nyatanya adalah Taehyung tidak menyukai mereka, lebih tepatnya dia membenci ayahnya karena sudah memberinya banyak luka di masa lalu dan pertengkaran sampai akhirnya dia memutuskan keluar dari rumah kemudian tinggal bersama Namjoon serta teman-temannya yang lain. Mereka menyebut diri mereka sebagai BTS—sebuah ikatan bukan sebagai keluarga asli, tapi itu lebih baik daripada keluarga asli mereka.

Langkah kaki Taehyung berhenti tepat di depan sebuah pintu salah satu rumah bertuliskan keluarga Kim di depan pintunya. Itulah rumahnya, tempatnya menghabiskan hidup selama 18 tahun lamanya. Sedikit keraguan menghinggapinya. Pemuda itu membuang tusuk permen lollipop, menghela napas singkat untuk menenangkan diri. Perlahan tangannya terjulur menyentuh knop pintu. Kala itu hari masih menunjuk pukul 11 siang. Biasanya tidak akan ada orang di dalam rumah dijam segitu, ibunya sibuk bekerja, sementara ayahnya mungkin sedang berjudi hingga larut.

Bunyi ceklek justru terdengar saat Taehyung mencoba memutar gagang pintu yang tiba-tiba terbuka. Alisnya bertaut bingung, rumahnya tak dikunci itu artinya ada orang di dalam. Kali ini Taehyung meyakinkan diri untuk masuk ke dalam rumahnya. Mata kecokelatnya hanya bisa melihat ruang yang gelap minim penerangan serta minim ventilasi. Apa yang bisa kau harapkan dari sebuah perumahan kecil nan kumuh dengan harga murah. Dia tersenyum kecil, ruangan itu masih sama seperti tiga tahun lalu saat dia tinggalkan. Sejenak dia merasa bernostalgia. Taehyung memang membenci rumahnya tapi tetap saja dia akan merasa rindu setelah meninggalkannya. Melewati dapur, ia masih bisa mengingat ketika ibunya memasak makanan kesukaannya sebelum berangkat sekolah.

Lamunan pemuda itu buyar seketika begitu mendengar suara samar sebuah isak tangis seperti suara seorang wanita. Taehyung bergegas mencari sumber suara itu berasal. Kedua kakinya menuntun pemuda berusia 21 tahun itu tiba di depan salah satu ruangan dalam rumah—kamar kedua orangtuanya dulu. Dadanya berdegup kencang, ada perasaan ngilu yang menyayat hatinya ketika mendengar suara tangis parau dari dalam sana. Dia tahu betul siapa memilik suara itu, suara yang selalu menasihatinya dan suara lirih bercampur tangis yang mengalun seolah meremas hatinya setiap malam sebelum Taehyung memejamkan mata—itu adalah suara Ibunya.

Taehyung berjalan memasuki kamar, tidak terlalu terkejut melihat pemandangan seorang wanita sedang duduk bersimpuh di lantai dingin. Kepalanya menunduk, wajah serta isakannya tersembunyi oleh helaian rambut hitam panjang sepunggung dan kedua tangan sedang berusaha meredam tangisnya. Beberapa barang dan kaca kamar rusak berhamburan. Taehyung tahu kekacauan itu pasti ulah ayahnya yang kerap meminta uang pada ibunya, dan jika tidak dituruti maka semuanya akan selalu berakhir seperti itu. Dia muak dengan keluargnya, muak terhadap sikap ayahnya yang brengsek.

"Eomma, apa yang terjadi?"

Taehyung menyentuh pundak wanita itu yang langsung tersentak kaget menyadari kehadiran seseorang di rumahnya, terlebih memanggilnya dengan panggilan yang hampir tiga tahun lamanya tidak dia dengar setelah kepergian anak lelaki semata wayangnya. Wanita itu mendongak, memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi air mata sampai membuat kedua matanya membengkak kemerahan. Mendapati seorang pemuda familiar sudah duduk di hadapannya, memandanginya disertai raut kekhawatiran. Wanita itu semakin tidak kuasa menahan diri untuk tidak menghambur sebuah pelukan penuh kerinduan pada putra tercintanya, isak tangisan semakin pecah menaungi ruangan.

"Taehyungie… Kau masih hidup, nak. Maafkan eomma… Maafkan eomma yang tak bisa menjagamu… Maafkan eomma yang tak bisa menjagamu dan merawatmu selama ini… Maafkan eomma… Maafkan…" suara itu semakin terdengar serak dan bergetar diikuti pelukan yang makin mengencang di tubuh Taehyung.

Pemuda itu hanya bisa mematung diri, melihat keadaan ibunya yang sangat menyedihkan membuat hatinya tersayat oleh pisau tak kasatmata. Dia tahu semua bukan salah Sang Ibu sepenuhnya. Taehyung sangat menyayangi ibunya, ia yang sudah membesarkannya selama 18 tahun. Menurut Taehyung tak ada alasan bagi ibunya harus meminta maaf padanya.

"Aku yang harusnya meminta maaf, eomma karena sudah meninggalkanmu sendirian bersama Si Brengsek itu." Potongnya lirih membalas pelukan Sang Ibu.

Taehyung bisa merasakan kepala wanita itu menggeleng lemah di bahunya, "Jangan menyebut ayahmu seperti itu, Taehyungie... Dia tetaplah ayahmu…" Wanita itu menasihati.

Taehyung mengangguk saja, dia tahu berdebat dengan ibunya untuk urusan ini tidak akan ada habisnya. Maka dia lebih memilih mengalah, walaupun di dalam hati dia tetap mengutuk ayahnya. Hal yang tak dia sukai dari ibunya adalah sikap yang terlalu baik pada ayahnya, padahal sudah jelas ayahnya yang membuat keadaan mereka sampai seperti ini. Berakhir menyedihkan dengan banyak hutang di sana-sini. Tapi Sang Ibu selalu menasihatinya, selalu, dan selalu. Hanya pada ibunya Taehyung dapat menurut.

"Apa kau sudah makan?" Taehyung menggeleng pelan. Ibunya tersenyum setelah melepas pelukan mereka, masih ada jejak air mata di wajah wanita itu. "Kalau begitu, ayo ke ruang makan, ibu akan membuatkan makanan kesukaanmu."

Pemuda itu mengangguk menurut, mengikuti Sang Ibu menuju ruang makan. Wanita itu menyuruhnya agar duduk di kursi—menunggu, sementara dirinya menyiapkan makanan di dapur. Semua itu mengingatkannya saat masih tinggal bersama ibunya, membuatnya merasa rindu sekaligus dihinggapi rasa bersalah telah kabur dari rumah.

Itu sebabnya kemarin malam Seokjin—yang terkenal paling sensitif di antara member Bangtan lain—menyuruhnya agar mengunjungi rumahnya. Dia bilang itu mungkin bisa mengurangi perasaan bersalahnya selama tiga tahun. Dan semua terbukti setelah Taehyung bertemu ibunya, memang menyakitkan saat mengetahui keadaan ibunya, tetapi perlahan perasaan bersalahnya menguap setelah melihat senyuman lembut ibunya. Itu sudah cukup membuat Taehyung tenang.

"Eomma, aku harus pergi," Pemuda itu menatap lurus tepat di mata Sang Ibu yang lebih rendah darinya, "aku punya tempat yang lebih membuatku merasa nyaman daripada di rumah ini." ia kembali melanjut, wajahnya memandang ibunya—berusaha meyakinkan Sang Ibu.

Tanpa diduga, wanita itu justru tersenyum lembut ke arahnya, senyuman yang mampu membuat Taehyung tersentuh. Wanita itu mengangguk pelan.

"Eomma tahu ini memang bukan tempat yang bisa membuatmu bebas, Taehyungie. Tak ada yang bisa eomma lakukan untuk mencegahmu. Eomma akan selalu mendoakanmu, jaga dirimu dan kalau kau rindu, kau bisa kembali ke rumah ini. Appamu pasti bahagia melihat anaknya sudah tumbuh sebesar ini." pucuk kepala Taehyung dielus lembut oleh Sang Ibu, membuatnya merasa nyaman. Dia tahu semua yang dikatakan ibunya tantang Sang Ayah hanyalah bualan belaka tetapi dia berharap bahwa semua itu bisa menjadi kenyataan.

Sebelum pergi, Taehyung sempat memberikan sebuah amplop berisi uang kepada ibunya. Itu adalah hasil tabungannya bekerja selama tiga tahun kabur dari rumah, memang penghasilannya bekerja sambilan di sebuah mini market tidak seberapa, tapi dia harap ibunya mau menerima uang itu. Sang Ibu sempat menolak di awal, namun setelah melihat kesunggguhan di kedua mata anaknya dia akhirnya menerimanya juga.

Sore itu setelah menghabiskan makan siang dan mengobrol bersama, Taehyung kembali kabur dari rumahnya kali ini disertai izin Sang Ibu.

.

.

.

Seokjin mengusap keringat di keningnya menggunakan punggung tangan saat salah seorang pegawai cuci mobil di tempat kerja menghampirinya. Langkahnya cepat tiba di samping Seokjin. "Ada apa Daesung hyung?" tanya Seokjin penasaran.

Telunjuk Daesung mengarah pada sebuah mobil BMW hitam yang baru saja memasuki tempat cuci mobil. "Jin, coba kau urus pelanggan di sebelah sana. Aku akan menyusul setelah mengantar mobil yang baru kucuci ke blok depan."

Seokjin mengangguk menuruti perkataan pegawai yang lebih tua darinya tersebut. Menghampiri mobil BMW hitam tanpa rasa curiga. Baru setelah seorang pria berjas lengkap keluar dari pintu depan, seketika Seokjin merasakan atmosfer sekitar menjadi berat, tubuhnya membeku kaku. Dia tak bisa melepaskan pandangan dari sosok pria yang sangat dia kenali, rambut klimis hitam yang sebagian sudah ditumbuhi uban, namun itu tak mempengaruhi ketegasan pria tersebut.

Pria tua itu menatap remeh padanya, "Jadi benar kau bekerja di tempat seperti ini, Kim Seokjin?" dia melangkah mendekat tepat di depan Seokjin yang masih mematung, lidahnya kelu tak dapat menjawab. Dia hanya mampu menundukkan kepalanya kemudian perlahan mengangguk lemah. Pria itu semakin geram, menarik kerah seragam Seokjin kasar. "BERHENTI BERTINGKAH KONYOL!" Seokjin tak membalas, hanya pasrah sampai bentakan kasar memancing amarahnya, "KATAKAN DIMANA BAJINGAN TENGIK ITU BERADA SEKARANG!?"

"APPA! NAMJOON TIDAK SEPERTI ITU!" teriaknya melengking cepat, dengan berani menatap tepat di kedua mata Sang Ayah—tak tahan ketika orang yang dimaksud Sang Ayah direndahkan.

"DIAM! TAHU APA KAU ANAK KURANG AJAR!" tak segan pria itu akan memukul putra semata wayangnya jika saja tidak ditahan oleh seorang wanita yang sejak tadi berada di belakangnya. Mengisyaratkan suaminya agar tidak terbawa emosi di tempat umum.

Pria itu menyentakkan tangan istrinya kasar, lalu pergi begitu saja masuk ke dalam mabil diikuti bantingan keras, meninggalkan wanita itu dengan Seokjin. Wajah Seokjin sudah memerah menahan amarah. Bahkan itu adalah kali kedua Sang Ibu melihat anaknya menunjukkan ekspresi semarah itu, yang pertama adalah ketika Seokjin kabur dari rumah enam tahun silam.

Lama wanita itu memandang Seokjin, berusaha meredam rasa rindu. Seandainya hubungan mereka baik, pasti ia sudah memeluk putranya tersebut setelah lama tak bertemu. "Pulanglah, Jin… Eomma mohon... Sekarang masih belum terlambat, pertunanganmu masih bisa dilanjutkan…" wanita itu hampir terisak.

Jeda terjadi beberapa detik, sampai bibir pemuda itu berucap tegar, "Maafkan aku, eomma. Aku tidak bisa," Seokjin berusaha menyuara setegas yang ia mampu, melihat bulir air mulai jatuh di pipi wanita yang sudah membesarkannya. "Aku sudah pernah mengatakan pada kalian, kalau aku akan memilih jalanku sendiri, aku mencintai Nam—"

PLAK

Seokjin tak dapat menyelesaikan kalimatnya saat dirasa sebuah tamparan keras mengenai pipi kirinya. Panas dan nyeri mulai menjalar kentara, tapi dadanya jauh lebih sesak melihat Sang Ibu kini menatapnya sengit penuh permusuhan.

"Eomma tak mau dengar apapun!" bulir-bulir air mengalir deras di kedua pipi wanita itu, ia kecewa berat atas pilihan putra semata wayangnya. Semenjak kecil dia tak pernah mendidik Seokjin menjadi anak pembangkang seperti itu, semua salah orang itu—Kim Namjoon.

Setelah berkata demikian, wanita itu meninggalkan Seokjin. Dia masih bisa mendengar suara tangis ibunya menjadi saat ia memasuki mobil bersama Sang Ayah. Mereka keluar dari tempat cuci mobil, meninggalkan Seokjin sendiri yang menunduk pasrah. Dia tak habis pikir bagaimana bisa kedua orangtuanya menemukan tempatnya kerja yang bahkan jauh dari kota Seoul. Ditambah lagi mengungkit soal pertunangan yang pernah dia tinggalkan selama 6 tahun lalu.

Memori otaknya serasa kembali diputar ke masa lalu saat dia kabur dari rumah bersama Namjoon. Memang pemuda itu yang sudah memotori Seokjin agar terlepas dari belenggu kedua orangtuanya, tapi keputusan Seokjin untuk kabur dari rumah adalah keinginannya sendiri, karena dia mencintai Namjoon. Dia lebih memilih bersama Namjoon daripada melaksanakan pertunangan disertai paksaan orang tua hanya untuk meningkatkan saham perusahaan Sang Ayah, calon tunangannya sendiri adalah anak dari rekan kerja ayahnya.

"Yaa! Jin! Kenapa kau malah melamun sendirian? Dimana pelanggan kita tadi?" Daesung datang, menepuk pundak Seokjin hingga membuyarkan lamunannya. Seokjin keburu tersadar, langsung menyunggingkan senyum paksa.

"Maafkan aku, hyung. Sepertinya mereka bukan mau mencuci mobil." Kilahnya berusaha memasang mimik senormal mungkin.

"Huh?" Daesung menautkan alisnya penasaran, dia tak mungkin bisa dibohongi oleh senyuman palsu murahan seperti itu. Ia sudah terlalu hapal sikap rekan kerja yang biasa dikenal sensitif itu. Menyadari mungkin ada sesuatu yang terjadi selama dia pergi tadi tapi ia membiarkan saja setelah melihat Seokjin yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, mungkin itu masalah pribadi.

.

.

.

Shift siang membuat seorang pemuda berambut merah muda mencolok itu merasa bosan. Tak dapat dipungkiri bekerja di sebuah pom bensin pinggiran kota Seoul sedikit membuatnya sebal. Namjoon memang terkenal tak bisa betah di satu pekerjaan. Biasanya tiap memiliki pekerjaan dia hanya bertahan satu sampai dua minggu, lalu dia akan mengundurkan diri atau mungkin Sang Bos yang memecatnya langsung. Baru sebagai seorang pegawai pom bensin dia bisa bertahan sampai dua bulan lamanya, sebuah rekor bersejarah mungkin. Terima kasih pada Seokjin yang selalu mengomel tiap malam.

Namjoon menerima saja mendapati tempat kerjanya sangat sepi melebihi kuburan, bahkan dia bisa tertidur dalam waktu kurang dari lima menit. Arlojinya sudah menunjukk hampir jam lima sore, harusnya dia sudah bisa pulang kalau saja rekan kerjanya datang tepat waktu. Nyatanya dia hanya sendirian, menunggu sambil sesekali menguap ngantuk. Tanpa sengaja ekor matanya menangkap pergerakan seorang pemuda tengah berlari tergesa ke arahnya. Namjoon hapal senyuman kotak di wajah pemuda itu. Taehyung akhirnya tiba di depan Namjoon, napasnya memburu.

"Sedang apa kau di sini? Naik apa? Kau tak bekerja, ya?" tanyanya memborbardir Taehyung dengan segudang basa-basi, dibalas sebuah cengiran khasnya. Membuat Namjoon ikut tersenyum singkat, sepertinya pemuda itu sudah kembali normal seperti sediakala. Dengan begitu dia bisa tidur nyenyak tanpa harus mendengarkan keluhan cemas Seokjin dan Jungkook karena keadaan Taehyung yang terlihat murung beberapa hari terakhir. Seokjin merasa cemas karena dia bertanggung jawab sebagai yang paling tua di antara mereka, sementara Jungkook karena dia merasa yang paling dekat dengan Taehyung.

"Hyung! Kau harusnya berterima kasih, aku datang kemari untuk menjemputmu, tahu!" ujarnya ditengah engahan napas. "Sial sekali, bus yang kutumpangi tak mau mengantarkanku sampai sini." Tambahnya menggerutu kesal.

Namjoon tergelak mendengarkan penuturan pemuda lebih muda setahun darinya tersebut. Merasa bodoh akan ucapannya, mana ada orang menjemput menaiki bus umum sementara yang dijemput mempunyai motor untuk pulang. Dan dia jelas tahu persis di mana bus yang ditumpangi Taehyung berhenti karena hanya ada satu halte untuk mencapai tempatnya bekerja, dan itu berjarak hampir 15 meter dari pom bensin. Tanpa dia sadari, sebuah tepukan pelan menyentuh pundak belakangnya, Namjoon menoleh mendapati seorang pemuda lain terseyum lima jari ke arahnya, kedua tangannya mengatup di depan wajah—meminta maaf.

"Namjoon, maaf kau sudah menungguku lama, ya? Tadi aku harus mengantar seseorang sebelum kemari, jadinya telat begini." Ujarnya lirih, ada rasa bersalah di tiap ucapannya.

Namjoon tersenyum maklum menanggapi rekan kerjanya yang setahun lebih tua darinya itu, tak lupa memperkenalkannya dengan Taehyung yang sejak tadi bengong. "Gongchan hyung, ini Taehyung, dan Taehyung ini adalah Gongchan hyung."

Mereka berkenalan dan mengobrol sebentar. Sifat Gongchan yang ramah membuat mereka bisa lebih cepat akrab, apalagi didukung Taehyung yang lucu dan sulit ditebak. Tak terasa waktu sudah hampir menunjuk pukul 6 sore. Matahari sudah terbenam, lampu jalan juga sudah mulai dinyalakan. Namjoon pun segera berpamitan pulang, dia menarik lengan Taehyung menuju tempat parkiran untuk mengambil motornya. Memang bukan motor mewah, hanya motor bekas yang dimodifikasi sedemikian rupa.

Namjoon melajukan motornya, spedo terlihat hampir menyentuh angka 140, cukup kuat untuk ukuran motor bekas. Bahkan Taehyung sampai mengeratkan jaket, menghindari hujaman udara dingin di malam hari. Dia harus rela menggigil lebih lama karena Namjoon bilang dia harus mampir mengambil pesanan di tempat temannya. Taehyung tidak diberi keterangan lebih lanjut mengenai pesanan yang dimaksud, jadi dia hanya megangguk saja membonceng di belakang.

Udara dingin makin liar menggerogoti, mengingat saat itu masih pertengahan Januari. Taehyung merasa matanya semakin berat, perlahan menyandarikan kepala di punggung Namjoon. Dia benar-benar akan terlelap kalau saja Namjoon tidak menarik rem secara mendadak, mengakibatkan hidungnya memar kemerahan setelah membentur tulang punggung. Ia berusaha keras tidak mengumpat setelah sadar di mana tempat mereka berhenti. Matanya membulat menatap Namjoon yang sudah turun dari motornya.

"Hyung, tempat ini—" telunjuknya mengarah di sebuah toko cat di depan mereka.

"Tae, kau tahu? Hari ini aku berencana pulang telat." Potong Namjoon tersenyum penuh makna mengetahui raut wajah Taehyung yang sudah kehilangan kata-katanya.

Yang lebih muda langsung meloncat turun dari motor untuk berteriak girang, "Hyung! Kalau begitu aku akan menemanimu!" teriaknya semangat. Namjoon tergelak. Mereka berdua pun memasuki toko cat bersama.

.

.

.

"Hyung! Di sebelah sana!" seru Taehyung girang. Telunjuknya mengarah di sebuah tepi jalan layang, tepatnya menunjuk sebuah tembok kosong, putih, bersih, masih suci, dan sangat strategis—benar-benar terlihat seperti harta karun bagi mereka.

Segera saja Namjoon menghentikan motornya. Taehyung langsung meloncat turun, mengeluarkan spray paint dari dalam tas pinjaman teman Namjoon—Sang Pemilik Toko Cat. Dia mengeluarkan lima kaleng spray paint berbagai warna mencolok, mengawali kegiatan sakralnya dengan mengocok kaleng berlabel depan pylox, sedang Namjoon sibuk memarkir motornya. Begitu selesai, dia segera mendekati Taehyung yang sudah sibuk menyemprot berbagai warna di atas dinding putih, menorehkan noda penuh kesenangan pribadi. Namjoon tertawa kecil melihat betapa seriusnya raut muka Taehyung yang biasanya sering nge-blank. Memang kalau sudah masalah seperti ini konsentrasi seorang Kim Taehyung tak bisa digoyahkan. Dia melirik dinding tempat Taehyung menyalurkan hobinya.

"Apa yang kautulis?" Taehyung tak menyahut, masih sibuk pada kegiatannya. Namjoon membiarkannya—menunggu sampai Taehyung selesai di huruf keenamnya. Dan sekarang Namjoon tersenyum melihat kerja awal Taehyung yang sedikit mengejutkannya. "Family?" tanyanya menaikkan sebelah alis.

Taehyung nyengir, memperlihatkan deretan gigi rapinya sambil mengangguk.

"Kenapa tiba-tiba? Kukira kau membenci keluargamu?"

Senyuman lebar masih belum luntur dari wajah Taehyung, "Memang," dia menjawab singkat, membuat sebuah tanda tanya otomatis mampir di kepala Namjoon. Seolah mengerti, Taehyung kembali melanjut, "Karena itu aku akan menambahkan 'Bangtan Boys' di belakangnya," Namjoon terdiam beberapa detik sampai pemuda di sampingnya kembali melanjut, "Karena kalian adalah family yang paling kusayangi."

Kini Namjoon tertegun mendengar penuturan polos Taehyung. Ya. Taehyung yang dikenalnya selama hampir empat tahun sebagai pemuda keras kepala dan pemberontak, Taehyung yang menolak membicarakan masalah orangtuanya, sekarang dengan polosnya mengatakan kalimat manis mengenai keluarga. Itu terdengar seperti sebuah mimpi. Mereka bertukar pandang cukup lama hingga sebuah suara sirine membawa masalah buruk pada mereka.

Namjoon dan Taehyung mendecak kesal hampir bersamaan ketika melihat sebuah mobil patroli melaju ke arah mereka dengan kecepatan tak biasa. Seorang polisi berkumis lebat bertagname Siwon di dada kanannya menengokkan kepala melalui jendela, menggeram sambil mengacungkan senjata api laras pendek di atas kepala. Sedetik kedua pemuda labil pembuat onar itu merasa sehati, mengecap polisi tersebut sebagai orang gila karena berani mengeluarkan senjata di tempat publik.

"BERHENTI KALIAN, KEPARAT!" seru Sang Polisi murka.

Sayangnya Namjoon masih terlalu waras untuk menyerahkan diri secara suka rela. Mesin motor sukses dinyalakan. Setelah menunggu Taehyung menyambar tas berisi pyloxnya mereka langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Menerobos beberapa kendaraan di jalanan lenggang tengah malam, terlihat jelas jarak antara motor mereka dan mobil polisi pembuntut yang terpaut lumayan.

"Dasar keras kepala." Decak Namjoon kesal. Ia membelokkan motor menuju gang sempit sampai akhirnya mobil itu tak lagi terlihat mengejar.

"Sial. Sial. Sial." umpat Taehyung dari belakang. "Gara-gara polisi sialan itu, tulisanku belum terselesaikan." Gerutunya kesal. Namjoon hanya tersenyum simpul, menampakkan kedua dimple lucunya.

.

.

.

Tengah malam setelah acara berkejar-kejaran bersama mobil polisi patroli akhirnya Namjoon dan Taehyung kembali ke apartemen Bangtan dengan selamat. Dari luar terlihat lampu apartemen masih menyala terang, menandakan masih ada yang terjaga. Namjoon dan Taehyung saling pandang, memaksa satu sama lain untuk mengetuk pintu. Tangan Taehyung terpilih karena pautan usia. Tak beberapa lama, pintu terbuka, menampilkan sosok Seokjin yang sedang melipat kedua tangan di depan dada seolah meminta penjelasan keterlambatan pulang mereka. Taehyung hanya nyengir sembari menggaruk leher yang tak gatal, keadaan serupa dialami oleh Namjoon yang hanya tersenyum kecut. Seokjin menghela napas, membuat kedua makhluk tadi seketika menunduk menyesal.

"Masuk." Ujar pemuda yang paling tua tegas.

Keduanya langsung menurut, mengekori Seokjin setelah mengunci pintu. Mereka bertiga berjalan melewati ruang tengah. Tak ada sofa atau pun kursi di sana, hanya ada sebuah televisi di atas meja dan karpet di atas lantai. Tambahan, ada seorang pemuda sedang terlelap di atas karpet, memakai hoodie putih dan selembar selimut tipis menutupi hingga pundak. Taehyung segera menghampirinya, sejenak menoleh ke arah Seokjin yang berjalan menuju dapur diikuti Namjoon.

"Hyung, kenapa Kookie tidur di sini?" tanyanya agak keras agar bisa didengar sampai dapur, mengabaikan pemuda yang disebut Kookie—reader juga pasti sudah tahu siapa nama lengkap Si Kookie, ya, Jeon Jungkook nama lengkapnya—sedang menggeliat tak nyaman setelah mendengar teriakan tak elit Taehyung.

"Dia menunggu kalian pulang sampai ketiduran!" sahut satu suara dari dapur. Namjoon yang berdiri di belakangnya bisa melihat dengan jelas Seokjin sedang membuat cokelat panas.

Selang beberapa detik terdengar lagi teriakan cempreng Taehyung, "Hyung! Aku akan membawa Kookie ke kamarnya!" Seokjin menyahut singkat dan Taehyung langsung menggotong bridal tubuh Jungkook di kedua lengannya.

Kembali ke dapur, "Heran. Apa kalian semua janjian untuk pulang telat malam ini?" Seokjin mengomel seperti perawan PMS.

"Apa maksudmu, hyung?" Namjoon yang sejak tadi mengikuti Seokjin menyela bingung.

"Kau lihat sendiri hanya ada aku dan Kookie di rumah."

"Yang lain?"

"Sudah kukatakan kan, kalian semua pulang telat hari ini dan membuat kami cemas."

Namjoon lebih memilih diam sambil menautkan alis, salah menyahut bisa-bisa dia didepak, tapi tumben Hoseok dan Jimin pulang telat, kalau Yoongi sih dia sudah tak heran, di antara mereka bertujuh hanya Yoongi yang paling sering bertindak seenaknya. Biar pun begitu Yoongi tetap bisa diandalkan—bahkan kadang menyabet tugasnya sebagai ketua gang.

Lama mereka berdiam diri, Seokjin sudah selesai memanaskan coklat, "Namjoonie, aku ingin bicara denganmu." Ia menyerahkan secangkir untuk Namjoon.

"Soal?" sedikit menyeruput cokelat, kedua manik Namjoon masih setia mengawasi pemuda di sebelahnya.

"Orangtuaku." Sekarang Seokjin bisa melihat kekasihnya tersendak cokelat, tepat saat terdengar suara ketukan dari pintu depan.

Namjoon menaruh cangkir, "Itu mungkin mereka, akan kubukakan pintu dulu." Ujarnya gugup segera berlari kilat menuju pintu. Seokjin menghela napas, dia tahu kalau Namjoon sedang cemas sekarang, terutama setelah mendengar tentang topik yang akan Seokjin bicarakan.

.

.

.

Taehyung membuka pintu kamar menggunakan tendangan sebelah kakinya, tubuhnya nyaris oleng kehilangan keseimbangan saat Jungkook menggeliat tak nyaman dalam gendongannya karena suara debaman pintu.

"Yaa Kookie, kau makan apa sih sampai berat begini?" gerutunya berusaha melangkah sejengkal ketika tubuh Jungkook kembali bergerak-gerak, kali ini mengalungkan kedua tangan di leher Taehyung yang seketika membeku di tempat. Wajahnya mereka hanya terpaut beberapa inchi, membuatnya sampai menahan napas gugup. Beruntungnya lampu kamar masih belum dinyalakan sehingga rona merah di wajah Taehyung dapat tersembunyi secara sempurna.

"Tae… hyungie…"

Taehyung sadar mendengar suara igauan keluar dari bibir Jungkook. Hal itu sukses mengembalikan wajahnya ke mode normal, kali ini serius mendengarkan gumaman Jungkook. Dia merasa ini momen penting karena jarang-jarang dirinya diigaukan orang lain.

"… Aku…"

Taehyung kembali menahan napas tegang.

"… Tidak berat, tahu—"

Suasana seketika hening, Taehyung memasang wajah blank andalannya tanpa bisa dilihat siapapun. Suara lemah di gendongannya perlahan berubah menjadi sebuah cengengesan, membuat Taehyung sadar kalau sebenarnya Jungkook tidak benar-benar sedang tidur. sebuah perempatan tak kasatmata bertengger di kepala Taehyung yang sudah nyut-nyutan, nasip serupa dialami lututnya yang gemetaran. Dengan cepat dia membanting tubuh berat Jungkook ke atas kasur. Taehyung menyalakan lampu kamar, dapat dilihatnya Jungkook meringis kesakitan bercampur tawa, memperlihatkan kedua gigi kelinci mungilnya.

"Berhenti menertawaiku, Kookie!" teriak Taehyung tak terima, dia sudah menyusul Jungkook ke atas kasur dan memelintir kedua tangan yang lebih muda.

"Taehyungie lepaskan! Tanganku bisa patah!" Jungkook memberontak masih di sela tawa renyahnya, Taehyung cemberut perlahan melepaskan tangan Jungkook.

Pemuda itu mengelus tangan sehabis dipelintir, air menetes di ujung matanya, entah karena kesakitan atau kebanyakan tertawa. Taehyung diam, membiarkan tawa Jungkook hilang dengan sendirinya.

Beberapa menit Jungkook akhirnya diam.

"Sudah selesai?"

Jungkook mengangguk, "Taehyungie, kenapa dengan pipimu?"

Taehyung otomatis meraba pipi kanan yang ditunjuk Jungkook, "Ada apa memangnya?"

"Ada nodanya. Kau habis main apa?"

Taehyung mengerutkan alis, mencoba mengingat kegiatannya hari ini. "Oh, sepertinya ini bekas pylox tadi!"

"Pylox? Kau membuat graffiti lagi, hyung?"

"Err, begitulah." Taehyung menggaruk pipinya menyadari kini Jungkook memandangnya penuh minat, tambahan efek bling-bling yang membuat Taehyung semakin gugup. "Hei, jangan melihatku seperti itu. Seram, tahu!"

Tanpa menghiraukan peringatan Taehyung, kini Jungkook malah berkedip-kedip minta dicolok—yang entah kenapa malah terlihat imut di mata Taehyung. "Hyung, ceritakan…" pintanya memohon dengan puppy eyes no jutsu.

"Apanya?" Taehyung merasa gagal paham malah kembali nge-blank.

"Tentang graffitimu. Apa kau dikejar polisi lagi?" tanya Jungkook tepat sasaran.

Memang sudah menjadi rahasia umum kalau Taehyung sering berurusan dengan polisi patroli, terutama yang bertagname Siwon di dada kanannya. Dia merasa menjadi contoh buruk, tapi akhirnya mengangguk pasrah pada wajah Jungkook yang sudah tak sabar menunggu ceritanya.

"Baiklah. Pada suatu hari—" Taehyung mengawali.

.

.

.

Namjoon membuka pintu depan, di dapatinya Hoseok yang setengah menggigil dan Yoongi memasang wajah datar.

"Huh? Darimana saja kalian berdua? Mana Jimin?"

Yoongi memasuki apartemen tanpa menjawab, melewati Namjoon dan menghampiri Seokjin di ruangan tengah dengan beberapa cangkir cokelat panas di atas karpet. Namjoon merasa terkacangi segera menatap Hoseok meminta penjelasan.

"Apa?" tanya Hoseok tak peka. Dia sibuk menutup pintu apartemen lalu membuntut Yoongi untuk menyambar secangkir cokelat panas. Serius, berkendara bersama Yoongi yang ngebut di tengah malam ditemani hujaman angin malam sudah cukup membuat tubuhnya hampir membeku seperti es.

Tak puas atas kediaman kedua sahabatnya, Namjoon menyusul ke ruang tengah—berharap mendapatkan penjelasan terlambatnya Hoseok dan absennya Jimin.

Setelah menyelesaikan tegukan cokelatnya, Yoongi diam memandang Seokjin sebentar, "Hyung, aku butuh bicara."

"Ehem… kami." Ralat Hoseok menggulirkan kedua maniknya ke arah Yoongi yang hanya dibalas sebuah kediaman.

Seokjin menautkan alisnya, kebetulan sekali dia juga ingin berbicara pada teman-temannya untuk meminta pendapat. "Baiklah. Aku juga ingin membicarakan sesuatu pada kalian."

Setelah itu, Yoongi langsung mengeluarkan sejumlah uang bernominal ratusan won ke atas karpet tempat mereka berempat duduk. Seokjin dan Namjoon melotot kaget, beda hal dengan Hoseok yang terlihat santai melanjutkan acara minum cokelat panasnya. Dia sudah mendengar cerita lengkap Yoongi di saat hyungnya itu menjemputnya di rumah Jimin beberapa jam lalu.

"Aku mendapatkannya dari seorang wanita yang tadi siang mengunjungi delivery pizza tempatku bekerja,"

"Juga café milik orang tua Jimin dimana aku dan Jimin bekerja." Tambah Hoseok sedikit menyela.

Seolah mengerti raut keterkejutan di wajah Seokjin dan Namjoon, Yoongi kembali melanjut tanpa disuruh, sementara Hoseok menyeruput lagi cokelat panas. "Dia bilang akan memberiku uang lebih banyak dengan satu syarat—" Yoongi menggantungkan kalimatnya, membuat suasana apartemen sedikit tegang.

"Apa?" kali ini Namjoon bertanya tak sabar.

"—menyuruh Seokjin hyung kembali ke rumahnya."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: Sebelumnya mau jelasin Genre, ini dari awal memang kumasukin di genre Family karena akan ada banyak konflik tentang keluarga. Untuk rikues pair, wah saya gak bisa janji—pair biasanya mengikuti perkembangan cerita.

Basic cerita kuambil dari MV BTS: I Need U, Prologue, Run, dan For You (itu, lho MV yang pake bahasa Jepang) dengan sedikit—coret banyak perubahan plot agar bisa dijadikan BL, dsb. Maaf kalau jadinya aneh.

.

Terakhir, terima kasih untuk para Reader, begitu pula yang sudah Review, Favorit, dan Follow:

IoriNara, peachpetals, Aoi-chan to Seiyuu-chan desu, GitARMY, nnavishiper, Joker950818, Puspita587, bluehyomi, hanarahmi23, 1, nanaelfindo,jinicious, Riska971